Naruto menenteng katana kecil miliknya tanpa merasa canggung ditempat bising tersebut.
Tepat 100 meter di belakangnya, 7 orang bodyguard berbadan besar telah tewas terpenggal kepalanya. Naruto leluasa memasuki diskotik tersebut tanpa halangan berarti.
Naruto memasuki diskotik yang ramai oleh para pengunjung, sesegera mungkin pria pirang itu mencari targetnya di salah satu ruangan di sebelah bar.
"Lepaskan!" seorang wanita muda meronta meminta dilepaskan.
Naruto melihat wanita tersebut pakaiannya tengah dilucuti hingga setengah telanjang oleh 4 laki-laki berjas hitam. Mata biru safirnya menatap pria yang duduk di kelilingi para wanita serta bodyguard berjas hitam yang melucuti pakaian wanita tersebut.
JLEEBBB
Leher salah satu bodyguard itu tertancap katana kecil milik Naruto.
Bodyguard itu kejang-kejang sekarat sambil berdiri memegangi ujung katana milik Naruto. Pria pirang itu melepaskan tusukan katananya dari leher bodyguard itu, semua kegiatan laknat para bodyguard itu terhenti seketika.
Naruto menyarungkan katana kecilnya, kemudian melepas jasnya dan menutupi tubuh gadis yang hampir di gangbang oleh 4 bodyguard.
Semua bodyguar yang tersisa mundur, mata biru safir Naruto menatap gadis dihadapannya.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Naruto pada gadis itu.
Gadis itu mengangguk-angguk pelan, mata lavender gadis itu sembab membuat Naruto trenyuh dan membantu gadis itu berdiri.
Beberapa orang berjas hitam lainnya datang dari berbagai arah.
"Siapa kau?! Beraninya kau mengganggu kesenanganku!" bentak orang berambut putih dengan bekas luka di wajahnya mulai dari dahi kanan memanjang hingga dagu kiri.
"KAZUMA, kau ku eksekusi mati" ucap Naruto datar.
Ucapan Naruto memancing emosi Kazuma, darah pria tua itu mencapai titik didihnya.
"MATI SAJA KAU!" teriak Kazuma berang.
Naruto merangkul gadis di sebelahnya untuk di lindungi.
"Kau lebih baik tutup matamu, dan berjongkoklah" pinta Naruto datar pada gadis itu.
Gadis itu menuruti perintah Naruto, sementara pria pirang itu menghunuskan pedang katana kecil miliknya dan bersiap menghadapi semua bodyguard Kazuma.
Semua bodyguard itu menyerang Naruto bersamaan dengan pisau besar, tanpa takut pria pirang itu tetap berdiri di tempatnya.
Naruto menutup matanya sesaat sebelum para penyerang tersebut mengayunkan senjata mereka ke arah dirinya.

..
5

Gerakan para penyerang itu terasa lambat sekali

4

Suara yang melingkupi kebisingan diskotik itu menjadi musik menyedihkan yang pernah Naruto dengar.

3

Keheningan tercipta sesaat sebelum penyerang itu menghampiri Naruto

2

Kesunyian menyesap dalam diri Naruto sebelum pedangnya terayun.

1

"Katakan selamat tinggal tinggal pada hidupmu"

