Judul : Fairly

Chapter : 4

Author : swaggerbubble

Rated : T

Cast : Sehun , Shi Xun , Jongin , Kai , Joonmyun , Kris .

Happy Reading

Good Luck

Usaha menyedihkan dari merajuk tak ingin keluar kamar selalu terusik oleh satu hal dasar: kelaparan. Shi Xun cemberut sendiri. Ia memang mempunya lemari es mini dikamarnya , namun perutnya yang tak diisi dari kemarin malam meronta-ronta , tak cukup dengan sereal instan yang hanya satu bungkus. Ketika jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam , Shi Xun menyerah. Lagi pula , ia ingin mendengar penjelasan papanya mengenai semua yang telah papa sembunyikan seumur hidup.

Dengan langkah gontai , Shi Xun turun. Ia menemukan papa dan Jonmyun imo duduk berhadapan di ruang tamu berteman sepoci kopi yang hamper kosong ada di depan mereka. Keduanya masih mengenakan pakaian yang sama dengan tadi pagi , hanya saja kali ini wajah mereka berdua lebih kusut dan tampak lebih tua daripada beberapa hai yang lalu. Keduanya mendongak ketika mendengar langkah Shi Xun , tampak sama-sama kelihatan lega.

"Shi Xun…"

"Shi Xun ingin mendengar semuanya," kata Shi Xun pelan.

"Untuk itu , duduklah dulu." Ujar papanya pelan. Setelah Shi Xun mengambil posisi di depan orangtuanya , papa mulai bicara lagi. "Kita mulai dari awal."

Papa mulai bercerita. Mulai dari pertemuannya dengan Joonmyun , pernikahan yang tak disetujui sampai perpisahan keduanya. Kadang papa tersenyum sendiri ketika bercerita pada bagian yang menggelikan. Tapi kadang sorot mata papa menampilkan kepahitan ketika pada bagian yang tak pernah ingin dikenang.

Saat papa bercerita , seluruh ruangan terasa hilang. Seolah papa masuk kedalam memori-memorinya , dan menyesatkan pendengarnya juga. Shi Xun tak menyangka , hubungan kedua orangtuanya begitu rumit dan tragis. Dari sudut mata Shi Xun mulai melihat mama meneteskan air mata , tak urung , ia terpancing dan air matanya tumpah juga.

Tapi tak bisa dimungkiri , Shi Xun kontan menganga lebar ketika papa bilang , "Kau memiliki saudara. Kembaran mu." Ia mendengar tentang putra Joonmyun imo sebelumnya. Namun ia mengira lelaki itu mungkin adiknya… atau kakaknya. Sekarang , kenyataan berkata lain. Saudara kembar? Ini sedikit terlalu berlebihan untuk Shi Xun terima.

Shi Xun menatap papanya tak percaya.

"Dulu saat kami memiliki anak kembar. Kami membuat keputusan , kalau kami harus memiliki kalian satu-satu." Papa menjelaskan.

Shi Xun masih tak percaya , ia sama sekali tak punya bayangan kalau di luar sana , ada orang yang punya wajah serupa dirinya.

"Dia… dimana?" Tanya Shi Xun ragu.

"Di Seoul." Mama yang menjawab pertanyaan Shi Xun. "Apa kau ingin melihat foto adikmu?"

Ragu-ragu Shi Xun mengangguk. Sosok seperti apakah yang akan terpatri dalam foto yang akan di perlihatkan kepadanya?

Mama Myunie mengeluarkan secarik foto dari tasnya dan menunjukkannya pada Shi Xun yang langsung terkejut ketika melihat foto itu. Foto dirinya. Tapi bukan dirinya. Semua kemiripan fisik yang sempurna. Kecuali warna rambut saudara kembarnya yang berwarna coklat.

"Siapa namanya?" Tanya Shi Xun.

"Wu Sehun." Papa memberitahu. "Tidak beda jauh dengan mu, sayang. Wu Shi Xun."

Shi Xun semakin syok mendengar pengakuan papanya. Ia tak menyangka , kata "Shi Xun" yang berarti memberi jasa atau pelayanan pada dunia , tidak hanya semata –mata untuk makna nama yang indah. Tetapi memiliki arti yang sama dengan nama "Sehun" yang berarti pejuang. Ternyata , tidak benar-benar berlaku ungkapan "apalah arti sebuah nama" yang diungkapkan penulis novel tragis Romeo & Juliet , William Shakespare dalam nama Shi Xun. Karena namanya begitu berarti. Namanya menunjukkan takdirnya.

