CHAPTER 3

.

.

.

Kaito, Len, Yuuma, Yohio, dan Mikuo, merenung di kamarnya. Rapot progress tengah semester mereka sudah dibagikan. Nilai mereka nggak buruk-buruk amat. Setidaknya, di antara mereka Yohio berhasil menyabet ranking tiga di kelas.

Nggak, nggak ada perayaan khusus. Kalo ada malah entar jadi acara sombong-sombongan.

"Mulai besok kita libur, 'kan?" Kaito bersuara.

Yang lainnya menyahuti dengan anggukan singkat.

"Ahh, kurasa besok aku akan kembali ke rumah, " Yohio bangkit dari tempat tidurnya dan meregangkan badannya. "Katanya, ibuku sakit. Aku mau nengok."

Nggak ada yang berani nyahut. Jika topik bahasan mereka sudah memasuki topik pembicaraan tentang keluarga, nggak akan ada berani menjawab. Karena dalam otak mereka obrolan santai sama dengan lawakan.

"Ada yang mau ikut?" tanya Yohio. "Rumahku beda satu distrik dengan pusat game di kota."

Mikuo dan Kaito bangkit dari tempat tidur bersamaan. "Kita ikut!"

"Kalian berdua gimana?" tanya MIkuo.

"Tak usah pedulikan kami," Yuuma menjawab madesu. "Habis kakak kelas try out, ekskul basket dan voli bakal ada pertandingan level wilayah."

"Kalau kalian bertiga main ke toko game, aku titip satu, oke?" Len menutupi kepalanya dengan bantal.

Tiba-tiba pintu kamar mereka diketuk.

"Masuk~" ucap mereka berlima kompak.

"Hai," Kagene Rei masuk ke kamar mereka. "Mau ikut main Mafia, nggak? Lawannya anak kelas sebelas,"

Mafia disini adalah permainan kejar-kejaran liar dimana kucing dinamakan agen dan tikus dinamakan mafia.

Kagene Rei menurunkan tasnya dan mengeluarkan lima kaleng cat semprot berwarna putih. "Kalau mau ikut ini senjata kalian. Tenang aja, ini aku dapat dari bekas toko cat yang beberapa waktu lalu kebakaran."

"Gila, 'ya, kalian nyuri barang beginian." Ucap Len sambil mengocok kaleng semprotan itu dan hampir menyemprotkannya ke wajah Yuuma.

"Heh, unko, semprotnya jangan muka gue yang handsome ini kenapa?! Dendam apaan sih lu?"

"Yaelah, Ma, baru juga niat mau nyemprot," Len menyimpan menutup cat semprot itu. "Gue ikut, siapa tahu Rook-senpai ikutan."

"Haa, lu mau balas dendam, yee," Kaito menarik satu cat semprot. "Gue ikut. Kuo, Hio, Yuu, lu pada ikut, 'kan?"

Yang ditanya pada mengangguk.

"Oke, Nekotachi, jam tujuh malem di lapangan lari. Jaa~"

Rei keluar dari kamar mereka.

"Tunggu, tadi si Rei bilang Nekotachi?" Yuuma berucap tiba-tiba.

Beberapa detik kemudian, mereka membelalakkan mata mereka. "KITA YANG MEMUTIHKAN SENPAITACHI?! MAMPUS!"

.

.

Disclaimer : Vocaloid isn't mine. This story is mine!

Warning : AU, OOC, chuunibyou everywhere, TYPO(S), MISSTYPO(S) Friendship x Adventure(?), etc.

HAPPY READING, 'NO DESU!~

.

[TIME : 06.50 PM]

.

.

.

Sepuluh menit lagi, mereka akan mulai main petak umpet.

Anak kelas sepuluh yang berkumpul ada 50 orang, berikut semua penghuni bangsal 10A. Kali ini nggak ada cewek yang diajak karena takut mereka akan melakukan hal di luar batas. Beberapa anak membawa senjata masing-masing selain cat, seperti alat panahan dan balon berisi cat.