0

JRAKK JRAKK JRAKK JRAKK
Penyerang itu hanya mematung dengan mata melotot, Naruto dengan gerak perlahan menyarungkan kembali pedang katana kecil miliknya hingga berbunyi...
CTEK
Kepala para bodyguard itu terlepas dari badannya dan ambruk seketika bersamaan darah merembes ke lantai diskotik, para wanita yang mengelilingi Kazuma berteriak ketakutan dan lari terbirit-birit.
Kazuma sendiri ketakutan, keringat dingin mengalir di punggung serta wajahnya hingga celananya pun basah karena mengompol.
Naruto perlahan mendekati Kazuma yang ketakutan dan tak bisa bergerak dari tempatnya kini duduk. Naruto menenteng katana kecilnya dan mengintimidasi suasana menjadi mencekam.
"K-Kita bisa bi..."
JRAAAKK
Naruto menusuk dahi Kazuma hingga ujung katananya menembus belakang kepala Kazuma, tak ada pembicaraan yang harus dibicarakan lagi.
Satu orang lagi sudah di eksekusi mati Naruto di tempat, dengan cepat Naruto merangkul gadis yang ditolongnya dan segera pergi dari diskotik sebelum polisi datang.
"Tetap tutup matamu dan jangan buka sebelum aku perintahkan" ucap Naruto datar.
Gadis di rangkulan Naruto mengangguk pelan tanpa ada kata sekalipun.
Naruto berjalan dengan cepat keluar dari diskotik itu tanpa ada kecurigaan, sementara gadis di sebelahnya hanya mengikuti Naruto yang merangkulnya tanpa membuka mata.

. .

. .

"Siapa yang membunuh mereka berdua?" tanya seorang pria paruh baya berambut gaya kepang.
"Kami tidak tahu tuan, kejadiannya satu jam berselang sebelum tuan Kazuma tewas" jawab bawahan orang tersebut.
"Cari orang yang membunuh mereka berdua, hidup atau mati" perintahnya pada bawahannya itu.
"BAIK!" bawahan orang tersebut menunduk hormat dan melangkah pergi melaksanakan perintah atasannya tersebut.
"Siapa yang mencoba bermain api denganku?" gumamnya dingin.

..

..

..

_THE_EXECUTIONERS_
-
Rate M (Action, Violence, Blood scene and many more
..
NARUHINA
. .
/AUTHOR: tHe LaSt MoGerZ\\

. .

. .

. .
Gadis berambut indigo itu melihat Naruto dengan takut-takut, dan khawatir dirinya akan dibunuh juga. 'Aku akan dibawa kemana?' pikir gadis itu was-was. Apalagi Mobil yang di kendarai Naruto sekarang adalah milik Kazuma, dan Gadis itu juga gelisah sedari tadi melihat luar mobil.

"Kau tak usah takut dan risau, nona. Karena aku tak akan membunuhmu, aku hanya menyelamatkanmu dari para penjahat tadi" ucap Naruto datar, pria pirang itu seolah membaca pikiran gadis di sebelahnya.
Gadis itu mengangguk ragu, Naruto mengemudikan mobilnya hingga keluar dari kota Tokyo.
"K-kita akan kemana?" tanya gadis itu takut-takut.
"..." hening adalah jawaban untuk gadis itu, Naruto tak menjawab pertanyaan gadis itu karena dirasanya tak penting.
Mobil yang dikendarai Naruto masuk ke dalam terowongan dekat sungai dan jembatan.
Merasa sudah aman dari semua mata, pria pirang itu membuka garasi yang tersembunyi dengan remote control miliknya.
Tiba-tiba tembok di depan Mobil itu menggeser sendiri ke arah kanan dan membuka jalan masuk mobil itu. Gadis itu membelalakan matanya kaget, merasa terkagum-kagum.
Naruto segera memparkirkan mobilnya di dekat pintu masuk ruangan dia bersembunyi.
Naruto mematikan mesin mobilnya dan keluar dari mobil tersebut.
"Keluarlah" perintah Naruto datar.
Gadis itu keluar dari mobil serta mengikuti Naruto menuju sebuah pintu jati berukir berwarna coklat.
KRIEEET
Pintu itu terbuka, namum gadis itu hanya berada di ambang pintu karena ruangan yang akan dimasukinya nampak gelap. Naruto lalu menghidupkan saklar lampu dan ruangan tersebut telah terang. Gadis itu tertegun sesaat pada apa yang dilihatnya kini, ruangan tersebut besar dan boleh dibilang hampir mirip aula besar di universitas.
"Masuklah" pinta Naruto datar.
Gadis itu melangkah sambil melihat-lihat sekitarnya, mata sewarna bunga lavender itu melihat kanan dan kiri ruangan itu. Ada tempat membidik sasaran, ada kayu dengan cabang-cabang yang biasa digunakan untuk berlatih bela diri, ada kolam renang yang cukup dalam serta tempat dimana senjata-senjata tajam dan senjata api di letakkan.
Namun ada yang menarik perhatian mata gadis itu, yakni photo-photo yang berjejer rapi di meja rak buku.
Photo-photo tersebut menampilkan pria pirang yang menolongnya tadi bersama wanita cantik berambut indigo berwarna pirang pucat mengenakan gaun pengantin, lalu di sebelahnya ada photo orang berambut pirang yang sama tapi berbeda 'wajah' bersama seorang wanita berambut merah yang tengah menggendong bocah pirang laki-laki dengan kumis kucing di kedua pipinya.
"Lebih baik kau istirahat nona! Aku sudah menyiapkanmu kamar, baju ganti dan air hangat untuk kau mandi." ucap Naruto dari seberang kolam renang.
"H-Ha'i, a-arigatou" balas gadis itu terbata-bata. Naruto tak menyahut ucapan gadis itu dan melangkah menuju ruangannya sendiri. Gadis itu melangkah menuju ruangan yang tadi Naruto sediakan.
'Pria itu dingin sekali sifatnya' batin gadis itu.

