(FINAL)FF BTS/YAOI/J.V/THE BEAUTIFUL HIB-CREATURES /Chapter 13A

Title: The Beautiful Hib-Creatures

Author: Bang Young Ran

Rating: M *Warning: Kinks smut and steaming sex! Author yg ngetik ja ampe basah!#Plakk*

Genre: Yaoi/Fluff/Romance/Scien-fict/AU

Length: Chaptered

Main Cast:

Kim Tae Hyung aka V ^w^ 3

Kim Seok Jin~~ 3

Support Cast:

HopeKook (J-Hope & Jung Kook)

KrisBaek (Kris & Baek Hyun EXO)

DaeBaek (Dae Hyun BAP & Baek Hyun)*ni cuma masa lalu*

DaeJae (Dae Hyun & Young Jae)

BangHim (Yong Guk & Hime~~)

MinSu (Ji Min & Suga)

Zelo (Choi Jun Hong)

Leon (Jung Taek Woon aka Leo & Cha Hak Yeon aka N VIXX)

Couples nyusul~

Disclaimer: BTS is Big Hit/JYP Entertainment Boy Group and their parents, and it's Youngranie fic~ muaaaachhh...*kechupbasah*

Warning: TYPO! OOC! YAOI/BoysxBoys! M-PREG! NC! NO PLAGIARISM! NO BASHING! NO SIDERS!

Summary: Di era modern sekarang ini, manusia tidak lagi terfokus dalam menciptakan kaleng besi berjalan—robot. Menciptakan makhluk hidup yang benar-benar hidup dalam bentuk lain, itulah yang menjadi fokus para ilmuan beberapa tahun belakangan. Awalnya menggabungkan spesies hewan dari jenis berbeda, dan sekaranglah terobosan baru tercipta dimana gen hewan digabungkan dengan... gen manusia.

.

.

DON'T LIKE, DON'T READ, JUST LEAVE IT, OK!?

.

.

~~( ^3)(.o )~~

.

.

TANPA BANYAK BACOT, LANGSUNG AJA CHECK IT OUT

HAPPY READIIIIIINNNNGGGGG... ^3^

.

.

.

The Beautiful Hib-Creatures

Chapter 13A

"Angh~ Se-Seokie... ku-kurasahhh... i-ini ti – angh~ tidak benarhhh!" V berusaha berkata, mengumpulkan akal sehat sekuat tenaga di tengah pergerakan Little Jin yang semakin menggesek dalam dinding rektumnya.

Posisi mereka saat ini... harus dikatakan bagaimana? Jin duduk di kursi, memangku si lion hybrid, sekaligus melakukan penetrasi. V menyuarakan ketidak-nyamanan sedari tadi karena kedua tangan Jin yang mencengkeram paha dalamnya dari belakang, membuat kedua kakinya mengangkang, terbuka lebar hingga V dapat merasakan adik kecilnya terekspose begitu jelas.

Oh, baiklah, sebenarnya itu bukanlah masalah besar.

Hanya saja... di depan mereka saat ini terhidang dua piring spaghetti dan dua gelas jus jeruk di atas meja. Bukannya si lion hybrid merasa malu karena pergulatan intim mereka disaksikan makanan. Tidak. Hanya saja... bagaimana kalau nanti V tidak bisa menahan diri dan akhirnya cumming? Pastilah cairannya akan mengenai makanan mereka, 'kan?!

'Ewwh~ that's disgusting!' pikir V mengerinyit.

"Tidak benar? Sssshhh... ahh~ ma-maksudmu... hh~ ha-harusnya sepertihh... inihh~?"

Srek,

Grep!

"Hnnhhh!" Si lion hybrid memekik kaget dikala dengan entengnya Jin mengangkat sedikit tubuhnya untuk sekedar membaliknya dan sekarang, voila! Wajah mereka berhadapan. Dengan Little Jin kembali menempatkan diri di bawah sana.

"Bu-bukan ini yang kumaksudkan!" V mulai merengek. Wajahnya tidak bisa lebih merah lagi dari ini. Masih beruntung tadi dia masih bisa menyembunyikannya. Tadinya.

Dan sayangnya, Jin malah terkikik. Menampakkan senyuman sekaligus seringaian mempesona yang mampu membuat makhluk imut di depannya blushing parah, merengek sesaat, lalu kemudian memeluk tubuhnya erat untuk menyembunyikan wajah manisnya di sana. "Kkkk~ Yeobo, kau masih malu denganku?" goda Jin merdu, berbisik pada telinga cokelat keemasan yang tengah tertekuk itu. Lengannya juga ikut memeluk tubuh mungil si pemilik telinga.

V sedikit bergetar dibuatnya, "habis, kau menertawaiku!" rengeknya semakin membenamkan wajah di dada bidang sang mate.

"Aku tidak menertawaimu, Yeobo. Hanya 'sedikit' terkikik dan menyeringai."

"Itu sama saja!" Kali ini satu kepalan tangan V memukul pelan dada yang memangkunya. Jin langsung berpura-pura meringis akan tetapi kedua lengannya semakin memeluk erat V. Membuat yang direngkuh kembali rileks dan mulai menempelkan pipi kanan ke dadanya.

Jin mencium berkali-kali kepala bersurai dirty blond tersebut dengan sayang. Keadaan horny beserta pergulatan panas terlupakan sejenak meskipun tubuh mereka masih menyatu di bawah sana.

Faktanya, mereka berdua kelelahan. Dan...

"Huft... aku lapar~"

Yah, kelaparan. V lah yang memecah kesunyian mereka dengan keluhan tersebut.

Jin langsung mengusap kepala di dadanya dengan lembut, seolah ingin menenangkan si manis sejenak. Well, mereka berdua belum cumming. Spaghetti di atas meja pun sudah dingin sedari tadi.

Apa yang harus Jin lakukan?

Sekarang mungkin V terlihat tenang, tapi... kalau Jin melakukan pergerakan sedikit saja, heat akan kembali menguasai tubuh lion hybrid manis tersebut dan pastinya, Jin juga tidak akan mampu mengontrol diri jika mendengar desahan V. Mereka pasti akan tenggelam dalam nafsu heat lagi.

Saat melirik spaghetti di hadapannya, Jin kembali teringat akan 'sesuatu' yang ingin dicobanya sejak lama. Wajah kebingungan tidak lama menguasai paras tampannya begitu sebuah seringain penuh pesona tercipta. Jika diperhatikan, hanya di saat-saat seperti inilah Jin dan Yong Guk tidak diragukan lagi berhubungan darah. The most ever seductive king of kinks!

"Yeobo, kau lapar, 'kan~?"

Bisikan seduktif dengan suara berat ini tentu saja menarik perhatian V. Kedua telinga animal-nya berdiri, merasa excited sekaligus... terpancing? Entahlah. Yang jelas, lion hybrid mungil itu reflek menjauhkan wajah dari dada Jin dan menatap namja tampan tersebut heran.

Blush~

V mendapati pipinya kembali memanas karena begitu dilihat, Jin hanya menatapnya intens dengan seringai dan kilauan mata... antusias? Wae? Belum selesai V bertanya di kepalanya saat tiba-tiba namja tampan yang memangkunya memberi hentakan pinggul keras, membuat kepala Little Jin menghantam prostatnya telak.

"AH! YAH!"

"Aku akan menyuapimu, Yeobo~" ucap Jin sembari menyeringai.

V yang kembali dikuasai nafsu heat hanya terdengar mengeluarkan erangan, rengutan disertai desahan kecil. Entah apa yang sebenarnya ingin dikatakannya, yang jelas, matanya yang besar dan bermarbel cokelat tersebut tengah bersembunyi sebagian di balik kelopak mata. Bulu matanya yang panjang dan tebal juga tampak bergetar, menandakan kebingungan dan ketidaksadaran.

Menyaksikannya, membuat Jin terpancing nafsu hingga bergerak mendekatkan wajah mereka. Ia dapat mendengar erangan pelan V karena pergerakannya membuat Little Jin semakin menyusup nyaman ke dalam dinding hangat sang mate. "Open your mouth, Cutie~" pintanya menggunakan nada seolah makhluk manis dalam pangkuannya adalah seekor kucing, pet kesayangan.

Telinga cokelat keemasan V langsung turun ke sisi kepala begitu merasakan lidah hangat Jin memasuki mulutnya begitu ia buka.

"Eungh~"

Sebegitu lembutnya Jin mengeksplor dengan lidahnya, V sampai melayang dan ikut pula membalas. Kedua lengannya yang kurus mulai mengalungi leher tegap sang mate begitu merasakan telapak tangan lebar namja tampan itu menyentuh kulit punggungnya, menapak, dan mendorong V pelan agar lebih merapat.

"Eungmmhhh... Se-Seokie-ah... mmhhh... m-move... hhh... please~"

Seperti yang Jin duga, V langsung tenggelam dalam heat; melupakan perutnya yang lapar dan berpikir kalau dengan bercinta, dia akan tetap hidup. Well, itu terdengar sangat seksi dan menggairahkan sebenarnya.

"No."

Dengan kejamnya Jin berkata datar dan menarik diri. Suara 'pop' yang nyaring menggema sejenak saat bibir mereka terlepas. Jin juga dengan sedikit memaksa menurunkan kedua lengan V yang memeluk lehernya. Dapat ia lihat bagaimana lion hybrid dalam pangkuannya tampak seolah akan menangis dengan mata berkaca-kaca, kemungkinan terluka karena mendapat penolakan darinya.

Tapi...

Omona~

Demi Tuhan yang menciptakan semesta alam, V terlihat sangat menggemaskan kalau seperti ini! Jin yang seharusnya merasa bersalah, malah terhibur dibuatnya. Namja itu terkekeh. Jahat sekali, eoh?!

"Kkkkk~ Didn't I said that, I would feed you earlier, Yeobo~?"

Cup~

Jin melayangkan kecupan kilat pada bibir si makhluk manis yang mencebik di hadapannya sebelum meraih ke atas meja untuk mengambil sepiring spaghetti dan membawanya diantara mereka. "Hold the plate for me, Yeobo."

Meskipun masih terlihat cemberut, V melakukan apa yang mate-nya pinta. Lagipula, melihat saus merah terang dari makanan kesukaannya, sukses sedikit menarik V dari kuasa heat. Hanya benar, benar, sedikit.

Jin langsung menggulung untaian spaghetti dengan garpu. Lagi-lagi ia melakukannya pelan, sengaja menggodai V tampaknya.

