FF BTS/YAOI/J.V/THE BEAUTIFUL HIB-CREATURES /Chapter 8

Title: The Beautiful Hib-Creatures

Author: Bang Young Ran

Rating: T

Genre: Yaoi/Fluff/Romance/Scien-fict/AU

Length: Chaptered

Main Cast:

Kim Tae Hyung aka V ^w^ 3

Kim Seok Jin~~ 3

Support Cast:

HopeKook (J-Hope & Jung Kook)

KrisBaek (Kris & Baek Hyun EXO)

DaeBaek (Dae Hyun BAP & Baek Hyun)*ni cuma masa lalu*

DaeJae (Dae Hyun & Young Jae)

BangHim (Yong Guk & Hime~~)

Couples nyusul~

Disclaimer: BTS is Big Hit/JYP Entertainment Boy Group and their parents, and it's Youngranie fic~ muaaaachhh...*kechupbasah*

Warning: TYPO! OOC! YAOI/BoysxBoys! NO PLAGIARISM! NO BASHING! NO SIDERS!

Summary: Di era modern sekarang ini, manusia tidak lagi terfokus dalam menciptakan kaleng besi berjalan—robot. Menciptakan makhluk hidup yang benar-benar hidup dalam bentuk lain, itulah yang menjadi fokus para ilmuan beberapa tahun belakangan. Awalnya menggabungkan spesies hewan dari jenis berbeda, dan sekaranglah terobosan baru tercipta dimana gen hewan digabungkan dengan... gen manusia.

.

.

DON'T LIKE, DON'T READ, JUST LEAVE IT, OK!?

.

.

~~( ^3)(.o )~~

.

.

TANPA BANYAK BACOT, LANGSUNG AJA CHECK IT OUT

HAPPY READIIIIIINNNNGGGGG... ^3^

.

.

.

The Beautiful Hib-Creatures

Chapter 8

Dua iris kecokelatan tersebut saling menatap tanpa berkedip. Oh, apakah ada kompetisi saling tatap saat ini?

Tentu saja tidak.

Lagipula itu konyol. Terlalu konyol untuk seukuran dua orang dewasa yang bahkan sudah memiliki seorang putera berumur enam belas tahun.

"Baekhyunie, sebenarnya ada perlu apa kau ingin kita bertemu di cafe ini? Dan tolong, kenapa kau menatapku seperti itu?" Dae Hyun bertanya dengan kening berkerut heran. Mantan anae-nya ini memang berwajah super imut, tapi... kalau menatap sinis seperti itu... Dae Hyun malah bergidik gugup dibuatnya.

Terdengar helaan nafas panjang dan berat dari si lion hybrid. Sesaat kemudian kepala dirty blond dengan telinga segitiga keemasan tersebut jatuh lunglai di atas meja kayu cafe. "Huft... mian, aku tidak bermaksud apa-apa dengan tatapanku."

Kening Dae Hyun semakin berkerut saja mendapati jawaban tidak jelas Baek Hyun yang terdengar begitu lesu tanpa semangat sedikitpun. "Apa terjadi sesuatu? Ah! Ini berhubungan dengan Taehyungie, 'kan?! Ada apa?"

Butuh lima detik barulah si lion hybrid menegakkan kepala dan menatap namja tampan di hadapannya dengan bibir bawah mencebik cemberut. "Kau tahu? Aku belum siap menjadi halmeoni."

"Hah? Kau ini bicara apa?!"

"Kau siap menjadi harabeoji?" Baek Hyun tidak menghiraukan kebingungan Dae Hyun dan malah melemparkan pertanyaan yang pastinya akan semakin membuat bingung namja berkulit tan itu.

"Tsk! Kau ini!" Dae Hyun jadi kesal sendiri dan melipat tangan di dada sembari membuang muka ke samping. Jika Baek Hyun ingin bersifat menyebalkan, oh, bagus, dia memilih saat yang tepat. Benar-benar. Sudah lama tidak bertemu, sekalinya bertemu Baek Hyun malah ingin bermain lelucon dengannya, eoh?!

