Judul : Fairly
Chapter : 1
Author : swaggerbubble
Rated : T
Cast : always KaiHun & this is BL
Oke , good Luck
Happy Reading
Lelaki itu berlari sekuat tenaga menyusuri trotoar yang panas karena sinar matahari mulai menyengat tanpa kompromi , seiring berputarnya jarum jam kearah kanan . Belum lagi polusi dan derum kendaraan bermotor yang memenuhi jalan , seakan ingin menunjukkan kepada semua orang bahwa pagi sudah bena-benar beranjak pergi .
Sehun terus berlari sampai kakinya terasa pegal dan lemas . Bahkan saat sekolahnya sudah mulai terlihat , ia masih belum bisa bernapas lega karena pintu pagar yang hanya terbuka sedikit tersebut pasti sebentar lagi akan semakin tertutup rapat setelah di gembok agar siswa yang terlambat tidak bisa masuk . Akhirnya dengan segenap tenaga terakhir yang dimilikinya , Sehun berlari lebih cepat dari sebelumnya .
"Chankkaman , kumohon jangan di tutup dulu !" seru Sehun benar-benar panic ketika sampai tepat di depan pagar .
Namchoon-ssi , penjaga sekolah yang sedang menyentakkan pintu pagar ,menghela napas panjang saat melihat Sehun . Tangannya membuka kembali sentakan itu .
"Ya ampun Sehun , telat lagi ?" Namchoon-ssi berdecak heran .
"Tidak telat , buktinya saya sudah masuk sebelum pagar terkunci . benar kan ." Sehun langsung nyengir sambil sambil membela diri , lalu mengingatkan dirinya untuk membelikan namchoon-ssi sekotak makan siang untuk balas jasa karena sering membantu tiap kali ia hamper terlambat .
"Pagarnya memang belum terkunci . Tapi bel berbunyi sudah 5 menit yang lalu ." Namchoon-ssi melihat jam kulit tuanya .
"Baiklah , baiklah . saya tidak akan telat lagi . Janji ." Sehun menunjukkan jari tengah dan telunjuknya yang telah di renggangkan membentuk kode swear pada Namchoon-ssi .
Kemudian sebelum Namchoon-ssi , sehun menyelinap masuk ke area sekolah dan berlari menuju kelas . Jam pertama hari ini diisi oleh Jung sonsaengnim , guru yang sangat disiplin dan terkenal galak . Terlambat 5 menit saja di jam pelajarannya , sama saja dengan sindiran tajam smpai jam plajaran usai .
Pengalaman itu pernah dialami Kyungsoo , teman sekelas Sehun , yang telat gara – gara ketinggalan bus karena kesiangan . Selain kena sindir ini – itu , Kyungsoo terpaksa jadi "pembantu" kelas . Disuruh buang sampah , hapus papan tulis , bahkan mengambil beberapa buku yang tertinggal di kantor guru yang jaraknya ribuan kilometer – alias jauh banget – dari kelas sehun .
Bagi Jung sonsaengnim , kedisiplinan kunci utama menuju sukses . Ibu guru satu itu tidak akan pernah mau bertoleransi soal anak – anak didiknya yang terlambat , apalagi dengan alasan tidak bisa bangun pagi . Maka dari itu terlambat di jam pelajaran Jung sonsaengnim – terutama kalau di jam pelajaran pertama – adlah kutukan besar !
Sehun dalam hati memaki bus yang terlambat muncul hari ini . Bukan hanya membuat Sehun telat , tetapi juga membuat penampilannya yang sudah lumayan rapi jadi kacau – balau . Ia juga merutuki mobil mamanya yang sudah beberapa hari ini masuk bengkel hingga mengharuskannya naik kendaraan umum .
Dengan masih berlari – lari kecil , Sehun berusaha merapikan rambutnya yang berantakan . Letak kelas Sehun memang tidak strategis , di ujung koridor , dekat dengan toilet dan kantin . Seoul High School memang tidak begitu besar , tetapi jika sudah telat gedung sekolah jadi terasa seluas dua kali lapangan sepak bola .
