Ohayou, konnichi wa, konbang wa...^^ Chap 2 update..

Saya author pemula di dunia fanfic, mohon bantuannya.. (ojigi..)

Arigatou gozaimashita buat para reader yang udah bersedia baca fic ini..

Desclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto. And this story is purely mine.

Rate: T

Pairing: (HinataX...)Tergantung situasi..


UNPREDICTABLE

.

.

.

Chapter 2:

Hinata menekan password apartemennya dan membuka pintu perlahan.

"Tadaima." Ucapnya pelan. Saat tidak ada siapapun, ia bisa bicara dengan lancar tanpa rasa gugup sedikitpun.

"Hh, hari ini apa yang harus ku lakukan?" Gumamnya pelan sembari beranjak menuju kamarnya.

Ia membuka pintu coklat itu dan memasukinya, berbalik menutupnya dan meletakan tas sekolahnya di atas meja.

Ia duduk di atas ranjang dan meregangkan tubuhnya. "Hh, lelah sekali." Ucapnya.

Merasa badannya sedikit lengket, ia berinisiatif untuk berendam sebentar.

Selagi air hangatnya siap, ia membereskan barang-barang dan pakaian mandinya.

Ia bersenandung kecil di dalam bathtube. Memain-mainkan air yang ada di depannya.

...

Gaara memarkirkan mobilnya di basement dan bergegas menuju apartemennya di lantai 27.

Ia merasa lelah dan ingin segera istirahat. Ia menengok arlojinya yang menunjukan pukul empat sore.

Menekan password dan memasuki apartementnya dan bergegas menuju kamarnya.

Ia segera merebahkan tubuh jangkungnya di atas ranjang king size itu tanpa mengganti pakaian terlebih dahulu.

Tak berapa lama iapun terhanyut di alam mimpi.

...

Gadis bersurai indigo itu menata rambutnya di depan meja rias.

Aroma vanilla menguar di sekitar sang gadis. Ia menatap pantulan dirinya di cermin.

Gadis itu menyisir rambut panjangnya perlahan, setelah cukup rapi ia kemudian mengikatnya pony tail.

Menambah kesan imut di wajahnya yang terlihat manis. Ia tersenyum sebelum beranjak keluar dari kamarnya.

Ia menuju dapur untuk memasak makan malam. Gadis bersurai indigo itu terlihat berfikir, mengira-ngira masakan apa yang akan dibuatnya.

Dengan teliti gadis itu memotong-motong bahan yang akan digunakannya, ia berencana memasak kare untuk hari ini.

Ia melakukannya dengan teliti, Hinata sedari dulu memang suka memasak, ia sering memperhatikan kaa-san nya. Tidak heran jika gadis indigo ini mahir dengan hal yang satu ini.

Saat kare nya hampir matang, ia mencicipi sedikit sebelum benar-benar mematikan api.

"Slrp, hm kurasa ini cukup." Gadis itu kemudian mematikan kompor dan bersiap menghidangkan masakannya.

...

Saat Gaara terbangun, ternyata sudah hampir pukul enam. "Apa aku tidur terlalu lama?" Gumamnya.

Ia meregangkan tubuh, dan mendudukan diri. Setelah nyawanya terkumpul, ia beranjak menuju lemari pakaian bermaksud mengganti baju.

Ia berbelok dan memasuki kamar mandi, sepertinya membersihkan diri dulu lebih baik pikirnya.

Pria bersurai merah itu berdiri di bawah shower. Tak lama, suara tetesan air memenuhi ruangan itu.

Gaara membiarkan tubuhnya lebih lama dihantam tetesan air. Setelah cukup lama barulah ia mematikan kran dan membersihkan tubuhnya.

Setelah mandi, membuat tubuhnya lebih segar. Ia mengambil setelan kaos dan celana pendek selutut.

Ia beranjak keluar dari kamarnya. Baru saja membuka pintu, aroma yang mengundang rasa laparlah yang pertama kali ditangkap indranya.

Tadi siang ia tidak sempat makan, membuat rasa laparnya bertambah dua kali lipat sekarang.

Pria bersurai merah itu melangkah menuju asal bau itu. Dapurlah yang sekarang terpampang di depannya dengan seorang gadis berambut gelap yang memunggunginya.

Ia mendudukan dirinya disalah satu kursi di meja makan yang tepat berada di belakang gadis itu.

Mendengar kursi tertarik, sigadis yang masih sibuk dengan urusannya itu menoleh.

Ia terkesiap, mendapati si rambut merah telah duduk di sana. "G-go-gomennasai. A-aku t-tidak b-bermaksud m-me-mengganggu S-Sa-Sabaku-san." Ucap gadis itu menunduk dan berbalik untuk mengemasi makanannya.

