FF BTS/YAOI/J.V/THE BEAUTIFUL HIB-CREATURES /Chapter 12

Title: The Beautiful Hib-Creatures

Author: Bang Young Ran

Rating: M *smooth-smut~*

Genre: Yaoi/Fluff/Romance/Scien-fict/AU

Length: Chaptered

Main Cast:

Kim Tae Hyung aka V ^w^ 3

Kim Seok Jin~~ 3

Support Cast:

HopeKook (J-Hope & Jung Kook)

KrisBaek (Kris & Baek Hyun EXO)

DaeBaek (Dae Hyun BAP & Baek Hyun)*ni cuma masa lalu*

DaeJae (Dae Hyun & Young Jae)

BangHim (Yong Guk & Hime~~)

MinSu (Ji Min & Suga)

Zelo (Choi Jun Hong)

Couples nyusul~

Disclaimer: BTS is Big Hit/JYP Entertainment Boy Group and their parents, and it's Youngranie fic~ muaaaachhh...*kechupbasah*

Warning: TYPO! OOC! YAOI/BoysxBoys! M-PREG! NC! NO PLAGIARISM! NO BASHING! NO SIDERS!

Summary: Di era modern sekarang ini, manusia tidak lagi terfokus dalam menciptakan kaleng besi berjalan—robot. Menciptakan makhluk hidup yang benar-benar hidup dalam bentuk lain, itulah yang menjadi fokus para ilmuan beberapa tahun belakangan. Awalnya menggabungkan spesies hewan dari jenis berbeda, dan sekaranglah terobosan baru tercipta dimana gen hewan digabungkan dengan... gen manusia.

.

.

DON'T LIKE, DON'T READ, JUST LEAVE IT, OK!?

.

.

~~( ^3)(.o )~~

.

.

TANPA BANYAK BACOT, LANGSUNG AJA CHECK IT OUT

HAPPY READIIIIIINNNNGGGGG... ^3^

.

.

.

The Beautiful Hib-Creatures

Chapter 12

Hal pertama yang menyambut V saat membuka mata keesokan paginya adalah... dada bidang dengan beberapa noda kemerahan yang terlalu nyata dan mustahil kalau dikatakan itu adalah bekas gigitan nyamuk.

Hickey.

Omo, V bahkan tidak ingat kapan dia membuat tanda-tanda seperti itu di kulit Jin. Yang dia ingat hanya... ia dilanda heat.

Mereka making love di pagi hari.

Mencapai puncak bersama-sama,

Lalu...?

Oh, Jin menangis histeris setelah mendengar pernyataan cinta darinya, dan memeluk tubuhnya seolah dirinya adalah harapan hidup terakhir di dunia ini...

... dan...?

Huft... dorongan heat kembali menyerang tubuh V begitu pelukan Jin membuat bagian pribadi mereka bersentuhan.

Mereka melakukannya lagi. Lagi. Dan lagi.

Berkali-kali.

Pagi berganti siang, siang berganti sore, sore berganti malam...

... dan malam berganti pagi lagi.

Ini gila.

Bisa dibilang, mereka baru benar-benar tidur sekitar dua jam yang lalu. Ruang mata V yang serasa kering dan sakit membuktikan hal tersebut.

V mendongak. Tatapannya tertuju pada wajah tampan Jin. Ada rasa bersalah bercampur prihatin begitu matanya menatap ekspresi tidur kelelahan sang mate. V sudah terbiasa disambut senyuman ramah Jin tiap kali ia bangun tidur. Tapi sekarang? Jangankan menyambutnya dengan senyuman, Jin malah tampak begitu memprihatinkan dengan lingkar semu hitam dan mata berkantung.

Huft... thanks for V's damn-sex addict heat hormon.

"Mianhe, Seokie. Aku membuatmu kelelahan," bisik si lion hybrid lirih sembari mengusap pelan wajah kelelahan sang mate.

Hmm... paling tidak ia bisa melakukan sesuatu untuk menebus rasa bersalahnya pada Jin, 'kan?!

Mengingat mereka belum makan apapun selain roti panggang yang dibuat Jin secara terburu-buru—menyelinap diantara jeda lima belas menit dalam gelombang heat V—sore kemarin, rasanya breakfast spesial di pagi hari merupakan ide yang bagus.

Perlahan, V melepaskan pelukan Jin dan turun dari ranjang. Ia nyaris berteriak begitu menyadari betapa seluruh bagian tubuhnya dilingkupi rasa sakit. Terlebih di bagian bokong. Mengingat betapa gilanya pergumulan yang mereka lakukan, mustahil jika V tidak akan mengalami hal seperti ini setelahnya. Apa boleh buat.

Menenangkan diri sejenak, lion hybrid imut tersebut akhirnya mampu menyeret tubuhnya keluar dari kamar. Ia memutuskan untuk membersihkan diri di kamar mandi lain, tidak ingin membuat suara sekecil apapun yang sekiranya akan membangunkan tidur lelap Jin. Mate-Nya butuh istirahat. Sangat. Butuh.

#########^3^###########

V nyaris bersenandung saat mengaduk-aduk spagetti dengan saus pedas-manis dalam pan penggorengan. Dua butir painkiller yang diteguknya seusai mandi benar-benar ampuh. Tubuh sakit luar biasa tidak lagi ia rasakan. Hanya segelintir kram yang tersisa dan tentunya bukanlah masalah besar. Terima kasih pada sang umma yang telah memberikan banyak masukan bahkan sebelum Jin dan dirinya menempati rumah ini.

"I think it's done~" V tersenyum puas melihat spagetti yang dibuatnya tampak begitu lezat. Yah, meskipun payah dalam hal memasak, setidaknya dalam meracik pasta, V bisa dibilang ahli. Ini juga tidak terlepas dari keuletan Baek Hyun yang tanpa lelah mengajari sang aegya untuk meramu makanan simpel namun lezat tersebut.

"...Yeobo?"

Sepasang telinga keemasan V bergerak mendengar suara Jin yang memanggilnya. "Aku di dapur, Seokie!" sahut si manis berseru keras.

Terdengar langkah berat mendekat. Jin yang tampak rapi dan segar muncul memasuki dapur bertepatan dengan terhidangnya dua gelas jus jeruk beserta dua piring spagetti di meja makan.

Oh, tidak ada yang lebih sempurna lagi bagi Jin; V yang manis dan mengenakan apron biru pastel menyambutnya dengan senyuman manis.

Lion hybrid imut tersebut mendekat dan meraih lengannya.

"Hi, Seokie~ tidurmu nyenyak?"

"Kkkkk, lumayan. Bagaimana denganmu, Yeobo?"

V membuat Jin duduk dengan nyaman di kursi sebelum menjawab, "mmm... tidak terlalu, sebenarnya. Tapi, aku harus memperbaiki hidup kita agar menjadi 'normal' kembali." Puncak hidung si lion hybrid berkerut pada kata normal. Membuat namja tampan di hadapannya terkekeh.

"Kkkkk~ kau tidak perlu memperbaiki apapun, Yeobo. I didn't mind if we'll fuckin' everyday. Even if everysec—"

"Tsk! Ya, watch your mouth, Young Man!" potong V dengan wajah bersemu. Mereka sudah melakukan semuanya. Hanya saja... dirinya masih berada pada tahap heat dan dirty talk seringan apapun, secara ajaib akan membangunkan adik kecilnya di bawah sana.

Itu tidak bagus.

Tidak, ketika mereka mencoba untuk sarapan pagi dengan normal di sini.

Dan... terlambat.

Sekarang pun, V dapat merasakan sesuatu menebal di balik celana pendeknya. Hal itu membuatnya berdiri gelisah di samping meja makan bundar dapur.

"Yeobo, waeyo? Kenapa berdirimu aneh begitu?"

"Hyaa, ini semua gara-gara kau! Kau tahu sendiri kalau masa heat-ku belum reda. Se-seharusnya kau jangan mengatakan – hiks, sesuatu yang akan memancing libidoku! Hiks, sekarang bagaimana!? Kita kelaparan dan kata-katamu barusan membuatku horny! Huwaaa... aku tidak bisa mengenyahkan pikiran kotor ini dari kepalaku! Ottokaji?!" V nyaris menangis, mengatakan semua dalam satu tarikan nafas. Ia terdengar setengah menggerutu dan merengek, namun lebih condong ke arah frustasi.

Jin tercengang pada awalnya. Tentu saja, bagaimana mungkin dia tidak tercengang bila mate-Nya yang cantik dan imut baru saja mengatakan kalau ia horny?! Hanya karena dirty talk ringan darinya?!