Saatmasuk kelas Jung sonsaengnim belum terlihat di singgasananya ! benar-benar keajaiban ! Sehun langsung menghela napas lega . dengan . Dengan langkah lebih santai , ia melenggang ke kursinya kemudian menyeka keringat dengan punggung tangan kanan .
"Hun ! telat lagi , kenapa ?" Tanya Sehun dengan air muka yang tak jauh beda dengan Namchoon-ssi tadi , heran dengan kebiasaan telat Sehun . Di minggu ini saja Sehun sudah telat tiga kali dengan berbagai alas an .
"Jam beker milik ku mati ." jawab Sehun seadanya .
"Bohong ! pasti pasti kelamaan main – main di kamar mandi ." Baekhyun langsung tidak percaya.
Sehun hanya meringis mendengarnya . Ia memang buka tipe anak yang suka bebek karet . Namun , ia selalu berlama – lama mandi supaya harum dan tidak lupa berpakaian rapi plus memakai parfum , biar makin siip gituu .
"Baekhyun sok tau deh !" jawab Sehun ketus sedangkan Baekhyun hanya geleng-geleng sambil berdecak mirip Namchoon-ssi (lagi) .
"Good Morning students ! Sorry I`m ten minutes late today ." Suara redah Jung sonsaengnim terengar tiba – tiba . membuat kebisingan di kelas mendadak lenyap . Jung sonsaengnim meletakkan beberapa lembar kerja dan buku absen yang di bawanya di meja . beberapa menit kemudian , Jung sonsaengnim mulai mengabsen satu per satu muridnya .
Pelajaran pun dimulai . materi kali ini adalah narrative , pendalaman materi kelas sebelumnya agar para murid tingkat akhir semakin siap menghadapi Ujian Kelulusan . membahas teks – teks membosankan terkadang membuat banyan mata mengantuk . belum lagi Jung sonsaengnim mengajar dengan suara mengalun halus dengan aksen bahasa inggris yang terdengar aneh . Pas sekali di jadikan obat tidur .
Sambil menyegarkan mata , Sehun sesekali melirik JongIn yang duduk di samping Chen . Dengan lirikan cepat , wajah tampan Jongin langsung terlihat jelas dan mnghilangkan kantuknya .
Jongin menyadari kalau Sehun meliriknya setiap tiga puluh detik , hal ini membuatnya jengah . Dia bukan patung atau pajangan yang bisa dilihat – lihat sesukahati tanpa merasa terganggu .
Ketika untuk kesekian kalinya lagi Sehun meliriknya , Jongin akhirnya angkat bicara " Sudah delapan belas kali kau melihat ku terus menerus , apa menurut mu aku tidak akan terganggu dengan kegiatan mu itu ! Lagi pula untuk apa pergi kesekolah jika bukan pelajaran yang kau perhatikan ?" Suara Jongin hamper terdengar oleh seluruh isi kelas . Sehun langsung merasakan pipinya memanas .
Benar – benar keterlaluan ! Dalam hati Sehun memaki . Ia memang sudah menyukai Jongin sejak pertama kali masuk Seoul High School . Tetapi bukan berarti Jongin bisa seenaknya , memepermaluka sehun di depan banyak orang seperti itu . Lagi pula , Sehun kan hanya melihat saja . Tidak sampai terbit air liur kok !
"Aku …" Sehun terbata – bata . "Aku .. siapa bilang aku melihat mu ? Dari tadi aku melihat Chen!" Sehun menghela napas . Niat hati ingin memaki Jongin , apa daya mulut tak sanggup .
"Cieeee .. " tiba – tiba terdengar seruan seseorang . Sehun langsung tau siapa provokator nya . Itu pasti Ace! Ketua kelas yang sikapnya memang menyebalkan karena suka sekali mengejek orang lain.
