FF BTS/YAOI/J.V/THE BEAUTIFUL HIB-CREATURES /Chapter 9
Title: The Beautiful Hib-Creatures
Author: Bang Young Ran
Rating: T
Genre: Yaoi/Fluff/Romance/Scien-fict/AU
Length: Chaptered
Main Cast:
Kim Tae Hyung aka V ^w^ 3
Kim Seok Jin~~ 3
Support Cast:
HopeKook (J-Hope & Jung Kook)
KrisBaek (Kris & Baek Hyun EXO)
DaeBaek (Dae Hyun BAP & Baek Hyun)*ni cuma masa lalu*
DaeJae (Dae Hyun & Young Jae)
BangHim (Yong Guk & Hime~~)
MinSu (Ji Min & Suga)
Couples nyusul~
Disclaimer: BTS is Big Hit/JYP Entertainment Boy Group and their parents, and it's Youngranie fic~ muaaaachhh...*kechupbasah*
Warning: TYPO! OOC! YAOI/BoysxBoys! M-PREG! NO PLAGIARISM! NO BASHING! NO SIDERS!
Summary: Di era modern sekarang ini, manusia tidak lagi terfokus dalam menciptakan kaleng besi berjalan—robot. Menciptakan makhluk hidup yang benar-benar hidup dalam bentuk lain, itulah yang menjadi fokus para ilmuan beberapa tahun belakangan. Awalnya menggabungkan spesies hewan dari jenis berbeda, dan sekaranglah terobosan baru tercipta dimana gen hewan digabungkan dengan... gen manusia.
.
.
DON'T LIKE, DON'T READ, JUST LEAVE IT, OK!?
.
.
~~( ^3)(.o )~~
.
.
TANPA BANYAK BACOT, LANGSUNG AJA CHECK IT OUT
HAPPY READIIIIIINNNNGGGGG... ^3^
.
.
.
The Beautiful Hib-Creatures
Chapter 9
"Ya, kenapa kita ke tempat ini?" J-Hope berbisik pelan, memperhatikan sekitar dengan... asing? Yah, dia seperti seseorang yang tersesat di planet asing. Planet asing dengan wangi semerbak, yang penuh dengan setelan jas bermerek. Belum lagi suasana yang kelewat tenang dengan beberapa yeoja berpakaian resmi membungkuk hormat sembilan-puluh-derajat tiap kali mereka lewat. Ugh, ini tempat asing bagi J-Hope yang hanya berasal dari keluarga sederhana.
Tapi, tentu tidak bagi Jin. Namja tampan itu sekarang terlihat begitu menikmati waktunya sembari mengusap-ngusap dagu tiap kali beberapa orang yeoja mempertunjukkan satu set setelan resmi di hadapannya.
"Aku butuh pendapatmu, Hopie. Malam ini aku diundang Tae Hyung-ssi makan malam di rumahnya. Orang tuanya ingin bertemu denganku." Jin tersenyum lebar sekali. Meskipun tadinya dia sempat cemas dan, ekhem, takut juga, sih... tapi, ini semua demi kelancaran hubungannya dengan V. Kalau seandainya umma V nanti mencakarnya, dia akan terima. Tapi... lebih baik mencegah daripada mengobati, 'kan? Makanya, setelah menemukan setelan jas yang pantas ia kenakan dari butik ini, Jin berencana untuk membeli sebuket bunga mawar besar beserta sekotak cokelat. Jin tahu di mana harus membeli cokelat kacang super lezat dengan harga yang fantastis.
Licik. Ingin menyuap, eoh?
Tidaklah~ Jin hanya tengah 'berusaha mengambil hati calon mertua'.
"Wah~ kalian benar-benar akan memasuki tahap serius, eoh?! Aku salut, ternyata kau dengan cukup mudah menaklukkan Kim Tae Hyung. Kau harus bersyukur karena dia akan memasuki masa heat. Makanya dia sedikit melunak. Kau sangat beruntung, Jin-ah. chukkaeyo~" ujar J-Hope tulus sembari menepuk pelan bahu Jin. Sahabatnya senang, tentu dia juga ikut senang.
