"Hirozuno-kun!"

Yohio berbalik dengan gantengnya sambil melepas headset. Rupanya, gadis berambut sewarna selai kacang hazelnut memanggilnya sambil berlari-lari.

"Eh, Kokone-san? Ada apa?" Yohio bertanya lembut.

Kokone menghentikan larinya dengan gaya-gaya sliding mentang-mentang lantai licin. Dia meletakkan tangannya di masing-masing bahu Yohio dan mengguncang-guncangnya dengan kecepatan tinggi yang konstan.

"Inuge!" Kokone mengguncang bahu Yohio sadis sampai yang punya bahu mau muntah. "INUGE HILANG!"

Yohio batal muntah dan menepuk punggung Kokone supaya berhenti mengguncang tubuhnya.

"Aku akan mencarinya dulu, Kokone-san."

Yohio balik kanan bubar jalan dan melesat menuju kamar asramanya. Kali ini dia harus menggunakan jasa si kuda berambut permen kapas itu.

Inget kalau Yuuma pernah mengikat kontrak dengan Yohio untuk mengejar Inuge?

Iya, si anjing berjenis German Shepherd yang biasa dipakai buat polisi buat jadi smell-detector (*author dicekik*) itu dipelihara dengan baik di sekolah ini.

Jangan tanya kenapa sekolah mengutus makhluk yang didominasi warna kuning kecoklatan dengan daerah wajah, perut, dan dada berwarna hitam itu menjadi penjaga asrama. Tapi bagaimana pun juga, meskipun pihak sekolah, maksudnya, pihak trainer yang diutus sekolah sudah melatihnya untuk jinak, bukan berarti dia kehilangan kemampuannya dalam berburu.

Entah apa yang diburu oleh Inuge.

Nggak ada yang tahu.

Pokoknya, kalau sampai Inuge lewat 5 meter dari sekolah, jangan harap Inuge akan menjadi anjing manis lagi. Dia akan menerkam, menerjang, menggigit-

Oke, terlalu dramatis.

Pokoknya, kalau Inuge keluar dari lingkungan sekolah, dia akan kembali ke sifat aslinya.

Menjadi seekor pemangsa berdarah dingin.

Mungkin dia mirip dengan bayi berambut hijau imut-imut yang sayangnya hobi telanjang dari fandom sebelah.

Anak-anak pernah yang berurusan dengan makhluk bernama Inuge inipun berpikir, apa jangan-jangan Inuge itu DID.

Iya, author mulai gila.

.

.

.

Disclaimer : Vocaloid bukan punya author biadab yang satu ini. Karakter yang terlibat di cerita ini punya owner masing-masing

Warning : Standart Applied

ENJOY READING, SSU!~

.

.

.

Hari sudah mulai sore ketika Yohio panik mencari Yuuma.

Duh, kuda yang satu itu kemana?

Alasan kenapa Yohio panik adalah :

1. Nomor handphone Yuuma nggak aktif atau di luar jaringan

2. Bola Tatakae on Kyojinnya hilang

3. Senpai-senpai dari klub voli yang lagi praktik senam untuk ujian praktek sambil makan kacang ngaku kalau sepanjang hari ini nggak ada ngeliat batang hidung Yuuma

4. Ponsel Yuuma ditemukan di kamar mandi

5. Pulsanya tersisa 0.

Anjing hilang, kuda berwujud manusia, setinggi tiang, berambut bak gula kapas, pemilik bola voli dengan merk karakter Tatakae on Kyojin, itu juga hilang. Duh, duh, Yohio jadi tambah panik sekarang.

Masalahnya seandainya Yuuma pulang, Yuuma pasti bawa ponselnya. Masa sih, rumah di Nagano pulang nggak bawa alat komunikasi. Lagian, sekalinya Yuuma pulang pasti bilang terus minta izin dulu sama Lady Tuna Emperor a.k.a Luka-sensei.

Yohio menyambangi sebuah dojo tempat ekskul Kyudo berkumpul, berharap kalau Yuuma ada di situ sedang semedi sama sang bola voli tercinta, mencari wangsit untuk selangkah lebih dekat bersama Kokone.

Realita yang dihadapkan Yohio nggak sesuai dengan ekspetasinya. Yohio justru melihat si manusia paling nggak peka sedunia, si maharaja iblis penyuka es krim vanilla, siapa lagi kalau bukan Kaito, sedang menembak anak panahnya.

