Judul : Fairly

Chapter : 2

Author : swaggerbubble

Rated : T

Cast : Kai , Sehun , Shi Xun , Jongin (bertambah sesuai alur )

Oh ya ,ini BL bukan GS . Kai sama Jongin itu beda orang ya . Dari pada sehun di couple in sm yg laen kan gk enak , pokoknya tetep KaiHun

Good Luck

Keesokan hari , Sehun sama sekali tidak menggubris tips-tips yang ada di majalah yang ia baca semalam. Ia bahkan ke sekolah tanpa memakai parfum sedikitpun. Foto itu merasuki pikiran Sehun , membuatnya tak bisa tidur. Semalaman ia menghabiskan waktu dengan memikirkan papanya sehingga tidak konsentrasi melakukan apapun.

Tetapi setelah sampai sekolah , pikiran Sehun teralihkan. Saat melangkah pelan-pelan di koridor sekolah yang cukup ramai , tak sengaja Sehun berpapasan dengan Jongin yang berjalan santai tanpa peduli sekeliling. Di samping Jongin yang entah bagimana jauh lebih tampan dari kemarin , terlihat Luhan mengajak ngobrol Jongin terus-terusan. Jelas sekali terlihat Luhan yang sedang mencari perhatian Jongin. Padahal Sehun- atau orang lain yang melihat hal itu –yakin seratus persen kalau Jongin sama sekali tidak mempedulikan Luhan. Ajaibnya , Luhan juga tahu hal itu. Yang lebih ajaib lagi , justru itulah yang membuat Luhan sangat tertarik.

Sehun mengakui kalau Luhan memiliki fisik yang nyaris sempurna. Secara finansial , lelaki itu nyaris tidak pernah kekurangan. Lelaki manis plus imut , tubuh yang ideal dan turunan konglomerat . Empat hal yang tentunya sangat wajar membuat Luhan begitu popular.

Namun Sehun selalu melihat Luhan dengan mata kepalanya sendiri. Ia bukan golongan yang memuji Luhan lalu berharap untuk berteman dengannya , tapi sebenarnya membenci Luhan habis-habisan karena iri. Di mata Sehun , Luhan tak lebih dari lelaki sombong yang merasa sudah memiliki segalanya di bumi ini. Lelaki narsis yang merasa dunia belum lengkap tanpa dirinya .

Hubungan Luhan dan Sehun pun tak bisa dibilang baik . Sewaktu Masa Orientasi Siswa , tanpa sengaja Sehun mematahkan pengancing liontin Luhan. Waktu itu Sehun sudah meminta maaf dan berjanji akan menggantinya. Tetapi Luhan yang memang senang mencari lawan , bukannya memaafkan Sehun , Luhan malah menghinanya habis-habisan. Lelaki itu memaki Sehun di depan siswa lainnya , bahkan di depan senior!

Luhan bilang , sampai mati Sehun tidak akan mendapat liontin yang sama karena liontin itu buatan luar negri yang sangat mahal dan langka. Liontin yang tak akan terbeli dengan uang jajan Sehun selama setahun pun.

Sehun tersinggung mendengar itu. Perang mulut diantara keduanya pun terjadi sejak saat itu , sudah jadi rahasia umum kalau Sehun dan Luhan itu musuh abadi.

"Hei Sehunnie , tugas milikmu sudah selsai ? Aku tahu kamu pasti belum mengerjakannya! Milikku juga belum. emm.. kita mencontoh milik siapa ya hari ini ? Apalagi hari ini Chen juga tak masuk !" Baekhyun menyadarkan Sehun dari lamunannya begitu sahabatnya itu masuk di kelas dan menemukan Sehun tengah menopang dagu di meja.

Jelas , wajah Sehun langsung bersemu merah. Jongin sudah duduk di bangkunya yang hanya berjarak beberapa puluh sentimeter dari bangku Sehun. Tak perlu ditanya lagi, Jongin pasti mendengar Baekhyun. Ya ampun , pasti terdengar seperti "Sehun sukanya mencontoh dan tidak pernah mengerjakan tugasnya sendiri".