Mau cerita sedikit, terakhir kali mereka main Mafia itu seminggu yang lalu dan ada lima orang cewek yang ikut (di dalamnya ada Miku dan Rin). Nah, karena yang cewek itu gampang panikan, kalau misalkan mereka panik, mereka bakal melempar apa saja, batu akik pun jadi.

Waktu itu korbannya adalah Mikuo. Pelakunya, adik kembarnya sendiri, Miku. Jidat Mikuo sampai harus dijahit 3 jahitan karena dilempar batu. Emang sih, Mikuo nggak marah tapi dia langsung bikin peringatan kepada anggota cowok yang lain untuk tak mengajak anak cewek dalam game mereka.

"Yo, kouhai," Rook menghampiri mereka. "Kali ini kita akan dikejar kalian. TAPI KAMI NGGAK AKAN KALAH!"

Rook kabur begitu saja setelah memberikan pengumuman singkat kalau mereka nggak akan kalah.

Terdengar suara sirene dari megaphone yang dipinjam Rei dari Luka-sensei.

"Konbanwa, minna-san! Aku Kagene Rei dari kelas X-MIA-6, akan menyampaikan peraturan baru tentang permainan turun-temurun ini!" Kagene berteriak di megaphone dengan aura ikemen andalannya.

"Peraturan pertama, tidak boleh saling pukul. Kedua, untuk mengalahkan lawan, kalian dan senpaitachi cukup menyemprot atau mencoret baju atau wajah lawannya, dengan begitu mereka akan kalah. Ketiga, yang kalah harus langsung pergi ke taman sekolah. Keempat, kubu agen cat atau phylox-nya harus warna putih sementara mafia cat atau phylox-nya harus warna hitam. Kelima, sekarang arena lari kita sudah lebih luas. Luka-sensei mengizinkan kita untuk masuk ke asrama!"

Sorak seluruh peserta kucing-kucingan terdengar riuh.

Rook menarik megaphone di tangan Rei. "Kita mulai saja gamenya!"

"YOSH!"

"Kelas sebelas, pisah dengan kelas sepuluh!" teriak Rook. "Elu juga, kouhai!"

Rook mendorong Rei untuk masuk ke kubunya sendiri.

"BERI HORMAT!"

Kedua kubu saling memberi hormat dengan membungkuk.

"SIAPKAN SENJATA!"

Anggota tiap kubu yang memakai cat semprot mengocok kaleng cat masing-masing. Aura permusuhan sangat terasa kuat.

"ICHI!"

Mereka memasang ancang-ancang untuk langkah seribu mereka.

"NI!"

Satu langkah mereka keluarkan.

"SAN! JUUICHINENSEI GO! FIGHT!" Rook berteriak sekuat tenaga sampai urat-urat di keningnya muncul ke permukaan. Dia melempar megaphone tersebut dan ikut berlari bersama kubunya sendiri.

Deru langkah mereka sampai terasa oleh siswa-siswa yang tinggal di lantai empat.

Anak-anak kelas sepuluh mulai mengincar siap-siapa saja target mereka. Selain itu, mereka juga harus menaikkan sensor mereka untuk mencegah anak-anak kelas sebelas menyemprotkan cat mereka ke tubuh mereka.

.

.

.

[LEN'S CENTRIC]

.

.

.

Len mengincar Rook sebagai sasarannya. Nggak cuma masalah karena Rook pernah membully dia karena akhir-akhir ini shoot-nya kurang bagus, tapi karena Len tahu kakak kelasnya yang satu itu juga ngincer Rin sebagai kecengannya.

Len. Nggak. Terima.

Yang ngeceng duluan, 'kan, dia!

Len mengejar Rook secara sembunyi-sembunyi.

"LEN-UNKO! AKU TAHU KALAU MENGEJARKU!" teriak Rook. Len segera mencari pohon terdekat untuk bersembunyi. "SUARA CAT SEMPROT LU MEMUDAHKAN GUE UNTUK MENYERANG LU DIMANA AJA!"