. .

. .

. .
Sai memotret mayat-mayat tanpa kepala itu serta memotret barang, darah dan... Isi kepala yang keluar dari salah seorang mayat pria paruh baya. Sementara Sasuke mengambil pisau-pisau kecil menggunakan kaos tangan khusus, Shikamaru menanyai pemilik diskotik serta beberapa saksi lainnya.
Kakashi mencari-cari sesuatu yang mungkin ditinggal oleh pelaku pembunuhan. Matanya menangkap benda kecil seperti bros kecil berwarna hitam berukiran bunga-bunga.
Kakashi segera mengambilnya dengan catut kecil dan dimasukan ke dalam plastik bening.
"Nampaknya ini perbuatan Naruto." gumam Sai pelan.
"Sudah pasti Sai, liat tato dari mayat pria tua itu" tunjuk Yamato pada tato lengan kiri mayat pria tersebut.
Mata Sai melihat tato ular melilit bumi, Sai memotret sekali lagi dan meletakkan kameranya di dalam tas.
"Naruto sudah mempelajari gerak-gerik, sifat dan gaya hidup musuhnya secara baik." ungkap Shikamaru pelan sambil meletakkan pena dan buku kecilnya ke dalam tas kecil di pinggangnya.
"Tapi Naruto bisa-bisa di cari oleh mereka dan masuk daftar hitam dunia mafia" ucap Sasuke menghela nafas berat.
Rasanya Sasuke harus bertindak tepat untuk menghentikan Naruto sekarang, pria pirang itu sekarang masuk dalam daftar buronan Sasuke dan kawan-kawan, bukan polisi.

. .

..

..
Naruto tidur di matras busa sambil memeluk photo istrinya, pria pirang itu nampak tenang dalam tidurnya.
TAP TAP TAP
Seseorang mendekati Naruto dengan langkah pelan dan pasti agar tak membangunkan pria pirang itu.
Tangan orang itu menjulur untuk meraih sesuatu dari Naruto.
SRAK GREB
"KYAAAA!"
Gerakan reflek cepat Naruto pada tangan orang itu membuat orang yang ingin mengambil sesuatu dari Naruto berteriak kesakitan.
"Kau mau mengambil apa dariku Nona?" tanya Naruto datar.
"Go-gomen tuan, a-aku tak bermaksud jahat. Aku hanya penasaran pada bingkai photo yang kau pegang itu?" jawab gadis itu menggeliatkan tangannya yang dipegang oleh Naruto.
Naruto melepas tangan gadis itu, dan memberikan photo itu pada gadis itu.
"Siapa wanita ini?" tanya gadis itu pada Naruto.
"Almarhumah istriku." jawab Naruto pelan, gadis itu terdiam sesaat sembari memandang wanita cantik di dalam photo itu.
"Bolehkah aku tahu siapa namanya?" tanya gadis itu pelan.
"Namikaze Shion" jawab Naruto, namun nada pria itu terdengar sendu di telinga gadis itu.
"Go-gomen"

