FF BTS/YAOI/J.V/THE BEAUTIFUL HIB-CREATURES /Chapter 7

Title: The Beautiful Hib-Creatures

Author: Bang Young Ran

Rating: M

Genre: Yaoi/Fluff/Romance/Scien-fict/AU

Length: Chaptered

Main Cast:

Kim Tae Hyung aka V ^w^ 3

Kim Seok Jin~~ 3

Support Cast:

HopeKook (J-Hope & Jung Kook)

KrisBaek (Kris & Baek Hyun EXO)

DaeBaek (Dae Hyun BAP & Baek Hyun)*ni cuma masa lalu*

DaeJae (Dae Hyun & Young Jae)

BangHim (Yong Guk & Hime~~)

Couples nyusul~

Disclaimer: BTS is Big Hit/JYP Entertainment Boy Group and their parents, and it's Youngranie fic~ muaaaachhh...*kechupbasah*

Warning: TYPO! OOC! YAOI/BoysxBoys! NC! NO PLAGIARISM! NO BASHING! NO SIDERS!

Summary: Di era modern sekarang ini, manusia tidak lagi terfokus dalam menciptakan kaleng besi berjalan—robot. Menciptakan makhluk hidup yang benar-benar hidup dalam bentuk lain, itulah yang menjadi fokus para ilmuan beberapa tahun belakangan. Awalnya menggabungkan spesies hewan dari jenis berbeda, dan sekaranglah terobosan baru tercipta dimana gen hewan digabungkan dengan... gen manusia.

.

.

DON'T LIKE, DON'T READ, JUST LEAVE IT, OK!?

.

.

~~( ^3)(.o )~~

.

.

TANPA BANYAK BACOT, LANGSUNG AJA CHECK IT OUT

HAPPY READIIIIIINNNNGGGGG... ^3^

.

.

.

The Beautiful Hib-Creatures

Chapter 7

Di dalam hidup seorang Kim Jung Kook, dirinya hanya mengenal dua macam warna; warna-warni untuk pelangi, dan warna abu-abu untuk awan gelap. Jung Kook selalu cerah dan ceria layaknya warna pelangi, dan dia tahu apa itu bersedih dan menggambarkannya bagai kumpulan awan gelap pertanda hujan.

Tapi... apakah ini?

Kenapa semuanya terasa panas, ah, tidak, maksudnya, sangat, sangat panas! Jung Kook suka sinar mentari tapi tidak cukup senang berada di bawahnya. Tapi... ini bukan sinar mentari! Jung Kook merasakan panas ini menguar dari pori-pori kulitnya!

Dan... kenapa dia naked? Seingat Jung Kook, tadinya dia memakai piyama lengkap sebelum tidur.

"Jungie chagi~"

Mata Jung Kook terbelalak begitu merasakan jilatan pelan pada sisi telinga kelincinya. Lebih kagetnya lagi, saat ia menoleh ke samping.

"Hopie Hyung?!" pekik Jung Kook kaget. Bagaimana tidak? Orang yang menjilat telinganya adalah J-Hope. Dan... namja itu naked! OMONAAAA! Si bunny hybrid dapat merasakan kedua pipinya memanas dan sesegera mungkin menutup kedua mata dengan telapak tangan.

Terdengar kekehan renyah yang menggema di seluruh penjuru... penjuru... ah! Molla! Jung Kook bahkan tidak tahu dia berada di mana sekarang.

"Jungie Chagi~ waegeureyo...? Kenapa kau menutup matamu begitu? Kau sudah sering melihatku begini, 'kan~?"

"J-jinjja? Jungie sering melihat Hopie Hyung tidak memakai baju?!" Kepolosan Jung Kook langsung mengambil alih dengan mata yang melebar menatap lurus ke arah J-Hope—tidak terganggu lagi untuk menutupnya dengan telapak tangan.

Namja yang ditanyai dan diberikan ekspresi menggemaskan dari si bunny hybrid kembali terkekeh. Sesaat kemudian bibir tipisnya tersenyum dan mengusap pelan surai lembut sehitam tembaga itu. "Ne, Chagi~ Kkkkk... ada apa denganmu hari ini? Kau menanyakan hal aneh, kau tahu? Jangan bilang kau juga lupa kalau kita pernah melakukan ini?" J-Hope mendekat dan mempertemukan bibir mereka. Pada awalnya itu hanyalah ciuman super lembut yang saling berbagi sentuhan, namun kemudian Jung Kook memutuskan untuk menambahkan lidahnya—Jung Kook selalu menganggap 'lidah' merupakan suatu keharusan. Terima kasih sekali lagi kepada appa dan sang umma yang memberikan contoh 'baik' padanya—dan J-Hope juga tidak ketinggalan untuk melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan si bunny hybrid.