Semakin lama Jin berbuat begitu, semakin besar kerasionalan si lion hybrid ke dunia nyata. "Ya~! Kauhh... mempermainkanku..." rengeknya jengkel. Membuat bahu Jin dengan nyata bergetar karena menahan tawa. V nyaris memukul bahu namja itu karena lagi-lagi menertawainya jika saja sekarang tangan Jin yang memegang garpu dengan gulungan spaghetti yang sedikit menjuntai tidak tersodor di depan mulutnya.

"Say 'a', Yeobo~" Tanpa merasa bersalah Jin mendendangkan perintah sembari membuka mulutnya, berusaha membuat V melakukan hal yang sama.

Meskipun menyipitkan mata pada awalnya, lion hybrid manis itu akhirnya menurut. Ia membuka mulut, menanti suapan yang Jin janjikan yang sayangnya... tidak pernah datang. Memang tangan namja tampan itu sempat mendekat, namun...

Hap!

Gulungan spaghetti yang lezat berbalik dan masuk dengan cepat ke dalam mulut Jin.

Oh, oke. Jin terlalu menikmati bermain-main dengan V tampaknya.

"YAK! Kau— "

Srlruuup~!

Niat si lion hybrid untuk mengomel terpotong begitu perhatiannya teralih pada sebagian spaghetti yang sebelumnya masih menjuntai di bibir penuh Jin, menghilang dalam sekejap mata akibat diseruput si pemilik bibir.

Pastanya memang terlihat menggoda...

Tapi... bibir penuh belepotan saus merah yang baru saja menyeruputnya...

Terlihat lebih...

Blush~

Dalam sekejap wajah V ersemu merah. Gelombang heat kembali menyapa lion hybrid imut itu, membuat kelopak matanya kembali memberat disertai nafas memburu.

Jin melihat perubahan ekspresi sang mate. 'Got you, Cutie~' dendangnya membatin.

"Se-Seokiehh... a-ak-khu..."

"Mm... apa, Yeobo~? Bukankah... kau mm... lapar~?" Jin sengaja menyahut innocent. Dia sedikit mengunyah pasta di dalam mulutnya dengan kedua mata tidak berhenti menatap marbel cokelat gelap di hadapannya lurus; terlihat tengah memberikan sebuah tantangan seseduktif mungkin.

Awalnya makhluk manis yang tengah dipangku tidak bisa menangkap maksud apa-apa. Tapi... begitu ujung lidah Jin menampakkan diri untuk menyapu saus yang belepotan di bibir bawahnya...

V reflek...

Bergerak maju dan menangkap ujung lidah tersebut.

Bukan hanya menghisap, lidah V juga mulai bergerak menyapu permukaan bibir penuh Jin yang belepotan saus.

Tanpa si lion hybrid sadari, senyuman kemenangan kini tengah bergerilya di bibir yang baru saja ia serang. Inilah yang Jin tunggu sedari tadi. Dengan senang hati namja tampan tersebut membuka mulut saat lidah V mulai menggodai celah bibirnya.

Pasta yang belum sepenuhnya dikunyah, kini tengah menjadi objek pergumulan lidah mereka. Keduanya saling menarik dan membelai mulut masing-masing tiap kali dirasa pasta berpindah ke dalam mulut yang satunya.

Hingga pada akhirnya, tidak ada lagi pasta yang tersisa.

Mulut keduanya bersih tanpa menyadari kapan dan bagaimana pasta-pasta tersebut lenyap ke dalam tenggorokan masing-masing.

V lah yang pertama kali menjauhkan wajah dan menatap Jin dengan mata setengah tertutup. Ekspresi kebingungan. Itulah yang makhluk manis ini tunjukkan.

Lain halnya dengan Jin yang malah menyeringai seduktif.

"That's so freaking tasty, Yeobo~" Jin berujar sembari mengulas bibir bawahnya dengan ibu jari.

O. My. God.

Deg,

Deg,

Deg.

V merasakan dadanya berdebar keras melihat pemandangan tersebut. Entah mendapat keberanian dari mana—mungkin dorongan heat—, tangan V bergerak menggulung spaghetti yang untungnya masih bertahan di pangkuan mereka, menggunakan garpu dan memasukkannya ke dalam mulut.

Hanya beberapa kunyahan yang dilakukan si lion hybrid sebelum kembali menyatukan bibirnya dengan bibir penuh sang mate. Seolah sudah menduga, dengan senang hati Jin membuka mulutnya. Mereka berciuman, atau bisa dibilang saling menyuapi makanan dengan mulut masing-masing.

Setelah melakukan beberapa kali suapan penuh, Jin mulai bereksperimen dengan menghentak pinggul ke atas. Hampir saja V tersedak dibuatnya.

"Eungh! Ckmphh~ nghhh... Seokiehhhh..." desah dan erang V di dalam mulut Jin. Mereka masih 'berbagi' spaghetti saat ini.

Jin menyeringai. Perlahan tangannya memindahkan piring spaghetti yang telah kosong dan sedari tadi membuat jarak diantara mereka ke atas meja. Lalu kemudian kedua tangannya mulai menelusuri kaki V. Tepat di bagian bawah lutut, Jin menekuknya dan membawanya ke atas sehingga sekarang kaki V mengangkang dengan telapak kaki bertumpu pada dudukan kursi di kedua sisi paha Jin.

Posisi V layaknya kodok yang berpegangan erat pada bahu Jin saat ini. Terima kasih pada kelenturan yang ras kucing miliki.

"Ahh... Se-Seokiehhh~ move... ahhh... please~ hhhh..." V mengabaikan sedikit potongan pasta terakhir di dalam mulut Jin dengan memeluk leher namja tampan tersebut erat; menempelkan pipi kiri pada leher jenjangnya dengan mata terpejam.

"Ugh~ Yeobohh..." Jin tidak kuasa menggeram karena merasakan dinding hangat sang mate mengetat. Dia bisa saja berdiam diri seperti ini seumur hidup; menikmati, dan merasakan pijatan lembut dinding hangat V.

Akan tetapi... serangan heat V tentu lain cerita.

Mungkin jika diperbandingkan... penetrasi dalam seperti ini hanyalah sekedar gelitikan bagi hasrat heat seorang lion hybrid. Memikirkannya membuat libido Jin meninggi bagai roket. Bagaimanapun, mendapati mate-nya yang haus akan seks dikala heat adalah hal terbaik yang membuatnya terangsang hebat.

Maka dari itu, tanpa membuang waktu, Jin menyelipkan kedua tangan untuk mencengkeram paha dalam V yang kemudian diangkatnya, membuat Little Jin yang menegang hebat perlahan menampakkan diri. Nyaris seluruh kesejatiannya keluar dari dinding panas tersebut kalau saja tidak dengan paksa Jin kembali menghentakkan pinggul ke atas bertepatan dengan cengkeramannya pada paha dalam V yang sengaja mendorong tubuh makhluk mungil tersebut ke bawah. Alhasil, keduanya mengerang penuh ekstasi.

"ANGHH!" V memekikkan erangan dengan mulut terbuka serta wajah yang menengadah ke atas. Kedua matanya yang sedari tadi terpejam semakin memejam erat.

"AKHHH~ Yeobo~"

Sementara itu Jin pun tak jauh beda. Namja tampan tersebut juga melakukan hal yang sama. Hanya saja... begitu melihat leher jenjang V yang terpampang tepat di depan wajahnya, Jin langsung beralih menghujamkan ciuman basah penuh kelembutan di sana.

Eum... tanda-tanda yang dibuatnya kemarin mulai memudar. Ciuman Jin yang lembut berubah menjadi gigitan dan hisapan keras.

"Ahhh... Seokiehhhh..."

Desah maupun erangan mengalir bagai symphony dari bibir penuh si lion hybrid. Suara-suara memabukkan yang masing-masing ciptakan membuat pinggul keduanya bergerak sensual, saling menarik dan mendorong untuk bertemu dalam hantaman telak.

"SEOKIEHH!" V bahkan berteriak saat kuluman beserta hisapan Jin turun, tepatnya menggodai nipple-nya yang tidak pernah ia sadari—sebelum berhubungan intim dengan Jin— begitu sensitif akan sentuhan.

Reaksi sang mate membuat Jin semakin liar menghisapi tonjolan pink kemerahan tersebut. Sementara tonjolan yang satunya ia cubit dan tekan, membuat si pemilik tanpa diduga melemah hingga tidak mampu menopang tubuh dan hanya bisa berpegangan pada bahu Jin.

"Hnnnhhh... Se-Seokiehhh~" panggil si lion hybrid lirih dengan tubuh bergetar. Ia sudah tidak mampu lagi bergerak.

Dan pada titik ini, Jin tahu kalau sang mate akan segera cumming. Maka dari itu, dengan suara 'plop' yang nyaring dilepasnya nipple makhluk manis tersebut. "You wanna cumming, Yeobo?" tanya-nya yang hanya mendapatkan anggukan tidak fokus dari kepala dirty blond si lion hybrid.

V terlihat begitu mengundang dan pasrah saat ini. Pipinya bersemu merah padam. Dan jangan lupakan telinga animalnya yang turun lesu di sisi kepala. Mirip seekor kucing yang tengah memohon – oh, memohon untuk dirajai?

Well...

Tanpa menarik kesejatiannya dari dinding hangat sang mate, Jin bangkit berdiri hingga V reflek tepekik karena pergerakannya yang tiba-tiba dan sesegera mungkin mengalungkan kedua kaki ke pinggang namja tampan tersebut.

PRANGGGGG!

Sepiring spaghetti utuh dan dua gelas orange juice yang terabaikan Jin sapu begitu saja dari atas meja. Ah, pot bunga kecil dengan serumpun aster merah di dalamnya, juga ikut menjadi korban, berhamburan bersama yang lainnya di lantai.

"Buka lebar kakimu, Yeobo." Jin membaringkan punggung si lion hybrid di atas meja dengan posisi tubuhnya masih menaungi namja mungil tersebut.

V melakukan apa yang diminta. Meskipun posisinya yang mengangkang saat ini di ujung meja membuat kedua pipinya terbakar oleh rasa malu, sekaligus rasa antusias akan apa yang akan dilakukan Jin pada tubuhnya.

Sementara itu, dari tempatnya berdiri di ujung meja, Jin dengan leluasa dapat menikmati segala keindahan lekuk dan rona bias kemerahan yang heat ciptakan pada tubuh V. Jin menyukai pemandangan erotis ini. Terlalu menikmati hingga tanpa sadar dirinya tersenyum seperti orang bodoh dan baru tersadar beberapa detik kemudian ketika tubuh yang tengah dipuja menggeliat resah. Berikutnya, rintihan dan erangan frustasi pun mulai terdengar.

"Hnnggghh... Seokiehhh... ke-kenapa kau ber... berhentihhh...?"

