FF BTS/YAOI/J.V/THE BEAUTIFUL HIB-CREATURES /Chapter 11

Title: The Beautiful Hib-Creatures (HopeKook special)

Author: Bang Young Ran

Rating: M *It's little bit kind of rough sex. I told u, key!?*

Genre: Yaoi/Fluff/Romance/Scien-fict/AU

Length: Chaptered

Main Cast:

Kim Tae Hyung aka V ^w^ 3

Kim Seok Jin~~ 3

Support Cast:

HopeKook (J-Hope & Jung Kook)

KrisBaek (Kris & Baek Hyun EXO)

DaeBaek (Dae Hyun BAP & Baek Hyun)*ni cuma masa lalu*

DaeJae (Dae Hyun & Young Jae)

BangHim (Yong Guk & Hime~~)

MinSu (Ji Min & Suga)

Zelo (Choi Jun Hong)

Couples nyusul~

Disclaimer: BTS is Big Hit/JYP Entertainment Boy Group and their parents, and it's Youngranie fic~ muaaaachhh...*kechupbasah*

Warning: TYPO! OOC! YAOI/BoysxBoys! M-PREG! NC! NO PLAGIARISM! NO BASHING! NO SIDERS!

Author's Note: Annyeoooonnngggg~~^^ Readers-nim^3^*kissu* Chap ni specialx HopeKook, jadi, ntar gak ada lagi ya, yang nuntut2; 'JV-x mana?' key?*maksa* O ya, chap ni terinspirasi krn Young Ran lagi tergila-gila sama VIXX. Young Ran langsung jatuh cinta begitu mendengar lagu Vodoo Doll. Ugh, sumpah, itu lagu n MV-x keren abis! YOUNG RAN SUKAAAAA! Rasanya pengen kechup Leo*eh?* Hehehe~ so, chap ni terinspirasi dari lagu nya VIXX, ya! Yang mana? Readers-nim cari sendiri, key?!#Plakk

Akhir kata, selamat membaca buat ARMY semua. m( _ _)m *deep bow*

Summary: Di era modern sekarang ini, manusia tidak lagi terfokus dalam menciptakan kaleng besi berjalan—robot. Menciptakan makhluk hidup yang benar-benar hidup dalam bentuk lain, itulah yang menjadi fokus para ilmuan beberapa tahun belakangan. Awalnya menggabungkan spesies hewan dari jenis berbeda, dan sekaranglah terobosan baru tercipta dimana gen hewan digabungkan dengan... gen manusia.

.

.

DON'T LIKE, DON'T READ, JUST LEAVE IT, OK!?

.

.

~~( ^3)(.o )~~

.

.

TANPA BANYAK BACOT, LANGSUNG AJA CHECK IT OUT

HAPPY READIIIIIINNNNGGGGG... ^3^

.

.

.

The Beautiful Hib-Creatures

Chapter 11

Masa heat adalah masa yang sangat menentukan bagi kaum hybrid. Masa heat merupakan penentu kedewasaan dan jika beruntung, masa heat akan membuahkan sel telur dari pasangan. Sel telur yang telah dibuahi akan terus tumbuh dan berkembang hingga menghasilkan satu jenis makhluk hybrid lainnya.

Pasangan sangat berperan besar dalam masa heat. Kemunculan pasangan akan mengirimkan ikatan magis hingga kaum hybrid akan mengalami wet dream sebagai inisial datangnya masa heat. Layaknya hubungan timbal balik, cepat atau lambat datangnya heat dipengaruhi oleh masing-masing kehadiran pasangan. Bila kedua pasangan melakukan pendekatan secara intens, maka heat akan datang lebih cepat. Begitu pula sebaliknya, pendekatan lambat akan berdampak lambat pula.

Dan, hal inilah yang terjadi pada salah satu pasangan mate terbaru kita; J-Hope dan Jung Kook.

Hah?

Apa yang terjadi?

Huft... semenjak tinggal bersama dengan bunny hybrid yang sangat dicintai dan dikaguminya, J-Hope layaknya serigala yang kehilangan taring. Dirinya yang diam-diam selalu berpikiran pervert, entah mengapa tidak sekalipun berani mengambil kesempatan untuk melakukan 'sesuatu'. Padahal, Jung Kook yang imut dan luar biasa menggemaskan selalu berada di sebelahnya. Tidur di ranjang yang sama pula!

"Hyung, lihat, ikannya memakan roti Jungie!" Jung Kook berteriak sembari menunjuk-nunjuk ke arah air dan kemudian menepuk tangannya dengan riang.

J-Hope yang melihat keceriaan sang mate ikut tersenyum. Karena inilah ia tidak melakukan 'sesuatu' lebih jauh. Lebih tepatnya, tidak tega.

Tentu saja; bagaimana mungkin dirinya tega merusak bunny hybrid yang begitu manis dan kelewat polos seperti Jung Kook!? Jung Kook layaknya bocah kanak-kanak dibalik feature remajanya.

J-Hope bukan binatang. Dia manusia yang memilki hati nurani.

Dan sayangnya...

Manusia yang memiliki hati nurani ini juga...

Ehm, memiliki...

... hasrat.

Sial!

Sial!

Siaaaaaaallllllllll!

Terus terang J-Hope frustasi. Dia tidak henti-hentinya berdebat dengan nuraninya. Perdebatan tersebut bahkan sampai di mana terkadang hati yang menang, dan sempat sesekali hasrat-lah yang berkuasa. Pada awalnya J-Hope bisa mengenyampingkan 'dorongan' yang ia alami, akan tetapi... semakin lama, Jung Kook terlihat semakin menggemaskan. Belum lagi, makhluk manis itu kini seringkali berpakaian minim di hadapannya (sebenarnya Jung Kook hanya memakai kaus longgar dan celana pendek yang selalu ia pakai pada kesehariannya di rumah) yang membuat hasrat J-Hope semakin berada di ujung tanduk.

J-Hope sampai menjudge dirinya sendiri makhluk buas yang bisa sewaktu-waktu memangsa kelinci manis itu tanpa perasaan. Penghakiman tersebut, membuat J-Hope mengambil keputusan yang pastinya akan menyiksa dirinya. Sebagai hukuman karena berpikiran kotor terhadap Jung Kook, pikirnya.