Hmmm...

Well, well, well~

"Kkkkk... Kemarilah, Yeobo," panggil Jin merdu disertai seringai menggoda di sudut bibirnya. Ia menepuk-nepuk paha, mengisyaratkan agar si lion hybrid duduk dalam pangkuannya.

Mengerti, meskipun masih sedikit cemberut, V menurut. Ia malah tampak antusias karena langsung melompat ke dalam pangkuan Jin. Duduk miring layaknya anak kecil yang tengah melaporkan kelakuan baiknya di hadapan Santa.

"Jadi apa yang diinginkan anak manis kita tahun ini? Oh, tunggu, kau tahun ini jadi anak yang baik, 'kan?" tanya Jin memulai. Tangannya melingkari pinggang kecil V sementara bibirnya bergerak, memberikan sentuhan-sentuhan lembut pada daun telinga segitiga si lion hybrid.

Tidak disangka, tubuh dalam pangkuan Jin bergetar.

"N-neh~ Santa... hhh.. a-aku jadi... hh... a-anak y-yang... hh... ba-baik tahun inihhh..." ucap dan desah V mengikuti permainan entah apapun itu yang tengah sang mate lakukan. Matanya sudah tertutup penuh ekstasi semenjak bibir Jin melakukan kontak dengan telinga animal-nya yang super sensitif.

Reaksi si manis membuat Jin terkekeh. Menurutnya heat begitu luar biasa. Bagaimana tidak? Beberapa detik yang lalu V merengek dan keberatan akan tubuhnya yang mudah sekali horny, tapi sekarang? Makhluk imut dalam pangkuannya mendesah keras dan malah ikut dalam permainan Santa-Anak Baik yang Jin buat.

Satu hal,

Ini. Akan. Sangat. Menarik.

"Kkkkk~ benarkah? Kalau begitu... haruskah aku memberimu penghargaan? Hohoho, kau ingin apa dariku, Anak Manis~?" Jin mulai mengigit daun telinga keemasan V. Satu tangannya ia bawa ke telinga yang satunya dan langsung dipermainkan dengan sangat lembut hingga membuat si lion hybrid mau tidak mau mendengkur halus layaknya kucing.

"Hurhhh.. ghurrhhh... ahhh... bherrrhhhhh... ahhh~"

Kucing yang mendesah, lebih tepatnya.

Tidak mendapatkan jawaban, Jin iseng menelusupkan tangannya yang bebas ke balik apron biru V dan...

"ANGH! Hhrrrhhh..."

Dengan nakalnya Jin meremas tubuh mungil si manis di balik celana, yang langsung dihadiahi pekikan keras diikuti dengkuran kucing. "Kkkkk~ well, well, well... karena kau tidak memberiku jawaban... aku akan memberikan sesuatu yang menurutku menyenangkan. Aku akan membuatmu 'melayang', Anak Manis~ Bagaimana menurutmu? Apakah itu terdengar menyenangkan~?" Jin berbisik seduktif.

V yang merasakan betapa pasnya telapak tangan Jin meremas adik kecilnya dari balik celana, hanya mampu mengangguk kacau. Tidak mempercayai mulutnya sendiri untuk mengatakan sesuatu.

"Tapi... bukannya kau bilang kalau tadi kau lapar, Anak Manis?"

"Eungh~! N-neh... a – hhh... aku lapar, Santahhh~" V berkata sejujurnya. Hanya saja pinggulnya yang mulai bergerak ke atas berusaha menekan si adik kecil ke tangan Jin seolah menunjukkan 'lapar' dalam arti lain.

Namun Jin mengerti. V benar-benar lapar. Begitupula dengan dirinya. Mereka butuh energi untuk melakukan 'kegiatan' ini. Energi yang sangat banyak.

Hmmm...

Ada sesuatu yang ingin sekali Jin coba.

"Yeobo, kau bisa meraih dua piring spagetti itu dan membawanya mendekat?" pinta Jin yang telah mengakhiri permainan Santa-Anak Baik mereka. Tangannya telah berhenti menggodai selangkangan V, sehingga lion hybrid manis tersebut dapat berpikir agak jernih dan melakukan apa yang Jin pinta padanya.

Begitu dua piring spagetti tepat berada di hadapan mereka, tanpa berkata apa-apa Jin langsung mengangkat tubuh mungil sang mate dan mendudukkannya di atas meja. Hampir saja V mengenai salah satu piring spagetti saat Jin menempatkannya di sana.

"S-Seokie? A-apa yang kau la-lakukan?"

Namja tampan yang ditanya hanya menyeringai sembari menjauhkan diri beberapa langkah. Ia kemudian melepas satu-persatu pakaiannya dan membuangnya asal ke lantai dapur. Menyaksikan hal ini, layaknya menonton sebuah pertunjukan striptease, V yang tengah dilanda nafsu heat membelalakkan kedua marbel cokelatnya. Tidak dapat dihiraukan jakun mungilnya yang bergerak naik-turun tiap kali helaian kain terlepas dari tubuh muscular milik sang mate.

Jin sudah naked sepe – oh, salah, hanya boxer pendek hitam yang masih bergantung rendah di pinggul.

Mengetahui dengan pasti apa dampak yang ditimbulkan dari abs liat di perutnya terhadap V, Jin sengaja menyusuri garis-garis cekung tersebut dengan puncak jemarinya pelan. "Kau suka abs-ku, 'kan, Yeobo~?" tanya-nya seduktif.

Kepala dirty blond si lion hybrid langsung mengangguk antusias, "n-neh! Nehh~!"

"Kkkkk~ kau ingin menyentuhnya? Do you wanna put that beautiful hands of yours in here when I fuck you hard, Baby?"

"Ughhhh.. neh~! I wanna do that!" Siapa yang menyangka V akan menjawab dengan suara melengking!? Makhluk imut tersebut terlihat nyaris melompat turun dari meja yang didudukinya. Dia ingin mendekat, menyentuh abs di perut Jin lebih tepatnya. Sayang, si tampan malah menghentikannya dengan berkata,

"A, a, a, Baby... No touching until you get rid off that clothes. Only naked kitten can laying hands on my super-magnum abs~" dendang Jin sembari melemparkan wink dan mengerucutkan bibir layaknya seseorang yang tengah memberikan ciuman mesra.

That kissy-face...

Fuck!

V bersumpah sebuah geraman rendah keluar dari tenggorokannya. Jin always being the fuckin' tease! For a God sake...

Tidak mau menyiksa diri lebih lama, V dengan serampangan melepas semua pakaian yang membungkus tubuh mungilnya. Ia sedikit mengalami kesulitan saat ingin melepas celana pendek beserta boxer-nya sekaligus. Namun libido heat yang tinggi membuatnya berhasil melakukannya.

Sementara Jin yang melihat keterburu-buruan sang mate nyaris memekik keras. V sangat lucu. Atau mungkin harus dikatakan, sangat. Sangat. Seksi.

Kedua pipinya memerah,

Tubuh sedikit tanning dilapisi keringat tipis...

Telinga animal yang bergerak-gerak tidak tentu arah karena dapat dipastikan si pemilik tidak lagi fokus...

Oh~

Little Jin berkedut antusias dibuatnya.

"H-hyahhhh... a-aku sudah me-melepas semuanya! Bagaimana denganmu?!" rengek atau protes V menunjuk boxer Jin sebal, seolah benda itu adalah benda yang paling tidak ingin dilihatnya di dunia.

Jin langsung terkikik. Ia juga lelah menggodai sang mate karena secara tidak langsung hal itu juga membuatnya tersiksa. Oleh karenanya, Jin melepas satu-satunya kain yang melekat pada tubuhnya dengan santai. Setelahnya ia mendekati si lion hybrid di meja dan langsung mempertemukan bibir mereka. Tangannya memeluk pinggang makhluk mungil tersebut dengan posesif.

"Heunghhh... aku lapar~" V mengeluh diantara ciuman. Membuat Jin menjauhkan wajah dan langsung menyodorkan tiga jari ke hadapan V.

"Lick it, Yeobo. Coat it with your delicious-saliva."

Dan itulah yang langsung V lakukan. Ia membuka lebar bibir penuhnya dan memasukkan tiga jemari panjang Jin ke dalam mulut.

Jin menggeram, merasakan jemarinya basah dan hangat di dalam mulut sang mate. And that sinful tongue... teasing him inside.

