Title:

I Won't Let You Go

Disclaimer:

Naruto milik Masashi Kishimoto

Fict ini milik Vee

Genre:

Romance and Family

Pair:

SasuNaru as main pair

Dan banyak sekali slight pair nantinya. Emmm mungkin sih, hehehe

Warning:

YAOI (Boys Love), OOC, Typo(s). Borring. Alur Lambat.

By : Versya (Vee)

.

.

CHAPTER 3

.

.

Semilir angin pagi membelai-belai korden sebuah kamar yang kini dihuni oleh dua orang yang sedang tertidur pulas. Sinar sang mentari nampak mengintip, mencoba menerobos sisi korden yang sedikit tersingkap dimainkan oleh angin pagi melalui celah engsel jendela.

Nampak seseorang berambut pirang panjang dengan bola mata secerah langit cerah di siang hari mengerjap-ngerjapkan kelopak matanya. Memandang malas keadaan sekitar. Ditolehkannya wajah yang memiliki goresan layaknya kumis kucing dikedua sisi pipinya ke arah samping kanan tempat tidurnya. Mencoba menghindari cahaya mentari yang menggoda nakal dirinya melalui celah engsel jendela.

"ohayou Ruko~chan.." sapa sebuah suara serak khas bangun tidur yang terbangun karena gerakan dari si pirang panjang.

"ohayou.." sapa balik sang pirang dengan suara tak kalah parau.

Sang pirang panjang kembali menutup mata untuk kemudian membuka matanya lagi dan terdiam mengamati sosok yang kini tengah berbaring menghadapnya. Mencoba menganalisis keadaannya sekarang.

"…"

Masih mengumpulkan puing-puing nyawanya yang entah tercecer kemana sang Namikaze bungsu nampak mengerjap-ngerjapkan kelopak matanya. Hingga sesaat kemudian bola mata seterang langit di siang hari tersebut membola.

"Ni-Niichan! Apa yang nii~chan lakukan disini!" teriak Naruko –sang rambut pirang panjang- histeris seraya terduduk dari baringannya yang nyaman.

"lebih baik kecilkan suara mu Na. Mi. Ka. Ze.. Na. Ru. Ko!" jawab sang lawan bicara dengan nada malasnya yang penuh penekanan saat mengucapkan nama sang peneriak.

"nii~chan.." lirih Naruko dan memandang Naruto –sang Nii-chan- sendu.

Pasalnya, ini kali pertama Naruto berbicara dengan nada malas dan raut wajah tidak mengenakkan seperti ini.

Naruto hanya menghela nafas mendapati sang adik terdiam. Dengan malas, Naruto beranjak duduk. Mengikuti jejak sang adik.

"Nii-chan…" panggil Naruko lagi, masih dengan raut sedih.

Naruto tidak lantas menjawab dan hanya melirik Naruko sekilas. Membuat Naruko semakin menundukkan wajahnya. Tak berani memandang saudara kembarnya.

"Namikaze Naruko.." panggil Naruto dengan suara rendah.

"ha-ha'i Nii-chan" cicit Naruko merasa tak tenang.

Ini adalah pengalaman pertamanya sang kakak kembar memanggil dengan suara serendah itu dan juga ekspresi datar yang benar-benar baru kali ini dilihat oleh Naruko secara langsung. Naruko tau, ini adalah ekspresi marah sang kakak. Sama seperti ekspresi yang ditunjukkan sang kakak untuk seseorang yang pernah menjadi bagian pentingnya dulu.

"kau bisa menjelaskannya sekarang, sebelum aku membuat kesimpulan-kesimpulan bodoh" ucap Naruto tenang dan memandang Naruko yang menatapnya takut-takut.

"Nii-chan…" lirih Naruko. Dalam hati, sang gadis pirang terus menenangkan dirinya yang serasa sedang menjalani persidangan penentuan hidup dan mati.

Akh benar!

Dia kini juga sedang disidang oleh sang kakak. Sang kakak yang entah mengapa menjadi sosok yang sangat menakutkan. Menjadi hakim dengan penuh wibawa dan aura mencekam.

"kau tidak mau?" tuntut Naruto yang tak mendengar sepatah katapun penjelasan dari Naruko.

Naruko menahan nafas sebentar. Untuk kemudian ia hempaskan dengan kasar. Dia benar-benar gugup saat ini.