STAB!

Untuk sesaat Yohio terpesona. Kok Kaito ganteng ya?

Yohio menggelengkan kepalanya dramatis. Nggak, nggak, dia nggak homo. Dia maji love, maksudnya, dia 10000% STRAIGHT.

"Kai!" panggil Yohio dari jendela dojo.

Kaito berbalik dan melihat anak blasteran yang menjabat sebagai teman sekamar dan sekelasnya, Ketua Asrama anak kelas 10, anggota Komite Kedisiplinan yang sering dipanggilnya Hio itu.

"Ada apaan?" tanya Kaito dengan wajah bodohnya. Jir, padahal tadi gerakan dan ekspresinya waktu menembak itu ganteng banget.

"Liat Yuuma nggak?" tanya Yohio berusaha terdengar nggak panik.

"Uh? Kenapa emangnya?" Kaito malah balik nanya sambil melepas sarung tangannya.

"Inuge hilang!" tandas Yohio beneran panik.

"Gue nggak tahu Yuuma dimana tapi Inuge harus dicari sebelum mengamuk," ucap Kaito, tumben-tumbenan, bijak. "Lu cari bukti-bukti untuk mencari Inuge, gue summon anggota kita yang lain,"

"Si-siap!" Yohio balik kanan dan mengganti misinya.

Tu-tunggu!

Kenapa si Kaito tiba-tiba berlagak sok jadi polisi gitu?!

Apalagi maksudnya summon-summon? Dia pikir dia apa? Summoner?

Yohio berdecak lalu lanjut berlari, mencari Inuge.

.

.

.

"One! Two! One Two Three Foouurr!~"

Mikuo memberi aba-aba sebelum akhirnya menabuh drum diikuti Miku (gitaris), Rei (keyboardist), dan Rin (vokalis) masuk ke permainan masing-masing.

Tidak lama berselang, ponsel mereka berdering ramai-ramai dengan ringtone yang berbeda. Awalnya diacuhkan, karena suara alat musik mereka jauh lebih berisik, tapi rasanya aneh karena ponsel mereka berbunyi sama-sama. Apalagi ringtone ponsel Rei yang nganu banget, 'Ahh~ Ahh~ Ahh~ Ahh~', gitu bunyinya.

"Halo?/Penguasa kegelapan ada di sini, ada apa?" Rei, Rin, dan Miku menjawab dengan normal sementara Mikuo masih belum merubah sapaan telepon berbau chuunibyounya.

'Kalian dimana?' tanya di sang penelepon yang setelah dipastikan dari suaranya adalah Kaito.

"Ngh, kami sedang latihan," jawab Mikuo mewakili semuanya. Nggak nyangka Kaito bisa buat panggilan multikoneksi. Mungkin Kaito baru diberi sang ibu tertjinta pulsa dari undian susu bubuk yang menyatakan bahwa lampu menyala karena susu.

'Inuge hilang. Bantu Hio mencarinya,'

"Hah? Apa hubungannya sama kami?" tanya Miku.

'Kalian bertiga nggak tau gimana rasanya sekamar dengan orang yang ngoroknya keras. Hio kalau kecapean ngoroknya kenceng banget. Kalau kalian nggak bantu, ah! Nggak tau, ah! Pokoknya kami ingin tidur kami damai sejahtera sehat sentosa dan bisa bangun sebelum si Tuna Emperor itu mengamuk dan menghantam kami pakai tongkatnya Gakupo-sensei yang telat bangun!' cerocos Kaito seperti kereta nggak punya masinis. Eh, emang bisa?

Mikuo menggigit bibir. Terakhir, Yohio kecapean dan, demi dada besarnya pembunuh bayaran yang merangkap jadi guru bahasa Inggris seksi di fandom sebelah, ngoroknya si Yohio yang terkenal kece ini kenceng minta ampun!

Kaito, Mikuo, Yuuma, dan Len nggak bisa tidur. Earphone, headphone, sumbat telinga semuanya nggak mempan!

Mana jatah tidur mereka cuma 5 jam 59 menit (khusus Kaito dan Yuuma yang cuma 2 jam 30 menit karena ketagihan download animu musiman karena paket unlimited mereka aktifnya subuh-subuh)! Ujung-ujungnya mereka ketiduran saat jam pelajaran Gakupo-sensei.