"Taehyungie akan memasuki masa heat. Karena itulah aku ingin bertemu denganmu. Taehyungie membutuhkan tanda tanganmu untuk memasuki program MATE." Baek Hyun berkata lempeng. Oke, sekarang kita tahu dari mana sifat ceplas-ceplos V ia dapat.

Seperti halnya yang terjadi pada Baek Hyun saat sang aegya menjatuhkan 'bom' tiba-tiba, begitupula yang terjadi dengan Dae Hyun. Namja itu menganga lebar dengan mata membelalak sempurna.

"MWO?!"

"Yah, seperti yang kukatakan, kita harus bersiap-siap menjadi halmeoni dan harabeoji dalam waktu dekat."

Tsk! Lagi-lagi si imut ini berkata lempeng.

"MWO?!"

~~~~~~\(^3^)(0.0)/~~~~~~

"Kudengar... Jungie juga akan memasuki masa heat."

Mata Jin terbelalak lebar menatap sosok lion hybrid imut di sampingnya. Bagaimana... V bisa tahu hal itu?

"Jungie sendiri yang memberitahunya padaku tadi di kelas."

Oh. Jin lupa kalau dongsaeng-nya yang polos itu layaknya ember bocor. Tentu saja dia akan memberitahu V. "Hm, yah... begitulah." Respon Jin singkat dan jelas sekali tidak bersemangat.

Sebelah alis V terangkat penuh tanya. Tadinya ia pikir kalau cuma perasaannya saja Jin hari ini tidak bersemangat. Tapi... ternyata benar. Jin memang sedang tidak bersemangat. Ada apa? "Hei, ada apa?" tanyanya sembari mengulurkan tangan dan menyentuh pelan bahu kanan Jin.

Namja yang ditanya tersenyum lembut dan beralih menarik tangan V pada bahunya hingga membuat lion hybrid imut tersebut terpekik kaget karena sekarang ia malah berpindah duduk dalam... pangkuan Jin.

Omo~

Ini sedikit memalukan. Untung saja mereka saat ini berada di atap sekolah. Bagaimana kalau seandainya di kantin?! Mungkin akan sangat menghebohkan. Dan memalukan.

Jin tidak berkata apa-apa. Namja itu hanya memeluk erat pinggang V dalam pangkuannya dari samping. Sementara wajahnya ia sembunyikan di antara perpotongan bahu dan leher si lion hybrid; menghirup aroma semacam vanilla-strawberry lembut yang menguar alami dari tubuh V. Oh, Jin suka wangi tubuh sang mate. Sangat.

"Hei, kau belum menjawab pertanyaanku. Ada apa?"

"Apa menurutmu aku aneh—"

"Yah, kau sangat aneh." V memotong begitu saja padahal namja tampan yang memangkunya belum selesai berbicara. Alhasil, namja tampan itu sedikit cemberut lalu kemudian dengan gemas mencubit pipi kiri V.

"Yah, aku belum selesai berbicara, Tae Hyung-ssi~"

"Kkkkk~ bukankah kau bermaksud bertanya? Aku hanya menjawab dengan jujur, hahaha~"

Jin mematung. Untuk pertama kalinya V tersenyum dan tertawa lepas di hadapannya. Dan... benarkah baru saja... V mengajaknya bercanda? Kau hanya bercanda dengan seseorang yang kau anggap 'akrab', bukan? Itu berarti...

Seolah dipenuhi harapan, Jin tersenyum lembut kemudian mengusap pelan pipi kiri yang sempat dicubitnya. Rasa lega dan nyaman menguar begitu saja di dadanya. "Yah, yah, kau benar. Aku, memang sangat aneh. Puas? Aku tadinya ingin bertanya, apa menurutmu aneh kalau aku merasa... tidak rela jika dongsaengku akan melakukan 'mate'?"

Senyuman V perlahan memudar mendengar kata-kata Jin. Dia merasa begitu familiar dengan keadaan ini. Ah! Baru saja tadi malam hal seperti ini juga terjadi. Tepatnya pada sang umma yang tidak rela kalau ia akan melakukan mate. "Lalu bagaimana denganku? Apa kau pikir orang tuaku rela begitu saja kalau aku sebentar lagi akan melakukan mate?"