"Tclek~ hmm..." V menggumam dan mengeluarkan suara-suara erotis. Kedua tangannya memegangi tangan Jin agar jemari yang sedang dikulumnya tidak bergerak. Hal ini membuatnya terlihat seperti balita yang tengah menikmati lolipop dengan berusaha memasukkan seluruh permen, hanya sayang sedikit bagian saja yang mampu dikulumnya.

Shit,

Fuck,

That is too much for Jin could handle!

"Nngghhhh... su-sudah, Yeobo~" pinta namja tampan tersebut lirih.

V melepaskan jemarinya dengan suara 'pop' yang sangat nyaring. Benang saliva tampak terhubung diantara ujung jari tengah Jin dan lidah pink si lion hybrid yang sedikit terjulur.

Pemandangan erotis ini semakin mendorong libido Jin hingga ke batas limit. Tanpa aba-aba, bibirnya kembali mencium ganas bibir sang mate. Membuat makhluk imut tersebut sedikit terpekik kaget namun kemudian bersandar pasrah, menyandarkan seluruh tubuhnya ke depan, ke dalam pagutan erat Jin.

V merasakan tangan Jin membelai paha lembutnya dan menuntun kedua kakinya untuk melingkar pada pinggang namja tampan itu. Ia juga merasakan bagaimana bokongnya tidak lagi bersentuhan dengan permukaan meja, melainkan melayang di udara dikarenakan Jin mengangkatnya.

V layaknya koala yang tengah digendong oleh ibunya saja saat ini.

"ANGH! Seokiehhh~"

Telunjuk Jin yang basah oleh saliva masuk dengan mudah ke dalam otot cincin berkerut diantara bokong kenyal V. Terima kasih atas sesi-tanpa-henti yang mereka lakukan kemarin. Jin memutuskan untuk memasukkan ketiga jari berlapis saliva tersebut sekaligus. Meskipun tubuh yang dipeluknya sedikit bergetar saat ia melakukannya.

"Yeobo, apakah ini sakit?"

Mereka sudah tidak lagi berciuman karena Jin terlalu cemas dan hanya menatap wajah V saat ini.

Kepala dirty blond di hadapannya menggeleng cepat dengan mata terpejam. "Anihhh... ini ti-tidak ter-terlalu menyakitkan se – ahhh... seperti kemarin."

Jin tersenyum lega. Satu tangannya yang tengah berada pada pipi bokong kanan sang mate mulai meremas daging kenyal tersebut pelan dan lembut. Dan tidak ada yang lebih indah dari apa yang tengah dilihatnya sekarang; bagaimana makhluk imut dalam pangkuannya menggeliat dan mendesah merdu dengan mata terpejam penuh ekstasi. Wajah V yang menikmati setiap sentuhannya lebih membuat Jin senang dibandingkan wajah penuh kesakitan yang ia tunjukkan saat pertama kali mereka melakukan hubungan intim.