Setelah cukup lama barulah keduanya saling memisahkan diri. Namun tidak dengan tangan J-Hope yang masih menapak pada pipi kiri Jung Kook. "Kau juga lupa bahwa kita pernah berciuman?"

"Ti-tidak! Tentu saja Jungie ingat!"

"Kkkkk~ baguslah."

Jung Kook masih belum mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi. "Hopie Hyung," panggilnya.

"Hm?"

"Kenapa kita naked? Dan kenapa tubuh Jungie panas sekali, Hopie Hyung~?"

"Kau dalam masa heat-mu, Jungie~"

"Heat? Oh, Jungie ingat! Waktu itu songsaenim pernah menjelaskan hal itu di kelas," kata Jung Kook sembari mengangguk-anggukkan kepala mengerti, namun berikutnya kembali kening mulusnya berkerut penuh tanya. Diikuti pula oleh salah satu telinga kelincinya yang tertekuk ke samping, bingung. "Lalu? Jungie harus bagaimana, Hopie Hyung? Soangsaenim bilang, saat mengalami heat harus mengikuti program MATE. Dan, apa itu mate?" tanyanya penuh kebingungan. Otak Jung Kook terlalu polos untuk mencerna maksud dari perkataan sang soangsaenim waktu itu. Hanya mengingat, tanpa mengerti apa-apa.

J-Hope tersenyum lembut melihat kepolosan si bunny hybrid. "Untuk itulah aku berada di sini, Baby. Aku akan menunjukkan apa itu 'mate' padamu."

Setelahnya terjadi begitu saja tanpa Jung Kook berkesempatan untuk bertanya lagi. J-Hope kembali meraih bibirnya dalam ciuman. Agresif. Tanpa jeda.

"Eungh!" Bunny hybrid manis itu terpekik dalam desahan. Ia merasakan tangan J-Hope yang lebar menelusuri punggungnya, terus membelai hingga berhenti tepat di kedua gundukan kenyal di bagian belakangnya. Yang lebih membuat Jung Kook terpekik lagi, remasan keras namun pasti tangan J-Hope pada bagian itu. "Angh! Hopie Hyunghhhhh... ahh..."

"Jungiehhhh... kau menyukainya?" bisik J-Hope seduktif diantara perpotongan leher dan rahang Jung Kook. Bibirnya mengecup dan menghisap lembut bagian tersebut.

"Nehhhh... Hyunghhhh..." Secara alami Jung Kook mengalungkan lengannya pada leher J-Hope. Namja tampan yang dipeluk kemudian sedikit mengangkat Jung Kook hingga berpindah ke dalam pangkuannya.

Mereka kembali tenggelam dalam ciuman panas. Jung Kook begitu melayang. Kakinya yang putih mengalung erat pada pinggang namja yang memeluknya, membuat tubuh bawah mereka saling menekan, menyentuh dengan begitu intim.

Jung Kook sadar betul betapa anehnya perasaan ini; bagaimana tubuh mereka saling mengeluarkan hawa panas, betapa menyenangkannya saat kedua telapak tangan lebar J-Hope meremas pantatnya, dan bahkan, saat adik kecilnya yang mungil saling menekan dengan milik J-Hope di bawah sana. Semuanya terasa luar biasa dan asing di saat yang bersamaan.

"Hyunghhhh..."

Pekikan keras dari si bunny hybrid kembali terdengar karena jemari J-Hope meraba cincin berkerut di antara gundukan kenyalnya. Bagian cincin tersebut sudah basah sepenuhnya oleh cairan lubricant alami yang setiap tubuh hybrid hasilkan bila mereka mengalami masa heat.

"You're already wet, Jungie~ so fuckin' wet..."

"Hyunggghhhh... ke-kenapa panas sekalihhhh...? Tolong Jungie, Hyunghhhh..."

Permintaan Jung Kook membuat J-Hope menyeringai nakal. Jemari yang tadinya hanya meraba-raba cincin berkerut tersebut, sekarang mulai dengan jahilnya menekan masuk. Menerobos sebatas ujung telunjuk, kemudian menariknya keluar. Memang tidak ada sedikitpun niat untuk melakukannya dengan benar, tampaknya.