J-Hope berusaha menjauh.

Yah, dia menjauhkan diri dari sang mate. Sebisa mungkin, ia akan berdiri hingga tiga meter jauhnya dari Jung Kook.

"Hopie Hyung~ mendekatlah. Ayo ke sini, lihat ikannya!" Jung Kook memanggil dengan rengekan. Sebenarnya bunny hybrid manis ini sudah berusaha menarik perhatian J-Hope semenjak kemarin. Sepolos-polosnya Jung Kook, dia tentu sadar ketika seseorang menjauh darinya. Bagaimana tidak sadar kalau sang Hopie Hyung malah tidak memeluknya lagi saat mereka di tempat tidur dan sekarang, namja tampan itu bahkan berdiri sangat jauh dari tepi pantai tempat Jung Kook tengah mengamati ikan-ikan di antara batu karang dekat pondok mereka!?

"Tidak, Jungie~ Hyung di sini saja mengamatimu, ne?" sahut dan tolak J-Hope sembari menggaruk belakang kepalanya.

Mendengar hal itu, sontak bibir bawah si bunny hybrid maju ke depan, mencebik. Demi Tuhan, dibanding sedih karena dijauhi, Jung Kook malah kesal setengah mati! Kenapa J-Hope malah berubah tidak perduli lagi padanya setelah mereka tinggal bersama, eoh?! Apa J-Hope tidak menyukainya lagi?! Benarkah? Begitukah!?

Saking kesalnya, Jung Kook melempar roti di tangannya begitu saja ke air. Kemudian dengan menghentak-hentak, ia berjalan kesal melewati J-Hope dan masuk ke pondok mereka.

BLAM!

Pintu kaca pondok dibanting keras oleh si bunny hybrid. Untung saja tidak ada yang pecah.

Tinggallah J-Hope yang menganga lebar seperti orang bodoh. Sendirian. Di pantai berpasir putih dengan deburan ombak pelan.

J-Hope shock berat. Ini pertama kalinya ia melihat Jung Kook marah.

Shit...

SHIT!

JUNG KOOK MARAH PADANYA!

"Jungie! Tunggu, biar kujelaskan!"

Dan J-Hope berlari panik mengikuti sang mate ke pondok mereka.

Babbo.