"Hm." Gumaman tidak jelas itulah yang keluar dari bibir si rambut merah.

Sang gadis kembali berbalik menatapnya. "A-apa S-Sa-Sabaku-san i-ingin m-makan s-se-sekarang?" Tanya gadis itu takut-takut. Ia merutuki dirinya sendiri dangan kegagapan yang menjadi-jadi.

"Hm." Kembali, gumaman itu yang ditangkap indera pendengaran si gadis.

"H-hai', co-chotto ma-mate ku-kudasai." Si gadis Hyuga dengan sigap menata peralatan makan ke atas meja.

"Ha-hai'. Do-dozou." Si gadis menyuguhkan makanan yang ia buat, kemudian berjalan keluar dari ruang itu.

"Kau kemana." Suara bariton yang terdengar menghentikan langkah Hinata seketika.

Gadis itu membeku, ia merasa takut. Keringat dingin mengucur deras di pelipisnya.

"E-et-eto. A-a-aku m-mau k-ke ka-kamar se-se-sebentar." Gagapnya dua kali lipat lebih parah dari biasanya.

"Duduk saja di sini." Dengan nada perintah bagaikan ultatum bagi Hinata bahwa ia tidak boleh membantah.

Dengan langkah pelan, akhirnya gadis itu berbalik dan mendudukan dirinya berhadapanan dengan bungsu Sabaku itu.

Hinataa merasa tidak tenang, jelas dari gelagatnya yang gelisah. Gadis itu berusaha menenangkan diri sebisa mungkin.

Setelah acara makan malam yang terasa sangat lama bagi Hinata itu berakhir, ia bernafas lega.

Ternyata sedari tadi ia menahan nafas kerena takut pada bungsu Sabaku itu.

Saat Hinata akan membereskan meja, Gaara belum juga beranjak dari sana. Sepertinya ia tidak ada niatan untuk pergi dari tempat itu.

Hinata merasa pekerjaannya sangat lah berat sekarang. Jelas saja. Sedari tadi sepasang jade menatapnya lekat.

Setelah pekerjaannya selesai ia akan keluar dari ruangan itu. "S-Sa-Sabaku -san. A-aku m-mau ke ka-kamar dulu." Ucapnya.

Tepat saat akan melangkahkan kaki, "Duduklah." Suara bariton itu kembali terdengar.

"Eh, ta-tapi a-ak.."

"Ku bilang duduk Hyuga." Ucapan Hinata terpotong dengan perkataan Gaara. Jelas dari nadanya ia tidak senang dengan bantahan Hinata. Ia menekankan kata Hyuga pada kalimatnya.

Mau tak mau Hinata menuruti perintah pemuda ini, ia tak berani menolaknya.

"Kukara kita harus membuat perjanjian lagi." Suara berat itu memecah keheningan yang tercipta.

"Eh, ma-maksud Sa-Sabaku-san?" Hinata mulai tenang walupun tetap tak bisa menghilangkan kegagapannya.

"Ya, merancang ulang." Ucapnya. "Dan ku minta kau agar tidak bicara gagap di depanku." Lanjutnya tanpa rasa bersalah.

Hinata yang mendengar hanya dapat menunduk. Bukan salahnya kalau ia terlahir sebagai gadis gagap bukan?

Hinata hanya mengangguk kecil. "A-akan ku u-usahakan." Cicitnya.

"Bukan usahakan. Tapi memang harus. Dan lagi, jangan mengatakan masalah ini pada siapapun." Gaara berujar datar.

Hinata sudah hampir menangis dibuatnya. Ia menahanya sebisa mungkin agar tak terlihat lebih buruk di mata pria ini.

"A, satu lagi. Kaa-san bilang ingin berkunjung ke sini. Kau harus bersikap seperti kita pasangan suami istri sesungguhnya di depan kaa-san. Kau mengerti." Gaara menyudahi kalimatnya dan beranjak dari tempat itu.

Hinata yang sedari tadi menunduk akhirnya mengangkat wajahnya. Matanya tampak memerah, ia menahan air matanya agar tidak tumpah sedari tadi.

Gadis itu segera melangkah menuju kamarnya. Ia merebahkan diri di ranjangnya dengan menutup mata dengan tangannya.

Kejadian sebulan lalu terngiang di kepalanya.

Flashback..

"Hinata, ada yang akan tou-san bicarakan denganmu." Hiashi, kepala keluarga Hyuga itu berujar pada putri sulungnya.

"Apa itu tou-san?" Tanya sang gadis sopan. Ia tidak tergagap jika berbicara dengan anggota keluarganya.

