FF BTS/YAOI/J.V/THE BEAUTIFUL HIB-CREATURES /Chapter 3

Title: The Beautiful Hib-Creatures

Author: Bang Young Ran

Rating: T

Genre: Yaoi/Fluff/Romance/Scien-fict/AU

Length: Chaptered

Main Cast:

Kim Tae Hyung aka V ^w^ 3

Kim Seok Jin~~ 3

Support Cast:

HopeKook (J-Hope & Jung Kook)*blon jelas*

KrisBaek (Kris & Baek Hyun EXO)

DaeBaek (Dae Hyun BAP & Baek Hyun)*ni cuma masa lalu*

Couples nyusul~

Disclaimer: BTS is Big Hit/JYP Entertainment Boy Group and their parents, and it's Youngranie fic~ muaaaachhh...*kechupbasah*

Warning: TYPO! OOC! YAOI/BoysxBoys! NO PLAGIARISM! NO BASHING! NO SIDERS!

Summary: Di era modern sekarang ini, manusia tidak lagi terfokus dalam menciptakan kaleng besi berjalan—robot. Menciptakan makhluk hidup yang benar-benar hidup dalam bentuk lain, itulah yang menjadi fokus para ilmuan beberapa tahun belakangan. Awalnya menggabungkan spesies hewan dari jenis berbeda, dan sekaranglah terobosan baru tercipta dimana gen hewan digabungkan dengan... gen manusia.

.

.

DON'T LIKE, DON'T READ, JUST LEAVE IT, OK!?

.

.

~~( ^3)(.o )~~

.

.

TANPA BANYAK BACOT, LANGSUNG AJA CHECK IT OUT

HAPPY READIIIIIINNNNGGGGG... ^3^

.

.

.

The Beautiful Hib-Creatures

Chapter 3

"Hai, Jungie~ Kau sedang apa?" J-Hope menghempaskan bokongnya pada bangku taman yang sebelumnya telah ditempati bunny hybrid berlesung pipit tersebut.

Jung Kook tampaknya sedang dalam mood baik hari ini. Dia tidak henti-hentinya tertawa dan tersenyum manis sedari tadi. Oh, maaf kalau J-Hope 'agak' punya kebiasaan buruk mengamati bunny hybrid manis ini tiap kali berada di sekolah. Dan kalau saja tidak ada larangan 'jangan mendekat' dari Jin, J-Hope pastilah sudah mengikuti Jung Kook hingga ke rumah. Ke kamarnya lah, kalau perlu!*Pervert banget, euy! -.-#plakk*

"Hopie Hyung! Hari ini Jungie senang sekali! Hyung tahu kenapa?" tanya Jung Kook sembari melebarkan kedua matanya yang memang sudah besar itu. Dia terlihat begitu excited, seolah meminta J-Hope untuk menebak sendiri.

"Eng... Hyung-mu membelikan anak anjing baru?" tebak J-Hope tidak yakin. Sebenarnya namja tampan ini langsung blank karena ditatap intens dan penuh keceriaan oleh makhluk manis mengagumkan di hadapannya.

Si bunny hybrid menggelengkan kepala, membuat kedua pasang telinga putihnya berayun kecil. Tanpa bisa dicegah mata J-Hope terus mengikuti pergerakan kecil tersebut, ah, sebenarnya apapun yang Jung Kook lakukan ia selalu memperhatikannya.

"Bukan itu, Hopie Hyuuuuunnggg~ tadi, Jungie mendapat pujian dari songsaenim di kelas memasak! Kyaaaaa 0! JUNGIE SENANG SEKALI!"

Oh. J-Hope sempat lupa betapa polos dan sederhananya pemikiran seorang Kim Jung Kook. Bahkan hal kecil seperti ini saja sudah membuatnya senang sekali. Padahal, selama ini bukannya Jung Kook selalu mendapat pujian dari siapapun mengenai kelezatan masakan yang dibuatnya?!

"Oh! Jinjja?! Chukkae, Jungie~ Hyung tahu masakan buatanmu tidak ada tandingannya!" seru J-Hope dengan mengangkat kedua tangannya yang terkepal ke atas, berusaha mengimbangi keceriaan yang Jung Kook tunjukkan. Namja tampan itu ikut bahagia melihat bunny hybrid manis tersebut bertepuk tangan riang. Beginilah J-Hope. Apapun akan dilakukannya bila itu mampu membuat Jung Kook bahagia. Ia akan berusaha memberikan apapun yang makhluk manis itu butuhkan, termasuk, hal kecil seperti memberikan dukungan dan perhatian seperti ini.