"Sehun ketahuan diam – diam ngelihatin Chen ."
"Cuit – cuit …"
Sorakan lainlangsung bersusulan memenuhi kelas . sehun memejamkan mata , berdoa supaya hal ini hanya sebatas mimpi dan sebentar lagi ian akan terbangun di kelasnya yang nyama . Saat membuka mata , bukan kamarnya yang ia temukan , tapi kelas yang riuh dengan sorakan yan lebih heboh lagi di telinganya . Sorakan dari sang provokator utama .
"Lupaka saja jika yang baru saja kau ucapkan itu adalah impian terbesar mu . Kau Sendiri pun sudah tau jawabannya yakan? Mimpi mu tak akan terkabul ! Jadi lebih baik kamu cari saja mimpi yang lain . Kau ingin apa ? Liburan ke luar negri ? Atau … ingin ke Lotte World saja yang dekat ? Pasti akan ku kabulkan untuk mu , sayang ." kata Kai santai , walau intonasinya berbanding terbalik dengan hatinya yang sedang risau . Karena dia sama sekali tidak menyangka , Shi Xun mengajaknya datang ke sekolah pagi –pagi hanya untuk menyatakan bahwa hubungan di antara mereka harus berakhir hari ini !
Sementara itu Shi Xun memandang kesal lelaki dihadapannya ini . Kenapa Kai tidak mau menyerah juga ? Padah Kai sudah mengerti arti kata "berakhir " yang Shi Xun ucapkan barusan pasti bukan yang terakhir , bahkan ini juga bukan permintaan "putus" yang pertama dari bibir Shi Xun . Jadi Shi Xun tidak akan pernah melupankan mimpinya untuk mengakhiri hubungannya dengan Kai !
"Tapi aku mau hubungan ini berakhir ." Shi Xun menantang mata elang Kai yang menusuk . untuk pertama kalinya , setelah setalah berpuluh – puluh kali kata putus yang telah ia lontarkan selama ini – yang hanya berujung sia-sia karena Kai yang selalu menentangnya dan shi xun selalu diam dan pasrah tanpa perlawanan –Shi Xun berani melawan .
"Shi Xun." Desis Kai tajam .
"Ada apa ? kenapa ka uterus saja memanggil-manggil namaku ? Aku sudah benar-benar tidak tahan dengan mu , kau tahu ? Aku tak tahan dengan sikap mu yang mengekang . Aku bukan boneka yang biasa dengan mudahnya kau atur-atur . Lebih baik akan ku cari saja lelaki lain yang bisa menghargai kebebasan kekasihnya . hubungan kita berakhir ! Aku tidak mau tahu , kita berakhir sampai di sini saja !" omel Shi Xun panjang lebar . Ia menghela napas panjang setelah mengungkapkan sederet kata-kata yang berhasil menguras tenaganya itu .
"KITA TIDAK AKAN PERNAH BERAKHIR !" tegas Kai ketika emosinya mulai mencuat , setelah sikap pura-pura tenangnya hilang mendengar sederet kata-kata yang menyakitkan dari Shi Xun .
Dasar psikopat ! gerutu Shi Xun dalam hati .
"It`s not my bussiness ." balas Shi Xun tanpa minat . Ia kemudian beranjak meninggalkan Kai di deretan bangku kantin yang masih sepi karena murid-murid Lijiang High School memang jarang sarapan di kantin .
Sementara itu , di bangkunya , Kai menutup mata , rahang nya terkatup rapat . Sekuat tenaga dia menahan amarah dan emosi agar 2 mangkuk ramen di depannya yang sama sekali belum tersentuh , tidak akan melayang atau jatuh berserak sebagai pelampiasan amarahnya .