Sehun melirik Jongin yang sedang berkonsentrasi membaca komik. Meski begitu , kadar gengsi Sehun yang di atas rata-rata tetap membuatnya panic dan mengira-ngira. Jongin mendengar kata-kata Baekhyun tidak ya ? Kalau sampai terdengar , runtuh sudah derajat ku ini.

"Ya ampun Baek! Bisa tidak kau bicaranya pelan-pelan saja? Apa kau tak malu?" gerutu Sehun.

Baekhyun yang memang suka telat berfikir plus polos , mulai menyahut dengan jujur "Memangnya kenapa dengan pekataan ku tadi? Kita kan memang sering mencontoh tugas milik Chen. Satu kelas ini juga semuanya sudah tahu ." Tanya Baekhyun dengan menarik-narik lengan baju Sehun seperti anak kecil yang sedang meminta permen.

Sehun menutup wajah dengan tangan. Saat sekilas matanya melirik Jongin lagi , bibir lelaki itu nyaris membentuk senyuman tipis. Sampai akhirnya Sehun memperhatikan betul-betul komik apa yang sedang Jongin baca.

Doraemon?! Pantas saja Jongin nyaris tersenyum tadi. Pasti karena membaca ulah konyol Nobita yang menjengkelkan.

"Ya! Byun Baekhyun! Dasar Pabo." Sehun langsung memarahi Baekhyun , dengan suara berbisik tentunya. "Memangnya kau tak malu jika semua orang tahu kalau kita suka mencontoh dan tidak pernah mengerjakan tugas?"

"Tapi memang kenyataannya kan kita memang seperti itu … hhmmpphh.." kalimat Baekhyun langsung terpenggal begitu Sehun membekap mulutnya. Setelah memastikan Baekhyun tidak akan bicara lagi, akhirnya Sehun melepaskan bekapannya.

"Oke , aku mengaku kalau kenyataannya memang seperti itu. Tapi di kelas ini ada lelaki super perfeksionis itu , siapa ya namanya? Aduh kenapa aku lupa ya!" Sehun pura-pura lupa nama Jongin.

"Kim Jongin!" jawab Baekhyun langsung.

Nah! Sudah dapat di tebak! Kalau masalah laki-laki Baekhyun tidak akan telat berfikir lagi. Bahkan sampai hapal nama lengkapnya.

"Ya , ya , itu dia. Jangan sampai derajat kita hancur di depan laki-laki itu , kau mengerti?" Baekhyun mengangguk menjawab pertanyaan Sehun dengan nada suara yang mengisyaratkan bahwa Baekhyun tidak punya pilihan.

Tanpa kedua orang itu sadari , Jongin menangkap pembicaraan mereka. Alhasil , saat keduanya tidak melihat , bibir Jongin tanpa bisa dicegah membentuk segaris senyuman tipis. Sehyum yang bukan sekedar nyaris , walau hanya sebentar.

"Sayang , kau tak ingin ke kantin?" Suara Kai yang berat mengalun lembut , membelai telinga Shi Xun. Tentu saja Shi Xun kaget dan langsung menjauhka kepalanya , menciptakan jarak di antara mereka.

"Tidak" tolak Shi Xun langsung . Konsentrasinya pada bahan ulangan hari ini langsung hilang ketika melihat lelaki itu duduk di hadapannya.

"Kenapa?" Tanya Kai heran.

"Aku tidak lapar!"

"Memangnya kalau kekantin harus lapar? Hanya sekedar menemani kekasihnya yang kelaparan kan , boleh-boleh saja ." Kata Kai tenang. Lelaki itu seperti tak sadar bahwa hubungan mereka saat ini hanya diakui satu pihak saja.

"Kau tadi kan hanya bertanya , aku mau ke kantin atau tidak? Dan jawaban ku , Tidak! Titik!" ucap Shi Xun kasar.

Mata Kai menyipit , dia tidak suka kalau Shi Xun bersikap terlalu kasar seperti ini terhadapnya. Namun , lelaki itu sekuat tenaga menyenyahkan keegoisannya dan matanya pun melembut lagi. "Kalau begitu , oke . Aku ke kantin dulu . Tapi ingat , jangan mendekati laki-laki lain selama aku tidak ada di kelas . Oke?" katanya halus , tapi tandas dan sarat ancaman.