#######^0^#######

"MINGGIR!" bentak V dengan suara menggelegar. Dia benar-benar kesal sekarang. Bagaimana tidak? Seorang namja menyebalkan tengah menghalangi langkahnya menuju kantin saat ini.

"Tae Hyung-ssi, kenapa susah sekali mengajakmu? Ayolah~ makan siang bersamaku, ne?"

Huh. Masiiiiiiihhhh... saja ada namja yang nekat seperti ini. V sampai tidak tahu lagi apa yang harus dia lakukan! Apa perlu dia mematahkan salah satu kaki bila bantingan di bokong namja-namja mesum itu rasanya belum cukup!?

"Apa kau tidak mendengar?! AKU TIDAK MAU! Minggir! Kau menghalangi jalanku!" V mendorong tubuh namja yang menghalanginya ke samping. Cukup sekiranya untuk dia lewat, namun sayang salah satu tangannya ditarik secara kasar hingga tubuh mungilnya tersentak ke belakang.

"Huh, undang-undang yang baru membuat kalian semua makhluk rendah jadi kurang ajar, ya? Tsk, sangat disayangkan kalau 'hewan peliharaan' tidak lagi menaruh hormat pada tuannya." Namja itu tersenyum meremehkan dan berlagak menggelengkan kepala seolah prihatin. Membuat V hendak melayangkan tinju jika saja kedua tangannya tidak dicekal ke dinding saat ini.

Makhluk rendah.

Hewan peliharaan.

Yah, itu adalah nama-nama lain yang manusia-manusia brengsek gunakan untuk memanggil kaum hybrid. V selalu meradang bila mendengar hal ini. Sudah lama ia tidak mendengar panggilan menjijikkan itu dari mulut manusia. V kira undang-undang pemerintah yang baru akan membantu, namun ternyata... tidak.

Dan sialnya, namja yang mencekal V saat ini begitu kuat. Berbeda dibandingkan namja-namja yang begitu dengan entengnya lion hybrid itu banting selama ini. Ini pastilah hari sial V. Ah, mungkin hari sialnya dimulai sejak beberapa hari yang lalu. Sejak ia bertemu dengan Kim Seok Jin sepulang sekolah dan... di dalam mimpi. Sebagai mate.

Mate...

Apakah Kim Seok Jin mampu melindunginya dari namja brengsek ini jika dia benar-benar adalah mate-nya?

Tunggu,

What the...

'AKHHHHH! Berhenti otak! Berhenti memikirkan KIM SEOK JIN!'

"... apa perlu kau kutandai agar kau mau menghabiskan waktu bersamaku?"

V terlalu larut dalam pikiran hingga tidak menyadari jika namja yang mencekalnya mulai mendekatkan wajah, mendekati lehernya berniat untuk memberi kissmark. Tanda. Bagi kaum hybrid, bila sekali ia sudah ditandai, maka seumur hidup ia akan terikat dengan orang tersebut; secara batin dan mungkin, seksual.

Sret!

BUGH!

BRUGH!

"MENJAUH DARINYA, BRENGSEK!"

V mematung di tempat. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Yang pasti, namja mesum yang mencekalnya telah tersungkur di lantai koridor dengan mulut berdarah. Belum lagi... sesosok punggung tegap dan lebar membentenginya. V tidak mengenal siapa si pemilik punggung hingga kemudian namja itu berbalik dan menatap cemas ke arahnya.

"Gwenchanayo, Tae Hyung-ssi? Dia tidak melakukan sesuatu yang buruk terhadapmu 'kan?"

The Perv-Kim-Fuckin'-Seok-Jin...

Namja itulah yang telah menyelamatkannya. Seorang pervert menyelamatkannya dari namja mesum lainnya?!

'Kau hanya akan merasakan hal ini bila bersamaku. Hanya bersamaku, karena kita adalah MATE. Aku adalah mate-Mu~'

'Hyaaaaa~ Seokiehhhhh...'

Dan entah mengapa adegan beserta kata-kata tersebut bergentayangan kembali di benak V. Membuatnya secara spontan dan tidak mengerti...

Brugh!

... pingsan di tempat. Jatuh dalam pelukan Jin, lebih tepatnya.

"TAE HYUNG-SSI!"

#######^0^#######

"Tidak ada yang perlu dicemaskan. Tae Hyung-ssi hanya... mengalami gangguan tahap awal memasuki masa heat."