Shi Xun meremas-remas foto Kai yang sekarang sudah hancur ditusuk – tusuk pensil . Kalau saja Shi Xun orang yang sadis , pasti sudah dari kemarin – kemarin Kai ia guna-guna .Tapi untungnya ia masih punya hati nurani , jadi ia urungkan niat yang pernah muncul di benaknya itu .
Drrt…Drrt…Drrrt …
Getaran di ponsel nya membuat Shi Xun melihat layar ponselnya yang berkedip – kedip , walau sebenarnya tidak perlu , kaena Shi Xun tahu siapa yang menelponnya .
Shi Xun mendesah lega saat ponselnya berhenti berkedi – kedip dan dengan segera ia mengubah profil ponselnya menjadi silent . Dengan geram , ia meletakkan ponselnya asal-asalan dan
Ketika terbangun satu jam kemudian , shi Xun melihat ponselnya lagi . 27 missed calls and 5 new messages . Shi Xun tersenyum sinis saat membaca pesan yang semuanya berasal dari Kai .
Pesan Pertama …
Kenapa kau tak mengangkat telponku ?
Pesan Kedua…
Sedang dimana kau ? Apa kau tak mendengar telponku dari tadi ?
Pesan Ketiga …
Apa kau sedang bersama lelaki lain ? Hingga kau tak mengangkat telponku ?
Pesan keempat …
Shi Xun , kumohon angkat telpon ku atau setidaknya balas pesan ku . atau kau mau kita bertemu nanti , dan akan jadi sangat panjang ceritanya !
Pesan Kelima …
Shi Xun!
Tidak salah aku mengakhiri hubungan ini! Batin Shi Xun setelah membaca pesan-pesan Kai yang mengintimidasi . Kenapa hidupnya sesial ini , hingga bisa berhubungan dengan Kai ?
Sepertinya aku membutuhkan bantuan pihak ketiga untuk mengkahiri hubungan ku denganku dengan Kai , piker Shi xun kesal . Satu-satunya bala bantuan yang terpikir olehnya saat ini adalah papanya . Walaupun selama ini papa selalu menganggap Kai menantu idaman yang bertanggung jawab dan tulus mencintai shi Xun , ia yakin pikiran papanya akan terbuka lebar begitu membaca pesan-pesan Kai barusan .
Yes! Serunya girang dalam hati , memberi tepuk tangan yang meriah untuk idenya yang brilian tersebut . Setelah ia curhat habis-habisan dan papanya percaya , esoknya papa pasti akan langsung member mandate pada Kai untuk menjauhi Shi Xun , untuk selamanya . Dan bisa dipastikan , Kai akan langsung gentar dan memutuskan mundur teratur dari hidup shi Xun .
Dengan semangat baru Shi Xun meraih ponselnya kembali , menggenggam erat di dada seolah harapan terakhir hidupnya ada di dalam ponsel tersebut dan dengan langkah pasti berjalan keluar kamar menuju kamar papanya .
Shi Xun membuka pintu kamar papanya yang tak terkunci . Dengan jelas ia bisa melihat papa terduduk di tepi kasur , tertunduk lesu .
"Pa?" bisik Shi Xun pelan . Papa yang tak menyadari kehadiran Shi Xun sebelumnya , tersentak dan segera menatap shi Xun .
"Shi Xun ? Ada apa sayang . Sudah larut malam kau belum tidur ?" Tanya papa gugup . Shi Xun memperhatikan papanya yang berusaha menyembunyikan selembar kertas yang Shi Xun yakin merupakan foto seseorang .
"Papa menangis ?" Tanya Shi Xun khawatir , seketika Kai menghilang dari pikirannya .
"Ah , tentu saja tidak sayang ." suara papanya bergetar dan terlihat ada bekas air mata di pipi belum kering .
"Apa papa menyembunyikan sesuatu ? shi Xun tahu kalau papa sedang bohong ." tuduh Shi Xun . Ia memperhatikan ketika papanya bangkit danmenghampiri , lalu tiba-tiba memluknya erat .