"Apa dia mengenal papa?" Tanya Shi Xun pelan.

Papa Kriseu menggeleng , matanya mengelam. "sama seperti kau tak mengenal mamamu , Sehun juga tak mengenal papa."

Sejujurnya , di dalam lubuk hati terdalam , mengetahui dirinya memiliki saudara lain yang berasal dari buah cinta mama dan papanya , apalagi saudara kembar pula , membuat Shi Xun merasa takut. Ia merasa was-was , jika nanti papa bertemu Sehun , maka kasih sayang pada Shi Xun akan berkurang. Selama ini papa melakukan apapun demi kebahagiaan Shi Xun. Tapi ternyata papa punya satu lagi anak , maka `apa-pun` yang selalu papa berikan itu pasti akan selalu terbagi.

"Jadi keputusan terakhir nya apa?" Tanya Shi Xun. Ia tahu , dengan munculnya mama , berkumpulnya mereka bertiga saat ini , adalah untuk membahas satu keputusan bulat yang tinggal ia dengarkan.

"Mama dan papa ingin rujuk kembali. Bagaimana menurutmu , sayang?" Tanya papa.

Shi Xun langsung mengangguk setuju. Bagaimanapun , yang duduk di depannya ini adalah orangtua kandungnya. Bagimana bisa ia tak senang dengan hal itu?

"lalu…sehun bagaimana? Apa dia sudah mengetahuinya pa? ma? "

Mama terlihat terharu saat akhirnya , untuk pertama kali Shi Xun memangilnya `mama`.

"Kita bicarakan dengan Sehun di Seoul."

"Maksud papa , papa akan ke Seoul?"

"Ya ,dank au juga harus ikut."

"Jadi Shi Xun harus libur sekolah lagi?" Shi Xun agak panik. Sekarang ia sudah tingkat akhir , sekitar empat bulan lagi ia harus mengikuti ujian kelulusan. Kalau ia terus-terusantiak masuk , bisa-bisa ia kehilangan banyak materi yang tentunya sangat penting sekali.

Tapi papa menggeleng , membuat Shi Xun bingung. Kalau tidak libur , bagaimana ia bisa ke Seoul? Tapi sebelum Shi Xun menyuarakan pertanyaannya , papa sudah memberitahu terlebih dahulu.

"Kita akan pindah ke Seoul juga , sayang. Papa sudah mengurus surat-surat kepindahan kamu tadi pagi."

"Apa?!" mata Shi Xun membelalak lebar. Ia benar-benar kaget , papa mengambil keputusan sepenting ini secara sepihak!?

"Kenapa pa? Apa kita tidak bisa tinggal di Wonju saja? Kenapa harus ke Seoul? Shi Xun tidak mau , pa! Shi Xun tidak setuju! Dari kecil Shi Xun tinggal di Wonju! Semua kenangan Shi Xun ada di sini , pokoknya , Shi Xun tak akan setuju ikut papa!" Shi Xun langsung histeris , karena terlalu kecewanya ia sampai menangis.

"Dengar penjelasan papa dulu. Kamu jangan bersikap seperti an.."

"Anak kecil?!" potong Shi Xun kasar. "Papa selalu bilang begitu. Selalu bilang aku anak kecil kalau tak mau menuruti perintah papa. Biasanya aku terima , Pa. Tapi sekarang aku tidak akan diam saja! Aku benar-benar tidak mau pergi dari kota ini!" kata Shi Xun dengan nada final. Ia berdiri , memutuskan untuk mengurung dirinya di kamar lagi setelah sebelumnya meraih sepiring bolu keju di meja makan.

Di dalam kamar , Shi Xun benar-benar berpikir. Apa yang bisa ia lakukan sekarang? Papa sudah mengurus kepindahan sekolahnya secara sepihak. Itu berarti , Shi Xun sudah tidak punya sekolah lagi. Dan ia juga tidak mungkin terus berdiam diri di kamarnya.

