(FINAL)FF BTS/YAOI/J.V/THE BEAUTIFUL HIB-CREATURES /Chapter 13B

Title: The Beautiful Hib-Creatures

Author: Bang Young Ran

Rating: T *adem*

Genre: Yaoi/Fluff/Romance/Scien-fict/AU

Length: Chaptered

Main Cast:

Kim Tae Hyung aka V ^w^ 3

Kim Seok Jin~~ 3

Support Cast:

HopeKook (J-Hope & Jung Kook)

KrisBaek (Kris & Baek Hyun EXO)

DaeBaek (Dae Hyun BAP & Baek Hyun)*ni cuma masa lalu*

DaeJae (Dae Hyun & Young Jae)

BangHim (Yong Guk & Hime~~)

MinSu (Ji Min & Suga)

Zelo (Choi Jun Hong)

Leon (Jung Taek Woon aka Leo & Cha Hak Yeon aka N VIXX)

Couples nyusul~

Disclaimer: BTS is Big Hit/JYP Entertainment Boy Group and their parents, and it's Youngranie fic~ muaaaachhh...*kechupbasah*

Warning: TYPO! OOC! YAOI/BoysxBoys! M-PREG! NC! NO PLAGIARISM! NO BASHING! NO SIDERS!

Author's Note: Thank you so much 4 all of Readers-nim that support and comment to my J.V ff 4 this long time. You don't know how complete I am you make me feels. ARIGATOU GOZAIMAS~~~~*ni bener gak?* Akhir kata, selamat membaca buat ARMY semua. m( _ _)m *deep bow*

Summary: Di era modern sekarang ini, manusia tidak lagi terfokus dalam menciptakan kaleng besi berjalan—robot. Menciptakan makhluk hidup yang benar-benar hidup dalam bentuk lain, itulah yang menjadi fokus para ilmuan beberapa tahun belakangan. Awalnya menggabungkan spesies hewan dari jenis berbeda, dan sekaranglah terobosan baru tercipta dimana gen hewan digabungkan dengan... gen manusia.

.

.

DON'T LIKE, DON'T READ, JUST LEAVE IT, OK!?

.

.

~~( ^3)(.o )~~

.

.

TANPA BANYAK BACOT, LANGSUNG AJA CHECK IT OUT

HAPPY READIIIIIINNNNGGGGG... ^3^

.

.

.

The Beautiful Hib-Creatures

Chapter 13B

Three weeks later...

Para siswa tampak berlalu lalang dengan nampan makanan masing-masing. Pemandangan biasa yang akan kau temui bila berada di cafetaria sekolah. Akan tetapi... satu meja di sudut ujung kantin tampaknya menyajikan pemandangan berbeda. Dimana dua orang namja tampan tengah saling beradu tatapan membunuh.

"Menurutmu mereka akan saling memukul wajah?"

"Tidak mungkin! Setahuku, mereka berdua bersahabat!"

"Lalu? Di antara persahabatan bisa saja terjadi perselisihan, kau tahu?!"

"Oh, kau benar juga! Eum... apa mungkin ini ada hubungannya dengan Jung Kook-ssi? Bukankah J-Hope-ssi dan Jung Kook-ssi sudah resmi menjadi pasangan mate? Mungkin... Jin-ssi tidak menyetujui hubungan mereka?!"

Oke, kenapa bisikan-bisikan itu terdengar semakin ngawur, eoh?

J-Hope dan Jin sontak melirik bersamaan ke samping, melempar death glare pada beberapa orang kumpulan yeoja yang langsung menghindari tatapan keduanya dengan berpura-pura sibuk menikmati makanan yang terhidang di meja mereka. Huh! Bukannya makan, mereka malah sibuk menggosipi orang lain, eoh?! Apa mereka sadar kalau orang yang mereka bicarakan berjarak sangat dekat dengan meja mereka?!

"Ini salahmu, Jin. Kenapa kau menatapku seperti itu? Mereka jadi salah mengira kalau kita akan berkelahi, 'kan!?" gerutu J-Hope sembari berpangku tangan. Kembali ditatapinya wajah tampan sang sahabat. Yah, hanya inilah sebenarnya yang sedari tadi mereka lakukan; saling menatap penuh selidik. Jin duluan yang melakukannya.

"Ish! Aku hanya ingin tahu apa kau memperlakukan dongsaeng-Ku dengan baik!? Aku dan Taehyungie sudah kembali ke sekolah sejak minggu lalu, tapi kau? Kenapa baru pagi ini menampakkan diri?! Mana dongsaeng-Ku?! Kau tidak menyiksa dan mengurungnya di rumah, 'kan?!" Jin seenak jidat mengatakan semua tuduhan tersebut. Jelas saja J-Hope tidak terima dan mengerucutkan bibir tidak suka.

"Kalau begitu, seharusnya kau bertanya dari tadi! Bukannya malah mengajakku bertarung tatapan! Dan lagi, kau tega sekali berkata seperti itu padaku, eoh?! Jungie baik-baik saja karena aku tidak menyiksanya, Babbo! Aku sangat mencintai Jungie! Asal kau tahu saja, masa heat bunny hybrid adalah yang terlama dari kebanyakan hybrid lainnya. Heat Jungie-Ku baru berakhir dua hari lalu, karena itulah aku memaksanya untuk beristirahat dan tidak ke sekolah dulu. Seharusnya kau lebih tahu mengenai hal itu lebih dari siapapun!"

"Oh~"

What the hell!?

Setelah mengomel dan menuduhnya sembarangan, Jin hanya berkata 'oh'?! Nappeun namja. J-Hope benar-benar gemas dibuatnya. Hampir saja omelan pedas berbondong-bondong keluar dari bibirnya saat sesosok makhluk imut dengan sepasang telinga keemasan menghempas duduk di samping Jin.

V.

Tapi... benarkah itu V? J-Hope hanya ragu, dan takjub, karena makhluk imut yang terkenal super jutek tersebut sekarang... tersenyum riang sambil bergelayut manja pada lengan sahabatnya, Jin.

"Yeobo, kau darimana saja? Aku tadi ke kelas mencarimu." Jin berkata sembari mengusap lembut puncak kepala V dengan tangannya yang bebas.

"Jinjja? Aku tadi dipanggil ke klub. Sebentar lagi akan diadakan turnamen taekwoondo. Mianhe~ seharusnya kau memberitahuku dulu, Seokie~, supaya tidak repot mencari ke kelas segala!"

O. My. God. Apakah indera penglihatan serta pendengaran J-Hope telah mengalami gangguan saat ini? Benarkah baru saja... V berkata lembut? Manja? Terdengar merajuk?! Dan... semakin tidak nyata karena V melakukannya sembari menggoyang-goyang lengan Jin yang digelayutinya. Err... mirip anak kecil. Well, J-Hope akui sekarang kalau lion hybrid imut itu sangat manis dan menggemaskan.

"Kkkkk~ gwenchanayo, Yeobo~ Aku sama sekali tidak merasa repot! Jadi sebentar lagi kau akan bertanding, eoh? Aku yakin kau akan menang dengan mudah, Yeobo! Banting mereka tanpa ampun, ne!?"

"NE! Tentu saja!"

J-Hope facepalm. Dia tidak percaya ini. Dua orang di depannya baru saja membicarakan kekerasan dengan wajah riang gembira layaknya membahas cuaca cerah di musim semi.

"EHEM!" dehem J-Hope pada akhirnya. Dia mulai merasa pasangan lovey-dovey di sana tidak lagi menyadari kehadirannya. Benar saja, karena V langsung menatap padanya dengan ekspresi terkejut.

"Ho Seok Hyung!? Hyung dari tadi di sini?!"

"Huft... ne, aku dari tadi di sini, Tae Hyung-ssi. Bagaimana kabarmu?"

Mengejutkan. V tampak tidak lelah tersenyum riang. Senyumnya mengingatkan J-Hope pada sang mate, Jung Kook. Entah bagaimana keadaan mate-Nya yang manis itu sekarang? Apa Jungie-Nya sedang tidur?

"Aku baik, Ho Seok Hyung~! Ah! Bagaimana dengan Jungie? Aku merindukan Jungie~ Apa Jungie baik-baik saja?" tanya V bersemangat, membuat yang ditanyai terpengaruh dan tidak mampu menahan senyuman.

"Ne, Jungie baik-baik saja. Jangan cemas, Tae Hyung-ssi. Jungie juga merindukanmu."

"Jeongmal?"

"Ne! Tadi pagi bahkan dia bersikeras ingin ke sekolah tapi... aku menyuruhnya untuk beristirahat dulu."

Itu benar. Jung Kook bahkan nyaris menangis saat dipaksa untuk beristirahat tadi pagi, membuat J-Hope merasa seperti orang terjahat di dunia karena membuat mate-Nya yang lucu berurai air mata. Tapi apa boleh buat? Jung Kook butuh istirahat total mengingat kegilaan heat yang mereka lewati selama ini dan, jika bukan karena memikirkan dirinya yang tertinggal banyak pelajaran, J-Hope pastilah masih di tempat tidur saat ini, menemani Jung Kook beristirahat.

"Bagaimana kalau kita melakukan double date?" Jin tiba-tiba memberi usulan. Matanya yang besar menatap excited V dan J-Hope.

"Dengar, Kim Seok Jin Yang 'Jenius', Jungie-Ku butuh ISTIRAHAT! Dan kau malah mengusulkan double date?!"

Kata-kata J-Hope membuat urat di pelipis Jin berkedut. Ditatapnya sahabat – ehem, adik iparnya itu dengan tatapan membunuh. "Dengar Ho Seok, Tuan SOK Jenius, aku tidak berkata untuk melakukannya dalam waktu dekat ini, 'kan!? Kalau dongsaeng-KU sudah baikan, baru kita melakukannya! Babbo!"

J-Hope bungkam. Hanya matanya yang menyipit sebal karena penekanan 'sok dan ku' dari Jin terdengar seperti mengancamnya. Benar juga. Hubungannya dan Jung Kook bisa saja terancam kandas kalau Jin berubah pikiran, 'kan?

"Kita akan double date kemana, Seokie? Taman bermain lagi?" Tanpa diduga V menyambut excited usulan sang mate.

Jin langsung menyeringai, memperlihatkan gummy smile yang diwarisinya dari sang appa, "tidak, Yeobo~ Aku punya ide yang lebih baik," ucapnya penuh arti.

V menelengkan kepala tidak mengerti. Salah satu telinga animalnya turun mengikuti ekspresi bingung yang wajah imut tersebut perlihatkan. Jin yang melihatnya jadi gemas hingga tanpa sadar meraih rahang V dan dengan lembut mengecup bibir pink lion hybrid tersebut lama.

Keduanya terlalu asyik dengan bibir masing-masing hingga tidak memperdulikan kalau saat ini rahang J-Hope jatuh dengan mata terbelalak lebar. Reflek namja tampan itu melirik ke sekeliling. Benar saja. Semua orang di cafe sama ternganganya dengan J-Hope.

"Eum... Guys...?" J-Hope mencoba memberi peringatan, namun...

"Angh... Seokiehh~"

... V mendesah pelan.

Ugh! Percuma, Jung Ho Seok... kau tidak seharusnya berada diantara pasangan kasmaran itu, 'kan!?

'Sial. Seandainya Jungie-Ku disini!' ratap J-Hope merana. Bukannya merasa malu, dirinya malah iri, eoh? Ckckck~~ -.-

~~~~~~\(=^3^=)(=0ɷ0=)/~~~~~~~

Seoul Hybrid Hospital Center~~~

"Bagaimana perkembangannya? Apakah dia baik-baik saja, Chanie Umma?"

Him Chan menatap Suga yang balas menatapnya was-was. "Tenang, Chagi, dia baik-baik saja. Kau lihat hasil USG tadi, 'kan? Jantung baby kalian berdetak sangat kuat. Aku ragu kalau sesuatu yang buruk akan terjadi pada Serigala Kecil ini~" kata Him Chan menenangkan sembari mengusap penuh ketertarikan perut besar Suga. Yang diusap perutnya langsung terkikik mendengar Him Chan memanggil bayinya dan Jimin 'Serigala Kecil'. Well, itu panggilan yang lucu dan menggemaskan.

"Kkkkk~ terima kasih, Chanie Umma. Maaf, merepotkanmu saat bekerja. Aku seharusnya membuat janji dulu."

"Ish! Kau ini berbicara apa, Chagi...!? Kau sama sekali tidak merepotkanku. Ini pekerjaanku sebagai dokter, 'kan!? Kau bebas datang kesini semaumu!"

Ucapan Him Chan membuat Suga tersenyum lembut. Yah, bunny hybrid cantik di hadapannya ini tak ubahnya 'umma' baginya. Sejak kedua orang tua mereka meninggal, dirinya dan J-Hope bisa dikatakan diangkat menjadi anak oleh suami-istri Kim. Ia dapat menyelesaikan sekolahnya dan bahkan, Yong Guk memberinya pekerjaan di laboratorium perusahaan sebagai salah satu ilmuan penting—terima kasih atas kejeniusan otaknya.

"Gumayo, Umma~"

Kali ini Suga berterima kasih untuk semua; segala kebaikan Him Chan dan Yong Guk padanya dan sang dongsaeng. Tanpa keduanya, mungkin saat ini mereka bukanlah siapa-siapa. Terlantar, tanpa masa depan yang pasti.

Meskipun yang keluar hanyalah kata singkat dan sederhana, namun Him Chan mengerti. Bunny hybrid cantik itu mengulurkan tangannya dan menggusak puncak kepala Suga pelan. Senyuman bunny teeth beserta eyes dimple diberikannya sebagai penyemangat dan rasa bangga. Suga sudah menjadi aegi mereka yang sangat baik. "Cheonma, Chagi~ Kau dan Hopie adalah anak-anak kami yang membanggakan. Kami bangga dapat menjadi orang tua kalian~"

Kata-kata Him Chan mungkin terdengar sederhana, tapi sekiranya cukup membuat bahu namja manis bersurai hitam yang diusap kepalanya bergetar.

Grep~

Tanpa aba-aba Suga memeluk Him Chan erat, meskipun kesulitan karena terhalang perut besarnya. "Hiks~ Gumawoyo, Umma~! Jeongmal Gumawoyo~" ucapnya diantara tangis.

Si cantik bunny hybrid tampak tersenyum lembut. Perlahan matanya yang jernih mulai tergenang cairan kristal bening. Ia terharu.

"Ne, cheonma, Nae-Chagi~"

########^0^########

Milky Way Cafe adalah cafe yang dikelola oleh Ny. Jung Hack Yeon. Cafe tersebut merupakan hadiah dari sang suami saat dirinya berulang tahun ke dua-puluh-tiga. Siapa yang menyangka, cafe yang pada awalnya bertujuan sebagai 'tempat' penyaluran bakat Hak Yeon dalam menari, menjadi cafe terkenal yang selalu dipenuhi oleh berbagai kalangan di segala usia. Milky Way selalu ramai, meskipun... ini masih pagi dan jauh dari waktu makan siang.

"Jadi, kalian sudah mempersiapkan nama?" Young Jae tampak begitu antusias menanyai lion hybrid imut di depannya. Tanpa bisa dicegah mata doe-nya menatap intens pada abdomen bawah si lion hybrid yang jelas, belum menunjukkan apa-apa selain permukaan datar.

Baek Hyun, makhluk imut yang ditanyai langsung menerawang dengan telunjuk kanan di bibir. Ia tengah berpikir, menimbang-nimbang sesuatu dengan ekspresi dan perilaku yang tanpa disadarinya telah membuat beberapa orang di sekitar meja bar merasa gemas.

Beruntung, Kris, nampyeon-nya yang tinggi dan terkesan 'angker' itu, berdiri di belakang makhluk manis tersebut. Colek sedikit langsung bacok, eoh?!#Plak

"Kami mempertimbangkan... nama... 'Mark'..." gumam Baek Hyun masih menerawang.

"Mark? Bukankah itu nama namja?! Bagaimana kalau dia ternyata yeoja?"

Baek Hyun tersenyum manis, "tidak, aku punya firasat kalau kami akan mendapatkan Taehyungie Kecil lainnya. Jangan remehkan intuisi seorang umma, Youngie~ Iya, 'kan, Kris~?" Tangan kanan si lion hybrid meraih ke belakang, tahu dengan pasti kalau sang nampyeon tengah berada disana.

Grab~

Tangan lebar Kris langsung menyambut dan meremas pelan tangan kecil milik anae-nya yang berjemari lentik. Hanya sebatas itu. Tidak ada pergerakan mendekat maupun satu patah kata keluar dari bibir sempurna Kris karena memang, dia... err... di'perintah'kan untuk melakukan hal itu.

Kehamilan Baek Hyun bisa dikategorikan dalam dua hal positif maupun negatif. Ibarat yin dan yang, satu sisi lion hybrid imut itu bertingkah luar biasa menggemaskan, namun di sisi lain... oh, Kris sempat shock karena makhluk seimut Baek Hyun bisa sebegitu evil-nya bila keinginannya tidak dipenuhi.

Suatu kali Kris dilarangnya tidur di kamar mereka hanya karena ia lupa menambahkan embel-embel 'baby' setelah nama Baekhyunie. Bukankah itu aneh?! Baek Hyun sama sekali tidak mempermasalahkan hal seperti itu sebelumnya! Kris bebas memanggilnya apapun!

Lain lagi dua hari belakangan, mood swing yang Baek Hyun alami semakin membuat Kris tersiksa. Dia bahkan dilarang berbicara dan melakukan skinship bila tidak makhluk imut itu sendiri yang menginginkannya. Sungguh disayangkan karena secara ajaib atau mungkin mata Kris hanya melakukan trik untuk lebih membuatnya tersiksa, Baek Hyun... terlihat semakin manis dan menggemaskan hari demi hari. Huft... what a perfect torture!

Tanpa sadar bibir Kris mengerucut maju. Sekarang dia tidak bisa berbuat apa-apa selain menerima kenyataan. Entah untuk berapa lama.

"Well, well, well~ aku tahu ekspresi ini. Baek Hyun pasti membuatmu sakit kepala dengan mood swing-nya, ne?"

Kris sempat mengeluarkan pekikan tidak manly saking terkejutnya dengan kehadiran Dae Hyun di sebelahnya. Sebenarnya, sudah dua menit namja berkulit tan tersebut disana, hanya saja Kris terlalu fokus merajuk dengan pikirannya sendiri.

"Kris... apa baru saja kau mengeluarkan suara~?"

Glek!

Namja blasteran bertubuh tinggi itu tanpa sadar menelan saliva nyaring. Tenggorokannya mendadak kering mendengar pertanyaan dipenuhi nada peringatan dari Baek Hyun. Oh, itu disebut teguran, 'kan?

"Ba-Baekhyunie Baby, ak-ak-u... ti-tidak..."

"Nah, kau lagi-lagi mengeluarkan suara!" sela si lion hybrid jengkel. Ia melepaskan genggaman tangannya dari Kris untuk berpangku tangan dan menatap sang nampyeon marah.

Bagai bocah yang dimarahi umma-nya, Kris hanya bisa menggigit bibir bawah dengan kepala tertunduk dalam. Kalau saja namja tampan itu adalah makhluk hybrid, pasti saat ini telinga animal-nya sudah berbaring lesu di atas surai abu-abu yang ia miliki.

Young Jae yang melihat kejadian itu langsung menganga, lain halnya dengan Dae Hyun yang menghela nafas panjang sembari menggelengkan kepala prihatin; dia pernah berada di posisi Kris sebelumnya—Baek Hyun bisa menjadi 'bratty' kapanpun ia mau.

"Ugh, kali ini kau kumaafkan. Jangan mengulanginya, ara!?" Baek Hyun menerima anggukan cepat dari kepala silver yang tertunduk itu. Batin si imut sebenarnya berusaha memberontak untuk tidak lagi mempersulit Kris, tapi apa boleh buat bila hormon kehamilan lebih menguasai emosinya tanpa alasan yang jelas.

Alhasil, tanpa ambil pusing, Baek Hyun kembali berbalik dan memfokuskan pandangan pada Young Jae. Dengan santai dan tanpa bebannya si namja mungil kembali ke pembicaraan awal mereka. Meninggalkan Kris yang semakin cemberut walaupun Dae Hyun menepuk-nepuk punggungnya bersahabat sembari berkata 'sabar' berkali-kali.

"Bagaimana denganmu, Youngie? Sudah menunjukkan sesuatu? Tanda-tanda, mungkin?"

Keakraban Baek Hyun dan Young Jae memang patut diacungi jempol. Dalam hitungan minggu keduanya sudah lengket layaknya perangko dan saling berbagi cerita. Bahkan tanpa ragu Young Jae menceritakan rencananya dan Dae Hyun untuk memiliki momongan. Yah, meskipun sejak hari dimana mereka 'mencoba', Young Jae masih saja belum menunjukkan tanda-tanda apapun.

"Huft... belum, Hyung. Aku jadi curiga... jangan-jangan Dae tidak 'subur' lagi!" Kalimat terakhir sengaja Young Jae keluarkan berbisik. Membuat yang dibisikinya membelalakkan mata sesaat dan tanpa bisa dicegah, tertawa keras.

"HAHAHAHA! Ne, mungkin Daehyuna sudah terlalu tua! Hahaha~"

"YAH! I hear that!"

Sontak dua makhluk manis di meja bar tertawa keras. Tidak terkecuali dengan Kris. Well, kesuburan namja seharusnya tidak terpengaruh umur, 'kan? Dae Hyun hanya bisa menggerutu tidak jelas hingga bibir tebalnya bertambah volume karena mengerucut manyun.

"Hahaha~ hah... aku jadi ingin secepatnya punya aegi, Hyung! Aku berharap kalau aegi kami nantinya seorang namja yang mirip Dae. Aku akan menamainya BamBam! Bukankah nama itu terdengar lucu?" kata Young Jae menerawang. Telapak tangannya di kedua pipi dengan siku bertumpu pada meja bar, membayangkan akan seperti apa sosok 'BamBam Mereka' kelak. Perpaduannya dan Dae Hyun... mungkin akan terlihat sangat tampan dan menggemaskan? Seperti Taehyungie, misalnya.

Baek Hyun tersenyum manis melihat ekspresi menerawang Young Jae. Jika seperti ini, namja berpipi chubby yang tengah ditatapinya tampak seperti anak-anak. "Ne, BamBam nama yang lucu, Youngie~!" komentarnya tulus.

Lain halnya dengan Dae Hyun yang...

"Yah! Nama macam apa itu, Youngie?! Aku tidak setuju!"

... protes.

Tsk! Dunia memang tidak pernah mulus; selalu terjadi pro dan kontra.