Karena J-Hope mengungkit-ungkit soal 'heat'... Jin jadi teringat adik kecilnya yang manis. Jung Kook juga akan mengalaminya sebentar lagi. Seperti yang V katakan, hybrid tidak punya pilihan dan harus sesegera mungkin mencari pasangan mate. Huft... bagaimana nanti nasib Jung Kook? Melakukan mate? Dan yang terpenting... apakah Jin rela kalau adiknya melakukan mate bersama orang asing yang tidak dikenal? Jin tidak bisa menyangkal kalau Jung Kook tidak punya banyak waktu lagi untuk mengenal orang baru. Heat-nya sudah di depan mata.
"Hopie," entah kenapa mulut Jin bergerak sendiri. "Kau... sangat mencintai Jungie, 'kan?" tanyanya tiba-tiba. Membuat namja yang dilempari pertanyaan membelalakkan mata.
Eum... Jin serius, menanyakan hal penting seperti itu pada J-Hope sekarang? Meskipun butik adalah tempat yang berkelas, namun tentu bukanlah tepat yang tepat untuk membicarakan hal aku-sangat-mencintai-adikmu. Mungkin seharusnya sebuah tanah lapang yang sepi saja. karena J-Hope mempunyai firasat kalau Jin akan memukulnya atas jawaban yang akan diberikannya nanti.
Melihat tidak ada kata-kata yang J-Hope keluarkan untuk menjawab pertanyaannya, Jin jadi sedikit kesal dan sekarang tanpa bisa dicegah matanya menyipit, menatap namja tampan di sebelahnya penuh selidik. "Jung Ho Seok, aku bertanya padamu; kau sangat mencintai adikku atau tidak?!" ulangnya. Kali ini terdengar lebih menuntut.
Bagai seorang tersangka yang disudutkan di dalam sebuah sidang. Itulah keadaan yang dialami J-Hope sekarang. Dan bagai pasrah menerima vonis yang akan dijatuhkan untuknya, kepala J-Hope tertunduk, "ne, Jin. Ne, aku sangat mencintai Jung Kook. Aku tahu kau melarangku untuk merasakan hal seperti itu terhadapnya. Tapi aku minta maaf. Aku tidak bisa, Jin-ah. sekuat apapun aku berusaha, aku tetap mencintainya. Maafkan aku. Aku rela kau menghajarku atau apapun. Tapi kumohon, jangan memintaku untuk menghilangkan perasaan ini."
Oh, pengakuan memelas J-Hope seharusnya direkam. Mungkin Jung Kook akan sangat senang mendengar hal ini. Namja itu begitu serius dengan ucapannya, membuat Jin terenyuh sendiri.
Baiklah, Jin menyerah.
"Jungie juga akan mendekati masa heat."
Mata J-Hope terbelalak dengan rahang jatuh mendengar kata-kata yang diucapkan sang sahabat. "MWO?!"
"Kalau kau benar-benar menyukai adikku, buatlah keputusan sesegera mungkin. Kurasa Jungie juga menyukaimu."
Tsk, Jin sepertinya ketularan ceplas-ceplos kekasih lion hybrid-nya. Tidak diberi pertanda apapun, J-Hope layaknya menerima badai topan dahsyat saat ini.
"Mwo? Bu-bukannya kau tidak i-ingin a-aku mendekati Jungie? Kenapa—"
"Aku, 'kan, sudah bilang kalau sepertinya Jungie menyukaimu. Kau mau atau tidak? Atau kutarik kembali kata-kataku?!" gertak Jin sembarangan. Habis, J-Hope tidak tahu berterima kasih, sih... sudah untung Jin merestuinya!
"AH?! ANDWAE! Ne, ne, aku mau!"
Jin kembali tersenyum cerah. Mungkin ini keputusan yang tepat. Meskipun selama ini dia selalu menutup mata akan perasaan J-Hope pada adiknya... tapi, siapa yang bisa Jin bohongi? Tidak ada yang bisa mencintai Jung Kook lebih baik dari J-Hope. J-Hope adalah namja yang sangat cerdas dan baik hati. Itulah alasan utama yang membuat Jin betah menjalin persabatan dengannya. Dan seharusnya... cerdas dan baik hati merupakan syarat sempurna untuk kriteria pasangan hidup seseorang, bukan?!
"Nah, kalau begitu kajja! Bantu aku memilih setelan yang pas!"
########^0^########
"Umma~ kenapa wajah umma ditekuk seperti itu? Tersenyumlah~ umma tidak berencana untuk membuat takut mate-ku, 'kan?"
