My Everything.

By: Sayuri Hiroko

.

.

.

Summary: Hinata Hyuuga, gadis berusia 1940 tahun yang baru saja bangun dari tidur panjangnya, sama sekali tidak menyangka jika ditempatnya bangun kali ini, ia akan bertemu dengan seorang lelaki berambut merah bata yang memberinya banyak emosi yang selama ini tidak pernah dirasakannya. "Aku mabuk tadi malam." – Chap is 1 up! DLDR! Warn:, vampfic, (miss) typo, dll. No flame please (:

Hello minna-san! Sudah lama saya hiatus dari dunia ffn, sampai saya lupa e-mail dan password ffn saya yang lama :') /bego. Karena itu katakanlah jika saya masih terbilang newbie disini. Untuk gaya bahasa, saya tidak terlalu pandai bermain kata-kata seperti author-author pro lainnya, jadi saya butuh masukan yang membantu dari para reader sekalian, terimakasih!

Rate : M

Pair : [ Hinata Hyuuga x Sabaku Gaara]

Genre : Romance, fantasy, school life, angst, and hurt, maybe?

words : 3000+

Warning : OOC, AU, (miss) typo, vampic, dan cacat-cacat lainnya.

Here you go,

Chapter 2: Murid Baru

.

.

.

.

Sekolah ternyata tidak seperti apa yang Hinata pikirkan, tidak ada mantra dan sihir. Semua yang dilewatinya satu hari ini adalah materi lanjutan yang sama sekali tidak ia mengerti, memangnya dia pernah menganyam di bangku sekolah yang para manusia ini maksudkan?

Tidak. Tidak pernah.

Sepanjang pelajaran, gadis itu hanya pura-pura memperhatikan buku tebal yang sukses menutup hampir seluruh wajahnya, apalagi poni gadis itu yang nyaris menutupi matanya. Sementara gadis di sebelahnya tidak ambil perduli, gadis berambut cokelat yang dicepol dua itu juga nampak asyik sendiri dengan handphone yang disembunyikannya dibelakang buku untuk melihat gambar-gambar sejanta tajam khas Jepang.

"Fyuhh…" Hinata menghela nafas, bagaimana bisa ia mengikuti pelajaran ini? Memangnya apa kegunaan dari semua materi yang memusingkan ini? Kemudian gadis itu memandang keluar jendela, kelas matematika yang ada di lantai atas, membuatnya bisa melihat nyaris dua per tiga dari lapangan sekolahnya yang besar. Dibawah sana, banyak sekali murid dengan pakaian yang berbeda dari yang sedang ia pakai. Ada banyak kegiatan yang dapat dilihatnya, orang bermain bola, volly, lari mengelilingi lapangan, bahkan ada yang hanya duduk duduk saja di bawah pohon, memperhatian kumpulan para lelaki yang sedang bermain bola.

Mata Hinata yang memandang secara random, tak sengaja tiba-tiba menangkap siluet lelaki berambut merah yang kemudian terus diperhatikannya secara tidak sadar. Ia sendiri tidak tahu sejak kapan, tetapi ia dengan jelas merasakan ada sesuatu yang aneh dengan dirinya saat ia melihat lelaki berambut merah. Pikirannya terus melayang-layang pada kejadian pagi tadi.

Entahlah. Tetapi sejauh ingatannya, ia sama sekali tidak menemukan lelaki yang berambut merah di sekolah ini, kecuali Gaara dan lelaki kurang ajar yang memberinya tanda pada lehernya ini, hingga membuat gadis itu mengancingkan kemeja sekolahnya hingga kancing teratas untuk menutupi bekas kissmark itu. 'Waktu itu, Kurenai -san pernah berkata jika tanda merah di lehernya itu akan muncul pada perempuan yang baru saja menikah, dan akan bertahan lama untuk kaum mereka, paling sebentar satu bulan.' Hinata berucap dalam hati, dan dengan bodohnya ia mempercayai hal itu.