"H-Hyuuuunnngggghhhhh..." desah Jung Kook frustasi. Dia tidak mengerti kenapa tapi... dia ingin jemari itu memasuki bagian belakangnya, sepenuhnya. Jung Kook ingin... dimasuki. Ia membutuhkan jemari J-Hope untuk memenuhinya.

"Kkkkk~ Apa, Jungie~? Aku tidak mengerti. Tell me~ Sowaneul malhaebwa, Jungie~" Dengan sengaja dan terkesan evil J-Hope berbisik di depan bibir merah Jung Kook. Hembusan nafas hangatnya mengundang desahan frustasi lain dari si bunny hybrid.

"Hyaaa... Hyunghhhh... Jungie mohon... ahhh... sen-sentuh Jungiehhhh! Hiks..." Sekarang malah terdengar isakan. Jung Kook benar-benar frustasi. Dia ingin J-Hope menyentuhnya. Sekarang. Juga!

"Howh~" dendang J-Hope senang. "Look at you... so damn lovely cute~~ Please, crying for me more~"

Betapa malangnya nasib si bunny hybrid ketika J-Hope malah memutuskan untuk menjahilinya. Rasa frustasi membuat makhluk manis tersebut benar-benar menangis. Suhu tubuhnya semakin memanas dan sama sekali tidak membantu karena jemari J-Hope masih saja menggodainya di belakang sana. "Hyuuunngghhhhhh~ hiks... Jungie mohonnhhh... huhuhu, hiks... sentuh Jungiehhh, please... hiks..."

"Jungie... aku sudah menyentuhmu~ lihat?" Sedikit berbaik hati, J-Hope mendorong masuk sepenuhnya telunjuk kanannya. Namja itu sempat menutup mata, melawan gelombang hasrat saat merasakan telunjuk tersebut dilingkupi hawa panas dan pijatan lembut dari dinding sempit Jung Kook.

"Hyaaahhh~ Hyunghhh... more... ahh... Jungie ingin semuanyahh..."

Seringaian J-Hope semakin lebar saja mendengar permohonan menyenangkan namun berbahaya tersebut. Jari tengah dan manisnya mulai ia dorong masuk pula, membuat nafas Jung Kook tercekat. J-Hope membawa tangan kirinya untuk mengusap dengan arah melingkar pada punggung namja manis tersebut. Menenangkannya.

"Kau lihat, Baby? Kau bahkan tidak sanggup menerima tiga jariku, bagaimana mungkin aku akan memasukkan semuanya?"

Terdengar desisan bercampur desahan dari Jung Kook sebelum ia berbicara, "ssshhhh... ahhh... Jungie tidak perduli, Hyunghhhh... Jungie mau semuanyahh!"

Berikutnya, entah Jung Kook harus merasa senang ataukah ia harus menyesali permintaannya tersebut. J-Hope benar-benar memasukkan semuanya. Hanya jemari kanan, namun... oh, God... it's so streeching him to the hilt! He feels like split into two!

"AKH! HOPIE HYUNGHHH!"

"Sssshhhh... calm down, baby... you wanna me to stop it?" J-Hope berbisik lembut. Ia sedikit menjilat dan menggigit kecil daun telinga kelinci berbulu putih dalam pangkuannya. Jung Kook menggeleng, meskipun wajahnya masih menunjukkan kalau ia jelas-jelas dalam keadaan sakit-teramat-sangat.

"An-ahhh, andwee! Hhhhh... te-terushhhh... khanhh... H-Hopie Hyunghh... J-Jungie – AGH!" Jung Kook terpekik dan mendesah hebat. Jemari J-Hope serasa menyenggol sesuatu di dalam sana. Sesuatu yang membuat pandangan Jung Kook memutih dalam sekejap meskipun matanya jelas-jelas masih terbuka. "AHHHHHHHHH... Hopie Hyunghhhh... i-ituhh apahhh...?"

"Kkkkkk~ itu sentuhan 'spesial' dariku, Jungie Baby~ Kau menyukainya? You wanna me touch it again?" goda J-Hope sembari bergerak mengecup pipi kiri si bunny hybrid untuk kemudian mengulum pipi chubby yang putih tersebut hingga menimbulkan warna pink yang cantik. Mirip blushing, hanya saja lebih menantang.