~~~~~~\(=^3^=)(=0ɷ0=)/~~~~~~~

Kim Yong Guk adalah seorang pekerja keras. Namja itu selalu bersungguh-sungguh melakukan segala hal yang menjadi tanggung jawabnya. Tidak pernah sekalipun Yong Guk absen memasuki kantor tanpa alasan yang tidak jelas. Bahkan, ketika Jin dilatihnya untuk menduduki jabatan President Sementara sekalipun, Yong Guk tetap saja datang ke kantor mengawasi kinerja putera yang akan menjadi calon pewarisnya tersebut.

Oleh karena itulah, Him Chan terbelalak kaget saat mendapati nampyeon-nya yang tampan, terbalut dalam kaus tanpa lengan dan celana khaki pendek, duduk santai sembari menikmati segelas espresso pada kursi santai di tepi kolam. Sunglasses beserta earphone bertengger nyaman pada mata dan telinganya. Belum lagi kepala yang mengangguk-angguk, larut dalam irama yang kemungkinan besar adalah musik Hip-Hop—karena Yong Guk menggilai musik tersebut.

Him Chan segera berpaling melihat jam dinding di ruang tengah.

—9:48—

'Eum? Apa dia lupa dan mengira ini adalah hari Sabtu? AH! Apa Gukie sakit?!' tanya Him Chan membatin. Rasa khawatir membuatnya mendekati Yong Guk di tepi kolam dan begitu sampai, tanpa berbicara apa-apa telapak tangan si bunny hybrid langsung bertengger membekap dahi namja itu.

Yong Guk tentu saja kaget menerima perlakuan Him Chan dan segera menurunkan earphone ke lehernya. "Hime?! Kau sudah bangun? Kenapa kau memegangi dahiku, Baby~?"

Him Chan tidak langsung menjawab dan malah menurunkan tangannya dengan ekspresi kebingungan. Yong Guk baik-baik saja. Tubuhnya tidak panas. Marbel hitam Him Chan kemudian menatapi wajah sang nampyeon seolah namja itu adalah orang asing, alien, mungkin.

"Wae? Kenapa kau menatapku begitu?"

"Kau... Gukie, bukan?"

"Ani. Aku Gummy Man-MU Yang Tampan. Wae?"

Oh.

'Alien' ini benar-benar nampyeon-nya kalau begitu. Memangnya, siapa lagi yang bisa sepercaya diri itu kalau bukan Kim Yong Guk?!

Pouting, Him Chan mendengus dan membuang muka. Tapi rasa penasaran lebih menguasainya hingga dalam hitungan detik ia kembali menatap wajah Yong Guk penuh tanya. "Kenapa kau tidak ke kantor, Gukie? Kupikir tadi kau sakit. Apa terjadi sesuatu?"

Gummy smile menghiasi wajah Yong Guk. Tanpa banyak bicara diraihnya tangan sang anae dan menarik tubuh kurus itu untuk duduk dalam pangkuan. "Aku ingin bersantai dengan anae-Ku yang cantik. Apa itu tidak boleh?"

"Ya~! Aku serius, Gukie~ Apa terjadi sesuatu?"

Yong Guk melingkarkan lengannya yang kokoh ke pinggang ramping si bunny hybrid sebelum menjawab, "semua baik-baik saja, Hime~ Hanya saja tadi pagi Jin menghubungiku. Katanya dia mau jadi President Perusahaan untuk hari ini."

"Eoh? Ada dengan Bocah Bebal itu? Melakukan sesuatu tanpa dipaksa?"

"Entahlah. Aku juga kaget sendiri. Kau tahu apa yang dikatakannya padaku? 'Sudah waktunya appa beristirahat dan menghabiskan masa tua bersama umma'. Aish! Bocah itu benar-benar membuatku kesal! Kita tidak setua itu, 'kan?!" Yong Guk menggerutu dengan dagu bertumpu pada bahu kiri Him Chan. Membuat bunny hybrid tersebut menggeliat, merasakan sensasi geli.

"Kkkk~ yah! Hajima! Jangan berbicara di bahuku!"

Ups... seharusnya Him Chan tidak mengatakan hal itu. Apa dia lupa kalau nampyeon-nya yang tampan ini sangat jahil? Alhasil, dengan seringai penuh arti, Yong Guk melarikan jemarinya di sisi tubuh si bunny hybrid hingga membuat makhluk cantik itu berteriak histeris karena digelitiki.

"Gyaaaaa! Hahaha.. NO! Hen-henti – hahaha... kan... hahaha~!"

"Akan kuhentikan... kalau kau menciumku~" Yong Guk sengaja berbisik, mendendangkannya pada telinga animal sang anae yang sensitif. Seperti yang diperkirakan, Him Chan semakin menggeliat tidak nyaman dalam pangkuannya.

"Hahaha... ara! Ara! aku akan menciummu! Hahaha..."

Bertepatan dengan kata-kata itu keluar dari mulut Him Chan, saat itu pula Yong Guk menghentikan kejahilannya. Yang ada, sekarang bibir penuh namja itu mengerucut, menunggu si bunny hybrid memberinya ciuman.

Him Chan hanya tertawa dan mengabulkan keinginan sang nampyeon. Awalnya hanya menempelkan bibir mereka, lalu setelahnya, secara perlahan bunny teeth miliknya menarik dan mengigit pelan bibir bawah Yong Guk, mengulum dan menghisap daging tebal tersebut ke dalam mulutnya.

"Ngrh~"

Seringai menghiasi wajah Him Chan dikala ia mendengar geraman rendah dari dasar tenggorokan Yong Guk. Nampyeon-nya ini memang tidak pernah mengakui, tapi Him Chan tahu betul kalau ia selalu suka bila dirinya melakukan hal ini saat mereka berciuman.

Tidak ingin membuat suasana memanas, Him Chan dengan jahilnya menarik diri, meninggalkan bibir Yong Guk yang tampaknya tidak rela menghentikan percumbuan mereka. Dengan santai jemari lentik makhluk cantik tersebut mengetuk-ngetuk pelan bibir namja yang memangkunya. "Tapi, Gukie, aku sangat penasaran dengan apa yang Seokie rencanakan sebagai president?" gumamnya sembari mengerucutkan bibir.

Yong Guk menangkap jemari yang mengetuki permukaan bibirnya untuk kembali meraih bibir merah Him Chan dalam satu ciuman panas dan singkat. "Entahlah, Hime. Katanya dia ingin mengajak Taehyungie, Jungie, dan Hopie berkunjung ke perusahaan. Double date, kencan, katanya."

"Kencan? Di perusahaan?"

"Eum, ne! Aku juga tidak mengerti apa yang anak itu pikirkan."

Si bunny hybrid tengah larut dalam pikiran saat ia merasakan jemari Yong Guk meraup paha kirinya. Ia sedikit terpekik karena dengan mudahnya sang nampyeon memutar dan mengatur letak tubuhnya hingga sekarang, mereka berhadapan dengan kedua kaki Him Chan berada di kedua sisi paha Yong Guk.

"Ayo kita juga pergi kencan, Hime~"

"Kencan? Tapi aku haru—"

"Aku sudah menelepon Dr. Song untuk menggantikanmu hari ini. Kau tidak boleh memarahiku dan aku tidak menerima penolakan. Titik." Yong Guk dengan seenak jidat berkata tanpa jeda. Semua ucapannya dipenuhi penekanan sembari menatap lurus kedua marbel hitam si bunny hybrid. Membuat yang ditatapi mau tidak mau menghela nafas, menyerah, meskipun pouting lucu menghiasi bibir merah tersebut.

"Huft... ara, ara. Memangnya, kapan seorang Kim Yong Guk menerima penolakan?!" celetuk si cantik jengkel. Hal ini tentu tidak mempengaruhi Yong Guk yang malah menghadiahi bibir pouting di hadapannya dengan kecupan kilat.

Cup!

"Kalau begitu, AYO KITA KENCAN, PRINCESS~~"

"YAH!"

########^0^#########

Kim's Hybrid Coorporation~~~~

"Hyung lihat lorong itu? Disana menuju kantor umma, Lho~" Jung Kook menunjuk lorong di sebelah kanan.

J-Hope sebenarnya sudah tahu semua itu, toh, Suga, Hyung-nya, bekerja di perusahaan ini. Tapi hal itu tidak menghentikan dirinya dari terbelalak, menampakkan ekspresi kaget yang siapapun tidak akan mengetahui kalau dirinya saat ini tengah berakting. "Huh? Jinjja?! Woah~~ Chanie Umma dan Gukie Appa bekerja di perusahaan yang sama. Itu bagus, Jungie~!" ucap J-Hope, semakin mempererat pelukannya pada pinggang sang mate.

Beberapa orang berjubah putih yang melewati lorong mencuri lirik ke arah J-Hope dan Jung Kook. Bagaimana tidak? Dua sejoli itu dengan santainya duduk berpangkuan tanpa memperdulikan sekitar. Mereka malah berbicara riang dan antusias. Bukan pemandangan mengganggu sebenarnya, toh, semua terlihat menahan gemas saat Jung Kook yang lucu, dengan riangnya menggerak-gerakkan kaki saat duduk menyamping di paha J-Hope. Si bunny hybrid terlihat seperti anak kecil sementara namja tampan yang memangkunya tampak riang mengimbangi dengan mendendangkan gumaman seolah tengah berbalas kata dengan balita.

Unik, dan pastinya, sangat-teramat menggemaskan untuk dilihat.

"Jungie, kau yakin sudah sehat? Mungkin sekarang kau tidak terlalu menyadarinya, tapi siapa tahu setelah berjalan lama nanti..."

"Hopie Hyung... Jungie baik-baik saja! Hyung lebih parah dari Seokie Hyung. Hyung tahu itu?" gerutu Jung Kook pouting.

Bukannya J-Hope ingin berlagak sok, tapi... dikatakan lebih parah dari seorang Kim Seok Jin?! Oh, tentu dia tidak terima. "Mwo? Apanya aku yang lebih parah dari hyung 'sok'-Mu itu, Jungie~?"

Jung Kook terkikik. Sedari dulu, kedua hyung-nya ini memang seringkali meledek satu sama lain. "Kkkk~ Hopie Hyung jauh lebih protektif dibanding Seokie Hyung. Seokie Hyung memang selalu mencemaskan Jungie tapi, kalau Jungie sudah berkata bisa-melakukannya-sendiri, Seokie Hyung akan membiarkannya. Sementara Hopie Hyung? Meskipun sudah Jungie yakinkan berkali-kali, Hopie Hyung tetap saja tidak percaya dan cemas berlebihan!"

Oh, apakah bunny hybrid manis ini tengah mengeluhkan sikap overpro-nya sekarang? J-Hope jadi gemas dan mencubit kedua pipi chubby Jung Kook pelan, hanya saja penuh tekanan hingga si mungil merengek karena kedua pipinya tertarik, yang pastinya terlihat sangat konyol karena J-Hope langsung tertawa.

"Hyung~!"

"Kkkk~ Wae? Kau mengeluh karena aku mencemaskanmu berlebihan? Tentu saja, Jungie Baby... Kau adalah mate-KU! Dan Jin? Dia hanya 'hyung'-mu! Jangan bandingkan perhatianku padamu dengan Namja Pemalas i—"

"Siapa yang kau sebut 'pemalas'?"

Siiiiinnngggg...

Glup~

Shit.

Mendadak tenggorokan J-Hope mengering. Entah sejak kapan, Jin, Si Namja Pemalas, telah berdiri di samping mereka.

"Hehehe, hi, Jin! Kau sudah disini~!?" sambut J-Hope cengengesan. Yang disambut malah menaikkan sebelah alis sembari berkacak pinggang. Bibir Jin mengerucut ke samping. Itu bukan pertanda bagus.