'Pasti itu perbuatan Asuma jisan.' Hinata mendengus kecil saat mengingatnya, kalau Kurenai berbohong dan berkata tanda ini akan muncul bagi pasangan menikah, maka dengan pasti Hinata dapat menyimpulkan jika yang dilakukan oleh lelaki tadi sama sekali bukan tindakan yang baik. Benar, kan?

Dan saat itulah lelaki berambut merah yang sejak tadi menjadi titik fokusnya, berbalik 180 derajat untuk mengejar bola yang kini bergerak menuju daerah lawan. Dan Hinata yakin, amat sangat yakin jika lelaki itu adalah Gaara, lelaki yang membuat dirinya menginap dirumahnya, lelaki yang tadi pagi berkelahi dengannya, dan lelaki yang memberinya tanda sialan itu.

Tunggu…

Yakin sekali dirinya.

Hei, memangnya ada lelaki lain yang berambut merah?

Tidak ada, kawan.

"Aku akan membalasmu." Gumamnya kesal, sebelum mengalihkan pandangannya, kembali menyembunyikan wajahnya dibelakang buku, walau sesekali secara tak sadar ia menolehkan kepalanya kearah lapangan bola. Ah, pelajaran ini sama sekali tidak dimengertinya. Apa ada sihir untuknya memasukkan materi ini?

Jam istirahat yang ditunggu-tunggu oleh Hinata akhirnya terdengar juga, gadis itu menghela nafasnya lega sambil menyimpan buku-buku yang ada diatas mejanya kembali ke dalam tas. Ia baru saja akan berbalik untuk pergi keluar kelas, saat ada seorang gadis cantik yang berdiri didepannya. Perlu Hinata akui, perawakan sempurna. Tubuh tinggi langsing gadis itu terbalut seragam yang nge-press ditubuhnya. Rambut pirangnya yang panjang diikat ponytail dengan poni yang menutup salah satu matanya, sekali lihat saja, Hinata dapat menyimpulkan jika gadis ini adalah gadis yang populer disekolah ini. Sangat jauh dengan penampilannya yang … ah, sudahlah.

Hinata terdiam sebentar, menunggu gadis itu memulai percakapan diantara keduanya. Karena tak kunjung buka suara, akhirnya Hinata memberanikan diri untuk bertanya kepadanya, "A-ada apa, ya?" Hinata memandang gadis itu dengan tatapan bingung, semantara gadis itu memandangnya dengan tatapan yang sulit diartikan, membuat Hinata salah tingkah ditempatnya saat ini.

"Siapa namamu?" akhirnya gadis itu buka suara.

"H-hinata Hyuuga." Jawab Hinata dengan senyum kecil, ternyata gadis ini mengajaknya berkenalan.

"Hinata? Kupikir kau Shion dengan cat rambut baru dan operasi iris." Ia mendengus,

Apa? Kenapa semua orang menghubungkannya dengan Shion?

Siapa Shion?

"M-maaf, aku tidak kenal siapa orang yang k-kau maksud, er—" "Yamanaka Ino." Potong Ino saat Hinata menanyakan namanya secara tidak langsung, menghasilkan anggukan kecil dari gadis itu. "M-maksudku, aku tidak tahu dan tidak kenal dengan orang bernama Shion yang Yamanaka-san sebutkan. M-memangnya ada apa, ya?" Hinata memandang gadis Yamanaka itu dengan tatapan bingung.

"Kau datang dengan Gaara tadi pagi, dan perkelahian bodohmu dengannya berhasil membuat perhatian seluruh perempuan di sekolah ini tertuju padamu dengan cepat, nona Hyuuga. Dan yang mengejutkan, ini kali pertamanya aku melihat Gaara membawa seorang gadis lagi ke sekolah, sejak kejadian 3 tahun yang lalu. Terlebih, kau mirip dengan Shion." Jelas Ino dengan raut tidak suka yang kentara.

Hinata menggigit bibir bawahnya, entah kenapa perasannya tidak enak. "A-ada masalah yang terjadi diantara kami s-sehingga aku pergi kesekolah dengannya pagi ini. M-memangnya Shion-san itu siapa?" Hinata kembali bertanya untuk menjawab keanehan yang terus-terusan mendatanginya.

"Aku."

