Judul : Fairly

Chapter : 3

Author : swaggerbubble

Rated : T

Cast : Kai , Shi Xun , Jongin , Kai , Joonmyun , Kris .

Happy Reading

Good Luck

"Joonmyun?!" Tiba-tiba Joonmyun di kejutkan oleh suara berat yang memanggilnya dari arah kanan. Suara yang begitu akrab di telinganya , meski sudah lama tidak mendengar. Joonmyun menoleh dengan sangat terkejut dengan apa yang di lihatnya.

"Kris?!" walaupun lama tak bertemu , Joonmyun langsung mengenali sorot mata lembut lelaki di depannya yang ternyata belum berubah. Lelaki itu mengangguk , kemudian menghampiri Joonmyun yang berdiri kaku dengan rasa rindu luar biasa. Rindu yang selama ini telah mereka coba redamkan , menyesaki dada masing-masing.

"emmm.. apa kabar mu?" Tanya Kris , memecah kesunyian yang sempat beberapa menit menyiksa batin mereka.

"Baik" jawab Joonmyun. "Bagaimana dengan mu?"

Selama beberapa saat , obrolan mereka hanya seputar basa-basi mengenai kabar masing-masing. Tetapi lama kelamaan pembicaraan mereka mulai menyangkut kabar keluarga. Kabar Shi Xun. Kabar Sehun. Juga perihal hidup yang mereka jalani setelah berpisah.

Langit mulai memasuki senja. Mereka masih duduk di batu pipih penuh kenangan. Tempat mereka dulu sering menghabiskan waktu untuk sekedar duduk-duduk sambil mengobol atau memancing di danau.

Dalam obrolan panjang itu , terkadang mereka terlihat tersenyum , sesekali wajah mereka terlihat kaku. Joonmyun pun sempat meneteskan air mata saat obrolan mereka menyentuh hal-hal sensitive. Termasuk soal perjuangan dan kesalahan yang mereka lakukan dulu.

Ketika orang tua Kris tak menyetujui hubungannya dengan Joonmyun. Apalagi saat itu , Kris masih kuliah , sehingga hubungan mereka ditakutkan akan merusak pendidikan Kris.

Cinta yang dalam serta ketulusan hati yang tak ternilai , membuat Kris nekat melawan orangtuanya. Dia menikahi Joonmyun secara siri dan pergi dari rumah. Tak lama kemudian , Joonmyun hamil dan melahirkan anak kembar. Orangtua Joonmyun juga tidak mengetahuinya karena mereka tinggal di Busan.

Sayangnya orangtua Kris hanya memiliki satu anak , tak rela jika anak mereka pergi begitu saja. Dengan segala daya upaya , bahkan menghalalkan segala cara , mereka dapat menarik paksa Kris untuk pulang dan memaksa untuk mengakiri hubungan tersebut.

Joonmyun yang saat itu merasa malu terhadap keluarganya dan keluarga Kris , memutuskan untuk mengalah. Pergi selamanya dari hidup sang suami dan pergi mencari peruntungan di Seoul. Kris yang saat itu terlalu di kekang keluarganya , tidak dapat melakukan apapun selain membiarkan Joonmyun pergi. Tetapi Kris memohon , agar salah satu anaknya diizinkan untuk tinggal bersamanya.

Awalnya joonmyun menolak , tapi melihat Kris begitu menyayangi anaknya , maka dengan hati luluh lantak ia pun menyerahkan salah satu bayinya pada Kris.

Hingga detik ini , Joonmyun dan Kris masih sendiri.

Mengingat segala bentuk peristiwa yang menyayat hati di masa lalu , membuat Joonmyun dan Kris merasa sedih. Tetapi masih ada satu hal yang mereka yakini dalam hati , bahwa tak ada yang salah dalam masalah ini. Semuanya merupakan takdir , jalan yang telah Tuhan gariskan.

Joonmyun dan Kris bertatapan di bawah bayang-bayang senja.