Bibir bawah Baek Hyun mencebik. Belum lagi kedua telinganya turun lesu di sisi kepala. Sudah dari tadi wajahnya tertekuk seperti itu. Kris yang berada di sebelahnya hanya bisa tertawa, diikuti cekikikan Young Jae, dan Dae Hyun... huft... dia hanya bisa memutar bola mata.
"Bukan 'mate'. Namja itu masih 'calon', Taehyungie," kata Baek Hyun mengoreksi.
"Tenang saja, Taehyungie~ umma-mu hanya sedang bad mood. Mungkin sebentar lagi dia juga akan mengalami masa heat," celetuk Dae Hyun menimpali. Membuat lion hybrid yang tengah cemberut di depannya semakin cemberut.
"YA! Kau ja—"
Ting Tong~
"Oh, kurasa itu Seokie-ssi!" V berseru sembari bangkit cepat dari kursinya, sedikit berlari menuju pintu depan. Beberapa orang di meja makan yang melihat lion hybrid imut tersebut penuh semangat tidak seperti biasanya, hanya menganga tidak percaya. Apalagi Baek Hyun.
"Hiks~ Taehyungie..."
Oke, kita abaikan si lion hybrid mama yang lagi-lagi bergalau ria. V masih terlalu cepat besar, baginya.
Kembali ke pintu depan kediaman Keluarga Kim.
"Kau berlebihan, kau tahu? Ini hanya makan malam, Seokie-ssi." V berkomentar saat melihat penampilan Jin yang begitu rapi. Oh, dan jangan lupakan buket bunga mawar merah beserta sebuah kotak merah pipih di tangannya.
"Benarkah? Ka-kalau begitu apa perlu aku kembali dan mengganti pakaian?" tanya Jin mendadak panik. Tadinya dia begitu percaya diri. Tapi sekarang? Sumpah demi Tuhan, dia gugup setengah mati!
"Kkkkk~ tidak perlu. Aneh, kemana Kim Seok Jin yang biasanya percaya diri?"
"Ugh... aku sedang berusaha, Tae Hyung-ssi~ Kau membuatku gugup!" Entah Jin sadar atau tidak kalau sekarang ia tengah merengek. Membuat V berpikir betapa lucunya namja tampan ini kalau bersikap childish.
"Hahaha, aigoo... sekarang kau merengek, eoh? Kalau begitu kita batalkan saja. Aku tidak mau kalau kau sampai pingsan di depan keluargaku nanti."
Kata-kata lion hybrid manis di depannya membuat mata Jin terbelalak lebar dan sesegera mungkin menggeleng. "Ani. Andwae. Kenapa kau bicara seperti itu, Tae Hyung-ssi? Kau ingin aku menyerah?!"
Oke, sepertinya Jin memang tengah dikuasai rasa panik berlebihan. V bahkan dapat mendengar namja tampan tersebut bernafas dengan suara nyaring.
"Seokie-ssi, tenang... ambil nafas pelan-pelan, ne?" pinta V sembari mengulurkan tangan dan mengusap-ngusap punggung lebar Jin dari atas ke bawah. "Astaga, kau benar-benar gugup ternyata. Aku hanya bercanda, Seokie-ssi."
Setelah beberapa saat mendapat bujukan disertai usapan lembut pada punggung, Jin akhirnya tenang juga. Nafasnya tidak lagi memburu.
"Kau sudah tenang?"
Pertanyaan V hanya mendapat anggukan pelan. Mata Jin masih tidak fokus. Dia tidak sepenuhnya tenang. Insting tajam V dapat merasakannya. "Baiklah, kalau begitu ayo masuk," ajaknya kemudian.
V menggandeng tangan Jin yang bebas. Saat melewati koridor ruang tengah, genggaman Jin semakin erat. Dia gugup lagi.
Oh, apakah ada yang bisa V lakukan untuk membantu mate-Nya ini?
Mungkin...
"Kau mau tahu sesuatu, Seokie-ssi?" tanya V memulai. Langkahnya terhenti dan berbalik, mendongak menatap Jin.
"N-ne?"
Tanpa diduga, V menarik tangan dalam genggamannya ke bawah hingga membuat tubuh Jin sedikit membungkuk. Kemudian dengan naturalnya lion hybrid imut tersebut mendekatkan wajah dan mengecup bibir Jin lama.