Babbo.

~~~~~~\(=^3^=)(=0ɷ0=)/~~~~~~

"Jungie, dengarkan hyung dulu, ne~?"

"Hiks... huwaaaaa~ tidak! Jungie ingin pulang! Hopie Hyung tidak menyukai Jungie lagi! Umma~ hiks... Appa~ hiks..."

J-Hope benar-benar panik sekarang. Jung Kook menangis keras memanggil orang tuanya seperti anak kecil. Terlebih, dia bersikeras ingin pulang ke rumahnya.

"Jungie~ kau salah paham! Bagaimana mungkin kau bisa berpikiran kalau hyung tidak menyukaimu lagi?!"

"Hiks~ buktinya, Hopie Hyung menjauhi Jungie! Hopie Hyung juga tidak mau memeluk Jungie saat tidur lagi! Huwaaaaa... umma~ appa~!" Jung Kook menangis sejadi-jadinya. Hidungnya sudah merah, sementara matanya membengkak dan berurai kristal bening. Siapapun yang melihat Jung Kook saat ini, pastilah akan luluh dan J-Hope tentu saja... merasa sangat, sangat bersalah.

For a God sake! Bukan maksudnya membuat sang mate menangis histeris seperti ini! J-Hope hanya ingin melindungi Jung Kook dari dirinya; dari seorang Jung Ho Seok yang lain. Selama ini Jung Kook hanya melihat sisi baik dari J-Hope. Bagaimana kalau nanti Jung Kook terkejut dan menjauh saat mendapati kalau 'Hopie Hyung' yang selama ini ia sayangi dan puja, ternyata tidak sebaik yang ia lihat?!

Bagaimana kalau nanti Jung Kook tidak mau berada di dekatnya lagi!?

"Jungie ingin pulang! Sekarang juga!" teriak Jung Kook keras. Bunny hybrid manis itu sudah menyandang tas punggung merahnya. Dia serius.

Tsk, terlambat Jung Ho Seok...

Sekarang pun... Jung Kook malah tidak ingin berada di dekatmu.

Merasa takut kalau sang mate akan nekat pulang naik bus sendiri, J-Hope akhirnya menurut, mengeluarkan mobilnya dari garasi dan mengantarkan Jung Kook ke rumah orang tuanya. Selama perjalan tidak ada yang bicara. Si manis terus melihat ke luar kaca jendela mobil. Sesekali terdengar sedikit isakan kecil dari bibirnya. J-Hope tahu kalau namja manis itu masih menangis.

Tapi...

J-Hope bisa apa?

Dia tidak ingin menyakiti – ah, merusak Jung Kook, lebih tepatnya.

J-Hope terlalu menyayangi bunny hybrid itu.

Apapun akan ia lakukan untuk melindunginya. Bahkan bila itu melukai dirinya sendiri pun, akan ia lakukan.

Jung Kook sangat berharga.

#########^0^#########

Brak!

Tap,

Tap,

Tap.

BRUK!

Secepat kilat Jung Kook membuka pintu rumah, menaiki tangga, dan membanting pintu kamar saat menutupnya. Namja manis tersebut bahkan tidak menyapa sang umma dan sang appa saat dirinya melewati keduanya di ruang tengah.

Yong Guk dan Him Chan saling bertatapan.

Ada apa dengan putera bungsu mereka, eoh?

Belum sempat memproses keadaan, keduanya kembali dikejutkan dengan kedatangan J-Hope yang berlari dan berhenti tepat di hadapan mereka dengan nafas tersengal.

"Hah.. hhhh... umma, appa, mana Jungie?"

"Jungie baru saja masuk ke kamarnya, Hopie~ waegeure? Kalian... bertengkar?" jawab dan tanya Him Chan cemas. Dia sempat melihat wajah sang aegya yang kacau dan berlinang air mata tadi, tentu saja hal itu membuatnya cemas. Jung Kook memang sangat lucu dan menggemaskan saat menangis, tapi... tangisannya tadi tentu tidak bisa dikategorikan dalam hal-hal kawaii seperti yang selama ini Him Chan elu-elukan untuk sang aegya.

J-Hope menunduk. Dia merasa sangat bersalah. Dan di hadapan orang tua sang mate... rasa itu semakin besar saja. Padahal J-Hope telah dipercaya untuk menjaga Jung Kook. Tapi... lihatlah, dia membuatnya menangis!

"Duduklah dulu, Hopie. Ceritakan pada appa dan umma. Siapa tahu kami bisa membantu," kata Yong Guk bijaksana.

J-Hope akhirnya mengangguk pelan dan duduk pada sofa santai di ruang keluarga Kim. Kepalanya masih menunduk penuh penyesalan. Yong Guk dan Him Chan yang melihat sang menantu seperti itu, kembali bertukar pandang penuh tanya.

"Nah, Hopie, berceritalah~ tell us, Honey." Him Chan berkata dengan nada lembut dan menenangkan, membuat namja tampan yang diajaknya bicara mengangkat wajah.

Setelah beberapa saat, akhirnya J-Hope mengeluarkan suaranya. Meskipun berbisik. "Mianhe, Umma, Appa. Aku sangat menyayangi Jungie dan tidak bisa menyakitinya. Aku menjauh, menjaga jarak untuk melindunginya dari diriku. Tapi..." J-Hope menggantung kalimatnya. Nafas namja tampan tersebut terdengar tercekat dan memburu dipenuhi emosi. "Jungie malah marah besar. Dia berteriak dan menuduhku tidak menyukainya lagi. Dia salah sangka! Bagaimana mungkin dia bisa salah paham dan menuduhku seperti itu?! Aku mencintainya dari dulu, tidak mungkin rasa yang besar itu lenyap begitu saja!"

Oke.

Tampaknya J-Hope benar-benar frustasi hingga tanpa sadar menumpahkan semua isi hatinya di hadapan Him Chan dan Yong Guk dengan penuh emosi.

Namun sesaat kemudian namja tampan tersebut tersadar, dan kembali menundukkan kepala. "Mi-mianhe, Appa, Umma~"

Him Chan tidak kuasa menahan dirinya hingga menyemburkan tawa. Sungguh, menantunya ini sangat menggemaskan, eoh!?

"Hahahaha, kau sangat lucu, Hopie. Ne, ne, kami tahu dari dulu kau sangat mencintai Jungie. Kau pikir, untuk apa kami setuju begitu saja saat kau meminta Jungie pada kami?! Tapi... mendengarmu mengatakan isi hatimu sekeras ini... umma senang sekali. Kami menyerahkan Jungie ke tangan yang tepat. Benarkan, Gukie?!"

Yong Guk mengangguk setuju menjawab pertanyaan sang anae sembari menyeringai. Sesuatu melintas di kepala Yong Guk, "ngomong-ngomong masalah Jungie... kenapa, ya, aku jadi mengingat seseorang~?" katanya dengan... melirik jahil ke arah Him Chan.

Wae?

Plak!

Bunny hybrid cantik yang dilirik menggeplak sisi kepala Yong Guk keras. "Kau meledekku, eoh?!" sembur Him Chan pouting.

Yong Guk terkekeh diantara meringis. Yah, tentu saja dia tengah meledek sang anae. Dulunya mereka juga mengalami hal yang sama seperti J-Hope dan Jung Kook. Bahkan, Him Chan sempat kabur dari rumah karena kesal dijauhi Yong Guk.

"Kau tenang saja, ne, Hopie. Umma akan membujuk Jung Kook. Kau pulanglah dulu. Ini memerlukan waktu, paling tidak, besok pagi Jungie pasti sudah kembali normal lagi. Ne?"

Meskipun tidak ingin, J-Hope akhirnya menyetujui saran Him Chan dan permisi untuk pulang ke rumahnya. Ke rumah sang kakak, lebih tepatnya.

#########^0^##########

"Jungie~? Umma boleh masuk?"

Tidak butuh waktu lama bagi Him Chan untuk membujuk sang aegya agar membuka pintu kamarnya. Kepala Jung Kook langsung menyembul dan makhluk manis itu menghambur ke dalam pelukan Him Chan. Ia memeluk pinggang sang umma dengan sangat erat sementara wajahnya yang kacau ia sembunyikan di dada namja cantik yang telah melahirkannya tersebut.

"Hiks~ huwaaa... Umma~"

"Cup, cup, cup~ ne, Chagi, umma di sini. Jangan menangis lagi, ne?" bujuk Him Chan sembari mengusap surai hitam legam sang aegya.

Setelah beberapa saat melakukan usapan, belaian beserta kata-kata menenangkan, Jung Kook akhirnya sedikit lebih tenang hingga Him Chan dapat memundurkan bunny hybrid manis itu untuk melihat keadaannya.

Apa yang dilihat sungguh menghancurkan hati Him Chan sebagai seorang ibu. Belum pernah ia melihat Jung Kook serapuh ini. Matanya membengkak dan merah. Hidung mancungnya juga. Belum lagi... telinga kelincinya yang panjang turun di sisi kepala dengan lesu. Jung Kook terlihat sangat sedih. Dan rapuh.

"Howh~ Sayang..." Him Chan sampai tidak tahan dan kembali memeluk erat sang aegya. Ia mencium pucak kepalanya seolah memberitahu kalau dia tidak sendiri.

"Hopie Hyung tidak menyukai Jungie lagi, Umma~ Hopie Hyung... hiks, men-menjauhi Jungie!" gumam Jung Kook lirih.

"Tidak, kau salah paham, Sayang. Hopie sangat mencintaimu. Dia berusaha melindungimu, Chagi."

Kata-kata Him Chan membuat kening Jung Kook berkerut. Ia melepaskan pelukannya dan menatap wajah cantik sang umma heran. "Melindungi Jungie? Melindungi Jungie dari apa?"

"Kkkkk~ dia melindungimu dari dirinya sendiri."

"Hah? Memangnya, Hopie Hyung berbahaya? Hopie Hyung, 'kan, sangat baik, Umma. Dia selalu memperlakukan Jungie dengan baik." Telinga kelinci Jung Kook salah satunya tertekuk ke samping. Ia terlihat sangat imut dengan ekspresi kebingungan dan satu jari telunjuk yang diletakkan di belahan bibir bawah.

Him Chan yang melihatnya sampai tidak tahan. Ia memekik riang dan menghadiahi kedua pipi tembem Jung Kook dengan cubitan gemas, namun pelan. "Gyaaaa~ You're so cute, Honey Bunny~ Pokoknya, percaya pada umma. Hopie sangat mencintaimu, Sayang. Dia menjauh untuk melindungimu. Suatu saat kau pasti akan paham! Percaya pada umma, ne?"

Yah, Jung Kook sangat mempercayai Him Chan.

Ia mengangguk cepat dan tersenyum lebar.

"Ne, Umma, Jungie percaya!"

Him Chan tersenyum melihat sang aegya kembali ceria. Ia kemudian mengusap kedua telinga kelinci berbulu putih di kepala sang aegya dengan sangat lembut. Rasanya senang sekali; meskipun sudah memiliki mate, Jung Kook tetap saja bergantung padanya. Sempat Him Chan berpikir kalau anak kesayangannya ini akan menjauh. Tapi nyatanya? Oh, Him Chan serasa dibutuhkan.

"Umma, suruh Hopie Hyung ke sini, Umma! Jungie ingin tidur dalam pelukan Hopie Hyung!"

"MWO?!"

Oke, Jung Kook lebih cepat pulih dari dugaan Him Chan. Dan, anak manisnya berkata ingin dipeluk oleh orang lain saat tidur?

Hiks~

Him Chan mendadak merasa kesepian.

Jungie Boo-Nya tersayang sudah dewasa, eoh?