Air mata tampak menggenangi marbel cokelat tersebut. Jin sedikit merasa bersalah karena tidak bisa dibohongi, dia lebih merasa gemas ketimbang iba melihat V kacau seperti ini. "Kkkkk~ ara, Yeobo. Are you ready?"

"NEH!" V menjawab terlalu cepat dan kelewat antusias hingga meneriakkannya dengan lengkingan tinggi. Hal ini membuat tawa ringan Jin terpancing hingga kembali membungkuk dan memberikan ciuman dalam pada bibir penuh makhluk imut di bawahnya.

V menerima pagutan Jin dengan senang hati. Pada awalnya ia mengalungkan kedua tangan ke leher namja itu, bermaksud agar Jin tidak menghentikan pagutan panas mereka. Namun... Jin memutuskan untuk menaikkan level dengan memutar pinggulnya, membuat V reflek menjauh untuk mendongak dan mendesah keras.

"ANGHHHH~!"

Jin menyeringai, menatap takjub mate-nya yang imut sekarang menutup mata dengan mulut terbuka tepat di depan wajahnya. Surai dirty blond lembutnya benar-benar dibasahi keringat sehingga menempel di dahi dan pelipis. Satu kata, V sangatlah seksi. Jin dapat merasakan kesejatiannya yang dipagut dinding hangat di bawah sana menebal dan berkedut. Terlalu antusias akan sosok pasrah di bawahnya.

Kedua tangan V yang masih mengalung erat pada lehernya, Jin bawa turun. Seperti yang dijanjikan, Jin menempatkan telapak tangan mungil dan lembut tersebut pada abs di perutnya; yang langsung disambut si lion hybrid dengan usapan serta belaian, menjelajah setiap lekuk layaknya memetakan sebuah wilayah.

Belaian talapak tangan lembut V cukup membuat geraman rendah keluar dari tenggorokan Jin. Kedutan dari kesejatiannya nyata dirasakan si lion hybrid hingga membuatnya mengerang dan mulai menatap Jin sayu.

Hasrat...

Tatapan sayu itu seolah berteriak 'fuck me' pada Jin saat ini.

Dan memang itulah yang namja tampan tersebut lakukan.

Dengan kedua tangan menapak pasti di atas meja di setiap sisi kepala V, Jin menarik kesejatiannya hingga nyaris benar-benar keluar hanya untuk mendorongnya kembali sekuat tenaga ke depan.

"AH!" V berteriak penuh ekstasi dengan mata tertutup. Jemarinya mulai mencengkeram abs keras di perut Jin yang untungnya tidak akan terluka karena V tidak memanjangkan kuku.

Suara dan reaksi yang Jin sukai. Tapi... tidak cukup untuk memuaskan hasrat namja tampan tersebut. Jin kembali melakukan hal yang sama. Ia menarik kesejatiannya keluar dan kembali menghentak ke dalam, membuat dinding panas sang mate yang ditinggalkannya sesaat, langsung menyambut Little Jin antusias begitu diterobos dengan paksa.

Dan kali ini, Jin tidak lagi memberi jeda. Ia terus-menerus menarik dan menghentakkan pinggul luar biasa keras ke depan; berusaha menenggelamkan kesejatiannya sejauh mungkin ke dalam dinding hangat yang mencengkeramnya dengan... oh, luar biasa memabukkannya.

Sementara V yang menerima hentakan keras dari Jin hanya mampu...

"Ah! Ah! Ah! Ah! Seokiehh~!"

... mendesah tiada henti. Jin terlalu mengenal tubuhnya sehingga setiap gerakan yang namja tampan tersebut lakukan, akan tepat menumbuk prostat si lion hybrid telak.

"Arghh...! Yeobohh~!"

"Seokiehh... Ah! Harderhh~!"

Desah dan erangan keduanya saling bersahutan. Terlebih ketika Jin dengan menakjubkannya mempercepat gerakan sementara V, yang tadinya sibuk mencengkram abs sang mate, sekarang beralih mencengkram bagian bawah pahanya sendiri untuk menekuk kedua kaki ke udara dan melebarkannya. Membiarkan Jin untuk bergerak dan menghentak dengan leluasa.

"Nghh~ Se-Seokiehh... ak-akhu..."

Menyadari kalau makhluk imut di bawahnya akan cumming, Jin secara tiba-tiba menarik diri. V tidak sempat menyuarakan rengekan protes ketika tanpa diduga namja tampan yang berstatus sebagai mate-nya tersebut merendahkan kepala ke arah selangkangan V dan meraup penuh tubuh mungil si lion hybrid ke dalam mulut.

V terkesiap. Tubuhnya langsung bergetar dilanda gelombang hasrat kenikmatan luar biasa begitu tenggorokan Jin membuat gerakan menelan di sekitar tubuh mungilnya yang menegang hebat dan kemungkinan besar dibasahi oleh cairan pre-cum.

"Hnh! Nnghhhh... ahhh..." Suara-suara yang tidak jelas bagai dipaksa keluar dari tenggorokan si lion hybrid ketika Jin mulai menggerakkan kepalanya turun naik, merasakan urat-urat di kesejatian sang mate yang menebal dan cairan pre-cum yang terus-menerus berbondong-bondong keluar di bagian ujung, tepat di dalam tenggorokan Jin.

Bagi orang lain mungkin hal ini terdengar menjijikkan, tapi bagi Jin, cairan yang tubuh mungil di dalam mulutnya keluarkan adalah hal terbaik yang pernah dirasakan oleh indera perasanya. V terasa seperti... vanilla berbiaskan air laut. Kombinasi yang rumit dan tentu tidak mudah dijelaskan dengan kata-kata. Dan yang terbaik dari semuanya, hanya Jin lah yang bisa menikmati kombinasi unik dari seorang Kim Tae Hyung.

Mate-nya. Makhluk hybrid cantik yang membuatnya langsung jatuh cinta pada pandangan pertama.

Kim Tae Hyung, adalah mate Kim Seok Jin.

"Hngghhh~ Seokie akhu..." V akhirnya mampu mengeluarkan beberapa huruf dari bibir penuhnya yang nampak membengkak dengan benar. Namun lain halnya dengan kedua tangannya yang mencengkram paha. V bersumpah kalau kedua tangannya serasa bagai jelli hingga tidak mampu lagi mempertahankan pegangan. Untunglah Jin selalu menjadi mate yang mengerti dirinya hingga beralih menggantikan tangan V dengan tangannya sendiri.

Sayangnya, Jin mencengkram terlalu erat hingga membuat V memekik keras. Alih-alih mengeluh sakit, V justru merasakan pandangannya memutih dan tanpa aba-aba, tubuh mungilnya berbondong-bondong menyemburkan lahar panas yang langsung Jin telan antusias.

Jin terus menghisap tubuh mungil sang mate hingga dirasanya tidak ada lagi cairan yang tersisa. Begitu tubuh mungil tersebut ia lepas dengan suara 'pop', Jin langsung disambut pemandangan makhluk mungil dengan dada turun-naik, berusaha menghirup oksigen. Telinga animal berwarna cokelat keemasannya tampak berbaring lesu di atas surai dirty blond yang sekarang terlihat lebih gelap dari warna aslinya dikarenakan basah, lepek oleh keringat.

V terlihat begitu kacau. Kacau yang menggairahkan, menurut Jin.

Pipinya yang memerah ingin rasanya Jin kecup – ah, mungkin akan lebih luar biasa kalau ia mengulumnya saja? Hickey pada pipi akan membuat pipi lembut tersebut terlihat seolah tengah blushing.

"Seokieh... hh... you still hard," ujar V yang menyaksikan dari tempatnya berbaring kalau Little Jin tampak berdiri kokoh dengan urat-urat menyembul. Kalau dipikir-pikir lagi, V masih merasa takjub karena 'benda' sebesar itu, dapat menembus dan bersarang pas di—

Shit!

Apakah ini normal kalau tubuh mungil V—yang baru saja mencapai puncak dengan luar biasa—mendadak 'bangun' hanya karena memikirkan Little Jin yang mempenetra – AH!

What the hell!?

Since when he changed to be such a horny-bastard?!

Jin menahan euforia excited yang dirasakannya ketika mendapati kesejatian mungil di depannya perlahan berdiri. 'Kkkkk... someone horny~' dendang namja tampan itu membatin. Pada awalnya Jin berniat 'sedikit' menggodai V, namun ia langsung dibuat tidak berdaya begitu makhluk mungil di meja tiba-tiba bangkit duduk dan menciumi bibirnya ganas.

Jin bahkan tidak sempat membalas belaian lidah V di dalam mulutnya karena ia langsung dibuat mendesah karena lion hybrid tersebut mendorong dirinya sendiri, menelan Little Jin dengan paksa memasuki dinding hangatnya yang licin, dibasahi oleh lubricant heat.

"Eunghh... Yeobohh~ you are so goodhh~ Your hole feels amazing around my cock," bisik Jin ber-dirty talk di dalam mulut V, membuat si lion hybrid menggeliat dan semakin membuka lebar kedua kakinya.

"Seokiehhh... fuck mehh... fuck me so hard with your monster cock until my brain will pop out from my head. Make me scream, Seokiehh~ fuck mehh~"

Jika bukan tepat di depan bibirnya, Jin pastilah tidak akan percaya kalau dirty talk yang sangat nakal dan terdengar berbahaya itu baru saja keluar dari mulut V.

V yang horny...

LUAR BIASA SEKSI!

Tanpa membuang waktu, Jin mengabulkan keinginan V. Little Jin dihentaknya sekuat tenaga ke dalam dinding hangat yang seolah lapar ingin menelan kesejatiannya tersebut. Dan, seperti yang diinginkan, V benar-benar berteriak keras hingga membuat telinga Jin sedikit berdengung karena si manis tengah menggigiti bagian bawah telinganya saat ini.

Jin mendapati hal ini lucu karena seberapa pun miripnya makhluk hybrid dengan manusia, mereka tetap saja tidak bisa menghilangkan sifat dan gen animal yang begitu kental mengaliri setengah darah di tubuh mereka. Jin melihat hal ini langsung pada diri V. Seperti halnya singa yang selalu menandai wilayah kekuasaannya, V juga begitu. Makhluk mungil itu mungkin tidak sadar kalau bibirnya yang lembut seringkali menjelajahi tubuh bagian atas Jin ketika mereka bersenggama. V menghisap dan mengigit kecil kulitnya layaknya tengah menandai. Hal yang sebenarnya tidak perlu ia lakukan. Toh, Jin dari kepala hingga ke ujung kaki telah jatuh ke dalam pesona V.

