Chapter 2
.
.
.
.
Disclaimer : Vocaloid (c) Yamaha Corp., Crypton Future Media, Internet Co., etc.
Warning : AU, school-dormitory life, OOC, crunchy(?) humor, misstypo(s), typo(s), etc.
Happy Reading!
.
.
.
.
1. Ujian
Entah setan apa yang merasuki wali kelas mereka, Ritsu-sensei, sampai-sampai untuk ujian pertama mereka, mereka harus bernyanyi. Sambil menari pula.
Entah karena virus drama sedang menyebar di seluruh stasiun televisi, pokoknya mereka harus menyanyi sambil menari. Satu kelompok lima orang. Cewek dan cowok dipisah.
Siang itu, di hari Minggu yang cerah, semua anggota bangsal 010A yang terdiri atas lima orang ini sedang mencuci pakaian pribadi mereka (Laundry hanya menerima seragam sekolah).
"Oi, besok praktek seni. Kita mau nyanyi apa?" Mikuo bertanya sambil memasukkan pakaiannya ke ember yang lain untuk dibilas. Dia orang pertama yang telah menyelesaikan tahap perendaman.
Kenapa nggak menggunakan mesin cuci? Semua mesin cuci sekarang tengah di servis.
"Entah," jawab Len sambil meluruskan pinggang.
Tiba-tiba adik Mikuo, Hatsune Miku, dan temannya Kiiroine Rin muncul.
"Aniki!" sapa Miku. "Cuci yang bersih, 'ya!"
Mikuo mencipratkan sedikit air rendaman bajunya yang masih berbusa. Miku membalas dengan melemparkan sendalnya. Bukannya mengenai Mikuo tapi sendal itu malah masuk ke dalam ember Mikuo dan...
... Mikuo terciprat air rendaman sabunnya. Rin yang paling pertama terdengar tertawa.
Miku membisiki sesuatu pada Rin.
"Make us FREE na SPLASH! kasaneta~ Hikari no CONTRAST abite~ Feel so free na kyou tobikomu oretachi no BRAND NEW BLUE, yeah~"
Iblis macam apa pula yang merasuki Rin dan Miku sampai dance dengan salah satu soundtrack anime paling melelehkan(?) untuk meledek kelima siswa miring itu.
Tapi hantu macam apa juga yang merasuki kelima anggota bangsal 010A yang justru terinjeksi dan segera ikut menari, meskipun spontan, dan menyanyi (well, mereka penonton anime F***! sembunyi-sembunyi karena takut disebut HoDe).
"Omou you ni sei! Sei! A-Oh!
Jibun rashiku kick! Kick! A-Oh!
Tsukamitainda pull! Pull! A-Oh!
Todokisou na Deep! Deep! Deep! Splash Free!"
Entah karena nyanyian mereka berlima nyanyi terlalu semangat sampai siswi-siswi yang kebetulan lewat membeku di tempat dan melongo tak percaya (daerah cuci itu hampir 60% kekuasaan asrama putri). Aura boyband mereka terlalu kuat(!)
Bahkan mereka tidak sadar kalau Miku dan Rin sudah mengguyur mereka dengan air selang.
Efek langit cerah, badan basah, dan tarian spontan, menyihir seluruh siswi.
Mereka berhenti menjadi pusat perhatian ketika Yuuma jatuh, kepeleset sabun, nyungsep ke ember rendaman, sungguh tidak elit.
.
.
.
.
"Te wo nobashita deep! Deep! Deep! Splash Free!"
Itulah akhir gemblengan non-stop selama 12 jam. Mereka nggak ada tidur. Ternyata nggak cuma mereka yang begadang non-stop, lima kamar di depannya, lima kamar di samping kiri, lima kamar di samping kanan pun melakukan hal yang sama. Tapi mereka yang paling ribut, nggak ada berhenti-berhentinya karena lupa koreo atau yang paling sering lup arah gerakan. Modal dance mereka cuma video yang mereka download dari situs video raksasa di laptop Mikuo yang biasa dipake main PES.
Ritsu-sensei cengo. Nggak nyangka ada yang serius mendapatkan nilai di mata pelajarannya.
"Kalian niat!" Ritsu-sensei tepuk tangan. "Penampilan terbaik yang pernah ada! Marvelous!"