"Nii-chan.. Ruko akan menjelaskan semuanya pada Nii-chan.. tapi tolong.. tolong.. Nii-chan jangan menampakkan wajah penuh amarah seperti itu.. Nii-chan menakutiku.."

Naruto terdiam mendengar penuturan sang adik kembar. Ingin ia hiraukan, namun melihat wajah penuh ketakutan sang adik membuatnya menghela nafas pelan.

Digapainya bahu sang adik yang terasa tegang untuk kemudian ia rengkuh dalam pelukannya.

"aniki hanya terlalu mengkhawatirkan mu Ruko-chan~~" ucap Naruto pelan dan mengecup kepala sang adik kembar. Jemari-jemarinya bergerak mengelus surai pirang panjang sang adik.

Tanpa sadar pipi Naruko terlihat basah. Ia tak sanggup menekan rasa bersalahnya.

"Nii-chan.. Gomen.. Gomennasai.. Gomen.. Nii-chan.. Maafkan Ruko~~ maafkan Ruko.." gumam Naruko terus menerus seraya mengetatkan pelukannya pada dada Naruto.

"apa ini ada sangkut pautnya dengan 'dia'?" tanya Naruto pelan.

Naruko hanya mengangguk kecil dalam pelukan Naruto. Membuat sang kakak menghela nafas yang entah untuk keberapa kali. Ia sudah menduga jika ini ada sangkut pautnya dengan 'dia'.

Ia merasa gagal sebagai seorang kakak dan juga pelindung. Ia juga merasa gagal menjaga janjinya pada sang Tou-san untuk selalu menjaga orang-orang yang ia sayang.

"apa begitu sakit hingga kau menghindari Nii-chan?" tanya Naruto lagi pelan.

"Gomen Nii-chan.. Gomen.. Ruko sudah egois, tapi sungguh.. melihat Nii-chan.. hanya akan mengingatkanku pada'nya'.. aku merasa buruk karena itu.. aku.. Nii-chan.."

"sshhh~~ Nii-chan mengerti.. tenangkan dirimu.. hmm"

.

.

"kau sudah merasa lebih baik Ruko-chan?" tanya Naruto yang sedang mengusap-usap rambut basahnya. Bulir-bulir air masih menetes disekitar lehernya.

"hmm.. yeah.. Ruko sudah lebih baik Nii-chan.." jawab Naruko yang masih diatas ranjang. Wajahnya tampak sembab.

"kau mau mandi? Nii-chan rasa, itu bisa menyegarkan wajah kusut mu ttebayo"

Naruko menggeleng pelan. "ada yang lebih penting dari itu Nii-chan.."

Naruto mengernyitkan keningnya. Jemarinya masih sibuk berkutat dengan handuk dan helaian pirangnya.

"bagaimana bisa Nii-chan berada disini? Di Tokyo? Dikamar ku?"

Naruto tersenyum mendengar pertanyaan sang adik. Masih dengan mengamati wajah bingung adiknya, Naruto mendekat dan melemparkan handuk basahnya kearah Naruko.

"kau.. pasti tidak percaya apa saja yang aku lakukan untuk bisa sampai disini ttebayo.."

.

.

.

Naruto hanya bisa menatap nanar jalanan karena rasa frustasinya. Kepalanya serasa ingin pecah memikirkan bagaimana ia bisa sampai ke tempat 'Naruko-chan'nya. Hari sudah beranjak siang. Matahari telah tepat diatas kepalanya. Dan Naruto hanya bisa merenung frustasi di pemberhentian bus yang berseberangan dengan kedai ramen.

"kenapa nasib ku sial sekali ttebayo.. ini pasti hukuman dari Kami-sama karena aku sudah menyakiti hati Kaa-san dan Tou-san.." ratap Naruto dengan gumaman kecil.

"kenapa aku harus melupakan komite katak ku! Kenapa? Gamabunta Oyabun pasti yang merencanakan kudeta ini.. dia pasti meminta Gamaken dan Gamahiro untuk melakukan kudeta padaku ttebayo! Iya! Pasti begitu" racau Naruto ngawur dengan segala imajinasi liarnya.

Naruto masih terus berkutat dengan pemikiran tentang bagaimana cara supaya ia bisa ke tempat Naruko saat ini. Melupakan segala rasionalisme.