Jin terkesiap. Mata namja tampan itu terbelalak, tidak sepenuhnya bisa memproses apa yang sebenarnya tengah terjadi. Bahkan saat si imut melepaskan bibirnya dengan suara 'smooch' yang nyaring, kesadaran masih satu langkah jauhnya dari Jin.
"You lookin' so really good in this suit. Oh, and hot~" Untuk kata-kata yang terakhir, V bersumpah kalau 'itu' meluncur begitu saja dari mulutnya. Alhasil, sekarang wajah imutnya terasa panas.
Wajah imut yang tengah blushing di hadapannya, rasanya cukup membawa Jin kembali ke dunia nyata. Memang tidak ada yang bisa menebak V. Setelah sebelumnya berani mengecup Jin tepat di bibir, hanya dengan mengakui bahwa Jin 'hot', dia sudah blushing seperti ini. Belum lagi wajah mereka yang masih berdekatan. V tak ubahnya seperti mangsa yang tertangkap oleh si pemangsa.
"Kkkkk~ gumawoyo, Tae Hyung-ssi. Menurutku kau juga..." Jin sengaja menggantung kalimatnya dan lebih mendekatkan wajah pada si lion hybrid. Tsk! Tampaknya si mesum Jin telah kembali.
Coret anggapan betapa cute-nya Jin yang tengah panik.
Hal seperti itu hanya muncul sekilas, karena setelahnya kau akan kembali melihat 'the most seductive evil that only staring hole to your soul'.
"Menurutku kau juga..."
V bersumpah kalau saat ini dia menahan nafas. Bagaimana tidak? Jantungnya berdebar begitu cepat saat merasakan nafas hangat Jin di permukaan bibirnya.
"You're the most beautiful creatures that I've ever seen in my life. Everytime I see you, you only gettin' hotter... and much hotter~"
Seperti halnya V yang mengecup secara natural, Jin juga melakukannya dengan tak kalah natural. Namun tentu bukan sekedar kecupan polos. Mereka lagi-lagi melakukan french kiss. Satu tangan Jin yang tadinya bergenggaman dengan jemari V, kini telah berpindah, menggenggam tengkuk kecil si lion hybrid.
"Oh~ eunghhh..."
Gotcha.
Jin membuat catatan di otaknya saat menemukan salah satu sweet spot sang mate. Setelah sebelumnya bagian telinga juga termasuk.
Dan tidak ada salahnya jika Jin juga membelai sweet spot di kepala dirty blond itu. Namun...
"EKHEM!"
Seseorang berdehem keras. Membuat tangan Jin yang setengah jalan kembali turun dan keduanya sesegera mungkin memisahkan diri. Sial. Jin sampai lupa kalau saat ini dia tengah berada di mana.
"Tahyungie, bukankah seharusnya kau membawa Jin-ssi secepatnya ke meja makan? Kami semua sudah kelaparan menunggu kalian." Baek Hyun dengan sengaja mengubah nada pada kata 'kelaparan', membuat Jin menyadari keterlambatannya saja.
V tahu apa yang saat ini tengah ummanya coba lakukan. Memutar bola mata, V kemudian kembali menggenggam tangan Jin dan membawanya mendekati Baek Hyun di dekat pintu ruang makan. "Umma, kenalkan, ini Kim Seok Jin-ssi."
Jin mematung begitu dirinya berhadapan dengan... dengan... ah, apakah yang berdiri di hadapannya ini adalah kembaran V? Kenapa mereka mirip sekali? tapi... V memanggilnya 'umma'?
God... makhluk luar biasa imut ini umma-nya... V?
"Seokie-ssi, perkenalkan dirimu~" bisik V pelan. Si imut ini jadi nervous sendiri karena sang umma menatap Jin yang hanya berdiam kaku, dengan mata menyipit.
"Oh, ah, a-annyeong ha-haseyo. A-aku Kim Seok Jin. Ba-bangapseumnida!" Jin... menyerukan kata-kata tersebut sembari membungkuk kikuk berkali-kali. Dia tidak bermaksud terdengar aneh dan tidak sopan seperti itu, tapi apa boleh buat; nasi telah menjadi bubur.
"Huft... bangapseumnida, Jin-ssi. Aku Kim Baek Hyun, umma Taehyungie. Ayo ke meja makan. Kami semua sudah menunggumu." Baek Hyun berkata sambil lalu dan menghilang di balik pintu ruang makan. Meninggalkan Jin yang gugup setengah mati sembari mengerjapkan mata berkali-kali.