Kalau lion hybrid yang dicintainya begitu menikmatinya, maka tidak ada yang lebih penting bagi Jin selain ikut larut dalam ekstasi kebersamaan mereka pula.

~~~~~~\(=^3^=)(=0ɷ0=)/~~~~~~~

HopeKook Side

"Huwaaaaaaaa... tubuh Jungie sakit semua! Bokong Jungie juga! Hiks... Umma~"

J-Hope menggaruk kepala, membuat rambut hitamnya yang sudah acak-acakan semakin tidak karuan bentuknya. Ia semakin frustasi begitu mendengar tangisan keras Jung Kook barusan. Smartphone yang ia letakkan di telinga bagai tengah mengejek, tanpa henti mengatakan,

—Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Cobalah menghubungi beberapa saat lagi—

AKH!

Ingin rasanya J-Hope membanting smartphone di tangannya.

Entah kemana ayah dan ibu mertuanya pergi. J-Hope butuh salah satu dari mereka untuk menjawab panggilannya! Paling tidak... untuk sekedar memberitahu di mana painkiller atau semacam kotak P3K mereka letakkan di rumah besar ini!

"Huwaaaaa... hiks, Umma~ Appa~"

Cukup sudah.

J-Hope kembali menyusul Jung Kook ke kamar. Persetan dengan painkiller, kotak obat, stupid-smarthphone dan segala macamnya! Dia harus berada di samping Jung Kook saat ini! Jung Kook membutuhkannya!

"Jungie, mianhe, Chagi~ hyung tidak bisa menghubungi umma dan appa." J-Hope mendekati tubuh yang tengah terbaring tidak berdaya di ranjang. Jung Kook terlihat begitu menyedihkan; wajahnya benar-benar basah oleh air mata, pipi beserta hidungnya memerah akibat terus-terusan menangis.

'Ugh, kau monster, J-Hope! Lihat, apa yang kau lakukan pada Jungie?!' J-Hope mengutuk dirinya untuk kesekian kalinya pagi ini. Jung Kook, mate-nya yang manis terbaring lemah seperti ini akibat ulahnya!

"Hiks~ geure? Huwaaaa..." Tangisan Jung Kook semakin keras saja. Tangannya meremas ujung selimut. J-Hope yang melihatnya semakin merasa bersalah. Dan lebih diperparah karena selimut yang menutupi tubuh polos Jung Kook saat ini... terdapat beberapa bercak merah besar. Bercak darah. Milik Jung Kook.

God, Jung Ho Seok... you tearing Jungie's lovely-little asshole apart!

You're a monster...

"Hopie Hyung~ hiks, kenapa hyung diam saja di sana!? Hyung – hiks, tidak ingin memeluk Jungie?!"

Eh?

Entah J-Hope yang tidak fokus atau memang Jung Kook yang out of condition? Beberapa detik lalu bunny hybrid lucu tersebut menangis karena kesakitan dan tidak bisa bertemu orang tuanya. Tapi sekarang? Jung Kook malah merengek minta dipeluk?

Oh,

Baiklah~

Tanpa menunggu J-Hope langsung menyelinap ke dalam selimut dan melingkarkan lengan, memeluk tubuh mungil Jung Kook posesif. Uniknya, secara ajaib si bunny hybrid tidak lagi menangis. Ia malah memekik riang dan balas memeluk J-Hope sembari menyembunyikan wajahnya pada dada bidang namja tampan tersebut. Membuat tubuh polos mereka menempel dengan sempurna. Untunglah sebelum tidur kemarin, J-Hope menyempatkan diri membersihkan tubuh sang mate dengan handuk basah. Dan membawa tubuhnya sendiri di bawah kucuran shower setelahnya.

"Jungie Chagi, jangan banyak bergerak, ne?! Nanti tubuhmu semakin sakit," ucap J-Hope lembut. Tangannya mengusap punggung polos Jung Kook dengan gerakan melingkar, berharap dengan melakukan ini dapat sedikit mengurangi kesakitan yang sang mate rasakan.

"Tubuh Jungie tidak sesakit tadi, kok, Hopie Hyung~ Tadi, Jungie ingat kalau kemarin umma menyuruh Jungie minum obat yang ada di dalam laci saat bangun tidur pagi ini." Kata-kata Jung Kook terdengar seperti gumaman karena ia berbicara tanpa menjauhkan wajahnya dari dada J-Hope.

"Eum? Obat?"

"Ne. Kalau tidak salah... umma bilang namanya... eumm... pain... pain-killer! Yah, painkiller!"

...

Gubrak!

Jadi... untuk apa J-Hope tadi panik setengah mati mencari kotak P3K kalau Jung Kook sudah punya obat yang dibutuhkannya?! Tsk, salahmu sendiri Jung Ho Seok. Seharusnya kau menanyakannya lebih dulu pada mate-Mu sebelum panik tidak jelas.

Alhasil, J-Hope hanya bisa menghela nafas lega. Paling tidak, Jung Kook tidak lagi kesakitan.

Tunggu,

Lalu? Kenapa tadi Jung Kook terus-terusan menangis sebelum J-Hope kembali ke kamar?

"Lalu kenapa tadi kau menangis keras, Jungie~? Kau juga bilang kalau tubuhmu sakit."

Untuk kali ini, J-Hope bersumpah kalau mendengar kikikan di dadanya.

Jung Kook terkikik geli?

Kenapa?

"Kkkkk, mianhe, Hopie Hyung~ Sebenarnya sebelum Hopie Hyung kembali sakitnya sudah berkurang, tapi... karena hyung sangat lama... makanya..." Jung Kook terdengar sedikit merengut, membuat J-Hope mau tidak mau ikut terkikik dan bernafas lega.

Huft... syukurlah Jung Kook baik-baik saja.

"Aish, kau ini. Mianhe karena Hyung lama. Lain kali jangan menangis seperti itu lagi, ne?! Kau membuat hyung cemas sekali tadi."

J-Hope merasakan makhluk dalam dekapannya mengangguk cepat. Tanpa sengaja telinga kelinci Jung Kook yang bergerak antusias—menandakan si pemilik tengah gembira—menggelitiki lembut dagu J-Hope. Mengundang sebuah belaian lembut darinya.

"Ungh~!"

Dug~

Baru saja tangan J-Hope menyentuh telinga animal berbulu putih tersebut saat kaki si bunny hybrid menghentak, menendang pelan di balik selimut.

Jung Kook menjauhkan wajah dari dada namja tampan yang memeluknya dengan bibir mengerucut cemberut, "Hopie Hyung, sudah berapa kali Jungie bilang, jangan sentuh telinga Jungie~!" gerutunya sebal. Bunny hybrid manis itu tidak lagi memeluk J-Hope dan malah memegangi telinga kelincinya protektif, seolah takut kalau-kalau benda berbulu putih tersebut disentuh lagi.

Sementara namja tampan yang diomeli malah tertawa geli. Yah, Jung Kook memang sudah seringkali mengingatkan J-Hope untuk tidak menyentuh telinga kelincinya. Kenapa? Bukan apa-apa, hanya saja gen kelinci yang dimilikinya membuat Jung Kook seringkali tanpa sadar menghentak ataupun menendang-nendangkan kaki pelan tiap kali telinga tersebut disentuh. Bahkan meski ia tengah berada di alam bawah sadar sekalipun. Reflek.

"Ugh! Kenapa hyung tertawa?! Menyebalkan!"

Dengan kekanakan Jung Kook bangkit duduk, melipat tangan di dada dan menuruni ranjang dengan wajah cemberut. Ia terlihat tidak perduli kalau saat ini tubuhnya tengah naked total dan malah berjalan pincang menuju kamar mandi.

BLAM!

Pintu kamar mandi ditu – atau mungkin lebih tepatnya, dibanting, dengan sangat keras. Tsk, sepertinya bunny hybrid lucu ini punya kebiasaan membanting pintu, eoh?

Melihat lagi-lagi Jung Kook kesal padanya... J-Hope...

"GYAAAAAA! JUNGIE! NEOMU KIYEOWO~~~"

Oke, namja tampan itu tidak shock tapi malah berteriak gemas layaknya gadis remaja.-.-

Jung Kook bersikap layaknya diva. Yah, tujuh-puluh-lima persen gen sang umma, ingat? J-Hope dan Yong Guk sama saja; terpesona akan bunny hybrid ber-diva complex.

"JUNGIE! AYO KITA MANDI BERSAMA!"

Eh?

"HYUNG AKAN MEMBANTU MENGGOSOKKAN PUNGGUNGMU!"

Eh?

Setelahnya, J-Hope malah menyusul sang mate ke kamar mandi. Dan, bukannya author tidak mau bertanggung jawab, tapi... tindakan J-Hope ini tentu akan membuat serangan heat si bunny hybrid menjadi-jadi. Huft... sudah tidak bisa membayangkan, siapa yang melompati, ataupun siapa yang dilompati.

Kite serahkan semua pada HopeKook Couple, ne?#Plakk

(R: Bilang ja gak kuat!*kicking in the ass*

A: Ekhem*fake-cough* mian, saya bukan orang bejat sepenuhnya(?)*bow*)

#########^3^###########

BangHim Side

"Ukh~ ini terlalu panas!"

Him Chan mengernyitkan wajah dengan kedua tangan tidak henti-hentinya ke atas, berusaha menutupi sinar matahari yang begitu menyengat dan menerpa langsung kulit putih mulusnya.

Hampir bunny hybrid cantik itu menyerah dan memutuskan kembali ke pondok saat sebuah selimut merah terhampar di atas kepalanya. Him Chan reflek mengangkat wajah dan langsung tersenyum, menampakkan bunny teeth begitu melihat Yong Guk menyeringai lebar dengan kedua tangan memegangi selimut, merentangkannya untuk menaungi kepala mereka berdua.