Suara dingin itu tiba-tiba terdengar dari belakang kepalanya, membuat Hinata refleks berbalik menghadap ke asal suara. Seorang gadis dengan perawakkan yang hampir sama dengan Ino, hanya gadis ini sedikit pendek dari Ino, walau tetap saja lebih tinggi dari Hinata yang tingginya hanya 155cm. Iris matanya lebih pucat daripada Hinata, dan rambutnya juga berwarna putih dengan potongan rambut yang nyaris sama dengannya.

'Jadi dia yang namanya Shion. Pantas saja Gaara bersikap begitu.' Pikir Hinata, ia menelan ludahnya, entah kenapa perasannya tidak enak saat melihat raut wajah Shion yang dingin.

"J-jadi, ada apa ya?" Hinata bertanya dengan suara kecil, iris bulannya menatap pada Ino dan Shion secara bergantian, sebelum kekehan Shion terdengar, tawanya mengerikan. Ada yang salah dengan semua ini.

Dan semuanya terjadi begitu cepat, nyaris tidak Hinata sadari—tiba-tiba saja dirinya sudah didorong ke dinding belakang, gadis bernama Shion itu melotot padanya, "Aku curiga kau merupakan salah satu fans fanatik Gaara, mengubah penampilanmu agar nampak sepertiku karena tahu jika aku adalah satu-satunya perempuan yang pernah menjadi pacarnya. BENAR, KAN?" gadis itu berteriak tepat di depan wajah Hinata, membuat ia tertohok.

"T-tidak, Penampilanku memang begini!" protesnya, namun protesannya tersebut malah membuat emosi Shion semakin memuncak, ia menarik rambut panjang Hinata hingga kepala gadis itu terdongak dan meringis sakit. "Bohong! Aku tidak akan segan-segan memotong rambutmu, terus menganggumu hingga kau sendiri yang akan pindah dari sekolah ini." Ia mengancam Hinata dengan nada dingin. Secara ajaib tiba-tiba ia memegang gunting yang entah berasal dari mana.

"Dan ini…" ia menjambak kasar poni Hinata yang terpotong rata, "Tanda jika aku tidak main-main dengan ucapanku. Kau harus ingat, jika Gaara itu milikku." Katanya sebelum mulai memotong poni Hinata dengan ganas, hingga seluruh wajah gadis itu terlihat akibat poni-nya yang terpotong habis hingga atas. Gadis itu tertawa, sebelum berbalik meninggalkan Hinata yang matanya mulai berkaca-kaca.

"Ahh.. ternyata kau bukan Shion. Tapi aku tidak tahu apa yang diucapkan Shion benar atau tidak, namun sebaiknya kau menjauhi Gaara. Shion tidak pernah main-main dengan ucapannya." Ino mendengus kecil, mengulang ucapan Shion beberapa saat yang lalu, sama sekali tidak kashian dengan Hinata yang kini menangis keras, terlalu shock dengan apa yang baru saja terjadi padanya. Kemudian gadis pirang itu ikut pergi, meinggalkan Hinata yang kini menjadi pusat perhatian dengan rambut barunya.

"Hahaha, lihat itu! Rambutmu bagus sekali, murid baru!" seorang gadis berambut merah berkacamata tertawa dengan keras, sebelum tawa dari seluruh isi kelas itu ikut meledak, ikut menertawai Hinata yang sama sekali belum bergerak dari tempatnya. Tangisnya semakin keras saat seorang gadis yang diketahuinya adalah teman sebangkunya tadi datang dan memeberinya tisu. "Ambil ini, dan pergi tenangkan dirimu." Ia tersenyum kecut pada Hinata.

"T-t-terima kasih… uh.. a-aku pergi dulu." Hinata mengambil tisu yang disodorkan gadis bercepol itu dengan senyum yang dipaksakan, sebelum berjalan cepat untuk keluar dari dalam kelas, mencari tempat yang kemungkinan bisa menenangkan hatinya.

