FF BTS/YAOI/J.V/THE BEAUTIFUL HIB-CREATURES /Chapter 10
Title: The Beautiful Hib-Creatures
Author: Bang Young Ran
Rating: M *Smirk*
Genre: Yaoi/Fluff/Romance/Scien-fict/AU
Length: Chaptered
Main Cast:
Kim Tae Hyung aka V ^w^ 3
Kim Seok Jin~~ 3
Support Cast:
HopeKook (J-Hope & Jung Kook)
KrisBaek (Kris & Baek Hyun EXO)
DaeBaek (Dae Hyun BAP & Baek Hyun)*ni cuma masa lalu*
DaeJae (Dae Hyun & Young Jae)
BangHim (Yong Guk & Hime~~)
MinSu (Ji Min & Suga)
Zelo (Choi Jun Hong)
Couples nyusul~
Disclaimer: BTS is Big Hit/JYP Entertainment Boy Group and their parents, and it's Youngranie fic~ muaaaachhh...*kechupbasah*
Warning: TYPO! OOC! YAOI/BoysxBoys! M-PREG! NC! NO PLAGIARISM! NO BASHING! NO SIDERS!
Author's Note: Annyeoooonnngggg~~^^ Readers-nim^3^*kissu* Young Ran gak bakalan baxak bekico – eh, bacot, maksudnya. Kemarin da yg bingung kenapa MinSu Couple yang hamilx Suga? N Suga itu hybrid juga gak?
Ni, Young Ran jelasin, ya. Suga itu manusia. Jimin-nya yang wolf hybrid*awooo*#plakk
Dan soal kenapa Suga yang hamil... Young Ran pernah bilang klo program MATE itu untuk menjodohkan manusia dgn hybrid, ataupun hybrid dgn sesama hybrid, bukan? Jdi, gen dalam kaum hybrid seperti halnya hewan yang memiliki tingkatan-tingkatan. Ada alpha, beta, dan omega. Alpha selalu mnjdi top. Beta bisa mjd top, bisa pula menjadi bottom. Dan omega, mereka slalu mnjadi bottom. Begitulah, Readers-nim sekalian...
Oh, ya, kemarin ad typho mengenai nama marga 'Gukie'. Young Ran ngetik marganya malah 'Bang' pdahalkan shrusnya 'Kim'. Mianhe~ Akhir kata, selamat membaca buat ARMY semua. m( _ _)m *deep bow*
Summary: Di era modern sekarang ini, manusia tidak lagi terfokus dalam menciptakan kaleng besi berjalan—robot. Menciptakan makhluk hidup yang benar-benar hidup dalam bentuk lain, itulah yang menjadi fokus para ilmuan beberapa tahun belakangan. Awalnya menggabungkan spesies hewan dari jenis berbeda, dan sekaranglah terobosan baru tercipta dimana gen hewan digabungkan dengan... gen manusia.
.
.
DON'T LIKE, DON'T READ, JUST LEAVE IT, OK!?
.
.
~~( ^3)(.o )~~
.
.
TANPA BANYAK BACOT, LANGSUNG AJA CHECK IT OUT
HAPPY READIIIIIINNNNGGGGG... ^3^
.
.
.
The Beautiful Hib-Creatures
Chapter 10
"Seokie-ssi, kau melihat ayunan di pohon tepi danau itu?"
Ini adalah pagi hari yang cerah. Matahari bersinar dengan cahaya yang menghangatkan diantara dinginnya embun pagi. Jin dan V memutuskan untuk terperangkap di antara selimut tipis sambil bergelung dalam ayunan panjang, mirip kursi taman. Ayunan santai yang keduanya tempati sekarang adalah salah satu spot terbaik dari halaman belakang rumah mungil di tepi danau itu. Dua hari sudah Jin dan V akhirnya dapat tinggal dalam satu atap. Tidak terlalu sulit membuat kedua kelurga mereka sepakat. Dan mengingat kalau perusahaan tempat hybrid diciptakan adalah milik Yong Guk, ayah Jin, keduanya dengan mudah meresmikan hubungan dalam program MATE. Semua berlalu layaknya putaran wahana roller coaster.
"Ya, aku melihatnya." Jin bergumam diantara helai rambut sang mate. Punggung kecil V terasa sangat pas menempel pada dadanya. Dan lagi, surai dirty blond dengan wangi peach tersebut mulai membuat Jin mabuk.
V terkikik kegelian karena merasakan hembusan nafas hangat Jin yang langsung mengenai telinga animal-nya. "Kkkkk~ ya, jangan lakukan itu. Sudah kubilang, 'kan, kalau telingaku sangat sensi – ah! Hahaha, y-ya! Hahaha~"
Si lion hybrid bahkan tidak sanggup menyelesaikan kata-kata dikala tangan Jin berpindah dan menggelitiki pinggangnya tanpa ampun. V berjuang untuk menjauh, namun sayang, lengan Jin yang lain malah melingkari pinggang kecilnya dengan erat, hingga ia tidak mampu melarikan diri.
"Hahaha, he-hentikan! Ah, hahahaha... Seokie-ssi! Hahahaha..."
Jin hanya tertawa. Tidak ada ruginya selama dua ini mereka bergelung di tempat tidur, tangan nakalnya menjelajah ke mana-mana. Dan inilah hasilnya; beberapa spot sensitif V ia temukan.
"Anghh... Se-Seokie-ssi~" rengek V nyaris kehabisan nafas. Dia bahkan sudah tidak bisa tertawa lagi. Perutnya serasa menegang.
Melihat mate-Nya sudah terkulai lemas seperti ini, Jin akhirnya berhenti. Tangannya kembali memeluk tubuh V dengan erat. "Jadi, ada apa dengan ayunan itu?" Tanpa berdosa Jin malah kembali ke pembicaraan awal mereka. Membuat si lion hybrid yang nafasnya sudah kembali normal, berdecih sebal. Kemudian dengan cukup kuat salah satu tangannya memukul lengan Jin sebagai pembalasan dendam, yang sayangnya, hanya membuat si namja tampan meringis pelan.
"Kau menyebalkan! Aku tidak akan menceritakannya padamu!"
"Aigo... Taehyungie-Ku ngambek, eoh~?" goda Jin yang dengan jahilnya menusuk-nusuk pipi kanan V dengan telunjuknya. Dia sudah tidak lagi mennggunakan embel-embel 'ssi'. Bahkan, dengan percaya dirinya namja tampan ini memanggil V dengan sebutan 'baby', dan bahkan, 'yeobo'.
Lion hybrid yang digoda semakin mengerucutkan bibirnya dengan lucu. Jin tidak bisa diajak serius. Huh! Selaluuuuu saja menggodanya bila ada kesempatan!
"Ayolah, Yeobo... ceritakan padaku, ne? Atau... kau mau kugelitiki lagi!?" Jin sudah bersiap-siap memindahkan tangannya. V terlonjak kaget dan secepat mungkin menghentikan pergerakan tangan jahil yang akan menyerangnya tersebut.
"Andwee! Baik, baik... aku akan menceritakannya!"
"Kkkkk~ jadi, ada apa dengan ayunan itu?"
V menggumamkan sesuatu seperti 'dasar tukang ancam' atau semacamnya pada Jin sebelum menjawab. "Dulu, aku, umma, dan Dae Hyun Appa sering bermain di sana. Kau tahu? Aku bahkan pernah terlempar ke dalam danau saat usiaku tiga tahun karena umma terlalu kencang mengayunkan ayunannya. Hahahaha, umma sampai diomeli Dae Hyun Appa selama berjam-jam."
