Chapter 4
.
.
.
Yuuma sedang latihan service bersama kawan-kawannya di sebuah lapangan terbuka sehabis jam pelajaran berakhir. Masih banyak siswa-siswi yang berkeliaran sebelum jam masuk asrama, termasuk cewek berambut coklat dengan mata senada yang menjabat sebagai sekretaris Komite Kedisplinan.
Yuuma yang lepas kontrol dengan tenaganya, memukul bola berwarna biru-kuning itu dengan tenaga yang sangat kuat. Bola itu terlempar, membentuk garis parabola yang indah dan takdir buruk untuk sang sekretaris Komite Kedisiplinan. Bola itu menabrak tangannya.
Cewek itu jatuh dengan gemulai setelah teriakan setinggi satu setengah oktaf yang menyayat hati.
Seluruh perhatian siswa dan siswi yang kebetulan ada di sana terarah pada Yuuma seorang.
Yuuma merasa seperti Miss Universe.
Abaikan.
Yuuma berlari, menghampiri gadis itu, dan mengulurkan tangannya.
"Kamu nggak apa-apa?" tanya Yuuma sambil membungkuk pada cewek itu.
Cewek itu menatap Yuuma dengan tatapan berkaca-kaca. Duh, Yuuma merasa tambah bersalah jadinya.
"Nggak apa-apa," jawab cewek itu sambil menyambut uluran tangan Yuuma.
Jiirr, tangannya halus banget!
"Aku minta maaf," ucap Yuuma kikuk.
Tangan cewek itu masih ada digenggamannya.
"Nggak apa-apa. Salahku juga kok, nggak liat-liat jalan." Cewek itu tersenyum manis.
Yuuma blushing jadinya.
"Aku Kokone. Ah, maaf, tapi aku harus pergi. Dahh~"
Kokone berlari menjuhi Yuuma yang masih mematung dengan dada berdebar-debar dan wajah memerah.
Oh, bola voli, terima kasih telah menemukanku dengan jodohku.
Yuuma mencium bola volinya.
.
.
.
Disclaimer : Karakter Vocaloid yang ada di sini punya owner masing-masing!
Warning : Standart Applied!
ENJOY READING!
.
.
.
Dua minggu terakhir, setelah kejadian itu, Yuuma selalu kembali setelah latihan voli dengan muka merah-merah nggak jelas. Sering sekali dia mendecih lalu cekikikan atau mendesah stress.
Nggak, dia nggak lagi senewen makanya bersikap seperti ini.
Nggak, dia juga nggak habis ngintipin klub renang puteri yang sedang ganti baju.
Itu semua karena cewek itu.
Sesampainya di kamar, dia melepas sepatunya dan menghempaskan diri ke tempat tidurnya, mengabaikan sapaan empat kawan sekamarnya.
"Lu kenapa lagi, Ma?" tanya Kaito tanpa melepaskan perhatiannya dari layar laptop Mikuo.
"Hhnngg.." balas Yuuma malas.
"Bahasa apa itu? Apa alien sudah turun ke bumi?" Mikuo bertanya sambil melepas headphonennya.
"Hhnngg.."
"Yuuma kesurupan kayaknya," celetuk Len sambil duduk di atas pinggang Yuuma. "Iya, Yuuma kesurupan, soalnya rambutnya berwarna pink."
Yohio mengangkat wajahnya yang sedari tadi menunduk karena mengerjakan absen Komite Kedisplinan. "Bukannya dari pertama ketemu rambut Yuuma berwarna pink?"
"Yang ini beda, Hio," Len menggeleng. "Yang ini agak sedikit pudar warnanya."
"Kau perhatian juga, 'ya, sama Yuuma," komentar Kaito. "Jadi, Len, lu beneran homo, 'ya?"
BUAGH!
"AGH!"
Muka Kaito kena hantaman Ignite Pass KW 4.
"Entah kenapa gue takut bakal ada Heat Wave di sekolah," ucap Yohio dengan nada serius.
"Emangnya kenapa?" tanya Mikuo.