"Papa merindukan mama mu sayang . Papa sangat mencintainya , tapi kenapa Tuhan tega memisahkan kami begitu cepat ?"
Papa tersedu-sedu . Pelan-pelan Shi Xun merasakan air mata mulai menitik juga . Ia begitu menyayangi papanya dan tak bisa sedikitpun melihat papanya menangis , terutama untuk hal-hal menyakitkan . Sejak bayi , shi Xun tak tahu bagaimana wajah mamanya , juga tak pernah merasakan belaian kasih sayang mamanya . Sewaktu kecil Shi Xun hanya bisa iri memandang teman-teman yang membanggakan ibu masing-masing karena bekal yang mereka bawa dari rumah sangat lezat atau menceritakan pengalaman mereka ke taman bersama ibu mereka untuk menghabiskan akhir pecan . Namun Shi Xun tak pernah menyesali kenyataan bahwa ia hanya memiliki papanya . Papa merangkap menjadi apapun yang Shi Xun butuhkan . Pemimpin yang tegas , ibu yang lembut , sampai tempat curhat paling aman . Sosok mama tak pernah terbesit sedikitpun di benaknya ketika ia beranjak dewasa . Tapi Shi Xun tahu bahwa mamanya pasti sangat istimewa untuk papa . Sejauh apapun takdir telah memisahkan mereka .
"Yang tadi papa sembunyikan itu , foto mama ?" Tanya Shi Xun lembut , mengusap punggung papanya agar lebih tenang .
"Apa Shi Xun boleh melihatnya ? Mungkin Shi Xun bisa bertemu mama di dalam mimpi , lalu mama cerita kalau mama juga sangat sayang pada papa walau sudah berada di surga . Mama pasti akan bilang kalau mama tak suka melihat papa bersedih ."
Papa menggeleng pelan , Shi Xun berusaha menelan kekecewaaan karena papa lagi-lagi tak mengizinkannya melihat foto mama "Kau harus tidur , tak perlu memikirkan kecengengan papa ini ."
Shi Xun hanya bisa mengangguk , tak ingin membantah .
"Tadi Jongin benar-benar berbicara padaku?" sehun menopang dagu di meja belajar kamar sambil senyum-senyum sendiri . Walau memalukan Sehun merasakan hatinya melambung tinggi . Sehun dapat mendengar suara JongIn yang terdengar agak serak dn rendah , mengalun dengan nada ketus yang membuat penasaran .
"Aku benar-benar gila ." Sehun mengomeli diri sendiri . Merasa tidak waras masih bisa cengengesan memikirkan Jongin , padahal seharusnya ia marah dan membenci lelaki itu .
Ternyata sehun menyadari dengan sinis , cinta benar-benar bisa mengubah batu menjadi marshmallow . Biarpun Jongin sudah membuatnya elfeel , entah kenapa lelaki itu masih tetap terpatri dalam benaknya sebagai lelaki idaman . Tampan , cerdas dan satu lagi cool!
Ternyata yang menyukai Jongin bukan hanya sehun . Ada juga Luhan , lelaki yang selain menjadi pelajar juga berprofesi sebagai model . Luhan yang biasanya terkesan cuek dan hanya mau dengan lelaki yang tampan , kaya dan popular , dengan sangat tak terduga menjatuhkan harga dirinya di depan Jongin . Sehun ingat saat awal masuk sekolah Luhan jauh-jauh dating ke kelas JongIn , hanya untuk berkenalan , member pena mahal saat Jongin ulang tahun , hingga membuat surat cinta di hari valentine .
Tapi sayangnya , semangat Luhan yang berlebihan untuk mendapatkan Jongin dan ingin mengetahui segala aspek tentang hidupya , membuat Jongin jengah . Lagi pula , sudah menjadi kode etik umum jika same adalah pemburu dan uke adalah mangsanya . Awalanya Jongin memang bersikap cukup manis terhadap Luhan hingga membuat Sehun sempat merasa cemburu . Tetapi ketika sikap Luhan semakin menjadi , lelaki itu akhirnya menyerang Luhan dengan kata-kata kasarnya .