Entah Jin harus ikut tertawa atau bergidik ngeri mendengar cerita ini. Membayangkan V yang mungil dan kecil, berusia tiga tahun, terlempar ke dalam danau. Oh, baiklah. Itu mengerikan. Tapi... V malah tertawa riang mengingat kejadian itu. Kenapa?
"Wae? Kenapa kau melihatku begitu, Seokie-ssi?" tanya V sembari mendongak menatap wajah tampan namja yang tengah memeluknya.
"Tidak. Aku hanya... eum... kenapa kau malah terlihat senang menceritakan hal itu? Bukankah itu seharusnya menjadi pengalaman yang menakutkan untukmu?"
V terlihat berpikir sejenak. Bibir penuhnya mengerucut ke samping kanan dengan kedua telinga yang turun di sisi kepala. Terlihat sangat lucu hingga membuat nafas Jin terhenti dan tanpa sadar semakin mengeratkan pelukannya sebagai pegangan. Dan hal itu sama sekali tidak membantu apalagi ketika bibir V mulai membentuk sebuah senyuman yang mampu melelehkan hati siapapun bila melihatnya.
"Entahlah, Seokie-ssi. Mungkin karena waktu itu appa dan umma-ku masih bersama. Aku hanya merasa pengalaman jatuh ke danau itu berharga untuk dikenang."
Jin termenung. Baru kali ini V terlihat... eumm... bagaimana mengatakannya? V terlihat seperti anak hilang; lost puppy, lebih tepatnya. Rasa kasihan menyeruak begitu saja hingga membuat Jin tidak tahan kemudian mengecup lama kening si lion hybrid dan semakin mengeratkan pelukannya.
Ada Jin di sini.
Bersamanya.
Menjaganya.
Dan V bukanlah anak anjing yang tengah tersesat.
Dia berada di rumahnya; dalam pelukan Jin.
"Seokie-ssi? Waegeure~?" tanya V kebingungan karena merasa tubuhnya dipeluk semakin erat saja.
"Apa kau merasa sedih karena orang tuamu berpisah?"
Kepala dirty blond tersebut menggeleng cepat. Ada senyuman menenangkan yang mengembang saat ia menjawab pertanyaan Jin. "Tidak. Mana mungkin aku bersedih saat melihat kedua orang tuaku bahagia, Seokie-ssi. Dulu aku memang tidak mengerti. Aku selalu berpikir betapa egoisnya mereka karena berpisah begitu saja. Tapi... semakin dewasa, aku jadi semakin mengerti. Kau lihat sendiri, 'kan, bagaimana bahagianya orang tuaku sekarang?! Karena itulah, aku tidak sedih. Aku terkadang hanya rindu saat kami bertiga bersama seperti dulu. Kau tahu? Umma dan appa-ku adalah orang tua yang luar biasa! Meskipun tanpa cinta, hanya bermodalkan kasih sayang, mereka memberiku segalanya. Perhatian mereka hanya tercurah padaku. Karena itulah, apapun bentuknya kenangan di rumah ini, itu adalah kenangan berharga bagiku."
Melihat V tersenyum cerah hingga nyaris membuat mata besarnya membentuk sebuah garis lurus. Jin tak kuasa untuk tidak balas tersenyum pula. Pelukannya di tubuh mungil si lion hybrid semakin erat saja kalau itu mungkin. "Kalau begitu, ayo kita membuat kenangan yang lebih banyak lagi di rumah ini. Bagaimana menurutmu?"
"Hahahaha..." Tawa V terdengar nyaring. Dengan sedikit usaha ia memutar tubuhnya dalam pelukan erat Jin hingga sekarang mereka saling berhadapan. Wajah mereka luar biasa dekat dengan ujung hidung yang nyaris bersentuhan. "Baiklah, Seokie-ssi, ayo kita buat kenangan yang lebih banyak lagi." V mendekat. Sekarang sisi hidung mereka yang mancung sudah saling menempel. "Dan, jangan pernah berpisah," tambahnya berbisik untuk kemudian menyatukan bibir mereka. V sekarang sudah tidak malu lagi untuk melakukan hal seperti ini. Lagipula dalam dua hari ini, Jin sudah menciumnya dengan jumlah yang sudah tak terhitung lagi banyaknya. Jin sangat agresif.
Namja tampan yang dihadiahi ciuman, menyeringai lebar. Bibirnya ikut bergerak seirama dengan belaian lembut bibir penuh si makhluk mungil. "Ya, jangan pernah berpisah," gumamnya lirih diantara ciuman mereka.
########^0^#########
"Taehyungie Hyung, dia... siapa? Apa yang dilakukan manusia besar itu di sini?"
Jin mendelik ke arah kucing hybrid mungil di sebelah V. Tidak bisa disembunyikannya raut wajah kesal saat makhluk mungil itu mengalamatkan 'manusia besar' padanya.
Jin childish?
Ani.
Salahkan makhluk hybrid mungil itu yang menatapnya sinis duluan. Kesannya Jin seperti melakukan sesuatu yang jahat saja. Ini menyebalkan! Seharusnya V tidak ingat kalau hari ini dia punya jadwal mengajar di kelas taekwondo anak-anak hingga mendorong Jin begitu saja sampai terjatuh dari ayunan santai. Seharusnya mereka berdua menghabiskan waktu melakukan ciuman panas di rumah dan siapa tahu, ekhem... melakukan 'sesuatu' yang lebih. Seharusnya. Seharusnya.
"Zelo Baby... dia itu temanku. Kau panggil dia Jin Hyung, ya?!"
Ini, lagi. V tidak seharusnya berkata selembut itu pada bocah menyebalkan ini! Siapa tadi namanya? Zelo? Huh, nama yang sangat aneh untuk seukuran bocah kecil berumur enam-setengah-tahun! Dan apa-apaan itu tangan V yang tidak henti-hentinya mengelus rambut pirang Si Bocah Zelo?! Hentikan!
"Taehyungie Hyung~ dia siapa? Tumben sekali hyung membawa manusia ke kelas kita!" Zelo merajuk dengan nada manja yang dibuat-buat. Sudut matanya tidak berhenti melirik Jin dengan sinis. Ada apa, eoh? Jin mencium gelagat yang aneh dari bocah ini.
Deg~
Jangan bilang...
"Hyung~ gendong~" pinta Zelo manja. Kedua tangan kecilnya terulur pada V. Dan si imut lion hybrid tentu saja tidak akan menolaknya. Dengan enteng digendongnya tubuh mungil Zelo dalam pangkuan. "Hahaha~ Zelo sayaaaaanngg... Taehyungie Hyung~ muaaacchh~"
Cup!
Zelo mengecup pipi mulus V dengan entengnya. Dan Jin bersumpah kalau dia melihat bocah itu menyeringai padanya.
What the...
Tidak perlu diragukan lagi. Bocah itu, Zelo, menaruh hati pada V. God damnit! TAEHYUNGIE-NYA! NO!
"... Zelo harus baik padanya, ne?! Seokie-ssi! Ayo!"
Dengan nanar Jin mengikuti V dari belakang dan sialnya, dia harus menahan emosi karena berhadapan langsung dengan muka Zelo yang terus-terusan mengejeknya dengan ekspresi wajah aneh.