'Habislah kau, Seok Jin... Umma Taehyung-ssi jauh beribu-ribu lebih dingin!'
Jin bergelut dengan pikirannya. Seandainya tidak ada tangan V yang menggenggamnya memasuki ruang makan, dia mungkin sudah jatuh lunglai di lantai.
"Appa, Youngie Hyung, perkenalkan, ini Kim Seok Jin."
"Annyeonghaseyo, Kim Seok Jin imnida. Bangapseumnida." Jin kembali membungkuk sembilan-puluh-derajat pada semua orang di meja makan. Kali ini dia melakukannya dengan benar.
"Kkkkk~ wah, wah... kau tampan sekali, eoh?! Uri Taehyungie memang tidak salah memilih." Pujian Dae Hyun ini mendapat delikan tajam dari makhluk imut di depannya. Tatapan itu seolah berseru 'penghianat!' padanya.
"Gu-gumawoyo.. eummm..."
Oh, tentu Jin belum mengenal namja tampan berkulit tan yang baru saja memujinya. Ada rasa familiar saat melihat wajah tampan itu. Tapi... apa?
Seolah mengetahui dilemma Jin, V langsung membuka suara. "Seokie-ssi, itu Dae Hyun Appa. Dan yang di ujung sana Kris Appa, lalu yang duduk di sebelah Dae Hyun Appa adalah Youngie Hyung. Oh! Aku lupa memberitahu kalau orang tuaku sudah bercerai, ne? Jadi bisa dibilang, aku punya empat orang tua sekarang."
Glup~
V dan segala informasinya...
"Aigo, Taehyungie. Sebaiknya kau membawa Jin-ssi duduk dulu. Kurasa dia kaget," usul Kris penuh prihatin. Dia sangat tahu bagaimana rasanya dikagetkan dengan informasi penting tanpa aba-aba. Baek Hyun sering juga melakukan hal tersebut padanya.
Mengikuti usulan sang appa, V dan Jin akhirnya mengambil tempat duduk, bersebelahan tentu saja. Akan tetapi sesuatu terasa janggal.
Bunga,
Dan sekotak cokelat.
Benda-benda itu terlupakan.
"Eumm... ini kubawakan untuk... Omu—" Jin berhenti dikala bibirnya hendak mengucapkan 'omunim' pada Baek Hyun. Bagaimana akan mengucapkannya bila orang yang dialamatkan malah mendelik dengan mata menyipit penuh peringatan!? Bulu kuduk Jin serasa merinding. Dia baru tahu, kalau wajah imut seseorang bisa sebegitu menakutkannya.
"Kau membawakan semua ini untuk umma-ku? Gumawoyo, Seokie-ssi."
Mungkin surga tengah mendngarkan doa-doa Jin sehingga menurunkan malaikat imut dan manis seperti V untuk membelanya.
"Oh, kotak merah itu berisi apa?" Dae Hyun menyela, bermaksud menghidupkan suasana yang mendadak tegang. Dan berikutnya, dia harus menyesali tindakannya ini.
"I-itu cokelat kacang. Umma-ku se..."
Dapat terdengar dengan jelas nafas semua orang yang berada di meja makan terkesiap, kecuali Young Jae.
Kenapa?
'Wae?'
Mata Jin menanyakan hal itu saat menatap V. Baru saja lion hybrid tersebut membuka mulut hendak menjawab ketika suara penuh penekanan, mengintimidasi, terdengar dari arah seberang. Tepatnya di sebelah Kris.
"Aku alergi kacang akut. Aku bahkan pernah nyaris mati karena tenggorokanku membengkak parah sehingga tidak bisa bernafas. Kau berencana untuk membunuhku, Jin-ssi?"
SSSSSIIINNNNGGGGG...
Semua terdiam. Ketegangan di dalam ruangan serasa semakin meningkat. Terima kasih pada Dae Hyun dan pertanyaan spontannya. Dan paling tidak, Jin memetik sebuah pelajaran dari sini.
Malu bertanya, sesat di jalan, eoh?!
Seharusnya dia menanyakan hal yang mungkin terdengar sepele seperti ini terlebih dahulu bersama V. Seharusnya.