Cinta dan Takdir.

Dua hal yang membawa mereka kembali di pertemukan.

Hingga sampai pada satu keputusan ….

Shi Xun yang baru pulang dari supermarket sedikit terkejut saat melihat papanya dengan wanita tengah baya tengah mengobrol di ruang tamu. Wanita itu masih kelihatan cukup cantik meski seusia papanya. Dia menatap Shi Xun dengan begitu hangat seolah-olah ingin memeluk.

Wanita itu tersenyum manis pada Shi Xun , yang langsung di balas dengan senyum sopan dan tak kalah manis. Tetapi Shi Xun merasakan perasaananeh merasukinya, perasaan yang menyatakan bahwa entah mengapa , ia merasa dekat dengan wanita ini.

"Shi Xun?" panggil wanita itu seperti menggumam.

"Hmm.. ya?" Shi Xun terlihat ragu-ragu meski tidak heran mengapa wanita asing ini mengetahui namanya. Papanya pasti sudah cerita.

Wanita itu hanya menggeleng mendengar respons Shi Xun , seolah menatap gadis itu mebuatnya tak bisa berbicara .

"Kalau tidak ada yang perlu dibicarakan lagi , Shi Xun akan ke kamar , pa." ujar Shi Xun setelah sepuluh detik berlalu dan dirasakannya ia tak dibutuhkan lagi di ruangan tersebut.

"Tunggu Shi Xun!" seru papa dan wanita itu berbarengan saat Shi Xun mulai menapaki tangga menuju kamarnya. Shi Xun memandang dengan bingung mereka.

"Kau belum berkenalan dengan Joonmyun imo? Dia teman lama papa." Kata papa salah tingkah. Shi Xun memandang cengo papanya yang tumben-tumbenan tersipu dan Joonmyun imo di sebelah papa yang juga kelihatan taknyaman.

"Oh iya" nada suara Shi Xun terdengar ramah , tapi matanya menyorotkan tajam rasa curigkan. "Salam kenal Joonmyun imo."

"Imo sudah mendengar banyak cerita tentang kamu , Shi Xun." Kata Joonmyun imo berusaha terdengar ceria. "Kamu hebat juga ya , sudah banyak prestasinya padahal masih muda. Kamu sering menang-menang lomba conversation , juara kelas , sering mewakili sekolah olimpiade. Wah , kau benar-benar luar biasa! Pasti papamu bangga sekali dengan itu semua."

Mata Shi Xun menyipit mendengar pujian mencurigakan itu. Walapun tak ada satu nada atau ekspresi wanita itu yang menyiratkan ketidak tuusan, Shi Xun tak bisa menahan diri untuk bersikap waspada.

"Oh iya , imo punya sesuatu untuk mu." Kata Joonmyun imo lagi. Shi Xun memperhatikan saat Joonmyun imo berjalan cepat menuju meja disebelah sofa , tempat hand bag besarnya trgeletak , kemudian mengambil kotak terbungkus kertas kado rapi berwarna hijau kesukaan Shi Xun.

"Ini hadiah dari imo karena kau sangaaattt pintar."

Shi Xun memandang bingkisan tersebut ragu-ragu , namun karena tak enak hati ia putuskan untuk menerimanya sambil tak lupa memelototi papanya yang hanya memandang dengan senyuman tipis. Ia ingat papanya pernah mengatakan untuk tak pernah sekali pun menerima pemberian dari orang asing ketika ia kecil , dan sekarang tampaknya papa sudah melupakan pesan tersebu.

Dalam hati Shi Xun curiga setengah mati kalau wanita di depannya ini pacar papanya. Oh My God! Shi Xun mendumel dalam hati. Papa nya memang belum berusia lima puluh tahun , masih tergolong muda dan fit , tapi kenapa baru sekarang dekat denganwanita setelah seumur hidup Shi Xun mengenal papa?