Shi Xun tak menanggapi perkataan Kai dan berusaha keras focus pada materi ulangan.

Tak lama kemudian , Kai kembali dengan segelas susu untuk Shi Xun. Kai menemukan Cahnyeol , sang ketua kelas , terlihat sedang tertawa akrab dengan Shi Xun. Mereka sedang membicarakan Kyungsoo , teman sebangku Shi Xun yang di sukai Chanyeol sejak lama.

Kyungsoo sedang mengikuti lomba bulutangkis putra tingkat Seoul , maka Chanyeol memanfaatkan ketidakhadirannya untuk bertanya banyak hal melalui Shi Xun , sebagai sahabat Kyungsoo.

Melihat kedekatan Shi Xun dan Chanyeol , seketika Kai langsung berang terbakar cemburu. Shi Xun- seingatnya -tidak pernah tertawa selepas itu jika bersamanya , bahkan cenderung tertawa terpaksa. Dengan langkah tergesa , Kai menghampiri dan tanpa berpikir langsung mengguyurkan susu ke seragam putih Chanyeol.

"Menjauh kau dari kekasihku!" geram Kai. Anak-anak yang kebetulan berada di kelas kontan terkejut melihat insiden yang cukup menggemparkan di pagi hari ini.

Tak ada yang berani tertawa bahkan tersenyum sekalipun melihat wajah Cahenyeol melongo. Mereka sudah tahu , dalam situasi seperti ini , Kai sangat berbahaya. Lelaki yang gayanya memang cool dengan wajah tampan , tapi terkenal possessive , dan tidak segan-segan main pukul siapa saja yang membuatnya tidak senang.

Chanyeol langsung keluar kelas tanpa berkata apa-apa lagi. Dia takut pada Kai meski lelaki itu membuatnya harus menahan geram , marah dan sakit hati karena di permalukan di depan murid sekelas.

"Ada apa dengan mu!"bentak Shi Xun setelah Cahnyeol pergi. Dengan pandangan penuh amarah , di tentangnya mata hitam Kai yang memandang nya dengan tajam.

"Ada apa? Kau yang seharusnya ada apa?! Kan sudah ku katakan jangan dekat-dekat dengan laki-laki lain . Dan apa yang kudapat , kau tidak hanya dekat , tapi lebih dari itu!"

"Lebih dari itu? Ternyata kau bukan sekedar sakit jiwa , tapi juga buta!"

Kai menggebrak meja di sampingnya dengan kuat sampai buku-buku dan benda-benda kecil lainnya berserakan di meja berjatuhan. Suasana kelas mendadak hening mendengar itu. Semua memandang pertengkara Shi Xun-Kai itu dengan ekspresi cemas sekaligus penasaran. Bagi mereka , ini tidak terlihat seperti pertengkaran sengit dua kepala suku dalam prebutan batas tanah.

Tanpa sadar , semua menghentikan aktifitas masing-masing , bahkan yang sedang mengerjakan tugas sekalipun , mereka lupa sama sekali kalau harus mengumpulkan tugas tersebut pada jam pelajaran selanjutnya. Tetapi ada juga beberapa orang yang memilih untuk keluar karena merasa suasana nya terlalu tegang.

"Shi Xun , aku seperti ini karena cemburu . Kau tak pernah bicara semanis itu kepada ku . Padahal sudah jelas kalau aku adalah kekasihmu? Sedangkan Chanyeol , siapa dia?" suara Kai mendadak berubah lembut.

Shi Xun menyadari perubahan nada Kai dalam kemarahan tertahan. Segala tingkah laku Kai , mulai dari sikap possessive sampai suara yang sering naik turun secara drastis , selalu membuatnya naik darah.

"Kau mau aku bicara padamu dengan kata-kata manis? Jangan pernah bermimpi!" kata Shi Xun dengan kasar. Dengan langkah tergesa , Shi Xun keluar kelas dan langsung mencari Chanyeol untuk minta maaf. Meninggalkan Kai yang langsung menggeram marah , namun tak berusaha mengejar Shi Xun.