Mereka tos dan langsung keluar dari audiotarium sekolah.
Mereka memang lolos ujian itu.
"KALIAN KEREN!"
"KYAA, YOHIO-KUN!"
"KAITO-KUN, KYAA!"
"LEN MASUK BOYBAND SANA!"
"ANIKI! KALAU LU JADI BOYBAND GUE JADI MANAGER KALIAN YAH?!"
"YUUMA-KUN!"
Teriakan fangirl cewek-cewek memenuhi lorong audiotarium. Yah, jadi famous dikit nggak masalah, 'kan?
.
.
.
Tapi mereka nggak lolos ujian kesabaran melihat para siswi yang fangirlingan tiap mereka lewat dan para cowok yang meledek mereka HoDe.
Setelah diselidiki rupanya, Rin dan Miku, pencetus ide untuk menyanyi lagu Splash Free! (A/N : ED song Free!), menyebar video mereka ketika ujian. S-H-I-T!
.
.
.
.
2. Trik!
"Len, Mikuo, keluarkan laptop kalian!" perintah Yuuma.
"Eh, untuk apa?" Len balik bertanya sambil menyingkirkan manga-nya.
"Main PES! Hari ini hari Minggu!"
BLETAK! Sebuah buku mendarat di kepala Yuuma dengan keras
"Bodoh! Besok ujian fisika!" Yohio, sang pelaku pelemparan buku, berteriak.
Len dan Yuuma langsung menepuk kening masing-masing.
"Bukunya ada di Avanna-sensei, 'kan?" Kaito yang bangun tidur, salahkan Yuuma yang ngadat minta ngematiin CCTV sekolah supaya dia bisa 'main' ke asrama cewek, langsung angkat suara.
"Kata siapa?"
"Eh, bukannya waktu itu dikumpulkan? Yang rangkuman gerak lurus,"
Mikuo tiba-tiba muncul dengan satu buku fisika bersampul hitam. "Ini milik Rei."
"Kau ngambil dimana?" tanya Yohio.
"Langsung ke orangnya," Mikuo langsung tiduran. "Katanya punya kita ditahan karena nggak lengkap."
"HAH?!"
"Pokoknya kalau mau dapat tanda tangan ini kau harus lolos pemeriksaan si Kiiroine Rin yang jenius."
"WHAT?!"
"Udah gitu bukunya dikumpulkan. Kalau nggak ada buku berarti nggak ujian dan nggak ada ulangan susulan."
DUBRAK!
Tak ayal mereka berempat langsung jatuh seketika.
Semua mata langsung tertuju pada Mikuo. "Apa liat-liat?!" tanya Mikou ganas sambil menulis ulang beberapa rumus dan dimensi.
"Adikmu sekamar dengan Rin, 'kan?" Yuuma menarik buku Rei.
"Hah, terus kenapa?"
"Kau bisa 'kan rayu adikmu untuk mendapatkan buku kita balik?" ucap Kaito. Mikuo menggeleng.
"Ayolah, Mik, di antara kita berlima cuma Yohio yang lulus ulangan sebelumnya. Kau 'kan tau sendiri nilai kita berapa ulangan kemarin. 45." Len mengacak rambutnya.
"Heh, kau pikir Miku tidak?! Bukunya juga ditahan oleh si Kiiroine itu! Dia stress karena Rin benar-benar menyembunyikan buku-buku yang nggak lulus sensor."
Len, Yuuma, dan Kaito segera bertatapan. "Nggak ada pilihan lain. Cuma ada itu,"
Yohio bangkit dari kursinya. "Woi, mau kemana?"
Kaito yang berdiri paling belakang dengan menenteng peralatan memanahnya menjawab, "Ke atap."
.
.
.
.
Sekitar sepuluh menit kemudian, terdengar bunyi SPLASH! yang kuat dengan teriakan nyaring siswi-siswi dan suara nyaring Len di toa.
"KAMI PERINGATKAN KEPADA SISWI KIIROINE RIN UNTUK SEGERA MENGEMBALIKAN BUKU CATATAN FISIKA KAMI ATAU JEMURAN KAU AKAN SASARAN!"