Di kota ini , serpihan kenangan manis masa lalunya tersimpan. Di kota ini , tempat ia dibesarkan , tumbuh dan bermain bersama teman-teman kecilnya. Juga mengenal cinta pertamanya , Kai. Jujur , dulu ia mau menjadi kekasih Kai murni karena cinta. Karena baru Kai , satu-satunya lelaki yang dapat menjerat hatinya dengan pesona berbeda pada perkenalan awal mereka di tingkat kedua.

Setelah Kai mengajukan perkenalan singkat , Shi Xun dapat melihat jika Kai adalah lelaki yang "sangat mempesona". Lelaki satu ini , yang terkenal badung karena menjadi salah satu anggota klub balap liar yang sering berurusan dengan polisi , terkenal emosional Karena sering terlibat perkelahian serius dengan siswa sekolah lain , ternyata punya sikap yang begitu tenang , perhatian dan manis , jika seseorang telah mengenalnya. Sikap itulah yang membuat Shi Xun merasa menjadi lelaki paling special. Lelaki yang diperlakukan dengan begitu baik , oleh seseorang yang banyak memiliki catatan hitam.

Tapi tak tahu kenapa , di bulan kedua mereka menjadi sepasang kekasih , Kai berubah possessive. Ia membatasi seluruh aktifitas Shi Xun , meminimalisasi sedikit mungkin intensitas Shi Xun bertemu lelaki lain. Lama-lama sikap itu membuat Shi Xun muak , apalagi ketika Shi Xun Tanya alasan mengapa Kai begitu berbeda , lelaki itu hanya diam.

Lambat laun , semua perubahan Kai mematikan semua rasa cinta dalam hati Shi Xun. Bahkan perubahan itu menimbulkan benih-benih kebencian yang semakin lama semakin besar.

Satu sisis , kenangan indah , membuat lelaki itu tetap ingin tinggal di sini. Tapi di sisi lain , keberadaan Kai membuat hatinya menjerit , memerintahkan Shi Xun untuk pergi. Dengan begitu , ia akan bebas dari Kai dan sangat mustahil jika lelaki itu akan mengejarnya sampai luar kota.

Shi Xun mendesah pelan. Masalah ini benar-benar dilemma , yang membuat pikirannya lelah.

Pukul 06.15

Krriingg…kriing..kring…

"Bibi!" teriak Sehun kesal karena tidak lekas terbangun saat jam bekernya berbunyi. Apa lagi , ia tidak di bangunkan oleh Bibi Anh. Tak lama bibi Anh yang di panggil datang dengan wajah yang mengisyaratkan kalau dia juga baru bangun tidur.

"Maaf , saya kesiangan membangunkan anda." Pinta bibi Anh dengan penuh penyesalan.

"Ish , aku sudah bangun sendiri! Ini susahnya tak ada mama. Semua jadi kesiangan. Coba bibi bayangkan apa yang bisa di lakukan Lelaki tampan seperti ku dalam LIMA BELAS MENIT? Untuk mandi saja tak cukup."

"Maafkan saya."

"Ya sudah kalau begitu . Bibi siapkan sarapan saja." Perintah Sehun garang. Bibi Anh mengangguk sebelum pergi meninggalkan kamar Sehun.

Sepuluh menit berlalu , Sehun suda cukup rapi dengan seragam dan tas punggungnya. Sehun melirik jam dinding , setengah tujuh kurang sedikit. Benar-benar tak ada waktu , apalagi Sehun harus naik bus umum.

"Apa tidak sarapan dulu?" Tanya bibi Anh ketika melihat Sehun elewati meja makan tanpa sedikit pun membuka tudung saji.

"Tidak , sudah terlambat. Hari ini ada upacara." Sehun masih mengomel. Dari kalimat yang diucapkan barusan , seolah mengisyaratkan bahwa semua yang terjadi karena kesalahan bibi Anh , pembantu rumah tangga berumur empat puluh tahunan itu hanya bisa menunduk bersalah.

Menapaki lapangan upacara , Sehun langsung saja dihujani tatapan garang para guru yang seolah bertanya dengan suara dikeraskan , "KENAPA KAMU TERLAMBAT , SEHUN?!"

Dalam hati Sehun langsung merutuk , bus yang ia naiki tadi sangat lamban dalam berjalan. Sehun berpura-pura tak mengerti arti tatapan para guru dan memasang wajah seolah tak bersalah.