~~~~~~~\(=^3^=)(=0ɷ0=)/~~~~~~~

J-Hope sampai tidak memperdulikan apapun saat dirinya melajukan mobil menembus jalanan padat kota Seoul dengan kecepatan tinggi. Dia juga tidak ingat kapan dirinya sampai di pekarangan besar kediaman sang mate dan berlari hingga sekarang, ia telah berada di dalam kamar luas bernuansa putih dan biru langit itu. Kamar Jung Kook.

Hembusan nafas lega J-Hope keluarkan begitu melihat bunny hybrid manis yang sangat dicintainya tengah tertidur bergelung dengan posisi seperti bayi lucu di atas ranjang king size.

Ada kedamaian melihat Jung Kook saat ini. Dia sebelumnya tidak pernah menduga kalau sang ibu mertua akan menelepon dan mengabarkan kalau Jung Kook ingin bertemu dan tidur dipeluk olehnya saat ini. Jung Kook pulih dengan cepat. Sesuatu yang tidak J-Hope kira sebelumnya.

Ngomong-ngomong soal ibu mertua... kemana Him Chan? J-Hope juga tidak bertemu dengan Yong Guk saat di bawah tadi.

Selembar kertas pink yang ditempelkan pada kaca tinggi di sudut ruangan, menarik perhatian J-Hope. Ia mengambilnya.

—Kami akan keluar. Berkencan. Jaga Jungie dengan baik, ne, Hopie~ Kami mencintai kalian~ *smooch~*—

With love,

Your Parents in Law

J-Hope hanya bisa tertawa. Him Chan dan Yong Guk memang selalu seperti ini. Mereka seperti pengganti orang tua bagi J-Hope. Tanpa ragu keduanya membela dan membantu J-Hope tiap kali ia ingin mencuri-curi waktu untuk sekedar berakrab ria dengan Jung Kook. Di keluarga Kim, hanya Jin saja yang tidak setuju kalau J-Hope mendekati Jung Kook.

Dan entah kenapa sahabatnya itu tiba-tiba saja dengan suka rela memberikan adik kesayangannya pada J-Hope. Ingin bertanya, J-Hope takut kalau nanti sisi evil Jin bangkit hingga berubah pikiran lalu menarik kembali kata-katanya yang merelakan Jung Kook.

Huft...

Jadi sahabat seorang Kim Seok Jin memang banyak tidak enaknya. Selain orangnya moody-an, Jin juga suka mengancam seenaknya!

"H-Hopie Hyung~?"

Suara lirih khas bangun tidur tersebut menyadarkan J-Hope. Namja tampan itu kemudian mendekati makhluk manis yang tengah duduk di ranjang sembari mengusap-ngusap matanya.

"Jungie~ kau terbangun, eoh? Tidurlah kembali, ne?" kata J-Hope lembut. Ia mengambil duduk di sebelah sang mate dan mengusap-ngusap surai hitam yang sedikit berantakan karena baru bangun tidur tersebut.

Jung Kook menggeleng tidak setuju. Dia malah menghambur, memeluk pinggang J-Hope erat. "Mianhe, Hopie Hyung. Jungie sudah berteriak dan menuduh Hopie Hyung sembarangan. Mianhe~"

Senyum lebar menghiasi bibir J-Hope. Tangannya balas memeluk kepala si bunny hybrid di dadanya tak kalah erat. "Kkkkkk~ ne, ne~ maafkan hyung juga karena menjauhimu, ne?! Hyung tidak akan melakukannya lagi. Hyung janji!"

Kata-kata J-Hope disambut dengkuran pelan.

Oh.

Si bunny hybrid tertidur lagi.

J-Hope hanya bisa menggeleng dan tertawa pelan. Ia tidak mau membuat malaikat dalam pelukannya yang tengah tertidur damai jadi bangun.

Rasanya begitu damai. Biarlah, J-Hope akan bersabar lebih lama lagi. Apapun akan ia tahan. Demi Jung Kook.

##########^0^##########

Jung Kook bergulak-gulik gelisah dalam tidurnya. Bukanlah hal mudah karena sekarang ia tengah berada dalam pelukan erat lengan J-Hope.

Merasa tidak nyaman, bunny hybrid manis tersebut akhirnya terbangun dan membawa tubuhnya duduk sehingga pelukan erat J-Hope sedikit melonggar dan turun pada pinggangnya.

"Ukh~ kenapa panas sekali? Tubuh Jungie panas. Eunghhhh~ Hopie Hyunghhhh..." Jung Kook mencoba memanggil J-Hope, namun apalah daya yang keluar dari bibirnya malah erangan lirih disertai desahan.