##########^3^###########
V benar-benar ahli dalam seni ilmu beladiri Taekwondo. Dia terlihat sangat manis saat menggerakkan tubuhnya, memperagakan berbagai macam gerakan dan teknik taekwondo. Jin yang mengawasi sang mate dari bangku di sudut ruangan hanya bisa menganga dan sesekali terdengar 'whoaa' dari mulutnya. Dia kagum. Tentu saja. Rasa kesal yang tadinya Jin rasakan lenyap entah kemana.
Setelah hampir satu jam mengamati penuh kekaguman, V akhirnya mendekat. Handuk putih tersampir di leher lion hybrid imut tersebut.
"Hei, kau lelah? Ini, minumlah." Jin berkata sembari menyodorkan botol minuman pada V. Makhluk imut itu menerimanya dengan senang hati dan mulai minum dengan pose sedikit mendongak.
Tidak dapat dipungkiri betapa imajinasi pervert Jin mulai mengembara. Bagaimana tidak? Dia tidak bisa menjauhkan matanya dari jakun imut yang menonjol dan naik-turun saat meneguk air itu. Belum lagi... kulit V yang sedikit tan—segelintir warisan dari Dae Hyun—, lehernya yang jenjang, dan jangan lupakan, bulir-bulir keringat itu...
Shit.
Shit.
Shit.
V sangat – ah, beribu-ribu kali lebih seksi dari biasanya! Jin ingin mengutuk dirinya yang tiba-tiba merasakan panas di bawah sana. Di antara selangkangannya, benda itu mulai hidup. Tidak! Jangan sekarang. Apa dia sebegitu frustasinya untuk menyentuh V?
Ya.
Apapun itu, jawabannya adalah 'ya'.
He is so fuckin' sexually frustrated!
Bagaimana tidak?!
Masa heat V yang ditunggu-tunggu... tampak mengejek dan menguji kesabaran Jin sebagai namja. Sama sekali tidak ada tanda-tanda erotis dari V. Sebenarnya, yang akan mengalami masa heat di sini itu, V atau Jin, sih?!
"...kie...? Seokie-ssi!?"
"E-eh? N-ne!?"
V menghela nafas mendapati Jin tidak mendengarkannya dan malah melamun. Atau mungkin mate-nya yang tampan ini tengah sakit? Cemas, si lion hybrid menyentuhkan punggung tangannya untuk memeriksa suhu tubuh Jin.
"Eumh? Suhu tubuhmu agak tinggi. Kau sakit, Seokie-ssi?"
Oh, Tuhan...
Jin mulai merasakan suhu tubuhnya meningkat drastis. Dan, haruskah dia mengatakan kalau dia tidak sedang sakit tapi... horny pada namja imut di hadapannya ini?
"Seokie-ssi, haruskah kita pulang sekarang? Kurasa kau butuh istirahat." V terus saja berbicara sementara Jin sudah tidak lagi fokus dengan keadaan sekitarnya. Namja tampan itu secara mengejutkan mulai limbung dengan tatapan tidak lagi fokus dan kemudian...
Bruk!
... Jin pingsan. Konyolnya, V malah mencoba menyambutnya. Alhasil, bukannya menolong, tubuh mungil V malah ikut terjatuh di lantai dengan Jin berada di atasnya.
"SEOKIE-SSI!"
~~~~~\(=^3^=)(=0.0=)/~~~~~
Him Chan mengetuk-ngetuk ujung jemari lentiknya di dagu. Dia tengah menunggu putera sulungnya yang pingsan tersadar. Huft... dan kenapa Jin tidak bangun-bangun, eoh?! Apa perlu Him Chan memukul kepalanya?!
"Umma, bagaimana keadaan Seokie-ssi, Umma?" V yang sedari tadi hanya memperhatikan ibu mertuanya itu, duduk tanpa melakukan apa-apa setelah memeriksa keadaan Jin, akhirnya tidak dapat menahan mulutnya untuk tidak bertanya.
Him Chan tersenyum cerah. Matanya yang besar membentuk lengkung bulan sabit—mengingatkan V akan sosok Jung Kook.
"Tenang, Taehyungie Chagi... Seokie tidak kenapa-napa. Dia hanya... eum..." Him Chan terlihat berpikir. Sebagai seorang dokter berpengalaman, dia tentu tahu apa yang tengah dialami oleh Jin. Tapi... menjabarkannya dalam kata-kata yang simpel dan penuh sopan santun adalah perkara sulit. "Dia hanya... mengalami stress ringan! Yah, hanya stress."
"Stress? Waeyo, Umma? Apakah... Jin menjadi stress se-setelah... tinggal b-bersamaku?"
Rahang Him Chan jatuh mendengar kesimpulan yang ditarik oleh si imut di seberang tempat tidur yang satunya. Oh, Kim Him Chan... apa yang kau lakukan, eoh?! Kau membuat menantumu salah sangka!
"Ah, eh, bu-bukan itu, Chagi... maksud umma... mmm... i-ini seperti stress yang akan dialami oleh pasangan dalam masa mating!"
Tentu saja penjelasan Him Chan kali ini semakin membuat kening si lion hybrid berkerut. Di dalam buku yang ia baca, tidak pernah sebelumnya menyinggung masalah stress hingga membuat jatuh pingsan seperti yang dialami Jin.
"Stress yang dialami pasangan? Kenapa, Umma? Aku tidak pernah membacanya dari buku."
Tentu saja, Taehyungie yang manis... mana mungkin sebuah buku akan menjelaskan tentang bagaimana pasangan heat akan jatuh pingsan akibat terlalu horny dan tidak menemukan pelampiasan?!
"Hehehe, ini tidak masalah yang tidak bisa dijelaskan di dalam buku begitu saja, Chagi. Ini hanya kami para dokter hybrid yang mengetahuinya," jelas Him Chan semampunya. Untunglah, kepala dirty blond si lion hybrid mengangguk paham.
"Kalau begitu, apa yang bisa kulakukan agar Seokie-ssi tidak lagi stress, Umma?"
Bibir pink kemerahan Him Chan mengerucut. Ia tampak berpikir. Dan, ide nakal melintas begitu saja hingga membuat telinga kelincinya yang panjang berdiri tegak, merasa antusias.
"Ada beberapa cara, Chagi," ujar Him Chan bersemangat. Membuat lion hybrid yang diajaknya bicara juga ikut terbawa antusias dan berpindah pada kursi di samping Him Chan.
"Apa, Umma? Apa?"
"Hmm, pertama, jangan memanggilnya dengan embel-embel 'ssi' lagi. Panggil dia 'Seokie' saja. Ara?!"
Meskipun tidak mengerti apa hubungannya stress dengan panggilan 'ssi', V mengangguk saja. Sama sekali tidak menyadari seringaian sembunyi-sembunyi sang ibu mertua atas kepolosannya.
"Yang kedua, kau tidak dipebolehkan memakai pakaianmu sendiri. Kau harus memakai kaus ataupun kemeja milik Seokie."
Oke, untuk yang satu ini, kening V berkerut dengan satu alis terangkat, "hah? Kenapa aku harus memakai pakaian Seokie-ssi, Umma? Aku, 'kan, punya baju sendiri."
"Pokoknya itu syaratnya, Taehyungie Chagi. Kau ingin Uri Seokie cepat sembuh, tidak?!"