"Ah~ Fuck! Do that again! Again!" pinta si lion hybrid merengek. Atau lebih tepatnya, memerintah.

Bukanlah kuasa Jin jika tubuhnya bergerak menuruti perintah sang mate dan melakukan hal yang sama; menarik kesejatiannya nyaris keluar dan menghentaknya sekuat tenaga ke depan. Hal tersebut dilakukannya berulang kali. Bahkan, kedua tangannya menyelinap di antara paha dalam V dan kemudian membukanya lebar jika itu mungkin. Sebuah keuntungan baginya karena demi Tuhan, V beserta tubuh mungilnya sangatlah lentur. Apa karena gen 'kucing' yang ia miliki? Entahlah.

"Ah! Ah! Ah! Seokie! Fuck!" Dirty talk dengan sukses mengalun keluar dari bibir si lion hybrid. Tangannya mengalung di leher Jin layaknya namja itu adalah satu-satunya pegangan yang dapat diraihnya di dunia. Well, bisa dikatakan perandaian itu sepenuhnya benar. Setidaknya, untuk saat ini.

"Agh! Oh, God..." Jin merasakan dasar perutnya menyempit, pertanda bahwa ia akan cumming. Ia tahu kalau makhluk mungil dalam dekapannya juga akan mencapai puncak, mengingat betapa kerasnya remasan dinding panas tersebut menyelubungi Little Jin. Terlebih lagi, tubuh mungil si manis yang basah dan lengket oleh cairan pre-cum terus-menerus bergesekan dengan abdomen bawah Jin.

"Ye-Yeoboh... stroke yourself for me... hhhh..." perintah Jin berbisik lirih pada telinga animal sang mate.

Tenggelam dalam cloud nine, tangan kiri V bergetar, menjauhi leher kokoh Jin dan turun ke bawah untuk mengurut tubuh mungilnya. Genggaman pertama, V langsung berteriak keras. Sentuhan dari tangannya sendiri terasa begitu luar biasa hingga tanpa ragu V mulai mengocok tubuh mungilnya cepat, mengikuti hentakan keras yang Jin lakukan ke dalam rektumnya.

"Ah!"

Setiap Jin menarik pinggul ke belakang, V akan memberi remasan keras pada adik kecilnya.

"Ah!"

Dan setiap Jin menghentak ke depan, V akan menarik genggamannya turun dengan kasar di antara batang si mungil, membuat benda tersebut berkedut antusias merasakan friksi kasar yang terasa menakjubkan dan nyaris membuat kepala si lion hybrid meleleh dalam kenikmatan.

Melihat dengan nyata bagaimana V begitu melayang sambil menyentuh dirinya sendiri, Jin tidak mampu lagi menahan diri hingga dengan satu hentakan terakhir yang begitu keras dari sebelum-sebelumnya, ia mencapai puncak, menyemburkan cairan hangatnya keras, jauh ke dalam rektum sang mate.

"YEOBOH!" teriak namja tampan tersebut keras sembari menutup mata penuh ekstasi.

V yang merasakan Little Jin memasukinya lebih jauh beberapa inci dari sebelum-sebelumnya, sontak menutup mata dengan kening berkerut. Little Jin membuatnya kesakitan tapi...

"SEOKIEH!"

Makhluk mungil tersebut datang dengan tidak terkontrol. Cairannya sukses mengotori dada keduanya dalam cipratan kacau. Mungkin... Little Jin telah bersarang dengan sangat-sangat tepat kali ini.

"Hah... hah... hhh..."

"Hhh... hhh..."

Nafas keduanya memburu setelah merasakan euforia klimaks luar biasa. Jin memeluk V erat, merasakan tubuh mungil sang mate semakin tenggelam dalam dekapannya akibat kelelahan.

"Hahh... hah... gwenchanayo, Yeobo?" tanya Jin sembari mengelus surai dirty blond yang basah tersebut. Ia hanya menerima beberapa anggukan lemah dari si mungil.

"Tsk!"

Berikutnya terdengar decakan dari dada Jin, membuat namja itu menjauhkan V dari pelukannya untuk sekedar mengetahui apa yang membuat mate-Nya yang lucu ini berdecak seperti itu.

"Waegeureyo, Yeobo?"

Bukannya menjawab, bibir bawah V malah maju ke depan dengan kedua telinga yang menekuk ke samping. Dia tampak kesal. Kesal yang menggemaskan, menurut Jin.

"Yeobo~ katakan padaku, ada apa~?"

V menunjuk dengan bibirnya ke arah bawah, tepatnya pada lantai di sekitar meja makan. "Kau lihat kekacauan yang kita buat?" tanya-nya berstatement.

Oh, sekarang Jin mengerti kenapa mate-Nya yang lucu berdecak jengkel. Well, mereka memang membuat kekacauan yang luar biasa pada lantai dapur. Akan sangat sulit membereskan noda lengket spaghetti, terlebih buruk lagi karena noda spaghetti bercampur dengan orange juice dan tanah hitam dari pot bunga yang hancur lebur di lantai.

"Kkkkk~"

Dan Jin malah tertkikik melihat hal itu.

Benar-benar khas Kim Seok Jin. Padahal jika dipikir-pikir... bukankah ini kesalahannya yang menyapu semua benda itu dari atas meja?!

"Kau tertawa, eoh?!" V melipat kedua tangan di dada. Ia langsung berjengit karena cairan putih yang berada di sana tergesek hingga membuat dadanya terasa lebih kotor lagi. "Ewh~ kurasa aku butuh mandi," keluh V berjengit.

Jin tersenyum dan mendekat, membuat V menyadari kalau namja tampan itu belum menarik Little Jin darinya. "Aku akan membantumu mandi, Yeobo~" Jin berbisik... seductive? What the...

Si lion hybrid merasakan firasat buruk. "No," tolaknya tegas.

Hanya saja... Jin mendorong adik kecilnya dengan sedikit tekanan ke depan. Dan sekarang V yakin kalau...

Shit!

That damn-thing... hard again?!

"Kauhh... yakin~?" Nafas hangat Jin menggodai telinga animal V. Jangan lupakan pergerakan pinggulnya yang semakin intens menumbuk prostat si lion hybrid dengan akurat.

Mendapati adik kecilnya yang perlahan berdiri, tidak ada yang bisa V lakukan selain mendesah dan mulai mengalungi leher namja di depannya.

"Huft... I wonder how long we would be this bunny-horny-fuckin' bastard?"

Seolah memikirkan pertanyaan sang mate, Jin menatap ke atas dengan sebelah alis berkerut. Ia melakukan pose berpikir. Namun V tahu kalau namja itu hanya berakting. Detik berikutnya Jin kembali menatap V. Tersenyum; penuh kemenangan.

"Ini baru masuk dua hari, Yeobo. Masa heat-mu akan berakhir setidaknya dalam empat atau lima hari lagi. Nikmati saja."

V pouting, "kau pikir, aku punya pilihan?!"

Dan si lion hybrid seolah tidak memerlukan jawaban dari Jin karena langsung mendekatkan wajah dan meraup bibir penuh namja itu lembut.

Yah, V tidak punya pilihan.

Ia membiarkan Jin mengangkatnya.

Mengalungkan kedua kaki ke pinggang namja itu, V merasakan tubuhnya dibawa menuju kamar mandi, yang sebelumnya V gunakan untuk membersihkan diri.

Mereka akan mandi. Atau melakukan 'sesuatu', lebih tepatnya.