"butuh bantuan anak muda?" tanya seorang kakek tua yang baru saja keluar dari mobil.

Terlalu sibuk meracau dan merutuk Naruto tidak menyadari ada mobil yang berhenti tepat didepannya. Naruto sempat tersentak saat sebuah suara menyapa indera pendengarnya.

Didongakkan-nya kepala yang sendari tadi menunduk dengan sebalah tangan yang terus mengacak surai pirangnya ke arah asal suara. Matanya seketika membulat. Perpaduan antara kaget dan senang.

"Ero Jii-chaaan~~~~" seru *read: teriak* Naruto penuh semangat dan berdiri dari duduk nyaman-nya di bangku halte.

Sedangkan sang kakek tua yang mendapat panggilan nampak menatap Naruto keki.

"lebih sopanlah dalam menyapa kakek mu Gaki!" sungut sang kakek dan menjitak Naruto sayang saat telah berada di sampingnya.

"hehe.. Gomenne Jiraiya Jii-chan" sahut Naruto yang cengengesan.

Naruto bahagia! Sangat!

Itu terlihat jelas dari ekspresi wajahnya. Iris sapphire yang sebelumnya bergerak liar karena gelisah dan frustasi kini nampak berbinar. Jika saja Naruto tidak ingat ia adalah lelaki. Sudah pasti Naruto akan memeluk *read: menerjang* sang kakek karena saking senangnya.

"apa yang kau lakukan disini huh?" tanya Jiraiya kemudian dan menatap Naruto dengan wajah jenaka-nya.

Naruto meringis dan tertawa canggung. "ngg~~ Anoo~~~ jii-chaan~~ Naru senang sekali bertemu Jii-chan disini.. Jii-chan lama tidak mengunjungi Naru ttebayo.. hehehe"

Naruto dengan wajah salah tingkah mencoba mengalihkan topik. Ia akan malu berat jika 'Ero Jii-chan'nya tahu alasan konyol ia berada dipinggir jalan dan terduduk di halte adalah karena 'Komite Katak'-nya yang melakukan kudeta.

Naruto dan semua pikiran konyol-nya.

Jiraiya hanya mengamati Naruto si polos entah si bodoh yang saat ini sedang mencoba mengelabuhi-nya.

"akh jadi Naru ingin mengatakan kalau Naru sengaja menunggu Jii-chan disini karena Jii-chan lama tidak mengunjungi Naru?" goda Jiraiya.

"ehehehe.. Anoo~~"

"lupakan soal itu.. Jii-chan punya kejutan untuk mu di mobil.."

"eh.. Honto ka?" seru Naruto senang.

Jiraiya hanya mengangguk. Memandangi Naruto yang menatapnya senang.

"kau ingin lihat?" tawar Jiraiya. Naruto mengangguk dengan semangat.

Ayolah.. siapa yang tidak menyukai kejutan yang identik dengan hadiah?

"kau bisa melihatnya di mobil"

Mendengar kalimat yang dikeluarkan oleh Jiraiya, dengan secepat kilat Naruto membuka pintu mobil Jiraiya. Rasa penasaran dan bahagia yang meluap membuat Naruto tak sabar. Saat pintu terbuka, Naruto merasa itu adalah akhir dari segalanya.

"hai Naruto?" sapa sebuah suara merdu yang mampu membuat Naruto terdiam. Membatu ditempatnya.

"kau tidak merindukan ku?"

'aku bersumpah! Aku membenci kejutan ttebayo!' raung Naruto dalam hati sebelum kemudian mulutnya bergerak.

"T-Tou-san~~~" cicit Naruto saat ia bisa melihat dengan jelas sosok pirang yang kini tengah tersenyum manis ke arah Naruto yang masih terdiam.

"meninggalkan rumah, membuat Haha mu khawatir, meninggalkan semua tabungan mu, meninggalkan ijazah mu, pergi tanpa persiapan apapun.. apalagi yang bisa kau lakukan selain kecerobohan Naruto-chan"cecar Minato –Tousan Naruto- dengan senyum yang masih mengembang di wajah tampan-nya.

Jiraiya yang melihat wajah kaku Naruto hanya bisa tergelak. Ia sungguh menyukai semua ekspresi cucu laki-lakinya.

.