"Nehhhh, Hyunghhh..." Tanpa ragu Jung Kook meminta. Mata doe-nya yang berwarna cokelat gelap—diwarisi dari sang umma hanya berbeda warna—terpejam erat. Bibir merahnya terbuka lebar, mengeluarkan desahan dan menampakkan bunny teeth yang sangat manis, yang lagi-lagi diwarisinya dari sang umma.

J-Hope menyentuh titik tersebut kembali, kali ini tidak cukup tega untuk menolak keinginan si manis padanya. Lagipula, wajah penuh ekstasi yang Jung Kook tunjukkan, tepat di hadapannya langsung, rasanya terlalu berharga untuk dilewatkan. It's such a fuckin' turn on!

"Ahhhhhhhh... Hopie Hyunghhhh~"

"Kau ingin aku melakukan yang lebih, Baby~?" Pertanyaan J-Hope disambut anggukan begitu saja dari namja manis dalam pangkuannya. Tidak usah diragukan lagi, Jung Kook sudah terlalu tenggelam dalam ekstasi kenikmatan. Dan sepertinya, dia bahkan tidak mengerti apa yang saat ini J-Hope katakan.

Desahan nikmat Jung Kook kembali berganti dengan isakan dan erangan frustasi. Pasalnya, namja tampan yang memangkunya kembali menarik semua jemari tersebut, meninggalkannya dalam kekosongan. "Hiks~ Hyuuunghhhh... hiks..." isaknya memelas. Suhu tubuhnya tidak menurun dan sekarang J-Hope malah menarik semua jemari itu?! Demi Tuhan, bagaimana lagi Jung Kook dapat memenuhi bagian bawahnya yang semakin basah tersebut?!

"Ssshhhhh... tenang, Jungie~" bisik J-Hope menenangkan si manis yang menangis frustasi. Namja tampan tersebut kemudian meletakkan kedua tangan pada pinggul ramping tersebut dan mengangkatnya. Ia membuat tubuh Jung Kook berbaring di ranjang, memposisikan dirinya sendiri di antara kaki putih yang terbuka lebar itu.

Jung Kook masih menangis saat J-Hope merendahkan tubuh di atasnya lalu mempertemukan bibir mereka, memberikan ciuman kacau, basah, dan dipenuhi hasrat panas. Sepanas suhu tubuh Jung Kook yang sayangnya semakin tidak terkendali.

Seakan mencapai batas limit dari ke-frustasi-annya, pinggul Jung Kook mulai bergerak ke atas, ke bawah, berusaha menciptakan friksi agar adik kecilnya bersentuhan dengan milik namja tampan di atasnya.

J-Hope mengerang lirih dibuatnya. Secara reflek, ia mengigit bibir bawah Jung Kook cukup keras, namun tidak sampai membuat luka. Bunny hybrid tersebut juga ikut mengerang dan untuk menghentikan dirinya menyakiti si manis, J-Hope dengan terpaksa meremas dan memegang erat pinggul ramping di bawahnya.

Tapi... tampaknya sudah terlambat. J-Hope telah kehilangan dirinya. Ia hanya mendapati tangannya bergerak sendiri untuk membuka lebar kedua kaki putih Jung Kook dan tanpa aba-aba mendorong kesejatiannya memasuki cincin berkerut di bawah sana. Meskipun sudah dimasuki lima jari, tapi... dinding hangat Jung Kook seolah menolak untuk longgar, yang ada, kesejatian J-Hope diremas tanpa ampun di bawah sana.

"Aghhhhh..."

"Anghhhhh..."

Keduanya mengerang penuh ekstasi.

Jung Kook seolah menemukan rasa 'penuh' yang diinginkannya. Tubuh mungil tersebut mulai bergerak, berusaha memasukkan milik J-Hope lebih dalam lagi tanpa menunggu dinding hangatnya memberi ruang untuk sekedar merasa terbiasa.

J-Hope menggeram akan hal itu. Tanpa menunggu, ia memberi apa yang si bunny hybrid mau, dia mulai bergerak. Setiap hentakan dari pinggulnya menimbulkan desahan penuh kenikmatan bernada tinggi dari bibir Jung Kook. Sama sekali tidak ada kelembutan. Mereka melakukannya secara kasar dan keras. Jung Kook sama sekali tidak mengeluh. Yang ada, bunny hybrid manis itu malah terus mendesahkan 'more' dan 'harder' tanpa henti.

"More... hhh... harderhhhh... Hopie Hyunghhh... harderhhh..."