"Gukie!" pekik bunny hybrid cantik tersebut dan tanpa aba-aba menghambur memeluk pinggang atletis di sampingnya riang. Yang dipeluk sedikit terkesiap dan hampir saja jatuh kalau ia tidak cepat-cepat mengambil tindakan dengan menegakkan tubuh dan menggunakan otot-ototnya di saat yang tepat.

"Aigoo~ kau hampir membuat kita terjatuh, Hime~"

"Kkkkkk... habis, kau membuatku kaget dengan muncul tiba-tiba seperti super hero~" celetuk Him Chan manja. Telinga kelincinya bergerak antusias sementara mata indahnya terpejam erat. Ia sepenuhnya menempelkan pipi kiri di dada bidang sang nampyeon, seolah berusaha merasakan kehangatan pada tubuh yang tengah topless itu.

Well, well, well...

Seringaian super lebar menghiasi wajah Yong Guk. Beginilah Him Chan kalau mereka hanya berdua di suatu tempat terpen – err... lebih tepatnya mereka saat ini berada di sebuah pantai dan menginap di pondok pribadi yang sebelumnya, dan seharusnya, menjadi tempat dimana Jung Kook dan J-Hope melakukan mating. Sayang, keduanya malah sepertinya melakukan 'hal itu' di rumah mereka. Alhasil, Him Chan dan Yong Guk melarikan diri ke tempat ini.

Oke, itu jelas sekali bohong besar.

Melarikan diri?

Oh, ayolah! Yong Guk senang sekali berada di sini!

Pondok di sebuah pantai terpencil?! Hmmm... kapan lagi dia berkesempatan membawa Him Chan ke tempat seperti ini!?

Bukannya apa-apa, hanya saja anae-nya yang sangat cantik ini selalu menolak bila Yong Guk mengajaknya berlibur. Him Chan beralasan kalau dokter tidak bisa libur sembarangan. Ehm, memang benar, sih... tapi, demi Tuhan! Yong Guk rindu menghabiskan waktu berdua saja dengan sang anae! Sudah lama sekali saat-saat dimana mereka hanya berdua melewati hari, tanpa adanya jadwal padat dari pekerjaan masing-masing.

"Aku membuatmu kaget?" Yong Guk bergumam. Kedua tangannya turun, ikut memeluk tubuh kurus si bunny hybrid hingga membuat selimut yang dipegangnya mengerudungi kepala dan menutupi sepenuhnya wajah beserta kepala Him Chan dari sinar terik matahari pantai. "Kau malah yang membuatku lebih kaget lagi, Hime, karena menerjang tiba-tiba. Dan soal super hero... kau baru tahu kalau nampyeon-Mu yang tampan ini adalah salah satunya?!"

"Tsk! Kau mulai lagi?! Super hero apa? Gummy Man?"

"Hmm..." Yong Guk terlihat berpikir. Ia cukup lama melakukannya hingga membuat Him Chan mengangkat kepala dan menatap wajah namja tampan tersebut penasaran. "How about The Strong Almighty Iron Man that saving The Princess and bring him to the cloud nine?"

Hup!

Dengan entengnya Yong Guk membopong tubuh Him Chan, membuat selimut merah yang mereka gunakan terjatuh ke pasir putih dan terlupakan begitu saja.

"Ya! Apa yang kau lakukan?! Turunkan aku! Sejak kapan Iron Man melibatkan seorang Princess, Babbo? Kau menggabungkan dua karakter dengan waktu yang bertolak belakang!" protes Him Chan tidak penting. Ia panik begitu Yong Guk membawanya ke pondok; tahu apa yang nampyeon-nya coba lakukan.

"Hime~ apakah itu penting? Karena cintanya yang begitu besar pada Sang Putri, Iron Man sampai tidak memperdulikan perbedaan waktu diantara mereka. Ia menciptakan mesin hebat dengan pengetahuannya sehingga dapat melintasi waktu dan bertemu dengan Sang Putri dari masa lampau yang dicintainya. Tidakkah itu hebat?!"

Baiklah, Yong Guk mulai terbawa cerita dongeng tidak masuk akal karangannya sendiri. Bila sesuatu berawal dari cerita, Him Chan pastilah akan berakhir di ranjang. Tidak berdaya dengan tubuh dipenuhi kissmark, keringat, rambut acak-acakan, nafas tidak teratur beserta tenggorokan yang serak karena terus-menerus meneriakkan desahan.

Role-play kinks adalah salah satu favorit Yong Guk. Ia begitu pintar mendominasi hingga Him Chan selalu tidak berdaya dibuatnya.

"Ya! That Iron Man just a cheesy-shit! Nobody can turn the time, Babbo!" Him Chan masih saja berusaha menyelamatkan diri dari pemangsa nomor satunya. Kakinya yang bergerak-gerak memberontak, sama sekali tidak memberi pengaruh terhadap cengkraman Yong Guk dibalik lutut. Namja itu malah semakin meninggikan posisi Him Chan di dadanya.

"It's all about love, Baby~ Love always find the way~"

Bibir pink kemerahan si bunny hybrid terbuka hendak melayangkan protes, namun...

"Aku serius ingin 'sepasang' lagi, Hime."

Kalimat final dari sang mate membungkam Him Chan sepenuhnya.

Sepasang aegya lagi.

Sudah lama sebenarnya Yong Guk menginginkannya, hanya saja... Him Chan tidak pernah menanggapi serius. Tapi sekarang... mengingat betapa akan sepinya rumah besar mereka... satu ataupun dua tambahan Yong Guk dan Him Chan kecil tidaklah berlebihan.

Mendesah pasrah, si bunny hybrid cantik mulai mengalungkan lengan di leher tegap sang mate. "Baiklah, kau menang, Gukie," ujarnya berbisik. Entah kenapa rona pink menguasai pipi putihnya begitu saja.

Jangan salahkan Him Chan bila situasi ini mengingatkannya akan kejadian belasan tahun lalu; dimana saat itu Yong Guk juga meminta hal yang sama. Namun bukan bumi berpasir putih, langit dan air berwarna biru. Saat itu mereka dikelilingi pohon cedar serta pondok kayu di pegunungan. Warna merah dan kuningnya dedaunan menguasai pepohonan di musim gugur.

Waktu berbeda namun perasaan yang sama.

Yong Guk benar. Cinta selalu menemukan jalan tersendiri. Waktu tidak memiliki kuasa antara dua hati. Waktu boleh terus berjalan teratur, namun cinta akan berkembang semaunya dan mengulang apa yang penting. Cinta akan membawa kembali ingatan masa lalu tanpa harus memutar waktu ke masa-masa itu.

"I always win, Baby~"

##########^3^##########

MinSu Side

—9 : 00 AM—

Angka yang tertera pada jam digital di atas nakas membuat Ji Min menggeram rendah. Ia tidak ingin bangkit dari tempat tidur dan meninggalkan namja manis dengan perut membesar yang tengah menyembunyikan wajah di perpotongan lehernya ini. Tapi mau tidak mau, ia harus bangun sekarang juga. Jangan sampai Ji Min terlambat memasuki kelas khusus jam sepuluh nanti. Sudah cukup ia mengambil cuti hampir sebulan lamanya pada waktu heat-nya dulu. Sekarang dia adalah kepala keluarga.

Suga membutuhkannya.

Buah hati mereka juga semakin bertumbuh besar di dalam perut namja manis tersebut.

Jika dipikir-pikir lagi, memang tidak mudah bagi Ji Min yang masih anak sekolahan namun berpredikat sebagai alpha. Masa heat yang datang terlalu cepat, membuat mereka harus melakukan mating dan dihadapkan pada tanggung jawab menjadi kepala keluarga di usia belia.

Untunglah Suga yang menjadi mate Ji Min telah menyelesaikan kuliah dengan predikat profesor di usianya yang terbilang sangat muda. Suga jenius, itu saja. Kejeniusan ini membuatnya bekerja sebagai salah satu ilmuan pada perusahaan cabang milik mertua J-Hope.

Kesimpulannya, untuk sementara waktu ini, Suga adalah 'kepala keluarga' di keluarga kecil mereka. Dan Ji Min berencana untuk mengakhiri hal itu secepatnya. Belajar giat dan rajin adalah satu-satunya jalan yang bisa ia lakukan.

"Heungh~" Suga sempat mengerang dalam tidur.

Ji Min yang tengah berusaha melepaskan pelukan erat namja manis itu dari tubuhnya berhenti sejenak. Ia tersenyum lembut saat Suga menggumamkan hal tidak jelas dengan mata terpejam dan kembali melingkarkan tangan ke tubuhnya.

Huft... karena inilah Ji Min tidak ingin bangun. Rasanya begitu hangat saat Suga memeluknya seperti ini. "Yoo—"

Duk~

Duk~

Panggilan Ji Min disela oleh sang aegi dengan melakukan tendangan pelan. Perut mereka yang menempel tentu membuat Ji Min dapat pula merasakan tendangan pelan tersebut. Seolah aegi mereka tidak rela kalau Ji Min pergi.

Dan seperti yang biasa terjadi bila sang aegi menendang, Suga langsung terbangun membuka matanya. Wajah manis tersebut tampak mengerinyit tidak nyaman. "Eungh~ dia menendangku..." katanya dengan suara serak khas orang bangun tidur.

Ji Min terkekeh sendiri melihatnya. Dengan gemas tangannya menggusak pelan surai hitam legam yang meskipun tengah acak-acakan namun tidak mengurangi pesona yang ada pada diri sang mate.