Again.

~~~~~~\(=^3^=)(=0ɷ0=)/~~~~~~~

DaeJae Side

"Huft... aku merasa sangat tua, Youngie." Dae Hyun berujar sembari memperhatikan jalanan di depan dengan lesu.

Young Jae yang tengah mengetik pekerjaannya di laptop berhenti sejenak untuk menatap sang nampyeon. Senyuman langsung terkembang saat dilihatnya bibir penuh itu pouting. "Wae? Karena Taehyungie sudah mendapatkan mate? I think you cool with that, Babe."

"I am! But now... I'm not really sure. Baek Hyun benar. Ini terlalu cepat. Aku bahkan belum menghabiskan banyak waktu dengan puteraku dan sekarang? Dia sudah memiliki MATE! Omo~"

Young Jae dapat melihat kesedihan menguasai wajah tampan Dae Hyun. Namja itu sangat menyayangi putera semata wayangnya. Bahkan, di awal pertemuan mereka pun, Dae Hyun dengan lantangnya membanggakan sosok Tae Hyung pada Young Jae.

#Flashback~

—LA University of Art Performance—

Young Jae menyukai seni. Ia suka menulis novel dan terlebih lagi, Young Jae suka menyanyi. Suaranya yang lembut seringkali mendapat pujian di kelas menyanyi. Hanya saja... dari semua seni, ada satu yang Young Jae benci.

Menari.

Young Jae tidak pernah mahir dalam hal ini. Layaknya kue beras, Young Jae adalah tipe bertubuh lembek tanpa otot. Dirinya tidak gemuk hanya saja... berpipi chubby. Tidak masalah, toh, banyak yang menyukai Young Jae dan pipi chubby-nya. Mereka bilang ia menggemaskan.

Dan sekali lagi, Young Jae tidak suka menari, dance, apapun lah itu namanya yang berhubungan dengan seni gerak tubuh. It's a big NO! EVER!

Maka dari itu, jangan salahkan bila saat ini si chubby-tidak-mahir-menari tersebut tengah... duduk pada kerangka jendela dengan satu kaki bergantungan keluar.

Young Jae berencana membolos kelas menari.

Untunglah kelas menari merupakan gedung victorian khusus berlantai satu. Bagaimana kalau berlantai dua, tiga, atau empat? Young Jae masih akan nekat melarikan diri dengan taruhan nyawanya?

Eum... mungkin.

"What are you doing?"

"OMO!" Young Jae terlonjak kaget. Tangannya yang berpegangan pada kerangka jendela nyaris terlepas.

"Oh. Sudah kukira kau orang Korea." Orang yang menegur Young Jae kembali bersuara. Kali ini menggunakan hangul. Oh? Berarti... orang ini juga orang Korea, 'kan? Mendengar Busan satoori begitu kental diucapkannya.

Young Jae menoleh ke samping, tepatnya ke arah taman luar di mana suara yang menegurnya berasal.

Seorang namja dengan rambut pirang dan berkulit tanning berdiri di sana. Balas menatap Young Jae tajam sembari berpangku tangan. Mungkin Young Jae tidak akan menganga dengan mata terbelalak nyaris keluar dari rongganya, jika saja rupa namja itu tidak...

OMONA!

HE IS SO FREAKIN' HANDSOME!

"Apa yang sedang kau lakukan di sana?" Namja berambut pirang tersebut kembali bertanya. Kali ini dia mendekati Young Jae di jendela dan mendongak menatap namja berpipi chubby yang tampak melongo di sana. Meskipun berlantai satu, jarak dari jendela dan rumput taman di gedung ini terbilang cukup tinggi. Dan siapapun yang melihat Young Jae bergelantungan di sana, tentu akan penasaran dibuatnya.

"A-a-aku... a-aku... aku ingin keluar ke... TOILET! Yah! Toilet!" jawab Young Jae terbata dan asal. Lebih konyolnya lagi, dia malah nyengir tidak jelas. Membuat pipi hubby-nya membulat sempurna.

Si orang asing sempat teralih melihat pipi chubby menggemaskan Young Jae sebelum akhirnya menggeleng cepat dan menampakkan ekspresi bingung. "Gedung ini memiliki pintu, kau tahu? Seharusnya kau keluar dari sana, bukannya bergelantungan di jendela. Itu berbahaya."

Bibir penuh Young Jae langsung pouting.

Apa baru saja... orang asing—namun luar biasa tampan—ini menguliahinya?! Tentu saja Young Jae tahu kalau gedung ini punya pintu! Memangnya, arsitek bodoh mana yang akan menciptakan sebuah gedung tanpa pintu?!

"Ah... nan ara! KAU INGIN MEMBOLOS, NE?!"

DEG!

Jantung Young Jae nyaris copot karena baru saja namja asing tersebut meneriakkan rencananya. NO! Mr. Jung, guru menarinya, masih di dalam! Bisa-bisa... Young Jae tertangkap basah karena mencoba membolos!

AISH!

Young Jae sesegera mungkin menarik kaki yang satunya lagi keluar dari ruang kelas dan...

Hup!

BRUGH!

"AKH!"

"AGH!"

Namja manis berpipi chubby tersebut melompat. Namun si rambut pirang malah menyongsongnya hingga mereka... tersungkur di atas rumput taman.

Young Jae sukses mendarat di atas namja asing itu.

"Akh! Appo~ YA! Kenapa kau tiba-tiba menyongsongku!?" omel Young Jae geram. Sekarang lihatlah, kedua sikunya jadi lecet!

"Ugh... Aku takut kau akan terjatuh! Aku bermaksud menolongmu! Dasar bocah bebal tidak tahu terima kasih!"

Kata-kata si orang asing membuat Young Jae naik pitam. Secepat kilat namja berpipi chubby itu membawa tubuhnya berdiri menjauh. "MWO?! Kau mengataiku bocah bebal?!" pekiknya tidak terima. Kedua tangan berada di pinggang, mirip sekali dengan postur berandalan yang meminta penjelasan.

Bermaksud mengintimidasi, eoh?

Aigoo... that's totally doesn't works, Litlle Sguishy~

Si pirang yang terbaring di rumput juga ikut berdiri. Namja itu menyejajarkan pandangannya dengan Young Jae meskipun ada sedikit jarak perbedaan tinggi di antara mereka; Young Jae sdikit lebih tinggi beberapa centi.

"Ne. Apa namanya seorang murid mencoba membolos dengan melompati jendela kalau bukan 'bocah bebal'? Kau punya sebutan lain untuk itu, Squishy Cheeks?"

Oke. Kali ini namja pirang ini menggunakan nama lain untuk memanggil Young Jae. Biasanya ia tidak pernah keberatan dipanggil seperti itu, tapi... cara si pirang mengucapkannya dengan senyuman miring... sial! Young Jae kesal setengah mati melihatnya!

Tanpa pikir panjang, Young Jae yang dikuasai amarah mengayunkan kaki kanannya ke belakang dan...

Buagh!

Kaki tersebut sekuat tenaga dibawanya ke depan hingga ujung sepatunya sukses menendang keras tulang kering kaki kiri si pirang.

"AKH! YAK! WHAT THE HELL ARE YOU DOING!?"

Young Jae sekuat tenaga menahan tawanya melihat namja itu melompat-lompat dengan satu kaki sementara tangannya mengusap-ngusap bagian yang baru saja Young Jae tendang. "SERVE YOU, OLD MAN!"

"MWO?! OLD MAN?!"

"NE! Dari yang kulihat, umurmu pasti sudah lebih dari tiga-puluhan. Kau punya sebutan lain untuk itu, Old Man?" balas Young Jae menyeringai, mengejek si pirang dengan statement yang sama.

Berhasil.

Namja berambut pirang di hadapan Young Jae langsung diam tidak berkutik. Kenapa? Apa namja ini takut tua, eoh? Huh, sungguh pemikiran konyol! Manusia pastilah akan bertambah tua, kan?!

Cukup lama namja pirang di hadapannya tidak bersuara. Young Jae jadi ingin meminta maaf. Mungkin... kata-katanya keterlaluan?

"Puteraku... baru saja menyelesaikan kelas delapan." Namja pirang itu memulai. Membuat Young Jae sedikit terlonjak karena tiba-tiba diajak berbicara... serius?

"Namanya Tae Hyung. Dia adalah lion hybrid. Kalau kau melihatnya, kau pasti akan langsung jatuh cinta. Dia sangat lucu. Waktu Tae Hyung lahir aku sampai menangis karena tidak percaya, makhluk mungil itu begitu kecil dan menggemaskan. Tae Hyung bergelung layaknya anak kucing di telapak tanganku."

Young Jae berdiri di sana. Kebingungan, tidak mengerti kenapa namja berambut pirang ini malah menceritakan kehidupan pribadi padanya?

Kebingungan Young Jae tampaknya begitu kentara dirasakan si rambut pirang. Bagaimana tidak bila namja berpipi chubby tersebut terus saja menggerakkan kaki asal sementara satu tangan menggaruk bagian belakang surai cokelatnya gelisah?!

Harus diakui, Young Jae terlihat menggemaskan saat kebingungan seperti itu.

Hal ini membuat si rambut pirang akhirnya terkikik dan mendesah pasrah. "Huft... tujuanku menceritakan hal ini padamu adalah... jangan membolos dan menyia-nyiakan waktu seperti itu. Rajinlah belajar seperti puteraku, Taehyungie. Kau tahu? Dia bahkan tidak terpengaruh oleh perceraianku dengan umma-nya dan selalu mendapat ranking pertama di kelas. Dia membuatku bangga. Sebagai 'old man', aku ingin memberimu nasehat; kuharap kau juga membuat orang tuamu merasakan hal yang sama seperti yang kurasakan."

Young Jae menatap ujung sepatunya. Entah kenapa dia merasa harus meminta maaf pada namja pirang ini. "Maafkan aku, eum... Ahjussi."

"Dae Hyun Hyung."

"Ne?"

Mata Young Jae langsung membulat begitu merasakan sentuhan lembut mengusap puncak kepalanya. Ia mengangkat kepala dan menemukan namja tampan berambut pirang tersebut tersenyum lembut.

"Itu namaku. Jung Dae Hyun. Lebih baik kau memanggil Dae Hyun Hyung ketimbang 'old man'. Ara?"

Deg,

Deg,

Deg~

Rasa panas menguasai pipi chubby Youg Jae. Lebih gilanya lagi, jantungnya berdebar luar biasa keras menerima tatapan lembut dengan senyuman ramah yang diberikan namja di depannya. "N-ne, Dae Hyun Hyung."

"DAEHYUNA!"

Pekikan riang dari arah samping gedung membuyarkan acara saling menatap kedua insan manusia di taman.

Young Jae langsung panik begitu menyadari sosok yang memanggil barusan adalah Mr. Jung, guru dance-nya. 'Aish! Tamat riwayatmu, Yoo Young Jae!' rutuknya membatin.

But...

Wait a minute.

Daehyuna?

Apa baru saja Mr. Jung memanggil akrab ahjussi di depannya ini?

'Itu namaku. Jung Dae Hyun.'

Jung...

Jung...

Deg!

Kesadaran menghampiri benak Young Jae begitu teringat ucapan sang ahjussi.

Mr. Jung dan orang ini...

Jika diperhatikan, keduanya memiliki persamaan yang nyata; mereka sama-sama berkulit tan.

Mr. Jung Hak Yeon adalah guru dance yang terkenal akan keseksiannya. Dia periang dan murah senyum. Karena itulah banyak yang mengidolakannya meskipun usia Mr. Jung terbilang sudah tidak muda lagi, empat puluh empat tahun. Dari yang Young Jae dengar... Mr. Jung menjalani pernikahan yang bahagia bersama suaminya, Jung Taek Woon. Keduanya dikaruniai seorang putera.