Tidak ada yang bisa memecahkan keheningan yang Baek Hyun ciptakan. Maka dari itu, setelah menghembuskan nafas panjang, lion hybrid imut tersebut akhirnya bertanggung jawab. "Huft... mianhe. Aku mengacaukan makan malam ini. Aku hanya merasa... ini terlalu cepat. Maafkan aku, Jin-ssi," kata Baek Hyun penuh penyesalan. Kris yang berada di sebelahnya memberikan senyum menenangkan beserta usapan memutar lembut di punggung.
Zret!
Jin tiba-tiba bangkit dari tempat duduk. Membuat semua pasang mata di meja makan terfokus padanya. Lalu yang lebih mengagetkan, namja tampan itu membungkuk dalam di depan semuanya.
"Aku mengerti apa yang anda rasakan, Omunim. Tapi kumohon, percayakan sepenuhnya Tae Hyung-ssi padaku. Aku sangat mencintainya, Omunim. Aku berjanji akan menjaganya dengan baik."
Yah, Jin akhirnya mengatakan dengan lantang apa yang ingin dikatakannya. Beberapa manusia di meja makan mulai tersenyum. Dan jangan lewatkan mata Dae Hyun yang melirik ke arah lion hybrid di seberang.
'Bagaimana, Baekhyunie? Kau masih ragu?'
Bagai memiliki ikatan telepati, Baek Hyun hanya bisa menghela nafas pasrah dan sedikit tersenyum,
'Aku kalah, Daehyuna~'
~~~~~~\(=^3^=)(=0.0=)/~~~~~
"Jadi bocah bebal itu diundang makan malam di rumah Tae Hyung-ssi?" Yong Guk bertanya setelah menelan potongan steak di mulutnya.
Jarang sekali keduanya hanya menikmati dinner berdua. Bagaimana dengan Jung Kook?
"Ne. Kau seharusnya melihat bagaimana penampilan Uri Seokie tadi. Dia tampan sekali!"
"Kkkk~ tentu saja. Dia anakku," timpal Yong Guk bangga. Membuat makhluk cantik di hadapannya sedikit mencibir diantara kunyahan salad wortel dalam mulutnya.
"Kau besar kepala sekali, Gukie-ssi!"
"Hahaha, bukankah karena aku tampan, kau jadi menyukaiku?! Jangan membohongi dirimu sendiri, Hime~" goda Yong Guk sembari menyeringai.
Him Chan memutar bola mata dan berpura-pura sibuk mengaduk-aduk salad di piringnya. Percuma berdebat dengan seorang Kim Yong Guk. Nanti yang ada, Him Chan malah kalah telak dengan pipi memerah panas.
"Oh, ya, tumben sekali Hopie dan Jungie makan di luar!? Apa Seokie mengetahui hal ini?"
Sedari kecil, Jin memang sangat overprotektif terhadap Jung Kook. Secara terang-terangan putera sulung mereka itu menentang J-Hope untuk mendekati Jung Kook. Dan rasanya aneh saja kalau malam ini Jung Kook tidak ikut makan malam bersama mereka karena diajak keluar oleh J-Hope. Apa lion hybrid bernama Kim Tae Hyung itu telah membuat perhatian Jin teralih?
"Itulah anehnya, Gukie~ Seokie sendiri yang menyuruh Jungie untuk bersiap-siap dan mengantarkannya langsung ke rumah J-Hope. Makan malam bersama keluarga J-Hope, katanya. Kau percaya itu?!"
Keterangan sang anae membuat sebelah alis Yong Guk terangkat sangsi. Yah, itu memang aneh. Atau mungkin Jin hanya... mulai beranjak dewasa? Apapun itu, tampaknya tidaklah buruk.
"Huft... aegya kita sudah mulai dewasa, Hime. Tsk! Sebentar lagi rumah ini akan sepi."
Him Chan mengangguk-agguk setuju. Reflek kepalanya berputar memperhatikan sekitar ruangan. Rumah mereka akan sepi. Sebentar lagi tidak akan ada teriakan riang Jung Kook di sana.
"Apa perlu kita membuat sepasang lagi?"
Untuk usulannya yang satu ini, Yong Guk berakhir dengan ringis kesakitan karena Him Chan dengan teganya menggeplak sisi kepalanya dengan sendok sup.
"Serve you, right?!" celetuk si bunny hybrid santai sembari menyuap kembali saladnya.
#######^3^########
"Jungie, bagaimana? Kau menyukai strawberry sundae buatan umma?"