Entah siapa yang makhluk hybrid di sini, karena Suga langsung menutup mata dan semakin larut pada gusakan tangan Ji Min di rambutnya, layaknya seekor kucing. Tidak menutup kemungkinan kalau Suga akan tidur kembali hanya dengan usapan ini.

Tunggu,

Ji Min tersadar. Berhubung Suga sudah bangun, dia hanya perlu bangkit dari ranjang untuk segera berlari ke kamar mandi. Namun sebelumnya Ji Min menyempatkan diri mengecup berkali-kali baby bump mereka dan beralih memberikan kecupan lembut dan lama di dahi Suga.

"Jie-ah... kau akan ke sekolah?" Suga yang sudah terbangun sepenuhnya menyandarkan punggung ke kepala ranjang. Ia dapat mendengar air shower mengucur layaknya gerimis hujan, menandakan Ji Min tengah melakukan aktifitas mandi paginya.

"Ne, Yoongie~ menurutmu kenapa lagi aku rela meninggalkanmu di tempat tidur? Aku pasti lebih memilih di sana seumur hidup daripada pergi keluar," sahut si wolf hybrid sedikit berteriak melawan suara kucuran shower. Kata-katanya membuat namja manis di ranjang sedikit tersenyum diantara pouting.

Yah, Ji Min terdengar sangat dan teramat cheesy. Tapi... namja itu selalu serius dengan ucapannya. Terbukti ketika mereka melakukan mating; tak sekalipun Ji Min dan dirinya meninggalkan ranjang. Mereka melakukan sesi hubungan intim secara berkala dan baru berhenti begitu perut Suga meraung keras. Bahkan, Suga sampai tidak sadar kalau dirinya kelaparan.

"Yoongie, jangan cemberut begitu, Baby~"

Teguran tersebut menyadarkan Suga dari lamunan. "Aku tidak ingin kau per—"

Blush~

Wajah putihnya langsung memerah melihat wolf hybrid yang dicintai keluar dari kamar mandi tanpa terbalut apapun kecuali sehelai handuk putih di pinggul.

Fury-grey triangular ears...

Wet hair...

Oh... that chocolate abs...

Ji Min menyadari tatapan namja manis di atas ranjang padanya. Ia kemudian menyeringai saat tahu apa arti dari tatapan intens tersebut. Hormon Suga meningkat drastis selama masa kehamilan. Ia bahkan tidak jarang meminta Ji Min untuk 'menyentuh'nya di waktu-waktu tertentu.

Somebody gettin' boner that visible in his sweatpants...

—9 : 25 AM—

Masih ada tiga-puluh-lima menit waktu yang tersisa. Couple of minutes into quicky could be possible, right?

"Okay, Baby, I really know that look. Clothes off. Now."

Hanya butuh dua-tiga kata dari Ji Min yang membuat Suga tanpa bertanya melepas antusias satu persatu pakaiannya.

Begitu seluruh pakaian tergeletak sembarangan di lantai, Suga mendapati dirinya diserang; diserang dengan ciuman ganas yang meraup bibirnya rakus.

"Eungh~ ckmph..."

Tanpa menunggu Ji Min langsung meraih ke dalam meja nakas di sebelah tempat tidur, mengeluarkan sebotol strawberry lubricant, dan kemudian menjauhkan wajah dari sang mate. "All on four, Yoongie."

Suga melakukan apa yang wolf hybrid tampan tersebut pinta. Yah, saat perutnya membesar, memang posisi inilah yang menjadi pilihan; selain tidak akan memberi tekanan pada aegi mereka, Ji Min juga dengan lebih mudah menumbuk spot yang tepat tanpa harus menyakiti Suga.

Punggung putih mulus dihadapannya begitu menyita perhatian. Ji Min menyempatkan diri menyentuhnya lembut untuk kemudian memberikan beberapa butterfly kiss di sana-sini.

Sentuhan lembut pada punggungnya membuat Suga mendesah pelan. Tubuhnya melengkung saat telapak tangan Ji Min yang lebar meremas pipi bokongnya lembut. Bagian tersebut sempat membuat Suga tidak percaya diri dulunya karena masa kehamilan membuat berat badannya bertambah. Namun Ji Min yang selalu berkata betapa seksinya ia dengan pipi chubby dan bokong kenyal, Suga jadi mulai merubah pikiran dan belajar menyukai bagian tersebut pula.

"Ssshh, Yoongie~ I have no time. It's just a quicky, okay? So, bear with me, Baby~"

Hal berikutnya yang Suga rasakan adalah little Ji Min yang licin dan basah memasukinya perlahan. Terima kasih pada hormon kehamilan yang mengakibatkan otot cincin di bawah sana longgar karena terlalu sering dimasuki. Tapi... itu bukan berarti Suga baik-baik saja. Dia masih sedikit merasakan sakit. Dan tiada yang lebih mengerti dirinya selain Ji Min. Wolf hybrid tersebut mengambil waktunya untuk masuk perlahan dan membiarkan Suga terbiasa.

"Hya~ Ji-Jie-ahhhh..."

"Neh..., Yoongie?"

"Don't... hhh... go, pleaaasee~" Suga terdengar merengek sekaligus mendesah, merasakan penuh ekstasi tubuh sang mate yang begitu keras memenuhi rektumnya ketat. Rasanya luar biasa dan memabukkan. Sungguh suatu keajaiban karena Suga masih bisa berpikir dan mengatakan sesuatu secara benar di saat-saat seperti ini.

Jika saja dinding hangat dan ketat itu tidak meremas tubuhnya sensual di bawah sana, mungkin Ji Min akan terkekeh mendengar rengekan childish Suga padanya. Terkadang Suga yang lebih tua enam tahun sering tidak sadar telah berlaku kekanakan. Bagi Ji Min tidak masalah, Suga terlihat sangat menggemaskan. Ji Min merasa sangat berguna dan dibutuhkan dibuatnya.

Ji Min membungkuk dan memberikan kecupan lama di tengkuk sang mate. Satu tangan di kepala tempat tidur, sementara satunya lagi mengelus serta meremas pinggul kiri Suga pelan. "Aku... hhh... tidak bisahh..., Yoongiehhh... kau tahu itu. And then, stop squeezing me like that! Ukhhh... it's hurt, Baby~" protes Ji Min yang merasakan dinding rektum Suga mengetat hebat, meremas miliknya begitu kuat. Ini menyenangkan namun sekaligus menyakitkan. Entah kenapa mate-Nya yang manis selalu melakukan hal ini bila keinginannya tidak dipenuhi.

"Angghhh... so, don't go! Stay with me today~!" rengek Suga keras kepala.

Tidak ada pilihan. Ji Min terpaksa melakukan satu-satunya cara yang ia yakin seratus persen ampuh membuat Suga melayang hingga lupa segalanya.

"ANGH! No~ don't... hh... do thathhhh..." Suga memekik protes karena tangan Ji Min yang tadinya hanya meremas lembut pinggulnya kini beralih mengocok tubuh mungilnya pelan. Hal itu tentu saja membuat cengkraman dinding rektumnya pada little Ji Min melemah. "Kau cu – hmph!" Sekarang Ji Min malah menciumnya intens dan dalam. Huh, kenapa namja tampan bertubuh atletis tersebut pintar sekali memanfaatkan keadaan di saat Suga menengok padanya hendak melayangkan protes, eoh?!

Dinding hangat yang tidak lagi mencengkeramnya membuat Ji Min leluasa untuk menarik pinggul dan menghentak ke depan dengan keras. Suga sampai berteriak dan mendesah penuh ekstasi di dalam kuluman bibir Ji Min karena hentakan tersebut tepat menumbuk prostatnya telak.

"Hmphh... ckmph... hmmm... hhh..."

Tidak menyukai suara desahan favoritnya tertahan, Ji Min melepaskan bibir Suga. Benang saliva tipis terhubung diantara lidah mereka, namun tidak lama karena sang wolf hybrid langsung memutuskannya dengan beralih ke belakang, menciumi punggung mulus namja manis dibawahnya lapar.

"Ah... ah... ah... ah~"

Tiap kali pinggul Ji Min menghentak, Suga akan mengiringinya dengan desahan merdu. Mendengarnya membuat si wolf hybrid bangga; yah, hanya dia yang mampu membuat namja manis di bawahnya mendesah penuh kenikmatan seperti ini. Park Ji Min adalah mate Jung Yoo Ngi.

Jika diingat-ingat lagi, dulunya siapa yang menyangka remaja ceria berumur enam-belas tahun seperti Ji Min bisa mendapatkan Suga yang notabene adalah seorang ilmuan muda sebagai mate-nya?!

Mereka berbeda jauh.

Tentu saja.

Semua terlalu berbeda; baik dari segi fisik, sifat, bahkan tentu saja, umur.

Kulit tan bersanding warna putih pucat, periang dihadapkan seorang nerd, remaja enam-belas tahun bersanding namja dewasa berusia dua-puluh-dua tahun... yah, mereka dari sisi berlawanan.

Ji Min tidak henti-hentinya bersyukur. Pertama kalinya mereka bertemu, saat itu Ji Min berlarian—bisa dibilang dia juga menari—di lorong rumah sakit karena begitu senang akan kelahiran adiknya.

Tanpa sengaja ia menabrak seorang namja berjubah putih dengan kacamata berbingkai besar.