Mungkinkah...

"Umma!"

"Tsk! Kenapa kau tidak menghubungi umma kalau sudah datang, eoh?!"

... mereka ibu dan anak.

Ahjussi ini, Jung Dae Hyun, adalah putera Mr. Jung Hak Yeon...

Damn! What the hell!? Posisi Young Jae saat ini layaknya tikus yang tengah ketahuan mencuri dengan ekor dicengkeram erat agar tidak kabur.

Dan Young Jae pikir nasibnya tidak akan lebih sial lagi jika saja Mr. Jung tidak berpaling padanya.

"Eoh? Young Jae-ah? Kenapa kau ada di luar? Bukankah tadi kau masih di dalam mengikuti kelasku?"

Shit.

Kepala namja berpipi chubby yang ditanyai tampak menunduk dalam. Ia terlihat gugup sembari memainkan jemarinya. "Eum... anu, itu, Songsaenim... a-ak-ku..."

"Tadi dia ingin ke toilet, Umma. Tapi aku menghentikannya untuk menanyai di mana gedung menari."

Mulut Young Jae langsung menganga tidak percaya. Benarkah ahjussi ini baru saja membohongi Mr. Jung, umma-nya sendiri, untuk menolong Young Jae?

"Oh, begitu. Kalau begitu pergilah ke toilet, Young Jae-ah~ Bocah ini sekarang urusanku." Dan Mr. Jung yang ramah memang seperti ini. Dia percaya begitu saja. Padahal, kalau dipikir-pikir sekali lagi, bukankah itu aneh?! Toilet, huh? Kenapa Young Jae harus pergi keluar segala bila gedung studio memiliki toillet sendiri? Tsk~

Meskipun agak linglung dan gugup, Young Jae akhirnya menggangguk dan berbalik kembali ke gedung. Ia sempat melirik ke arah Dae Hyun yang hanya memberinya senyuman penuh arti dan kedua alis terangkat.

Huft... dia selamat.

Lebih tepatnya, diselamatkan oleh namja asing yang tampan, berambut pirang, berkulit tan, dan...

... putera dari guru yang pelajarannya tidak Young Jae sukai.

Jung Dae Hyun.

#End Flashback~

"Kkkkk~"

Dae Hyun mengangkat sebelah alis heran melihat namja manis berpipi chubby di sebelahnya malah terkikik tiba-tiba. "Ya, what happening, Youngie? Why are you suddenly chuckling like that?"

"Kkkk~ aku teringat pertemuan pertama kita. Waktu itu aku menendang kakimu. Mianhe."

Oh.

Dae Hyun tersenyum. Tangannya yang tidak memegangi roda kemudi meraih tangan Young Jae dan menggengamnya erat. "Nevermind. Aku tidak keberatan," ujarnya kemudian mengangkat tangan mereka yang bertautan lalu memberikan kecupan lembut pada punggung tangan sang anae.

Jung Dae Hyun adalah tiruan sang umma. Young Jae melihat kenyataan ini dengan mata kepalanya sendiri. Keduanya sama-sama penyayang dan berhati lembut. Dan, begitu memuja buah hati mereka.

"Waktu itu kau membandingkanku dengan Taehyungie, ingat? Huh, bagaimana bisa kau menyamakan bocah empat-belas-tahun dengan namja dua-puluh-dua-tahun, Ahjussi?!" keluh Young Jae sembari pouting. Membuat namja di sebelahnya hanya terkekeh dan kembali memberi kecupan ringan berkali-kali pada punggung tangannya.

"Kau akan mengerti rasanya menjadi orang tua bila kau sudah punya darah dagingmu sendiri, Youngie~"

Gumaman yang Dae Hyun lontarkan membuat Young Jae memikirkan sesuatu. Selama mereka bersama—berhubungan intim—, tidak pernah sekalipun Young Jae melupakan kondom, pil, alat kontrasepsi dan segala macamnya. Mereka pernah bersepakat untuk tidak memiliki momongan dulu. Setidaknya, sampai Young Jae menyelesaikan kuliah.

Dan bicara soal menyelesaikan kuliah... sudah dua bulan yang lalu Young Jae mengenakan jubah beserta toga-nya.

"Kau tahu? Kurasa perkataanmu ada benarnya."

Hanya itu yang Young Jae katakan sebelum ia menarik tangannya dari genggaman Dae Hyun dan menyingkirkan laptop dari pangkuannya ke kursi belakang. Ia bergerak, merangkak diantara ruang sempit kaki Dae Hyun dan dashboard mobil. Kaki tersebut dilebarkannya hingga sekarang wajah manisnya tepat berhadapan dengan selangkangan sang nampyeon.

"Y-Youngie... a-apa y-yang kau la-lakukan?" Dae Hyun tergagap. Wajah tampannya langsung bersemu begitu pertanyaannya dijawab Young Jae dengan cengiran menggemaskan hingga membuat pipi chubby-nya membulat sempurna. Yang membuat Dae Hyun lebih was-was lagi adalah, mata doe cokelat gelap tersebut menatapnya dengan sinar... jahil? Nakal? Entahlah.

"Kau bilang, aku akan mengerti rasanya menjadi orang tua setelah punya darah daging sendiri, 'kan? Kalau begitu, ayo kita membuatnya." Young Jae berkata santai dengan kedua tangan yang menyibukkan diri melonggarkan belt beserta celana jeans Dae Hyun.

"Right now?!"

"Kkkkkk~ why not, Babe~?" dendang si manis seductive. Tangannya secara terlatih mengeluarkan little Dae Hyun dari boxer dan mengurutnya pelan. Ia sedikit terkikik karena mendapati benda di tangannya menegang dan berkedut antusias. "You already hard? Are you that excited?" goda Young Jae sembari menyipitkan kedua mata, sengaja menantang Dae Hyun dengan tatapan dan hembusan nafas yang tentu akan mengenai kesejatian namja tampan tersebut.

"Agh~ it's your fault... hhh..." Dae Hyun terdengar merengek ketimbang protes.

Hal ini membuat Young Jae gemas dan meremas dasar dari batang little Dae Hyun. Membuat si pemilik menggeram dengan kepala terlempar ke belakang dan mata terpejam erat. "Kau ingin aku bertanggung jawab? Should I suck you, Ahjussi~?"

"Ah! Yes! Suck me, please... hhh...!"

Mendengar sang nampyeon dengan lantangnya memohon, plus dengan mata terpejam erat dan wajah dipenuhi ekstasi kenikmatan, Young Jae mengabulkan tanpa ragu.

"I grant your wish, Babe. But keep attention to the street. Kau tidak ingin kita kecelakaan, 'kan~?"

Setelahnya tidak ada lagi kata yang keluar dari bibir Young Jae. Tentu saja. Tersedak adik kecil nampyeon-mu sendiri mungkin terdengar erotis tapi... Young Jae berani bertaruh kalau hal itu akan membuatnya tidak nyaman. Karenanya, secara perlahan dan sebisa mungkin mengulum seluruhnya, Little Dae Hyun memasuki rongga mulut hangat Young Jae.

Kalau saja dirinya tidak sedang mengemudi saat ini, kepala Dae Hyun pastilah akan langsung terlempar ke belakang dengan mata terpejam erat. Demi Tuhan, si manis berpipi chubby yang tidak lain adalah anae-nya ini terlalu pintar menggunakan mulutnya!

"Heummhh~" Entah disengaja atau tidak, Youg Jae mengeluarkan desahan yang lebih terdengar seperti sedang bergumam, membuat bagian dalam mulutnya yang dipenuhi Little Dae Hyun bergetar.

"Arrgghhhh... Yo-Youngiehhh~"

Young Jae menyeringai.

Dia sengaja melakukannya, kalau begitu.

Dae Hyun nyaris kehilangan konsentrasi saat kepala bersurai hitam legam selembut sutera tersebut, bergerak naik-turun, menarik dan meraup adik kecilnya lebih dan lebih lagi di setiap gerakan. Ini gila. Young Jae gila – ah, dirinya juga gila karena membiarkan sang anae memberinya 'head' di saat-saat seperti ini. Mereka bisa saja kecelakaan melakukan hal ini!

Dengan sedikit kesadaran yang ada, Dae Hyun berkata di sela-sela nafasnya yang memburu, "Yo-Yhongieh... hh... could we... hhh... pull over? A-aku... ti-tidak ingin... ki-kita – Oh, God!"

Dae Hyun berteriak.

Dia tidak cuming, hanya saja gerakan menelan pada tenggorokan Young Jae membuat adik kecilnya terjepit dan tergencet dengan sempurna. Friksi yang tercipta terlalu memabukkan. Kali ini Dae hyun yakin kalau mereka akan mengalami kecelakaan kalau hal ini terus dilakukan.

Menggeram rendah, Dae Hyun membanting stir ke arah kiri, membuat mobil yang dikendarai menyingkir dari jalan raya dan memasuki... oh, mereka beruntung karena mobil tepat mengarungi jalan setapak.

Jalanan setapak pegunungan yang dikelilingi pepohonan pinus.

Sepi.

Mereka hanya beruntung; terlalu beruntung malahan.

Setelah memastikan berkendara cukup jauh dari jalan raya, Dae Hyun menghentikan laju mobil begitu saja. Tidak perduli di antah-berantah mana mereka parkir saat ini.

Young Jae tampaknya juga tidak perduli karena terus menghisap Little Dae Hyun semakin agresif di dalam kehangatan rongga mulutnya. Suara-suara erotis yang nyaring memenuhi sedan hitam; desahan keras Dae Hyun diselingi suara hisapan basah bibir Young Jae pada adik kecil namja tampan itu.

"Yo-Yongiehh... I-I'm... go-going to..."

Pop~!

Sayangnya, si manis melepas Little Dae Hyun dengan suara nyaring. Suara erotis tersebut membuat namja tampan berkulit tanning yang tadi nyaris dibuatnya melayang ke langit ke tujuh, menggeram frustasi. Bagaimana tidak? Ini seperti halnya didorong dari tanjakan mendekati puncak gunung. Dae Hyun jatuh terguling, direnggut paksa dari sensasi orgasme luar biasa yang ia yakini akan membuat kepalanya blank dan serasa berputar tanpa henti.

"Hyah! Are you fucking kiddin' me right now, Brat?!" Frustasi membuat rengekan Dae Hyun terdengar lebih menuntut diselingi amarah.

Hanya saja...

Slurp~

Omo! Oh, benarkah Young Jae baru saja menyapu bibir bawahnya—yang belepotan saliva dan pre-cum—dengan lidah sembari menatap Dae Hyun seduktif?! Jangan lupakan bibir pink penuh itu baru saja mengeluarkan suara hisapan erotis lainnya.

Tanpa menunggu reaksi Dae Hyun, Young Jae dengan leluasa meraih ke samping kursi pengemudi dan menarik tuas kecil di sana. Tempat yang sang nampyeon duduki langsung turun hingga sekarang bisa dikatakan, Dae Hyun setengah tertidur di kursinya.

Tanpa terganggu oleh ruang kecil dari dashboard, Young Jae membawa tubuhnya keluar dan merangkak ke atas, menaungi tubuh Dae Hyun. "I want you to come inside me, Ahjussi~ Let's make Our Own Little Daehyunie~" ujarnya merdu kemudian menyatukan bibir mereka dan merendahkan tubuh.

Young Jae duduk dalam pangkuan Dae Hyun. Lebih tepatnya, di kesejatian namja tampan tersebut.

"Aghhhh... Youngiehh~"