Nafas Jin tercekat. Benar. V benar. Orang tua mana yang dengan rela membiarkan anaknya terlibat dalam komitmen di usia semuda ini? Ah, coret untuk kedua orang tuanya. Mereka memang aneh, menurut Jin.

"Dengar, Seokie-ssi. Rela atau pun tidak, kau tidak bisa melakukan apa-apa. Lagipula, kau tidak kasihan melihat Jungie menderita dalam masa heat nanti? Dan kau tahu? tadi malam umma-ku juga bereaksi sepertimu."

Kalimat terakhir yang V ucapkan membuat Jin sontak menjauhkan wajah dari lehernya. Sekarang namja itu menatap takjub ke arah si lion hybrid. "Kau sudah mengatakan pada orang tuamu?"

"Eum. Umma-ku sampai shock dan menangis hebat. Kau percaya? Dia mengunci diri di kamarku sampai tiga jam lebih! Kkkk~ kalau diingat-ingat lagi... rasanya lucu saja." Lagi-lagi V terkekeh. Dia juga tidak tahu kenapa hari ini rasanya dia ingin tersenyum terus. Apa... karena Jin, ya?

Merasa ditatap intens oleh namja yang memeluknya, V berhenti tersenyum dan menatap namja itu balik. "Apa?" tuntutnya dengan wajah memerah.

Jin malah terkekeh dan kembali menenggelamkan wajah di ceruk leher V. "Ani. Aku senang melihatmu sudah nyaman berada di dekatku. Kau banyak tersenyum. Aku suka." Jin bergumam, membuat nafasnya yang hangat langsung menerpa kulit lembut tempat ia menyembunyikan wajah.

V jadi sedikit bergetar merasakan sensasi tersebut. Dan tentu saja Jin menyadarinya. Mungkin apa yang dikatakan pepatah memang benar; sekali belang, tetaplah belang. Ide jahil—mesum—langsung menghampiri otak Jin.

"Kalau dipikir-pikir... kau berubah sejak kita berciuman, ne? Mungkin kita harus sering-sering melakukannya. How do you think about that, Tae Hyung-ssi?"

Tanpa menunggu respon V, Jin menarik begitu saja tengkuk lion hybrid imut dalam pangkuannya ke bawah. Mempertemukan bibir mereka dalam ciuman lembut.

Yah, V sudah menetapkan hati untuk memilih Jin. Dan inilah Jin dengan segala sifat 'pervert'nya. V akan berusaha menerima apa adanya namja tampan yang sekarang tengah menggoda permukaan bibirnya dengan lidah ini. Sebagai bentuk ketetapan hati, V dengan senang hati membuka bibir dan membiarkan lidah Jin mengeksplor ke dalam mulutnya. Lion hybrid imut itu bahkan mulai mengalungkan kedua lengan ke leher kokoh Jin; berpegangan dan sesekali meremas pelan surai cokelat namja tampan tersebut.

########^0^########

"HOPIE HYUNG!"

Jung Kook melompat-lompat riang mendekati J-Hope yang tengah mencampur beberapa cairan kimia ke dalam gelas ukur. Namja itu merupakan anggota klub kimia. Hari ini dia terpaksa harus terperangkap dalam jas putih untuk menyelesaikan proyek klub mereka. Bahkan di jam-jam istirahat seperti ini. Tadinya J-Hope sedih sekali tidak dapat menemui Jung Kook saat jam istirahat. Namun... betapa beruntungnya, pucuk dicinta, ulam pun tiba.

"Jungie~ kau tidak istirahat ke kantin?"

"Ani. Jungie tidak lapar, Hyung. Hyung sendiri?"

"Oh, Hyung harus menyelesaikan ini dulu," jawab J-Hope sembari tersenyum lebar dan mengangkat gelas ukurnya.

Jung Kook mengangguk paham kemudian mengambil duduk di kursi samping meja. Kedua tangan menumpu pada dagu, memperhatikan dengan takjub keahlian J-Hope dalam mencampur zat-zat kimia warna-warni yang Jung kook sendiri tidak tahu itu apa.