Bagai peri, atau mungkin 'setan' baik hati, J-Hope memenuhi semuanya. Dia menghentak ke dalam tubuh mungil Jung Kook dengan keras, terlalu kuat hingga kepala tempat tidur ikut menghantam dinding berkali-kali.

Yah, menilik dari gen animal yang Jung Kook dapat dari sang umma, they both fuckin' like bunny. Mad-Horny Bunny and the Fuckin'-Mad Master.

"J-Jungiehhhh... AKH!"

"AKH! HOPIE HYUNG~!"

######^0^########

KLAP!

Mata doe cokelat tu terbuka dan menutup berkali-kali. Rambut sehitam tembaganya menempel di dahi, lengket akibat keringat. Dadanya serasa naik turun dengan pipi dan telinga memerah panas.

Apa yang terjadi?

Tidak ada 'Hopie Hyung'nya. Jung Kook tidur tanpa mengenakan selimut dan ia terbalut piyama. Tidak naked. Dan sekali lagi, tidak bersama namja tampan yang dipanggilnya 'Hopie Hyung'.

Merasa tidak nyaman, Jung Kook menggerakkan tubuhnya ke samping. Telinga kelinci di kepalanya langsung berdiri dikala merasakan sesuatu yang lengket di antara selangkangannya.

NO!

Dia tidak... ngompol, kan?!

Jung Kook langsung terduduk dan melihat ke bawah. Matanya melebar shock mendapati bagian selangkangannya memang basah.

"GYAAAAAAAA! UMMMAAAAAAAA!"

Duagh!

Brugh!

"AGH! HIME!" Yong Guk mengerang kesakitan karena sang anae menendang Little Yong Guk yang tengah menegang hebat.

Yah... ini masih jam sebelas malam dan keduanya sudah horny hingga melakukan 'petualangan' lebih awal. Namun Him Chan tetaplah Him Chan. Bunny hybrid cantik tersebut sangat menyayangi buah hatinya, apalagi Jung Kook, yang tidak diragukan lagi mewarisi hampir tujuh-puluh-lima-persen bagian dari dirinya. Dan mendengar sang buah hati tersayang berteriak, terlebih memanggilnya, tanpa memperdulikan apapun Him Chan bangkit dari posisi berbaringnya begitu saja. Oh, jangan lupakan tendangan kelinci yang dihadiahinya di selangkangan Yong Guk karena namja itu terkesan tidak mau menyingkir.

Secara serampangan Him Chan meraih apapun itu pakaian mereka yang berserakan di lantai dan memakainya. Boxer bermotif tengkorak milik Yong Guk, dan... kaus merah tanpa lengan yang juga milik sang suami.

"JUNGIE CHAGI, WAEGEURE?!" teriak Him Chan menyongsong masuk ke dalam kamar sang aegya yang memang tidak pernah dikunci.

Jin juga menyongsong masuk setelah sang umma. Wajahnya dipenuhi kekhawatiran yang sama. Menyusul setelahnya sang appa yang jalannya... terpincang? Ah, molla. Jin memutuskan untuk tidak bertanya dan memilih untuk memperhatikan namdongsaengnya yang... baiklah, memeluk kedua kaki sambil... menangis. Waegeure?

"Chagi... waegeure...?" Him Chan memelankan suaranya agar sang aegya berhenti menangis dan mengatakan sesuatu.

Jung Kook mengangkat wajahnya yang dipenuhi linangan air mata, dengan terisak ia berkata, "U-Umma... mi-mianhe..."

Ketiga pasang mata yang mengelilingi ranjang Jung Kook saling melirik penuh tanya. Mianhe?

"Mi-mianhe, umma... hiks... Ju-Jungie... ngompol! Huwaaaaa!" Jung Kook menangis keras setelah mengatakan semua itu. Bagai baru saja mengatakan sebuah dosa besar. Otaknya yang polos langsung men-judge dirinya sendiri sebagai kelinci nakal. Bagaimana mungkin dia ngompol?! Dasar kelinci nakal! (Him Chan terlalu banyak menanamkan sosok kelinci 'baik dan manis' ke kepala Jung Kook-.-)

Alis sempurna Him Chan berkerut mendengar penuturan Jung Kook. Ngompol? Kkkk~ ah, tidak seharusnya Him Chan merasa terhibur. Ah, tidak! Kenapa Jung Kook terlihat begitu menggemaskan saat ini!?