Meskipun Gakupo-sensei nggak ngamuk, marah juga enggak, malah senyum ganteng beraura homo. Tapi siapa yang sangka mulutnya Gakupo-sensei itu ember. Apa coba maksudnya laporan si Tuna Emperor, Luka-sensei?! Mereka jadi disuruh lari keliling gedung sekolah dan gedung asrama pria sambil mungut daun berserak, 'kan?! Dikira gedung sekolah sama gedung asrama cuma selebar daun kelor?!

Hikmah yang mereka ambil adalah jangan pernah biarkan Yohio kecapean.

'Yuuma juga ilang.' tambah Kaito.

"HAAA?!"

'Makanya bantu nyari! Kita bagi tim, tiga dari kalian gabung sama Yohio buat nyari Inuge, sisanya gabung sama gue nyari Yuuma,'

Mereka bertiga bertukar pandang lalu mengangguk.

"Gue nyari Yuuma. Lu dimana?" putus Mikuo.

'Oke, gue tunggu di dojo. Gue ganti baju dulu, oh ya, kalau ketemu sama si Len- Ah, Len akhirnya dateng juga! Oh ya, kalian sisanya yang nyari Inuge langsung berpencar aja! Jaa!'

Sambungan langsung diputus Kaito.

Mereka langsung mengeluarkan barang pribadi masing-masing dan segera keluar sebelum Rin mengunci pintunya.

"Kalau ketemu Inuge, langsung tarik kalungnya dan elus perutnya. Dia langsung jinak," ucap Mikuo yang pernah dilatih menangkap Inuge.

Entah kenapa, rasanya itu malah terdengar menakutkan.

"Gue cari kuda jejadian itu dulu." Mikuo langsung berlari ke arah dojo Kaito dan Rin, Rei, dan Miku langsung berpencar ke sembarang arah.

.

.

.

"Lu yakin Yuuma hilang?"

Mikuo bertanya setelah mereka empat kali keliling gedung sekolah bersama Yohio, Kaito, dan Len dengan napas ngos-ngosan.

"Yakin seyakin-yakinnya orang yakin!" jawab Hio napsu. "Liat udah jam berapa! Udah jam setengah tujuh! Tau sendiri, 'kan, Luka-sensei ngunci gerbang jam enam?!"

"Lagian, seandainya Yuuma pergi, dia pasti nggak akan ninggalin handphone-nya, 'kan? Hari gini siapa sih yang bisa pergi keluar tanpa handphone? Langka banget tuh!" Len nimbrung.

"Handphonenya ketinggalan, bolanya hilang, Inuge hilang," Kaito berkata sambil mengerutkan keningnya. "Memang terjadi sesuatu pada Yuuma."

Tiba-tiba ponsel Yuuma yang ada di saku baju Yohio berdering. Yohio, selaku teman sekamar asrama yang baik, segera membuka kunci layar ponsel Yuuma dan mengecek notifikasinya.

Sebuah e-mail masuk dari pengirim yang menamai akunnya sebagai 'anonyμ'.

Mereka bertiga duduk melingkar dan membaca e-mail tersebut.

[From : Anonyμ

To : VY2-Yuuma66

Diberitahukan kepada seluruh teman sekamar asrama makhluk bernama Rouro Yuuma untuk membaca pesan ini baik-baik.

Teman kalian, Yuuma, lima setengah jam lagi akan disemen dan dibuang ke Aokigahara jika kalian tak bisa menemukan tempat ini...

Carilah 'Ashihara no Nakatsukuni' di sekolah kalian sebelum jam 11.30 PM.

Tertanda,

Anonyμ]

"Ashihara no Nakatsukuni itu apa?" Yohio pertama kali bersuara.

Ditatapnya tiga temannya yang lain yang sudah menukikkan alis masing-masing, mengharapkan jawaban.

"Ashihara no Nakatsukuni itu bahasa simplenya, dunia antara Takamagahara, surga dan Yomi, neraka." jawab Kaito sambil bangkit berdiri.

"Sekarang pikirkan, di sekolah ini dimanakah Ashihara no Nakatsukuni berada. Waktu kita cuma tinggal," Yohio melirik jam tangan di tangan kanannya, "lima jam dua puluh menit lagi."

Yohio, Len, Mikuo, dan Kaito mulai berpikir.

.

.

.

To Be Continued

.

.

.

Shintaro Arisa, out.