Hinata berjalan dengan random, mencari tempat sepi dimana saja agar dirinya dapat sendirian dan dapat menangis dengan sepuasnya. Ia bukan marah, ia bukan sedih dengan potongan rambut barunya, ia hanya terlalu kaget dengan semua ini, sikap manusia yang baik, sama sekali berubah saat ini. Apa semua manusia bersifat kasar sekarang?

Akhirnya Hinata menemukan sebuah pohon besar dibelakang setelah memastikan jika tidak ada seorangpun disana, Hinata menyandarkan dirinya pada sisi belakang pohon dan menyembunyikan wajahnya pada lekukan lututnya, dan tangis memilukan itu kembali terdengar, kali ini ia meluapkan semua kesedihannya tanpa takut didengar oleh orang lain.

"Bisakah kau berhenti menangis? Ini sudah hampir setengah jam sejak kau duduk disitu dan mulai menangis!" tingkah protes itu menghentikan nafas Hinata untuk sesaat, ia menoleh kekiri dan kekanan. Tidak ada orang. "Aku diatas."—suara itu kembali terdengar, seolah menjawab pertanyaan Hinata. Hinata mendongak, menatap lelaki yang nampak santai diposisinya, berbaring diantara dua batang pohon yang kokoh dengan jarak kecil sehingga dapat menyangga tubuhnya yang besar.

"M-maaf aku menganggumu." Hinata berusaha untuk menatap wajah lelaki itu, wajahnya masih tidak jelas karena tertutup rimbunnya daun pohon ini. Tetapi sejauh penglihatannya, lelaki ini memiliki rambut yang sedikit panjang. Namun karena tidak kunjung menjawab balasan, Hinata yang kemudian akan berbalik pergi, tiba-tiba mendengar suara—

Duk!

Hinata menolehkan kepalanya saat lelaki itu turun dengan gagah, ia menepuk-nepukkan tangannya; memberisihkan tangan setelah memegang cabang pohon yang sedikit kotor. Dan kini Hinata dapat melihat wajah lelaki itu dengan jelas, rambut ravennya berwarna biru dongker, iris obsidiannya yang tajam menatap heran pada Hinata, 'gadis ini jelas korban bully.' Pikirnya tidak perduli.

Tetapi sejauh ingatannya, ia tidak pernah melihat gadis ini dalam rombongan fangirl yang selalu meneriakinya setiap saat, apa gadis ini tipe-tipe orang yang selalu menyendiri didalam kelas? Ah, epertinya begitu. Tapi kenapa dia bisa menjadi korban bully seperti ini? Alih-alih bertanya seperti itu, lelaki itu malah bertanya hal yang lain, "Kau mengenalku?" Tanyanya sedikit angkuh, tentu saja semua perempuan mengenalnya. "T-tidak." Jawaban Hinata jelas membuat Sasuke sedikit terkejut, walaupun berhasil ditutupi dibalik ekspersi wajahnya yang datar.

Namun tatapan dan cara menjawab gadis itu jelas bukan sebuah kebohongan, dan ia bukanlah seseorang yang mudah dibohongi. Hei, jadi ia serius tidak mengenal Sasuke? "Namaku Sasuke Uchiha." Akhirnya lelaki dengan rambut bermodel pantat ayam itu membuka suara, membuat Hinata nyaris saja kehilangan jantungnya. Sasuke… Uchiha? Uchiha adalah salah satu marga terkenal diantara para vampire yang sederajat dengan keluarga Hyuuga!

"K-kau… vampire juga?" Hinata memandang penuh harap, membuat iris obsidian tajam itu sedikit melebar sebagai tanda terkejutnya, walaupun setelah itu ekspresinya kembali datar seperti sebelumnya.

"Siapa kau?" Tanya Sasuke, tenang.

"H-hinata… Hinata Hyuuga."

"Hyuuga, ya?" lelaki itu hanya mengangguk kecil.

"A-aku tidak m-menyangka akan b-bertemu v-vampire lainnya disini."

"Hn, begitupun aku." Sasuke mendengus, "Aku baru melihatmu di sini. Kau baru bangun, ya?"

"I-iya, kemarin malam."

"Well, selamat datang kembali di dunia yang kejam, Hyuuga."