Tetapi terlambat saat upacara memang tak menyenangkan karena mau tak mau harus bediri di barisan paling belakang , tak trelindungi bayangan gedung sekolah yang menghalangi sinar matahari. Biarpun begitu , kali ini Sehun nyaris tak merasakan panas yang nyaris membakar kulit ketika sadar kalau ia berdiri tepat di sebelah Jongin.

Sehun melirik Jongin di sampinnya , terlihat sangat khidmat member hormat pada bendera yang sedang di tarik ke puncak tiang , dan ia merasakan jantungnya berdbar kencang. Suara Luhan yang membahana di seluruh lapangan sebagai protocol tak dihiraukan Sehun , padahal biasanya mendengar suara Luhan dapat membuatnya mual.

Sehun berharap waktu berhenti saat ini , ketika ia bisa merasakan berada sangat dekat dengan Jongin danmenikmati debaran bahgia ini.

Tapi ternyata , takdir berkata lain. Sekali ini , harapan Sehun tetap menjadi harapan semata. Matahari yang mulai semakin terik , di tambah perut kosong karna tidak sempat sarapan apa pun untuk mengganjal perut , membuat kepala Sehun langsung merasa pusing tujuh keliling.

Sehun seperti melihat pelangi , kemudian pelan-pelan pelangi itu berubah menjadi bintik-bintik hitam yang semakin lama semakin besar , seiring kakinya melemah sampai akhirnya ia merasa kebas.

Saat Sehun dalam keadaan antara sadar dan tidak sadar , sosok yang terlihat mendekat untuk membantunya tetap tegak bukanlah JongIn atau lelaki tampan lainnya. Tetap justru ….. Chen!

Tidak! Sehun sempat berdoa semoga tidak jadi pingsan.

Tetapi saat berhasil membuka matanya yang terasa berat , Sehun mendapati dirinya berada di UKS.

"Sudah sadar ,Hun?" terdengar suara rendah Miss Tiffany , penjaga UKS yang sudah sangat ia kenal.

"Trimakasih miss." Ucap Sehun pelan setelah menerima the hangat dari Miss Tiffany dan menyesapnya pelan-pelan.

"Sama-sama , tadi pagi tidak sarapan?" Sehun mengangguk menjawab pertanyaan miss Tiffany.

"Pantas"

Sehun menatap miss Tiffany , dan dengan ragu mengajukan pertanyaan yang mengganjal di hatinya. "Siapa yang mengantar saya kemari miss?" gawat kalau yang membopongnya benar-benar Chen. Sehun bisa jadi bulan-bulanan di kelas!

"Siapa ya , tadi orangnya? Hmmm.." Miss Tiffany mengernyit , mencoba mengingat-ingat lelaki yang menurutnya benar-benar macho karena menggendong Sehun ke UKS tanpa bantuan.

"Kim Jongin sepertinya."

"Jongin?!" Sehun membelalak , perasaannya campur aduk karena bahagia yang melingkupinya.

"Ya , memang kenapa?kamu suka dengan Jongin ya? Wajar saja dia memang tampan." Komentar miss Tiffany tersenyum melihatnya.

"Oh ya , sekarang jam berapa miss?"

"Setengah Sembilan , sudah masuk di pelajaran ketiga ,lebih baik masuk nanti saja. Saat masuk jam pelajaran ke empat." Saran miss Tiffany.

Sehun mengangguk setuju. Lagi pula , jam pertama dan ke dua matematika , bisa-bisa ia pingsan untuk kedua kalinya melihat angka-angka dan huruf-huruf yang membentuk kesatuan rumit sin-kosinus-tangen atau sering kita sebut trigonometri di papan tulis.

"kalau begitu ,saya akan ke koperasi dulu." Miss Tiffany pergi dan sekarang Sehun di UKS sendirian.

Sehun meraih tasnya di meja kecil sebelah ranjang , lalu mecari-cari sebungkus cokelat yang di bawanya dari rumah. Awalnya , Sehun ingin memakan cokelatnyadi jalan untuk mengganjal perut. Namun , Sehun bersyukur tadi tak jadi memakannya. Cokelat ini bisa menjadi alasan untuk mengucapkan terimakasih kepada Jongin karena telah membantunya.

Tak lama kemudian bel berbunyi , tanda masuk jam ketiga. Sehun segera beranjak dari UKS dan segera menuju kelas. Tak disangka , saat di koridor , ia berpapasan dengan Jongin.