Namja itu terjatuh,

Ji Min berada di atasnya...

#Flashback~

PRAAANGGGG...

Suara kaca pecah terdengar nyaring, mencuri perhatian beberapa pengunjung rumah sakit yang tengah berada di koridor. Ji Min sesegera mungkin mencoba bangkit namun...

Krak~

Tangan kanannya menapak pada sesuatu hingga benda tersebut berderak patah. Sisi patahnya dengan sukses menembus daging pada telapak tangan Ji Min. Ia hendak mengutuk saat mendengar erangan dari namja yang berada di bawahnya.

Namja itu tidak lagi memakai kacamata.

Dan betapa beruntung, benda tersebutlah yang Ji Min hancurkan dengan telapak tangannya barusan.

Saat namja di bawahnya membuka mata, Ji Min rasa, itu adalah saat dimana dunia bagai berhenti berputar.

Mata cokelat itu sangat jernih. Menatap nanar dan innocent. Dua detik kemudian kening putih mulus si pemilik mata berkerut, mencoba memfokuskan tatapan karena pastinya, ia tidak bisa melihat dengan jelas tanpa kacamata.

"Eung... kacamataku... chogiyo, bisakah kau menyingkir?"

Oh~ bahkan suaranya yang berat pun terdengar merdu~~

"... chogiyo?" Namja di bawahnya memanggil dengan lebih keras, yang membuat Ji Min sukses 'menapak' kembali ke bumi.

"Eh, n-ne!? A-araso!" Dengan linglung dan gugup si wolf hybrid bangkit, diiringi suara kaca berhamburan—

Tunggu,

Kaca?

Mata Ji Min terbelalak horor begitu ia berdiri tegak, mendapati sisi perut bagian kanannya... bersarang beberapa pecahan kaca beserta satu pisau bedah.

What the...

"OMO!"

Namja yang Ji Min tabrak berteriak histeris. Ia sempat melihat namja bermata indah itu mendekatinya sembari mengatakan sesuatu dengan wajah panik. Namun hanya itu yang dapat Ji Min lihat, karena berikutnya ia sudah tidak sadarkan diri dan terjatuh ke lantai koridor.

Darah segar mengalir deras dari perut sang wolf hybrid.

Butuh dua hari lebih hingga akhirnya Ji Min dapat membuka mata. Ia menemukan dirinya berbaring di brankar rumah sakit dengan selang infus di pergelangan tangan. Dia mencoba bergerak, tapi yang ada... dia malah berteriak kesakitan setelah melakukannya.

"Omo!? Kau sudah sadar, Ji Min-ssi?!"

Suara berat namun merdu itu...

Deg!

Ji Min menoleh ke samping kiri. Matanya terbelalak mendapati namja bermata indah yang ia tabrak ternyata duduk di sebuah kursi tepat di samping brankarnya. "K-kau...?"

Well, tampaknya si wolf hybrid bingung, tidak tahu harus mengatakan apa. Mereka tidak saling mengenal, ingat?

"Oh, mian atas ketidak-sopananku. Namaku Jung Yoo Ngi. Kau bisa memanggilku Prof. Yoo. Maafkan aku, Ji Min-ssi, karena kelalaianku, aku telah melukaimu dengan perlatan lab-ku."

Namja bermata indah itu membungkuk berkali-kali. Dan... ya! Ini bukan salahnya! Ji Min lah yang serampangan berlari di koridor rumah sakit. Itu, 'kan, berbahaya!

"Gwen-gwenchanayo! La-lagipula i-itu salahku karena berlari di koridor. Seharusnya aku yang minta maaf. Maafkan aku, Prof. Yoo," ujar Ji Min dengan wajah memerah malu. Entah karena mengakui kesalahannya, atau karena wajah Prof. Yoo yang manis berada begitu dekat dengannya saat ini?

Eumm... masih belum mengenakan kacamata.

"Maaf. Soal kacamatamu," tambah Ji Min penuh penyesalan.

Namja manis di samping brankar tersenyum.

Ji Min bersumpah kalau nafasnya langsung tercekat melihat senyuman indah itu. Bagaimana marbel cokelat si namja manis bersembunyi karena kelopak matanya langsung melengkung serupa bulan sabit begitu ia tersenyum...

"Gwenchanayo~ lagipula namdongsaeng-ku memang sudah lama menyuruhku untuk menggantinya. Katanya aku terlihat sangat ketinggalan zaman memakai kacamata itu. Hahahaha~"

Deg,

Deg,

DEG!

"AGH~!" Ji Min yang tadinya hendak memegangi dada karena merasakan jantungnya berdebar terlalu keras, terpaksa mengerang kesakitan. Bagaimana tidak? Cobalah melakukannya dengan tangan yang terluka dalam, meskipun dibalut perban.

Melihat hal itu, namja manis di samping brankar langsung bangkit berdiri. Dengan panik ia meraih pergelangan tangan Ji Min perlahan, kemudian memeriksanya. "Jangan digerakkan dulu, Ji Min-ssi. Lukanya cukup dalam. Kau akan pulih satu atau dua bulan ke depan, jadi—"

Deg~

Apa yang akan diucapkan sang namja manis tercekat ditenggorokan tatkala matanya bertemu dengan marbel cokelat gelap si wolf hybrid.

Omo~ wajah mereka terlalu dekat...

Ottokaji~?

Deg,

Deg,

Deg~

'Kenapa aku jadi berdebar?' Sang profesor muda membatin bingung.

Well, ini seperti halnya melakukan pelanggaran terhadap sesuatu. Bagaimana mungkin jantungnya berdebar saat menatap mata seorang remaja berusia enam-belas tahun? Diakuinya wolf hybrid di hadapannya ini sangat tampan tapi, ini kejahatan, 'kan? Dia normal. Dia bukan... pedophil. Dia tidak mugkin tertarik pada...

"Profesor Yoo, mau berkencan denganku?"

Kata-kata tersebut melewati bibir Ji Min begitu saja. Entah kenapa otaknya langsung berteriak, memerintahkannya untuk mengatakan hal itu.

Sementara namja manis yang diajak...

Reaksi yang terpampang begitu menggemaskan; bibirnya yang penuh dan berwarna pink terbuka lebar, membulat, membentuk huruf 'o'. Dan marbel cokelat hangat tersebut terbelalak lebar. Jangan lupakan pipinya yang mulai menunjukkan semburat pink kemerahan.

Ji Min yang tadinya hendak mengutuk diri begitu tersadar telah melakukan tindakan nekat, mengurungkan niatnya. Reaksi sang profesor membuat jantungnya semakin berdegup kencang. Sesaat ia menyadari bahwa... memang inilah yang ingin dilakukannya. Ji Min serius.

Sepertinya... ia... jatuh cinta.

He's fall in love with the adorable-beautiful creature that holding his injured palm and stares him with the adorable expressions on his face...

"Boleh."

His beautiful deep voice...

Siiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiinnnnnnnnnnnnnnnnnnnnngggggg...

"MWO—AGH!" Ji Min terpekik, dan berteriak kesakitan dalam sekejap.

Huft... tidak seharusnya dia bangkit begitu saja. Lihat sekarang apa yang terjadi, perban di perutnya yang sebelumnya berwarna putih bersih, sekarang berubah warna di sisi kanan dengan warna merah cerah. Kemungkinan tiga atau empat jahitan baru saja terlepas.

"ASTAGA! Ji Min-ssi, jangan bergerak dulu!" Profesor muda di samping Ji Min semakin panik dibuatnya. Untuk pertama kali dalam hidup, tangannya gemetaran saat menekan luka seseorang.

Ji Min meringis kemudian kembali berbaring tenang. Keningnya berkerut dengan nafas memburu, berusaha menahan sakit teramat sangat. Tapi...

"Ssssshh... jadi kau mau berkencan denganku?"

Tsk! Wolf hybrid ini masih... saja menanyakan hal itu. Sang profesor sampai menggeleng tidak percaya.

"Aigo, Ji Min-ssi, kau tidak bisa ditebak, ne? Ya, aku mau berkencan denganmu dan, jangan panggil aku dengan sebutan 'kau'! Aku lebih tua enam tahun darimu."

"Lalu aku harus memanggil apa?"

"Panggil aku Yoongie Hyung."

Gelengan cepat dari kepala bersurai hitam yang dihiasi telinga segitiga abu-abu, Ji Min berikan. "Yoongie, kalau begitu," ucapnya final tanpa embel-embel 'hyung'. Seolah, si namja manis tengah mengajukan usulan saja, membuatnya ingin melayangkan protes namun apalah daya bila dari segala spesies hybrid, serigala adalah tipe yang paling agresif. Makhluk tampan itu bangkit duduk dan menangkap bibir penuh sang namja manis tanpa aba-aba.

Yoongie, ilmuan muda yang lebih akrab disapa Suga oleh teman-temannya, tercekat.

Apakah ia... telah salah mengiyakan ajakan dari seorang remaja ceria, tampan dan... sangat agresif?

Omo, ini merupakan hal baru bagi seorang kutu buku seperti Suga. Dia tidak pernah berkencan sebelumnya. Kacamata berbingkai besar yang selalu ia kenakan, plus tatapan jangan-dekati-aku-kau-manusia-bodoh yang tanpa sadar seringkali ia perlihatkan, membuat orang-orang tidak ingin mendekatinya.