Naruto nampak duduk disebuah sofa dengan wajah yang menekuk dalam. Bibirnya mencebil tak suka. Jika saja yang didepan-nya bukanlah sang Tousan.. sudah dipastikan Naruto akan memberikan glare mematikannya pada sang lawan bicara-nya saat ini.

Namun siapalah Naruto didepan Minato? Naruto hanya seorang anak yang selalu mengagumi sang Tousan. Ia ingin menjadi seperti sang Tousan yang bisa melindungi semua orang yang ia cintai.

"kau akan terus diam, Naruto-chan?" suara Minato memecah kesunyian.

"Tou-san.. jika Tou-san mengatakan lebih awal Naru tidak akan berbuat seperti ini.." sergah Naruto yang merasa tersudut.

"bagaimana Tou-san bisa menjelaskan jika kau pergi hanya berpamitan dengan surat? Apalagi kau membentak Haha mu.. bukankah sudah Tou-san bilang untuk jangan pernah membentak Haha?"

"Naru hanya berteriak Tou-san"

"itu sama saja Gaki" sahut suara wanita.

Naruto menolehkan wajahnya ke arah samping kanan dan mendapati wanita paruh baya yang nampak masih cantik di usia yang mendekati kepala 6.

"Baa-chan lebih baik diam saja,, Naru juga kesal dengan Baa-chan.."

"Naruto!" tegur Minato mendapati sikap kekanakan anak lelakinya.

Naruto menghentakkan kakinya kesal. Wajah manisnya ia tolehkan ke arah lain. Matanya menyipit menelanjangi jendela rumah Jiraiya dengan bibir dipoutkan. Ugh, sungguh menggemaskan.

Jiraiya yang duduk disebelah Naruto hanya bisa tergelak. Tak menghiraukan tatapan maut wanita paruh baya yang dipanggil Naruto dengan 'Baa-chan'.

"sudahlah Minato.. yang terpenting sekarang kau sudah menemukan Naruto kan.. apa lagi yang kau permasalahkan?" ujar Jiraiya bijak.

Naruto senang mendengar pembelaan dari kakeknya. Tentu saja! Siapa yang tidak senang di bela saat semua orang menyudutkanmu.

"yeah.. aku berterimakasih padamu Kakashi-kun.." ujar Minato tenang dan tersenyum kearah pria dengan masker menutupi setengah wajahnya.

"saya senang dapat membantu anda, Minato-sama" respon Kakashi –lelaki dengan masker- yang tengah berdiri di sudut ruangan seraya membungkukkan badannya sedikit.

"jadi.. Naru-chan.. kenapa kau bisa kabur hm? Aku sangat kaget saat mendengar kabar dari Minato tentang kau yang pergi ke Tokyo seorang diri.." tanya Jiraiya lembut pada Naruto.

Yah.. Jiraiya memang selalu memanjakan kedua cucunya.

"itu karena Chichi, Haha dan Naruko-chan yang menipu Naru, ttebayo" jawab Naruto dengan ekspresi kesal.

Jiraiya nampak mengernyitkan sebelah alisnya. Memikirkan ucapan Naruto.

"Naruko mengatakan bahwa ia akan mengikuti kemanapun Naru mendaftar sekolah ttebayo.. tapi diam-diam Naru mendaftar sekolah di Tokyo.. bukankah itu menyebalkan Jii-chan? Dan lagi, Chichi dan Haha ikut merahasiakan ini ttebayo.. Haha bahkan masih berusaha menutupi semua ini dari Naru"

"Naruto.." panggil Minato, menghentikan cerita *read: curahan hati* Naruto. "dalam keluarga bukankah sudah seharusnya kita saling mempercayai?" tanya Minato lembut. Jangan lupakan senyumnya yang tak pernah lepas dari wajah tampan-nya.

Naruto terdiam dan mencoba menerka kemana arah pembicaraan sang Tousan.

"Tou-san mengerti jika kau mengkhawatirkan Naruko-chan.. tapi, tidak bisakah sekali saja kau percaya pada Naruko-chan.. bahwa ia bisa melakukan sesuatu?" tutur Minato yang merubah raut wajah-nya menjadi lebih serius.

"tapi Tou-san.. Tou-san sendiri yang membuat janji pada Naru, bahwa Naru harus selalu melindungi Ruko-chan ttebayo.. jadi.."

"Tou-san mengerti.. seharusnya kau tak perlu seceroboh ini untuk menepati janji mu Naruto-chan.. masih ada banyak cara untuk melindungi Naruko-chan tanpa harus selalu berada disisi-nya.."

