Naruto berjalan pulang menuju hotel tempat Hinata kini berada, pria pirang itu melihat banyak souvenir di pasar souvenir di jalanan. Mata biru safir itu membelalak sempurna saat menemukan seseorang yang dikenalnya, orang itu berambut putih dengan pipi tirus sedang minum-minum dengan orang-orang yang tak dikenalnya sama sekali...

"Mizuki Komagata, kau berikutnya..." gumam Naruto menyeringai.

..

. .

..

. .

..

Sasuke menggeleng-gelengkan kepalanya, Naruto ternyata sudah keluar negeri memakai identitas palsu. "Kau benar-benar licin, Naruto" ucap Sasuke tersenyum miring.

"Dasar merepotkan" sahut Shikamaru menggaruk-garuk kepalanya, pria berambut nanas itu menatap rekaman CCTV bandara.

"Aku sudah menduga, kalau anak itu mengunjungi Hongkong untuk memburu para pelakunya." tambah Kakashi.

"Haaaah! Menyesal aku mengkhawatirkannya" celetuk Sakura mendesah pelan. Semua mata langsung menyorot tajam pada Sakura, wanita itu terkesiap dan tersenyum merasa bersalah.

"Hehehe, maaf. Perkataanku salah ya tadi?" kata Sakura terkekeh bersalah. Semuanya menggeleng-gelengkan kepala karena perkataan Sakura tadi.

..

. .

..

. .

..

Naruto memasuki kamar hotel tempat dia menginap bersama Hinata, waktu di jam dinding kamar tempat dia menginap menunjukkan pukul 02.32 waktu setempat.

"Sudah hampir pagi," gumam Naruto. Pria pirang itu memeriksa kamar Hinata, dan mendapati kamar wanita itu sedikit berantakan karena buku yang berserakan di spring bed wanita berambut indigo tersebut.

'Dasar' Naruto menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Hinata tidur dengan memakai blus dengan memperlihatkan paha mulus wanita itu, tidur Hinata benar-benar mengundang iman runtuh apabila orang lain melihatnya. Naruto merapikan buku-buku berserakan dan memasukkannya ke dalam tas jinjing milik Hinata. Naruto kemudian menyelimuti Hinata dengan selimut tebal. Setelah selesai, pria pirang itu berjalan menuju sofa dan merebahkan diri untuk menghimpun tenaga buat mengeksekusi korban berikutnya besok.

"Tak kusangka, paket lain ada di hongkong." gumam pria itu menutup matanya. Tidur.

..

. .

..

. .

..

(JAM 9 lewat 20 menit)

Hinata melahap bakpao isi daging ayam dengan sangat lahap. Ini sudah 8 bakpao yang di makannya, kini bakpao yang kesembilan akan dia lahap. 'Dia benar-benar kelaparan' batin Naruto sweatdrop.

"Naoruutou-kuon tauk muakuan" mulut Hinata penuh bakpao.

Naruto hanya menggeleng-gelengkan kepalanya pelan, melihat Hinata lahap makan membuat Naruto sudah cukup senang. Di kedai Bakpao itu, Naruto mengawasi seseorang keluar dari penginapan cukup kumuh. 'Itu dia' guman Naruto dalam hati. Seseorang keluar dengan 2 orang berpakaian layaknya anak pantai, Naruto juga melihat sekilas ada pistol magnum di selipkan dalam celana mereka. Naruto mengambil bakpao di mangkok dan memakannya dengan tenaga berlebih.

"Hinata, kau kembali ke hotel ya. Aku ada urusan, ini bawa mie instan-nya. Paling penting, jangan keluar hotel selangkah pun. Aku antar kau kembali sekarang" pinta Naruto datar, Hinata mengangguk saja.

..

. .

..

_THE_EXECUTIONERS_ .. RATE M

..

NARUHINA

..

AUTHOR: ThE lAsT mOgErZ

..

..

. .

..

. .

..

Naruto membuntuti Mizuki tanpa ketahuan sama sekali, Mizuki beserta dua pengawalnya masuk kedalam gudang bekas. Mizuki membawa 2 koper besar, entah apa didalam koper itu. Naruto menaiki tangga kecil menuju atap untuk melihat situasi dan menemukan celah untuk mengintip kegiatan Mizuki serta dua pengawalnya.

"Mizuki, Saudaraku!" Sapa seorang berambut biru terang menyambutnya.