Namja manis berambut hitam legam tersebut membelai-belai rambut Jung Kook dengan sayang. Dia nyaris berteriak gemas saat melihat si bunny hybrid tersenyum riang sembari memperlihatkan bunny teeth-nya yang lucu itu.
"Ne, Umma! Jungie sukaaaaaaaaaa sekali!"
J-Hope memutar bola mata melihat kedua makhluk manis di depannya berinteraksi. Terlihat sangat manis, karena beberapa pekikan riang dan senyuman bahagia bertebaran dimana-mana.
"Hyung, berhenti menyuruh Jungie memanggilmu 'umma'. Dia bukan anakmu, dan kau jelas bukan ummanya," kata J-Hope menyela. Membuat namja yang dipanggilnya 'hyung' mendelik sebal kemudian menjulurkan lidah seperti anak kecil.
"Diam kau, Hopie! Selamanya Jungie Boo akan memanggilku 'umma'. Kau tidak boleh iri. Ara!?"
Terdengar kikikan di sebelah J-Hope. "Kkkk~ sudahlah. Kalian ini kakak-beradik, tapi anehnya sering sekali adu mulut, eoh?" komentar namja itu sembari menggeleng bingung.
Dia adalah Park Ji Min. Namja yang umurnya hanya satu tahun di bawah J-Hope. Namun naasnya, namja ini adalah kakak iparnya. Ji Min adalah wolf hybrid. Namja bertubuh atletis ini melakukan mate bersama kakak kandung J-Hope kira-kira setahun yang lalu. Dan bicara soal kakak... namja manis yang saat ini tengah menyuapi Jung Kook adalah kakak kandungnya J-Hope. Namanya Jung – ah, atau mungkin sekarang 'Park' Yoo Ngi, namun orang-orang lebih sering memanggilnya Suga.
Sepeninggal orang tuanya dalam sebuah kecelakaan pesawat beberapa tahun lalu, J-Hope hanya tinggal berdua dengan Suga. Meskipun sang hyung sudah memiliki pasangan sekarang, dia tetap ingin J-Hope tinggal bersama mereka. Dia tidak ingin adiknya kesepian tinggal sendiri, katanya.
"Umma, umma gendutan, ya, sekarang!?" Jung kook tiba-tiba berkomentar polos. Mata doe-nya mematuti tubuh Suga dari atas ke bawah.
"Kkkkk~ Jungie, umma bukannya gendutan. Kau lihat perut buncit ini?" Suga mengelus perutnya yang sedikit membesar. Dia tengah hamil lima bulan sebenarnya. Tentu saja kenaikan berat badan akan terlibat.
"Ne! Perut umma besar sekali! Apakah umma sedang sakit?"
"Tidak. Umma tidak sedang sakit. Kau tahu? Di dalam sini ada adik bayi, lho..." Suga berdendang diantara elusan tangannya. Dia begitu mengenal Jung Kook. Dia tahu kelinci yang manis dan lucu di sampingnya ini tidaklah sempurna. Makanya, Suga sering sekali memperlakukan Jung Kook layaknya bocah.
"Adik bayi?! Bagaimana bisa?" Kedua mata si bunny hybrid terbelalak dengan mulut menganga. Salah satu telinga panjangnya melekuk ke samping, tidak mengerti.
"Omo~ you're so cute~" pekik Suga gemas dan reflek mencubit pelan kedua pipi putih chubby milik Jung Kook.
"Ukh~ umma... Umma belum menjawab pertanyaaan Jungie. Kenapa adik bayinya bisa ada di dalam perut umma? Ah! Atau jangan-jangan... UMMA TIDAK MEMAKANNYA, 'KAN?!"
Kata-kata beserta ekspresi yang Jung Kook tunjukkan membuat meja makan tersebut dipenuhi tawa. Omo~ polosnya si kelinci yang satu ini.
"Hahaha, omo, Jungie~ umma tidak mungkin memakan adik bayi!"
"Lalu?"
"Adik bayi ini, dititipkan Tuhan pada umma dan... bum! Perut umma langsung membesar."
Ji Min yang duduk di hadapan Suga hanya bisa menyembunyikan senyumnya sembari menggeleng. Tuhan, eoh? Suga memang pintar. Dia akan menjadi umma yang baik nanti untuk calon aegya mereka.
Bukanlah Jung Kook namanya kalau ia hanya puas dengan satu pertanyaan. "Kenapa Tuhan harus menyimpannya di perut umma?"