"Don't 'hi' me, You Brat! Kau benar-benar punya keberanian menguji kesabaranku, eoh? Mungkin sebaiknya aku mencarikan mate yang lebih pantas untuk Baby Dongsaeng-Ku. Seseorang yang tidak akan mengataiku dari belakang." Jin berkata datar tanpa ekspresi. Dilihatnya namja yang baru saja diberi ancaman membuka mulut hendak membela di – ah, protes, mungkin, kalau saja Jung Kook tidak terpekik riang dan melompat dari pangkuan J-Hope.

"SEOKIE HYUNG!"

Bunny hybrid manis itu langsung menghambur memeluk sang hyung yang nyaris sebulan tidak ditemuinya. Bisa dibilang itu rekor, mengingat keduanya tidak pernah terpisahkan sedari kecil. Jin hanyalah sosok hyung yang memang terlalu mencintai dan menyayangi Jung Kook sepenuh hati.

"Jungie, bagaimana kabarmu, Baby? Kau kurus."

J-Hope kembali membeku di tempat karena Jin menatap padanya tajam.

Wae?

Apa namja itu berpikir kalau J-Hope lah penyebab dari berkurangnya berat badan Jung Kook?!

Eum... mungkin.

"Jungie baik-baik saja, Seokie Hyung~ Akhir-akhir ini Jungie memang tidak nafsu makan," jawab Jung Kook dengan senyuman gigi kelinci dan eye dimples, mengingatkan Jin akan sosok umma mereka.

"Oh? Benarkah?"

"Ne! Jungie akhir-akhir ini hanya mau makan buah-buahan kering. Terutama kesemak. Huft... aku benar-benar kebingungan karena dia hanya makan buah itu dan tidak mau memakan makanan yang lain." J-Hope menjelaskan, mewakili mate-Nya yang tampak sibuk mengusap wajah pada dada Jin. Ugh! Kenapa Jung Kook harus melakukan itu?! Apa cologne yang hyung kandungnya gunakan lebih menyenangkan untuk dihirup dibandingkan aroma cologne milik mate-Nya sendiri?!

J-Hope yang kesal—cemburu—berniat meraih pergelangan tangan Jung Kook ketika Jin menyuarakan kebingungan.

"Dry persimmon? Itu aneh, karena... Yeobo-Ku juga hanya memakan buah itu akhir-akhir ini," gumam namja itu lebih pada dirinya sendiri.

Tsk! Yeobo-Ku? Oh, Tae Hyung, maksudnya?! Haruskah Jin memanggil mate-nya begitu di hadapan orang lain? Tidak semua orang tahu kalau 'Yeobo-Ku' adalah Kim Tae Hyung, 'kan!? Dan kenapa J-Hope malah memperdebatkan 'hal' tidak penting seperti ini di otaknya?

Wake up, Jung Ho Seok! Shut the crap! Kau punya hal lebih penting untuk dipikirkan! Menggeleng cepat, J-Hope akhirnya membuka mulutnya untuk merespon sang sahabat. "Maksudmu, Tae Hyung-ssi juga seperti Jungie dan tidak mau memakan apapun selain buah kering?"

Jin mengangguk. Matanya beralih menatap bunny hybrid manis yang tengah ia peluk, yang balas menatapnya riang, seolah tidak terpengaruh dengan atmosfer penuh tanya di antara mereka.

"Jungie Baby, apa pendapatmu mengenai 'baby hybrid'?"

Pertanyaan tersebut terlontar begitu saja dari mulut Jin. Dapat didengarnya nafas J-Hope yang tercekat. Tidak perlu melihat langsung untuk mengetahui kalau saat ini sahabatnya itu tengah membelalakkan mata shock padanya. Meskipun belum pasti, ada sesuatu yang Jin rasakan; sesuatu yang membuat perutnya tergelitik serta ruang dada mengembang oleh keantusiasan dan jantung berdebar.

"GYAAAAA! JUNGIE SUKAAAAA BABY!"

~~~~~~\(=^3^=)(=0ɷ0=)/~~~~~~~

"Bagaimana? Apakah terlalu pedas?" tanya Ji Min was-was. Matanya menatap intens wajah manis yang saat ini diliputi ekspresi menimbang dengan pipi menggembung dari sisi yang satu, lalu berpindah ke sisi yang satunya lagi. Suga, mate-Nya yang manis, tengah mencicipi nasi goreng kimchi buatannya. Tentu saja Ji Min was-was karena terakhir kali dia 'mencoba' membuat makanan simpel tersebut, jangankan mengetahui rasanya, Ji Min malah berakhir dengan mulut dan telinga yang seolah mengeluarkan api.

Demi Tuhan, nasi goreng kimchi buatannya luar biasa pedas! Hanya orang yang tidak waras, yang sanggup menghabiskan 'benda' itu.

"Eum..." Suga menggumam diantara kunyahan. Bibirnya yang merah mengerucut, diiringi kening berkerut seolah terganggu. Err... apa masakan si wolf hybrid seburuk itu?

"Kkkkk~"

Tidak.

Si manis ini hanya berpura-pura karena berikutnya ia terkikik mendapati wajah sang mate yang terlihat seolah tengah dijatuhi hukuman mati.

"Hahaha, tenang, Jie-ah~ Ini sangat enak! Jinjja neomu mashita!" Suga menyendok nasi goreng yang terhidang di hadapannya sekali lagi, memasukkannya ke dalam mulut, lalu mengunyahnya dengan antusias sebagai pembuktian akan ucapannya pada sang mate.

"Jinjja?!"

"Eum! Ne! Kau harus mencobanya, Chagi~! Aaa~~"

Ragu-ragu, Ji Min membuka mulutnya dengan mata terpejam erat. Suga berusaha sekuat tenaga untuk tidak meraih kedua pipi wolf hybrid itu dan mengecupnya berkali-kali karena... damn! His Handsome-Sexy Mate just being such adorable this way!

"Ayolah, Chagi... ini hanya nasi goreng! Aku tidak berencana membunuh appa dari aegi-ku dengan menyuapinya racun!"

Celetukan Suga membuat wolf hybrid yang digodai pouting sejenak sebelum akhirnya tersenyum dan membuka mulut bersemangat. Tidak ada lagi mata terpejam erat selain lengkungan bulan sabit dan eye dimples yang sekiranya mampu melelehkan hati siapapun bila melihatnya. Ji Min adalah wolf hybrid dengan senyuman tercemerlang yang pernah Suga lihat. Di dalam hati ia selalu berharap kalau aegi mereka akan mewarisi senyuman tersebut dari Ji Min nantinya.

"Woah~ mashita!" pekik si wolf hybrid takjub begitu satu suapan nasi goreng memenuhi mulutnya dengan menyenangkan—tidak ada rasa terbakar yang akan berujung dengan perut mulas setelahnya.

Tapi...

"Huft..." Ji Min mendadak menghembuskan nafas panjang... kecewa? Wae?

"Waegeure, Jie-ah~? Bukankah ini enak? Kenapa wajahmu ditekuk begitu?"

"Tsk, ini tidak seenak nasi goreng kimchi buatanmu, Yoongie~! Ukh, padahal aku sudah mengikuti petunjuk dari resep yang kau buat!" gerutu Ji Min pouting. Kedua telinga segitiga berwarna abu-abu miliknya turun lesu di sisi kepala. Ia kecewa.

Kecewa?

Ne, Ji Min sangat kecewa lebih dari yang seharusnya.

Kata 'kecewa' akhir-akhir ini selalu membayangi benak Ji Min. Tiada satu pun yang dapat ia lakukan dengan benar, bahkan, membuatkan nasi goreng kimchi yang Suga inginkan pun, rasanya tidak seenak yang seharusnya. Oh, kepala keluarga macam apa dirinya ini!? Tidak berguna!

Suga tampaknya tahu apa yang saat ini mate-Nya pikirkan. Ji Min terlalu mudah dibaca, terlebih bagi seseorang bermata jeli seperti Suga. Ditambah, akhir-akhir ini namja tampan itu seringkali tanpa sadar menampakkan ekspresi sedih dipenuhi kekecewaan.

Sebagai ilmuan – ah, mungkin orang-orang awam pun akan paham apa yang Ji Min tengah alami. Ia berada pada puncak masa remajanya; dimana akan terjadi kebingungan penuh tanya mengenai jati diri, apa yang diinginkan, dan tujuan hidup di masa depan. Dari yang Suga lihat, Ji Min sepertinya melewati masa ini dengan lebih sulit karena status alpha yang disandangnya.

Mate-Nya itu terlalu berpikir jauh sepertinya.

Menjadi mate yang pengertian, Suga mengulurkan tangan untuk meraih jemari milik Ji Min dan menarik namja tampan itu untuk duduk di sofa, menemaninya. Kemudian dengan lembut Suga memberikan butterfly kiss pada punggung tangan dalam genggamannya berkali-kali. Namja manis tersebut baru berhenti ketika Ji Min akhirnya mengangkat kepalanya yang tertunduk dalam dan menatapnya.

"Apa yang kau pikirkan?" tanya Suga lembut. Jemarinya masih menggenggam tangan lebar sang mate, mengusap punggung tangan yang barusan ia kecup dengan tak kalah lembut, mengirimkan sinyal-sinyal dan rasa hangat di dada sang wolf hybrid.

Menelan saliva berat, Ji Min hanya menggeleng. Kepala bersurai hitam dan bertelinga abu-abu tersebut akan menunduk sekali lagi jika saja jemari putih Suga tidak berpindah memegangi rahangnya.

"Katakan padaku, Jie-ah~ Kau pikir aku tidak tahu kalau akhir-akhir ini kau tengah memikirkan sesuatu? Jangan menyangkal dan berkata kau baik-baik saja. Aku adalah Mate-Mu, kau tidak bisa membohongiku."

Marbel cokelat jernih yang menatapnya intens, membuat bibir bawah Ji Min bergetar hingga ia terpaksa menggigitnya.

1 detik...

2 detik...

3 detik...

Nihil. Tidak satupun jawaban terlontar keluar dari mulut sang mate. Tidak ada jalan lain, Suga terpaksa menggunakan cara 'itu'.

"Apa kau... menyesal... dengan apa yang... te-terjadi diantara... kita?"

Keterlaluan sebenarnya, karena begitu pertanyaan tersebut terlontar dari mulut Suga, Ji Min langsung membelalakkan matanya shock. "Yoongie! Ap-apa yang kau katakan?! Aku tidak pernah menyesal menjadi MATE-MU! Kenapa kau menanyakan hal konyol seperti itu padaku?! Apa kau meragukanku?! Aku sangat mencintaimu dan aegya kita, Yoongie~! Percayalah!"

Ji Min seolah tidak menghirup nafas. Memang benar. Terbukti begitu selesai menumpahkan penyangkalannya, wolf hybrid tampan itu berakhir dengan deru nafas berantakan dan memburu.

Namun Suga belum berhenti disana. Bila mendorong Ji Min hingga mencapai titik rawan, adalah satu-satunya jalan menolong mate-Nya tersebut terbebas dari kekalutan berlebihan yang diciptakan oleh otaknya sendiri. "Lalu? Apa alasanmu sebenarnya, Jie-ah~? Aku tidak bisa menyimpulkan hal lain karena kau tidak memberitahukannya padaku. Kau mengatakan kita adalah MATE, tapi... dengan menyimpan sendiri masalahmu seperti ini, aku merasa tidak berharga. Apa menjadi mate-ku membuatmu kesusahan?"

Si wolf hybrid menggeleng panik. Kedua tangannya meremas erat jemari Suga yang berada di rahangnya. "Tidak, Yoongie... a-aku ha-hanya... oh, maafkan aku karena membuatmu berpikir seperti itu. Kau sangat berharga bagiku, Yoongie! Bukan kau yang membuatku kesusahan tapi... diriku sendiri." Ji Min menggumamkan dengan lirih kata-kata terakhir. Jika saja mata indah milik Suga tidak menatapnya dalam saat ini—seolah meyakinkan Ji Min untuk terus bercerita—, mungkin namja tampan itu akan kembali menghindar seperti yang dilakukannya beberapa hari belakangan.

Tapi... tidak.

Tidak lagi.

Mereka adalah MATE.

Mereka seharusnya saling berbagi, bukan?

Membulatkan tekad, Ji Min menurunkan genggaman tangan mereka hingga kini tautan erat tersebut beristirahat dengan nyaman di atas paha Suga. Ditatapnya lekat namja manis itu, yang balas menatapnya lembut. "Aku sangat kecewa, Yoongie. Aku kecewa pada diriku. Aku tidak berguna. Aku tidak bisa menjadi kepala keluarga yang layak untukmu dan aegya kita. Aku tidak jenius sepertimu dan J-Hope. Satu-satunya yang kutahu hanyalah menari. Tapi meskipun begitu, aku terus mencoba, mencoba dan berusaha untuk belajar lebih giat. Hanya saja itu belum cukup, Yoongie. Aku masih Park Ji Min, siswa biasa dengan nilai rata-rata. Aku bukan siapa-siapa, Yoongie!"

Akhirnya Ji Min menumpahkan segala kegundahan yang ia rasakan. Rasa was-was bagai menghimpit ruang dadanya karena Suga hanya diam, tidak menunjukkan reaksi apapun setelah mendengar pengakuannya.

Apa Suga marah?

Tapi... orang marah tidak tersenyum manis seperti ini, 'kan?

Oh, entah sejak kapan wajah tanpa emosi Suga berubah tersenyum manis seperti ini. Mungkin Ji Min lah yang terlalu larut dalam pikiran hingga tidak menyadari perubahan itu.

"Apa kau sudah merasa lega, Jie-ah?" tanya Suga tiba-tiba diantara senyuman. Namja tampan yang ditanyai mengerutkan dahi tidak mengerti. "Kau seharusnya mengatakan apa yang mengganggu pikiranmu seperti ini padaku. Aku bersedia menjadi pendengar yang baik. Dan... Yah! Beraninya kau mengaku sebagai 'bukan siapa-siapa'!? Lalu bagaimana dengan ini? Apa menurutmu 'ini' bisa hadir dengan sendirinya di dalam sini?!" Suga berlagak menggertak dengan satu tangan yang menunjuk-nunjuk perut besarnya. Hal ini membuat Ji Min terkikik dan menggeleng takjub. Apa namja manis berkulit putih ini menyadari kalau dirinya benar-benar tidak punya bakat dalam memasang ekspresi marah? Yang ada malah wajah polos menggemaskan mirip seorang bocah tengah merajuk.

"Kkkk~ tentu saja aku adalah appa-Nya, Yoongie~" Ji Min berujar sembari melepaskan genggaman tangannya dari sang mate, dan beralih mengusap perut membesar Suga dengan sayang dari balik kemeja putih longgar yang dikenakannya.

Warna putih dan Suga ibarat oksigen di udara. Namja manis tersebut begitu menggilainya hingga bersikeras untuk selalu melibatkan warna tersebut dimana, dan kemanapun ia berada. Tak jarang Ji Min sedikit kesulitan melihat sosok Suga bila berada di bawah sinar matahari terik; Suga bagai bercampur dengan alam dengan pakaian serba putih dan kulit putih pucatnya. Hal yang membingungkan pula karena namja manis itu menaruh perhatian pada Ji Min yang notabene adalah wolf hybrid berkulit tanning. Mungkin ini semacam hukum alam? Bukankah dua kutub magnet yang berbeda akan saling tarik-menarik bila berdekatan? Yah, takdir memang memiliki jalannya sendiri.

"Aku takut kalau di masa depan nanti tidak bisa membahagiakan kalian berdua. Aku ingin menjadi seseorang yang akan diperkenalkan dengan bangga oleh aegya kita sebagai appa-nya."

Ji Min masih bergumam dengan tatapan nanar mengusapi baby bump mereka. Suga tidak mampu menahan senyum begitu melihat bibir wolf hybrid tampan itu melengkung, tersenyum damai saat merasakan aegya mereka merespon usapan-usapannya dengan tendangan pelan seolah antusias akan sentuhan sang appa.

"Dia sangat antusis tiap kali kau menyentuhnya, Jie. Percayalah, dia akan menjadi bocah manis yang akan terus menempel pada appa-nya. Kau tidak perlu mencemaskan hal-hal seperti itu. Jangan memaksakan dirimu untuk melakukan sesuatu yang tidak kau sukai. Jalani saja seperti yang seharusnya dan jangan terburu-buru, ne?

Aku tidak ingin kau sepertiku yang terburu-buru melakukan semuanya tanpa menikmati waktu. Aku bahkan tidak memiliki teman yang benar-benar bisa kupertimbangkan sebagai tempat berkeluh-kesah selain Hopie adikku sendiri. Kau harus menikmati masa-masa sekolahmu, Jie-ah~

Selama kita bersama kau selalu berada di sampingku dan berusaha membantuku melakukan apapun meskipun itu hanyalah hal kecil. Bagiku, kau yang seperti itu adalah sumber kebahagiaanku. Kebahagiaan kami. Kita akan melewati semua ini bersama-sama, ne?" Suga mengakhiri kalimat demi kalimat isi hatinya dengan usapan lembut di puncak kepala sang mate. Namja tampan itu harus tahu betapa berharganya ia bagi mereka—Suga dan sang aegya.

Ji Min tersenyum. Dengan khidmat wolf hybrid tersebut membungkuk untuk melayangkan kecupan lama pada gunungan besar, tempat dimana aegya mereka akan beristirahat dalam kurun waktu kurang dari empat bulan lagi. Kemudian setelahnya kembali meluruskan tubuh, menatapi namja manis yang seolah tidak pernah kehabisan akal membuatnya damai dengan kata-kata menenangkan, maupun senyuman manis disertai eyes smile-nya. Ji Min berharap, aegya mereka kelak memiliki senyuman semanis Suga.

"Kau tahu? Aku tidak tahu apa yang akan kulakukan tanpa malaikat baik hati sepertimu, Yoongie~ Harus bagaimana aku membalas semua kebaikanmu?"

Suga langsung memasang pose berpikir dengan telunjuk kanan di bibir dan mata menerawang, meskipun ia tahu kalau si wolf hybrid tidak bersungguh-sungguh menanyakan hal itu padanya. "Eum... mungkin sebaiknya kau kembali menyuapiku nasi goreng dan setelahnya menyiapkan bathtub dengan air hangat dan busa? Mungkin akan lebih baik kalau kau juga ikut menemaniku berendam di dalamnya."

Suga tidak bermaksud mengusulkan sesuatu yang 'nakal', oke!?

Err... atau memang begitu?

Menyeringai penuh arti, Ji Min mendekatkan wajahnya dan Suga. "I like the way you're thinking, Yoongie Baby~" dendangnya merdu kemudian menyatukan bibir mereka dalam ciuman dalam.