Suasana hati Shi Xun masih buruk sampai pulang sekolah. Bukan hanya Shi Xun jadi malu di depan umum , tapi Shi Xun juga merasa bersalah dan terpaksa mencucikan baju Chanyeol. Ia juga merelakan uang jajannya hari ini habis untuk membelikannya seragam baru. Tidak mungkin kan , Chanyeol belajar di kelas dengan baju penuh bercak susu.

"Shi Xun!" Terdengar suara Kai memanggilnya. Shi Xun terus berjalan menyusuri trotoar menuju halte bus terdekat , tidak mengacuhkan panggilan Kai yang terus meneriakkan namanya.

"Shi Xun!" kali ini bukan hanya panggilan , tetapi bentakan di sertai cekalan di pergelangan tangan kirinya.

"Ada apa!" Tanya Shi Xun kasar. Cepat-cepat ia menepis tangan Kai yang mencekalnya.

Cekalan Kai terlepas dan dia memandang Shi Xun dengan tatapan tajam. "Kenapa kau pulang sendiri? Aku menunggu mu di tempat parkir , tapi kau tak datang-datang . Saat bel pulang , ku cari kau tidak ada di mana-mana. Dengan ku saja , oke . Aku akan mengantarmu sampai rumah." Tawar Kai lembut. Lebih tepatnya paksaan yang di utarakan dengan lembut.

"Nggg.."

"Ayo!"

Belum selesai Shi Xun menolaknya , Shi Xun sudah d tarik paksa oleh Kai. Kalau sudah begini , tidak aka nada yang bisa Shi Xun lakukan selain mengikuti langkah Kai. Bahkan ia merasa setengah berlari untuk menyeimbangi langkah Kai sampai mereka tiba di depan CRV milik Kai. Memang , setiap berangkat dan pulang sekolah , biasanya Kai selalu memaksa untuk antar-jemput Shi Xun.

"Masuk!" perintah Kai setelah membukakan pintu mobil untuk Shi Xun.

"Ya , ya aku tahu . Memang kau pikir aku akan duduk di kap mobil begitu? Kalau seperti itu lebih baik aku naik kea tap kereta , lalu tersangkut di kabel listrik dan akhirnya tewas!" gerutu Shi Xun membuat Kai tertawa.

"Tak akan ku biarkan kau tersangkut kabel listrik kereta. Karena aku sangat menyayangimu dan tak akan mau hidup tanpa mu. Jadi , aku akan melindungi mu , Shi Xun" kata Kai dengan wajah dan nada bercanda , namun serius.

"Ha ha ha … " Shi Xun tertawa sinis. "Omong kosong! Bullshit! Bagi ku , kau tak lebih dari lelaki psikopat yang terobsesi pada ku!" cibir Shi Xun.

Mendengar perkataan Shi Xun , lenyap sudah wajah bercanda milik Kai. Amarah bergejolak tanpa ampun di hatinya. Kai menggebrak dasbor kuat-kuat , membuat Shi Xun terlonjak kaget. Kai kemudian men-starter mobil , lalu untuk menyalurkan amarah , dia mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi menuju rumah Shi Xun. Tidak di pedulikannya lagi wajah yang memucat disampingnya.

"Hun , mama mau ke Wonju." Kata mama di sela sarapan.

"Uhuk..uhuk.." sop ikan yang sedang Sehun kunyah tiba-tiba embuatnya tersedak karena terkejut mendengar perkataan mama.

"Hati-hati sayang." Kata mama sambil menepuk-nepuk punggung Sehun dan menyodorkan air.

"Mama mau ke Wonju? Uhuk… untuk apa?" Tanya Sehun setelah meneguk banyak air.

"Urusan bisnis , ada yang mau membuka waralaba butik mama. Untungnya lumayan. Untuk itu sekarang ini , mama mau membantu survey tempat yang kira-kira cocok."

Sehun mengangguk-angguk mengerti. "Kira-kira lama tidak , ma?"

"Tidak , tidak sampai satu minggu."

"Mama berangkat kapan?"