"..." Naruto tak bergeming sama sekali.
"Kenapa kau membunuh Kazuma? Apa kau punya dendam terhadap geng ular?" tanya gadis itu lagi.
Naruto kemudian menatap gadis didepannya lekat-lekat.
"Kau tahu tentang geng ular?" kini Pria pirang itu berbalik bertanya. Gadis itu diam, entah kenapa Naruto merasa itu pertanyaan paling lancang dia lontarkan.
"Mereka membunuh Ayah dan Ibuku. Bahkan aku di paksa jadi pekerja seks sejak berumur 15 tahun oleh geng ular" lirih gadis itu. Naruto nampak geram mendengar cerita itu dan kasihan pada gadis didepannya.
"Tapi beruntung adikku bisa melarikan diri dan kini tinggal di panti asuhan Might Guy, Kowloon, Hongkong" lanjutnya sambil meneteskan air mata.
"Siapa namamu?" tanya Naruto datar.
"Hyuuga Hinata."
"Hyuuga? Apa mungkin kau Hyuuga yang klan terkenal itu?" tanya Naruto mulai penasaran.
"Maksud anda?" Hinata tak mengerti maksud Naruto.
"Klan Hyuuga masuk daftar hitam dunia mafia, dan klan-mu juga banyak memberikan jasa pada negara jepang atas perlawanan mereka melawan kelompok Yakuza di jepang dan Triad di China." jelas Naruto. Hinata mulai tak mengerti penjelasan Naruto.
"Dengar, mungkin ini terdengar tak masuk akal. Klanmu punya perusahaan sebagai kedok luar. Namun di dalamnya, mereka punya kebajikan tinggi melawan geng-geng maupun mafia." lanjut Naruto.
Hinata terdiam sesaat, namun otaknya mulai mencerna perlahan penjelasan Naruto.
"Almarhum ayahku pernah bicara dengan almarhum paman Hizashi, mereka berencana melakukan perlawanan terhadap geng ular. Bahkan mereka menyimpan data-data tentang 'petinggi' geng ular dengan sangat detail di suatu bank di Nagoya." ucap Hinata.
Naruto seolah mendapat pencerahan setelah mendapat penjelasan dari Hinata.
"Apa kau masih ingat nomor rekening dan brankas Almarhum ayahmu?" tanya Naruto.
"Aku sudah tak ingat lagi" jawab Hinata membuat Naruto berdecak kecewa.
Naruto seolah dapat pertanyaan lain di otaknya,
"Apa kau ingat nama bank-nya?" Naruto tanpa sadar memegang tangan kanan Hinata, Wanita itu wajahnya memerah karena perlakuan Naruto namun mengangguk pelan.
"B-bank Suna" ungkap Hinata.
"Baiklah, kita dapat mencari lewat pegawai bank suna besok. Sekarang istirahatlah ke ruanganmu lagi" pinta Naruto.
Hinata mengangguk menuruti perintah Naruto.

. .

. .

. .