~~~~~~\(=^3^=)(=0ɷ0=)/~~~~~~~

Dua sosok mungil makhluk hybrid tampak tengah berbincang riang dengan telinga animal masing-masing yang bergerak-gerak antusias. Wajah beserta kedua telapak tangan bisa dikatakan nyaris menempel erat di permukaan kaca. Keduanya excited, dan berkali-kali pekikan riang terdengar begitu makhluk dalam box yang tengah diamati bergerak-gerak, membuka mulut mungil miliknya dan menutup kembali dalam gestur menguap yang lucu.

Tae Hyung dan Jung Kook.

Keduanya tengah mengamati baby hybrid yang terlahir prematur di dalam box inkubator—antusias luar biasa. Lima meter dari keduanya, tampak Jin dan J-Hope yang berdiri dengan bokong bersandar, beserta kedua siku bertumpu pada meja resepsionis.

"Karena itukah tadi kau sendirian menyusul kami?" J-Hope berbisik pada sang sahabat, seolah, dua makhluk mungil yang sedari tadi hanya memberikan punggung pada mereka dapat mendengar dari jarak sejauh itu.

"Ne. Yeobo-Ku tidak mau kemana-mana begitu tiba di ruang inkubator. Aku terpaksa meninggalkannya disini sendirian untuk menjemput kalian. Dan kau lihat sendiri ketika kita sampai disini, dia sama sekali tidak bergerak se-inci pun dari posisinya saat kutinggalkan. Untung saja Yeobo-Ku bereaksi begitu melihat Jungie."

"Yah, bisakah kau berhenti memanggil Tae Hyung-ssi dengan 'yeobo-ku'?! Paling tidak, tidak di hadapan orang lain, Babbo. Tidak semua orang tahu siapa itu 'yeobo-ku'." Akhirnya J-Hope tidak tahan sendiri untuk mengeluh. Sekarang, atau tidak selamanya, eoh?

Sayangnya Jin langsung mendengus. Dia tidak setuju, tentu saja. Apalagi yang bisa J-Hope harapkan dari sahabat karibnya ini?!

"Justru di hadapan orang lainlah aku harus memanggilnya begitu, Babbo! Dengan begitu semua orang akan tahu kalau Yeobo-Ku adalah MILIKKU!"

'Tetap saja orang-orang tidak akan tahu kalau 'yeobo-ku' itu adalah Tae Hyung-ssi, Babbo!' balas batin J-Hope ketus. Bisa gawat dia kalau membalasnya terang-terangan, 'kan? Terakhir kali dia membuat Jin kesal, namja itu mengancam akan mencarikan mate yang lain untuk Jungie-Nya! Seenaknya saja!

Seorang yeoja berpakaian perawat muncul dari lorong dan berhenti di hadapan keduanya. "President, Ho-Seok-ssi, anda berdua dipanggil Dr. Song ke ruangannya," ucap yeoja itu ramah.

Jin dan J-Hope saling berpandangan. Keduanya seolah terlibat dalam percakapan melalui mata. Beberapa detik kemudian keduanya sepakat untuk mengikuti si suster tanpa mengganggu keasyikkan dua makhluk lucu di ruangan inkubator.

It's time, right...?

########^0^########

"Kau ingat tempat itu, Hime?"

"Wae? Kau ingin berlagak lagi?! Tentu saja aku ingat, Babbo!"

Tiada angin maupun hujan, Him Chan langsung menyahut pertanyaan sang nampyeon dengan ketus. Bagaimana tidak? Tempat itu, lorong di ujung persimpangan jalan yang Yong Guk tunjuk, adalah tempat dimana dulunya 12 Tahun Him Chan disudutkan oleh seorang namja tampan yang tiada lain dan tiada bukan bernama Kim Yong Guk.

Pertemuan pertama mereka, Innocent-Diva Him Chan kebingungan karena tiba-tiba jemarinya digenggam erat oleh telapak tangan lembut dan berjemari lentik. Awalnya Him Chan mengira yang menyentuhnya adalah seorang yeoja, namun siapa sangka yang akhirnya berada di hadapannya adalah seorang namja tampan, bermata tajam dengan rambut mengagumkan dan, bersuara baritone layaknya geraman truk tronton.

#Flashback~

"Yeobuseyo?"

"Hi! My name's Kim Yong Guk! Nice to meet you~ You're Him Chan, right?!"

Oh! Him Chan kenal namja ini. Bukan kenal benar-benar kenal, hanya saja beberapa teman sekelasnya terus-terusan berceloteh mengenai seorang murid baru, sunbae, pindahan dari LA bernama Kim Yong Guk. Mereka bilang Yong Guk sangat cool dan tampan. Well, omongan 'berisik' mereka tidak sepenuhnya bohong. Yong Guk memang sangat tampan. Seragam sekolah yang seharusnya terlihat membosankan namja itu sulap dengan sangat trendi; tiga kancing kemeja bagian atas dilepas, memperlihatkan dada bidang berbalut wifebeater hitam. Kalung rantai berbandul salib mengintip dari balik kemeja. Skinny jeans hitam membalut kaki panjangnya dengan mengagumkan. Dan sebagai pelengkap utama, rambut pirang dengan sapuan warna orange pada bagian poni. Secara keseluruhan, penampilan Yong Guk benar-benar melanggar peraturan. A rule breaker.

"Ne, aku Him Chan. Ada yang bisa kubantu, Yong Guk-ssi?" tanya Him Chan ragu. Bunny hybrid cantik itu berusaha memundurkan tubuh, sebisa mungkin menjauh dari Yong Guk yang menyudutkannya meskipun itu mustahil, mengingat kalau punggungnya sudah menempel erat pada dinding bata.

Yong Guk menyadari pergerakan kecilnya dan menyeringai, membuat Him Chan bersumpah akan menendang selangkangan namja itu kalau-kalau dia berniat melakukan 'sesuatu' yang tidak senonoh padanya. Tapi tampaknya si bunny hybrid terlalu berpikiran jauh, karena berikutnya namja di hadapannya malah tersenyum cerah lengkap dengan gummy smile yang... WOW! Him Chan tidak pernah menyangka ada orang yang bisa tersenyum dengan gummy smile sebesar itu; Yong Guk nyaris memperlihatkan seluruh gusinya!

"Aku hanya ingin berkenalan denganmu, Him Chan-ssi~ Sekaligus... membuktikan sesuatu."

"Membuktikan sesuatu? Maksudmu, Yong Guk-ssi?"

"Kkkk~ teman-temanku berkata kau adalah makhluk hybrid tercantik di sekolah. Well, mereka tidak berbohong. Bahkan..." Yong Guk mendekatkan bibir pada telinga panjang berbulu putih milik sang bunny hybrid, "... kau jauh lebih cantik dan manis dari yang kubayangkan~" bisiknya seduktif.

Blush~

Pipi chubby Him Chan memanas, rona pink merebak samar pada kulit putihnya yang pucat namun bercahaya. Pujian seperti ini sudah sering Him Chan terima, hanya saja Yong Guk adalah orang pertama yang membisikinya dengan kata-kata itu, dengan jarak luar biasa dekat seperti ini. Biasanya orang-orang tidak akan berani mendekati Him Chan karena berbagai alasan yang menyangkut titel beserta statusnya sebagai anak jenius di sekolah. Bayangkan, pada umurnya yang ke 12, Him Chan telah duduk di bangku kelas sebelas tanpa halangan berarti. Belum lagi sikap elegan dan berwibawanya yang mengintimidasi, orang-orang tidak punya 'muka' untuk mendekat. Dan lagi, pada kenyataannya Him Chan masih kecil. Batas kedewasaan seorang makhluk hybrid adalah 15 tahun. Ia bocah di bawah umur.

"K-kalau begitu boleh aku pergi? Kita sudah berkenalan dan..."

"Tentu saja, tapi... dengan satu syarat~"

Him Chan merasakan tubuhnya bergetar karena lagi-lagi Yong Guk berbisik di telinganya. "A-apa?"

"Maukah kau berkencan denganku, Him Chan-ssi? Pleaaaseee...? Kau boleh menjauhiku bila nantinya kau merasa kita tidak cocok. Ne?"

What the...

Si bunny hybrid langsung menganga. Kencan? Dan apa tadi? Cocok?!

"Yong-Guk-ssi, berapa usiamu?"

Sebelah alis Yong Guk terangkat bingung mendengar pertanyaan tidak nyambung dari Him Chan. Yah, meskipun dia tetap menjawabnya, sih...

"Aku? Aku jalan 17. Wae?"

"Apa kau tahu kalau aku masih berumur... 12 tahun?"

Siiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiinnnnggg...

Krik,

Krik,

Kriiiiiiiiiiiik~~

"MWO!?"

...

Well, Yong Guk tidak tahu-.-

#End Flashback~

"Huh! Dasar pedo. Bagaimana bisa kau tidak mengetahuinya?! Aku kecil sekali waktu itu," keluh dan dengus Him Chan sembari menyesap ice americano miliknya.

"Ish, jangan salahkan aku, Hime. Untuk ukuran bocah 12 tahun, waktu itu kau cukup tinggi! Kupikir... kau hanya bertubuh mungil saja..."

"Lalu bagaimana dengan baby fat? Pipi chubby-ku tidak mencurigakan bagimu?" potong Him Chan seolah tidak kehilangan bahan untuk berargument.

Yong Guk dan penalarannya yang minim memang perlu dipertanyakan. Setelah mengalami mental breakdown akibat pengakuan Him Chan, dia memang sempat berbolak-balik frustasi. Namun dua menit setelahnya, namja itu malah mengajak Him Chan makan cake di cafe dan berkata mereka bisa menjadi sahabat dulu. Yang terpenting adalah Him Chan menghabiskan waktu dengannya. Cinta bisa tumbuh seiring waktu berjalan, itulah yang ada di benak Yong Guk. Mencoba menjalin persahabatan, itulah yang dikatakannya di hadapan Him Chan. Licik.

Wae?

Mirip seseorang, eoh?!

"Tidak hanya bocah saja yang berpipi chubby, Hime. Banyak orang dewasa yang juga memilikinya! Contohnya Xiu Min, hamster hybrid yang menjadi penyanyi itu! Kau pikir berapa umurnya sekarang?!"

Sial.

Him Chan sampai lupa nampyeon-nya ini juga pintar mempertahankan argument. Alhasil si bunny hybrid menyerah dan berpura-pura sibuk mengamati sekitaran cafe.

Tidak ada yang berubah. Di tempat inilah dulunya Yong Guk dan Him Chan pertama kali melakukan ken – ah, maksudnya, peringatan dimulainya 'persahabatan' mereka. Dinding dan perabotan di cafe masih berwarna putih seperti dulu. Ornamen teralis di sudut jendela juga terlihat sama. Hanya perangkat elektroniknya lah yang jauh berbeda; tentu mengikuti perubahan zaman dan trend modern saat ini.

"Aku sering sekali kesini saat kau pergi kuliah dulu, Hime." Yong Guk memecah keheningan dengan ekspresi menerawang. Teringat kembali saat-saat dimana kejeniusan Him Chan membuatnya tidak berdaya; ia seakan dipaksa oleh takdir untuk menyaksikan bunny hybrid cantik tersebut keluar dari jarak pandangnya karena selain lulus terlalu cepat, Him Chan juga menerima beasiswa dari luar negeri yang mengakibatkan bunny hybrid cantik itu pergi jauh, meneruskan pendidikannya di universitas kedokteran ternama. Sementara Yong Guk? Namja tampan itu masih terkurung dalam mimpi buruk yang disebut High School.

"Dan kau tidak bosan-bosannya menggangguku dengan telepon-tidak-pentingmu," balas Him Chan datar. Mendengar hal ini, Yong Guk hanya nyengir dan menjulurkan ujung lidah diantara gigi.

So cheeky~

Berusaha keras, tidak ada salahnya, 'kan~?

"Akui saja, Hime, kau senang menerima telepon dariku. Akulah yang membuatmu tidak mati bosan dan kesepian di luar sana!"

"Huh!"

Terdengar dengusan. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Him Chan.

"Kau terlalu percaya diri, Babbo. Kau pikir, aku tidak punya banyak teman disana? Aku jenius dan populer!"

Yong Guk menyeringai penuh arti, "ne, populer tapi... tidak ada manusia yang bernyali cukup besar untuk mendekatimu, 'kan!? Akulah namja tampan pertama yang melakukannya~ Dan kau ingin berlagak lupa? Waktu kembali, orang pertama yang kau cari aku, 'kan?!"

Blush~

Kalau saja ada lubang di lantai, mungkin saat ini Him Chan sudah bersembunyi di sana. Yong Guk benar. Begitu tiba di Korea, ia langsung mencari namja itu ke rumahnya. Kenapa? Him Chan akan menyalahkan semuanya pada masa puber. Dan pembicaraan menyerempet-tidak-senonoh dari Yong Guk di telepon.

"Kau langsung menerobos ke kamar dan memelukku. Kkkk~ Umma-ku sampai kaget karena, well, kau berubah banyak sejak terakhir kali kami melihatmu. Kalau tidak karena telinga dan kulit putihmu, aku pasti sudah mendorong dan berteriak panik, mengira ada orang asing bertubuh tinggi dan bersuara serak, yang seenaknya menempelkan tubuhnya dengan sangat erat padaku."

Si bunny hybrid yang dijadikan objek pembicaraan tampak melengkungkan senyum, meskipun wajahnya memerah karena malu, tapi... Yong Guk seolah membawa kembali semua masa-masa itu.

Sekembalinya dari luar negeri, Him Chan dan Yong Guk memulai hubungan romantis yang sebenarnya tanpa embel-embel 'sahabat'. Kedekatan keduanya berujung pada official-nya hubungan mereka sebagai pasangan mate hanya dalam kurun waktu beberapa bulan saja. Kurang dari 1 tahun, Jin lahir, menyusul Jung Kook 2 tahun setelahnya.

Mereka telah melewati banyak kenangan manis bersama.

Deg~

Bersama...

God, salahkah Him Chan bila dirinya sedih mendapati kalau sekarang hanya dirinya dan sang mate lah yang menghuni rumah besar mereka?

Yong Guk melihat perubahan ekspresi wajah cantik yang sedari tadi ditatapinya. Ia menyadari kalau ekspresi murung ini selalu Him Chan perlihatkan beberapa hari belakangan. "Waegeure, Hime? Spill it out, Babe~ I'm your good listener, didn't I?"

"Huft... aku kesepian, Gukie. Tidak ada lagi yang akan kuurus di rumah. Kau tidak membutuhkan masakanku untuk menjauhkanmu dari rasa lapar karena kau sering makan di luar bersama client. Dan... 'percobaan' kita tidak membuahkan hasil," bisik si bunny hybrid lirih. Marbel hitamnya memanas, memikirkan kemungkinan kalau dirinya tidak lagi mampu memberikan apa yang Yong Guk inginkan selama ini. Dia seharusnya menanggapi permintaan Yong Guk untuk memiliki aegya sedari dulu. Mungkin saja...

Set~

Lamunan Him Chan terhenti begitu telapak tangan lembut berjemari lentik menangkup punggung tangannya di atas meja. Ia mendapati tatapan lembut sang mate tertuju hanya padanya, seakan mengatakan sesuatu.

"Hei, sesibuk apapun aku, aku selalu berusaha untuk dinner bersamamu di rumah, 'kan, Hime~? Lagipula kau juga tidak benar-benar kesepian karena sibuk di rumah sakit. Itu hanya perasaanmu saja. Dan soal percobaan? Kita akan terus berusaha. Kalau sudah waktunya past—"

"Bagaimana kalau aku sudah... tidak su-subur?" potong Him Chan berbisik dengan suara bergetar. Kepala bersurai hitam itu menunduk, menatap jemari Yong Guk yang menangkup tangannya di atas meja. "Aku memikirkan kemungkinan itu, ta-tapi... a-aku... hiks, ti-tidak punya cukup nya-nyali untuk benar-benar mencari tahu. Aku ingin memeriksanya tapi... hiks, aku ta-takut melihat ha-hasilnya, Gukie! Hiks~" lanjut si bunny hybrid terisak.