Jin menganggukkan kepala dengan bibir membentuk 'o'. Namun sesaat kemudian matanya terbelalak, menatap si dokter sekolah shock. "Heat?! Maksudmu... mating?"

Sang dokter tersenyum. Ia merasa terhibur melihat ekspresi Jin saat ini. "Ne, itulah yang dibutuhkan Tae Hyung-ssi dalam waktu dekat. Kuharap anda memberitahu orang tuanya. Mendaftarkan Tae Hyung-ssi dalam program MATE mulai dari sekarang akan sangat bijaksana. Sebab setahuku... masa heat bagi kaum lion hybrid sangat... mengganggu. Mereka akan terangsang tiap lima-belas-menit sekali. Aku rasa akan menjadi masalah besar jika seorang lion hybrid tidak bersama pasangan 'mate'-nya pada masa heat."

Bibir Jin membuka dan menutup layaknya seekor ikan yang keluar dari air. Ia tidak mampu mengucapkan satu patah kata pun. Tanpa dapat dicegah pipinya memerah, kepalanya langsung panas karena mendadak bayangan V dengan wajah memerah, berkeringat, all on four dan... ASTAGA! Telanjang... bermain-main di otaknya. Belum lagi... lion hybrid yang imut dan lucu tersebut terlihat memohon, meminta agar Jin merajainya. Menyerahkan diri dengan pasrah di bawah kuasanya. Oh, My God... that's too much...

"Seok Jin-ssi? Anda baik-baik saja?" panggil si dokter sembari melambaikan tangan di hadapan wajah tampan Jin. Namja itu menyambutnya dengan mengerjap berkali-kali.

"A-ah, n-ne! Nan gwenchana, Uisa-nim! Tenang saja, aku pasti akan mengabarkannya pada orang tua Tae Hyung-ssi." Dan si dokter tidak mengerti kenapa Jin terdengar begitu bersemangat.

"Oh, baguslah. Kalau begitu aku keluar sebentar. Temani Tae Hyung-ssi sampai ia bangun, ne?" Permintaan sang dokter diangguki semangat oleh Jin. Namja tampan itu bahkan tidak berhenti tersenyum saat si dokter akhirnya keluar dari kamar rawat sekolah.

Jin mengamati wajah imut yang terlelap di tempat tidur. Tidak pernah satu kali pun ditemuinya kedamaian seperti ini saat dirinya mengamati wajah tidur orang lain. Lain halnya dengan wajah tidur sang adik, Kim Jung Kook, yang acapkali membuatnya gemas hingga langsung tersenyum dan mengusap bulu putih pada telinga bunny hybrid tersebut.

Bicara soal mengusap telinga...

Mata Jin beralih pada dua benda segitiga keemasan yang mencuat di antara rambut dirty blonde V. Khekheke... menyentuh 'sedikit' tidak masalah, 'kan?

Perlahan Jin mengulurkan tangan.

Dag,

Dig,

Dug~

Shit! Kenapa jantungnya malah berdebar tidak karuan?! Dia hanya ingin menyentuh telinga berbulu keemasan itu! Telinga segitiga yang pada ujung runcingnya sedikit dihiasi bulu-bulu panjang berwarna cokelat terang... ah, V terlihat sangat menggemaskan dibuatnya!

Deg,

Deg,

Deg~

Baiklah, masa bodoh dengan jantungnya. Jin sudah memutuskan, dia akan menyentuh dua segitiga menggemaskan di kepala V! Apapun yang terja—

"Hurhhh.. ghurrhhh..."

Dengkuran halus layaknya kucing tersebut memenuhi ruangan bertepatan dengan ujung jemari Jin yang bersentuhan dengan telinga V. Kedua telinga animal tersebut tertekuk ke samping. Mengingatkan Jin akan seekor kucing yang menikmati sentuhan lembut sang majikan di atas kepalanya. Apakah... V menikmati sentuhan Jin pada telinganya? Apakah lion hybrid imut tersebut menyukai sentuhan di telinga sampai-sampai mendengkur layaknya kucing yang dimanja sang majikan? Baiklah...

"Hurrrhhhh..."

"Ghurrrrrhhhh..."

"Bherrrhhhhh..."

Ingin rasanya Jin melompat bahagia. Jika bisa, dia ingin sekali memfilmkan bagaimana menggemaskannya V yang terpejam dan terus menggerakkan kepala, haus akan sentuhan tangannya di telinga makhluk imut tersebut. Belum lagi suara-suara dengkuran halus layaknya kucing yang teredam di tenggorokan V. Sungguh, Jin sama sekali tidak ingin moment ini berhenti!