Berjuta pikiran buruk mulai berdatangan dalam otak Shi Xun. Bagaimana kalau nanti papa tak sayang dengan ku lagi? Bagaimana kalau imo didepan ku ini berubah menjadi ibu tiri jahat? Bagaimana kalau ternyata Joonmyun imo mempunyai seorang anak…. Dan anak nya menyebalkan? Ingusan? Cengeng? Cerewet?

"Gasahamnida , Joonmyun imo." Ujar Shi Xun lebih lembut. Ia tidak boleh terintimidasi wanita manapun yang mendekati papa. "Kalau begitu , Shi Xun akan ke kamar dulu. Sepertinya aku akan mandi".

Joonmyun imo mengangguk dan tanpa perlu menunggu lagi Shi Xun langsung menghambur kekamarnya. Ia cepat-cepat membuka bingkisan yang diterimanya dan menemukan sehelai syal hijau sutra indah dengan bordiran bunga-bunga kecil cantik. Sial! Ia suka sekali warna hijau dan warna zamud di tangannya melebihi warna hijau apapun yang dia suka selama ini!

"Belum apa-apa sudah menyuap!" gerutu Shi Xun sambil dengan asal-asalan melemparkan syalnya kea rah ranjang , menolak hatinya yang ingin mengeluskan bahan halus tersebutke pipinya.

Shi Xun tahu betul papa berhak untuk bahagia. Papa mungkin memiliki dirinya , tapi Shi Xun mengerti bahwa itu saja tidak akan cukup untuk selamanya. Shi Xun akan semakin dewasa , kemudian akan melanjutkan hidupnya sendiri. Papa akan sendirian di sini , dengan pekerjaannya , dengan kenangannya. Walaupun dengan kesadaran yang menghantam , tetap berat memikirkanpapa tak selamanya mencintai mama. Berat memikirkan bahwa kasih sayang tercurah kepadanya harus terbagi , terutama bari beberapa hari lalu Shi Xun menemukan papanya menangis memandangi foto mamanya dan mengatakan masih mencintainya.

Dengan langkah gontai , Shi Xun menuju ke kamar mandi dan menempatkan dirinya dibawah shower. Relaks , perintahnya dalam hati. Ia butuh menenangkan diri dan memikirkan masalah ini lagi nanti.

Keesokan harinya , Shi Xun terkejut ketika pagi-pagi sekali Joonmyun imo sudah mampir ke rumah. Menginvasi dapur dan menyiapkan sarapan! Shi Xun memperhatikan ketika wanita itu dengan luwes kesana kemari di dapur. Dia memasukkan bumbu-bumbu tumisan dalam kuali yang panas , mengambil piring ini atau sendok itu dari lemari gantung tanpa kesulitan , seolah-olah sudah terbiasa dengan dapur Shi Xun dan tahu di mana letak alat-alat yang dibutuhkan.

"Tanda-tanda ingin jadi istri sepetinya sudah kelihatan." Gerutunya pelan saat Joonmyun imo meletakkan sewadah besar nasi goreng ayam di meja makan. Papanya yang memegang Koran , tampak tak terganggu sama sekali dengan kehadiran Joonmyun imo. Beliau sedikit menurunkan korannya dan menatap Shi Xun.

"Tadi kau bilang apa sayang?" Tanya papa penasaran.

"Aku tak mengatakan apa-apa , pa." katanya sepolos mungkin. Papa menaikkan sebelah alis tapi memutuskan melanjutkan bacaan.

Setelah semua kebutuhan sarapan tersedia di meja , Joonmyun imo tanpa ragu langsung mengambil posisi duduk di sebelah papa.

"Tanda kedua , ingin jadi istri sepertinya." Gerutu Shi Xun lagi , tapi kali ini langsung dihadiahi tatapan penasaran.

"Ada apa dengan mu Shi Xun?" Tanya papa lagi , kali ini kelihatan sedikit kesal.