Tes,

Tes,

Tes~

Tetes demi tetes kristal bening hangat jatuh membasahi punggung tangan Yong Guk. Namja tampan itu langsung menggeser tempat duduknya ke samping sang anae dan memeluk tubuh kurus itu.

"Hiks~"

"..."

Him Chan terus menangis, sementara Yong Guk hanya diam namun telapak tangannya mengusap pelan punggung si bunny hybrid dalam gestur memutar, sementara tangan yang lain mengusap penuh kelembutan surai hitam tersebut.

Inilah cara Yong Guk menenangkan Him Chan. Mengajaknya bicara dalam kondisi seperti ini bukanlah pilihan yang bagus; dia akan semakin histeris dan kehilangan kepercayaan diri hingga tahap ekstrim seperti... merasa tidak pantas hidup di dunia.

Wae?

Itu konyol.

Awalnya Yong Guk juga menganggap reaksi tersebut konyol, namun setelah merasakan pengalaman ini saat kehamilan Him Chan dengan Jin, putera pertama mereka, Yong Guk berpikir kalau hal itu tidak lagi 'konyol'. Pertama kalinya ia melihat Him Chan histeris, diakibatkan mood swing. Mate-Nya yang cantik terus-menerus mempertanyakan bagaimana-kalau-dia-tidak-menyukaiku-sebagai-umma?

Konyol.

Bagaimana mungkin aegya mereka tidak akan menyukai umma yang cantik, cerdas, dan baik hati seperti Him Chan!? Saat itu Yong Guk belajar, Him Chan dan mood swing adalah kombinasi yang buruk. Bunny hybrid cantik itu sering menangis saat hamil, makanya Yong Guk sebisa mungkin selalu berada di sisinya saat...

... tunggu,

Deg~

"Hiks... aku memang anae yang buruk! Aku bahkan tidak bisa memberikan aegi lagi untukmu! Huwaaa~~~ Apa setelah ini kau ingin meninggalkanku dan mencari hybrid lainnya yang lebih muda dan cantik dariku?! Huwaaaaaaa!"

Dapat Yong Guk rasakan tatapan orang-orang di sekitar mereka akibat tangisan histeris Him Chan. Seperti biasa, ia tidak memperdulikan orang lain bila sudah bersama sang anae. Terlebih... dalam kondisi seperti ini.

God...

Him Chan... histeris?

Deg~

Mungkinkah anae-nya ini mengalami... mood swing?

"Baby, ayo kita memeriksa keadaanmu di laboratorium, ne?" usul Yong Guk tiba-tiba, membuat bunny hybrid yang menangis di dadanya sontak menegakkan tubuh dan menggeleng panik. Ia tidak setuju. Tampak nyata dari marbel hitamnya yang bergetar.

"NO! Bagaimana kalau ternyata aku benar-benar tidak bisa hamil lagi, Gukie?! Hiks, aku tidak mau membuatmu lebih kecewa lagi!"

Kepanikan menguasai Him Chan hingga Yong Guk harus memegang erat pergelangan tangan putih itu untuk menarik perhatiannya. "Hime, kau tidak pernah sekalipun membuatku kecewa, Baby. Lagipula... firasatku mengatakan kalau saat ini kau... hamil."

Siiiiinnngggg...

"... m-mwo?"