"Karena adik bayinya perlu tumbuh, Jungie Baby~ Dia masih terlalu kecil. Nanti kalau dia di luar, dia bisa kedinginan." Suga menjelaskan dengan begitu santai. Tangannya tampak begitu natural mengusap surai hitam legam milik Jung Kook.
"Oooo~" respon si bunny hybrid paham. Lalu berikutnya, bibirnya yang berwarna pink kemerahan mulai pouting sambil bergumam, "ugh~ padahal, Jungie ingin menyentuh adik bayi. Kapan adik bayi bisa keluar, Umma?"
"Kkkk~ Jungie sabar, ne!? Tidak akan lama lagi. Nanti, kalau adik bayinya sudah keluar, Umma pasti akan membiarkan Jungie menggendong dan menyentuhnya selama yang Jungie mau."
Jung Kook bertepuk tangan antusias menyambut hal yang Suga janjikan padanya. Rasanya sudah tidak sabar. Jung Kook suka adik bayi. Umma-nya berprofesi sebagai dokter spesialis hybrid. Dan pernah suatu kali, Jung Kook dibawa sang umma ke ruang inkubator dan diberi kesempatan untuk menggendong sesosok bayi koala hybrid yang saaaaangat mungil. Neomu kyeopta. Sayang, sebentar saja makhluk mungil tersebut dalam buayan lengan Jung Kook, dia malah menangis keras. Saat itu bunny hybrid manis ini langsung beranggapan kalau si adik bayi tidak menyukainya. Padahal kenyataannya, makhluk mungil tersebut tengah merasa lapar.
"Eumm..." Jung Kook memulai. Raut wajahnya mendadak muram hingga mengundang perhatian semua makhluk di meja makan. Jung Kook kenapa?
Seakan tidak menangkap kebingungan orang-orang terhadap perubahan sikapnya yang mendadak, Jung Kook malah terfokus menatap perut Suga. Kemudian tangan putihnya bergerak, terulur dan mengelus perut besar itu dengan sayang.
"Jungie Baby, waegeure?"
"Umma, bagaimana kalau adik bayi tidak menyukai Jungie? bagaimana kalau nanti dia menangis setelah Jungie sentuh?"
Oh.
Suga mengerti sekarang. Pikiran Jung kook memang selalu sederhana dari pemikiran orang kebanyakan.
"Kkkkk, itu tidak mungkin, Jungie Baby. Adik bayi sangat menyukaimu! Dia bahkan berkata tidak sabar untuk bermain dengan Jungie Hyung-nya!"
"Benarkah?! Adik bayi berkata seperti itu?! Umma bisa berbicara dengan adik bayi?"
"Eum! Tentu saja. Tapi kalau sekarang, hanya umma saja yang bisa mengajaknya bicara."
"Huwaaa~ Kalau begitu, sampaikan pada adik bayi, Umma, Jungie juga sangat menyayanginya dan sudah tidak sabar lagi bermain bersama!" kata Jung Kook antusias.
Suga hanya tertawa keras dan setelahnya melakukan apa yang Jung Kook minta; berpura-pura bicara dengan bayi di dalam perutnya. Sesekali si bunny hybrid menambahkan daftar 'pesan' pada sang adik bayi, meminta Suga untuk menyampaikannya yang disambut hangat pula oleh namja manis itu.
Sementara J-Hope yang melihat keakraban keduanya hanya bisa tersenyum hangat. Untuk pertama kalinya dalam hidup, ia merasa lengkap. Semenjak sang hyung mendapatkan mate, J-Hope selalu merasa kesepian. Meskipun mereka tinggal di rumah yang sama. Hanya saja... rasa sunyi dan sendiri tentu tidak bisa ditepis. Tapi sekarang... J-Hope tidak akan merasakan semua itu lagi. Ada Jung Kook. Bunny hybrid luar biasa manis dan lucu tersebut akan menjadi mate-nya.
"Hahahaha, umma, tentu saja Jungie juga menyayangi umma! Tidak hanya adik bayi, hahahaha~" pekik Jung Kook tertawa keras saat Suga mulai menggelitiki pinggangnya.
Yah, mereka terlihat seperti keluarga besar yang dipenuhi kebahagiaan, bukan?
"Yoongie Hyung! Berhenti menggelitiki Jungie!"
"Yoongie! Jangan terlalu banyak bergerak! Hati-hati dengan perutmu!"
TBC