Ahh, alasan ketiga Len mengicar Rook adalah karena dia yang mencetuskan panggilan baru untuk Len, yaitu Unko yang artinya *inja.

Len berlari karena dia mendengar suara semprotan cat. Itu artinya peringatan zona 10 meter.

Len menambah kecepatan larinya.

Dia berhenti tiba-tiba. Tunggu…

Dia itu pemburu bukan yang diburu.

Terus kenapa dia harus lari?

Menyadari kebodohannya, Len segera berbalik dan kembali ke arah yang sebelumnya.

"Rook-senpai, keluar! Ayo hadapi aku secara jantan!"

Sungguh, kalimat Len sangat ambigu.

Len menyemprotkan catnya ke sembarangan arah cukup panjang. Peringatan kalau Len berhasil mendekteksi keberadaan Rook.

Terdengar suara kaleng cat yang dikocok.

-Bagus, keluarlah!-

"CIATTT, RASAKAN INI! PAINT EXCALLIBUR!" Rook muncul dari persembunyian dan berteriak.

Len segera tiarap. Rook tiba-tiba muncul di belakangnya dan menyemprotnya, untungnya tidak kena!

Len melakukan roll depan lalu meloncat sambil menyemprotkan catnya ke punggung Rook sebelum dia mendarat.

Rook yang berhasil membaca gerakan Len segera melakukan gerakan meroda dengan sebelah tangan sementara tangan yang lainnya dipakai untuk menekan spray di kaleng cat semprotnya. Sasarannya adalah kaki Len.

Len menghindar lagi dengan sebuah loncatan tinggi hasil latihannya menjadi shooting guard.

"SHINE!" Len berteriak sebelum mendarat sambil menarik tudung jaket lusuh Rook.

BRUUSHHH!

[ROOK END]

.

.

.

[KAITO'S CENTRIC]

.

..

.

.

Jujur saja, sudah empat kali main beginian tapi Kaito selalu menjadi peserta yang kalah.

Alasan? Dia sendiri nggak tahu.

Tapi kali ini, dia harus menang. Nggak mau tahu. Dia. Harus. Menang.

Kaito mengincar kakak kelas yang namanya, Hirane Tekuno. Kakak kelasnya itu mengenakan kacamata tapi jangan salah, akurasinya tinggi sekali.

Dia itu rival tersendiri bagi Kaito di ekskul Kyudo-nya. Mereka sama-sama memiliki akurasi yang kuat.

Kali ini dia tidak memakai alat panahannya karena alatnya sudah dijaga untuk kompetisi sebulan lagi. Seminggu lalu, alat panahannya sampai rusak berat karena one on one dengan Tekuno.

BRUSHHH! BRUSHH!

Kaito menajamkan pendengarannya. Seolah-olah punya pendengaran sistem sonar, dia mencoba mencari keberadaan Tekuno.

'MEMBUNGKUK!' Kaito meneriaki dirinya sendiri dalam hati. Dia membungkuk lalu memutar badannya dengan cepat.

Sebelum punggungnya mencium lantai lorong asramanya, dia menyemprotkan catnya. Tekuno segera meloncat mundur seperti ninja.

"Makin peka saja kau,"

Tekuno menghina Kaito tepat sasaran.

"GYYAAA, RASAKAN INI! SERANGAN NAGA KEBENARAN!"

Kaito mendengarkan teriakan penuh aksi chuunibyou di belakangnya. Kaito bangkit lalu dia membungkuk lagi dengan cepat.

Tekuno melihat ada tiang berambut pink yang berlari ke arahnya dan dia tidak siap menghindari semprotan maut itu.

BRUSHHH!

[TEKUNO END]

"Sialan kau, Yuuma. Nggak di game online, nggak di kehidupan nyata, kerjaan lu nyampah doang, 'ya?" Kaito menampar punggung sahabatnya itu.