Buru-buru , Sehun berusaha menghentikan langkah Jongin.

"Tunggu! Tunggu!" Sehun berseru.

Jongin tetap berjalan , membuat Sehun berdecak kesal. Tidak ada orang lain di koridor saat ini , tapi kenapa Jongin tidak berhenti? Apa Jongin kira ia berbicara pada hantu?!

"Tunggu! Jongin!" Sehun berseru sekali lagi dan kali ini berhasil. Langkah Jongin langsung berhenti sembari menoleh kea rah lelaki yang tinggi badannya tak lebih tinggi dari telinganya itu.

"Apa?"

Sehun maju beberapa langkah , mempersempit jaraknya dengan Jongin. Jantungnya berdetak tak karuan saat ini.

"Ini.." ujar Sehun sambil menyodorkan cokelat.

Jongin mengernyit kebingungan. "Untuk apa?" suaranya tajam dan berat , membuat Sehun tersipu-sipu.

Jongin pun mendesah , lalu meraih pergelangan tangan Sehun untuk menyadarkannya dari tatapan terkesima yang berlebihan.

"Aish!" Sehun terlonjak kaget ,buru-buru menarik tangan yang seolah teraliri listrik tegangan tingg.

"Ada apa denganmu? Apa ada roh yang memasuki mu?"

"Tidak. Baru saja aku ingat kalau aku belum mengerjakan pekerjaan rumah ." jawab Sehun berlagak bodoh. Ini susah nya kalau gugup , jawab pertanyaan apa saja pasti ngelantur!

"Belum engerjakan tugas rumah?" Jongin tersenyum kecil. "Kau masih beruntung. Karena setelah ini guru-guru aka nada rapat."

"Ha..ha…ha." Sehun tertawa garing.

"Kalau tak ada yang bisa ku bantu ,aku akan ke kelas."

"Tunggu! Ini ada cokelat, untuk mu." Sehun menyodorkan cokelat yang dari tadi belum di terima lelaki itu.

"Untuk apa? Kalau tidak ada alasan jelas , aku tak mau menerimanya."

"Untuk ucapan terimakasih ku , karena telah membawaku ke UKS tadi." Ucap Sehun sambil menunduk.

Jongin menyeringai adak sinis. "Apa kau selalu memberikan cokelat , untuk orang yang telah menolongmu?" cibirnya.

"Tidak. Hanya saja kebetulan aku membawa cokelat. Kalau tak mau , ya sudah. Aku lebih senang , karena itu artinya aku bisa memakannya sendiri." Sehun agak tersinggung mendengar kata-kata Jongin.

Ia hendak memasukkan kembali cokelat itu ke dalam tasnya , tapi Jongin buru-buru menahan tangan Sehun. "Kalau sudah diberikan , kenapa ingin kau ambil lagi?"

"Kalau kau belum menerimanya , itu artinya masih bisa aku ambil lagi , kan?"

Jongin mengacuhkan Sehun yang kesal dan mengambil paksa cokelat dari tangan Sehun.

"Aku menerima ini ,karena memang ada alasan yang jelas," katanya "Tapi jangan salah paham. Aku tadi menolongmu , karena kita berada pada barisan yang sama. Aku yang lebih dekat dan lebih mungkin untuk menolongmu dengan cepat. Jadi jangan salah paham."

Sehun tercengang mendengar kata-kata Jongin. Apa sikapnya sekarang ini berlebihan? Atau ia terlihat salah paham? Sehun hendak buka mulut menyanggah hal itu , tapi Jongin sudah berjalan menjauh.

Shi Xun tidak bersekolah hari ini. Toh , papanya sudah mengurusi semua keperluan pindah sekolahnya sehingga sekarang ini Shi Xun hanya bisa berbaring nyalang di tempat tidur , merasa seperti anak putus sekolah yang terzalimi.

Selain itu , apa yang terjadi pada minggu ini benar-benar berat. Beragam pertanyaan terlintas di kepalanya selama Shi Xun melamun. Kenyataannya ia punya saudara kembar yang mau tidak mauharus ia hadapi juga tak membuat segalanya menjadi mudah.

Tok..tok..tok..

Shi Xun mendengar pintu kamarnya di ketuk pelan.