"Dua minggu terakhir, Yuuma jadi agak waras gitu,"
"Berisik lu pada! Nggak liat gue lagi dimabuk asmara?!" protes Yuuma.
Keempatnya berhenti bernafas dan otak mereka berhenti bekerja untuk sesaat berkat pernyataan Yuuma.
.
.
.
"Uhuk.. uhuk.." Yohio berhasil mendapatkan kesadarannya lagi dan batuk pura-puranya juga berhasil mengembalikan nyawa ketiga temannya yang lain.
"Kita... kita nggak salah denger, 'kan? Kita baru aja korek kuping, 'kan?"
"Yuuma jatuh cinta? Gue kira mau jadi penganut Forevah Alone selamanya,"
"Apa kiamat sudah dekat? Astaga, bagaimana ini?! Gue bahkan belum perform di Tokyo Dorm!"
"Oh, tidak, pasti sehabis ini Luka-sensei suruh kita lari keliling gedung bersama anjing instruktur kesehatan, Inuge,"
Komentar Yohio, Kaito, Mikuo, dan Len membuat Yuuma sakit hati.
Yuuma juga manusia! Jadi, wajar kalau dia jatuh cinta!
"Emang salah kalau gue jatuh cinta?!" protesnya lagi sambil berguling ke sisi lain tempat tidurnya.
"Lu jatuh cinta sama cewek?" tanya Kaito polos.
"Iyalah! Gue ganteng gini pastinya straight!" balasnya nafsu.
"Nggak biasanya kalau cowok ganteng tipenya cuma dua, ini menurut anak-anak cewek, 'ya. Kata mereka, cowok ganteng itu kalau nggak brengsek, 'ya, homo."
JLEB!
"Terus tampang lu nggak pantes buat orang brengsek jadinya.. ya.. tampang homo,"
Setelah itu Kaito mendapat service spesial dari bola voli Yuuma.
.
.
.
"Jadi, beneran lu sama cewek?" tanya Kaito memastikan.
Bola voli Yuuma sudah terangkat lagi. "Mau kena hantam lagi?"
"Nggak, makasih," tolak Kaito sinis.
"Jadi, lu suka sama siapa?" tanya Len waras, takut kena cium bola voli Yuuma yang merknya sama kayak karakter Tatakae on Kyojin, atau apalah itu.
"Itu loh... ponakannya Luka-sensei, Kokone,"
Keempatnya memandang Yuuma horror.
Buset, berani bener 'ni anak.
"Ma, lu tau nggak minggu kemaren ada anak kelas tiga yang nembak cewek itu," Mikuo menepuk bahu Yuuma. Yuuma memandang Mikuo mengharapkan lanjutan kalimatnya. "Lu tau, setelah akhirnya ditolak dengan sadis, Luka-sensei turun tangan. Kelanjutan ceritanya nggak usah dijelasin, karena ini menyangkut penderitaan mental dan fisik seorang senior."
Yuuma pundung.
Iya, dia tahu. Meskipun senyum Kokone semanis sakarin yang manisnya kelewatan, Kokone itu kalo nolak pedes banget, lebih pedes dari ramen yang pernah dibuat Akaito, abang Kaito, waktu libur kemaren.
Tapi, soal urusan cinta, asam-asin-manis-pahit harus dicobakan?
"Lu seriusan suka? Udah nyoba nembak?" Yohio memastikan.
"Iya, gue seriusan suka. Pengennya sih, secepetnya bisa nembak dia,"
"Oke, gue bantu. Bahkan, besok lu bisa nembak dia."
Yuuma dan yang lainnya speechless. Yohio ngajuin diri buat ngebantu Yuuma buat ngedeketin Kokone?
Antartika nggak akan ngirim badai salju ke Jepang, 'kan?
"Tapi ada syaratnya," lanjut Yohio.
"Apapun itu asal gue bisa jadian Kokone!" jawab Yuuma tegas.
"Kejar Inuge kalau kabur selama satu bulan terakhir, setuju?"
Yohio mengulurkan tangan dan Yuuma menyambutnya dengan ceria.
Tanpa sadar, Yuuma sudah menandatangani kontrak maut dengan anjing atlet maraton dengan perantara Yohio.