"Angghhhh... panashhhh~"

Jung Kook melepaskan pelukan J-Hope darinya. Sedikit tertatih, si bunny hybrid turun dari ranjang. Dan saat itulah dia merasakannya.

Diantara kakinya... sesuatu terasa berat, panas, dan basah...

Itu... adik kecilnya?

Ke-kenapa?

Keringat mengalir deras pada pelipis Jung Kook. Suhu tubuhnya semakin memanas, membuat semua terasa semakin tidak nyaman dan menyesakkan.

Panas...

Panas...

Deg~

Tunggu,

Kesadaran menghantam kepala mungil Jung Kook bagai bola api.

"Apa Jungie mengalami heat?" tanyanya pada diri sendiri. Perlahan diliriknya kembali J-Hope di tempat tidur. Ia teringat mengenai pembicaraannya dengan sang umma beberapa waktu lalu kalau saat heat-nya tiba, dia harus segera memberitahukannya pada J-Hope.

"H-Hyunghhh~ bangunhhh... Hopie Hyunghhhh~"

Merasakan guncangan pelan pada bahunya, J-Hope sedikit membuka mata. "Eung? Jungie? Waegeure?"

"Hiks~ Hopiehhh Hyunghhhh..."

Tangisan sang mate membangunkan J-Hope sepenuhnya. Namja tampan tersebut langsung menyibak selimut dan bangkit duduk, meski agak limbung.

"Jungie? Waegeure, Baby?"

"Hiks... Jungie rasahhhh... akhhhh... sakithhh..." Tak mampu menyelesaikan kalimatnya, Jung Kook jatuh meringkuk di lantai. Adik kecilnya berkedut menyakitkan di bawah sana.

"JUNGIE!" Dengan panik J-Hope menyongsong sang mate dan membopong tubuh mungil tersebut kembali ke ranjang. "Jungie, apa yang terjadi?"

Bunny hybrid yang ditanyai terlihat kacau. Kulitnya yang putih transparan kini memerah dan basah oleh bulir-bulir keringat. Belum lagi hawa panas bagai menguar dari pori-porinya hingga J-Hope yang berada sangat dekat dapat merasakannya.

Hm... hawa panas.

Tunggu,

Jung Kook...

Mengalami HEAT!?

"Ju-Jungie?! Ka-kau baik-baik saja? Oh, apa yang kukatakan!? Tentu saja kau tidak baik-baik saja! Akh! Apa yang harus kulakukan?!"

Tsk. Si jenius J-Hope yang begitu ahli mencampur berbagai macam zat kimia, sekarang tak ubahnya seperti cacing kepanasan yang menggusak rambutnya frustasi karena tidak tahu apa yang harus dilakukan. Tentu saja. Menangani cairan kimia dan heat adalah dua perkara berbeda.

Ukh~

J-Hope memukul sisi kepalanya karena mulai berpikiran melantur dengan membanding-bandingkan cairan kimia dan heat. Pemikiran macam apa itu!? Dasar nerd!

"Hopiehh... Hyunghhhh~"

Entah sejak kapan, Jung kook sudah tidak lagi berbaring. Makhluk manis itu malah... duduk di pangkuan J-Hope. Tanpa disangka Jung Kook menggesekkan bagian bawahnya dengan little J-Hope yang tepat didudukinya.

"Hyunghhhh... sentuh Jungiehhh~"

O. My. God.

Apa J-Hope tidak salah dengar?

"Ju-Jungiehhh... apa yang kau la – ahhhh... lakhhu... khanhh...?!" tanya J-Hope kesusahan. Ia berusaha menghentikan gerakan si bunny hybrid dengan memegangi kedua paha yang mengurungnya. Tapi...

"Ahhhhh... Hyunghhhhh~"

Si pemilik paha malah mendesah keras.

Runtuh sudah pertahanan J-Hope. Desahan keras yang Jung Kook keluarkan bagai menekan tombol 'off' pada kewarasan otak J-Hope, dan tombol 'on' untuk jiwanya yang pervert.

Mianhe, Jungie~ 'Hopie Hyung' tersayangmu harus menyingkir untuk sementara waktu.

"Jungie Baby~" dendang J-Hope, membawa telapak tangannya meremas daging tebal pada paha Jung Kook. Ia langsung dihadiahi pekikan memabukkan dari si bunny hybrid. "Kau ingin aku menyentuhmu~?"

"Hyaahhh~ neh, nehh... sentuhhhh Jungie, Hyunghhhh~"

Kekehan evil terdengar keluar dari bibir J-Hope. Sisinya yang pervert telah mengambil alih sepenuhnya. Hanya Tuhan saja yang tahu apa yang akan terjadi selanjutnya pada bunny hybrid yang malang itu. Yang pastinya, Jung Kook tidak akan selamat. Terlebih bokongnya.

"Kau ingin disentuh yang mana, Sayang~? Ini?" Tangan kanan J-Hope menelusup ke dalam celana pendek Jung Kook dan meraih tubuh mungil yang membengkak dan panas di dalamnya. Ereksi berlebihan membuat benda tersebut terasa basah dan lengket oleh cairan pre-cum. "Atau ini?" Sekarang tangan kiri J-Hope lah yang meraih ke bagian belakang. Menggodai otot cincin berkerut milik sang mate yang telah basah. Sangat. Sangat. Basah.

"ANGGHHHHHH... terserah! Terserah Hopie Hyung! Sentuh Jungie, Hopiehhh... Hyunghhhh... pleaaaasseeee~" pekik Jung Kook memohon. Tidak ada lagi 'Jungie' yang polos di sana. Sepenuhnya telah tergantikan oleh bunny hybrid yang dikuasai nafsu heat.

Seringaian di bibir J-Hope semakin lebar. Senang dan terhibur akan jawaban yang didapatnya dari sang mate. "Terserah? Kalau begitu... aku boleh memasukkan dua jariku sekaligus?" godanya sembari menekan ujung telunjuknya ke dalam. Namun hanya sebatas itu, hanya sekedar membuat namja manis dalam pangkuannya lebih frustasi lagi.