"Hari ini , sekitar jam sepuluh nanti."

"Hari ini? Kenapa mendadak sekali?"

"Ini juga jadwalnya mendadak , sayang. Lagi pula kan hari ini hari minggu , jadi daripada mama menunda-nunda pekerjaan , lebih baik di selesaikan sekarang supaya cepat selesai." Mamanya memberikan alas an. Tak ada yang bisa Sehun lakukan selain mengangguk memberikan izin. Mamanya memang sudah seringkali meninggalkannya di rumah sendirian untuk urusan pekerjaan.

Pukul setengah sepuluh , mama pamit untuk pergi. Sehun meminta mamanya untuk memberikan kabar jika sudah sampai.

"Mama pergi dulu , sayang."

"Ya , mama hati-hati di jalan. Jangan lupa oleh-olehnya." Pesan Sehun mengingatkan mamanya.

Mama mengiyakan sambil tersenyum manis. "Tenang saja , nanti mama bawakan kamu kejutan dari sana." Janji mama-nya.

"Papa akan ke mana? Rapi sekali" Tanya Shi Xun heran saat melihat papanya terlihat keren siang ini.

"Ke danau sayang , memancing sebentar." Jjawab papanya ringan.

"Tidak biasanya memancing? Apa ada `sesuatu` ?" goda Shi Xun.

Papa tersenyum lebar. "mau menenangkan diri saja. Capek kerja berhari-hari. Selagi libur." Jawab papa. Memancing memang menjadi sarana efektif untuk banyak hal , termasuk melatih kesabaran dan menenangkan pikiran.

"Ooohh.. bawa ikan yang besar ya, pa. Kalau bisa ikan paus." Papa tertawa "memangnya papa mau memancing di laut?"

"Ya sudah , papa pergi dulu ya." Pamitnya

Mobil yang di tumpangi Joonmyun mulai menapaki Wonju setelah beberapa jam yang melelahkan. Matahari kini benar-benar sudah berada di puncaknya. Joonmyun di temani Xiumin , lelaki yang membeli franchise butik Joonmyun , langsung menuju tempat cabang butiknya akan di buka untuk melihat-lihat situasi dengan teliti.

Lokasi yang cukup strategis , di pinggir jalan dekat area `nongkrong` anak muda sekitar. Pasti banyak yang akan mengunjungi butiknya jika benar-benar membuka cabang di sini.

Sebelum menyelesaikan urusan lain tentang pembukaan cabang barunya , Joonmyun memutuskan untuk pergi sebentar ke sebuah tempat penuh kenangan saat ia masih tinggal di kota ini.

Dulu.

Dulu sekali.

Joonmyun memerintahkan sang sopir pribadinya , untuk pergi ke danau rekreasi tak jauh dari situ. Walaupun nyaris dua puluh tahun tidak menginjakkan kaki di Wonju dan kota itu mengalami perubahan yang pesat , Joonmyun masih hafal jalan tempat itu.

Dua puluh menit kemudian , mobil sedan Joonmyun menepi di parkiran taman danau yang di maksut. Ia member izin sang supir untuk jalan-jalan sebentar dan akan menelponnya ketika sudah ingin pulang.

Joonmyun tahu kemana harus pergi untuk bernostalgia dengan masa lalu. Ada sebuah batu alam hitam yang datar- yang bisa di gunakan sebagai bangku –di pinggir danau. Entah batu itu masih ada atau tidak.

Joonmyun melangkah perlahan. Ketika sampai , ia menemukan batu alam itu masih kokoh walaupun sudah bertahun-tahun , lalu tersenyum tanpa sadar. Tanpa ragu Joonmyun menghampiri batu besar itu dan duduk di sana. Angin yang menyentuh wajahnya lembut segera saja membuat pikiran lelaki setengah baya itu melayang ke masa lalu.

"Joonmyun?!" Tiba-tiba Joonmyun di kejutkan oleh suara berat yang memanggilnya dari arah kanan. Suara yang begitu akrab di telinganya , meski sudah lama tidak mendengar. Joonmyun menoleh dengan sangat terkejut dengan apa yang di lihatnya.