"Siapa?"

"Ini papa , sayang." Shi Xun bangkit dari tempat tidur dan membukakan pintu. Sudah waktunya menghadapi kenyataan , kata Shi Xun dalam hati.

"Baru saja Kai telpon , katanya kamu tak mengangkat telpon darinya. Kai Tanya kenapa kau tak masuk sekolah , papa hanya mengatakan kalau kamu sedang tidak enak badan." Jelas papa.

Shi Xun menghela napas kesal , ketika nama Kai sudah disebut-sebut pagi-pagi seperti ini.

"Sedang ada masalah?" Tanya papa begitu melihat raut wajah tak suka Shi Xun setelah mendengarnya berbicara. Lelaki itu hanya mengangguk pelan.

"Dia baik." Komentar papa.

"Baik? Papa saja yang tak tahu bagaimana dia!" Shi Xun langsung berkata keras. Si psikopat tu memang jago berpura-pura jadi lelaki paling baik dan bertangung jawab di dunia ini saat berhadapan dengan papanya.

"Ya sudah , lupakan saja kalau papa pernah bilang dia baik." Kata papa mengalah. "Oh ya , nanti siang , mama akan datang. Kita harus bicarakan masalah ini baik-baik. Dan …. Grandpa dan Grandma juga akan datang sore ini. Jadi kamu persiapkan diri baik-baik , sayang."

Shi Xun berdecak kesal ternyata omongan tentang Kai tadi , hanya sekedar basa-basi saja. Pikiran tentang Grandpa dan Grandma yang akan mengunjunginya juga bukan sesuatu yang membangkitkan minatnya. Walaupun , tinggal di kota yang sama , shi Xun tak betah sama sekali menghabiskan waktu bersama kakek dan neneknya. Grandpa memang sosok yang pendiam , tapi Grandma? Jangan Tanya! Tak ada satu hal pun di dunia ini yang tak ia Xun mengingat-ingat terakhir kali ia bertemu Grandma ketika natal tahun lalu , dan yang di lakukan Shi Xun hanya meminta doa kemudian bersembunyi di belakang rumah sambil bermain game di ponselnya.

"Joonmyun imo akan datang?"

"Shi Xun , jangan panggil dia imo lagi. Dia adalah mamamu."papa menegaskan.

Bagaimana mungkin papanya tidak dapat mengerti kalai ia tidak terbiasa memanggil orang yang baru dikenal engan sebutan "mama"? Shi Xun mendumel dalam hati.

"Susa pa , tidak terbiasa."

"Kamu harus membiasakannya."

"Ishh..papa!"

"Papa ingin kau bersikap lebih dewasa dengan berusaha untuk membicarakan segala sesuatu denganpikiran terburuk" papa memeringatkan. Ketika Shi Xun tak membalas apa-apa , papa menarik napas berat kemudian meninggalkan Shi Xun untuk menenangkan dirinya di kamar sendirian.

Sekitar dua jam kemudian , ketika Shi un selesai mandi dan berpakaian rapi demi tak dimarahi neneknya , terdengar suara deruman moil dari arah depan. Dari jendela kamar , Shi Xun melihat bahwa yang datang adalah Grandma bersama Grandpa dan mamanya dalam dua mobil yang berbeda. Ia memerhatikan mama yang kelihatancantik seperti kemarin-kemarin , namun kali ini tampak lebih muda dengan kemeja biru laut nya , yang terlihat segar.

Kemudian muncul Grandpa yang kelihatan tenang seperti biasa. Lalu Grandma yang entah mengapa terlhat ringkih daripada sebelumnya. Biasanya Grandma penuh semangat , dagunya selalu lebih tegak daripada siapapun dan sorot matanya selalu menyiratkan ancaman bagi siapapun yang menurutnya pembangkang. Sorot mata yang seperti hampir selalu diterima Shi Xun karena ia hamper tak pernah menuruti kata-kata Grandma setiap kali berkunjung. Namun kali ini , mata Grandma kelihatan lebih sendu daripada biasa. Bahunya sedikit merosot seperti orang yang kelelahan dan terkejut.