"Tadi pagi kau menanyakan kabar ku . Sekarang kau sudah menanyakan kabar ku lagi . Apa kau tidak bosan ! Aku menjawabnya saja bosan ." kata Jongin saat itu . Murid lain di kelas dalam radius dua meter , bisa mendengar Jongin . sebagian besar menahan tawanya mendengar Luhan di cemooh Jongin .
Pipi luhan kontan memerah saat itu , merasa harga dirinya sudah terinjak-injak sangat arah . Bahkan ketika sudah "dijual" murah pun , Jongin masih menyia-nyiakannya . Padahal diluar sana , banyak lelaki rela mengantri untuk menjadi kekasih Luhan . Dengan geram , Luhan berlalu keluar kelas . Memperlihatkan dengan jelas amarah dalam setiap langkah anggunnya .
Si Ace , yang pernah di tolak mentah-mentah oleh Luhan sampai lima kali , sampai keluar kelas dengan terpingkal-pingkal saking senangnya karena melihat lelaki yang pernah mengisi hatinya itu di permalukan . Mungkin memang ada dendam pribadi diantara Luhan dan Ace .
Ace bertanya saat Luhan menolaknya , "Memangnya apasih yang kurang dariku , sampai-sampai kau tak mau menerimaku?" Luhan menguraikan segala kekurangan Ace : tidak tampan , idak kaya plus bau badan . Telinga Ace melepuh mendengarnya . Seharusnya pertanyaan Ace tadi bersifat retoris , tapi Luhan ternyata punya jawabannya .
Tetapi Ace pantang menyerah demi mendapatkan cintanya , lelaki ini berani merombak dirinya seperti apa yang Luhan inginkan , melakukan sejumlah facial , mati-matian membeli sepatu mahal , meski hasilnya sama saja ; penolakan demi penolakan yang menambah sakit hati .
Baiklah , lupakan masalah tadi jika kau sudah sangat malu , kata Sehun dalam hati . Ia berniat membuat gebrakan baru besok . Harus tampil lebih menawan supaya Jongin meliriknya . Ya , supaya Jongin melihatnya!
"Sedikit pelembab rambut . Tidak terlalu mencolok , tapi membuat rambut menjadi lebih segar . Membuat penampilanmu jadi benar-benar menarik di depan sang pujaan ." Sehun membaca penggalan kalimat di majalah remaja yang memuat artikel berjudul Tips Penampilan Menarik Perhatian Pujaan Hati Di Sekolah .
"Sedikit lotion agar kulit tetap terlihat segar dan lembab . Membuta penampilan mu lebih fresh" baca Sehun lagi . Lelaki itu memang memiliki masalah dengan kulit yang iritasi karena terkena polusi berlebih .
"Memakai sedikit pelembab di sekitar wajah , jangan terlalu mencolok . Akan membuat mu lebih bersinar , saat dia memandang wajah mu ." Sehun tersenyum-senyum sendiri membaca artikel terakhir tersebut . Diam-diam ia membayangkan JongIn terpesona padanya saat nanti Jongin menatapnya .
"Tidak Mungkin!" Sehun tersenyum miris , Jongin dan terpesona tidak mungkin berada dalam satu kalimat yang sama . "Dasar laki-laki terlalu percaya diri!"
Tapi dalam hati , Sehuntergoda sendiri untuk mencoba tips dari majalah tersebut . Ia pun mulai mencari di lemarinya . Lelaki itu berdecak kesal saat tidak menemukan apapun selain parfum yang tinggal sedikit , apalagi sekarang suda sangat malam dan tidak ada lagi took yang buka . Satu-satunya cara adalah dengan meminjam milik mamanya .
