Ohayou.. Konnichi wa.. Konbang wa.. Chap 3 update.. Arigatou gozaimasu... Reader-san semua sudah mau membaca dan mereview fic ini.
Desclaimer: Naruto and the other characters belongs to Masashi Kishimoto sensei. But this story is purely mine.
Rate: T
Pairing: (Hinata X ...)
Let's enjoy..
UNPREDICTABLE
.
.
.
Chapter 3,
"Ga-Gaara. Apa yang kau lakukan?" Nyonya Sabaku itu memperhatikan putra bungsunya lekat-lekat.
Kerutan jelas tampak di dahinya, baru datang dan inilah yang ia lihat.
Si rambut merah yang berdiri membelakanginya dengan hanya menggunakan celana panjang dan tengah menggendong seorang gadis ala bridal style yang merupakan menantu kesayangannya.
Bisa ditebak apa yang ada dalam fikiran wanita bersurai coklat sebahu itu sekarang.
Gaara tak mempedulikan kaa-sannya dan terus melangkah menuju kamar Hinata.
"Chotto mate. Kau mau ke mana?" Sang nyonya Sabaku menahan putra bungsu.
"Aku akan mengantar Hinata ke kamar. Kaa-san duduk saja dulu." Jawab Sabaku muda pada kaa-sannya. Ia melanjutkan langkahnya yang tertunda.
"Eh, Hinata kenapa?" Raut panik kentara di wajah Karura. Kekhawatiran tampak jelas sembari menatap Hinata yang sudah ia anggap putrinya sendiri.
"Daijobu desu. Dia hanya pingsan. Sebentar lagi juga bangun." Gaara melangkahkan kaki ke dalam kamar Hinata.
Karura yang tetap merasa cemas, akhirnya membuntuti Gaara memasuki kamar.
Setelah Gaara merebahkan Hinata di ranjangnya, ia menatap kaa-sannya.
"Sudah tidak apa-apa. Kaa-san tenang saja." Ucapnya menenangkan.
"Bagaimana aku bisa tenang. Apa sebaiknya kita memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Hinata-chan?" Karura masih menampilkan raut khawatirnya.
"Kaa-san. Ini sudah biasa. Sebentar lagi dia akan bangun." Gaara tak habis fikir. Kenapa kaa-sannya sangat berlebihan.
"Nani? Sudah biasa? Lebih baik Hinata-chan dibawa ke dokter saja. Kalau terjadi apa-apa kan bisa gawat." Nyonya Sabaku bergeser mendekati menantunya.
Meletakan telapak tangannya di dahi gadis itu guna memeriksa suhu tubuhnya. "Tidak panas." Gumamnya.
"Benarkan. Sudahlah, kaa-san tak usah khawatir." Gaara masih bersikukuh pada pendiriannya kalau Hinata baik-baik saja. Padahal kan pemuda ini yang membuat Hinata pingsan setiap pagi.
Ditengah perdebatan ibu dan anak itu, satu-satunya orang yang tengah tidur di sana menggeliat kecil. "Eng." Ia membuka mata perlahan, manampakkan manik lavender yang menenangkan.
"Ah, Hinata-chan. Kau sudah bangun. Daijobu ka?" Karura tampak antusias melihat Hinata, ia membantu gadis itu yang mencoba mendudukan tubuhnya.
"Eh, kaa-san. Kapan kaa-san datang?" Tanya Hinata bingung dengan situasi saat ini.
Dan saat matanya beralih. Dapat ia lihat pria bersurai merah yang penampilannya masih sama seperti saat Hinata melihatnya beberapa saat lalu sebelum kesadarannya menghilang.
Wajah Hinata sedikit panas. Semburat merah tipis menghiasi pipi mulusnya. 'Kami-sama, apa aku harus melihat ini setiap hari?' Batin gadis itu.
Ia sedikit menunduk, menyembunyikan wajahnya dengan poni rata yang selalu menjadi ciri khasnya.
"Daijobuka?" Tanya Karura mengulangi. Raut khawatir masih belum lepas dari wajahnya.
Hinata yang ditanya hanya mengangguk. "Mm, da-daijobu desu. Kaa-san ti-tidak usah kh-khawatir. A-aku ba-baik-baik saja." Lanjutnya.