Oke, ibu dan anak benar-benar sebelas-dua-belas. Sama-sama licik dan tukang ancam. Tapi yang namanya V, dia malah jatuh begitu saja dalam perangkap ibu dan anak ini.
"N-ne, Umma! Aku ingin Seokie-ssi cepat sembuh!"
Kedua sudut bibir Him Chan tampak bergetar karena menahan tawa. V benar-benar polos, eoh?!
"Oh, ya! Ingat, kau tidak boleh memakai celana. Pakai saja boxer. Mengerti?" timpal Him Chan menambahkan. Benar-benar menikmati waktunya menjahili V tampaknya.
V mengangguk cepat.
Membuat Him Chan tersenyum lebar—menyeringai evil—dan kemudian mengacak sayang rambut si mungil.
'Kkkkk... Seokie, kau berhutang banyak pada umma-Mu yang cantik ini~~'
#######^3^########
Jin terbangun keesokan paginya dengan kepala berputar dan mata berkunang-kunang.
Shit! His head really hurt like hell!
"Seokie! Kau sudah bangun?!" Tanpa melihat dengan jelas pun, Jin tahu suara bernada khawatir itu milik sang mate...
Tunggu,
Seokie?
V tidak lagi... memanggilnya dengan embel-embel 'ssi'?!
"N-ne. Ke-kepalaku sa-sakit sekali," rintih Jin dengan mata dipejamkan erat, mencoba meredakan denyut menyakitkan di kepalanya.
"Kau mau kuambilkan obat sakit kepala? Penicilin?"
Jin mengangguk. Apapun. Asal sakit di kepalanya segera hilang.
V segera bangkit dari ranjang. Dan saat itulah, Jin melihatnya. Terbalut dalam kemeja putih longgar yang terasa familiar... dan saat tubuh mungil itu bergerak turun dari ranjang, perut rata dengan batasan band boxer bertuliskan Calvin Klein, terlihat mengintip.
Hah?
BOXER?!
Astaga! V hanya mengenakan boxer pendek dengan kemeja putih longgar pada tubuhnya! Dan bukankah... kemeja itu... milik Jin?
Pikiran Jin langsung membawanya jauh. Reflek namja tampan itu mengintip ke dalam selimut. Eh? Aneh. Jika mereka sudah melakukannya... kenapa Jin masih berpakaian lengkap, eoh? Dan, kenapa Jin tidak merasakan apa-apa?
"Seokie, ini penicilin-mu. Minumlah."
Jin merasakan tempat tidur itu bergoyang saat V mendekat. Tiba-tiba namja tampan ini gugup. Dia bahkan tidak berani menurunkan selimut yang masih menutupi wajahnya. Hingga sebuah tangan terulur, memegangi ujung selimut dan menurunkannya.
Blush~
Tuh, 'kan... wajah Jin semerah tomat matang karena sekarang, secara nyata, dan tidak dapat dihindari, sesosok lion hybrid yang luar biasa imut dan... oh, bagaimana harus mengungkapkannya?! Mungkinkah kata imut bisa digabungkan dengan kata seksi sekaligus? Tidakkah itu akan terdengar aneh?
"Hmm... wajahmu memerah lagi. Suhu tubuhmu pasti naik lagi, ne?" Lagi-lagi V meletakkan punggung tangannya di dahi Jin. Dia sama sekali tidak mencium perubahan dan betapa menegangnya tubuh namja tampan tersebut saat ia sentuh. "Lebih baik kau makan sesuatu dulu, Seokie-ssi. Penicilin cukup keras untuk perut yang ma—"
Bruff!
Kata-kata si imut lion hybrid terhenti dan berganti dengan pekikan kecil. Ia terkesiap karena tiba-tiba saja Jin meraih kedua pergelangan tangannya dan menariknya. Entah bagaimana, sekarang tubuh V terperangkap diantara bantal, selimut, lengan dan tubuh Jin di atasnya.
"Se-Seokie? Wa-waegeure?" tanya V takut-takut melihat Jin malah menatapnya lurus tanpa ekspresi. Namun... mata namja tampan itu nampak setengah tertutup. Pandangannya tidak fokus.
"Taehyungie~ akhirnya kau memanggilku 'Seokie'. Aku senang sekali mendengarnya."
Ketegangan V sedikit berkurang saat melihat senyuman lembut Jin yang familiar. Dia nyaris balas tersenyum sebelum namja di atasnya melakukan pergerakan lain.
Jin mencium si lion hybrid.
Ciuman yang terkesan kacau dan menunjukkan ke-frustasi-annya selama beberapa hari belakangan ini. Tangannya yang mencekal pergelangan tangan V di sisi kepala, sekarang mulai berpindah dan menautkan telapak tangan mereka erat.
V terlalu kaget hingga memejamkan matanya erat. Ia juga berusaha mengimbangi ciuman kacau Jin. Makhluk imut tersebut tampak sangat rapuh dan menyerah di bawah kuasa namja di atasnya.
"A-angh~"
Desahan pelan yang V keluarkan saat lidah Jin menggelitiki langit-langit mulutnya, sekiranya berdampak dahsyat. Jin dapat merasakan darah berbondong-bondong mengalir di pembuluh darahnya. Dan... di bawah sana, Little Jin berkedut antusias. Rasanya menyakitkan karena benda itu terhimpit dan menekan sesuatu yang juga sama kerasnya.
Tunggu.
Sama kerasnya?
Bukankah itu milik... V?
"Angh~ Seokiehh..."
Yah, itu milik V. Apakah ini berarti... Jin berhasil membuat makhluk manis di bawahnya horny?
Ng... mating tidak harus menunggu heat benar-benar datang, 'kan?
Yah, tidak harus.
Lagipula... Jin tidak tahu persis apa itu 'heat' sebenarnya.
Kesimpulan di dalam otaknya membawa Jin pada keadaan dimana ia, mulai bergerak pelan, menggesekkan ereksi mereka sehingga menciptakan friksi memabukkan dan membuat keduanya mendesah keras.
~~~~~~\(=^3^=)(=0.0=)/~~~~~~
"Kudengar kemarin kau ke rumah Seokie dan Taehyungie, ne? Apa terjadi sesuatu?" Yong Guk bertanya tanpa mengalihkan tatapan dari koran paginya. Kacamata baca yang dikenakannya membuat Yong Guk terlihat begitu berwibawa. Sungguh kontras dengan kepribadian rebel yang selama ini melekat dari sosok seorang Yong Guk.
"Khikikiki~"
Eh?
Bukannya menerima jawaban dari sang anae, Yong Guk malah mendengar suara tawa aneh. Kenapa Him Chan tiba-tiba tertawa seperti itu, eoh?
"Hime! Kau kenapa?" tanya Yong Guk cemas. Koran yang begitu ia perhatikan sudah terlupakan, jatuh ke bawah meja makan.
Him Chan malah tersenyum memperlihatkan bunny teeth beserta eyesmile. Telinga kelincinya bergerak ke kanan dan kiri dengan riang. "Gukie, kau masih ingat saat pertama kali kita melakukan mate?"
"Oh. Tentu saja. Waktu itu karena terlalu horny, aku melakukannya duluan tanpa menuggu masa heat-mu. Kenapa memangnya?"
"Tsk! Kau melupakan bagian lain; ingat, kau sebelumnya pingsan karena terlalu horny!"