"Ini masalah perjodohanmu. Kau tau kan, keluarga Sabaku?" Tanya Hiashi pada gadis dengan manik mata yang serupa dengannya itu.

Hinata mengangguk. "Teman lama tou-san dan kaa-san dan juga rekan bisnis tou-san." Jawab Hinata.

"Benar, kami sudah berencana menikahkanmu dengan putra bungsu mereka. Dan atas desakan ibumu, akhirnya pernikahanmu akan dilaksanakan dua minggu lagi." Jelas Hiashi.

Hinata memang tau masalah perjodohan ini. Tapi menikah dua minggu lagi? Hell No. "Tapi tou-san. Apa itu tidak terlalu cepat? Lagi pula aku kan masih sekolah." Hinata berusaha tenang.

"Kami sudah memikirkannya. Cepat atau lambat kalian juga akan menikahkan. Makanya kaa-san pikir lebih cepat lebih baik." Ujar seorang wanita dengan perawakan mirip Hinata yang berumur sekitar tiga puluh tahunan.

"Tapi kaa-san? Dua minggu lagi. Ini terlalu mendadak. Bagaimana dengan persiapannya?" Hinata berusaha mencari alasan untuk menolaknya secara halus.

"Masalah itu tenang saja. Kaa-san dan Karura,Kaa-sannya Gaara sudah menanganinya. Kalian hanya tinggal menikah saja." Jawab kaa-sannya tenang.

Skak match. Hinata tak bisa mengelak lagi. Dengan berat hati ia menerima pernikahan ini.

Padahal ia memiliki orang yang disukai. Orang yang penuh semangat dan ceria. Ia adalah senpai Hinata. Sejak tahun pertama Hinata sudah menyukainya.

Tapi sekarang, ia harus menikah dengan Sabaku Gaara. Orang yang paling ia takuti.

End of flashback..

...

Gaara terbangun pagi ini. Ia melihat jam masih menunjukan pukul tujuh. Jarang-jarang ia bisa terbangun secepat ini dihari libur.

Ia menguap dan mendudukan diri. Berjalan ke kamar madi untuk membasuh wajah kusut bangun tidurnya.

Setelah keluar, ia tampak lebih segar. Yah walaupun rambut merahnya masih acak-acakan.

Ia beranjak keluar kamar. Merasa haus, Gaara melangkahkan kakinya menuju dapur.

Membuka lemari pendingin dan menemukan air segar di sana. Ia meneguknya langsung dari botol itu dan mendudukan dirinya.

Lagi, seperti biasa ia mendengar suara sesuatu terjatuh. Ia memalingkan wajahnya dan bisa ditebak.

Seorang gadis berrambut indigo sudah roboh di ambang pintu menuju dapur.

Gaara hanya menatapnya malas. 'Memang apa yang salah? Kenapa setiap pagi dia selalu begini?' Pikir pria itu.

Tentu gadis itu pingsan. Yang ia lihat setiap bangun tidur adalah seorang pria dengan bertelanjang dada seenaknya berkeliaran.

Mungkin bagi gadis-gadis lain itu suatu pemandangan yang wow. Bisa melihat dada bidang Sabaku Gaara yang terbentuk sempurna plus abs-nya.

Gadis-gadis itu mungkin akan berteriak histeris. Tapi itu tak berlaku bagi Hinata. Si gadis Hyuga pemalu yang super penakut itu tak akan pernah melakukan hal seperti itu.

Malah saking shocknya, ia bahkan pingsan berkali-kali. Walaupun setiap pagi ia melihat pemandangan yang sama.

Dengan berat hati, Gaara akhirnya membopong gadis itu ke kamarnya. Ini pertama kalinya ia melakukan hal ini.

Ia hanya tak mau jika tau-tau kaa-san nya datang dan melihat menantu kesayangannya tergeletak indah di pintu dapur.

Gaara tak ingin membayangkan apa yang akan dilakukan kaa-san nya padanya nanti.

Saat akan melewati ruang tengah, bell berbunyi dengan nyaring. Gaara segera melihat ke pintu depan.

Gaara dapat melihat di interkom kalau kaa-san nya tengah berdiri memencet bell berkali-kali.

Saat akan berbalik pintu kayu itu tiba-tiba terbuka. Gaara yang terkejut menoleh ke belakang.

Di sana sudah berdiri Karura, kaa-san Gaara. Wanita itu juga terkejut melihat pemandangan di depannya.

"Ga-Gaara. Apa yang kau lakukan?" Karura masih menampilkan ekspresi terkejutnya.

...To be continue ...