"Hontou ni?" Wanita bersurai coklat itu masih belum tenang. Sedangkan sang putra bungsu hanya menatap datar di belakang kaa-san nya.
"Ha-Hanya pusing biasa ka-kaa-san. Mu-mungkin ke-kelelahan." Jawab Hinata sekenanya.
"Pusing? Kelelahan? Munkinkah kaa-san akan menimang cucu?" Tanya nyonya Sabaku antusias.
Pertanyaan tak terduga itu sukses mengejutkan sepasang muda mudi itu.
Wajah Hinata langsung memerah. Ia menundukkan kepalanya semakin dalam.
Sedangkan Gaara, ia terbatuk. Tapi dengan cepat dapat kembali tenang seperti biasa.
"I-iie' d-desu. A-aku h-ha-hanya k-ke-kelelahan s-saja. A-akhir-akhir i-ini a-aku s-se-sedang ba-banyak tugas." Hinata mencari alasan yang kedengarannya meyakinkan di saat seperti ini.
"Hh, padahal kaa-san sangat berharap". Raut wajah nyonya Sabaku itu berubah sendu. Apa yang ia pikirkan belum terkabul.
Bagaimana mungkin terkabul jika kedua orang itu bahkan minim interaksi. Yang benar saja.
Mereka hanya akan berbicara satu sama lain jika membicarakan hal yang benar-benar penting.
Selebihnya, mereka benar-benar terlihat hidup sendiri-sendiri. Dan sibuk dengan dunia mereka masing-masing.
"Iya kaa-san. Hinata akhir-akhir ini memang banyak mengerjakan tugas sekolah. Aku juga. Tapi Hinata lebih sering begadang untuk menyelesaikannya. Iya kan Hime?" Gaara tersenyum lembut.
Hinata tau itu hanyalah sandiwara sang Sabaku muda. Hinata hanya mengangguk mengiyakan dengan pipi yang masih blushing.
Nyonya Sabaku yang memperhatikan Gaara yang tersenyum lembut dan Hinata yang malu-malu ikut mengembangkan senyumnya.
Ia tak tau saja kalau itu hanyalah sandiwara anak-anak itu. "Ya sudah. Hinata-chan jangan terlalu memaksakan diri. Tidur larut itu tak baik untuk kesehatan." Ucapnya.
"Gaara mo, jangan biarkan Hinata tidur terlalu larut." Wanita itu memandang Gaara.
Kedua muda mudi itu hanya mengangguk menanggapi nasehat wanita bersurai merah itu.
"Ya sudah, apa kalian sudah sarapan?" Tanya Karura.
Keduanya hanya menggeleng kompak. "B-belum kaa-san." Hinata menggeleng malu-malu.
"Hh, ayo kita makan. Kalian pasti lapar."
"Go-gomen kaa-san." Hinata berucap terbata.
"Tak apa-apa. Hinata-chan kan tadi pingsan. Ayo, kaa-san akan membuatkan makanan."
"Eh, bi-biar Hinata saja kaa-san. Se-sebenarnya tadi Hinata juga be-berencana memasak." Hinata berucap.
Nyonya Sabaku tersenyum lembut. "Ya sudah, kalau begitu kaa-san boleh ikut menolongmu kan. Lagipula kaa-san sudah lama ingin memasak bersama. Temari sangat sibuk sekarang. Kaa-san jadi tidak punya teman memasak." Nyonya Sabaku berujar lesu.
Hinata tersenyum balik. "Tidak masalah kaa-san."
Hinata kemudian bangun dan digandeng nyonya Sabaku menuju dapur. Sedangkan sang Sabaku muda hanya mendengus karena diabaikan.
...
Setelah makanan tersaji di atas meja, ketiga orang itu langsung menyantapnya.
"Oh iya. Kapan kalian liburan sekolah?" Tanya wanita bersurai coklat pada kedua orang yang duduk di hadapannya.
"Mungkin seminggu lagi." Gaara menjawab disela makannya.
"Bagaimana kalau kalian pergi liburan?" Usul nyonya Sabaku.
"Li-liburan? Sepertinya menyenangkan kaa-san." Hinata tampak sedikit antusias. Sedangkan Gaara hanya menatap malas kaa-sannya.
"Aku tidak tertarik. Lagipula itu melelahkan." Respon Gaara.