Blush~
Yong Guk yang berkulit tan pun dapat memerah wajahnya. Sial. Kenapa Him Chan selalu ingat kejadian memalukan itu?! Saat mereka resmi menjadi mate, Him Chan sudah menjalani profesi dokter selama dua tahun. Dan betapa malunya Yong Guk karena sang mate tahu dengan pasti alasan kenapa dia bisa pingsan.
Karena terlalu horny.
Omo, siapa yang bisa menerima alasan memalukan itu?!
Sialnya, Him Chan selalu mengungkit hal ini bila ingin menjahili Yong Guk.
"Gukie~ kau blushing~" goda Him Chan jahil sembari mendelik nakal. Bibirnya mengerucut dan menciptakan dendangan-dendangan tidak jelas seolah tengah menggoda balita.
"Shut up! Kau selalu membahasnya. Arrgh, itu sangat memalukan!"
"Hahaha, jinjja? Tapi menurutku... itu lucu. Kau tidak usah malu, Gukie~"
Yong Guk membuang muka dengan bibir bawah maju, membuat Him Chan memekik riang dan terus-terusan meledek sang nampyeon.
"Ya, gumanhae. Jangan bilang karena mengingat kejadian itu kau tadi tertawa?!"
Him Chan terlihat kesusahan menahan tawa hingga menggigit bibir bawahnya untuk berhenti. Bisa gawat dia kalau membuat Yong Guk benar-benar marah. Namja tampan itu tidak akan memukul, hanya saja... Him Chan tidak siap dengan 'hukuman' yang akan ia terima nantinya. Yong Guk sedikit maniak kalau sudah berhubungan dengan seks. He is the man with so many kinks for a God sake! And The Beautiful Him Chan could barely deal with it.
"Ani. Aku tertawa karena... kemungkinan apa yang terjadi pada kita juga akan terjadi pada Seokie dan Taehyungie. Mereka akan melakukan mating duluan tanpa menunggu masa heat Taehyungie," ujar si bunny hybrid tanpa ada keraguan. Namja tampan di seberang meja yang mendengar hal tersebut tentu mengerutkan kening tidak mengerti dibuatnya.
"Apa maksudmu, Hime? Kenapa kau terdengar begitu yakin?"
"Kkkkk~ buah memang tidak jatuh jauh dari pohonnya, Gukie. Kemarin aku memang datang ke rumah anak-anak kita karena Taehyungie meneleponku. Dan kau tahu kenapa?" Him Chan bertanya antusias. Marbel hitamnya yang besar memancarkan sinar layaknya bocah yang tengah minta dibelikan es krim. Tapi ini Him Chan. Dia namja dewasa. Ibu dari dua orang anak yang sudah mengikuti program mate. Tentu saja hal yang membuatnya antusias seperti sekarang jauh dari sebuah permintaan simpel seperti es krim.
"Apa, Hime~?"
"Seokie pingsan. Overload libido rush."
"MWO?! La-lalu sekarang anak kita bagaimana? Dia akan kesulitan mengatasinya jika sudah tersadar nanti!" Yong Guk berujar panik. Tentu dia yang tahu bagaimana rasanya terbangun setelah keadaan itu. Kepala akan pusing dan... overload libido rush akan semakin menggila.
"Kkkkkk~"
Kepanikan Yong Guk lagi-lagi disambut suara tawa aneh anae-nya. "Tenang, Gukie~ aku sudah memberikan masukan-masukan 'berharga' untuk menantu kita. Kupastikan, Seokie tidak akan kesulitan saat bangun dari pingsannya," ujar si bunny hybrid tersenyum manis. Tapi... anehkah kalau Yong Guk malah merasa sedikit bergidik melihat senyuman manis itu?
Dibalik sosok cantik penuh pesonanya yang bak malaikat, Him Chan seolah mengurung sesosok makhluk yang lebih mengerikan dari monster. Atau mungkin iblis? Entahlah. Yong Guk terkadang mendapati anae-nya menyeringai seram saat menatap orang lain yang tidak disukainya. Itu menakutkan, dan khas seorang Kim Him Chan. Dan sesungguhnya, Yong Guk tidak keberatan dengan sisi lain tersebut.
He really deep in love Kim Him Chan just the way himself, by the way.
~~~~~~~\(=^3^=)(=0.0=)/~~~~~~~
Sehelai kaus berwarna hitam baru saja jatuh tergeletak asal di lantai karena dilempar begitu saja oleh si pemilik.
Sinar mentari pagi yang masuk, menyinari dengan hangatnya tubuh Jin yang topless. Namja tampan itu menegakkan tubuh dengan lutut yang memerangkap tubuh mungil si lion hybrid di bawahnya.
Dari posisinya saat ini, V dapat dengan jelas melihat betapa liat dan kerasnya abs di perut Jin. Belum lagi... cahaya hangat yang menyinari punggung namja tampan itu, membuat imaginer malaikat melintas begitu saja.
Jin terlihat seperti malaikat. Malaikat dengan perut ber-abs yang dihiasi band boxer hitam pada pinggul dan, celana jeans yang sedikit melorot karena kancing beserta resletingnya yang sudah terbuka.
Blush~
Wajah V memanas karena dia berpikir Jin terlihat sangat seksi saat ini. Padahal sebelumnya dia menganggap Jin terlihat bagai malaikat. Tapi sekarang...
Reaksi si lion hybrid membuat namja di atasnya terkekeh. Rasanya menyenangkan kalau ternyata tubuhnya dapat membuat makhluk mungil itu terpesona dan memerah malu. Tanpa membuang waktu lagi, Jin kembali membungkuk. "Suka dengan yang kau lihat, Yeobo?" bisiknya seduktif.
V tidak menjawab. Dia terlalu malu dan gugup. Membuat Jin kembali menyeringai dan mulai melepaskan satu persatu kancing kemeja yang melekat di tubuh sang mate.
Ngomong-ngomong soal kemeja...
"Kenapa kau tiba-tiba memakai bajuku, Yeobo?" tanya Jin tanpa menghentikan pergerakan tangannya.
"Oh, eh... itu, kata Himchanie Umma, ini adalah salah satu syarat yang harus kulakukan untuk membantumu." V berusaha membuat otaknya berpikir jernih di tengah gelombang rasa gugup yang melandanya. Jantungnya mulai berpacu cepat karena Jin telah berhasil membuka semua kancing kemeja dan menyingkap kain tipis itu hingga memperlihatkan dada beserta perut V.
Omo, si imut langsung blushing parah. Belum pernah ia merasa sebegitu terekspos-nya di hadapan seseorang. Yah, kalau bersama Baek Hyun, sih, itu perkara lain lagi.
"Wah, ternyata kau juga memiliki abs, Yeobo. Aku terkesan~"
Dengan sengaja Jin memainkan telunjuknya di sela-sela garis nyata abs pada perut V. Menelusuri dari perpotongan dada... terus menurun hingga ke abdomen bawah, dan naik lagi ke atas. V menyambutnya dengan desahan disertai erangan frustasi. Seharusnya apa yang Jin lakukan membuatnya tergelitik, namun yang terjadi malah, V merasakan bagian-bagian yang dilalui telunjuk namja tampan tersebut membakarnya. Ia terbakar; bukan dengan api, namun dengan sesuatu yang tidak kasat mata hingga membuat tubuhnya menggelinjang, menjalar menuju titik bawah sana.