Namja yang diperhatikan dengan manis oleh si bunny hybrid hanya terkekeh pelan. Yah, mereka sering berduaan seperti ini secara diam-diam. Seperti hari-hari sebelumnya. Eum... ada yang salah. Tentu sekarang sudah berbeda. Mereka kemarin melakukan french kiss. Itu sebuah perubahan besar. Dan terlebih lagi, Jung Kook berkata bahwa ia menyukai J-Hope.

Apakah mereka berpacaran sekarang?

Reflek J-Hope menatap Jung Kook lurus. Dia ingin menanyakan hal itu; apakah mereka berpacaran? Tapi... baiklah, sekarang J-Hope malah bimbang sendiri. Apa Jung Kook mengerti apa itu pacaran? Dan yang lebih parah, apa dia... bersungguh-sungguh saat mengatakan 'suka' padanya? Bagaimanakah persepsi 'suka' dalam otak polos Jung Kook? Jangan-jangan Jung Kook menyamakan rasa 'suka' yang ia rasakan, terhadap rasa suka pada saudara sendiri!? Tidak.

Kalau memang seperti itu...

Bukankah berarti... perasaan J-Hope bertepuk sebelah tangan?

"... ung... Hyung? HYUNG?!" Jung Kook memanggil, lebih tepatnya berteriak memanggil J-Hope.

Namja tampan yang diteriaki tampak terkaget dan tanpa sengaja membuat gelas ukur yang dipegangnya terjatuh. Dan sialnya, cairan kimia di dalam gelas berhamburan hingga sedikit mengenai tangan J-Hope. Alhasil, namja itu meringis merasakan zat kimia membakar kulitnya.

"H-Hyung! Hyung tidak apa-apa?! Mi-mianhe, ini sa-salah Ju-Jungie!"

Meskipun meringis, J-Hope masih bisa tersenyum dan menggeleng untuk menenangkan bunny hybrid yang tengah panik itu. Lagipula, luka seperti ini adalah hal biasa yang didapatnya saat bergabung dengan klub kimia. "Hyung baik-baik saja, Jungie. Ini luka kecil biasa. Lihat?" Dengan entengnya J-Hope membasuh luka bakar tersebut pada bak cuci dan kemudian mengeringkannya dengan tisu lalu memperlihatkannya ke hadapan Jung Kook.

Yah, J-Hope benar. Hanya warna pink kemerahan kecil yang tercetak jelas pada punggung tangannya. Tetapi itu tidak berarti Jung Kook akan baik-baik saja melihatnya. Bunny hybrid manis tersebut sekarang malah berlinangan air mata dengan telinganya yang turun lesu di sisi kepala.

"Hiks... mianhe, Hopie Hyung. Se – hiks, seharusnya J-Jungie tidak membuat Hopie Hyung kaget, hiks..."

Baiklah, sekarang malah J-Hope yang panik.

"Ju-Jungie, jangan menangis. Nan gwenchana. Lihat? Ini hanya luka kecil. Tinggal dijilat juga sembuh," kata J-Hope menenangkan. Namun yang terjadi berikutnya hampir membuat nafas namja tampan tersebut berhenti. Bagaimana tidak?!

Jung Kook mendekat padanya dan...

Eum... menjilat bekas pink kemerahan pada tangan J-Hope.

A.S.T.A.G.A.

MENJILAT!?

"Nah, bagaimana, Hopie Hyung? Sudah lebih baik? Atau Hyung butuh Jungie menjilatnya lagi?" Jung Kook bertanya dengan mata membulat—polos—antusias. Dia benar-benar percaya kalau 'jilatan menyembuhkan' yang sebelumnya J-Hope katakan berkhasiat. Dan oh, Tuhan, bagaimana lagi J-Hope harus menghadapi kadar kepolosan bunny hybrid manis ini yang kelewat batas?

"Eh, h-hyung sudah lebih baik, Jungie! G-gu-gumawoyo!"

Huft... untunglah J-Hope memiliki pengendalian diri super-duper ekstra. Kalau tidak? Oh, betapa menggodanya tawaran Jung Kook yang menawarkan diri untuk kembali menjilat tangannya.

'Hmmm... menjilat...'

Plakk!

'Berhenti otak! Berhenti berpikiran mesum tentang Jung Kook! Ah, tapi...'

Plakk!

'Sudah kubilang berhenti!'

Baiklah, sekarang Jung Kook hanya bisa menganga menyaksikan bagaimana J-Hope... menampar wajahnya sendiri? Dan tidak hanya sekali? Hopie Hyung-nya kenapa, eoh?