"Hanya sedang menghapal rumus untuk ulangan nanti sore , pa." Shi Xun berkilah dengan lancar. Papa menatap Shi Xun setengah tak puas namun memutuskan untuk memercayai Shi Xun.

"semoga ulangan mu berhasil sayang." Ujar papa pelan.

Shi Xun mencicipi nasi goring buatan Joonmyun imo yang disajikan bersama kimchi dan omlet telur di piringnya an merasakan masakan yan lezat menari di lidahnya. Sial! Kenapa enak sekali! Jadi tidak bisa pura-pura marah , gara-gara masakannya tak enak, dalam hati Shi Xun menggerutu jahat.

"Shi Xun." Joonmyun imo tiba-tiba bicara , memecah keheningan yang terjadi selama sarapan berlangsung. Shi Xun mendongak dari piringnya dan menatap Joonmyun imo , hari ini sosoknya kelihatan cantik dengan atasan leher tinggi. "Imo kan bukan orang Wonju , bagaimana kalau nanti sian sepulang sekolah kamu imo jemput? Kita akan berjalan keliling kota. Papa kamu sudah member izin , tenang saja."

"Tapi hari ini Shi Xun ada kelas tambahan , imo. Pulangnya sore, lebih baik imo jalan-jalan sendiri saja , untuk lebih mudahnya lebih baik imo menyewa sopir saja. Lebih mudah , bagaimana?" ujar Shi Xun tanpa basa-basi. Ia melirik sekilas papanya yang terkejut dengan sikapnya yang tida sopan.

"Imo akan menunggu mu hingga kau selesai sekolah saja." Balas Joonmyun imo tak kenal menyerah. Shi Xun menghela napas sebal , ketika ia hendak membuka mulut untuk membalas kembali , ponsel miliknya yang tergeletak di meja bergetar.

Kai

Tak sekalipun ia merasa seberuntung ini ketika Kai menelponnya.

"Iya , Kai?"

"Aku akan menjemputmu , lima menit lagi akan sampai." Suara tenang Kai terengar dari seberang.

"Baiklah , aku menunggu mu." Seru Shi Xun bersemangat. Ia yakin bahwa suaranya sudah membuat lelaki itu heran dengan semangatnya pagi ini.

"Pa , imo , teman Shi Xun sebentar lagi akan menjemput. Shi Xun akan menunggu di depan tak lama ia melihat mobil Kai menepi di depan rumah. Tanpa menunggu Kai membuka pintu , Shi Xun langsung meloncat masuk mobil. Seperti dugaannya , Kai memandangnya dengan mata menyipit heran. Untungnya bagi Shi Xun , lelaki itu memutuskan untuk tak mengatakan apa-apa.

Siang harinya , Shi Xun terkejut ketika sedan papanya sudah terparkir rapi di depan gerbang sekolahnya. Namun seperti dugaannya , yang keluar dari mobil ketika Shi Xun melewati gerbang bukanlah papanya, tetapi Joonmyun imo yang sepertinya tak kenal lelah mencari perhatiannya.

"Hai , Shi Xun." Sapa Jonmyun imo ramah setelah sampai di depanShi Xun. Sia-sia sudah aku menghindar dari Kai Siang ini.

"Eh , Jonmyun imo Ada apa?"

"Menjemputmu sayang. Tadi pagi kita kan sudah berjanji."

Shi Xun salah tingkah. Terutama ketika jelas-jelas sekarang ia pulang tepat pada waktunya , tak ada pelajaran tambahan sama sekali. Ia sudah membayangkan kalau Joonmyun imo akan dating kemari sore-sore dan menemukan sekolahnya kosong melompong. Jahat sih memang , tapi rasanya menyenangkan seskali jadi anak bandel.

"Ya sudah , ayo kita makan siang. Tadi waktu imo di jalan menemukan café yang sepertinya enak. Setelah itu kita bisa berbelanja."