Gaara baru saja kembali dari koperasi sekolah dengan blazer barunya karena gadis-gadis sialan itu selalu berasil mencuri blazer sekolahnya ketika ia sedang bermain bola atau dalam pelajaran olahraga seperti sekarang. Dan ini tidak hanya terjadi sekali atau dua kali, dan itu kerap kali membuatnya kesal. Apalagi saat kedua kakaknya sedang pergi keluar negeri dan sulit dihubungi untuk meminta uang lebih. Untungnya ada siswa lain disekolah ini, kalau tidak salah namanya Sasuke. Lelaki itu tidak kalah populer dengan dirinya, Naruto atau Neji. Dan Gaara sedikit bersyukur karenanya, dia bukanlah sasaran satu-satunya.

Ia yang dalam perjalanan menuju atap sekolah, sedikit dipusingkan dengan beberapa anak perempuan yang meneriakinya, bahkan ada beberapa yang mengambil fotonya secara terang-terangan tanpa rasa malu. 'dasar jalang.' Umpatnya dalam hati, namun ekspresinya tetap datar dan akhirnya menghilang dibalik tangga atap sekolah.

"Gaara-kun!"

Dan Gaara hafal betul siapa pemilik suara ini.

"Pergilah, aku muak melihatmu setiap hari. Aku ingin beristirahat sebentar, dan kau terus mengangguku, nona. Tidakah kau merasa malu?" Gaara memandang sinis pada Shion yang duduk dikursi favoritnya dimana ia sering tidur hingga jam istirahat berakhir. "Hmph, kau semakin kejam!" Shion nampak mengembunggkan pipinya seolah dia adalah gadis paling imut. "Dan kau semakin memuakkan." Balas Gaara cuek. "Hei, apa ini karena gadis indigo itu?" Tanya Shion dengan tatapan marah.

Indigo, siapa?

"Gadis berponi yang mirip denganku." Shion mendesis kesal, dan Gaara langsung menyimpulkan bahwa yang dimaksud oleh Shion adalah gadis yang tadi malam dicekiknya hingga pingsan, Hinata. "Apa hubungannya?" Gaara menoleh sedikit pada gadis berambut putih itu, "Kau tahu? Dia berusaha untuk mengikuti penampilanku untuk membuatmu tertarik padanya! Dan itu membuatku kesal! Jadi aku kekelasnya dan memberikan sedikit peringatan padanya."

"Apa yang kau lakukan padanya?" nada suara Gaara berubah dingin, ia tahu gadis seperti Shion tidak pernah menyelesaikan sesuatu dengan baik, selalu ada kekerasan, pemaksaan dan ancaman. Ia sendiri tidak ingat kenapa ia bisa bertahan satu tahun penuh dengan gadis ini, dulu. "Aku hanya meminta teman-temanku untuk memotong poninya sedikit, tetapi karena ia melawan terus, temanku memotong poninya hingga habis." Dustanya begitu lihai.

Gaara nyaris saja berbalik dan berniat untuk meminta maaf pada Hinata karena kelakuan Shion padanya. Namun saat ia akan melangkah, ia kembali terdiam. Memangnya dia siapa? Dan apa urusannya dengan gadis itu? Dia adalah gadis asing, catat itu. Dan seorang Sabaku Gaara tidak akan pernah perduli dengan gadis manapun. Karena ia menganggap jika gadis-gadis itu adalah seorang penganggu yang menyebalkan.

Sisa pelajaran berlangsung dengan cepat setelahnya, Hinata merasa dirinya lebih jauh baik karena pelajaran agama dan ekonomi yang diikutinya hari ini, berbeda muridnya dengan murid dikelas matematika yang membully-nya tadi pagi. Terlebih karena ia menemukan teman sesame vampire, Sasuke Uchiha. Setahu Hinata, lelaki itu akan mengikuti kelas akutansi dan pengembangan bisnis, jadi tidak sekelas dengannya. Namun mereka akan sekelas dalam pelajaran bahasa Inggris, sejarah dan fisika pada hari Rabu dan Jumat. Setidaknya ia tidak akan sendirian pada hari itu.