Yah, 15 menit kemudian, buku itu mereka dapatkan. Dengan permintaan maaf Rin yang beraura pink bunga-bunga.
"Maaf, aku lupa ngasih ke Avanna-sensei," Rin melancarkan puppy eyes-nya. "Gomen ne? Soal tanda tangan aku bisa copy-paste. Nyehe." Rin pasang ekspresi v(^v^)v dengan santainya.
Ada bonus. Lima menit kemudian, Luka-sensei datang dengan sekawan Komite Kedisplinan.
Bersih-bersih lapangan pun jadi hukuman.
'Percepatan rata-rata rumusnya Δv dibagi Δt," Yuuma mengingat rumus sambil menyapu di pinggir lapang. Kaito dan Len sedang membuang sampah ke belakang sekolah. Yuuma sangat konsentrasi, segala pekerjaannya harus diselesaikan dengan benar. Sesaat kemudian,
"KAMPRET, BUKU GUE JANGAN DIMASUKIN KE SAMPAH JUGA KALI! LU KIRA BUKU GUE SAMPAH KERTAS GORENGAN?! DASAR KUDA!" Kaito berteriak.
Adu sapu beraura chuunibyou pun tak terelakkan.
"MAKAN NIH! SERAGAN ΔV DIBAGI Δt!" Yuuma memukulkan sapunya menuju pinggang Kaito.
Kaito melawan batang sapu itu dengan tebasan telak menuju lengan Yuuma. "SERANGAN RUMUS RELATIVITAS! E = mc(kuadrat)!"
Yuuma menjatuhkan diri dengan gaya terlebay yang pernah ada.
"Lebih baik kalian berhenti," Len angkat suara. "Luka-sensei udah melototin lagi tuh."
Len menyapu dalam damai. Kaito dan Yuuma kembali menyapu dan mengangkuti sampah, lebih baik simpan tenaga karena besok otak mereka dipertaruhkan di ujian fisika.
.
.
.
.
3. Rare thing
.
.
.
Adalah kesempatan langka para siswa untuk dekat-dekat dengan siswi-siswinya. Apalagi di hari libur.
Jumlah siswi di sekolah ini tak mencapai 150 orang di seluruh kelas. Perkelas, ceweknya cuma 2-5 orang, sisanya laki-laki.
Alasannya? Sederhana saja.
Dulunya, hampir 20 tahun lamanya, sekolah ini adalah sekolah khusus pria, asramanya pula.
Entah apa maksud pemilik sekolah dan kepala sekolah, 6 tahun lalu, mereka membuat 3 buah gedung baru untuk rencana barunya. Merubah Boukaroido Gakuen, menjadi sekolah campuran. Yang artinya, anak bergender perempuan bisa diterima dan sekolah disitu.
Tapi pamor sekolah pria belum bisa lepas dari Boukaroido. Hanya cewek-cewek khusus yang bisa kesana.
Mulai dari super jenius sampai super kuat. Mulai dari yang berpendirian introvert sampai ekstrovert. Bahkan pervert pun ada (Oh, siswi ini sudah lulus tahun kemarin. Para siswa laki-laki agak jaga jarak dengan cewek ini.)
.
.
.
.
Kaito membuka pintu bangsal asramanya. Baru dia yang balik ke sini rupanya. Dia meletakkan peralatan memanahnya di paku yang tertancap di pintu lalu mengganti bajunya dengan cepat (biasanya Len suka muncul tiba-tiba dan meneriaki badannya yang sangat tegap ((efek jadi atlit Kyudo) Entah meledek karena sirik atau menghina tubuh yang tidak sesuai dengan otak))
Dia menghempaskan dirinya ke tempat tidurnya. Pengennya sih mandi terus ngapain kek sambil nungguin jam makan malam.
Hari ini ekskulnya libur. Kaito cuma latihan di dojo karena stress, nggak tahu mau ngapain.
Pintu terbuka kembali. Kini oleh Yuuma yang sekujur telapak tangan sampai siku di perban.
"Kapan balik, Kai?" tanya Yuuma.
"Barusan," Kaito merubah posisi menjadi duduk. "Tanganmu kenapa?"
"Latihan untuk pertandingan. Pelatih memaksa kita untuk menerima bola dengan pass atas atau bawah,"
"Lalu?"