Shi Xun cemberut , tapi tak punya pilihan lain selain mengikuti Joonmyun imo menuju mobil papanya. Di dalam mobil , Shi Xun memutuskan langsung menghidupkan radio , yang menjadi isyarat bahwa ia tak ingin ada percakapan di dalam mobil. Joonmyun imo sepertinya mengerti , karena ia memutuskan untuk menyetir dengan tenang sampai mereka berhenti di sebuah resto and café , yang cukup mewah untuk ukuran Shi Xun yang biasanya nongkrong di coffeshop murah di mal.

"Bagaimana kalau kita makan di sini?" Tanya joonmyun imo ramah. Shi Xun mengangguk dan segera keluar dari mobil. Mereka sekali lagi menunggu dalam lima belas menit yang hening sampai pesanan mereka datang.

"Jadi bagaimana dengan sekolah mu hari ini , sayang?" Tanya Joonmyun imo lembut.

Shi Xun tersentak ketika lawan bicaranya itu berbicara padanya dengan nada penuh kelembutan dan kasih sayang. Dia jarang sekali mendapatkan perhatian yang kelihatan begitu tulusnya. Terutama karena papanya baru kali ini mengenalkannya pada seorang wanita. Shi Xun ingin sekali meminta konfirmasi langsung kepada orang yang ada di depannya ini mengenai hubungannya dengan papanya , namun Shi Xun sama sekali tak siap dengan jawabannya walaupun sudah bisa menebak. Sekali lagi , perasaan seperti sesuatu yang berharga akan di renggut dari dirinya terasa menyesakkan ketika memikirkan papanya menikah lagi.

"Baik imo. Tadi ada ulangan mendadak. Untung saja Shi Xun sempat belajar kemarin malam."

"Imo yakin kalau kamu pasti bisa dapat nilai bagus." Ketika Shi Xun hanya menjawab dengan anggukan ,Joonmyun imo bertanya lagi. "Shi Xun , ceritakan tentang dirimu. Misalnya , apa yang paling kamu suka dan tidak suka. Atau apa yang biasanya kamu lakukan setiap kali ada waktu luang."

Shi Xun ragu-ragu sejenak , namun mendengar nada ingin tahu yang jelas , bukan hanya sekedar basa-basi saja dari Joonmyun imo , mendorong Shi Xun untuk bercerita. Shi Xun seketika meralat pikirannya bahwa sekali-kali bandel boleh juga miliknya tadi , karena lama-lama ia menjadi tak tega juga.

"Saat kecil papa sering mengajakku memancing sampai berjam-jam , membuat ku benar-benar bosan. Maka dari itu sampai sekarang aku sering sebal kalau papa memancing. Selain bosan , aku juga tak tega melihat ikanny terluka , imo. Mungkin karena aku sering di bacakan cerita dongeng , jadi tidak tega kalau melihat kan terluka. Apalagi setiap kali papa sudah dapat banyak ikan , sebagian ikannya akan di lepas lagi. Bagaimana tidak sebal?"

Joonmyun imo tertawa mendengan cerita Shi Xun , membuat lelaki itu tak kuasa menahan senyumnya. Entah mengapa ia jadi ingin menceritakan segala sesuatunya pada lawan bicara di depannya ini. "Lalu ada lelaki , imo…"

Shi Xun ragu-ragu , dan kening Joonmyun imo berkerut dengan penasaran. "Lalu?" bujuknya.

"Hmm.. Shi Xun sedikit sebal dengan dia. Dia benar-benar possessive!"

"Kekasih mu?" Joonmyun imo tersenyum maklum.

Shi Xun mengangguk. "Tidak tahu juga kenapa dulu aku mau sama dia! Pokoknya sekarang aku merasa kalau hubungan kami hambar , tidak menyenangkan sama sekali. Masalahnya , setiap kali Shi Xun bilang untuk mengakhiri semuanya , dia tidak pernah mendengarku. Aku benar-benar kesal!"

"Kau sudah mencoba untuk berbicara baik-baik dengannya?"