'Berhenti, Kim Him Chan... kuasai dirimu! Bagaimana kalau Jung Kook semakin menangis karena merasa kau tertawai nanti!? Ah, tapi... OMONA~~ Jung Kook sangat manis kalau menangis seperti ini! Omo... aigooo... a-apa yang harus kulakukan?'

Oke, kita tinggalkan 'bunny mama' yang melakukan fangirling di dalam pikirannya sendiri. Lebih baik sekarang Yong Guk mengambil alih.

"Jungie Baby... boleh appa lihat?"

Dengan polos Jung Kook mengangguk. Dia kemudian menurunkan kakinya yang ditekuk, meluruskan, dan membukanya. Wajahnya memerah, sangat malu.

Selangkangan Jung Kook memang basah... tapi... itu bukan air seni...

Yong Guk mendekati telinga kelinci Him Chan dan membisikkan sesuatu yang membuat sang anae 'kembali' ke dunia nyata dengan mata membulat maksimal. "OMO?! JINJJA?!" pekik namja cantik itu excited. Reflek kedua telapak tangan diletakkannya di kedua pipi. Membuat Yong Guk yang melihatnya terkekeh, mengakui betapa imut dan menggemaskannya reaksi anae-nya yang cantik ini.

"Ne~"

Jin sama sekali tidak mengerti. "Umma, Appa, ada apa? Jungie kenapa?"

Bukannya menjawab pertanyaan sang aegya, Him Chan malah memekik riang dan menghambur ke tempat tidur, memeluk tubuh mungil Jung Kook dengan erat. "Gyaaaa~ chukkae~ Jungie Chagi! Omo... anak umma sudah dewasa, eoh~!?"

"Chukkaeyo, Baby," timpal Yong Guk dengan gummy smile-nya.

Jin masih belum menangkap apa-apa. Chukkae? Sudah dewasa? Apa maksud orang tuanya ini?!

Tangisan Jung Kook berhenti seketika. "Umma... Appa... kenapa kalian mengucapkan selamat karena Jungie ngompol?" tanyanya heran. Jin saja bingung, apalagi bunny hybrid yang polos ini!

Pekikan gemas kembali terdengar dari Him Chan. Pelukannya pada tubuh mungil tersebut semakin erat saja. Sementara Yong Guk sendiri terkekeh keras sekarang.

"Kkkkk~ Baby, kau tidak ngompol. Kau baru saja mengalami wet dream. Itu tandanya kau sudah dewasa, Baby. Masa 'heat'mu akan datang."

Rahang Jin jatuh mendengar penjelasan sang appa. O. My. God! Namdongsaeng-nya yang luar biasa manis, sebentar lagi akan melakukan mating?!

Berbeda dengan Jin, Jung Kook hanya mengangguk mengerti dengan bibir membentuk huruf 'o'. "Apa itu pertanda baik, Umma? Appa?"

"NE!" pekik suami-istri Kim secara bersamaan.

Tidak...

Sama sekali tidak baik.