~~~~~~\(=^3^=)(=0ɷ0=)/~~~~~~~

KrisBaek Side

Baek Hyun merasakan sentuhan lembut seringan bulu di perutnya. Pada awalnya lion hybrid mungil yang tengah mengarungi dreamland tersebut berniat mengabaikan. Namun tidak ketika sentuhan lembut pada perutnya bergerak turun, membelai tepat bagian abdomen bawah si lion hybrid.

Reflek, Baek Hyun membuka kedua mata sembari bangkit dengan dua siku bertumpu pada ranjang untuk menengok, siapa yang telah mengganggu tidur damainya.

Dan, wajah blasteran yang sangat tampan bak dewa langsung Baek Hyun dapati menatap penuh puja ke arahnya.

"Morning, Baby. Or I have to say, afternoon." Kris menyapa sembari tersenyum lima jari.

Kening Baek Hyun berkerut disertai telinga animal yang salah satunya menekuk ke samping. Dia bingung. "What are you doing, Kris?" tanya-nya kemudian setelah beberapa detik menunggu namun Kris hanya menatapnya dengan ekspresi yang sama.

Tsk! Bagaimana Baek Hyun tidak akan bingung? Kris... berada di antara kakinya yang terlentang namun terbuka lebar. Baek Hyun tidak ingat sejak kapan dirinya tidur dengan posisi seperti itu.

"I was trying to waking you up, Baby. It's getting hard to do since you only squirmed around the bed while mewling inappropriate things. I've recently got an idea to give you a head and su—"

Kris tidak berkesempatan melanjutkan laporan rencana dirty-nya karena dua permukaan lembut dari telapak tangan tengah membungkam rapat mulutnya. Tangan sang anae; tangan berjemari lentik yang selalu ia puja dan kagumi.

"Ada apa denganmu? Pagi-pagi sudah ber-dirty talk?!" Baek Hyun menegur tanpa menjauhkan bekapan tangan.

Kris tampak terbelalak kaget. Siapa yang tidak akan kaget kalau tubuh mungil yang tadinya masih berbaring tiba-tiba telah duduk tepat di hadapannya. Belum lagi, tubuh bagian depan si mungil bersandar sepenuhnya pada dada Kris.

Melihat sang nampyeon terbelalak dengan ekspresi lucu, Baek Hyun akhirnya tertawa dan mulai melepaskan bekapan hanya untuk memerangkap rahang Kris. Jemari lentiknya terlihat begitu pas memerangkap wajah tampan bak dewa tersebut.

Cup~

"Kumaafkan karena kau terlihat sangat lucu saat ini!" Baek Hyun berkata dengan cengiran innocent. Membuat namja yang baru saja dihadiahi kecupan pouting tepat di bibir, semakin terbelalak lebar.

Omo~

Deg,

Deg,

Deg~

Kris merasakan pipinya memanas. Betapa membingungkan, tiap kali Baek Hyun melakukan hal manis seperti ini, jantung Kris akan berdebar layaknya tengah melakukan marathon. Sepuluh tahun mengarungi bahtera rumah tangga bersama, seharusnya Kris merasa terbiasa. Mengingat kalau Baek Hyun juga sering bertingkah seperti ini padanya. Hanya saja... rasa menggelitik dan hangat di ruang dada tersebut selalu ada.

Oh, mungkin semua ini adalah perkara cinta; tidak akan ada kata 'terbiasa'. Setiap hari akan berbeda. Waktu yang berlalu dipenuhi dengan warna-warni serupa pelangi. Hari baru, cerita baru. Yah, ini perkara cinta.

"Hari ini kau tidak ke kantor?" tanya Baek Hyun yang menyadari kalau Kris masih berada pada kondisi yang sama dengannya; naked. Dan lagi, bukankah Kris tadi mengatakan kalau sekarang sudah siang?!

"Tadinya aku ingin. Tapi... melihatmu tidak bangun-bangun... kupikir ada yang tidak beres. Are you alright, Baby? Tidak biasanya kau terlambat bangun seperti ini." Kris menggenggam tangan yang masih berada di rahangnya. Benar, tangan Baek Hyun yang biasanya hangat, sekarang terasa membeku. Padahal, matahari musim panas bersinar terik di luar sana.

Baek Hyun tersenyum lembut. Kris dan perhatiannya yang luar biasa, oh, Baek Hyun tidak akan bisa menikmati hidup tanpa semua itu. "Aku baik-baik saja, Kris. Akhir-akhir ini aku memang sering sekali tidur. Entah kenapa."

"Mungkin saja kau sakit, Baby. Ah! Apa mungkin karena... Taehyungie tidak tinggal bersama kita lagi? Kau ingin aku meminta Taehyungie dan Jin untuk tinggal di sini?"

"Tidak, Babbo. Jangan merepotkan mereka. Lagipula... aku sudah tidak mempermasalahkan hal itu. Dan sekali lagi, nan jeongmal gwenchana. You over reacted." Baek Hyun bergumam diantara senyuman luar biasa manisnya yang mampu melelehkan siapapun.

Tidak terkecuali dengan Kris. Meskipun masih dihinggapi kecemasan, Kris akhirnya menyerah dan ikut pula tersenyum. Namja blasteran itu kemudian balas memberikan kecupan lembut namun intens pada bibir pink tipis di hadapannya. "Baiklah. Aku mengalah kali ini. Tapi jika nanti kau merasakan sesuatu, apa, dan bagaimanapun itu, kau harus mengatakannya padaku. Ara?!"

Kris mengangkat kelingking, meminta lion hybrid imut tersebut untuk menautkan kelingking mereka; pinky promise, itulah yang saat ini dilakukannya.

Mungkin di mata semua orang Kris adalah pria kaku, seorang CEO tampan yang tidak tahu caranya berinteraksi dengan orang lain selain dari lingkungannya. Tapi bagi Baek Hyun, dan mungkin bagi sebagian orang yang mengenalnya dengan baik, Kris Kim adalah pribadi ramah dan berhati lembut. Baek Hyun bahkan menarik kesimpulan baru selama pernikahannya dengan Kris. Tanpa diduga oleh siapapun, Kris seringkali bersikap konyol sampai-sampai Baek Hyun seringkali memanggilnya 'babbo'. Dan sebagai tambahan, childish luar biasa. Maksudnya, namja dewasa mana yang bahkan meminta pinky promise sebagai tanda kesepakatan?

Well, hanya Kris yang baru Baek Hyun temui seperti itu.

But... it's cute.

Oleh karenanya, dengan santai Baek Hyun menerima pinky promise sang nampyeon, menautkan jari kelingking mereka yang tampak begitu kontras berbeda. "Arayo~ I'm promise."

Baru saja seringaian Kris terkembang begitu secara tiba-tiba Baek Hyun melebarkan mata disertai telinga animalnya yang langsung berdiri. Ekspresi terkejut? Ada apa?

"Omo! Aigoo, Kris! Aku lupa! Hari ini umma menyuruhku datang ke cafe!"

"Mrs. Jung? Bukankah dia masih berada di LA?" Kris ingat betul namja baik hati—ibu kandung Jung Dae Hyun—yang Baek Hyun anggap seperti ibu kandungnya itu. Bagaimana tidak ingat? Toh, pada kenyataannya, yang 'memuluskan jalan' Kris dengan lion hybrid imut ini adalah Mrs. Jung sendiri.

Terdengar aneh, sebenarnya; seorang mantan mertua, membantu mantan menantunya sendiri untuk menjalin hubungan dengan orang lain? Tapi... memang itulah yang terjadi.

"Dae Hyun kembali ke Korea bersama appa dan umma. Umma sudah pensiun mengajar di LA. Sekarang mereka menetap di Korea, Kris."

"Oh, jadi... Mrs. Jung kembali terjun mengurus cafe-nya sendiri?"

Hanya anggukan cepat yang Baek Hyun berikan. Dengan terburu-buru makhluk mungil tersebut turun dari ranjang setelah sebelumnya menghadiahi puncak hidung Kris dengan kecupan lembut.

Kris hanya termenung di tempat, memperhatikan Baek Hyun yang sepertinya tidak menyadari kalau tubuhnya naked total, malah berbolak-balik dari wardrobe, lalu keluar dengan beberapa set pakaian yang diletakkannya hati-hati di sudut ranjang.

Baek Hyun yang naked tentu sudah jutaan kali Kris lihat. Tapi... mondar-mandir ke sana ke mari dengan santai tanpa sehelai benang pun... ini tidak pernah terjadi. Baek Hyun selalu merasa minder akan bekas-bekas luka yang menghiasi hampir sebagian besar tubuhnya.

Apa akhirnya lion hybrid yang Kris kagumi ini mengerti kalau luka-luka tersebut bukanlah sesuatu yang patut ia cemaskan?

"Kris, kau hanya akan berdiam diri di sana, atau ikut mandi bersama denganku untuk bertemu umma dan appa? Sudah lama kau tidak ke cafe, 'kan?"

Entah sejak kapan Baek Hyun memasuki kamar mandi, karena begitu Kris tersadar, lion hybrid mungil tersebut telah menyembulkan kepala surai dirty blond-nya dari sana, dari balik pintu kamar mandi lebih tepatnya.

"E-eh?! Ne! Tentu saja aku ikut, Baekie~"

Mengangkat bahu pasrah, Kris melompat turun dari ranjang. Baek Hyun malah langsung terkikik saat melihatnya mendekat. Yah, dia juga naked total. Dan, untuk yang satu ini, Baek Hyun sudah sering menyaksikannya. Kris konyol dan childish, ingat? Berkeliaran dalam keadaan naked di depan sang anae sudah biasa ia lakukan.

#########^0^#########

"GYAAAAAA! BAEKHYUNIE! LONG TIME NO SEE YOU, MY CUTIE PIE~~"

"UMMA~!"

Kedua namja bertubuh mungil di dekat meja bar berteriak heboh, saling berpelukan luar biasa erat layaknya teletubies; teletubies minus perut buncit.

Meskipun teriakan mereka mengundang perhatian nyaris seluruh pengunjung cafe sore itu, tapi keduanya tampak seolah tidak perduli dan terus-menerus berpelukan. Bahkan, keduanya tengah melompat-lompat bersamaan saat tangan lebar putih pucat seseorang tersampir – ah, atau lebih tepatnya menepuk bahu dari salah satu namja bertubuh mungil.

"Yah, Hak Yeon-ah~ Kau membuat keributan, Babbo!" Jung Taek Woon, si pemilik tangan lebar putih pucat tersebut, menegur sang anae, Jung Hak Yeon, namja bertubuh mungil dengan kulit tanning yang berpelukan riang dengan Baek Hyun.

Uniknya Hak Yeon, bukannya melepaskan pelukan untuk sekedar berpaling menatap nampyeon-Nya yang tampan, dia malah melarikan telunjuk tepat di permukaan bibir pink namja itu. "Sst! Taekwoonie~ kau tidak lihat kalau aku sedang melepaskan rindu pada aegya kita?!" ucapnya penuh peringatan, seolah tengah berbicara dengan bocah tujuh tahun.

Taek Woon face palm. Tanpa ekspresi digenggamnya tangan Hak Yeon yang berada di bibirnya dan menjauhkannya. "Aku juga merindukan Baekhyunie. Tapi aku tidak berisik sepertimu."

Omo~

Benarkah baru saja The Ice Prince Chic Jung Taek Woon menggerutu?!