Joonmyun imo tertawa. "Imo jadi penasaran dengan orangnya. Pasti kau sangat special untuknya , sampai-sampai dia tak mau kehilangan mu."

Sh Xun cemberut mendengar ucapan Joonmyun imo yang tidakjauh beda dengan ucapan papanya setiap kali Shi Xun mengeluh. Kenapa sih orang dewasa tak menganggap sikap Kai menyebalkan? Seolah-olah ada magnet yang menarik matanya untuk menoleh ke pintu , Shi Xun menoleh dan bertemu pandang dengan Kai yang baru saja memasuki café.

"Sialan!" gerutu Shi Xun. Joonmyun mengikuti arah pandang Shi Xun dan tersenyum.

"Dia orangnya?"

"Aku yakin dia pasti mengikutiku , karena aku lari tak mau di antar pulang olehnya."

"Dia tampan kenapa kau sia-siakan , sayang?" Joonmyun imo tertawa. Kai tersenyum singkat kepada Shi Xun dan Joonmyun imo. Namun tak menghampiri keduanya dan malah memesan segelas kopi dan duduk di sudut café.

"Ya tuhan , dia itu stalker , imo! Bagaimana Shi Xun tidak merinding dekat-dekat dengan dia?"

Seolah-olah takdir hendak membantah kata-kata Shi Xun dua orang lelaki yang ia kenali sebagai teman sekelasnya juga –teman –teman Kai –masuk ke café dan mengambil meja di tempat Kai.

"Mungkin hanya kebetulan dia dan teman-temannya di sini." Jawab Joonmyun imo sambil cengengesan

"Terserah saja! Shi Xun kesal , kita pulang saja ,imo."

Joonmyun imomengangguk , meminta pelayan membawakan bill sebelum mereka pergi. Shi Xun berusaha mengabaikan tatapan menyelidik Kai yang mengikutinya sampai keluar dari café. Pati sebelumnya lelaki itu mengira ia pergi dengan orang lain.

Sepanjang perjalanan pulang , entah mengapa Shi Xun merasa duduk disebelah Joonmyun imo tak terlalu menekan seperti sebelumnya. Mungkin karena tadi dia sempat ngobrol-ngobrol dan Joonmyun imo tak seperti yang ia bayangkan sebelumnya. Dia itu menyenangkan. Keibuan.

"Joonmyun imo punya anak?" pertanyaan itu meluncur tiba- tiba dari mulut Shi Xun tanpa terpikir.

Joomyun imo tampak terkejut dengan pertanyaan tersebut. Pegangan disetirnya mengencang sedikit seolah-olah panic harus menjawab apa. "Iya , imo punya seorang putra seusia kamu , sayang."

"Dia orang yang seperti apa, imo?"

Joonmyun imo tersenyum , pandangannya ke depan tapi Shi Xun tahu pikirannya tak lagi ada di dalam mobil bersamanya. Kebanggaannya ketika mengingat putranya entah mengapa melukai Shi Xun. Tentu saja , papanya bangga menceritakan tentang dirinya kepada teman-temannya. Tapi Shi Xun tak pernah punya ibu….

"Posur tubuh nya mirip denganmu. Hanya saja dia anak yang cerewet , susah di atur , terkadang kelewat manja. Tapi dia sangat peduli dengan orang lain , terutama dengan orang-orang yang ia sayangi." Jelas Joonmyun imo dengan lembut. Shi Xun mengalihkan pandangannya pada jalanan yang berlalu cepat di sampingnya sampai mobil itu berhenti tepat di depan rumahnya.

"Sudah sampai , Shi Xun akan masuk lebih dulu , trimakasih imo." Serunya , dan tanpa menunggu balasan masuk ke dalam rumah dan mengunci dirinya di dalam kamar. Oh My , kenapa aku cemburu dengan anak lelakinya Joonmyun imo?

"Kapan kita akan membicarakan ini semua dengan Shi Xun , sayang? Bagaimanapun , rasanya sulit untuk berpura-pura dengan dia."