Yah, hanya Jin yang tampaknya tidak setuju.

~~~~~\(^3^)(0.0)/~~~~~

Bila suami-istri Kim menyambut dengan penuh suka cita datangnya 'wet dream' sang aegya, berbanding terbalik dengan apa yang terjadi dengan Keluarga Kim yang satu lagi. Lebih tepatnya Kim Baek Hyun.

Tok, tok, tok, tok...

"Umma... keluar, ne? Kita bicara baik-baik."

"Hiks~ Tuhan... hiks, Taehyungie akan meninggalkanku... hiks... ani.. hiks... andweyo, jeongmal, hiks..."

Hanya kata-kata itu yang terus keluar dari bibir sang umma. V tidak tahu lagi harus berbuat apa. Sudah berjam-jam dia berdiri di depan pintu kamarnya. Naked, hanya terbalut bathrobe putih milik sang umma.

Mmm... dampak yang tidak terduga dari V menjatuhkan 'bom', Baek Hyun langsung berteriak dan meratap, keluar dari bathtube, lalu berlari ke kamar sang aegya dan menguncinya dari dalam. Lion hybrid imut itu bahkan tidak memakai apa-apa saat dirinya memasui kamar V tadi. Dan yang lebih parahnya, Baek Hyun terdengar menangis dan meratap sejadi-jadinya; bergumam hal seperti Taehyungie-Ku terlalu cepat dewasa dan akan meninggalkanku atau semacamnya. Huft... entahlah, siapa yang sebenarnya di posisi 'anak' saat ini.

"Taehyungie? Ada apa? Pintu kamarmu tidak bisa dibuka?"

Bagai dewa penolong, Kris datang di saat yang tepat. Keningnya berkerut heran melihat V menggedor-gedor pintu kamarnya sendiri.

"Eumm... Appa, itu..." Baiklah, bagaimana V harus menjelaskan reaksi unik sang umma?

"Ada apa, Taehyungie~? Mana umma—"

"Hiks~~ aku tidak mau Taehyungie meninggalkanku... huwaaaaa..." Tangisan keras dari dalam kamar V sekiranya menjawab apa yang akan Kris tanyakan. Baek Hyun di dalam kamar. Dan dia... menangis? Ah, meratap lebih tepatnya.

Ekspresi penuh tanya sang appa membuat V nyengir gaje sembari mengusap bagian belakang kepalanya. "Eum... itu, Appa, waktu berendam di dalam bathtube bersama, aku menceritakan pada umma kalau aku sudah mengalami wet dream dan kemugkinan masa heat-ku akan datang. Lalu umma... yah, seperti ini," jelas V dengan pipi memanas. Ukh! Entah kenapa dia bercerita dari awal seperti itu?!

Kris yang sudah paham dengan apa yang sebenarnya terjadi hanya mengangguk-anggukkan kepala. Sesaat kemudian namja tampan tersebut tersenyum lembut dan mengusap rambut dirty blonde lion hybrid di depannya. "Chukkaeyo, Taehyungie~ Kau sudah mulai dewasa."

V tersenyum. Yah, meskipun Kris bukan ayah kandungnya, tapi namja itu selalu memperlakukan V layaknya anak sendiri. V bahkan kadang lupa kalau namja yang bediri di depannya ini bukan appa biologisnya. "Gumawoyo, Appa."

"Huft... kalau begitu kau pakailah baju umma-mu dulu, ne? Appa akan bicara dengan umma-mu."

V mengangguk patuh dan segera berlari menuju kamar utama, kamar orang tuanya.

Tinggallah Kris di sini sendiri, dengan Baek Hyun yang tidak henti-hentinya meratap dan menangis keras di dalam sana.

Huft...

Tok, tok, tok...

"Baby? Kau mendengarku? Buka pintunya, ne?!"

"Huwaaaa... Taehyungie..."

Tok, tok, tok...

"Baek Hyun Baby, buka pintunya. Kita bicarakan ini berdua. Kalau seperti ini tidak akan menyelesaikan apa-apa, eoh?! Kau tidak kasihan dengan Uri-Tahyungie?"

Cklek~

Bujukan Kris berhasil. Pintu kamar di hadapannya terbuka dari dalam, menampakkan wajah dengan hidung memerah dan mata membengkak parah. Pipi putih tersebut masih sedikit basah, dan sesekali terdengar isakan.

Kris menerobos masuk dan meraup tubuh mungil lion hybrid imut tersebut dalam pelukan erat. Dan lagi-lagi, Baek Hyun menangis. Dia benar-benar sedih.

"Ssshhh... jangan menangis lagi, ne~?"

"Hiks... ba-bagaimana aku tidak menangis, Kris! Hiks, hiks... Taehyungie sebentar lagi akan menemukan mate-nya dan meninggalkanku sendiri! A-aku... hiks, aku tidak bisa!"

Getaran tubuh mungil dalam pelukan Kris semakin kuat saja. Untuk itu, ia membawa tangannya mengusap punggung sempit si lion hybrid dengan gerakan memutar, bermaksud membuatnya tenang. "Apa maksudmu sendiri, eoh? Ada aku bersamamu. Suatu saat kita akan memiliki 'baby' sendiri. Kau tidak boleh berkata seperti itu. Apa kau tidak ingin Uri-Taehyungie tumbuh dewasa? Kau ingin dia tidak memiliki 'mate' seumur hidupnya dan menderita melalui masa heat-nya sendiri? Kau ingin hal itu terjadi?"