Shit!
Kenapa V merasa tubuhnya panas sekali, eoh?
Dia merasa... sewaktu-waktu akan meledak...
Jantung berdebar keras...
Panas...
Panas...
Terlalu panas!
Jin sedikit tersentak menyaksikan tubuh di bawahnya menggelinjang. Bias kemerahan disertai panas menguar dari tubuh V.
"Se-Seokiehhh... ke-kenapa ra-rasanyahh... pa – ahh.. panas sekali!" rintih V dengan... mendesah?
Ah, apa mungkin V baru saja mengalami 'heat'?
Kesadaran yang melanda, membuat Jin memukul sisi kepalanya sendiri. Tsk! Kenapa dia bisa begitu bodoh!? Ya, tentu inilah yang disebut heat, Babbo!
"SEOKIEH! Panaaassshhh... le-lepashhh..."
Jin terlalu larut dalam pikirannya hingga tidak menyadari kalau si lion hybrid sekarang tengah berusaha melepas semua pakaian yang melekat pada tubuhnya. Dan betapa jahilnya Jin, bukannya membantu, dia malah mencengkeram pergelangan tangan kurus V dan menguncinya ke atas kepala namja manis tersebut. Alhasil, V merengek, mengerang, dan nyaris menangis.
"H-hyaaa, appahh yang kau la – hiks, lakukan?!"
Jin menyeringai. Seringaian terjahat dan terkejam yang pernah diberikannya pada seseorang. "Kkkk, Taehyungie yang manis... tidak secepat itu~ Kau ingin bertelanjang bulat di depanku, eoh? Wah, wah... kau jauh lebih agresif dari yang kukira~" godanya sembari membungkuk dan mengulum pipi kanan V dengan cukup keras.
V langsung terpekik dan mendesah keras. Apa yang Jin lakukan membuat adik kecilnya berkedut antusias. Yang menyebalkan, Jin malah menikmati sambil terkikik dalam kegiatannya mengulum pipi sang mate.
Jin menyukai suhu tubuh V yang panas dan terasa langsung di dalam mulutnya. Demi Tuhan, V sangat dan teramat panas saat ini.
"Hiks... he-hentikan! K-kau membuat tubuhku a – hmph!"
Seolah tidak puas merasakan panasnya pipi si lion hybrid, Jin berpindah ke area yang mungkin akan lebih panas lagi; mulut V.
Jin menciumnya dalam. Lidahnya bergerak liar membelai setiap sudut dari rongga mulut si manis.
Sementara lion hybrid imut yang tengah tersiksa... juga ikut membalas ciuman dalam Jin padanya. Meskipun sudut matanya telah dialiri air mata, namun apapun itu akan ia lakukan selama hal itu masih menciptakan friksi memabukkan diantara mereka.
"God, Taehyungie... you're so fuckin' hot~" Jin sempat menggumamkan kata-kata tersebut saat bibir mereka terpisah untuk menghirup oksigen lalu kemudian kembali lagi melakukan hal yang sama. Mereka berciuman, french kiss, hingga kehabisan nafas.
Dada telanjang keduanya yang menempel dan terasa licin oleh keringat, membuat suhu di dalam kamar semakin memanas. Apalagi matahari di atas sana juga mulai bersinar terik. Jin tiba-tiba berpikir, mungkinkah V akan pingsan karena terlalu panas?
Itu... bisa saja, 'kan?!
Baiklah.
Kali ini Jin benar-benar melepaskan tautan agresif mereka. Namja tampan itu bergerak bangkit dari posisinya menghimpit tubuh sang mate dan melompat turun dari ranjang. Membuat si mungil yang merasa kehilangan merengek frustasi.
"Hiks, hya! Kenapa kauhh menjauh!?" protes V juga ikut bangkit dari ranjang.
Jin terkekeh sendiri. Meskipun tubuhnya memerah dengan rambut yang terlihat berantakan, V tetap saja terlihat sangat imut. Ah, salah, V terlihat sangat seksi saat ini. Dia topless. Hanya memakai boxer super pendek berwarna biru.
Baiklah, pemandangan indah ini terlalu berlebihan untuk Jin handle. Kesejatiannya berkedut penuh antisipasi. Menyakitkan karena masih terbungkur boxer dan jeans.
Tanpa berkata apa-apa, Jin mendekati V dan dalam sekejap mata memikul tubuh mungil tersebut ke bahu kanannya. "Ayo kita menurunkan suhu, Yeobo."
#########^0^#########
Srassssssshhhhhh...
Suara air shower terdengar bagai gerimis. Gerimis yang dihiasi desahan penuh ekstasi dari dua insan berbeda kaum namun serupa bentuk. Namja satunya, yang bersurai dirty blond dan bertubuh mungil, tampak menempelkan tubuh depannya datar ke permukaan dinding kamar mandi. Sementara namja yang satunya lagi, yang bertubuh tinggi, terlihat tengah menyembunyikan wajah di antara perpotongan tengkuk dan bahu si mungil. Tubuhnya semakin memeluk erat pinggang ramping tersebut dari belakang. Mereka naked.
"Anghh... Seokieehhh... ta-take me, pleaaasseeee..." desah si mungil frustasi. Semenjak tubuhnya diangkat dan diturunkan di bawah naungan shower dingin oleh Jin, si namja tinggi, tidak sejengkal pun hawa panas yang dirasakannya menghilang. Yang ada malah, rasa panas itu semakin menjadi-jadi. Dan lebih diperburuk lagi karena Jin hanya menikmati waktu dengan menggodanya. Memberikan butterfly kiss tanpa benar-benar menyentuh seperti apa yang... Si Mungil V mau.
"Take me what, Yeobo~? I can't hear you clearly. I just heard you moaning mess my name~"
Ugh.
Entah kenapa V merasa seperti deja vu. Ini pernah terjadi sebelumnya; di dalam mimpi. Wet dream; dimana Jin dengan jahilnya menggodai dan memainkan suara sehingga menyengat seluruh syaraf V bagai aliran listrik.
"Stop your teasing! Just fu – AKH!"
Teriakan V menggema nyaring di seluruh penjuru ruang shower.
Bagaimana tidak?! Tanpa aba-aba Jin mendorong telunjuk kanannya menerobos otot cincin berkerut yang untungnya sudah sangat basah oleh cairan lubricant alami milik sang mate.
"Howh~ Yeobo... You're so wet. I'm really sure you can take it two, didn't you?"
Dan memang itulah yang Jin lakukan. Ia mendorong jari tengahnya untuk bergabung dengan telunjuknya di dalam dinding panas yang terasa lembut dan menghisapnya lebih ke dalam tersebut.
"Anghhhh, mo-more... hhhh... more..." V yang tadinya berteriak keras karena merasakan sakit pada bagian belakangnya, sekarang malah mendesah keras dan tanpa malu meminta lebih. Ada rasa puas yang asing saat jemari panjang milik Jin menggesek dinding rektumnya. Meskipun sakit, tapi menyenangkan.
"More? Kau yakin, Yeobo? Ini saat pertamamu, bagaimana kalau nanti kau pingsa—"
"I don't care! Just fuckin' me already!" potong V cepat dengan nada putus asa dan terdengar frustasi. Kakinya sudah gemetaran sejak beberapa menit yang lalu. Ia bahkan tidak tahu, berapa lama lagi kakinya bisa bertahan tetap berdiri dalam kondisi seperti ini. Salahkan Jin dan permainan 'kecil'nya yang memuakkan—memabukkan.