"bagaimana Naru bisa melindungi Ruko-chan tanpa harus disisinya ttebayo.."

"dan lagi, kau bisa meminta Tousan untuk memindahkan mu disekolah yang sama dengan Naruko-chan kan.. Tou-san pasti akan menuruti mu tanpa harus kau pergi diam-diam dari rumah.. karena Tou-san dan Haha selalu mempercayai kalian berdua"

"mana Naru tahu jika Tou-san dan Haha akan mengijinkan.."

"itulah kelemahan mu Naru.. kau.. tidak bisa mempercayai keluargamu,,"

Naruto terdiam mendengar ucapan terakhir Minato. Dan tentu saja, Naruto merasa bersalah saat melihat raut kesedihan diwajah Minato. Naruto merasa buruk.

"jadi.. kau akan bersekolah ditempat yang sama dengan Naruko?" tanya Tsunade –Baachan Naruto- pada akhirnya. Berusaha memecahkan nuansa biru yang ada.

Naruto hanya menganggukkan kepala-nya lemah. Masih merasa bersalah pada kedua orang tuanya.

"Tou-san sudah mengurus segala keperluan mu.. Tou-san sudah meminta surat kepindahan dari sekolah lama mu dan menemui langsung kepala sekolah mu yang baru.. tidak ada masalah.. sore nanti kau harus mengikuti tes seleksi untuk benar-benar dapat diterima disana.."

Naruto memandang Minato dengan wajah yang berbinar-binar. Tousan-nya memang selalu bisa diandalkan. Bagaimana bisa dia buta akan semua perhatian sang Tousan?

Naruto benar-benar bersyukur memiliki Minato sebagai Tousan-nya. Tentu saja! Bahkan Naruto menjadikan Minato patokan hidup-nya.

"hanya sajaa…" lanjut Minato, nampak ragu mengutarakan isi pikiran-nya.

"hanya saja apa Tou-san?" tanya Naruto tak sabar.

Minato memandang Naruto ragu.

.

.

"HIEEEEEE!?" teriak Naruko heboh saat anikinya selesai bercerita.

"Ruko-chan! Kau bisa membuat ku tuli ttebayo.."

"Nii-chan~~ j-jadi kau.."

"hn.. Nii-chan akan menyamar sebagai 'perempuan' disini.. tentu saja biodata asli ku tetap laki-laki hanya saja.. kepala sekolah mengijinkan Aniki untuk menyamar jadi perempuan dan satu kamar dengan mu"

"t-tapi.. Nii-chan~~~"

"kuota untuk siswa laki-laki sudah ditutup ttebayo~~ hanya ada kuota untuk siswi saja.. jadi Aniki tidak mempermasalahkan itu.. yang terpenting Aniki bisa selalu berada disamping Ruko-chan dan melindungi Ruko-chan" ujar Naruto dan tersenyum lembut.

Naruko memandang Naruto dengan perasaan sedih, kesal dan khawatir.

"Nii-chan! Kenapa kau harus melakukan semua itu untukku? Aku adalah adik yang buruk.. kenapa Nii-chan selalu melakukan semuanya untukku? Kenapa Nii-chan harus melakukan sejauh ini?" raung Naruko mengeluarkan segala perasaannya.

"Tentu saja karena kita adalah keluarga ttebayo.. karena Nii-chan adalah lelaki yang tidak akan mengingkari janjinya! Itulah jalan hidup Nii-chan, ttebayo~~" jawab Naruto dengan senyum mengembang.

.

.

"Jadi.. Nii-chan akan berpenampilan seperti ini?" tanya Naruko dengan senyum mengembang dibibir tipisnya.

Naruto memandang kesal ke arah Naruko. "yah.. terimakasih untuk mu yang sudah membuat Nii-chan melakukan semua ini.." jawab Naruto malas yang kini sedang mengenakan kaus kakinya.

"hahaha~~ Gomenne.. akh~~ aku jadi bingung harus memanggil mu apa" keluh Naruko lagi.

Naruko mengamati Naruto yang sedang bersungut-sungut kesal. Bagaimana Naruto tidak kesal? Jika ia yang seorang lelaki tulen, harus mengenakan seragam layaknya pelaut. Terlebih mengenakan sesuatu yang tak pernah ia pikir akan ia kenakan. Yah apalagi jika bukan bawahan yang sama dengan Naruko. Rok diatas lutut.