"Eunghhhh~ hyahhh... se-semuanya sekaligus, Hyunghhh~ Jungie mauhhh... semu – AKHH!"

Tanpa menunggu Jung Kook menyelesaikan rengekannya, namja tampan yang memangku tubuh mungil itu langsung memasukkan tiga jari sekaligus, membuat dinding panas si manis bagai terbakar karena dipaksa merenggang.

"Anghhh... Ho-Hopie Hyunghhhh... ssshh... ahhh... Hopie Hyunghhhh..." Jung Kook tidak henti-hentinya mendesah, memanggil nama J-Hope sebagai pelampiasan dari rasa sakit yang dirasakannya. Jemarinya mencengkeram punggung J-Hope dengan sangat kuat hingga meninggalkan bekas, atau mungkin malah luka. Wajahnya yang berkerut karena tersiksa menahan sakit disembunyikannya pada perpotongan leher dan bahu belakang J-Hope. Membuat namja yang dicengkeram dapat merasakan langsung nafas Jung Kook yang memburu.

"Sssshhh... kau lihat, Baby? Kau bahkan tidak sanggup menerima tiga jariku, bagaimana mungkin aku akan memasukkan semuanya?"

"Hiks... anghhh... sssshhh... ahhhh... hiks~"

Tidak ada suara lain yang keluar dari bibir merah Jung Kook selain suara desahan, desisan, bahkan terkadang bunny hybrid manis itu terbatuk karena tangis.

Mendengarnya, sisi J-Hope yang penuh perhatian sedikit terpanggil. Ia kemudian membawa bibirnya ke telinga kelinci sang mate, memberikan kecupan-kecupan ringan disertai bisikan-bisikan lembut menenangkan.

"Jungie Baby~ mianhe. Kau ingin aku berhenti?"

"No! Hiks~" protes Jung Kook cepat. Kepalanya yang berada di bahu J-Hope menggeleng panik. "Janganhhh... berhentihhh, Hyunghhhh... Jungie butuh Hopie Hyunghh... hiks~"

"Ara, ara~ kalau begitu... angkat kepalamu."

Jung Kook melakukan apa yang J-Hope perintahkan padanya. Ia bahkan belum sempat bertemu mata dengan namja tampan itu saat merasakan bibirnya diraup dalam sebuah ciuman panas.

Gigi saling bergesekan,

Lidah yang beradu dan membelai,

Hisapan keras dan,

"Eungh~"

Desahan penuh ekstasi Jung Kook.

Oh~ semua terasa sempurna bagi J-Hope. Ia juga dapat merasakan bagaimana dinding panas yang melingkupi jemari kirinya kini mulai melonggar. Dinding panas tersebut berkedut seolah menghisap jemari J-Hope lebih dalam lagi.

"Jungiehh~ apa masih terasa sakit?"

Jung Kook menggeleng. Bibir merahnya sedang terlihat sibuk menghisap dan terkadang menggigit adam's apple di leher J-Hope, yang disambut pasrah oleh si empunya. Toh, apa yang dilakukan Jung Kook membuatnya ikut melayang.

Tidak ingin pasif, J-Hope menambahkan jari kelingkingnya untuk bergabung. Tubuh si mungil sempat menegang namun kemudian rileks kembali karena tangan J-Hope tidak berhenti memompa little Jung Kook di bawah sana dengan intensitas yang semakin bertambah kecepatannya.

"ANGH! Hyuuuunngghhhh..."

Hanya butuh dua-tiga kali hantaman keras hingga jemari-J-Hope menyenggol telak titik kenikmatan si manis. Membuat tubuh mungil tersebut gemetar, memanas dan hampir roboh kalau tidak ada J-Hope yang memerangkapnya erat dalam pangkuan.

Lihatlah, betapa kacaunya bunny hybrid itu sekarang. Bahkan, mereka masih berpakaian lengkap, tapi... J-Hope sudah nyaris membuat makhluk manis dalam pangkuannya cumming.

Dan itu tidak boleh terjadi.

Tidak, dalam kamus seorang Jung Ho Seok.

"Hyunghhh~ hiks, apa yang... hhh... kau lakukan?! Hiks, kembali~!" rengek Jung Kook frustasi begitu mendapati J-Hope menarik diri darinya. Terlebih, jemari yang sebelumnya memenuhi tubuhnya, juga ikut ditarik paksa. Membuat dinding hangatnya di bawah sana terasa kosong melompong.

Dan itu pertanda buruk.

"Hyung!" Kali ini Jung Kook terdengar lebih menuntut. Kalau saja ia tengah berdiri, mungkin saat ini kakinya akan menghentak ke lantai seperti anak kecil.

"Kkkkk~ sabar, Jungie."

Berdiri dengan kedua lutut, J-Hope meloloskan kaus yang dikenakannya dari kepala. Jung Kook hanya bisa menganga, abs liat di perut namja tampan itu seolah berkata 'hi' padanya.

"Suka dengan apa yang kau lihat, Baby? Mau merasakan menyentuh magnum super-ku?" goda J-Hope disertai seringaian. Ia dengan sengaja melepas segala pakaian yang melekat di tubuhnya dengan gerakan pelan, bermaksud membuat si manis tersiksa menunggu.

"Hyung!" pekik Jung Kook kesal. Benar-benar ironis; apa yang si manis bunny hybrid inginkan sungguh berbanding terbalik dengan sikap lucu yang ditunjukkannya.

Sayangnya, J-Hope terlihat masih betah dengan 'permainan' super lambat. Maka dari itu, tanpa berpikir panjang, Jung Kook menerjang namja tampan itu hingga keduanya jatuh tertidur di atas ranjang dengan posisi Jung Kook berada di atas.

"Hopie Hyung, kau lambat." Jung Kook berkata innocent. Namun tidak dengan apa yang kemudian dilakukannya.

Bunny hybrid manis itu...

Melingkupi salah satu nipple J-Hope dengan mulutnya. Sementara nipple yang satunya ia cubit pelan. Oh, entah darimana Jung Kook belajar hal ini, yang pasti, dia melakukan hal yang benar karena J-Hope langsung mendesah begitu merasakan bibir merah tersebut mengulum nipple-nya lembut.