"Kabuto, apa kau sudah menemukan bros itu punya siapa?" tanya Sasuke.
"Sedang di proses. Tunggulah sebentar lagi" sahut Kabuto mengetik sesuatu dan men-search sidik jari pemilik bros tersebut.
"INI DIA!" seru Kabuto langsung di hampiri Sasuke dan Shikamaru.
"Hyuuga Hinata?" ucap Shikamaru dan Sasuke bersamaan.
"Bukankah klan Hyuuga sudah punah 5 tahun yang lalu?" gumam Sasuke merasa sedikit janggal. Shikamaru juga memikirkan hal yang serupa dengan Sasuke.
Tiba-tiba Sai masuk bersama Kakashi ke ruangan Kabuto.
"Kawan-kawan, kalian tak kan percaya dengan rekaman yang kubawa ini" ucap Sai membawa sebuah CD
Kakashi duduk di kursi sambil menunggu reaksi para juniornya setelah melihat rekaman itu. Sai menggunakan komputer Kabuto satunya untuk melihat rekaman tersebut.
Gambar tersebut menampakkan seorang tua berambut putih dengan luka sayat di dahi kanan memanjang sampai sebelah kiri dagu membawa Wanita cantik berambut indigo sambil menggerayangi payudara wanita tersebut di koridor diskotik.
"Itu Hyuuga Hinata, kan?" Sasuke semakin penasaran.
"Tidak salah lagi, pasti gadis itu dijual oleh Kazuma untuk lelaki hidung belang" ujar Kakashi.
Shikamaru teringat sesuatu yang masih segar di ingatannya.
"Hyuuga Hiashi punya 2 anak perempuan, salah satunya adalah Hyuuga Hinata dan Hyuuga Hanabi. Tapi dimana yang Hyuuga Hanabi-nya?" pertanyaan Sasuke membuat semua terdiam.
"Baiklah kita punya tugas tambahan, cari Hyuuga Hanabi dan kita cari Hyuuga Hinata juga, kita selamatkan gadis itu dari perdagangan manusia" perintah Kakashi serius.
"HA'I!" jawab semua yang berada diruangan Kabuto bersamaan.

..

..

..

Naruto mencoba meretas data-data dari bank Suna melalui komputer perpustakaan negara di Kyoto, pria berambut pirang itu mencoba mencari nasabah bernama HIASHI HYUUGA.
Dalam waktu 1 menit, Naruto berhasil meretas data-data bank dan melihat semua data-data milik Hiashi Hyuuga. Bibirnya menyeringai setan, mata biru safirnya melihat nominal uang milik Hiashi Hyuuga yang sangat banyak. Lalu data-data tentang geng ular. Matanya menemukan satu nama familiar di data tersebut.

"Sattori?" gumam Naruto pelan.

Dengan cepat Naruto memindahkan nominal uang itu ke dalam rekeningnya tanpa ketahuan bank tersebut dan mengcopy paste data-data penting milik Hiashi Hyuuga. Naruto segera mengakhiri kegiatannya itu dan menghampiri Hinata yang membaca novel yang dia sukai.

"Kita pergi" ucap Naruto langsung menggandeng tangan Hinata.

"Eh? Aku belum selesai membaca" ucapnya pelan namun takut-takut.

Naruto menengok buku yang dibaca Hinata, Naruto lalu mengeluarkan magnet seukuran koin kecil dan menempelkan pada buku novel tersebut.

"Bawa saja" ucap Naruto langsung menggeret Hinata keluar perpustakaan, Hinata was-was kala buku itu ada di pegangannya. Takut detector pencuri berbunyi saat Hinata melewatinya, namun nyatanya Hinata tak menyangka detector itu tak berbunyi sama sekali saat dia lewat.

Hinata menatap Naruto terheran-heran dan melihat tangannya digandeng Naruto. Entah kenapa suhu badannya menaik dan menyebabkan wajahnya memerah seperti kepiting rebus.

"Kita pergi ke Hongkong sekarang, kita temui adekmu dan membawanya pergi dari Kowloon, hongkong" kata Naruto datar.

"Benarkah?" Hinata Nampak memasang wajah sumringah dan sangat bahagia.

Naruto mengangguk-angguk membuat Hinata reflek memeluk Naruto, jangan harapkan wajah datar Naruto selamanya datar. Wajah pria pirang itu memerah akibat pelukan Hinata.

..

. .

..

. .

..

. .

..

Naruto duduk tenang di dalam pesawat sementara Hinata sudah tertidur pulas dan menyandarkan kepalanya di bahu Naruto.

'Akan ku buat perhitungan denganmu, Muku' batin Naruto tanpa sadar memegang telapak tangan Hinata dengan cukup erat.