"Dia pakai mesin barunya, harusnya nggak boleh. Kekuatan serve bola mesin itu membuat bola seolah di-serve oleh titan. Sshh.." Yuuma meringis. "Kuharap ada kare untuk makan kali ini. Aku nggak bisa pegang sumpit kali ini."
Tak lama Mikuo muncul, dengan plastik transparan berisi seragam.
"Kalian ada cuci seragam? Ini bukan waktunya, 'kan?" Mikuo bertanya sambil mengacungkan plastik itu. "Bibi laundry menitipkan aku habis latihan tadi."
Mikuo melempar plastik itu ke tempat tidurnya dan membuka laci mejanya, dia mengeluarkan pick gitar barunya dan menyimpannya dengan aman.
Oh ya, Mikuo itu anggota band sekolah yang bentar lagi perform di salah satu hotel (Mikuo udah professional main gitar atau bass). Kalau ada gitar dengan tulisan 'MIracLe", yah, kalau bukan punya Miku, ya, punya Mikuo. Mereka menerap sistem berbagi yang terkoordinir, terorganisir, terencana, dan seksama.
Oke, saya tahu, saya lebay. Cukup. Turunkan dominator itu.
Yohio kemudian muncul, dengan peluh membasahi wajah dan baju.
"Kampret, Inuge pake acara kabur segala," Yohio merutuk. Rupanya, dia kebagian ngejar anjing asrama lagi. Nasib deh, minggu ini saja dia sudah empat kali ngejar. Bentar lagi, Yohio dipromosikan di klub lari. Author berani jamin.
Dia melihat ke arah kasur Mikuo. "Ada yang cuci seragam?"
"Nah, itu, kita juga bingung. Karena dari antara kita berlima nggak ada cuci seragam." Mikuo menjawab.
"Kau yakin si Len nggak nyuci?" tanya Yuuma.
"Coba buka dulu plastiknya!" seru Kaito.
"Karena aku penanggung jawab kamar ini, maka aku yang buka." Yohio mengambil plastik itu dan membukanya dengan rapi. Mereka mengelilingi Yohio, seolah melihat aksi penjinakkan bom oleh penjinak bom.
Yohio menarik keluar seragam tersebut. Membuka lipatannya.
"HAH?!"
Otomatis mereka memekik terkejut. Di tangan Yohio ada sejenis pakaian, berwarna hitam kebiruan, memiliki lipitan yang banyak.
Barang langka yang akan jarang mereka pegang, bahkan mungkin susah untuk disentuh.
"Bagi aku untuk memegangnya!" Kaito berteriak. Kaito berhasil merebutnya dari Yohio namun disisi yang lain Yuuma juga telah menariknya.
"Biarkan aku duluan yang memegangnya!" Yuuma menarik rok tersebut ke arahnya.
"Kenapa harus kau? Memangnya kau mau memakainya?!"
"MANA MUNGKIN!"
Yohio tak mau ambil pusing. Dia mengambil handuk lalu keluar. Mendingan mandi daripada mendengar dua orang jomblo ngenes berebut rok yang entah apa tujuannya.
Mikuo sih sibuk dengan lacinya. Mencari lakban. Setelah mendapatkannya, Mikuo menyodok perut kedua teman kamarnya itu dengan stik drum simpanannya.
"Berikan padaku."
SRET! SRET! SRET! SRET!
Sekejap kemudian, rok tersebut sudah tertempel di tembok.
"Kalian harus bersujud di depannya," Mikuo terkesan memerintah.
"Kenapa harus?" tanya Yuuma sambil berkacak pinggang.
"Apa kalian tak merasakan auranya?! Rok peninggalan sekolah ini, bisa membuat kalian berdua tergila-gila padanya."
Chuunibyou-nya kambuh.
Kaito melempar handuk pada Mikuo dan Yuuma melempar sikat gigi.
"Mandi sana! Biar aura magismu menghilang!" ledek Kaito.
Mikuo menangkap kedua barang tersebut dan keluar. Seriusan niat mandi. Biasa susah.
"Oh ya," Kaito menatap Yuuma, serius.
"Apa? Kau suka padaku? Maaf, sejones-jonesnya gue, gue masih yang punya suara alto, messo, atau sopran."
"Homo dasar," hina Kaito.