Langkah Shi Xun terhenti. Ia mundur selangkah dan berhenti di belakang tangga , tempat ia bisa bersembunyi dari papa dan Joonmyun imo , namun masih bisa mendengarkan percakapan dengan jelas. Jam dinding masih menunjukkan pukul 6.30 , lebih cepat setengah jam dari waktu biasa Shi Xun untuk turun dari kamar untuk sarapan. Ini sudah seminggu Joonmyun imo selalu datang ke rumah untuk menyiapkan sarapan dan menghabiskan hamper setiap siang dan sore menjemput Shi Xun untuk mengajaknya jalan-jalan.

"Aku takut kalau dia tak siap menerima semuanya , sayang" Shi Xun mendengar papanya berbicara , dengan suara sedih. "Memang tak seharusnya kita merahasiakan semuanya seperti ini. Seandainya waktu bisa diulang…"

"sayang.." suara Joonmyun imo menyela. "Aku tidak punya waktu selama nya di sini. Sebentar lagi aku akan pulang ke Seoul. Apa kau tidak ingin secepatnya memberitahukan Sehun bahwa papa nya masih ada dan sangat merindukan dia?"

Jantung Shi Xun berdetak lebih kencang dari sebelumnya. Ia semakin mendekat ,mencoba mendengarkan dengan lebih seksama keanehan obrolan papanya dengan Joonmyun imo.

Ketika papa tak menanggapi lagi , Joonmyun imo bicara lagi , suaranya kali ini bergetar hebat. "Aku juga ingin… Shi Xun mengetahui bahwa aku bukansekedar orang asing yang perlu diwaspadai , sayang. aku ingin dia tahu bahwa aku ibunya."

Shi Xun terkesiap. Ia sepertinya mengejutkan kedua orang yang sedang berbicara serius itu karena keduanya sekarang memandang kearahnya dengan pandangan penuh kesedihan dan ketakutan. Shi Xun tak menyadari bahwa ia telah menampakkan diri ke depan orangtuanya.

"Shi Xun?" joonmyun imo berbisik sedih , kedua matanya di penuhi air mata.

"Aku ingin tahu , apa maksud pembicaraan tadi?" Tanya Shi Xun syok. Ia memandang Joonmyun imo tajam-tajam. "Siapa imo sebenarnya?"

"Shi un…" papa memulai. "Papa tahu ini mengejutkan … papa minta maaf karena selama ini tak pernah membicarakan apapun denganmu."

"papa bukannya tidak bicara!" teriak Shi Xun. "Papa sudah membohongiku! Papa bilang mama sudah meninggal … tapi kenyataannya?! Dan Joonmyun imo .. jika memang benar-benar ibuku , kenapa baru menemuiku sekarang? Kenapa?! Apa imo benar-benar tak menginginkanku sebagai anak sampai-sampai selama tujuh belas tahun hidupku tak pernah mengunjungiku sama sekali?"

Joonmyun imo terlihat terpukul dengan tuduhan Shi Xun hingga tak sanggup lagi berdiri tegak dan terhuyung bersandar pada pada meja dapur.

"Shi Xun!" papa memeringatkan. Tapi Shi Xun sudah tak peduli , ia berlari ke kamar dan menutup pintu , tak lupa menggeser meja belajarnya yang berat di belakang pintu agar papanya tak bisa membuka pintu kamarnya dengan kunci cadangan.

Dugaan Shi Xun benar , ketika ketukan papanya tanpa henti tak mendapat balasan , papa mulai membuka pintu dengan kunci cadangan walaupun usahanya sia-sia.

"Kalau sekarang kau ingin menenangkan diri dulu , papa biarkan. Tapi kita harus bicarakan semuanya Shi Xun. Nanti tunggu sampai nanti malam." Ucapan papanya menutup usaha membuka paksa kunci kamarnya , membuat shi Xun semakin menenggelamkan diri di ranjang.