Secara garis besar saja, Suga tidak pernah diajak kencan. Ji Min adalah orang pertama yang melakukannya dan jelas, wolf hybrid itu adalah orang pertama yang mencium bibirnya. Namun... kenapa Suga menggerakkan bibirnya dengan santai? Dia tidak tahu-menahu mengenai cara berciuman sebelumnya, ia bahkan tidak ingat kapan ia menutup mata dan menikmati ciuman mereka—

Tunggu,

Ya, Tuhan... Suga baru saja melakukan kejahatan dengan menciumi anak di bawah umur!

Tersadar, namja manis tersebut menapakkan kedua telapak tangan di dada bidang Ji Min, bermaksud mendorongnya. Tapi... tangan si wolf hybrid malah mengunci pergelangan tangannya dan membiarkan telapak tangan tersebut menapak di sana.

"Mianhe," bisik Ji Min lirih. Bibirnya menempel dengan bibir penuh si namja manis. Nafas memburu keduanya beradu begitu wolf hybrid tampan tersebut menempelkan dahi mereka. Entah karena ciuman, atau karena debaran jantung yang tidak normal.

"Ji-Ji Min-ssihh... a-apa yang... terjadihh...?" Suara Suga bahkan nyaris tidak terdengar saking pelannya. Jujur, dia tidak tahu harus berkata apa; pertanyaan yang barusan terlontar pun, terdengar... membingungkan.

Apa yang terjadi?

Mereka baru saja berciuman!

Kenapa Suga tidak mendorong makhluk hybrid yang menciumnya lebih keras?

Dia... tidak bertenaga. Sekujur tubuhnya bagai meleleh saat bibir Ji Min memagut bibirnya.

Kenapa?

"Entahlah, firasatku mengatakan... kita adalah—"

Bruk!

'Mate~'

Ji Min hanya mampu menyelesaikan kata-katanya membatin. Ia jatuh pingsan di brankarnya dengan balutan perban yang berlumuran darah. Huft... tidak seharusnya tadi ia bangkit duduk begitu saja.

"JI MIN-SSI!"

Meninggalkan Suga yang berteriak kaget dan tentu saja, panik setengah mati.

Setelahnya, Ji Min mendapatkan jahitan kembali. Pergerakan yang wolf hybrid itu lakukan sukses membuat sepuluh jahitan terlepas. Beberapa orang dokter sempat bertanya bagaimana hal itu bisa terjadi, tapi... tentu saja Suga tidak bisa menjawabnya dengan jujur.

Ji Min terjatuh di kamar mandi.

Alasan itulah yang mereka berdua sepakati.

Kemudian hari-hari Ji Min di rumah sakit bagai sebuah keajaiban. Suga seringkali menemaninya. Bisa dikatakan, Suga layaknya perawat pribadi Ji Min. Dengan mudah keduanya menjadi akrab. Ji Min bahkan dengan santai memperkenalkan Suga pada kedua orang tuanya; berkata bahwa namja manis itu adalah namjachingu-nya meskipun tidak pernah ada kesepakatan kalau mereka berdua menjalin hubungan khusus.

Ji Min memang suka sembarangan. Dia beruntung Suga tidak keberatan dan membiarkannya begitu saja.

Lalu? Apakah Suga tidak perduli?

Bukan. Dia hanya... masih ragu. Namja dewasa menaruh perhatian pada seorang remaja adalah suatu kejahatan besar baginya. Tetapi sialnya, remaja itulah yang membuatnya jantungnya berdebar tidak karuan seperti ini!

Suga bingung sendiri dibuatnya.

Keragu-raguan tersebut musnah begitu pada akhirnya, setelah Ji Min dinyatakan pulih dan diperbolehkan pulang oleh dokter, mereka melakukan kencan yang sebenarnya di sebuah taman hiburan.

Ji Min adalah namja yang hangat,

Tawa riangnya...

Senyuman yang membuat orang-orang juga ikut tersenyum...

Dan lengan kekarnya yang selalu memeluk Suga protektif saat mereka tengah berdesak-desakan dengan pengunjung taman yang lain.

Suga merasa aman dan nyaman.

Dia mulai berpikir kalau hanya di dalam pelukan sang wolf hybrid lah ia akan merasakan kehangatan seperti ini.

Ji Min adalah first kiss-nya.

Hanya Ji Min yang membuatnya berdebar dan merasakan panas menjalari pipi hinga ke telinga.

Suga jatuh cinta pada wolf hybrid yang berusia enam tahun di bawahnya.

Ini gila?

Tidak.

It is love.

Some people says that, 'age is just a counted of number'. Right?

"Yoongie, saranghaeyo. Maukah kau menjadi mate-Ku?"

Ji Min berpikir mengungkapkan perasaan di tengah laju pelan komedi putar adalah hal yang paling romantis di dunia. Well, dia benar; itu sangat, sangat romantis. Wajah putih berseri milik Suga sampai memerah parah.

"Ne, Ji Min-ssi, aku mau. Na-nado saranghae," jawab Suga tersipu.

Di tengah laju pelan komedi putar, terlihat sesosok wolf hybrid bertelinga abu-abu tengah mendekatkan wajahnya pada seorang namja manis bersurai hitam.

Mereka berciuman.

Untuk kedua kalinya...

Pelan, penuh perasaan seolah mengikuti ayunan berirama dari komedi putar.

#End Flashback~

Ji Min tersenyum lembut. Di saat keluarganya dianugerahi penghuni baru, Tuhan juga memberinya hadiah; ia bertemu dengan mate-nya yang manis, baik hati, dan juga seorang jenius bernama Jung Yoo Ngi.

"Yoongie~" panggil Ji Min lembut tanpa menghentikan pergerakan pinggulnya di bawah sana.

"N-nehhh~?"

"Terima kasih telah melukai perutku waktu itu."

Suga bukanlah berada pada tahap dimana ia dapat berpikir jernih saat ini. He's in the cloud-nine, for a God sake. Dia tidak mengerti apa yang saat ini sang mate bicarakan. "H-hyahh... k-kau... ah... hh... ini bi-bicara apahh...?!"

Wolf hybrid yang ditanya malah tersenyum. Tanpa menjawab ia membungkuk, menolehkan kepala Suga pelan ke samping untuk mempertemukan bibir mereka.

Ciuman basah dan panas yang Ji Min berikan membuat tubuh Suga bergetar sementara desahan mengalir lirih di dalam pagutan bibir keduanya.

"Hmmphh...oh~ hh..."

Segala hal terlalu berlebihan dirasakan si namja manis; baik dari tangan kiri sang mate yang dengan lembut namun penuh tekanan mengurut tubuh mungilnya, tangan kanan yang tadinya memegangi lembut dagunya telah beralih pula menyentuh baby bump mereka dengan tak kalah lembutnya, hingga... little Ji Min yang meskipun tidak lagi melakukan pergerakan, tapi bersarang sempurna memenuhi rektum Suga.

"Ji-Jie-ahhhh..."

Entah berapa lama keduanya berada pada posisi luar biasa intim tersebut. Yang pasti, Suga mendapati nafasnya terengah dengan suhu tubuh yang bisa dikatakan tidak lagi normal; terlalu panas dan hawa basah bagai menguap di mana-mana.

"Terima kasih telah memberiku kebahagiaan, Yoongie. Saranghae~" bisik Ji Min di telinga memerah Suga sebelum akhirnya mengulum daun telinga tersebut dan tanpa menunggu jawaban apapun dari sang mate, ia mulai kembali menggerakkan pinggulnya.

"AH, AH, AH, AH! J-Jiehhhh... a – AH! Akuhhh... nghh~ AKH! JIE!"

Suga klimaks. Cairan hangat menyembur dari tubuh mungilnya dalam dua-tiga kali tembakan keras, mengenai tangan kiri Ji Min, mewarnai bad cover sutera hitam di bawahnya dengan warna putih semu.

Seluruh persendian si namja manis berubah bagai jelly, mungkin saja dirinya akan roboh jika sang mate tidak memegangi pinggulnya dengan kokoh dari belakang.

Ji Min masih bergerak di belakang. Dalam dua kali hentakan keras ia pun mencapai puncak dengan nama 'Yoongie' diteriakkannya. Ji Min tahu betul posisi Suga saat ini tidak begitu membuatnya nyaman. Turun dari 'ketinggian', ia menarik keluar little Ji Min kemudian tubuh si namja manis dibawa berbalik hingga sekarang punggungnya dengan nyaman berada di ranjang dan wajah manis yang Ji Min sukai sekarang menghadap padanya.

"Gwenchana, Baby?" tanya si wolf hybrid penuh perhatian.

Suga tersenyum dan menggeleng pelan, "nan gwenchana, Jie-ah~" jawabnya sedikit tersengal. "Oh, nado saranghae. Nan jeongmal heungbeokkahe, Chagiya~" Suga menambahkan, menjawab pernyataan cinta dan rasa bahagia yang sebelumnya Ji Min sampaikan padanya.

Ji Min balas tersenyum lebih lebar, nyaris memperlihatkan gusi. Ia hendak membungkuk untuk menciumi bibir penuh Suga ketika tanpa sengaja matanya menengok pada jam digital di meja nakas samping tempat tidur.

—9 : 55 AM—

"GYAAA! AKU TELAT!" Ji Min berteriak seperti yeoja. Dengan serampangan wolf hybrid tersebut bangkit dan berlari ke kamar mandi.

Sementara Suga?

Well, dia hanya tertawa. Seharusnya Ji Min belajar dari pengalaman. Tidak ada kata 'quicky' dalam kamus hubungan intim mereka.

Huft... apa boleh buat, sepertinya Suga terpaksa menelepon ke sekolah untuk membuat izin 'sakit' bagi sang mate. Lagi.

TBC

NB : HIDUP J.V! HOPEKOOK! BANGHIM! MINSU! J.V BERJAYAAAAAA!\(=^0^=)/