Tapi...
Kenapa namja tampan itu tidak melakukan pergerakan, eoh?
Hendak V merengek frustasi kali ini jika saja Jin tidak secara tiba-tiba membopong tubuhnya dalam satu kali ayunan.
"Baiklah. Kau yang memintanya, Yeobo~"
Namja tampan tersebut menendang pintu shower, menyusul pintu kamar mandi hanya untuk sekedar membukanya. Tsk. Untung saja kunci pintu di rumah mereka tidak begitu kuat. Bisa-bisa... benda yang terbuat dari kayu itu roboh atau mungkin rusak engselnya.
Jin kembali membaringkan tubuh V di tempat tidur. Kemudian ia merangkak ke atas si mungil. Menghiraukan sisa-sisa air shower yang menetes, keduanya kembali berpelukan, berbagi ciuman hangat.
Ciuman hangat tidak bertahan lama karena lidah keduanya mulai saling beradu; menjilat, mendorong, dan menghisap kuat.
"Eumhh~ Seokiehhh... let's – ah, do it, please...?" V sekuat tenaga menyusun kalimat di dalam kepalanya. Tidak pernah ia mengira kalau 'memohon' akan sesulit ini. Jika kemarin-kemarin semuanya Jin yang menyiasati kontak fisik, tapi sekarang... V berpendapat kalau dirinya lebih parah dan rendah dari pelacur murahan yang memohon untuk ditiduri.
Shit!
V akan memikirkan hal itu nanti.
Dia akan mengesampingkannya.
Libido dan rasa panas di tubuhnya lebih penting saat ini.
Dan apa kabarnya dengan harga diri yang selalu V junjung selama ini?
Oh, fuck with that things too!
Fuck!
Fuck!
...
Sial. Satu-satunya yang ada di benak V saat ini hanya seks, seks, dan seks.
Huft... entah dari mana datangnya pikiran nakal dan liar ini.
"EUNGH!"
Si imut lion hybrid reflek mengerang. Jin kembali memasukkan jarinya. Tiga jari dalam sekali hentakkan lurus. Tentulah V menjerit dengan ekspresi wajah berkerut menahan sakit. Dan entah sejak kapan Jin telah membuka lebar paha si lion hybrid.
Jin yang melihat ekspresi kesakitan V, langsung menyesali tindakan spontan, atau mungkin babbo tersebut. "Yeobo?! Gwe-gwenchana?"
"Sssshhhhh... tentu saja tidak, Babbo! Kau memasukkannya tiba-tiba! Ssshhhh... tidak bisakah – ssshhhhh kau sedikit memberiku aba-aba!?"
Rasanya lucu sekali. Dalam keadaan seperti ini, V sempat-sempatnya mengomelinya. Pikiran ini mengakibatkan Jin menutup mulutnya dengan sebelah punggung tangan yang bebas, berusaha menahan semburan tawa. Dia tidak ingin membuat V kesal padanya dan bisa-bisa... V kehilangan mood untuk melakukan mating.
No~
Apapun yang terjadi, mereka harus melakukannya sekarang. Little Jin di bawah sana sudah menegang hebat dan berkedut. Ia kesakitan.
"Kkkkk~ Yeobo... isn't you the one who said to fuckin' you already? I'm. Fuckin'. You. Now." Jin menekankan kata per-kata pada kalimat terakhir dengan hantaman keras jemarinya pada rektum V. Tiap hentakan mengundang desahan keras dari si namja manis.
Jin semakin menyeringai lebar. Dengan sengaja jemarinya memutar dan melakukan zig-zag. Berusaha menemukan titik terspesial sang mate di dalam sana.
Si lion hybrid bergulak-gulik gelisah. Telinga segitiga keemasannya bergerak tak tentu arah. Sakitnya peregangan mulai sulit diatasi walaupun rasa nikmat tetap membayangi. Mungkinkah dia akan pingsan setelah ini? Dan kenapa dia tidak mendengarkan Jin tadi?! Mulutnya yang seenaknya meneriakkan 'I don't care'. Dan ingat tadi dia juga mengatakan apa?
'Just fuckin' me already'?
Bagus.
Kau sungguh babbo, Kim Tae Hyung...
Kau ti—
"AKHHH!"
Segala pergulatan batin si lion hybrid terhenti dan berganti dengan pekikan, mendesah nyaring. Pandangannya memutih.
Jin tersenyum penuh kemenangan sekarang. Dia baru saja menyenggol dan menyentuh titik kenikmatan sang mate. Dinding lembut panas yang menyelimuti jemarinya mulai berkonstraksi dan mencengkeram kuat.
Oh~
Ini menyenangkan.
Kim Tae Hyung, desahannya, dan reaksi tubuhnya yang membuat darah di kepala Jin bagai mendidih.
Eum... bagaimana rasanya kalau little Jin yang dicengkeram kuat seperti ini? Memikirkannya saja sudah membuat kesejatian Jin berkedut hebat. Ini tidak boleh dibiarkan. Jangan sampai ia cumming hanya dengan memikirkan hal ini. Mereka harus melakukannya sekarang. Juga.
"Yeobo... kau siap?" tanya Jin menatap marbel cokelat gelap milik sang namja manis dalam. Mata yang ditatapnya setengah tertutup. Dengan nafas berat dan wajah yang memerah padam, si lion hybrid mengangguk pasrah.
Tak usah diragukan lagi, V dikuasai nafsu saat ini. Begitupula Jin. Namja tampan tersebut kembali membungkuk dan mempertemukan bibir mereka. Memberikan V ciuman panas, dalam, dan keras untuk terakhir kali sebelum ia menarik tubuhnya mundur, dan mengeluarkan jemarinya dari dinding panas sang mate.
Bertukar pandang sekali lagi, berbagi senyuman hangat, kemudian Jin menuntun kesejatiannya memasuki otot cincin pink kemerahan si manis secara perlahan. Diperhatikannya dengan seksama bagaimana kening dan alis V akan berkerut tiap kali ia merasakan sakit. Dan setiap kali hal itu terjadi, Jin akan berhenti sejenak dan membungkuk untuk memberikan kecupan dalam lalu kemudian kembali mendorong miliknya untuk memasuki tubuh V setelahnya.
Berada di dalam tubuh sang mate bagai ujian terbesar bagi kesabarannya. Akhirnya mereka benar-benar bersatu. Jin hanya memikirkan, bagaimana dia akan menarik, dan mendorong keras tanpa ampun memasuki dinding hangat V. Tentu saja pikiran liar tersebut harus ditekannya kuat-kuat. Paling tidak, Jin akan memberikan waktu untuk V agar terbiasa dengan keberadaan little Jin.
Lain halnya dengan apa yang dialami Jin. V harus berkompromi dengan sakit akibat rasa 'penuh'. Namun dirinya yang tengah dilanda heat, berpikir bahwa inilah yang rasa terlalu 'penuh' yang dia inginkan. Heat membuat pikiran V tidak lagi logis. Dia ingin Jin bergerak, tapi... apakah dia bisa tahan dengan sakitnya nanti?!
Jin mengerang karena tiba-tiba dinding hangat si namja manis meremasnya tanpa ampun. Menyenangkan, tapi... hei, Jin tengah berusaha sabar di sini!