"Hiks~ ani, aku tidak ingin Taehyungie menderita!" Baek Hyun memekik frustasi. Aliran air mata di pipinya semakin menganak sungai; membayangkan sang aegya menderita karena mengalami masa heat tanpa mate. Baek Hyun sendiri tahu betapa beratnya masa heat bagi lion hybrid.

"Lalu?"

Pertanyaan Kris disahut oleh keheningan. Yang ada hanya suara isakan dan tangisan Baek Hyun. Namja tampan berambut abu-abu tersebut akhirnya menghela nafas berat, sedikit menyesal karena selama ini mereka selalu menunda momongan karena merasa V belum cukup besar. Lihat sekarang apa yang terjadi?! Baek Hyun jadi sangat overprotektif pada sang aegya satu-satunya. Perhatian Baek Hyun sepenuhnya hanya tertuju pada V. Dia jadi sulit menerima kenyataan kalau suatu saat sang aegya akan menemukan mate-nya dan pergi meninggalkan mereka.

Setelah beberapa saat tangisan Baek Hyun mulai mereda. Hanya isakan pelan yang terdengar dari bibir pink tipis itu sekarang. Terima kasih pada Kris yang tidak henti-hentinya membisikkan kata-kata menenangkan dan membelai rambut Baek Hyun dengan lembut.

"Sekarang kita menemui Taehyungie, eoh? Kasihan dia merasa bersalah karena membuatmu menangis," ajak dan bujuk Kris yang disambut anggukan pelan dari Baek Hyun.

########^0^#######

Telinga segitiga keemasan tersebut tampak turun lesu. Begitupula dengan kepala si pemilik. Yah, V serasa diadili saat ini.

"Mianhe..."

Satu kata penyesalan yang terdengar lirih tersebut menggema di seluruh penjuru kamar. V langsung mengangkat kepalanya, tahu dengan pasti bahwa sang umma-lah yang mengucapkannya.

"Umma kenapa minta maaf?" tanya V bingung. Padahal, tadinya dia yang merasa sangat bersalah karena membuat umma-nya menangis.

Baek Hyun menunduk. Dia merasa tidak bersikap semestinya sebagai orang tua. Childish, eoh?

Kris tahu apa yang saat ini Baek Hyun rasakan, maka dari itu namja tampan tersebut mengusap pelan punggung sang anae, berusaha memberinya kekuatan. Terlihat Baek Hyun melirik sedikit ke arahnya dan melemparkan senyum seolah mengucapkan terima kasih.

Yah, Baek Hyun tidak sendiri. Dia tidak sendiri. Ada Kris di sampingnya.

Akhirnya, bagai mendapat semangat baru, kepala mungil Baek Hyun terangkat dan menatap sang aegya dengan senyuman lembut. "Mianhe, Chagi. Umma telah bersikap egois. Seharusnya umma senang karena kau sudah beranjak dewasa. Seharusnya umma mendukungmu, bukannya malah..."

V menghambur memeluk sang umma erat. Dia tahu kalau Baek Hyun sangat menyayanginya. Baek Hyun berhak bersikap egois atas dirinya. "Tidak apa-apa, Umma~ Aku tahu karena terlalu menyayangiku, makanya Umma bersikap seperti itu. Aku mengerti. Aku juga menyayangi Umma. Saaaangaaaaaattttttt sayang!"

Kata-kata yang diucapkan V malah membuat Baek Hyun kembali menangis. Namun kali ini bukan tangis kesedihan; Baek Hyun menangis karena merasa sangat bahagia. Yah, cinta ibu dan anak tidak akan pernah goyah, 'kan?

"Gumawoyo, Taehyungie. Umma juga sangat, sangat, sangaaaaat... menyayangimu!"

Kris tersenyum menyaksikan keakraban ibu dan anak tersebut. Perlahan ia mendekat dan juga ikut memeluk tubuh mungil keduanya dengan erat. "Aku juga sangaaaaaaaaattt... menyayangi kalian!"

Baek Hyun dan V tertawa, membiarkan namja tinggi tersebut menggoyang-goyang tubuh mereka ke kiri dan ke kanan.

"Hahahaha, kurasa secepatnya kita harus mendaftarkan Taehyungie dalam program MATE, eoh? Kita harus mencari pasangan yang baik untukmu, Chagi. Yang paling tampan, ne?!" Baek Hyun berkata penuh semangat.

"Eoh? Tidak usah mencari, Umma. Aku sudah punya pasangan sendiri. Kami hanya perlu mendaftarkan nama saja."

SSSSSIIIIIIIIIIIIIIIINNNNNGGGGGG...

"MWO?!"

"MWO?!"

Huft... ckckck, tampaknya si manis lion hybrid ini harus belajar bagaimana menyampaikan berita yang baik dan benar, eoh? Bisa-bisa... suatu hari Baek Hyun dan Kris akan terkena serangan jantung mendadak dibuatnya.

TBC