Hak Yeon menyeringai lebar. Ia langsung melepas pelukannya pada Baek Hyun dan beralih melompat untuk memeluk sekuat tenaga pinggang sang nampyeon. "GYAAAAA! You are so cute, Baby! Kau cemburu karena aku memeluk Baekhyunie, 'kan? Awh~ let me hug you, My Sweet Softie~"

Namja yang dipeluk luar biasa erat tampak memberontak, namun apa boleh buat bila Hak Yeon memiliki pegangan ibarat lintah hingga membuatnya mau tidak mau menyerah. Namja mungil berkulit tan tersebut bisa dikatakan menempelkan tubuh beserta pipinya pada dada Taek Woon. Matanya terpejam dengan senyum terkembang, menikmati kehangatan dan debaran kacau yang selalu didengarnya tiap kali ia melakukan hal ini pada namja tampan berkulit putih pucat yang sudah puluhan tahun mengarungi bahtera rumah tangga bersamanya ini.

Baek Hyun yang ditinggalkan hanya terkikik melihat kedua orang tua angkatnya ber-lovey dovey. Yah, dia sudah biasa melihat keromantisan unik keduanya.

"Aku masih heran bagaimana mereka bisa bersama." Kris yang sedari tadi berdiam diri di samping si lion hybrid, berkomentar. Tangannya bergerak memeluk pinggang ramping makhluk mungil tersebut.

"Kkkk~ kau seharusnya melihat bagaimana mereka dulu. Ini belum seberapa. Taekwoonie Appa jauh lebih cuek dari ini dulunya."

Kris hanya tersenyum. Sedikit banyaknya dia tahu bagaimana dinginnya Mr. Jung Taek Woon yang merupakan sahabat karib appa-nya ini. "Tapi satu yang kumengerti, Mr. Jung sangat bergantung pada anae-nya. Meskipun beliau sering menyangkal dan berlagak menolaknya."

"Hahaha, you got the point, Mr. Kim. Hakyeonie Umma terlalu baik hati dan menggemaskan untuk ditolak. Karena itulah dulu aku sulit sekali jauh darinya," celetuk Baek Hyun sembari tersenyum lebar. Jemarinya memainkan tangan Kris yang saat ini memeluknya, sementara kedua mata terfokus pada Hak Yeon dan Taek Woon; mereka masih berpelukan.

"Yah, kau sangat manja pada Mrs. Jung. Aku sampai salah mengira kalau kau ini adalah putera bungsunya!"

"Dan jelas sekali kau langsung kebingungan, 'kan, karena memikirkan kemungkinan manusia yang menikah dengan manusia, bisa melahirkan spesies hybrid?! Kkkk~ kau harus melihat ekspresimu waktu itu, Mr. Kim." Baek Hyun menambahkan. Tiada yang marbel cokelat tersebut patuti sekarang selain wajah tampan sang nampyeon.

"Tsk! Bukan salahku kalau aku kebingungan. Aku baru kembali dari Kanada saat itu. Sangat polos, hijau akan informasi dari keluarga Jung selama sebelas tahun."

Kris benar. Saat itu dia 'sangat hijau', menurut Baek Hyun.

Kenapa? Baek Hyun tentu punya alasan tersendiri mengatai Kris seperti itu, 'kan?

Ne, makhluk imut ber-gen lion hybrid tersebut memiliki alasan khusus. Maksudnya, apa yang akan kau pikirkan saat namja dewasa, yang kira-kira berusia dua-puluh-lima tahun ke atas, kesulitan mengikat dasinya sendiri?

Yah, begitulah Kris saat itu; dia masih 'hijau'.

Sekarang pun masih begitu!

"Kau bukan hanya hijau dalam informasi, Babbo! Kau bahkan juga 'hijau' dalam hal mengikat dasi. Aku melihat bocah kelas sepuluh lebih baik melakukannya darimu!"

Kata-kata Baek Hyun membuat bibir bawah Kris maju. "Aish! Aku besar di Amerika, Baekie~ Kami tidak mengenakan seragam saat ke sekolah," ujarnya membela diri. Namun Baek Hyun malah terkikik; ini bukan pertama kalinya Kris menggunakan alasan itu sebagai pembelaan.

"Ne, ne~ araso, Mr. Kim~"

"EKHEM!"

Sebuah deheman keras menginterupsi moment keduanya. Terlihat Hak Yeon mendekat sambil menyeret tangan sang nampyeon yang tampak enggan untuk ikut. "Yah! Kalian asyik sendiri, eoh? Mentang-mentang bertemu di cafe ini, kalian sengaja bernostalgia, begitu?!" protesnya berpura-pura kesal. Sungguh aneh, waktu seolah tidak berpengaruh banyak pada namja cantik berkulit tan ini. Hak Yeon masih saja terlihat menggemaskan dan dipenuhi aegyo saat mengerucutkan bibir.

"Kkkk~ annyeong, Mrs. Jung, Mr. Jung. I'm glad to see both of you again." Kris menyapa dan memberikan deep bow setelah melepaskan tubuh mungil si lion hybrid dari dekapannya.

"Hi, Kris. Kau semakin tampan saja, eoh!? Terima kasih sudah menjaga Uri-Baekhyunie selama kami tidak ada di sini. Kau melakukannya dengan baik." Bagai sebuah keharusan, Hak Yeon selalu menempatkan diri sebagai perwakilan mulut untuk berbicara bagi sang nampyeon. Entah sejak kapan hal ini berlangsung. Hak Yeon sendiri pun tidak tahu pasti. Lagipula... ia tidak keberatan. Senang, malah, karena hal ini merupakan sebuah bukti kalau Taek Woon membutuhkan keberadaannya. Di manapun.

"Itu sudah kewajibanku, Mrs. Jung. Anda tidak perlu berterima kasih." Kris berniat menggenggam tangan Baek Hyun saat mengatakan itu semua. Hanya saja tangannya tidak menjangkau apa-apa selain udara kosong.

Loh?

Bukannya tadi lion hybrid imut itu masih berdiri di sampingnya?!

Kris langsung menoleh hanya untuk bertemu dengan kehampaan. Ia panik dan menatap ke sekeliling.

Perkara sulit.

Mencari lion hybrid mungil di tengah keramaian pengunjung cafe. Belum lagi ukuran cafe yang luar biasa luas.

"Baekhyunie di sana, Kris." Taek Woon tiba-tiba menjadi penyelamat di saat-saat genting dengan menunjuk ke arah gerai cake di ujung bar dua.

Benar saja. Baek Hyun di sana, membungkuk dengan ujung telunjuk kanan digigit, dan kedua telinga yang turun di sisi kepala. Belum lagi kedua matanya tampak lekat memandangi berbagai cake yang dipajang dengan cantik di dalam lemari kaca.

Tanpa menunggu Kris langsung menyusul sang anae, yang bahkan tidak menyadari kedatangannya. "Baby, what are you doing?"

Makhluk mungil yang ditegur menoleh sembari tersenyum lebar. Kepanikan yang sebelumnya Kris rasakan luntur dalam sekejap menyaksikan eyesmile yang menakjubkan itu. "Aku ingin bubble tea cake ini, Kris. Can we order it now?!"

Oke, Baek Hyun sampai terpekik antusias saat mengatakannya. Ada apa sebenarnya dengan Baek Hyun? Sedari pagi lion hybrid manis tersebut berperilaku aneh. Di luar dari kebiasaan, lebih tepatnya.

Dan lagi, sejak kapan Baek Hyun menyukai bubble tea?! Terakhir Kris mengingatnya, Baek Hyun memuntahan minuman khas Cina tersebut ke dalam wastafel ketika ia mencobanya. Belum lagi tubuh mungil lion hybrid itu menggelinjang geli; bubble tea menjijikkan, katanya.

"Baekie, kau... baik-baik saja, 'kan? Bukankah kau pernah berkata tidak akan pernah membiarkan sesuatu seperti bubble tea memasuki mulutmu lagi? Lalu... kena—"

"TAPI AKU INGIN MEMAKANNYA!" potong Baek Hyun berteriak marah. Membuat sang nampyeon terbelalak kaget karena... ini pertama kalinya makhluk mungil tersebut meneriakinya.

What the...

Sesaat yang lalu lion hybrid itu memekik dan tersenyum riang.

Lalu sekarang?!

Dia... marah?

Apa lagi setelah ini?

"Hiks... kau tidak ingin memesankannya untukku? Hiks~"

Bagus. Baek Hyun menangis; karena masalah sepele.

"Baby... apa yang—"

"Huwaaaa... kau sudah tidak menyayangiku lagi!" Tangisan makhluk imut ini semakin keras saja. Dan tampaknya Kris harus rela kata-katanya diserobot, lagi.

Ketidak-biasaan yang Baek Hyun tunjukkan membuat namja tampan berdarah blasteran tersebut nyaris gila. Nyaris. Karena berikutnya Kris malah terbelalak lebar akibat pernyataan mengejutkan dari 'ibu mertua' yang entah sejak kapan berdiri di sebelahnya.

"Kris, kenapa kau tidak memberitahu kami kalau Uri-Baekhyunie hamil?!"

Deg!

Namja tampan yang ditanyai layaknya seekor ikan, terbelalak lebar dengan mulut yang terbuka dan menutup takjub. "M-mwo?!" Bahkan suara yang Kris keluarkan terdengar bergetar.

Giliran Hak Yeon lah yang kaget mendapati hal ini. "Wait a minute. Jangan bilang kalau kau tidak tahu?! Lihat tanda-tandanya, Kris, Uri-Baekhyunie mengalami mood swing! Dan mengidam." Kata-kata terakhir namja cantik itu tambahkan ketika melirik si lion hybrid yang masih saja menangis dengan kedua tangan menapaki permukaan lemari kaca; mirip bocah empat tahun yang merengek, meminta dibelikan makanan kesukaannya.

Kris menggeleng polos. Ekspresi pada wajahnya masih tidak berubah. "Aku tidak—"

"GYAAAAA~! Aku harus memberitahu Uri-Daehyuna kabar baik ini! Huh, ke mana anak nakal itu? Bukannya tadi dia mengatakan sedang dalam perjalanan ke sini bersama Youngie!? Kenapa lama sekali, eoh?! Taekwoonie! Hubungi dia!" Hak Yeon berkata dalam satu tarikan nafas. Namja cantik itu tampak melompat riang di sebelah sang nampyeon yang langsung melakukan apa yang ia perintahkan.

Diserobot dan terabaikan, Kris tampak masih melongo di tempatnya.

"Ha-hamil...?"

"Huwaaaa... cake! Hiks~"

Kris akan menyadari, Baek Hyun yang lucu dan imut, akan berubah seratus-delapan-puluh-derajat.

Ready yourself, Mr. Kim~

TBC

NB: HIDUP J.V! DAEJAE! KRISBAEK! LEON! J.V 4-EVER!\(=^0^=)/ O, ya, mianhe banget karena bahasa Inggris Young Ran amburadul grammar-xa.