..

..

..

..

..

Sasuke melihat 6 mayat didepannya dengan tatapan datar, bahkan tak ada raut ngeri dalam wajahnya kini. Sasuke malah tersenyum pada hasil karya Naruto itu.

"Kenapa kau senyum Sasuke?" Tanya Sai tersenyum palsu pada Sasuke.

"Tak apa, hanya aku suka cara Naruto membalas perbuatan musuhnya ini" ucap Sasuke lalu meninggalkan Tempat kejadian perkara.

Mayat-mayat itu di makan banyak belatung yang entah darimana datangnya.

..

. .

..

. .

..

. .

..

. .

Hinata masuk kamar hotel mewah dan hanya mengucapkan kata wow begitu memasui kamar VVIP itu.

"Kau tunggu di kamar ini, dan ini aku belikan komik dan novel untukmu agar tak bosan" ucap Naruto memberikan banyak buku tebal dan puluhan komik di tas yang di jinjingnya. Hinata mengangguk tanpa kata, wanita itu menuruti perintah Naruto.

"Aku pergi dulu ada urusan yang harus ku tuntaskan dengan kawanku di luar" ucap Naruto, Hinata mengangguk lagi menuruti perintah Naruto.

Naruto keluar dari kamar tersebut dan mengunci pintu kamar itu.

..

. .

..

. .

..

Naruto menunggu seseorang di ngong ping village. Mata biru safirnya menemukan objek yang dia cari. Beruntung hari sudah malam, dengan gerak tanpa suara Naruto mengikuti seorang berambut hitam dengan mata mirip Sasuke tersebut.

Naruto membuntuti sampai keadaan tempat sepi. Naruto mengeluarkan pistolnya dan menodongkannya pada korban berikutnya.

"Hei!" sapa Naruto pada orang tersebut.

Orang itu membalikkan badannya dan terkejut siapa yang ada dihadapannya.

DHUP DHUP DHUP

"AAAAAAARRRRGGGHHHH!" teriak orang itu kesakitan memegangi kedua kakinya, tubuhnya tersungkur tiada berdaya.

"Lama tidak berjumpa, Kawan!" sapa Naruto pada orang itu dengan Nada dingin.

"Bu-bukankah kau sudah mati?" ucap orang itu.

"Aku hidup lagi sebagai mayat hidup yang akan menghabisimu Sattori" Ucap Naruto datar. Naruto lantas mengeluarkan karung dari dalam tas punggungnya. Memasukkan Sattori ke dalam karung tanpa belas kasihan.

"Kita jalan-jalan yuk" ajak Naruto berbicara pada Sattori yang telah masuk dalam karung serta memukulinya sesekali.

..

. .

..

. .

..

"Tolong turunkan aku" pinta Sattori memelas.

"Teriakan alamarhumah istriku saja tak kau dengarkan, apalagi aku." Ucap Naruto masih memegang kaki kiri Sattori di pinggir Victoria peak. Bukit tertinggi di hongkong.

"Dimana Tao Pai Pai berada? Atau aku lepaskan kakimu ini!"

"Baiklah-baiklah akan aku katakana orang itu dimana? Tapi tolong biarkan aku tetap hidup" ucap Sattori memelas membuat Naruto muak melihatnya.

"Dimana?" Tanya Naruto tegas.

"Lelaki tua itu berada di MANCHESTER, INGGRIS" jawab Sattori ketakutan.

"Terima kasih dan kau tau…." Ucap Naruto memberikan jeda percakapannya.

"A-apa?" Sattori merasakan firasat buruk.

"Aku tidak menepati janjiku untuk membiarkanmu…. Hidup" Naruto melepas pegangan kaki Sattori.

"TIDAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAKKKKKKKKKKKKKKK!" Sattori terjatuh ke jurang, sementara Naruto menatap datar kematian sattori yang sudah jatuh ke jurang.

"Sattori Muku, telah di eksekusi"

..

..

..

..

..

BERSAMBUNG…