"Kau bantu aku," Yuuma menarik kaus lusuh Kaito dan berlari sekuat tenaga.

"YUUMA-TEME! KELUAR LU, TIANG CUCOK!"

Kaito sweatdrop sambil berlari. Tiang cucok?

"TOLONGIN GUE, KAI! KAKAK KELAS NGEJAR GUE KARENA GUE NGGAK SEGAJA MELOROTIN CELANA MEREKA!"

"HAH? KOK BISA?!"

"GUE NGGAK SENGAJA! NIATAN GUE CUMA JEGAL PAKE TANGAN, EH, CELANANYA MALAH KETARIK!"

"KALO GITU LEPASIN GUE!" teriak Kaito.

Mereka berada di lantai dua asrama mereka. Kamar terakhir sebelum belokan menuju tangga adalah kamar Rei.

BRUSSHHH! BRUSHHH!

Di belakang mereka ada empat kakak kelas yang cat semprotnya sudah siap menyerang mereka.

"TIANG CUCOK, BELOK KANAN! MASUK KE KAMAR REI!" perintah Kaito yang kini berbalik menarik tangan Yuuma.

"HAH?! MAU NGAPAIN?!"

"NGIKUT AJA, 'NAPA?!"

Yuuma pasrah saat Kaito menarik tangannya ke kamar Rei. Dalam satu kali dobrakan pintu itu berhasil dibuka. Kaito dan Yuuma mengistirahatkan dirinya di balik pintu. Meskipun mereka masih menahan pintunya dengan sisa tenaga mereka.

"TIANG CUCOK, KELUAR KAGAK LU?! KALO KAGAK, KITA KA**HAME** DARI SINI!" teriak Kageito sambil mendobrak-dobrak pintunya.

"NGGAK AKAN! COBA AJA KALO BISA!" balas Yuuma nantangin dan Kaito segera menjitaknya.

"Lu tahan pintunya disini, 1 menit aja!" Kaito berdiri dan membuka jendela.

Di bawah mereka ada kasur anak kelas sebelas yang lupa diangkat.

Kaito mendorong meja belajar Rei berikut dengan kursinya.

"TIANG CUCOK, HADAPI KENYATAAN LU SECARA JANTAN! LU BAKALAN KALAH!" teriak Kageito lagi.

"BaKaito, sampe berapa lama gue kudu bertahan! Kageito-senpai kekuatannya gila tau! Gah! SENPAI, KITA NGGAK AKAN NYERAH! CARI KOUHAI LAIN SANA!"

"TIANG CUCOK, SIALAN, BUKA NGGAK?! GUE TAMPOL MUKA ELU NTAR!"

"TAMPOL AJA!"

Kaito menampar Yuuma dengan sarung tangan hitam curiannya.

"Berisik, bego!" ucap Kaito. "Pake ini!" Kaito mendorong sedikit lemari di dekat pintu untuk menahan dobrakan Kageito.

"Denger, setelah gue loncat, elu sambung loncat! Gue punya rencana!"

"Ini lantai dua, aho!"

"Itu keuntungannya!" Kaito nyeringai. "Gue duluan!"

Kaito berlari dan melompat keluar jendela. Sebelah tangannya yang mengenakan sarung tangan hitam mencengkram kusen jendela sementara sebelah tangannya yang lain memegang cat semprot.

Dia bergelantungan sekarang. Sebelah tangan mulai mengocok cat semprotnya.

"Tiang cucok, loncat buruan!" teriak Kaito.

Yuuma berlari dan meloncat. "GERONIMO!"

BRUAKK!

Suara kejatuhan Yuuma dan lemari Rei yang jatuh terjadi bersamaan.

Kaito melentingkan sedikit dirinya dan...

BRUSHHHH! BRUSHHHHH!

[Kageito and the genk END]

Kaito melepaskan cengkramannya dan mendarat sempurna di atas kasur. Yuuma masih shock, dia nggak nyangka kalau jatuh dari lantai dua itu seseru itu.