Hinata menenteng buku pelajarannya menuju loker, 'aku mulai terbiasa dengan ini rupanya. Walaupun beberapa orang masih saja mengejekku.' Batin Hinata sambil memasukkan bukunya kedalam loker dan terdiam sesaat. Ia memandang ke loker atas, 617. Matanya menyipit secara tak sadar, ia tidak akan pernah melupakan lelaki kurang ajar itu. Lihat saja nanti.

Hinata baru saja berbalik dan berjalan satu langkah ketika seorang Sabaku Gaara berbelok dari sayap kiri, menuju kearahnya. Melihat situasi dimana lelaki berambut merah yang berjalan ke bagian loker daerah 617, membuat Hinata dapat menyimpulkan jika Gaara-lah yang dengan kurang ajar memberinya kissmark tadi pagi, ditambah dengan perlakuan gadis berambut putih tadi membuat tekadnya semakin bulat. Maka dengan segenap keberaniannya, Hinata berjalan ke tengah, memblok jalan seorang Sabaku Gaara yang kini menatapnya datar.

"Apa?" tanyanya.

"K-kurang ajar." Hinata tidak sadar membulatkan kedua bola matanya, kesal karena sikap Gaara yang terlihat biasa saja, seolah tidak melakukan apa-apa.

"Apa maksudmu dengan aku kurang ajar?" Gaara mengernyit, kenapa perempuan ini menyebalkan sekali, sih?

"K-kau p-pura-pura tidak t-tahu?!" Hinata mengepalkan kedua tangannya, "S-setelah kau lakukan itu?! B-benar-benar kurang ajar!" semburnya, wajah pucat gadis itu sedikit memerah karena emosinya yang meletup-letup. "Ini tidak bisa hilang dengan mudah, terutama untukku. Kau tahu!?"

—Brak

Hinata tidak sadar saat lelaki itu sudah mendorongnya hingga punggungnya membentur loker dengan bunyi keras. "A-apa-apaan!" ia baru saja akan protes ketika Gaara menatapnya dingin, "Siapa yang apa-apaan? Mencegat dan memarahiku. Memangnya kau siapa?!" Gaara membentaknya dengan keras, membuat keberanian Hinata menguap, nyalinya mendadak ciut, gadis itu nampak mengecil di mata Gaara.

Hinata terdiam ditempatnya, lidahnya mendadak kelu. Kenapa ia jadi begini, sih? Dimana keberaniannya yang tadi meluap-luap? Hinata mengigit bibir bawahnya, maka dengan tubuh bergetar, ia menjawab dengan sangat pelan, nyaris berupa bisikkan, "K-kamu…" kepulan asap sedikit tercipta dari bibirnya yang juga bergetar, "G-gara-gara kamu, a-aku diganggu hari ini." Gaara terdiam mendengarnya, ia mencermati wajah Hinata yang kini berubah merah, menahan tangis. "… p-padahal, ini hari pertamaku d-di sekolah. G-gadis berambut p-putih itu menuduhku dengan kejam, d-dan memotong rambutku." Hinata semakin menunduk, dan barulah Gaara sadari jika wajah gadis itu terekspos sempurna tanpa ada poni yang menutupi. "S-semua ini g-gara-gara kamu. D-dan kamu memberikanku t-tanda sialan itu. A-apa salahku?" Gaara terdiam saat melihat Hinata yang berderai air mata, dadanya terasa bergemuruh. Ada apa ini?

"A-aku tidak minta macam-macam. T-tapi bisakkah kau ti—" Hinata tidak bisa menyelesaikan kalimatnya saat bibir Gaara menutup bibirnya dengan sempurna, membuat iris lavendernya terbelalak, jantungnya tiba-tiba terasa akan lepas saking gugupnya, lelaki itu membelai bibirnya dengan lembut, seolah menyalurkan kasih sayang yang entah kenapa membuat dasar perut Hinata terasa panas, kram. Dan secara refleks, ia memegang pundak Gaara dengan keras, walau bagi Gaara tidak ada rasanya. Bibir Gaara terus menyapu bibirnya dengan perlahan, membuat wajah Hinata kembali memerah, kali ini karena malu.