"tentu saja kau harus memanggil ku Nii-chan! Bagaimanapun aku lahir 10 menit lebih awal dari mu Ruko-chan" jawab Naruto kesal.

"dengan penampilan Nii-chan yang seperti.. seperti ini?"

Naruto menatap kesal Naruko yang terlihat sedang menggodanya. Dikibaskannya rambut palsu pirang panjang yang ia kenakan.

"kau benar-benar menyebalkan Ruko-chan! Panggil aku sesuka jika begitu, ttebayo" kesal Naruto dan beranjak menuju pintu kamar asrama.

"hey Nii-chan.. ups i mean.. Nee-chan.. jangan marah.. bukankah kau mengatakan, kau melakukan semua ini karena kita keluarga?" Naruko semakin senang menggoda Naruto.

"aku akan ke ruangan kepala sekolah terlebih dahulu ttebayo.. kau segeralah ke kelas.. hati-hati" menghiraukan godaan Naruko, Naruto segera melesat keluar kamar yang ia tinggali bersama adik kembarnya.

Naruko hanya bisa tergelak melihat tingkah Naruto. Meskipun Naruko masih merasa sedih karena semua ini berawal dari keegoisan-nya. Tapi ia masih cukup terhibur dengan Naruto saat ini. Naruto terlihat manis dengan seragam perempuannya.

"maafkan aku Nii-chan… tidak mudah untuk ku melupakan 'dia' jika aku berada didekat mu.. setiap melihat mu.. aku selalu mengingat rasa sakit itu.. maafkan aku.. yang telah mengambil keputusan bodoh ini hingga membuat mu terjebak dengan situasi ini.."

.

.

.

TBC

.

.

Hallo….

Berjumpa kembali dengan Vee..

Hehe, maaf Vee lama update.. hal ini disebabkan karena tepat setelah update terakhir Vee, Vee dapat panggilan kerja.. jadi sekarang Vee mulai kerja dan waktu sedikit *read: banyak* berkurang. Apalagi masa trainee.. hoho

Jadi, Vee mau memberi tahu aja.. kalau Vee hanya akan update saat Vee libur.. jadi mina-san.. tolong sabar menanti yaah.. hehehe

Sebenarnya cerita chapter 3 hanya akan berakhir disini..

hanya saja..

Karena kesalahan Vee membuat spoiler maka..

Vee akan melanjutkan lagi..

Hahaha

Jaa~~ mina-tachi.. silahkan lanjut membaca~~ ^^

.

.

.

Suasana koridor yang tadinya lengang kini nampak bergemuruh oleh suara-suara teriakan absurd yang benar-benar memekakkan telinga.

KYAAA~~~ SASUKE-SAMAAA~~

KYAA~ DIA TAMPAN SEKALI

OUR PRINCE IS SO HANDSOME

KYAA~~ KYA~~~

Yah, teriakan semacam itu yang dimaksud absurd. Teriakan yang selalu menyertai kemanapun seorang pemuda berambut raven melangkah. Mata onyx-nya memandang malas semua fans-nya.

Merasa malas mendengar teriakan para fans-nya, Sasuke mengenakan headseat yang sendari tadi mengalung di lehernya. Dan dengan gaya stoic khas uchiha sasuke melenggang menyusuri pinggiran koridor.

Saking asyiknya Sasuke mendengarkan lagu yang terus mengalun merdu di indera pendengarnya, Sasuke tak menyadari badai yang akan datang ke arahnya.

"OE! KAU YANG DISANA! MINGGIR!" teriak seseorang dari arah lantai 2.

"KYAAA~~~ SASUKE-SAMAAA~~~~ AWAASSS!" jerit para fans Sasuke. Namun Sasuke tetap tak menghiraukan suara-suara selain yang terdengar dari headseat-nya.

Jika kita slow motion.. maka saat ini para fans nya sedang memasang wajah panik, khawatir berlebih dan terus meneriakkan nama Sasuke untuk memperingatkan Sasuke dari bahaya yang mengancam.

Sedangkan sang tokoh utama yang sedang meluncur dari lantai 2 yang kini sedang mengambang (?) diudara dikarenakn gerakan slow motion juga menampakkan raut yang tak kalah panik sambil terus meneriakkan kata-kata 'AWAS! MINGGIR!".