~~~~~~~\(^3^)(0.0)/~~~~~~

Dae Hyun melirik lion hybrid imut di sebelahnya. Memperhatikan bagaimana kelopak mata ber-eyeliner itu membuka dan menutup berkali-kali. Serta bibir yang membulat sempurna.

"Kkkkk~ kau ini kenapa? Kenapa ekspresimu seperti itu melihat tempat ini?"

"Aku hanya rindu tempat ini. Sudah lama aku tidak ke sini!" Baek Hyun memekik gemas dengan tangan terkepal dan mata yang dipejamkan erat. Dia terlihat sangat menggemaskan dan harus Dae Hyun akui, waktu tidak berpengaruh besar dalam merubah rupa Baek Hyun.

Bicara soal waktu, Dae Hyun jadi menghitung mundur di kepalanya. Masih tercetak jelas dalam ingatan saat dulu sang umma mengajaknya ke toko 'pet' dalam rangka mengabulkan keinginan Dae Hyun di ulang tahunnya yang ke enam belas.

Hari itu mata Dae Hyun terpaku menatap sesosok lion hybrid cantik dengan kulit sewarna susu. Makhluk mempesona itu menatapnya pula dari balik jeruji dingin kandang. Iris matanya berwarna cokelat gelap sedikit tertutup surai dirty blond. Begitupula dengan telinga segitiga cokelat keemasan tampak menyeruak diantara surai dirty blond yang sedikit berantakan tersebut.

Lion hybrid...

Dae Hyun masih tidak dapat mengerti, mengapa makhluk hybrid yang membawa gen singa bisa terlihat sebegitu mempesona dan menggemaskannya?! The most beautiful hybrid creatures that he ever seen in his life. Really breathtaking. Dae Hyun begitu terhipnotis hingga hal terakhir yang ia ketahui, sang lion hybrid telah berada di rumahnya. Bahkan, ia tidak ragu untuk berbagi kamar maupun tempat tidur dengan makhluk mempesona itu.

Pada awalnya si lion hybrid terlihat... takut padanya? Kenapa? Dae Hyun terus bertanya-tanya hingga suatu kali tanpa sengaja ia masuk ke kamar mandi dan menemukan... punggung penuh bekas luka dan baret. Bahkan, beberapa diantaranya masih terlihat memerah terbuka. Bekas luka cambukan.

Betapa mirisnya hati Dae Hyun melihat apa yang selama ini tersembunyi dari balik kaus-kaus longgar yang dipakai sang pet. Dae Hyun pernah mendengar tentang penyiksaan majikan terhadap pet-nya, namun ia tidak pernah menyangka kalau bukti dari kejadian buruk itu sekarang berada di depan matanya sendiri. Dalam kondisi paling menyedihkan; trauma fisik maupun mental.