Terkadang, seorang dokter ahli pun... membutuhkan pendapat orang lain mengenai kondisinya.

~~~~~~~\(=^3^=)(=0ɷ0=)/~~~~~~~

"Jungie~? Kau sudah selesai, Baby?" J-Hope memasuki kamar mandi dengan handuk merah terhampar di kedua lengan bawah. Senyuman lebar menghiasi wajahnya saat ia mendapati si bunny hybrid masih asyik memainkan bebek karet di permukaan air berwarna orange semu. Tadinya air beraroma buah persik itu mengepulkan uap hangat, tapi sekarang? Tidak ada uap melainkan genangan air yang mendingin di dalam bathtube.

"Jungie, kau harus keluar dari sana sekarang, ne? Airnya sudah dingin, Baby~" bujuk J-Hope sembari berjongkok di samping bathtube, menyejajarkan posisinya dengan sang mate.

Sayangnya, makhluk manis bertelinga kelinci itu menolak dengan gelengan dan pipi menggembung; aegyo khas yang didapatnya dari sang umma. "Ani. Jungie mau bermain lebih lama lagi, Hopie Hyung~!" katanya keras kepala.

J-Hope nyaris kehilangan akal membujuk sang mate jika saja matanya tidak menangkap abdomen bawah Jung Kook yang sedikit menggembung, tampak sangat jelas di dalam air.

Ia mendapat ide.

"Jungie..., berendam dalam air dingin tidak baik untuk aegya! Kau mau uri-aegya kedinginan?" tanya namja tampan tersebut berpura-pura memasang ekspresi shock terbaik miliknya. Orang lain mungkin akan menyadari kalau ia berakting, tapi ini adalah makhluk polos yang manis dan lucu bernama Kim Jung Kook, kontan saja bunny hybrid manis itu akan...

"JINJJA?! ANDWEEEE! JUNGIE TIDAK INGIN BABY KEDINGINAN!"

... over reacting.

J-Hope keterlaluan, eoh? Menggunakan cara seperti itu hanya untuk membujuk mate-nya keluar dari bathtube!? Tapi... apa boleh buat? Jung Kook hanya terkadang 'sulit' untuk diajak bekerja sama. J-Hope jadi tidak punya pilihan selain melibatkan 'aegya' sebagai alasan.

Aegya?

Ne. Hampir tiga bulan berlalu semenjak mereka melakukan 'kencan' di perusahaan. Double date, menurut Jin—meskipun sampai saat ini J-Hope masih tidak mengerti kenapa sahabatnya itu malah merencanakan double date mereka di perusahaan. Tapi yang pasti... atas ketidak-sengajaan dari insting Jin, mereka akhirnya mendapat kabar dari Dr. Song kalau V dan Jung Kook, tengah hamil dua minggu.

Saat itu Jin dan J-Hope menganga. Mereka seharusnya sudah menduga. Tapi... terima kasih pada kebuntuan otak yang tiba-tiba dialami keduanya.

"Hopie Hyung~! Jungie ingin keluar~" Jung Kook merengek dengan kedua tangan terulur, persis seperti anak kecil yang meminta orang tuanya untuk digendong. Melihatnya membuat sang mate terkekeh. Yah, selain keras kepala, bunny hybrid lucu tersebut juga sangat-teramat manja dari yang biasanya.

"Kkkk... ara, ara~ Bagaimana kalau kau berdiri dulu? Aku tidak bisa mengeluarkanmu dengan posisi seperti itu, Baby~"

Tanpa banyak bicara Jung Kook langsung berdiri. Hampir saja ia terpeleset kalau tidak untuk tangan J-Hope yang sigap memegangi kedua lengannya diantara handuk.

"Aigo, Jungie~ kau harus berhati-hati."

"Hihihi, mian~ Ayo, Hopie Hyung...! Gendong Jungie~!"

Namja yang direngeki si bunny hybrid hanya bisa menghela nafas panjang dengan sedikit gelengan. Jung Kook dan kepolosannya yang membingungkan.

Pasrah, J-Hope melarikan handuk ke seluruh permukaan kulit putih halus milik sang mate untuk mengeringkannya dari bulir-bulir air. Setelah dirasanya cukup kering, handuk merah dihamparkannya ke atas kepala Jung Kook. Kemudian dengan mudahnya namja tampan itu menyelipkan kedua tangan pada paha belakang si bunny hybrid, membuat tubuh mungil tersebut bergelayut dalam gendongannya dengan kedua kaki memeluk pinggangnya erat.

J-Hope melakukan aktifitas rutinnya, membantu sang mate berpakaian dan mengeringkan surai hitam halus tersebut menggunakan hair dryer. Jung Kook sebenarnya bisa melakukan hal-hal enteng ini sendiri, hanya saja J-Hope bersikeras ingin membantu. 'Kau tidak boleh kelelahan, Baby~' katanya beralasan.

Terlalu memanjakan?

Tidak. J-Hope hanya terlalu mencintai Jung Kook.

"Hopie Hyung, apa kita akan bertemu semuanya disana?"

"Eum! Keluarga kita akan berkumpul, Jungie. Kau juga bisa bertemu Yoongie Hyung dan Min Su nanti," jawab J-Hope riang diantara dengungan pelan hair dryer.

Diluar perkiraan, Suga memasuki ruang operasi lebih cepat dua bulan dari yang seharusnya. Ia melahirkan seorang wolf hybrid prematur berjenis kelamin laki-laki, yang diberinya nama Park Min Su.

Makhluk mungil yang sangat lucu dan menggemaskan. Semua orang menyukainya, tidak terkecuali dengan Jung Kook. Meskipun awalnya bunny hybrid itu sempat ragu kalau Min Su Kecil akan menangis setelah ia gendong, namun kenyataannya? Jangankan menangis, makhluk mungil tersebut malah menempel dan bergelung di dada Jung Kook persis dengan apa yang dilakukannya pada sang umma aka Suga.

Love at the first sight. Mungkin hal itulah yang terjadi pada Jung Kook dan Min Su. Keduanya menempel bagai lem bila sudah bertemu. Dan tentu saja, mendengar nama Min Su disebut-sebut, si bunny hybrid akan overly excited.

"JINJJA?!"

See?

Jung Kook bahkan memekik keras, membuat namja tampan yang tengah menyisiri rambutnya terkekeh, dan dengan gemas mengecup pipi putih yang err... tidak lagi chubby tersebut. Yah, J-Hope sedikit bersedih mengenai yang satu ini; mengingat kalau pipi chubby sang mate adalah salah satu bagian terfavoritnya.

Mau bagaimana lagi?! Kehamilan membuat Jung Kook tidak nafsu makan selain buah-buahan kering. Lebih aneh lagi karena bunny hybrid yang dicintainya tersebut menggilai dry persimmon. Ia bahkan menolak strawberry yang digemarinya!

"Ne~~ kita akan merayakan... eum... pesta kelulusanku dan Hyung-mu?" J-Hope menjawab ragu. Wae? Apa karena pesta yang direncanakan oleh mertuanya dan mertua Jin ini lebih terlihat seperti... sebuah pesta untuk perayaan kehamilan dibanding pesta kelulusan?

Mungkin saja.

Entahlah. Yang pasti, ada alasan spesial kenapa dirinya dan Jung Kook harus bersiap-siap di pagi hari, mengenyampingkan aktifitas bergelung di tempat tidur yang biasanya mereka lakukan.

########^0^########

"Baekhyunie, apa tidak apa-apa nampyeon-mu dibiarkan seperti itu? Dia terlihat... akan menangis!?" Him Chan berbisik pelan pada telinga segitiga keemasan milik lion hybrid di sampingnya.

Yang dibisiki tampak ogah-ogahan melirik ke arah perhatian Him Chan tertuju. Well, menjelang 4 bulan kehamilannya, sikap bratty yang menguasai Baek Hyun seolah enggan beranjak. Malah, dirinya semakin evil melebihi dampak dari kehamilannya dulu dengan Tae Hyung. Kris sekarang tidak boleh dekat-dekat dengannya minimal dalam radius 3 meter.

Alhasil, namja yang si lion hybrid 'siksa' tampak merenung di pojok dinding bata bagian Utara taman. Jauh dari susunan meja melingkar yang menjadi tempat dimana seluruh keluarga mereka berpesta; semacam pesta minum teh dan makan kue yang akan dilanjutkan dengan jamuan makan siang ala Eropa.

"Hehehe, jangan hiraukan nampyeon-ku, Himchanie~ Dia sudah 'terbiasa'~!" Dengan santainya Baek Hyun berdendang sembari menyerahkan cangkir berisi susu cokelat hangat ke tangan Him Chan.

Terus terang, bulu kuduk si bunny hybrid sedikit meremang karena melihat wajah imut tersebut tersenyum manis. Aneh sekali, eoh? Senyuman manis dari makhluk imut menggemaskan bisa mengeluarkan aura... mengerikan?

"O-oh, geure?!" Pada akhirnya Him Chan hanya mampu merespon canggung. Mau bagaimana lagi?

Baek Hyun seolah tidak menyadari kecanggungan sang besan dan hanya terus tersenyum riang dengan kedua tangan kembali mengusap-ngusap perut Him Chan yang terlihat nyaris dua kali lebih besar dari perutnya meskipun belum memasuki bulan ke empat. "Himchanie, menurutmu kalian akan mendapatkan kembar namja atau yeoja?"

Memang, dari pemeriksaan terakhir yang si bunny hybrid lakukan, ia dan Yong Guk diketahui akan memiliki bayi kembar. Namun tentu belum, mengenai jenis kelamin. "Huft... entahlah, Baekhyunie. Aku berharap kami akan memiliki yeoja, tapi kau tahu? Gukie malah menginginkan namja lagi! Ukh! Dia membuatku kesal!"

"Kkkk~ mungkin sebaiknya kalian membuat taruhan saja."

"Tsk! Aku cari mati namanya kalau taruhan dengan orang seperti Yong Guk. Terakhir kali aku melakukannya, aku menderita kerugian besar, Baekhyunie. Taruhan dengan nampyeon-ku, is a big 'NO'!" Him Chan mengeluh dengan gestur tidak berdaya. Kedua telinga kelincinya berbaring lesu di atas kepala.

Baek Hyun yang melihat tingkah menggemaskan sang besan hanya bisa tertawa keras. Namun sesaat kemudian tawanya lenyap begitu menyadari sesosok tubuh tinggi muncul di belakang Him Chan. Lion hybrid tersebut langsung menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan senyum melihat kilatan jahil dari mata sosok asing itu.

Kim Yong Guk.

Entah berapa lama namja ber-gummy smile tersebut berada di sana, yang pasti, cukup lama untuk membuatnya menyeringai lebar seperti sekarang ini.

"Jadi... kau takut taruhan denganku, Hime~?"

Deg!

Jantung Him Chan rasanya nyaris copot mendengar suara super berat sang nampyeon berbisik tepat di bahunya. "Omo! Yah, Gukie! Jangan muncul tiba-tiba di belakangku, Babbo!" semprotnya jengkel. Namun Yong Guk malah terkikik dan mengecup pipi kiri bunny hybrid tersebut kilat sebelum akhirnya mengambil duduk di samping.

"Kkkk, mian, mian~ Jadi, kau takut taruhan denganku?" Yong Guk sengaja mengulang pertanyaannya, hanya untuk menyaksikan wajah cantik Him Chan blushing parah. Oh, ini pastilah ada hubungannya dengan 'kerugian' besar yang Him Chan tanggung saat kalah taruhan terakhir kali dengan Yong Guk.

"Shut up, You Kinks Ass!"

"Shh... watch your mouth, Babe, there's pretty much little kids in here~" Yong Guk berdendang dan berpura-pura menenangkan sang anae, memasang wajah innocent tanpa dosanya. Hal ini mengundang dengusan jengkel dari si bunny hybrid hingga tanpa bisa dicegah, keduanya mulai berdebat, saling melemparkan argument tidak jelas.

Baek Hyun yang menyaksikan kedua besannya berdebat, hanya bisa tertawa saat Him Chan, ataupun Yong Guk meminta pendapatnya sebagai pembelaan diri masing-masing. Lion hybrid manis itu sudah terbiasa melihat pemandangan ini. Mereka adalah pasangan yang unik dan menggemaskan, menurutnya. Oh, dan jangan lupakan, sangat akrab.

Akrab...

Tanpa sadar Baek Hyun melirik ke arah Kris yang masih pada posisi semula sejak beberapa menit yang lalu ia melihatnya.

Kris terlihat sendirian.

Ini semua salahnya, 'kan?

Dialah yang mendorong Kris terus-terusan menjauh selama berbulan-bulan.

Rasa bersalah menguasai Baek Hyun hingga membuatnya reflek bangkit dari kursi dan menuntun kedua kaki kecil miliknya untuk mendekati Raksasa Pemurung di pojok dinding.

"Hei," sapa Baek Hyun begitu dirinya tiba di samping Kris. Namja blasteran yang disapa tampak menganga takjub seolah tidak percaya. Ukh, apa si lion hybrid sudah berbuat sebegitu kejamnya, eoh, sampai-sampai Kris menganga begitu hanya karena ia sapa?

"E-eh, eum... hi, Baekhyu—"

Grep~

"Mianhe~"

Kris belum sempat menyelesaikan ucapannya saat tubuh mungil dengan perut sedikit membesar tersebut memeluk lehernya erat. Meskipun terkejut menerima pelukan, perhatian Kris lebih tertuju pada satu kata dari sang mate yang terdengar bergetar.

Apa Baek Hyun ingin menangis? Dia bersedih? Kenapa mate-nya bersedih?

"Hiks, mianhe, Kris~ Aku membuatmu... hiks! Kesulitan menghadapi sikapku. Hiks~ mianhe..."

Mungkin seharusnya Kris tidak bergembira tapi... apa boleh buat, eoh?! Bukankah ini pertanda kalau Baek Hyun menyesal dan... larangan-mendekat-minimal-radius-tiga-meter itu telah musnah!? Sekarang Kris bisa memeluk lion hybrid yang ia cintai semaunya, 'kan?

Tersenyum lega, kedua tangan Kris balas memeluk tubuh Baek Hyun. Seperti yang biasa ia lakukan bila memeluk sang anae, satu tangan mengusap punggung dengan gerakan memutar, sementara tangan lainnya ia bawa untuk mengusap belakang kepala bersurai pirang kecoklatan tersebut. "Gwenchana, Baby~ Aku tahu sikapmu diakibatkan mood swing. Aku mengerti. Jangan menangis lagi, ne~?"

Menarik diri, wajah berlinang air mata Baek Hyun terpampang jelas di hadapan Kris. "Ja-jadi... hiks! Kau sudah memaafkanku? Atau... k-kau masih marah?! Hiks~"

Si lion hybrid berancang-ancang hendak menangis lagi jika saja tidak untuk tangan lebar Kris yang menangkup rahangnya, dan membawa bibir mereka bertemu dalam ciuman lembut. Oh~ siapa yang menyangka kalau keduanya begitu merindukan sentuhan lembut seperti ini!? Nyaris 4 bulan. Bukankah itu waktu yang terbilang cukup lama sebagai pembentang diantara dua anak manusia yang saling mencintai dan mengasihi?

Yah, itu sangatlah lama.

Namun ciuman lembut belasan detik rasanya cukup menjadi perantara, penyampai betapa rindunya mereka akan sentuhan dan perhatian masing-masing.

"Babbo. Aku tidak pernah marah padamu, Baekhyunie~ Tidak ada yang perlu dimaafkan. Aku sangat menyayangimu. Dan kau juga, Uri-Little-Simba~" kata Kris berdendang sembari mengusap baby bump mereka dan mengecupnya.

Err... Simba?

Ne, tokoh animasi berwujud anak singa pembuat masalah itu Kris rasa cocok menjuluki baby bump mereka, mengingat betapa parahnya mood swing yang Baek Hyun alami selama ini.

"Gumawoyo~"

Tangis haru disertai senyuman menghiasi wajah manis Baek Hyun melihat nampyeon-nya begitu khusyuk menempelkan telinga ke perutnya, seolah tengah mendengarkan keluh-kesah aegi mereka yang sudah lama tidak merasakan sentuhan sang appa.

"I miss you, Kris. The both of us miss you so much."

Mendengar kata-kata ini, Kris akhirnya mengangkat kepala, tersenyum lebar dan menarik tangan si mungil hingga lion hybrid imut tersebut duduk nyaman, menyamping di atas kedua pahanya.

"I miss you both too, My Precious Babies~"

Rentang waktu tidaklah buruk. Fase itu akan membuat kerinduan memuncak dan membuka mata kita betapa seseorang yang kita jauhi... adalah seseorang yang sebenarnya sangat kita butuhkan kehadirannya melebihi apapun di dunia ini.

Love is a friendship and companion of your life.

And sometimes, a little bit span gonna make you understand how much do you love somebody and miss them so much.

#########^0^#########

Salah satu telinga segitiga cokelat keemasan milik V tertekuk ke samping, diiringi dengan alisnya yang juga melakukan hal sama, hanya saja yang ini salah satunya terangkat. Dia bingung dan... jengkel?

"Cepatlah, Seokie...! Pakai celana apa saja! Kita sudah terlambat!"

"Tapi, Yeobo..., tidak satupun celanaku nyaman dipakai! Semuanya menyempit di bagian paha."

Oke, Jin benar-benar membuat V kesal akan keluhan celana-menyempit-di-bagian-pahanya. Kalau boleh jujur, menurut V, Jin hanya bereaksi berlebihan. Memang, dari awalpun, paha Jin selalu terlihat penuh. Dan sekarang... paha namja tampan itu tampak... bertambah volume?

Terima kasih atas kehamilan 'unik' V yang membuat nafsu makan Jin bertambah secara membingungkan sementara yang bersangkutan—V—sendiri, kehilangan nafsu makannya dan hanya menjadikan buah kering seperti kesemak sebagai camilan.

Dr. Song dan umma-nya berkata itu adalah hal yang wajar bagi kaum hybrid, namun tentu saja tidak cukup untuk menurunkan kekhawatiran Jin akan kondisi tubuh sang mate yang semakin hari terlihat menyusut; kedua pipinya yang agak chubby hilang tak berbekas, belum lagi tulang-tulang yang menonjol nyata di balik kulit tan yang tipis.

"Seokie, kau bisa memakai celana pendek santai. Ini hanya pesta kebun. Lagipula, cuaca akan sangat panas nanti. Untuk apa kau memaksakan diri memakai jeans!?" V lelah sendiri dan kembali mendudukkan tubuh di ranjang. Fiuh~ entah berapa lama lagi dia harus menunggu Jin dan ke-diva-annya.

Namja tampan itu melihat si mungil yang duduk di atas ranjang dengan ekspresi wajah kelelahan dari cermin yang tengah dipatutinya. "Kau lelah, Yeobo? Ingin kubuatkan susu buah kesemak kesukaanmu?"

Seaneh apapun minuman itu terdengar, namun itulah yang Mate-Nya Tercinta sukai.

"Heum, boleh~! Aku akan membawanya ke pesta. Aku tidak yakin menu yang kusukai akan berada di sana nanti."

Pada akhirnya Jin mengikuti saran V dan meraih celana pendek yang tersusun rapi dari wardrobe. Jin jarang memakainya karena seperti halnya sang umma, ia berpikir kakinya akan terlihat lebih fabulous mengenakan celana jeans. Bukankah ada yang berkata, kalau suatu keindahan tidak seharusnya disembunyikan?

"Nah, kau terlihat jauh lebih tampan memakai pakaian seperti itu, Seokie~" puji si lion hybrid tulus begitu melihat Jin keluar dari ruang wardrobe dengan celana khaki selutut dilengkapi atasan kaus putih polos dan kemeja biru terang yang dilepas seluruh kancingnya. "Kau terlihat lebih santai."

Jin tersipu malu dan tersenyum canggung seperti anak gadis yang dipuji 'cantik' oleh teman kencannya. V bahkan tidak bisa mempercayai matanya saat mate-Nya yang tampan menumpukan berat badan pada satu kaki sementara kaki yang lain ia tekuk ke belakang dengan ujung jemari mengetuk-ngetuk lantai pelan. Dan... kedua tangan berpegangan ke belakang?

O, My, God...

Kenapa Jin malah terlihat sangat menggemaskan, eoh?

Tanpa sadar bibir V mengerucut cemberut. Ia bukanlah tipe yang memperhatikan hal-hal kecil seperti ini, tapi... salahkah kalau hatinya mendadak jengkel melihat Jin dapat dengan mudahnya berlaku imut sementara dirinya sendiri...

"Kim. Seok. Jin."

Eh?

Ada apa dengan nada itu?

V terdengar... marah?

"Ne?"

Sret!

Lion hybrid manis dengan perut sedikit membesar yang tengah Jin tatapi penuh tanya, bergerak turun dari ranjang. Tanpa berkata apa-apa makhluk manis tersebut berjalan ke arah pintu dan membukanya. Sempat Jin berpikir V akan pergi begitu saja, namun tidak, karena si lion hybrid berhenti tepat ketika setengah bagian tubuhnya keluar dari kamar.

Marbel cokelat tersebut menatap Jin tajam. Err... mungkin akan terlihat mengintimidasi jika saja bibir penuhnya yang pink tidak mengerucut dengan pipi menggembung cemberut.

Deg,

Deg,

Deg~

V terlihat menggemaskan hingga membuat jantung Jin berdetak kencang. Euforia hangat mulai menguasai dada namja tampan itu jika saja si lion hybrid tidak mengatakan sesuatu yang... kejam?

"Mulai saat ini, kau tidak boleh berada dekat-dekat denganku. Minimal dalam jarak 3 meter. Ara?! Aku akan naik taksi saja."

Siiiiiiiiiiinggggg...

Hanya itu. Setelahnya, V pergi keluar begitu saja tanpa melirik Jin sedikitpun.

What the...

Euforia hangat berubah sekejap menjadi balok es beku.

"M-mwo?"

Kim Seok Jin yang tampan hanya melongo di tempat.

BLAM!

Dapat didengarnya suara pintu depan dibanting keras oleh sang mate.

Well... apapun itu, kau harus menerima nasibmu, Kim Seok Jin...

Like mother, like son, eoh?

#########^0^########

"UMMA!"

Pekikan riang sesosok bunny hybrid menginterupsi pasangan BangHim yang tengah saling menyuapi salad di piring mereka. Entah sejak kapan perdebatan keduanya berakhir dengan romantis seperti itu.

"JUNGIEEEE~!" Tidak kalah antusias bertemu sang aegya tersayang, Him Chan pun balas memekik riang. Tangannya yang kurus terbuka lebar untuk menyambut tubuh Jung Kook, yah, meskipun pada kenyataannya mereka hanya berakhir dengan pelukan unik karena perut membesar yang saling menempel.

Yong Guk ikut menyambut kedatangan sang menantu dengan pelukan hangat.

"Hopie, selamat, ne, kau lulus dengan nilai sempurna."

"Kkkk~ Gumawo, Appa."

"Kita perlu berbicara setelah pesta ini berakhir. Kau punya waktu?"

J-Hope tahu apa yang mertuanya maksudkan. Seperti halnya di hari kelulusan Suga, hyung-nya, Yong Guk menawarkan beasiswa penuh di universitas milik perusahaan. Keberhasilan Suga menjadi Profesor di usia muda tidak lepas dari jasa dan kesempatan yang mertuanya berikan.