.
.
.
"Oh, bulan, datanglahhh~~" ucap Yuuma sambil mengembangkan tangannya setelah Luka-sensei keluar dari kelas.
"Terus kalau bulan udah datang, lu mau ngapain? Minum semua persedian EP Kapsule dalam sekali telan?" komentar Mikuo yang duduk di belakangnya sambil menyalin catatan saudari kembarnya, Miku, yang duduk di dua bangku sebelah kanannya.
"Sesuai dengan perjanjian kemaren, gue mau nembak Kokone, biar bulannya jadi hadiah," balas Yuuma.
"Berarti lu nganggep kalo lu jadian sama Kokone adalah sebuah kejadian yang impossible," Len nyeletuk dari depan.
Yuuma pundung lagi.
"Gue jadi heran, kenapa setiap tindakan yang kita lakukan disini selalu berhubungan sama Luka-sensei," ucap Kaito. "Luka-sensei bukan orang tua kita, 'kan?"
"Secara harfiah, memang bukan tapi Luka-sensei itu sosok 'ibu' di sekolah dan di asrama," jawab Yohio bijak.
"Kalian lagi ngomongin apa?" tanya Miku nimbrung.
"Yuuma lagi menyatakan cinta," sahut Kaito.
Miku mematung tidak percaya lalu Rin yang ada di belakangnya ikutan nimbrung.
"Sama cewek?!" sembur Rin dengan nada tidak percaya.
Yuuma manggut-manggut aja.
"Oh, jadi YUUMA BUKAN HOMO?!"
Miku dan Rin mendesah kecewa, entah apa maksudnya, dan Yuuma mengutuk nasibnya yang selalu dikira homo.
.
.
.
"Jadi, Yuuma," Miku berdehem. "Lu mau nembak siapa?"
"Tanya aja mereka," jawab Yuuma lesu. Udah cukup dia sakit hati hari ini. Kokoro ini udah potek-potek, mz, mba.
"Kai, Yuuma mau nembak siapa?" Miku bertanya pada Kaito.
"Tau keponakannya Luka-sensei?" Len yang menyahuti.
"Kokone-san?"
"Yup, 100 buat Miku!"
JDERRR!
Ada suara petir imajiner di siang bolong.
"A-aku harap, Antartika nggak ngirim badai salju ke Jepang," Miku dan Rin angkat kaki dari daerah meja dan berlalu.
"Segitu gantengnyakah gue sampai para cewek juga mengira gue homo?" ratap Yuuma menyedihkan.
.
.
.
Yohio, Kaito, Len, dan Mikuo berjalan beriringan menuju kelas X-MIA-1, tujuannya cuma satu. Untuk menemui Megurine Kokone.
Pucuk dicinta, ular pun tiba, eh, ulam maksudnya. Di jalan, mereka bertemu Kokone yang baru saja keluar dari toilet wanita, iyalah, emangnya Miku suka pake toilet cowok kalo kepepet.
"Kokone-san!" panggil Yohio sambil mengejar sang sekretaris Komite Kedisplinan.
Kokone menghentikan langkahnya dan berbalik dengan anggun.
"Ah, Hirozuno-san, ada apa?" tanya Kokone anggun.
"Ada yang ingin menemui sepulang sekolah di atap," ucap Yohio.
"Oh, oke," Kokone menjawab ogah-ogahan. "Aku duluan, 'ya. Dahh~"
Yohio berbalik menuju kawan-kawannya.
"Gimana berhasil?!" tanya Kaito antuasias.
"Nggak tau, kurasa iya."
Melihat ekspresi Yohio, mereka tahu jika kejadian yang dialami senior mereka akan terulang Yuuma.
.
.
.
Pulang sekolah, Yuuma segera berlari menuju atap sekolah. Lumayan, buat persiapan diri. Sementara Len, Kaito, Mikuo, dan Yohio segera menuju spot masing-masing untuk menonton aksi Yuuma menembak cewek.
Yuuma sampai di atap. Di sana, tidak ada siapa-siapa.