"Heck, gue nggak tahu kalau jatuh itu seseru ini."

Yuuma, 16 tahun, terpesona.

"DASAR KOUHAI GILA! ITU KASUR GUE! GAHH, JADI KOTOR LAGI!" umpat Kageito dari atas sambil meratapi kausnya yang tersemprot oleh cat putih Kaito.

"Gue pikir, libur nanti gue bakal ikut latihan parkour sama abang gue!" sambungnya.

Kaito menjitak kepala Yuuma lagi. "Baka! Ayo buruan kabur!"

.

.

.

[Author's PoV]

.

.

.

Kebiasaan buruk Mikuo bermain permainan seperti ini adalah...

"Hai, kau yang telah menodai tanah sekolah ini! Dengan kemunculan diriku, Mikuogami, akan kugunakan cat semprot curian ini untuk menghukummu dan menghentikan tindakan kotormu," Mikuo mengocok cat semprotnya lalu melompat secara memutar. Tangannya yang memegang cat semprot seolah sedang mengayunkan pedang secara memutar. "ZAN!"

BRUSHHHHHHHH!

Mikuo mendarat dengan posisi berlutut dan tangan terlentang.

Yap, CHUUNIBYOU-nya kambuh lagi.

Dia berdiri lalu tertawa menatap empat orang kakak kelasnya yang jatuh terduduk karena menghindari cat semprot Mikuo mengenai wajahnya. Tapi tetap saja mereka berhasil 'disucikan' oleh Mikuo.

"Kalian semua END!" teriak Mikuo lalu berlari lagi mencari mangsa lain.

BRUSHH! BRUSHH!

"SENPAITACHI END!"

Mikuo tersenyum masam sambil berhenti berlari dan merapatkan dirinya ke tembok lalu berjalan miring ketika sampai di pertigaan gedung kelas 10. Tangannya masih dalam posisi siap semprot kapan saja.

Mikuo mendengar suara kaleng cat semprot yang dikocok. Mikuo meningkatkan kewaspadaannya.

"MIKUO!" teriak Yohio di depan wajahnya.

"Ah, Yohio, kau mengagetkanku!" Mikuo meninju pelan bahu Yohio.

"Ayo, buruan kabur. Anak-anak kelas 10 yang mengejar senpaitachi dari kelas 11 di lantai 2 sudah dilenyapkan, Len juga kena."

"Hah?"

"Aku satu-satunya yang selamat! Ayo, kita cari bantuan."

"LARI, ADA TOGARASHI!" teriak anak kelas 10 yang pontang-panting sampai menabrak mereka.

BRUSHHH! BRUSHHH!

"TOGARASHI?!"

Tak ayal mereka langsung menambah kecepatan lari mereka.

Di saat-saat seperti itu, Yohio mengeluarkan ponselnya.

"Kai, mau nggak mau lu kudu jadi penyelamat kita lagi. TOGARASHI udah ngelenyapin 80 persen anak kelas 10!"

'...'

"Gedung kelas! Lantai 1!"

Yohio menutup ponselnya.

"Mik, cuma ada satu jalan pintas." Yohio berhenti berlari dan menunjuk satu jendela yang terbuka.

"Haah... haaah.. apa boleh buat!" Mikuo udah megap-megap untuk bernafas. Dia duluan loncat dan sempat berteriak. "ZANN!"

Mungkin dia sudah menyucikan satu orang kakak kelas lagi.

Yohio meloncat dan mendarat sempurna tanpa keluhan.

"ICHINEN KUSOOO!" teriak makhluk yang dipanggil, TOGARASHI, kencang sambil meloncat.

Mikuo dan Yohio berlari. Ketika mereka akan kembali ke lapang lari, mereka bertemu dengan Yuuma dan Kaito.

"KAI, ABANGMU NGAMUK!" teriak Mikuo.

"Cih," Kaito mendecih pelan.

"Itu makhluknya!" Rei tiba-tiba muncul dan bergabung dengan mereka.