Sayangnya, manusia hanya bisa berencana.

Klap.

Bola mata cokelat gelap itu menampakkan dirinya, membuat Jin mematung dalam kegiatan 'menyentuh' telinga segitiga keemasan tersebut.

"Apa yang kau lakukan?" V bertanya datar. Ingin rasanya ia bangkit duduk dan menepis tangan Jin agar menjauh darinya. Dan untunglah, namja itu tahu diri dan segera menurunkan tangannya dari telinga V.

"A-aku hanya me-menyingkirkan debu dari telingamu! Yah, debu! Hehehe~" kilah Jin cengengesan.

Mata V menyipit. Insting tajam dalam dirinya tahu kalau saat ini Jin berbohong, tapi... ah, sudahlah. V akan memilih untuk tidak perduli mengenai masalah itu. Yang terpenting sekarang... dia dimana?

"Kau di ruang rawat sekolah." Jin memberitahu saat melihat V yang mencoba mengamati ruangan sekitar. Lion hybrid tersebut kembali menoleh padanya. Terlihat ingin mengatakan sesuatu namun... berakhir tanpa melakukan apa-apa. "Kau akan mendekati masa heat, Tae Hyung-ssi." Jin akhirnya memutuskan untuk memberitahu. Toh, V memang seharusnya tahu akan kondisinya sendiri.

Mata besar lion hybrid tersebut melebar. Bagaimana... Jin tahu?

"Dokter sekolah yang mengatakannya padaku. Katanya kau pingsan karena akan mendekati masa heat. Kau disarankan... untuk mengikuti program MATE secepatnya, Tae Hyung-ssi."

Hening.

V tampak tidak berniat untuk mengeluarkan satu patah kata pun. Heat? Mate? Oh, untuk pertama kalinya dalam hidup, V menyesali dirinya terlahir sebagai makhluk hybrid. Ini menyebalkan. V sudah membaca dari buku mengenai hal-hal tersebut. Bagaimana mungkin di usia belia, mereka para hybrid harus melakukan mating, berpasangan dan segala macamnya?!

"Aku sudah tahu." Akhirnya V berbicara. Pengakuannya membuat namja tampan di samping tempat tidur menatap tidak percaya.

"Jadi kau sudah tahu?!"

"Hem."

"La-lalu... a-apa kau sudah mendaftar dalam program MATE? A-atau... a-apakah kau sudah memiliki pa-pasangan... mate-mu?" Jin hanya sanggup berbisik pada kata terakhir. Jangan! Tidak ada yang boleh menjadi mate V selain dirinya!

"Huft... aku belum melakukan apapun itu yang berhubungan dengan mate dan segala macamnya. Aku bahkan belum memberitahu orang tuaku mengenai hal ini."

"Apakah..." Jin memulai. Tangannya terasa berkeringat sekarang. "Apakah tidak bisa jika... jika orang itu adalah... aku?" tanyanya kemudian. Wajahnya terasa memanas. Tidak jauh berbeda dengan lion hybrid imut di tempat tidur yang saat ini juga dihiasi rona pink di kedua pipi. Hanya saja sedikit tersembunyi di balik selimut putih ruang rawat yang dikenakannya.

Bagus. Sekarang wajah V malah memanas tanpa sebab. Dia tidak pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya. Dan terlebih lagi, Kim Seok Jin adalah orang asing baginya. Tidak seharusnya ia merasa tersipu dan... menjadi mate-nya? Tidak. Dia tidak mau bernasib seperti umma dan appanya yang... oh, baiklah, dia tidak bermaksud menikah, hanya saja 'mating' menurut V, seharusnya dilakukan dengan orang yang mencintai dan menyayanginya sepenuh hati. Bukan seseorang yang bahkan, baru ia kenal dalam beberapa hari.

"Apakah... tidak bisa 'aku'?"

V tidak menjawab. Makhluk imut tersebut malah bangkit dari tempat tidur dan melangkah pergi, tepat di depan pintu, ia berbalik, menatap Jin tanpa emosi. "Maaf, Seok Jin-ssi. Kita tidak saling mengenal. Butuh chemistri bagi siapapun itu dalam memutuskan suatu hubungan. Sementara aku dan kau... kita sepenuhnya adalah orang asing. Mianhe." Setelah mengatakannya, V meraih handle pintu dan pergi. Meninggalkan Jin yang mematung. Patah hati. Hampir.