Dan sepertinya... sekarang kesempatan tersebut akan ditawarkan pula padanya. J-Hope tentu tidak bodoh untuk menolak. "Ne, Appa, tentu saja aku punya waktu."

"Hei, bisakah kalian berhenti membicarakan bisnis sebentar saja? Ada dua 'bunny mama' yang membutuhkan bantuan disini," sela Him Chan protes.

Dua namja tampan yang tengah berdiri disana tidak kuasa menahan tawa melihat Him Chan dan Jung Kook terjebak sendiri dalam pelukan unik mereka. Jung Kook tidak mampu membawa kembali tubuhnya ke posisi tegak, sementara Him Chan sendiri tidak punya cukup tenaga untuk membantu.

Well, seharusnya tadi Him Chan berdiri dulu sebelum memeluk Jung Kook.

"Kkkk~ look at you two, squishing each other like a sandwich~" Yong Guk masih sempat-sempatnya meledek saat tangannya menopang pinggul sang anae untuk berdiri. Berbeda dengan J-Hope yang membantu Jung Kook tanpa berkomentar apa-apa.

Sang menantu terlihat begitu berhati-hati mendudukkan aegya mereka di salah satu kursi dan mengambilkan apapun itu hidangan yang Jung Kook tunjuk dengan antusias. Pemandangan tersebut membuat Yong Guk dan Him Chan terharu. Rasanya mereka tidak bisa berhenti bersyukur karena Tuhan telah memberikan mate terbaik untuk kedua putera mereka.

Dan, Him Chan jadi iri sendiri. Dengan jengkel dicubitnya pinggul Yong Guk 'cukup' keras, err, sebagai balasan atas ledekan juga, sih...

"ARGH! Hime! That's hurt, Baby~! Sshh..."

Him Chan reflek memeletkan lidahnya dengan childish pada sang nampyeon, "serve you, right!?" celetuk si bunny hybrid ketus. Hampir saja ia menyesali tindakannya karena Yong Guk terlihat akan membalasnya dengan gelitikan jika saja Jin, putera sulung mereka yang tampan, tidak datang terburu-buru dengan wajah super panik ke arah mereka.

"Seokie! Kau sudah datang rupanya. Mana Taehyungie?"

Bukannya menjawab sang umma, Jin malah berbolak-balik, terlihat panik mencari-cari 'sesuatu' di sekitar mereka. "Umma, Appa, apa kalian melihat Yeobo-Ku?

"Yeobo-ku?" tanya Yong Guk bergumam dengan sebelah alis terangkat bingung.

"Itu, Appa... Taehyungie! Mate-Ku!"

J-Hope hanya facepalm. Sudah diduganya Jin akan kesusahan sendiri dengan panggilan 'sok romantis'nya tersebut.

"Oh..., kami belum melihatnya. Bukankah seharusnya kalian datang bersama?"

Jin bermain dengan jemarinya, terlihat seperti bocah 6 tahun yang tengah menimbang-nimbang apakah dia harus bercerita atau tidak, agar tidak dihukum. Kelakuan anehnya mengundang perhatian empat pasang mata di sana – eh, tiga sebenarnya, karena Jung Kook terlihat sibuk memenuhi mulutnya dengan cookies bertabur kismis hingga tidak memperhatikan kedatangan Jin.

Him Chan langsung menatap sang putera dengan mata menyipit penuh selidik. "Jangan katakan kalau kalian bertengkar?" tebak bunny hybrid cantik itu... marah?

How perfect.

Tentu saja Jin panik setengah mati sekarang. Pasalnya, entah dia harus senang, atau merasa sedih dengan kenyataan bahwa sang umma, sangat menyayangi V seperti halnya ia menyayangi Jung Kook. Over protective malahan.

"A-aku tidak me-mengerti, Umma! Tiba-tiba dia menatapku tajam dan berkata 'mulai saat ini, kau tidak boleh berada dekat-dekat denganku. Minimal dalam jarak 3 meter.' Lalu setelahnya, dia berkata akan pergi sendiri naik taksi! Aku tidak tahu dimana salahku, Umma...! Padahal sebelumnya, Yeobo baik-baik saja!" jelas Jin panjang lebar. Rambut cokelat gelap yang sudah tertata rapi, sekarang mulai diacak-acak oleh si pemilik.

Biar saja!

Siapa yang perduli mengenai appearance bila MATE-NYA yang imut dan cantik, dan tengah hamil muda, menghilang begitu saja dalam keadaan... marah, ne?

Penjelasan Jin membuat Him Chan berpikir sejenak. Kejadian ini... terdengar familiar, eoh?! Larangan mendekat minimal dalam radius 3 meter... OH! BAEK HYUN!

Reflek marbel hitam si bunny hybrid melirik ke arah pojok dinding bata bagian Utara taman. Dia melihat besannya yang imut dan mungil tadi berjalan ke sana, tepatnya menuju namja tampan bernasib malang, Kris Kim.

Dan saat itulah Him Chan melihatnya. Keluarga Kim yang satunya berkumpul di sana. Dan maksudnya Keluarga Kim, itu sudah mencakup seluruhnya. Bukan hanya orang tua V, tetapi juga dua orang dari pihak appa kandung sang menantu. Sebagai pelengkap, si imut lion hybrid yang tengah dirisaukan oleh puteranya juga berada di sana.

"Seokie, kurasa 'Yeobo-Mu' berada di sana. Bersama keluarganya." Kata-kata Him Chan bagai komando yang membuat kepala Jin berputar mengikuti arah telunjuknya.

Kemudian secepat kilat, layaknya angin lewat, namja tampan tersebut pergi menyusul sang mate. Meninggalkan Him Chan dan Yong Guk yang melongo, saling berbagi tatapan, lalu mengangkat bahu acuh. Toh, Jin sudah besar.

########^0^#########

"YEOBO!" Jin langsung berteriak meskipun dirinya dan sang mate masih berjarak cukup jauh.

Namja imut yang dipanggilnya langsung berbalik dengan pouting lucu menghiasi bibir, "yah! Berhenti disana! Sudah kubilang, 'kan, kau tidak boleh mendekat minimal dalam radius 3 meter!?" ketusnya jengkel.

Mau tidak mau, Jin berhenti di tempat. Dia tidak mengerti kenapa V bersikap seperti ini. Jin jadi merasa kembali ke masa-masa menyesakkan beberapa bulan lalu; dimana V terus-menerus mendorongnya menjauh dan menolak keberadaannya. Apa V tidak menyukainya lagi sebagai mate?

Baek Hyun dan Kris yang melihat kejadian tersebut tepat di hadapan mereka, saling bertatapan.

Err... Taehyungie Mereka dilanda mood swing, eoh?

Naas. Saat ke-bratty-an Baek Hyun berakhir, V malah baru memulainya.

Poor Jin~

"Apa yang terjadi?" Tanpa kentara Young Jae berbisik di telinga sang nampyeon. Dahi mulus namja manis bermata doe itu langsung berkerut begitu Dae Hyun malah terkekeh dan menghembuskan nafas panjang. "Ya, waegeure~?"

"Jangan dipikirkan, Youngie. Kau lihat sendiri apa yang Baekhyunie lakukan pada Kris? Nah, itulah yang saat ini Taehyungie lakukan pada Jin. Like mother, like son. Taehyungie mengalami mood swing."

Kepala bersurai hitam milik Young Jae mengangguk-angguk paham dengan bibir membentuk huruf '0'. Dae Hyun tidak kuasa menahan senyum melihat ekspresi menggemaskan yang anae-nya tunjukkan.

Seolah lupa akan keadaan sekitar, perhatian Dae Hyun kemudian beralih pada abdomen si namja manis yang sedikit membesar. Ish, Young Jae dan Baek Hyun patut digeplak karena telah berani meragukan 'kesejatian' seorang Jung Dae Hyun! Lihat sekarang? Memangnya perut Young Jae bisa membesar dan berisi baby dengan sendirinya, eoh!?

Young Jae tengah hamil 2 bulan. Dae Hyun melompat-lompat riang seperti orang gila saat mengetahuinya.

"Mungkin sebaiknya kita menjelaskan hal ini pada Seokie? Dia terlihat ingin menangis," bisik Young Jae lagi. Dia memang sangat mudah tersentuh, apalagi melihat wajah Jin yang tertekuk dengan pipi menggembung dan bibir mengerucut maju. Err... itu menggemaskan, sejujurnya. Dan Young Jae tanpa sadar...

"GYAAAAA~ SEOKIE SANGAT MENGGEMASKAAAAAAANNNNN!"

... berteriak histeris penuh kekaguman.

Semua mata di meja Keluarga Kim menatap namja manis tersebut penuh tanya. Lain halnya dengan V yang mendadak semakin cemberut.

See? Bahkan di mata orang lain pun, Jin terlihat menggemaskan meskipun tengah merajuk! Menyebalkan!

V yang kesal langsung bangkit dari duduknya dan pergi melewati Jin begitu saja. Ia bahkan tidak melirik sang mate yang menatapnya memelas barang sedikitpun.

Namja tampan yang dicueki si lion hybrid tentu tidak membiarkannya begitu saja dan berniat menyusul. Namun langkahnya terhenti, merasakan jemari lentik milik yang tiada lain dan tiada bukan adalah ibu mertuanya, Baek Hyun.

"Biarkan Taehyungie sendiri dulu, Seokie. Umma akan menjelaskannya padamu."

########^0^#########

"Gyaaa~ Lihat! Lihat! Min Su menguap! Omo~"

Suga hanya terkikik geli dikala lion hybrid manis yang mengerubungi bayi mungil dalam pangkuannya, bertepuk tangan dan memekik dengan riang. Si lion hybrid terlihat begitu antusias menyaksikan 'aksi-aksi' baby-nya dan Ji Min, Min Su.

Lain Suga, lain pula J-Hope. Namja tampan itu serasa tidak mempercayai pendengarannya sendiri. Bagaimana tidak? Alih-alih Jung Kook, yang berteriak ala fangirl saat Min Su menguap tadi adalah... Tae Hyung. KIM TAE HYUNG! God... apakah kehamilan dapat membuat seseorang berkepribadian ganda?

"Suga Hyung, boleh aku menggendongnya?" tanya V dengan puppy eyes, penuh harap. Padahal, tanpa ia melakukan hal itu pun, Suga patilah akan mengijinkannya.

"Ne~ tentu saja! Rentangkan kedua lengan bawahmu, Taehyungie."

V langsung mengikuti instruksi Suga. Begitu ia merentangkan tangan, wolf hybrid luar biasa mungil dengan telinga segitiga berujung lancip dan berbulu putih tersebut, telah berada dalam dekapannya. Terdengar erangan pelan dari si makhluk mungil sebelum akhirnya ia menggeliatkan tubuh dan menyelinapkan kepala kecilnya dengan nyaman pada dada V.

Oh~~

Si lion hybrid terharu. Kelopak matanya memanas diakibatkan genangan air mata hangat yang tidak kunjung menetes keluar, hanya berdiam disana seolah ingin menemani V yang merasakan dadanya membuncah.

"Aku juga menangis saat pertama kali menggendongnya." Suga berkata seolah tahu apa yang tengah V rasakan. Telunjuk kanannya yang pucat menekan-nekan pelan bibir pink mungil milik Min Su. Ia hanya terkekeh saat sang aegi menangkap telunjuk tersebut dengan kedua tangan kecilnya, seolah-olah kesal akan perbuatan sang umma.

V ikut tertawa melihat interaksi ibu-anak tersebut. Mereka sangat menggemaskan, pikirnya. "Min Su sangat kecil, Hyung. Lihatlah, dia begitu mungil. Menggemaskan. Dia mirip sekali denganmu, Hyung."

"Benarkah? Menurutku... Min Su lebih mirip appa-nya. Senyuman mereka sama. Berbeda denganku yang monoton, Ji Min sering sekali bersikap menggemaskan seperti Min Su, lho, Taehyungie... Kau harus melihat bagaimana menggemaskannya kelakuan mate-Ku sehari-harinya!" terang Suga, err... bersemangat?

Kenapa Suga malah senang kalau mate-nya bersikap menggemaskan darinya?

Bukankah Suga seharusnya merasa kesal dan... terintimidasi?

"Hyung tidak kesal?" V tidak tahan untuk tidak menyuarakan pikirannya. Dia penasaran, sebenarnya.

"Eh? Kesal?"

"Ne. Ji Min Hyung bersikap lebih menggemaskan dibandingkan hyung sendiri. Ukh! Seokie juga sering berlaku menggemaskan begitu! Bukankah hal seperti itu membuat hyung merasa terintimidasi?"

"Hahaha, tentu saja ti – oh! Apakah hal itu yang membuatmu ribut dengan Seokie?" Yah, hal itulah yang J-Hope beritahukan pada Suga saat dirinya tiba dan menanyakan keberadaan Jin. Suga menyaksikan sendiri dari jauh bagaimana Jin tertunduk lesu dikala V melewatinya dan datang duduk disampingnya dan Jung Kook.

V memang terlalu mudah ditebak. Terbukti, lion hybrid manis itu langsung bungkam sembari mem-pout-kan bibirnya lucu. Tebakan Suga tepat sasaran.

"Aku tidak tahu alasan jelasnya kau merasa kesal karena hal itu, Taehyungie, tapi... satu hal yang kuyakini, ini hanyalah mood swing, emosi sementara. Aku juga mengalaminya saat hamil dengan Min Su dulu. Kau nantinya akan sadar sendiri kalau apa yang mengganggumu saat ini, akan menjadi hal terkonyol yang pernah kau rasakan seumur hidupmu. Percaya padaku." Suga menjelaskan semampunya. Kepalanya tampak sesekali melirik ke sekitar, penasaran, dimanakah Him Chan berada saat keahliannya sebagai dokter-spesialis-hybrid diperlukan.

Nihil.

Entah kemana Yong Guk, appa angkatnya itu, menyeret sang umma.

Tidak punya pilihan, Suga sendirian dalam hal ini. Loh? Bukankah disana ada J-Hope? Jangan tanya! Adiknya itu terlalu sibuk mengurusi Jung Kook yang tampak makan puding dengan riang.

Suga tidak perlu cemas, toh, pada kenyataannya, lion hybrid yang diberinya pengertian tampak langsung larut memikirkan kata-katanya. Mudah dipengaruhi, eoh? Kenapa sekalian tidak menambahkan 'bumbu'?

"Masalah terintimidasi... itu sangat konyol, Taehyungie. Bukankah hal bagus kalau mate-mu bersikap menggemaskan darimu? Ambil saja sisi positifnya, berharap saja, siapa tahu suatu saat nanti aegya kalian akan mewarisi sikap menggemaskan itu. Dan dari yang kulihat.. kau sama menggemaskannya dengan Seokie, Taehyungie~ Kau hanya tidak menyadarinya!"

Oh, Suga dan mulut manisnya~ Siapa yang tidak akan luluh?! Bahkan seorang Kim Tae Hyung sekalipun.

"Jinjja?!" pekik lion hybrid imut itu mendadak antusias. Jika dipikir-pikir lagi... mungkin, tidak terlalu sulit memutar-balik mood orang yang sedang hamil.

"Ne! Keuromnyeon~! Kau seharusnya tidak mendiami Seokie dan menanyakan hal ini langsung padanya. Aku yakin dia punya lebih banyak jawaban untukmu," tambah Suga yakin. Seolah eye smile tidak cukup, namja manis tersebut juga membelai puncak kepala V.

"... aag..."

Gumaman tidak jelas mengejutkan kedua namja manis itu. Keduanya reflek menatap wolf hybrid mungil dalam pangkuan V.

Min Su.

Tersenyum manis layaknya malaikat kecil.

Seolah mendukung kata-kata sang umma.

"Omo~ neomu kiyeowo~~!" pekik Suga ber-fangirling.

V hanya terkekeh dan memberikan Min Su kembali ke pangkuan sang umma yang langsung menyambutnya riang. Ia kemudian membiarkan ibu-anak tersebut untuk melirik ke arah utara taman, tepatnya dimana keluarganya duduk bersama. Oh, kedua mertuanya juga disana, ternyata. Tapi...

Tunggu,

Dimana Jin?

"Mencariku?"

"OMO!"

Bagaimana V tidak berteriak kaget jika ternyata namja yang ia cari telah duduk di sampingnya. Di kursi yang beberapa detik lalu masih ditempati Suga. Eum... kemana perginya namja manis itu?

Jin seolah mengerti kebingungan yang melanda sang mate dan terkekeh, "kkkk~ Yoongie Hyung disana, di dekat gerbang, menyambut kedatangan Ji Min," jelasnya sembari mengarahkan ibu jari ke samping, menunjuk ke arah gerbang di belakang mereka.

Si lion hybrid mengikuti arah tersebut dan mengangguk-angguk paham begitu dilihatnya Suga tertawa riang saat mate-nya, Ji Min, menggendong aegya mereka dengan bibir bergerak menggumamkan sesuatu. Err... V akui kata-kata Suga memang benar mengenai sang mate; Ji Min terlihat menggemaskan. Sangat.

Mereka adalah keluarga kecil yang begitu hangat dan harmonis. Membuat V tidak kuasa menahan senyum harunya. "Mereka sangat menggemaskan dan terlihat serasi." Si lion hybrid tidak bermaksudkan menggumamkan hal ini dengan keras, tapi tentu saja Jin yang duduk sangat dekat dengannya dapat mendengar gumaman tersebut.

"Ne, mereka memang sangat serasi dan menggemaskan."

Set~

Perhatian V beralih ke bawah, menyaksikan kedua tangan lebar Jin menapaki dan mengelus abdomen bawahnya yang membesar.

"Kita juga akan terlihat seperti itu dalam beberapa bulan ke depan setelah si mungil ini lahir," ucap namja itu dengan wajah dipenuhi senyuman, menatap tepat ke marbel cokelat V yang balas menatapnya nanar. "Kkkk~ kuharap dia memiliki bakatmu, Yeobo. Kau selalu terlihat menggemaskan saat melakukan apapun. Bahkan, di saat marah sekalipun. Karena itulah aku sering tidak tahan untuk menyentuhmu."

Blush~

Kedua pipi makhluk imut yang digodai, merona seketika. Jadi... di mata Jin ia selalu terlihat menggemaskan? Benarkah?!

Konyol.

Sekarang apa yang ia permasalahkan terkesan sangat konyol.

Baru saja Suga menyinggung hal itu tadi, dan sekarang V sudah dapat merasakannya. Teringat kembali wajah Jin yang menunduk sedih saat ia marahi...

Deg!

Omo, apakah Jin sekarang membencinya?! Andwe!

Jin melihat perubahan ekspresi sang mate saat menatapnya. "Yeobo, waegeure?"

"Hiks... a-apakah kau se-sekarang membenciku, Seokie? Hiks, mianhe... hiks! Jeongmal mianhe! Huwaaa... aku su-sudah memarahimu – hiks! Tanpa a-alasan yang jelas! Mianhe, Seokie!"

Ironis. Jin sekarang mengetahui betapa mengerikannya mood swing; beberapa waktu lalu V terlihat begitu marah, dan sekarang? Lion hybrid imut tersebut malah menangis dan meminta maaf, berpikir kalau Jin sekarang membencinya.

"Sshhh... Don't cry~ Gwenchana, Yeobo. Baekhyunie Umma tadi sudah menjelaskannya padaku, kau hanya mengalami mood swing. Aku dapat mengerti. Dan... bagaimana mungkin aku membencimu? Meskipun kau memarahiku berkali-kali, aku tidak akan pernah membencimu, Yeobo~ Aku terlalu mencintaimu untuk peduli hal lainnya." Jin berkata lembut, mengangkat tangan kanannya dari perut sang mate untuk menyapukannya di kedua pipi berlinang air mata tersebut.

Butuh setidaknya 3-4 menit belaian lembut beserta kata-kata manis menenangkan agar tangisan si lion hybrid terhenti, menyisakan isakan lirih dan bibir bawah mengerucut maju.

"Kau sudah merasa lebih baik, Yeobo?" Jin akhirnya bertanya.

Grep~

Makhluk manis bersurai dirty blond tersebut memeluk leher Jin erat sebelum akhirnya mengangguk pelan sebagai jawaban, "ne, jeongmal gumawoyo, Seokie. A-aku juga mencintaimu~" V hanya merasa perlu menyampaikan hal ini; ia ingin membalas pernyataan cinta Jin, memberitahu kalau apa yang ia rasakan juga sama halnya dengan apa yang sang mate rasakan.

"Ne, ne~ arayo, Yeobo~"

Keduanya berpelukan erat meskipun sedikit terhalang baby bump di perut V. Mungkin moment tersebut akan menjadi sangat sempurna bila saja suara dipenuhi kebosanan J-Hope tidak terdengar.

"EHEM!"

Namja tampan itu bahkan berdehem keras sebagai pertanda protes.

"Aku tidak masalah jika kalian ingin berlovey-dovey, tapi... bisakah kalian menundanya sejenak? Ada banyak anak kecil di sini. Dan bayi."

V melepas pelukannya dengan wajah memerah sementara Jin langsung menatap sang sahabat dengan death glare. J-Hope sangat pandai merusak suasana, menurutnya.

"Kkkk~ Yah, Hopie! Kenapa kau tidak membiarkan mereka berpelukan lebih lama!? Kau pengganggu, eoh!" Suga berceletuk jahil. Namja manis itu dan keluarga kecilnya telah mengambil duduk di seberang mereka. Tentu saja, pelukan mesra keduanya—Jin dan V— terpampang jelas di depan mata. Di hadapan Min Su, dalam pelukan Ji Min. Dan lagi, Jung Kook juga ikut terkikik menengokkan kepala pada mereka dari samping tubuh J-Hope.

Blush~

Wajah V semakin merah saja kalau itu mungkin. Tapi Jin, bukannya malu, namja itu malah mengangguk-angguk menyetujui kata-kata Suga. Ukh, apa dia tidak sadar kalau mereka tengah diledeki, eoh?!

"Tsk! Hyung hanya tidak tahu saja apa yang akan terjadi. Jin tidak pernah 'cukup' dengan sebuah pelukan, Hyung!" tambah J-Hope seenak jidat, ehem, meskipun itu kenyataannya, sih. Tentu ia masih ingat dengan jelas kejadian di cafetaria sekolah waktu itu; di mana JinV dengan acuhnya bercumbu di bawah tatapan semua pengunjung cafe.

Gigi Jin bergemeletuk. Kalau saja Suga tidak di sini sekarang, J-Hope pastilah sudah...

"Omo! Kalian sudah berbaikan?!"

Rencana licik Jin mengenai J-Hope diinterupsi oleh keterkejutan sang mertua. Kris, datang bersama Baek Hyun dan beberapa family lainnya untuk duduk di meja mereka.

"Ne, Appa, kami sudah berbaikan." Sebagai menantu yang baik, Jin menjawab pertanyaan bernada terkejut yang dilontarkan oleh Kris.

"Ish, Baekhyunie, kenapa kau tidak seperti Uri-Taehyungie?! Kau malah menyiksaku berbulan-bulan," keluh namja blasteran tersebut pada sang anae yang duduk di sebelahnya. Sayangnya keluhan Kris hanya mendapat cibiran lucu dari si lion hybrid yang pada akhirnya mengundang tawa seluruh penghuni meja.

Yah, matahari terlalu bersinar cerah untuk dilewatkan. Mereka semua tertawa, melewati hari ini dengan riang tanpa harus mengkhawatirkan apa dan bagaimana mereka akan melewati hari esok. Toh, hidup ini masih panjang. Ada pepatah yang mengatakan, lewatilah hari ini seakan-akan kau tidak memiliki hari esok untuk dilewati.

Life is such a long journey.

If you keep walking, maybe you could found the treasures on your way.

It's not bad, isn't it?