Mengerti, Dae Hyun pun mulai melakukan pendekatan dengan caranya sendiri. Dia aktif mengajak lion hybrid tersebut bicara; menceritakan cerita lucu dan pengalaman menyebalkannya selama di sekolah saat dijahili karena bertubuh pendek. Setelah beberapa hari dia berhasil. Makhluk menggemaskan itu akhirnya mau mengeluarkan suara dari memanggilnya 'Daehyuna', hingga memperkenalkan dirinya.

Namanya Baek Hyun.

Makhluk menggemaskan penuh pesona yang bernasib malang itu bernama Baek Hyun. Dan Dae Hyun dengan senang hati memanggilnya 'Baekhyunie'. Kemudian semua mengalir bagai air; mereka menjadi akrab, akrab pada tahap yang bisa dibilang tahu segalanya dan saling melempar lelucon satu sama lain.

Hingga tiba saatnya Baek Hyun mengalami masa heat. Semua terjadi diluar kendali dan, bagaimana mungkin Dae Hyun menolak makhluk mungil yang manis itu memohon padanya dengan wajah semerah stroberi?

Mereka melakukannya. Mungkin itu karena cinta? Atau mungkin sekedar rasa nyaman semata? Entahlah. Yang pasti mereka kemudian menikah dan memiliki V. Namun empat tahun bersama membuat Dae Hyun dan Baek Hyun sadar; rasa itu bukanlah cinta. Itu lebih kepada rasa... persahabatan.

Dan mereka harus memperjelas rasa persahabatan tersebut.

Keduanya bercerai, saling berjanji akan mencari cinta sejati masing-masing.

Apakah mereka menyesal?

Tentu tidak.

Mereka memiliki V dan, tidak ada yang namanya penyesalan bila kau menjalani 'kedewasaan' bersama seorang sahabat dekat yang selalu ada untukmu.

"Hei, Daehyuna! Kau akan berdiri saja di sana atau masuk?" panggil Baek Hyun menyadarkan namja tampan yang mematung di jalan setapak berkerikil.

Dae Hyun tersenyum, "tentu saja tidak, Baekhyunie~" sahutnya sembari melangkah mengikuti Baek Hyun memasuki pagar putih sebuah rumah mungil dengan kebun bunga membentang luas. Di samping rumah terdapat bentangan danau kecil yang di tepiannya berdiri kokoh sebuah pohon besar yang pada cabangnya bergantung ayunan sederhana berbentuk kayu persegi.

Lingkungan yang begitu asri, penuh ketenangan dan, kenangan.

Di sanalah dulunya Baek Hyun membawa V kemana-mana di dalam perutnya. Baek Hyun memang sangat hiperaktif pada dasarnya. Meskipun perutnya terus membesar, dia tidak akan berhenti menjelajah di sekitar rumah. Bahkan, pernah suatu kali Dae Hyun dibuatnya nyaris terkena serangan jantung saat Baek Hyun terpeleset jatuh ke dalam danau, dalam keadaan perut besar. Namun yang menyebalkannya, di saat Dae Hyun panik setengah mati, lion hybrid imut yang dikhawatirkan malah menyembulkan kepala dari permukaan air dengan terkikik riang, menertawakan Dae Hyun yang tampaknya jatuh ke dalam salah satu trik leluconnya. Sial. Baek Hyun memang jahil.

Tempat penuh kenangan ini akan mereka siapkan untuk Tae Hyung dan Mate-nya nanti.

"Rumah ini dirawat dengan baik." Baek Hyun berkomentar, memperhatikan seisi rumah yang tertata rapi tanpa ada debu secuilpun pada perabotannya.

"Tentu saja, Babbo. Itu gunanya kita menyewa pengurus rumah selama ini."

"Jangan memanggilku babbo, Babbo. Huft... kau tahu? Aku shock sekali saat Taehyungie mengabarkan masa heat-nya akan datang."