"Eh, bu-bukannya liburan itu me-menyenangkan G-Ga-Gaara-kun?" Hinata menggunakan sufix-kun agar terlihat akrab di depan ibu mertuanya itu.
"Benar Gaara. Kalian bisa lebih santai dan tidak perlu memikirkan tugas-tugas kalian untuk sementara."
"Tetap saja saat kembali kami akan berkutat dengan tugas-tugas itu lagi." Jawabnya acuh.
"Tapi Gaara-kun. Kalau kita ikut pergi pasti me-menyenangkan. Kita kan pergi bersama-sama. Apa Temari-nee juga ikut kaa-san?" Hinata tampak lebih antusias.
"Sayang sekali Temari tidak bisa ikut. Dan juga, liburan kali ini hanya untuk kalian berdua."
Kedua remaja itu hampir tersedak. "Iya, agar kalian lebih akrab." Tambah nyonya Sabaku lagi dengan seulas senyum simpul.
"Tidak ada penolakan." Nyonya Sabaku berujar saat melihat kedua remaja ini akan melontarkan kalimat tidak setuju.
...
Apa yang harus ku lakukan? Aku tidak bisa bayangkan akan seminggu penuh hanya berdua dengan Sabaku Gaara. Ini mala petaka bagiku.
Yah, walaupun sudah tinggal bersama selama hampir tiga minggu. Tapi tidak pernah berinteraksi banyak karena kami sibuk dengan urusan masing-masing.
Dan dua hari lagi liburan sekolah dimulai dan itu artinya kami akan berangkat ke Hokaido. Dan menginap di sana seminggu penuh. Oh Kami-sama.
...
"Minna, mohon perhatiannya." ucap Kurenai sensei yang baru saja memasuki kelas II.A.
Semua siswa yang semula sibuk dengan urusannya masing-masing kini mulai memperhatikan sensei wanita itu.
"Ne, hari ini ada adalah hari terakhir kita sekolah. Dan seperti biasa, sensei akan memberi kalian beberapa tugas yang harus diselesaikan selama liburan musim panas ini." Jelas Kurenai sensei panjang lebar.
Tampak siswa-siswanya mengeluh, beberapa tugas itu berarti banyak tugas. Dan mereka harus menghabiskan liburan musim panas untuk mengerjakan semua tugas-tugas itu.
"Kenapa kalian mengeluh? Sensei kan belum selesai bicara." Ucap wanita itu dengan sedikit kesal.
"Begini. Untuk tugas kali ini ada sedikit perubahan." Kurenai tersenyum dan memandang siswa-siswanya sebelum melanjutkan.
"Untuk kali ini kita akan mengadakan karyawisata." Sontak siswa-siswa itu bersorak riang.
"Sensei belum selesai. Selama karyawisata itu kalian akan mengerjakan tugas-tugas itu secara berkelompok." Ucapnya.
"Kita akan berangkat mulai besok sampai seminggu ke depan. Kalian semua bisa ikut bukan?"
Para siswa yang merasa rencana ini cukup bagus bersorak setuju. Pekerjaan mereka akan lebih mudah dan hanya dalam satu minggu.
"Baiklah, apa ada yang tidak bisa ikut?" Kurenai memperhatikan para anak didiknya.
Di tengah keheningan, ada dua tangan yang terulur. Sontak semua mata memperhatikan mereka, siapa orang yang tidak bisa mengikuti hal yang menurut mereka menyenangkan.
...To be continue…
Fyuh.. Akhirnya selesai juga chap 3 nya.. Jujur, saya agak susah buat nentuin endingnya. Para reader-san ada yang pengen bantu nggak? Misalnya kasih saran atau masukkan ke saya. Kasih kritik pun boleh.. He he.. Biar ada evaluasi gitu.. -Ceilah gaya-.
Oh iya, buat yang reviewnya nggak bisa saya balas lewat pm saya balas di sini ya..
lovely sasuhina: He he, maaf saya masih bingung antara milih Gaara apa Sasuke. Kemungkinan sih iya. Ok, nggak apa-apa, tapi lanjut pun boleh.. He he... Arigatou ne..
suli hime: Bisa jadi sih. Saya usahain, pengennya sih juga gitu.. He he.. Sip, nih udah lanjut..
yui: Ok, nih udah update..
Ok, jaa mata...
See ya in next chapter..