Setelah mencari-cari sandal rumahnya di bawah meja belajar , Shi Xun bergegas turun untukmenemui tamu-tamunya. Ketika sampai didepan pintu dan melihat mama , ia langsung ditarik oleh mama lalu dipeluk. Rasanya sangat nyaman. Seperti burung kecil yang terjebak badai lalu tiba-tiba terhempas ke sarang kosong yang hangat. Ia menenggelamkan wajahnya pada bahu mama dan merasakan mama bergetar karena emosi.

Setelah beberapa lama dalam pelukan mama , Shi Xun mengangkat kepala , menemukan neneknya menatapnya dari belakang mamanya dengan mata berkaca-kaca.

"Grandma." Sapa Shi Xun pelan.

"Apa kabar sayang?" Tanya Shi Xun pelan. Ia maju dan menghampiri Shi Xun dan memeluknya.

"Baik." Shi Xun menjawab seadanya. Ia melepaskan pelukan Grandma dan membiarkan neneknya masuk ke dalam rumah dan mengambil tempat di salah satu kursi di ruang tamu. Semua yang ada di dalam rumah itu mengikuti. Grandpa mengambil tempat di sebelah Grandma sedangkan Shi Xun duduk di antara mama dan papa yang duduk bersebrangan dengan Grandma dan Grandpa.

"Shi Xun akan mengambil beberapa kue kering di dapur."kata Shi Xun beranjak menuju dapur. Sambil mempersiapkan kue-kue kering di lemari gantung ia memasang telinga tajam-tajam , mendengarkan sebanyak mungkin yang ia bisa.

"Saya benar-benar meminta maaf Joonmyun." Shi Xun mendengar Grandma bicara. "saya tidak tahu akan jadinya seperti ini. Seandainya dulu saya tidak terlalu keras terhadap kalian berdua , mungkin…" Grandma terisak-isak ,tak sanggup menyelesaikan ucapannya sementara Grandpa bergumam pelan menenangkan Grandma.

"Dulu saya pikir , dengan kepergianmu , kehidupan Kris akan menjadi lebih baik. Tapi kenyataannya tidak?"Shi Xun meletakkan nampan di atas meja , melirik sembunyi-sembunyi ke neneknya yang bercucuran air mata.

"Saya melihat Kris bertahu-tahun ini , tampak sangat sendirian dan satu-satunya yang bisa saya salahkan adalah diri saya sendiri yang membuat Kris begitu. Lalu saya melihat Shi Xun dan semua tentang anak itu mengingatkan saya ke kamu , bahkan sama pemberontaknya seperti kamu." Kali ini senyum tipis terlukis di wajah Grandma. "Shi Xun membuat saya kesal dan menyesal pada waktu yang bersamaan. Tapi saya tahu , Shi Xun yang membuat Kris kuat. Saya berandai-andai jika suatu saat kalian memutuskan kembali bersama , apakah Kris akan sebahagia bertahun-tahun lalu ketika ia mengenalkan kamu pada saya?"

"Mom , sudahlah…" ujar Kris menenangkan.

"Iya , mom. Saya sudah memaafkan semua yang telah terjadi di masa lalu." Timpal Joonmyun pengertian.

"Saya dan Joonmyun sudah memutuskan untuk rujuk kembali , mom. Itu yang terpenting. Shi Xun sudah setuju dan Ayah-ibu juga sudah setuju. Jadi yang tinggal kita pikirkan adalah bagaimana memberitahukannya pada sehun?" ujar Kris.

"Iya , ibu dan ayah sudah sudah merestui hubungan kalian berdua , Kris." Ujar Grandma. Kris dan Joonmyun mengambil napas lega. Shi Xun diam-diam menghela napas lega , pergi juga sosok Grandma yang arogan dan galak.

"Kami akan ke Seoul besok lusa , mom. Untuk mengantarkan Joonmyun kembali pulang dan memberitahukan semua cerita ini pada Sehun. Tolong doakan kami mom."

Grandma mengangguk. "Jangan lupa kenalkan Sehun pada neneknya saat dia sudah tahu."

Kris dan Joonmyun mengangguk. Shi Xun duduk merosot di kursinya. Dua hari lagi , ujarnya menabahkan diri.

maaf kalo ngecewain

maaf kalo gk sesuai expectasi

maaf kalo chap ini jelek

maaf kalo banyak typo , garing n ngebosenin

mkasih buat yang udh reviemaaf gk bisa bales satu-satu

buat yang belum review , aku masih nunggu review nya lhooo