Tapi... bukan Kim Seok Jin namanya kalau ia akan menyerah semudah itu, bukan? Ayolah, dia bahkan sudah membantu di perusahaan besar appanya dalam menghadapi beberapa orang tua kaya raya dan berkuasa.

"Baiklah, Tae Hyung-ssi. Chemistri bisa dibangun dan... 'orang asing'? Aku akan memusnahkan status itu secepatnya. Watch out, Babe~"

~~~~\(^3^)/\(0-0)/~~~~~

"Taehyungie~"

Lion hybrid berwajah imut tersebut langsung menoleh begitu namanya dipanggil. Sebuah mobil sedan hitam berhenti tepat di sebelahnya. Dan, V mengenali betul siapa si pemilik sedan. Terlebih, kepala si pemilik terulur keluar dari jendela mobil yang terbuka.

"Dae Hyun Appa!?"

Namja tampan berkulit tan dengan hidung mancung yang terlihat persis sama dengan V tersebut tersenyum cerah. Senang sekali karena niatnya membuat kejutan untuk sang putera berhasil. "Hi, Son! How are you?" sapanya.

Kentara sekali V memutar bola mata malas. "Aku baik, Appa. Dan tolong, jangan menggunakan bahasa planet."

Bibir tebal namja tampan bernama Jung Dae Hyun langsung cemberut. Pouting. Bagaimana tidak? Satu tahun lebih tidak berjumpa, puteranya yang imut ini malah terlihat biasa-biasa saja! Paling tidak, seharusnya ia diberi senyuman selamat datang serta pelukan erat, 'kan?!

"Appa, bibirmu itu sudah tebal, jangan dikerucutkan begitu. Appa itu bukan Umma; yang terlihat sangat manis meskipun tengah merajuk." V berkata tanpa beban.

Ugh, Dae Hyun akui mulut pedas sang aegya menurun darinya. Dan soal keahlian meledek—menghina, lebih tepatnya—, ini pastilah dari Baek Hyun.

"Tsk, kau tidak berubah, ya!?"

V hanya mengangkat bahu acuh atas keluhan sang appa. Bergestur seolah 'nothing I can do if this runs in my blood though.'

"Ayo, masuk! Appa ingin mengenalkan seseorang padamu."

Dae Hyun sudah membukakan pintu mobil untuk V, namun sayangnya namja imut tersebut diam tidak bergeming. Ia hanya menggenggam erat tali tas punggung di bahunya.

"Wae?"

"Ng... Umma menyuruhku langsung pulang setelah sekolah," ujar V dengan kepala tertunduk.

Dae Hyun tersenyum melihatnya. Meskipun berlagak acuh, namun ia tahu sang aegya sebenarnya tidak bersungguh-sungguh. Lion hybrid tersebut juga merindukannya. Terlihat jelas dari pipi yang menggembung beserta kedua telinga turun menangkup ke bawah. Ekspresi bersedih. Mirip sekali dengan apa yang dilakukakan Baek Hyun saat namja manis itu merajuk atau pun merasa sedih. Oh, siapa yang menyangka kalau mereka akan menciptakan putera yang sangat menggemaskan dan penuh pesona seperti V?

"Hei."

V mengangkat kepala saat merasakan tangan lebar Dae Hyun menggusak helai rambutnya.

"Kau pikir aku akan berani mengajakmu sembarangan tanpa persetujuan umma-mu? Yang benar saja! Wajahku akan dicakarnya! Percayalah, meskipun terlihat lentik dan feminin, cakaran jari-jari umma-mu itu sangat menyakitkan. Aku sudah sering menjadi korbannya."

Mau tidak mau, V hanya bisa terkekeh geli atas keluhan yang didramatisir appa-nya. Eh, bukankah itu kenyataan? V juga sering menggunakan cakaran sebagai senjata.

"So, My Beautiful-Adorable Boy wanna come to spend the day with his appa?" Dae Hyun dihadiahi pipi menggembung oleh makhluk imut di hadapannya.

"Sudah kubilang jangan berbicara bahasa planet. Baiklah, aku akan pergi bersamamu."

Dan Dae Hyun menyengir lebar layaknya serigala. Dia terlihat begitu bersemangat menuntun sang aegya ke dalam mobilnya. Yah, ada seseorang yang harus V temui.

TBC

NB: No comment. N gumawoyo buat Readers-nim yang udah mau baca dan ng-reviews FF ni ^^ m(_ _)m*bow*