"Akhhhh... Jungiehh~"

Bagai bintang porno profesional—oke, J-Hope sangat keterlaluan karena menyamakan aksi Jung Kook dengan salah satu adegan blue koleksinya—dengan mudahnya Jung Kook melepaskan boxer J-Hope tanpa menghentikan kuluman lembutnya. Hal ini membuat kesejatian J-Hope bebas dan tanpa sengaja menekan bokong sang mate, yang masih terbalut celana pendek.

Jung Kook terperanjat dan melepaskan kulumannya. "Anggghhhh... Hyuuuunngggghhh~" desahnya keras. Bahkan sentuhan ringan namun intim tersebut dapat membuat si bunny hybrid teralihkan hingga hanya mampu menutup mata dengan mulut terbuka menyuarakan desahan.

Wajah kenikmatan penuh ekstasi terpampang jelas di hadapan J-Hope, membuatnya menyeringai. Ia mengambil kesempatan ini untuk mencekal kedua pergelangan tangan si manis dan membalik posisi mereka.

J-Hope di atas.

Jung Kook di bawah.

Begitulah seharusnya.

"Eunghhhhh~ Hyunghhh... hiks, panas... pa – ahhh, panas!" kata Jung Kook lirih. Tubuh mungilnya menggeliat tak nyaman dengan kelopak mata setengah menutup. Dorongan heat membuat segala hal terasa sulit. Tubuhnya bagai terbakar, bernafas sulit, adik kecilnya sangat dan teramat sakit karena ereksi parah, dan lagi, tidak ada jemari yang memenuhi rektumnya.

Jung Kook frustasi.

Mencapai batas limit.

"Hiks, Hyuuunghhhh... se – ahh... sentuh Jungie, pleaaaaseee~"

Memohon.

Yah, hanya itu yang mampu si mungil lakukan. Ia tidak bisa mengajak otaknya untuk berkompromi lagi.

"Howh~ look at you... so damn lovely cute~~ Please, crying for me more~" J-Hope mendendangkan kata-kata tersebut dengan antusias. Ia begitu senang melihat Jung Kook begitu frustasi dan haus akan sentuhannya.

"Hyuuunngghhhhhh~ hiks... Jungie mohonnhhh... huhuhu, hiks... sentuh Jungiehhh, please... hiks..." Bibir Jung Kook mengeluarkan suara maupun kata-kata yang terdengar begitu familiar, seolah ia pernah mengucapkannya dulu. Atau mungkin saking tidak sadarnya, ia malah mempraktekkan apa yang dilakukannya saat wet dream? Molla. Bukan masalah besar selama hal itu dapat membuat J-Hope menyentuhnya.

"Ssssshhhh... don't cry, Baby~ I will touch you but... let's get your free from this clothes first."

Bahkan kata-kata menenangkan tersebut tidak mampu menghentikan tangisan si manis barang sejenak. J-Hope membiarkannya, ia hanya memfokuskan diri, menanggalkan segala pakaian yang melekat pada tubuh sang mate.

Ekspresi bodoh dan rahang turun langsung menghiasi wajah tampan J-Hope begitu menyaksikan tubuh polos di bawahnya.

Jung Kook seperti apa yang J-Hope fantasikan selama ini. Bahkan lebih baik. Kulitnya yang putih... dibasahi keringat dan tampak mengeluarkan hawa panas. Oh, betapa inginnya bibir J-Hope menjelajahi dan menandai setiap inci kulit putih tersebut.

Hmm... menandai~

Kenapa tidak?!

J-Hope beranjak. Berlutut di antara kaki Jung Kook dan menelusupkan tangan ke bagian bawah lutut namja manis tersebut. Ia menekuk dan membuka kaki Jung Kook lebar, membuat pintu anal sang mate yang memerah dan berkedut terekspos jelas.

Demi Tuhan, Jung Kook begitu basah di bawah sana!

Cairan lubricant alami menetes keluar, menandakan betapa siapnya tubuh Jung Kook untuk melakukan mating.

"Hyuuungghhhh... hiks, pa – hh... nashh..."

Apa boleh buat. Menandai tubuh Jung Kook bisa menunggu. Sekarang, meredakan suhu tubuh namja manis itu adalah prioritas utama J-Hope.

"Jungie, buka mulutmu, Baby," perintah J-Hope sembari kembali merangkak di atas tubuh sang mate.

Tanpa bertanya Jung Kook melakukannya. Mulutnya ia buka hanya untuk merasakan lidah J-Hope menelusup ke dalam sana, yang disambut hangat oleh lidah Jung Kook sendiri. Setiap belaian dan hisapan terkesan saling mendominasi.

Tidak perlu diragukan lagi kelihaian Jung Kook dalam melakukan French Kiss. Bunny hybrid manis tersebut begitu menguasai lumatan sebelum sebuah lenguhan panjang menyeruak keluar namun teredam oleh mulut J-Hope.

"Hmmmpphhh~"

"Akh~ Ba-Baby... you're so tigh~ ugh..." J-Hope menggeram lirih, di antara bibir mereka yang menyatu, di tengah usahanya mendorong kesejatiannya memasuki Jung Kook. Di luar perkiraan, empat jari melakukan penetrasi seolah tidak berdampak banyak dalam meregangkan dinding hangat sang mate.

Little J-Hope terjepit tepat ketika bagian kepala sepenuhnya masuk.

Apa yang terjadi?

Apakah Jung Kook terlalu tegang?

J-Hope mengangkat wajah. Sekarang dilihatnya bagaimana wajah manis si bunny hybrid berkerut dengan mata terpejam erat. Jung Kook tersiksa kesakitan. Air mata mengalir deras di kedua sudut matanya, membasahi pelipis.

Apakah sangat sakit?

"Jungie Baby, kau ingin aku berhenti?"

Pertanyaan J-Hope membuat namja manis di bawahnya membelalakkan mata. "Andwehhh... hiks, andwee! Jungieh b-butuh Ho-Hopie Hyunghhh..."

"T-tapi, Baby... kau kesakitan. Aku ti – shhh... akh!"

Jung Kook mengerutkan dinding rektumnya. Karena itulah J-Hope tidak kuasa menahan erangan lirih. Rasa nikmat dan sakit bercampur menjadi satu.