"Maaf." Kata Gaara setelah ciumannya berakhir. Ia menghapus sisa-sisa air mata yang masih menggenang diujung mata Hinata. Hinata hanya terdiam, tidak tahu harus merespon bagaimana. Wajahnya masih memerah lucu, dan hal itu sukses membuat Gaara sudut bibir Gaara sedikit terangkat, membentuk senyuman kecil. "Maaf, ya. Aku janji hal itu tidak akan terulang kembali." Gaara mengecup kening Hinata sesaat, sebelum akhirnya Hinata menganggukan kepalanya secara tidak sadar.

"Aku antar kamu pulang. Dimana rumahmu?" Gaara bertanya sambil membenarkan rambut Hinata yang sedikit acak-acakkan, gadis itu terdiam. Ia tidak punya rumah. Rumahnya berada di vampire relm, begitu jauh dari sini dan sangat tidak memungkinkan untuk lelaki itu mengantarnya pulang. "A-aku bisa p-pulang sendiri. R-rumahku tidak jauh dari sini." Hinata mendundukkan kepalanya, ia sangat tidak pandai untuk berbohong. Dan jika ia melihat wajah lelaki ini, mungkin kebohongannya akan ketahuan mentah-mentah.

"Tak apa, Gaara. Ia tetanggaku, aku akan pulang bersamanya. Bukan begitu, Hina-chan?" suara lelaki lain tiba-tiba masuk ke indera pendengaran keduanya, yang sama-sama menoleh kea rah suara. "S-sasuke?" Hinata memandangnya tidak percaya, disambut senyuman kecil dari Sasuke. "Benar begitu?" Gaara memandang Hinata dengan suara yang bahkan terdengar aneh bagi pendengarannya sendiri. "I-iya." Hinata hanya mengangguk.

"Baiklah, Gaara. Sampai ketemu." Sasuke langsung menggandeng bahu Hinata yang kini berjalan disebelahnya, membuat tatapan aneh dari seorang Sabaku Gaara yang memandang punggung keduanya yang mulai berjalan menjauh. Ia mengernyit tidak suka,

Sial.

Kenapa ia harus perduli?

.

.

.

.

.

TBC.

Aakh, akhirnya chapter 2 update juga ya. Hng saya agak sedikit blank, namun ada teman saya yang terus menyuruh untuk lekas update. Jadi maaf kalau alurnya sedikit berbelit dan enggak karuan. Chapter 3 mungkin updatenya akan sedikit lebih lama mengingat perombakkan jadwal sekolah untuk beberapa bulan kedepan, yang memakan waktu saya untuk mengetik fanfic. Gomenne!

.

.

Pojok bales reviews:

.

Dah bagus ceritanya, gak sabar nunggu chapter selanjutnya. Semangat!

Hohoho, makasih ya. Berkat semangatnya ini chap2 udah update/?

Ending don't angst.

Saya sendiri juga ngga tau endingnya bakal kayak apa :"

Typo. Shion atau Matsuri?

Sudah saya edit, maksudnya Shion. Maaf, soalnya awalnya mau dibuat Matsuri tapi ngga jadi -a

Hinata tua banget.

Memang itu tua banget, ya? Hinata sebagai vampire, terinspirasi dari manga Noblesse. Disitu umurnya ribuan tahun semua jadi saya kira 1940 tahun ga lama-lama amat lah. /slapped

Apakah itu Gaara, atau Sasori?

Saipa yaaa, maunya siapa deh wkwk /lah

Hinata bisa makan makanan manusia?

Bisa dong, tapi kalau bulan purnama, dia bakal butuh darah seperti vampir lainnya.

Mirip manga Noblesse, Cadis Etrama Di Raizel

ohoho fict ini emang terinspirasi dari sana, dan saya memang mengambil -banyak- sifat-sifat buat story nya enggak, kok XD seneng deh ada yg baca Noblesse juga weheeh xD

.

.

.

.

Terimakasih sudah membaca~ mind to review?

Terimakasih buat reviews, favs dan follows nya ya!

sign,

Sayuri Hiroko.

( find me on twitter, xxaomne )