Mama pemilik butik yang cukup terkenal di daerah Seoul , tentunya harus selalu tampil maksimal di depan pelanggan . Tak heran di dalam kamar mama terdapat alat rias yang cukup lengkap . Mulai dari lotion , tonic , atau parfum yang umum di gunakan , hingga cat rambut temporer yang tidak pernah di gunakan .
Dengan langkah santai , Sehun berjalan menuju kamara mamanya . Namun , sampainya di depan pintu kamar , Sehun ragu . Mama percaya kalau lelaki harus tampil menawan , tapi tidak suka kalau Sehun berdandan berlebihan . Jadi tanpa izin, daripada mama Tanya macam-macam dan akhirnya lotion yang diinginkan tak di dapat , Sehun membuka pintu kamar mamanya diam-diam . Samar-samar terdengar suara gemericik ar dari arah kamar mandi . Sempurna! Hanya perlu kurang dari semenit untuk masuk dan keluar lagi dengan barang incaran .
Sehun berhenti mengendap sebelum sampai ke meja rias ketika matanya melirikkasur mama . Disitu , terlihat sebuah foto terbalik . Ada dorongan kuat dalam diri Sehun untuk melihat nya . Ragu-ragu ia mengambil foto tersebut dan dilihatnya obyek yang terlihat di sana .
Mata cokelat yang dibingkai bulu mata dan alis hitam tebal , tengah menatapnya hangat . Hidung mancung dan kulit putih bersih memperjelas bagaimana menawannay rupa lelaki muda dalam foto itu . Berusia sekitar dua puluh tahunan dan terbalut kemeja hitamnya .
Sehun tertegun . Foto siapa itu ? terus saja ia pandangi lekat-lekat foto tersebut sambil mengingat-ingat apakah ada sepupu atau kerabatnya dengan wajah seperti itu ? focus mata sehun benar-benar terpusat pada sati titik sehingga benar-benar tekejut ketika foto itu mendadak lenyap dari pandangan mata Sehun .
"Mama?!" Sehun tersentak , nyaris memekik ketika di lihatnya sang mama telah berdiri di depannya .
"Dari mana kamu dapat foto ini Sehun ?" Tanya mama , suaranya sarta dengan emosi yang tidak terbaca oleh sehun . Tetapi dari matanya , Sehun bis merasakan takut , panic dan cuiga yang sangat dalam .
"Aaa.. umm.. Ma.." Sehun tidak bisa bicara lancar kalau mama menghujamnya dengan tatapan tidak bersahabat seperti itu . Mama menyadari kepanikan Sehun dan menarik napas dalam-dalam . Tak lama kemudian mata mama perlahan melembut , walaupun emosi sebelumnya masih mendominasi .
"Aku tidak sengaja menemukannya di situ , Ma" ujar Sehun sambil menunjuk kasur .
"Lalu kenapa kau di kamar mama?" Tanya mama tegas hingga membuat Sehun tersentak . Sepertinya mama mengisyaratkan kalau Sehun sebenarnya dilarang masuk .Padahal biasanya Sehun sah-sah saja masuk dan tidur di sana .
"Aku .. ingin meminta sedikit lotion mama . Tapi sepertinya mama sedang di kamar mandi , jadi aku tak mengetuk pintu dan langsung masuk ."jawab Sehun , tidak sepenuhnya berbohong . Ia menunduk , menghindari tatapan mama yang baru pertama kali ini terlihat sangat aneh .
Dari sudut mata Sehun dapat melihat mama berjalan cepat menuju meja rias dan mengambilkan lotion , membuatnya jadi terheran-heran sendiri . Mengapa mama tidak menanyakan hal macam-macam pada Sehun tentang lotion ? Apakah mama bakalan marah-marah karena tidak suka Sehun berdandan berlebihan ?
Mama tidak berkata apa pun saat menyodorkan lotion untuk Sehun .
"Thanks ma."
"Sama – sama ." jawab mama pendek .