"Please, Hyuuunghhh... ja – hiks, jangan berhenti! Pleaaasseeee~" pinta Jung Kook di sela tangis. "Kalau hyung be-berhen – AKH!"

Teriakan keras Jung Kook menggema. Bagaimana dia tidak berteriak kalau tiba-tiba tanpa aba-aba J-Hope mendorong kesejatiannya masuk begitu saja!?

Alhasil, tubuh Jung Kook bergetar. Ia kesakitan tapi... puas?

Yah, Jung Kook merasa puas. Kesejatian J-Hope memenuhinya dengan sempurna. Meskipun rasa 'penuh' itu harus dia bayar dengan kesakitan luar biasa dan...

Mata J-Hope terbelalak disertai nafasnya yang tercekat. Ia merasakan sesuatu, cairan hangat mengalir di antara kesejatiannya. Itu...

... darah.

SHIT!

J-Hope hanya bisa mengutuk, menyadari kalau baru saja ia kehilangan dirinya lagi. Ia menyakiti Jung Kook. "Jungie?! Gwenchana?!"

Jung Kook menggeleng, "anihh! Sshhh... move, Hyunghhh..."

Mungkin bunny hybrid tersebut sudah gila. Dia kesakitan, dinding rektumnya lecet, tapi... malah ingin J-Hope bergerak?!

Namun...

Air mata beserta ekspresi kesakitan itu...

Sisi lain J-Hope kembali berkuasa.

Ibarat Jekyll and Hyde, kepribadian namja tampan itu berubah dalam sekejap mata. Dengan menyeringai kejam, ia memenuhi permintaan Jung Kook. Menarik kesejatiannya hingga nyaris keluar, lalu dengan sekuat tenaga mendorongnya kembali memasuki dinding hangat tersebut. J-Hope melakukannya berkali-kali.

"Ah~ ah~ ah~ yes, yes... like that..." Jung Kook tidak hentinya mendesah tiap kali merasakan dorongan keras J-Hope pada tubuhnya. Tidak diperdulikannya kalau kenikmatan yang dirasakan juga dibayangi oleh kabut siksaan akan rasa sakit.

Masa heat bagi bunny hybrid bisa dibilang paling gila diantara jenis hybrid lainnya. Mereka seringkali hilang dalam kenikmatan.

Terus terang, bunny hybrid yang tengah dilanda heat dan seseorang berkepribadian ganda adalah kombinasi terburuk sepanjang masa.

"Ah~ ah~ eungh... Hyuuungghh... morehhh..." desah Jung Kook penuh ekstasi saat merasakan kesejatian sang hyung menggesek dinding rektumnya lebih dalam.

Tidak hanya menggerakkan pinggul, bibir J-Hope juga tengah sibuk menghisap dan menggigiti kulit putih pada leher sang mate.

Kissmark.

Menandai.

Itulah yang tengah dilakukannya.

Setelah ini mereka akan terikat dengan benang merah tak kasat mata.

Baik lahir, maupun batin...

"Arggghhh..." J-Hope menyuarakan geraman rendah saat dinding hangat Jung Kook meremasnya erat. Hanya satu kesimpulan, bunny hybrid manis ini akan klimaks.

Diliriknya Little Jung Kook di bawah sana. Tubuh mungil tersebut tampak berat, membengkak, dan berbaring pasrah dengan ujung mengeluarkan pre-cum pada abdomen Jung Kook.

Hmm... haruskah J-Hope memompa tubuh mungil tersebut dengan tangan? Atau membiarkannya seperti itu dan lihat, apakah J-Hope bisa membuat si namja manis cumming hanya dengan hentakan dari kesejatiannya?

Dan J-Hope tampaknya lebih condong pada opsi ke dua. Maka dari itu, ia terus menghentak, menghantam titik kenikmatan Jung Kook telak.

Bibir menghisap keras perpotongan leher,

Tangan kiri yang mencubit serta menekan puncak kemerahan di dada,

Sementara itu tangan kanan memegangi—meremas—paha bagian dalam yang ditekuk untuk menciptakan angle hentakan yang pas,

Dan tentu saja, hentakan kesejatian yang menyatukan tubuh mereka dengan begitu sempurna.

Oh~ semua kenikmatan tersebut rasanya terlalu berlebihan hingga mendorong Jung Kook mencapai batas limit-nya.

"AKHHH! HOPIE HYUNGHHH~!"

Ia klimaks.

Mencapai ekstasi begitu memabukkan.

Tanpa tersentuh.

"JUNGIEHH!" J-Hope menyusul dua detik setelahnya. Menghangatkan dinding ketat sang mate dengan cairan putih, dan gigi yang menggigit pelan bagian perpotongan leher yang sebelumnya ia hisap keras.

Sepenuhnya J-Hope membaringkan berat tubuhnya di atas tubuh mungil Jung Kook. Tidak memerdulikan cairan semen yang berada di antara perut dan dada mereka. Toh, ini milik Jung Kook; yang menyatukan tubuh mereka layaknya lem.

Nafas memburu J-Hope tidak lama reda begitu ia mengangkat kepala, menatap sang mate dengan penuh cinta. "Jeongmal michigo saranghae, Kim Jung Kook~" ucapnya tulus kemudian membungkuk untuk menyatukan bibir mereka dalam ciuman intens, lembut, dan dipenuhi hasrat.

Entah J-Hope yang mana yang tengah bersama si manis Jung Kook sekarang.

Apakah Jekyll?

Atau... Hyde, 'kah?

Entahlah. Apapun itu, keduanya, sisi baik maupun buruk, keduanya mencintai, menginginkan, dan membutuhkan seorang Kim Jung Kook.

Kim Jung Kook yang manis...

Kim Jung Kook yang innocent...

Kim Jung Kook yang diluar dugaan sangat agresif...

Oh, Jung Ho Seok mencintai semua yang ada pada diri Kim Jung Kook.

"Nado michigo saranghae, Hopie Hyung~"

TBC

NB: HIDUP J.V!*meskipun gak muncul dlm chap ni* HIDUP HOPEKOOK! BERJAYA! BERJAYA! \(=^3^=)/