"Ye-Yeobo? Gwenchana? Rileks, Baby. Kau harus merileks-kan dirimu."
"Hahhh~" V yang tadinya membuka mulut untuk berbicara malah mengeluarkan desahan. Bulir keringat telah membasahi seluruh surai dirty blond-nya. Dia terlihat seperti seseorang yang baru saja melakukan keramas. "Ba-bagaimana aku akan rileks?! I – shhh... ini sakit se-sekalihhhh! Ssshhhh..." ucap si manis kesusahan.
Jin yang tidak tega melihatnya kembali mendekatkan wajah mereka. Sempat ia melihat V sedikit berjengit karena pergerakannya membuat Little Jin masuk beberapa inchi lebih dalam. Namun itu tidak lama karena V secara tiba-tiba meraih kedua pipi Jin dan menyatukan bibir mereka dalam ciuman kacau.
V tengah berusaha mengurangi rasa sakitnya. Jin tahu itu. Karena itulah dia membiarkan si manis mendominasi ciuman mereka kali ini. Gigi dan lidah saling beradu dan membelai. Desahan disertai erangan mulai nyaring terdengar dari kerongkongan keduanya.
Jin yang merasakan otot panas V me-rileks dan tidak lagi mencengkeramnya kuat, mulai bereksperimen dengan memutar pinggulnya pelan. V mendesah keras, tanpa diduga pinggul rampingnya ikut bergerak untuk bertemu dorongan-dorongan pelan yang diberikan Jin.
"Ahhhh... move~"
Tidak perlu diberitahu dua kali, Jin melakukan apa yang mate-Nya minta. Perlahan dan menikmati waktu, Jin menarik pinggul hanya untuk kemudian mendorongnya kembali ke dinding rektum hangat itu.
"Anghhhhhh... Seokiehhhh... more... pleaseeee... morehhhh..."
Jin reflek kehilangan akal sehat mendengar desahan si namja manis yang memohon meminta lebih padanya. Gerakan pinggul namja tampan tersebut semakin cepat dan liar. Suara kulit beradu kulit terdengar nyaring. Jin bahkan sampai pada titik dimana ia tidak lagi menarik miliknya dan hanya menghentak masuk semakin dalam dan keras ke ruang hangat sang mate.
"Ahhhhhh... harderhhh..." pinta si lion hybrid penuh ekstasi. Mungkin saat ini dia sudah tidak ingat dengan namanya sendiri karena yang ada di kepalanya, hanya Jin yang terus menghentak padanya semakin dalam dan kasar.
"Do you like when my big-hard cock rammed to your sensitive bundle very hard~?"
Deg~
Dirty talk yang Jin ucapkan terdengar begitu familiar. Namun V terlalu sibuk mendesah dan memohon hingga sama sekali tidak memperhatikan apapun lagi.
"Answer. Me. Yeobo!" perintah Jin, kembali menghentak keras untuk setiap kata. Membuat namja yang tengah sibuk mendesah dipaksa kembali sejenak menuju kesadaran.
"Hwaaaa~ yes, yes, I do – AGH!" V lagi-lagi memekik penuh ekstasi karena Jin dengan sengaja memutar pinggulnya dan menghentak luar biasa keras ke titik kenikmatannya secara tepat.
"Katakan, Baby~ apa kau menyukai sensasi saat kumasuki seperti... INI~?"
Deg~
Kata-kata dan tindakan familiar kembali si namja tampan lakukan. Kepala kesejatiannya menyundul prostat V dengan, oh, begitu tepat dan memabukkannya. Marbel cokelat si lion hybrid nyaris berputar ke belakang. Begitu larutnya dalam ekstasi.
Melihat V yang terlarut dalam ekstasi, seolah menarik semua pertahanan Jin. Namja tampan itu mulai merasakan sesuatu berkumpul di dasar rongga perutnya. Dan melihat tubuh mungil V yang juga menegang, meneteskan pre-cum, Jin memutuskan untuk membuat mereka mencapai puncak kenikmatan bersamaan.
Dengan tangan gemetar dan pinggang yang tidak berhenti mendorong ke depan, Jin mulai menggenggam dasar tubuh mungil sang mate.
"Hwaahhhh... Seokieeehhhh..."
Reaksi V membuat genggaman Jin menjadi remasan, lalu kemudian berubah menjadi kocokan kasar. V hanyalah Si Pendesah Kacau saat berada dalam genggaman kedua tangan terampil Jin.
"Kau hanya akan merasakan hal ini bila bersamaku. Hanya bersamaku, karena kita adalah MATE. Saranghae, Taehyungie~" Jin membungkuk dan meraup bibir V.
Ciuman basah, hand job, dan penetrasi...
Oh... bagaimana mungkin V dapat bertahan bila mendapati tiga titik kenikmatannya dimanjakan sekaligus?!
"AKHHHH! SEOKIE!"
Cairan putih lengket sang lion hybrid menghangatkan tangan Jin. Dipuncak, si manis masih bisa merasakan bagaimana kesejatian Jin menebal dan kemudian... menyemburkan cairan hangatnya, menodai dinding rektum hangat V yang berkedut.
Mereka sama-sama memuaskan pasangan masing-masing. Jin tidak berhenti mengurut tubuh mungil V hingga benda itu benar-benar mengeluarkan semua cairan hangatnya. Begitupula dengan V yang tidak berhenti meregang dan mengatupkan dinding rektum agar cairan dari kesejatian Jin keluar seluruhnya.
Kehabisan tenaga, Jin menjatuhkan tubuh di atas V. Memeluk sang mate dengan sangat erat. Turun dari puncak membuat nafas keduanya memburu. Tubuh mereka masih tergelitik dan bergetar.
V lah yang lebih dulu merasa rileks setelah fase orgasme. Tangannya mulai bergerak memeluk leher dan mengusap rambut di kepala sang mate yang tengah menyembunyikan wajah di perpotongan lehernya.
"Saranghae, Taehyungie~" bisik Jin lirih. Namja tampan itu terdengar mengantuk. Membuat V terkekeh dan menggeleng mendapati tingkah lakunya yang terkesan lucu.
"Kkkk, nado saranghae, Seokie~"
Jin yang tadinya hampir tertidur langsung membelalakkan mata dan menjauhkan wajahnya dari leher V. "Mwo? Kau tadi bilang apa?"
"Nado... saranghae?"
"Ya, ya! Yang itu! Ucapkan lagi!"
"Nado Saranghae, Seokie." V mengucapkan dengan wajah innocent miliknya. Dia tidak tahu betapa Jin sangat terharu dan ingin menangis. Ini adalah pertama kalinya V mengucapkan dengan jelas kata-kata tersebut untuknya.
Oh~
Jin sangat...
Bahagia.
He's fuckin' terribly happy!
Tiba-tiba Jin menghambur memeluk si lion hybrid dengan sangat luar biasa erat.
"HUWAAAAAAAAA! SARANGHAE, TE AMO, WO AI NI, I LOVE U, TAEHYUNGIEEEEEE! HUWAAAAAAAAA"
Dan...
Oh, you are so gentleman, Kim Seok Jin...
Are you just... crying?
Crying so hard, exactly~ -.-
TBC
NB: HIDUP J.V! AYO KISSUE! KISSUE!*pa'an coba?* J.V SEMAKIN CINTAAAA! FLUFFFFF! \(=^3^=)/