Sehun sudah hendak pergi dari kamar . Namun , baru tiga langkah , rasa penasaran yang ia pendam tiba-tiba menyeruak tanpa izin . Rasa penasaran berlebihan tentang siapa laki-laki dalam foto dalam foto itu . Tanpa sadar Sehun sudah membalikkan badan dan menatap mamanya yang mengawasi langkahnya . "Ma?" panggil Sehun ragu-ragu .
"Ya , sayang . Ada apa ?" Tanya mam lembut namun hati-hati , agak terkejut karena mennangkap sinyal-sinyal curiga dalam suara Sehun .
Sehun tak langsung menjawab . Ia mengumpulkan napas dan sedikit energy ketika pertanyaannya muncul dalam nada-nada tersekat . "Lelaki .. di .. foto itu siapa , Ma?"
Walaupun sekilas wajah mama tampak tenang dan datar, tapi Sehun dapat menangkap kilatan emosi aneh yang memenuhi mata mama . Seperti sedih , kecewa dan marah . Mama tak langsung menjawab , seperti memikirkan matang-matang jawaban atas pertanyaan anaknya yang terkenal kritis .
Mama menghela napas panjang , ditatapnya mata Sehun yang terlihat tak focus ."ini .. foto papa kamu delapan belas tahun yang lalu " jawab mama jujur , seketika Sehun terperangah , lalu menggeleng tanpa sadar saking tidak percaya . Foto papa? Papa .. yang tega meninggalkan dirinya dan mama sendirian bertahu-tahun lalu .
Ya! Papa yang menelantarkan papa sendirian ketika Sehun baru berusia beberapa bulan . Tanpa alasan . Tanpa tanggung jawab . Papanya tak meninggalkan apapun untuk anak dan istrinya kecuali tandanya Tanya besar dan kesedihan . Seperti itulah sekilas info yang Sehun tahu dari mamanya .
"Papa?" Sehun nyaris berbisik dan suaranya begitu lirih . Ia coba meyakinkan diri akan apa yang di dengarnya tadi . Mama hanya menjawab dengan anggukan pelan . Anggukan yang seandainya dapat bersuara , pasti akan mengeluarkan suara yang sama lirihnya dengan suara Sehun . Lirih yang menyayat hati . "Lalu , kenapa mama masih menyimpan fotonya ?" sehun tiba-tiba emosi . Dari cerita yang ia dengar sedikit-sedikit , dari ekspresi mama yang begitu nelangsa saat ini , gadis itu sama sekali tidak menerima kalau pada kenyataannya mama masih mencintai papa .
Mama hanya bisa diam . Dia terlihat sekuat mungkin menahan gejolak batin yang ingin tumpah dalam tetesan air mata . Mungkin mama sadar , kisah yang diceritakannya dulu ternyata mempengaruhi Sehun begitu besar , dan diwujudkan dalam kebencian luar biasa Sehun pada papa yang belum pernah ditemuinya .
Sehun salah mengartikan sikap diam mama . Tanpa sadar kebencian pada sosok papanya semakin besar . "Kemarikan foto itu Ma! Biar Sehun bakar saja .!" kata Sehun tegas . Tangannya berusaha merebut foto itu dari mama , tapi berhasil di cegah .
"Biar saja kita simpan foto ini sayang ."
"Untuk apa ma?"
"Untuk kenangan keluarga kita . tidak semua kenangan pahit harus di lupakan , kan?" kata mama tandas , dengan suara intonasi yang tak terbantah .
Mendengar jawaban mama ,Sehun hanya bisa mengiyakan tanpa suara . Namun ia tak bisa mungkir , dari sudut hati yang dalam , ia lega . Ia puas karena akhirnya bisa mngetahui wajah papa setelah tujuh belas tahun ini disembunyikan . Walau hanya berupa wajah muda delapan belas tahun yang lalu . Meski wajah itu adalah wajah yang "membuangnya " dan mama nya .