Mak, jantungnya deg-degan gini, Yuuma nggak bisa diginiin~
Eits, untuk cinta apa yang enggak.
Yuuma berusaha menenangkan nafasnya dengan teknik pernafasan ala senam yoga.
KREETT~
Pintu atap terbuka, menampilkan seorang siswi berambut dan bermata coklat berseragam khas sekolah mereka.
"Oh, Rouro-san? Ada apa memanggilku?" tanya Kokone
Di sisi lain, dimana keempat temannya sedang menonton dari tempat yang berbeda-beda, Kaito di atas dojo, Len di dalam kelas, Mikuo dari gedung dimana bandnya latihan, dan Yohio di dalam ruang Komite Kedisiplinan yang kosong, dengan teropong dan sepasang earphone terpasang ditelinga masing-masing.
"A-aku ma-mau bilang se-sesuatu," Yuuma jadi gagap.
"Apa itu?"
Yuuma menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya perlahan.
Cowok harus kuat!
"A-aku su-suka kamu! Mau jadi pacarku?"
"..."
Yuuma menunggu.
"Sudah kuduga," Kokone menghela nafas. "Maaf, aku nggak bisa menerima kamu."
Yuuma tuli sesaat. "A-apa?"
"Aku nggak bisa menerima kamu, maaf."
Yuuma mematung. "Kenapa?"
Astaga, Kami-sama, bunuh Yuuma saat ini juga.
"Karena nilaimu masih ada di bawahku,"
JLEB!
"Haha, bukan karena itu alasannya," Kokone mengibas-ngibaskan tangannya santai. Nggak punya perasaan, dia baru menolak cowok, men!
Yuuma hanya bersiap menunggu jawaban yang lebih buruk lagi.
"Aku nggak mau pacaran dengan orang yang masih minta uang pada orang tua untuk memanjakanku. Jadi, karena kamu belum punya penghasilan sendiri, aku nggak menerimamu. Nggak apa, 'kan?"
Kokone benar. Masa' Yuuma tega minta uang dobel pada orang tuanya seandainya dia mau kencan sama Kokone.
Yuuma tersenyum. Makasih, Kokone, kamu setidaknya memperbaiki mindset Yuuma yang agak belepotan itu.
"Iya, nggak apa-apa." jawab Yuuma tabah.
"Kita jadi temen aja, oke? Kita belum pernah berteman sebelum ini, 'kan?" Kokone mengulurkan tangannya.
Nggak apa jadi temannya juga, yang penting bisa sama Kokone! Inner Yuuma berteriak.
Mereka berdua berjabat tangan. "Jadi, cuma teman, oke?"
"Nggak apa-apa. Seandainya, nanti aku udah punya penghasilan, semoga kita nggak kebelit friendzone, hahaha!"
Mereka berdua tertawa.
Sementara, Kaito dan yang lainnya mendesah kecewa.
Cinta itu memusingkan, 'ya, makanya aku mau ikut front Forevah Alone aja (Shion Kaito, 16 tahun, mendedikasikan diri untuk jadi JoNes selamanya).
.
.
.
To Be Continued.
.
.
.
Omake~
Setelah mereka melambaikan tangan untuk berpisah, Kokone turun dari atap dan Yuuma tetap asyik stay-tune di atap sekolah.
"Kamu habis nembak cewek, 'ya?"
Astaga, suara itu...
"Tuna Emperor, eh, maksudnya, Luka-sensei?!"
Luka menyeringai.
"Kamu melanggar pasal 23 ayat 1B, setiap siswa-siswi tidak boleh ada yang menyatakan cinta di lingkungan sekolah dan asrama!" papar Luka berapi-api.
"Eh, jadi di luar sekolah dan asrama, boleh?!"
"Jangan banyak omong kamu, LARI KELILING ASRAMA 5 KALI, SEKARANG!"
"HA-HA'I!"
Yuuma berlari turun dari atap dengan kecepatan GPRS.
Yuuma jadi menduga-duga, makhluk apa sebenarnya Luka-sensei.
.
.
.
.
Mind to Review?
.
.
.
Shintaro Arisa, out!