~~~~~~~\(=^3^=)(=0ɷ0=)/~~~~~~~

Jin bagai terbang bersama gumpalan awan putih saat ini. Baginya, ini adalah surga. Baginya, ini adalah kebahagiaan yang sempurna. Rasa hangat di dadanya membuncah, menyaksikan bagaimana keluarga besarnya dan keluarga besar sang mate bertemu, dan saling bersenda gurau bersama. V bahkan memperkenalkannya pada orang-orang baru, kerabat dari pihak appa tiri—Kris—namja imut tersebut yang tidak pernah Jin temui. Maklum, kebanyakan dari mereka adalah orang asing yang berasal dari Cina maupun Kanada. Baru kali ini mereka semua berkesempatan datang ke Korea untuk menghadiri pesta kelulus – eh, kehamilan ini, mungkin.

"... dan ini adalah Wu Grandpa." V memperkenalkan entah orang yang ke berapa. Pria berwajah oriental yang ia perkenalkan langsung tersenyum dan menyambut uluran tangan Jin. "Grandpa Wu adalah appa kandung Kris Appa, sebelum akhirnya Grandma menikah dengan Grandpa Kim."

Oke, itu penjelasan yang membingungkan.

Untunglah saat ini Jin terlalu tegang—berusaha terlihat sebagus mungkin di hadapan keluarga besar V—sehingga ia memasang telinga dengan baik dan dapat memahaminya. "Oh, geure? Nice to meet you, Grandpa~" respon Jin, tersenyum canggung.

"Nice to meet you too, Jin. You looks handsome!"

Well, terus terang Jin tidak tahu harus bagaimana merespon pujian ini. Tapi melihat senyuman ramah yang 'Wu Granpa' berikan padanya, mau tidak mau Jin balas tersenyum ramah pula. Dia seharusnya rileks, mengingat tidak satu pun family yang V kenalkan padanya berkesan angker. Semua orang ramah, baik hati, dan murah senyum. Bukankah Jin seharusnya juga begitu? Memangnya apa yang dia tunggu? Seekor macan buas tiba-tiba menampakkan diri di...

"Oh!? Granpa, Where's Zelo?"

"Zelo? Eum... your grandma brought him to your mom."

Jin melihat kepala dirty-blond V mengangguk-angguk. Tapi bukan itu yang menjadi pemikiran sekarang! Mungkin... Jin terlalu cepat mengambil kesimpulan.

Zelo?

Zelo...

Zelo...

Nama yang sangat langka dan sulit ditemui. Jin hanya tahu satu bocah yang bernama Zelo; bocah berambut ikal, pirang, menyebalkan, dan... sangat, teramat evil meskipun hanya melalui tatapan.

Bocah kucing hybrid menyebalkan dari kelas Taekwoondo V...

ZELO!?

Mungkinkah...

"Ah! There you are~ ZELO, come here! Don't you miss Taehyungie?" Wu Grandpa berteriak dengan kedua tangan bergestur memanggil ke arah belakang V.

Srat!

Jin sontak berbalik, namun...

Grep!

"GYAAAAA~ TAEHYUNGIE HYUNG~! I MISS YOU~!"

... terlambat.

Sangat. Terlambat.

"ZELO-YA! Hyung's miss you too, Baby~"

Tepat di depan matanya saat ini, Jin melihat bagaimana Yeobo-Nya yang menggemaskan, memeluk erat bocah berambut pirang ikal yang balas memeluk lehernya erat.

Zelo.

Bocah bertelinga animal orange itu... memeluk mate-Nya...

ZELO MEMELUK V!

Si menyebalkan Ze—

"Oh! Seokie, mianhe, sepertinya aku lupa memperkenalkan siapa Zelo padamu, ya? Zelo adalah adik Kris Appa yang berbeda ibu. Dia pamanku, sebenarnya."

JDERRRRRR!

What the...

Apakah Jin baru saja berkhayal mendengar suara petir?

V dan 'kejutan'nya.

Tadinya Jin berpikir dia bisa membiasakan diri akan sikap ceplas-ceplos sang mate. Tapi... setelah ini... Jin tidak tahu apakah dia bisa melewati umur 30 tahun tanpa mendapat 2 sampai 3 kali serangan jantung.

"Ish, Taehyungie..." Zelo merengut 'manja' sembari menarik diri dari V. Bibirnya yang pink membentuk pouting lucu seolah ia tengah ngambek. Jin nyaris berdecak keras melihatnya. "Sudah berapa kali kukatakan, jangan mengungkit-ngungkit mengenai 'paman'!? Aku belum tua, Taehyungie~!"

Zelo seharusnya mendapat piala OSCAR. Dia berakting 'polos' dengan sempurna di hadapan V. Atau di hadapan orang lainnya juga begitu?

"Hehehe, mianhe, mianhe. Aku tidak akan menyebut hal itu lagi."

Senyuman bahagia menghiasi wajah Zelo. Hanya mata penuh cemburu Jin yang dapat melihat bayangan licik dibaliknya. Terbukti, bocah kucing itu langsung melarikan tatapan sinis padanya.

"Kau."

Yah, 'kucing menyebalkan' itu tengah berbicara padanya, Kim Seok Jin.

"Kau harus memanggilku 'Samcheon'(re:paman), ara?! Hanya Taehyungie yang boleh memanggilku tanpa embel-embel itu!" kata Zelo penuh peringatan.

Rahang namja yang di– ah, ini namanya ancaman, 'kan?! Yah, Jin DIANCAM. Diancam oleh bocah yang bahkan belum genap 7 tahun. Tanpa sadar rahang Jin jatuh sembari membelalakkan mata tidak percaya.

"Tapi, Zelo, kau bahkan tidak mengizinkanku memanggilmu begitu! Kenapa Seokie—"

"Kkkkk... tentu saja karena kau 'spesial', Taehyungie~ Aku tidak mau nantinya orang-orang mengira mate-'mu' tidak sopan memanggilku tanpa embel-embel 'paman'. Ini namanya menjunjung tata krama, Taehyungie~"

W.O.W.

Itu adalah kata-kata ter-dewasa yang keluar mulus dari bibir seorang bocah.

'Tata krama my ass!' umpat Jin membatin. Huh! Apa tadi? SPESIAL? Enak saja! Tentu saja Zelo menganggap V spesial karena IA MENYUKAINYA! FREAKING HELL! Jin tidak akan memanggil bocah itu paman! Tidak a—

Tunggu,

Kalau begitu... Zelo tidak punya kesempatan apapun untuk mendapatkan V, 'kan?! HA! Dia pamannya!

Tapi...

Zelo adalah adik tiri dari Kris. Mereka satu ayah. Kris adalah appa tirinya V, lalu...

lalu...

AKH!

Ini mulai membingungkan!

"... Seokie, aku menemani Zelo bermain sebentar, ya."

Tampaknya Jin terlalu bersitegang dengan pikirannya sendiri, karena sekarang, ia hanya bisa menatap nanar Mate-Nya yang menjauh dengan satu tangan bergandengan dengan Zelo.

Bagai deja vu, kucing hybrid itu diam-diam mencuri pandang ke belakang tanpa sepengetahuan V. Lidahnya terjulur, membentuk wajah-wajah aneh penuh cemooh, dan kemudian tersenyum evil sebagai serangan terakhir.

Jin hanya membalasnya dengan mata menyipit. Jangan berpikir seorang Kim Seok Jin akan menyerah secepat itu. Sudah banyak yang dilaluinya untuk mendapatkan V. Dia akan memperjuangkan MATE-NYA!

'Watch me, Wu Zelo!'

Tidak ada yang menyadarinya. Kim Seok Jin yang tampan dan selalu terlihat ramah itu, sekarang tersenyum sangat licik. Aura hitam bagai menguar kuat di sekitar tubuhnya. Tidak ada yang akan tahu pasti apa yang tengah ia pikirkan.

Zelo Baby, at least from now on, you have to watch your back~

~~~~~~~\(=^3^=)(=0ɷ0=)/~~~~~~~

Omake~~

"Marky, bunga ini untuk Bamby~?"

Bocah 6 tahun, mungil, dan berkulit sedikit tanning itu, menatap malu-malu pada bocah berambut merah di depannya. Marky, begitulah ia memanggilnya.

"Ne, bunga cantik ini untuk Bamby~ Bunga cantik, hanya pantas untuk orang cantik juga. Sepertimu, Bamby~" Marky aka Mark berkata tak kalah malu-malunya. Telinga segitiganya yang berwarna keemasan tampak turun di sisi kepala. Ia malu. Oh, adakah lion hybrid berpredikat alpha yang terlihat semenggemaskan Mark?

Tidak ada.

Bamby aka BamBam mungkin akan memeluknya karena gemas. Sayang, wajahnya terlalu merah untuk sekedar menunjukkan reaksi. Bagaimana tidak? Mark Kim, teman sepermainan yang selama ini selalu ia kagumi, memberikan setangkai bunga mawar merah padanya di hari valentine?!

OMO~~~

Apakah BamBam saat ini bermimpi?!

"Ja, jadi... apakah kau mau menerima bunga dari Marky, Bamby?" tanya Mark mengulang. Ia jadi semakin gugup karena si imut nan mungil di depannya hanya menunduk malu dengan wajah bersemu.

"N-ne~"

Bertepatan dengan kata tersebut lolos dari bibir penuh BamBam, bahkan Mark belum sempat mengisi ruang hatinya dengan kegembiraan, sebuah tangan panjang berkulit luar biasa putih, tiba-tiba memerangkap tubuh kecil BamBam.

"Yah! Menjauh darinya, Bocah! BAMBY MILIKKU! MILIK WU ZELO!" bentak Zelo kasar. Telinga animal yang berwarna orange mencuat tegak di antara surai pirang ikal miliknya; pertanda bahwa ia marah.

Tidak jauh beda dengan Zelo, telinga keemasan milik Mark juga berdiri tegak. Dia bahkan mendesiskan geraman. "Yah! Uncle! Dasar pedophil! Sudah berapa kali kubilang, BAMBY BUKAN MILIKMU! DIA MILIKKU!"

"MWO?! BAMBY MILIKKU, BABBO! Bahkan, sebelum kau lahir dan memakai popok, dia sudah menjadi milikku!"

Mark tersulut emosi. Dia tidak akan kalah dari bocah 14 tahun seperti Zelo, yang sayangnya, harus ia panggil 'paman'. Siapa bilang bocah berumur 6 tahun tidak bisa melawan bocah 14 tahun. Persetan dengan hukum alam; dimana yang kuat lah yang menang!

"MILIKKU!" teriak Mark lantang.

"MILIKKU!" Zelo juga ikut berteriak tidak kalah lantang.

Keduanya terus-menerus saling melempar teriakan. BamBam yang entah sejak kapan telah lepas dari rangkulan besi Zelo, saat ini menatap keduanya secara bergantian. Namja mungil berambut brunet tersebut tak ubahnya tengah menyaksikan pertandingan tenis.

Tidak terlalu jauh dari keriuhan di dekat wahana kolam pasir, tepatnya di bawah naungan pohon rimbun, Young Jae, Baek Hyun, Jin, dan V saling bertatapan.

"Umma, tidakkah seharusnya kita menghentikan mereka? Bagaimana kalau nanti Zelo berteriak lagi karena lehernya dicekik Marky dari belakang?" tanya V horor. Percaya tidak percaya, itulah yang terjadi terakhir kali saat mereka membiarkan Zelo dan Mark ribut-memperebutkan-BamBam.

Menghela nafas lelah, Baek Hyun hanya menyapukan kedua telapak tangan ke wajahnya sembari menggeleng. "Huft... biarkan saja. Aku sudah lelah menghentikan pertengkaran mereka!" keluhnya pasrah.

"Kkkk~ aku hanya penasaran, kenapa Zelo tiba-tiba memproklamasikan diri sebagai calon-mate-Bamie? Padahal saat itu Bamie masih belum lahir!" Seperti biasa, bukannya cemas melihat aegi-nya diperebutkaan dua namja di usia dini, Young Jae malah terkikik geli. Dia bahkan sekali-kali bertepuk tangan riang saat dilihatnya adegan di kolam pasir sana semakin memanas.

"Ne, aku juga penasaran, Youngie. Kupikir dulunya Zelo menyukai Taehyungie karena selalu menempel dengannya. Tapi sekarang... kenapa, ya...?" aku Baek Hyun menyuarakan kebingungan yang sama.

V juga ikut-ikutan bingung memikirkan kata-kata sang umma.

Dan Jin...

Dalam diam ia tersenyum.

TERSENYUM?!

Wae?

Well... jangan salahkan Jin bila akhirnya ia mengambil satu-satunya jalan yang begitu mudah dan licik. Caranya menjauhkan Zelo dari V adalah... dengan mengumpaninya 'cinta' yang baru.

Awalnya Jin menawarkan Mark pada bocah kucing itu. Namun Jin langsung menyesalinya ketika bocah kucing menyebalkan tersebut, membentak dan mengomelinya dengan kata-kata informal.

"YAH! Micheoseo?! Mark akan menjadi keponakan yang berhubungan darah denganku! Dia anak Kris Hyung! Kau babbo, ya!?"

Itulah yang Zelo ucapkan waktu itu.

Dan nama 'Mark' pun dicoret dari daftar. Terlebih pada akhirnya, begitu Mark lahir, ia diketahui berprediket alpha dan jauh lebih mirip Kris dibanding Baek Hyun. Sebagai catatan, setelah 'berunding' secara rahasia dengan Zelo, bocah itu hanya mau dengan seseorang yang mirip mate-Nya, V. Membuat Jin jadi uring-uringan saja mendengarnya.

Mirip V?

Siapa?

Baek Hyun?

Coret.

Dae Hyun?

Coret lagi.

Di tengah kebingungannya, saat itu pula Young Jae yang tengah hamil datang berkunjung ke rumah mertuanya. Katakanlah Jin diberi mukjizat hari itu. Anak mertuanya—Dae Hyun—ada di dalam perut Young Jae. Tidak menutup kemungkinan, 'kan, kalau bayi yang Young Jae kandung nantinya akan mirip dengan Dae Hyun?!

Jadi pilihan akhirnya jatuh pada 'BamBam'; BamBam yang imut. BamBam yang innocent. BamBam yang mewarisi kulit tanning dan bibir penuh seksi seperti Dae Hyun. BamBam yang... malang, karena harus menjadi korban, umpan, dari ide licik mate hyung-nya, Kim Seok Jin.

'Maafkan Hyung, Bamie.'

Jin menyesal?

Err... tidak. Dia hanya membantu seseorang untuk move on dari cintanya yang lama dan tidak mungkin berbalas. Itu bukan kejahatan, 'kan!? BamBam juga tidak harus memilih Zelo. Bila Mark benar-benar menyukai BamBam, dia pasti akan mencari jalan untuk menyingkirkan Zelo pula nantinya.

Semoga.

"... Seokie, kau tidak mendengarku?"

Namja tampan itu bahkan nyaris memekik kaget hanya karena bisikan pelan di telinga dari V. "E-eh, ne, Yeobo?" tanyanya linglung. Membuat si lion hybrid memutar bola mata sembari menggeleng.

"Ish, kau ini. Tadi aku berkata, jagoan kecilmu sudah datang. Disana, bersama Kris Appa."

Jin belum sempat bereaksi ketika sebuah lengkingan tinggi menghampiri pendengarannya, diikuti oleh tubrukan pelan dari tubuh kecil yang langsung memeluk pinggulnya erat.

"APPA!" teriak si pemeluk melengking.

"Hahahaha, Jintae-ah~ kau mengagetkan appa, Jagoan~" Jin berkata sembari mengusap surai pirang kecokelatan dengan dua telinga segitiga keemasan mencuat diantaranya. Kim Jin Tae, bocah imut yang jauh lebih mirip Jin dan mewarisi beberapa bagian dari V.

"Appa! Appa tahu? Tadi Kris Grandpa mengajakku bermain komedi putar! Gyaaaa~!"

Tersenyum, Jin berjongkok untuk menyamakan posisinya dengan sang aegya. "Oh, geure?! Itu bagus! Nanti kita naik bersama, ne!?"

Jin Tae hanya mengangguk penuh semangat. Mata cokelatnya yang besar kemudian beralih mendongak menatap sang umma, "Umma, gendong~" rengeknya manja. Jin Tae terlahir dengan penuh aegyo. Sayangnya, dia mengetahui betul hal ini. Oleh karena itulah, ketika ingin meminta apapun, Jin Tae akan langsung memasang puppy eyes terbaiknya.

Seperti yang terjadi saat ini, tidak berdaya, V membungkuk untuk menggendong bocah imut tersebut di pinggul kanannya. "Jintae-ah~ kau ini sudah besar. Dan berapa kali sudah umma bilang, jangan menggunakan wajah 'itu'!" keluh V.

Terdengar kikikan kecil dari bibir mungil dalam gendongan si lion hybrid, "tapi, Umma~ Chanie Grandma sendiri yang mengajari dan menyuruhku untuk melakukannya! Katanya, aku lucu sekali kalau melakukan hal itu~"

Benar.

Him Chan adalah pelaku yang mengajari cucunya 'senjata ampuh' ini.

"Huft... umma penasaran kenapa kau begitu evil dan licik seperti ini!?"

Untuk celetukan yang satu ini, ada satu pelaku nyata yang hanya tengah berjongkok namun menggigit ujung lidahnya secara sembunyi-sembunyi.

Jin.

Namja tampan itu menahan senyum saat ini.

Tentu saja Jin Tae mewarisi sifat appa-nya, Taehyungie yang lucu...!

Tapi... licik tidak ada salahnya, 'kan?! Lagipula ini disebut gigih. Kegigihanlah yang membuat Jin sukses dan mendapatkan V sebagai mate-nya. Apapun itu, Jin tidak pernah menyesal menjadi orang licik, oke?!

Love is a journey,

The battlefield that you have to fight for win.

END

NB: HIDUP J.V! HOPEKOOK! BANGHIM! MINSU! DAEJAE! KRISBAEK! LEON! J.V 4-EVER!\(=^0^=)/ See you in another story, Raeders-nim~~~ Pay~ Pay~ LUV YOU SO MANY MUCH! m(_ _)m deep bow again. THANK YOU\(^0^)/