Seorang pemuda berambut merah dengan iris mata senada, muncul sambil mengocok-ngocok cat semprotnya. Seulas seringai mengerikan dan keringat-keringat menghiasi wajahnya yang seperti salinan wajah Kaito.

Yup, dia adalah Akaito, Shion Akaito. Kakak kandung Kaito.

"Kita kelilingi dia, radius 2 meter!" perintah Yohio.

Mereka mengangguk dan mengelilingi Akaito.

"MENYERAHLAH, AKAITO-SENPAI! ATAU NYAWAMU AKAN BERAKHIR DISINI!" gertak Mikuo masih kuat dengan aura chuunibyou.

Akaito makin menyeringai.

"Maju tiga langkah!" perintah Yohio. "Angkat senjata!"

Kelima pemuda angkatan kelas 10 yang mengelilingi Kaito mengacungkan senjatanya di depan wajahnya.

BRUSHH!

Akaito menyemprot tanah di kakinya. "Aku tidak akan menyerah!"

BRUSHHHH!

Tiba-tiba Akaito sudah berputar sambil menyemprotkan catnya.

Rei tidak sempat menghindar dan kakinya terkena cat.

[REI END]

Sisa pejuang angkatan kelas 10 itu melemparkan deathglare pada Akaito.

Seharusnya mereka tak menyerang makhluk seperti dia.

"TUTUP FORMASI!" perintah Yohio lagi. "Kai, lawan abangmu!"

"HAH? KOK GUE JADI KORBAN?!"

Sejurus kemudian, Yohio, Yuuma dan Mikuo sudah berkumpul dan meninggalkan Kaito sendirian di garis depan untuk melawan abangnya.

"Kai, kuperintahkan kau untuk kalah!" ucap Akaito.

"Nggak bisa!" balas Kaito.

Kaito dan Akaito saling mundur, satu demi satu langkah lalu berlari maju bersamaan.

TRANG! TRANG! TRANG!

Suara kaleng cat beradu dengan keras.

"MENYERAHLAH, AKAITO!"

"TIDAK AKAN!"

TRANG! TRANG! TRANG!

Kaleng cat Akaito terlepas dari genggamannya. Akaito berguling dan mengambil kaleng cat itu. Kaito menendang tangan kakaknya sehingga kaleng itu terlepas lagi. Akaito berdiri lalu berlari dan mengerem sampai dia membuat gerakan slider yang gila. Kaito hendak menendang kakaknya lagi namun tali sepatunya terinjak.

BRUSSSHHH!

Kaito tanpa sengaja menekan terus tombol spray-nya

Akaito mengocok cat semprotnya dan menyemprot Kaito yang masih limbung ke depan dan belakang karena tali sepatunya. Tapi disaat yang bersamaan Kaito tak sengaja menyemprot Akaito.

[SHION BROTHERS END]

.

.

.

Ketika Akaito dan Kaito datang ke tempat orang kalah mereka melihat bahwa sudah banyak yang berkumpul. Tak hanya itu di dekat pohon sakura para pemenang yang beristirahat juga sudah berkumpul.

"Sepertinya, sudah berkumpul semua." Rei berucap dengan megapohone-nya.

"Aku sudah menghitung jumlah pemenang dari masing-masing kelas,"

Perhatian 99 orang terarah pada Rei seorang. Rei merasa menjadi Miss Universe.

"Pemenangnya adalah..." Rei memberikan jeda pada kalimantnya.

"SELAMAT UNTUK KAKAK-KAKAK KELAS SEBELAS!"

Sorak anak-anak kelas sebelas riuh terdengar sangat kuat.

Mereka lalu membuat satu barisan, begitupun dengan anak kelas sepuluhnya lalu memberi hormat dan bersalaman.

"Otsukare~" ucap mereka di sela-sela mereka bersalaman.

Yah, permainan kali ini nggak buruk-buruk amat lah...

.

.

.

To Be Continued

.

.

.

Mind to REVIEW?

.

.

Shintaro Arisa, out!