Dae Hyun terkikik dan mengambil duduk di sebelah Baek Hyun, "kkkkk~ aku bertaruh kalau kau menangis habis-habisan," katanya yakin. Ledekannya sempat membuat si lion hybrid mendelik sebal dan pouting.

"Hmph! Memangnya salah kalau aku menangis kalau tahu anakku akan tumbuh dewasa dan pergi dibawa orang lain?!"

"Kkkkk~ bukan orang lain, tapi mate-nya. Aigo... Uri Baekhyunie never grow up, eoh~?" dendang Dae Hyun meledek dengan senyuman jahil.

"Shut up! Jangan sok dewasa, Pabbo. Ingat, kau itu lebih muda setahun dariku!"

"Hahaha... oh, ya, bicara soal 'mate', kau sudah bertemu dengan calon pasangan yang Taehyungie bicarakan?"

"Belum. Rencananya malam ini Taehyungie akan mengundang 'orang itu' untuk makan malam bersama." Mata Baek Hyun sedikit menyipit dikala 'orang itu' keluar dari mulutnya. Tampaknya si imut ini tidak akan membiarkan kekasih aegya-nya duduk dengan tenang pada malam ini. Dia akan melakukan beberapa 'tes'. Dan itu pasti.

Dae Hyun yang terlalu mengenal Baek Hyun tahu apa yang sedang makhluk mungil di sebelahnya rencanakan. Huft... biarlah. Toh, mungkin beberapa 'tes' diperlukan dalam hal mencari-jodoh-yang-tepat-untuk-Taehyungie mereka.

"Jangan terlalu keras pada kekasih Taehyungie, eoh?"

"Tsk! Ah, kau harus ikut makan malam juga. Bawa Young Jae-ssi, ne?!"

"Ne, tentu saja."

#######^0^########

Plakk!

"Ssshhh... kenapa kau memukulku, Tae Hyung-ssi?"

V mundur beberapa langkah sembari berkacak pinggang, memperhatikan dengan nyalang namja yang tengah mengusap-ngusap punggung tangannya yang tampak memerah. "Kau! Aku memperbolehkanmu menciumku dan sekarang tanganmu masuk seenaknya ke dalam kausku?! Kau mau kubanting lagi?" omelnya kesal.

Tsk! Dasar Jin. Namja tampan itu tidak bisa menyimpan tangannya dengan baik untuk dirinya sendiri.

"Hehehe, mianhe... tanganku bergerak sendiri, Tae Hyung-ssi. Aku tidak sengaja."

Baiklah. Tidak sengaja adalah alasan terkonyol bagi Jin untuk membela diri. Adakah ketidak sengajaan sampai meremas bokong segala?

"Kau pintar beralasan, eoh? Huft... aku jadi ragu mengundangmu makan malam di rumahku nanti."

Mata Jin terbelalak, "makan malam?!"

"Ne, umma-ku mengundangmu. Katanya dia ingin tahu seperti apa orang yang akan menjadi mate-ku nanti."

Kebiasaan V menjatuhkan 'bom' layak dipertanyakan. Apa dia tidak tahu kalau sekarang Jin tengah menahan nafas, memikirkan bagaimana dan apa yang akan terjadi nanti saat dia, ehem, bertemu muka dengan calon mertua?! Omo! Jin bahkan belum mempersiapkan apa-apa! Pabbo! Kenapa dia tidak berpikir sampai sejauh ini?! Pabbo.

"Oh, ya. Umma-ku orangnya sedikit histeris. Dia suka mencakar kalau sedang marah. Hanya memperingatkanmu saja untuk berhati-hati," kata V menambahkan. Dia benar-benar memberi informasi. Bukannya bermaksud membuat Jin takut.

'Buddha~ save me...'

Terlambat.

Jin benar-benar takut.

TBC

NB : No comment. HIDUP J.V! J.V! HIDUP J.V! JIN & V COUPLE UNYUUUUUUUUU! \O(=^3^=)O/