"Apa kau bilang?! Lu minta dipukul gaya amukan Luka-sensei?!"
"Cih, malas aku berdebat denganmu," Kaito membuka pintu, mau ke kantin cari cemilan. "Setelah acara rebut-rebutan tadi, tanganmu nggak sakit? Aku dapat info, hari ini nggak ada kare."
BLAM! Kaito menutup pintu, meninggalkan Yuuma yang membeku, mulai merasakan sakitnya lebam-lebam dan kedua jempolnya yang lemas berkat keseleo.
"ARGGGHHH!"
.
.
Rok itu tetap bertahan selama sebulan di tembok tanpa ada yang kecarian.
.
.
.
"Len, kau kalah main UNO untuk yang kesepuluh dalam bulan ini!"
"Untuk hukumannya pake rok itu selama tiga jam!"
"NANI?!"
.
.
.
.
Rok itu pula yang menjadi saksi penghinaan harga diri bila kalah taruhan. Mulai dari Len sampai Yuuma pernah mengenakan rok itu (Yuuma yang paling terakhir pakai, Yuuma masuk angin). Foto mengenakan rok kelima manusia tak waras di bangsal itu juga jadi ancaman bila ada yang macam-macam.
.
.
.
"Miku, liat rokku cadanganku, nggak?" tanya Rin sambil mengubek-ubek lemari.
"Nggak tuh. Bukannya dicuci, 'ya?"
"SEBULAN SETENGAH LALU DICUCINYA DAN SEKARANG HILANG!" Rin memekik.
"Kau bisa punyaku kalau butuh, aku punya empat. Kaa-san jahitkan. Jadi cadanganku banyak."
"Kyaa, doumo!"
Pelukan persahabatan yang manis.
.
.
.
"Lu gila, Len!" teriak Rook, point guard, kelas XI-MIA-3.
"Kalau ketahuan gimana?" imbuh Ted, shooting guard, kelas XII-IPA-1.
Len masih sparing di gymnasium, jaraknya satu kilometer dengan sekolah, sambil ketawa-tawa.
Yup, Kagamine Len adalah pelaku penyelundupan rok yang sekarang jadi tempelan di dinding kamar mereka (selalu dicopot, bila ada Luka-sensei).
"Nggak akan kok, senpai. Huupp!" Len meloncat dan menembak bola tersebut menuju ring.
DUK! DUK! DUK! Len mengambil bola yang menggelinding menuju kakinya dan mendribble-nya kembali. Ingin mencetak angka lagi, setelah sebelumnya masuk ke ring.
Kadang-kadang Len dijadikan shooting guard bila Ted tidak bisa tanding karena try out. Rencananya sih tahun depan, dia yang akan menggantikan posisi Ted.
"Haha, tenang saja, senpai, nggak akan ketahuan kok,"
Len berlari zig-zag dan menembak kembali bola berwarna marun itu.
"Nggak akan tahu, bibi laudry pelupa, terus ada banyak isu maling jemuran," Len menangkap bola yang memantul dari memasukkannya balik dengan lay-up. "Itu balasan karena membuat nilai kami berlima jelek di mata pelajaran fisika. Hahaha!"
Sekarang seluruh anggota basket tahu jika Len suka balas dendam.
Kouhai-nya yang satu ini nggak bisa dianggap remeh.
.
.
.
.
To Be Continued
.
.
.
Author's Note :
HOLLAAA!
Kembali dengan fic super garing ini. Tapi tenang, udah ganti genre kok. Fokus ke friendship. Mungkin nanti akan pakai genre-genre lain. Karena takutnya humornya terlalu garing, jadi per-chapter mungkin akan beda-beda genre.
MAKASIH BUAT SEMUA READERS YANG MENYEMPATKAN DIRI UNTUK MEMBACA FIC INI. SUKI DA YO!
Oh ya, reviewer aho yang nanya siapa pacar saya adalah reviewer ter-AHO yang pernah ada. Tapi nggak apa lah. Seengaknya nambahin jumlah review.
Thanks for all review, favorite, and follow! I can mention it one by one but I really thanked! Muach :*
.
.
.
.
Mind to REVIEW? Please review, no matter how cruel it is.
.
.
.
Shintaro Arisa,