Hingga pada akhirnya Sasuke sempat menyadari bahwa ada seseorang yang tengah meluncur kearahnya dari atas.

Baik mari kita hentikan gerakan slow motion. Hingga kita akan mendengar suara-

BUK

"AARRGGHHHH SASUKE-SAMA~~~"

-bedebum keras dan juga teriakan menggila dari para fans Sasuke.

Sapphire bertemu onyx.

Hidung mereka bersentuhan.

Bibir mereka saling menempel erat.

Dengan segera Naruto mengangkat wajahnya.

"bukankah aku sudah berteriak minggir Teme~~ kenapa kau tak mau minggir! Dasar Teme sialan" teriak Naruto memaki lelaki dibawahnya.

Dengan segera Naruto beranjak berdiri dari atas tubuh Sasuke yang ia timpa. Setelah melihat Sasuke yang mulai beranjak duduk, Naruto segera melangkah pergi.

"Maafkan aku Teme~~ aku sedang terburu-buru~~ Jaa ne~~" pamit Naruto tanpa memandang Sasuke.

Sasuke menatap kepergian 'gadis' pirang yang baru saja menimpanya. Masih mempertahankan posisinya yang terduduk di tanah.

Seringai-pun tercetak apik di bibir tipis Sasuke.

"Chibi Kitsune, huh" gumam Sasuke pelan.

.

.

Waktu kian berlalu dan kini Naruto telah berada di kelas yang sama dengan saudara kembarnya. Naruto nampak memandang malas suasana di kelasnya.

"kenapa mereka semua berisik huh?" gerutu Naruto yang didengar oleh Naruko yang kini ada disampingnya.

"apa kau tidak tahu Nii-chan? Mereka semua sedang mencari perhatian Gaara-sama.." jawab Naruko yang juga memandang malu-malu kearah seorang pemuda bersurai merah dengan tato ai di dahinya.

"ck, tapi apa harus begitu? Sampai aku tidak bisa duduk di tempat duduk ku ttebayo! Itu benar-benar menyebalkan.."

Naruko hanya terkekeh mendengar gerutuan Naruto. "di sekolah ini ada dua idola Nii-chan.. salah satunya adalah Sabaku Gaara-sama.. ingat, kau sekarang perempuan.. kau harus mulai menyukainya Nii-chan"

"ck, aku masihlah menyukai Sakura-chan, ttebayo.. jangan meminta ku menyukai seorang tanpa ekspresi sepertinya Ruko-chan"

PLETAK

"aa~~ itte! Kenapa kau memukulku Ruko-chan"

"kau perempuan Nii-chan.. jangan mengatakan kau menyukai perempuan dengan segamblang itu"

Naruto hanya mendesis tak suka.

"tapi aku lebih menyukai Sasuke~sama Nii~chan"

Naruto mengerutkan alisnya dan memandang adik kembarnya. "siapa itu Sasuke?" tanya Naruto dengan intonasi tidak senang.

"dia adalah lelaki tertampan dan juga salah satu pangeran dari kelas satu Nii-chan.. aku menyukainya.."

.

.

TBC

.

.

Ini benar-benar TBC yah.. hahaha…

Yah maaf kalau maksa TBC nya..

Dan benar-benar full of story nya adalah chap depan..

Chap depan mulai akan banyak adegan friendship dan romance.. tapi yang jelas brothershipnya juga ga ketinggalan.. hehehe

Maaf..

Chap depan akan lama.. dan ini Vee buat dalam sekejap.. jika banyak Typo Vee minta maaf sangat..

Ada yg reviewnya belum Vee balas.. maaf ya..

Vee tidak bisa membalas dulu..

Kemarin Vee libur tapi ini Vee sudah harus berangkat.. jadi Vee buru-buru.. daripada Vee gabisa update kan

Hhe~~

Gomen jika mengecewakan

Akh dan maaf untuk yang meminta Vee membuat huruf miring pada bahasa asing belum bisa Vee aplikasikan dsini karena sedang keburu.. nanti kalo Vee luang akan Vee lakukan

Jaa~

Gomenne~~

Terimakasih untuk semua reviewer~~

Yang fav follow dan juga silent reader..

Terimakasih

Salam Vee

Psstt~~ Spoilernya ga dulu ya