"GENKI!" Mizuki memeluk orang itu. 'Wah, paket lengkap ya? Bisa ku tuntaskan sekejap saja' batin Naruto. Naruto membidikkan revolvernya ke arah kepala Mizuki. Bersiap mengeksekusi Mizuki, namun dia mengurungkan niatnya begitu melihat banyaknya kokain di dalam truk pengangkut sampah dan juga truk trailer. Naruto kemudian memiliki ide, pria pirang itu mengambil handphone-nya dan menelpon interpol hongkong.

"Halo, kode X-777HUANG di Gudang bekas di lepas pantai selatan" Naruto menutup sambungan dengan cepat. Saat terjadi pertukaran, Naruto lantas mengeluarkan dua revolvernya yang sudah dipasang peredam, dikarenakan banyaknya pengawal Genki. Belum lagi kemungkinan interpol akan datang 10 menit lagi. Genki dan Mizuki tertawa sambil menghitung uang.

DHUP DHUP DHUP DHUP

Empat orang pengawal Genki yang menjaga truk trailer terkapar tewas dengan luka tembak di Dada kiri mereka.

DHUP DHUP DHUP

Tiga orang penjaga truk sampah langsung tewas dengan tembakan tepat diatas kepala. Naruto kemudian melihat Genki dan Mizuki masih melakukan transaksi tanpa tahu pengawal mereka telah terbunuh semua kecuali dua pengawal Mizuki. "DEAL! Semua beres..."

DHUP

Kepala Genki pecah, isi otaknya keluar semua. Bisa dibilang, tewas seketika setelah timah panas mengenai kepala Genki. Kedua pengawal Mizuki terkapar juga dalam sekejap, mengalami hal sama seperti Genki. Mizuki terkejut setengah mati, kenapa ada penyerangan secara diam-diam di siang bolong begini. Mizuki terjatuh setelah mendapat tembakan diam-diam pada kaki kirinya.

"AAAAAAAAAARRRGGGGGHH!" pekik Mizuki kesakitan. Naruto segera turun dari atap.

Mizuki terperanjat kala siapa yang mendatanginya, pria itu mati kutu dan mengerang kesakitan pada kaki kirinya.

"Terkejut?" sapa Naruto.

"K-Kau..." Mizuki menunjuk wajah Naruto dengan telunjuk tangan kiri, pria pirang itu lantas menembak telunjuk tangan kiri Mizuki.

DHUP

"AAAARRRGGGHH!" teriak Mizuki kesakitan. Jari telunjuk pria berambut putih itu telah hancur serta mengeluarkan darah segar. Naruto menghampiri Mizuki dan mengambil Magnum yang lupa di pakai di dalam pakaian Mizuki untuk melindungi diri. Mizuki di ikat tali dan di seret menuju lantai, tanpa belas kasihan.

"Ampun!" badan Mizuki terantuk anak tangga berkali-kali tanpa ampun. Setelah mencapai lantai 2, barulah Naruto melilitkan tali ke arah leher Mizuki.

"A-APA YANG AKAN KAU LAKUKAN?" berontak Mizuki panik lantaran kini berada di ujung lantai 2 gudang. Lebih tepatnya ruangan terbuka lantai 2.

"Eksekusi mati, siap dilaksanakan" Gumam Naruto mengikat tali yang terhubung leher dan bersiap menjatuhkan tubuh Mizuki dari lantai 2.

"J-JANGAN, JANGAN!" ronta Mizuki memberontak, namun Naruto tak membiarkan Mizuki pergi dan lolos begitu saja. Naruto berlari jauh dari Mizuki yang terikat erat tali di sekujur tubuhnya, kemudian berlari balik ke arah Mizuki. Mizuki mencoba berdiri, namun setelah berhasil berdiri sebuah tendangan telapak kaki kanan Naruto langsung menghantam wajah Mizuki.

BUAGGH

Mizuki terpental terbang, hingga akhirnya jatuh dari lantai 2. Tali yang mengikat leher Mizuki membuat pria itu tewas seketika.

..

, .

..

Naruto pergi menuju dermaga hongkong dekat kota menggunakan speedboat. Pria pirang itu meninggalkan perahu speedboatnya setelah sampai di dermaga terdekat, Naruto melangkah melewati para nelayan ikan yang mengangkut hasil perikanan dari kapal mereka.

./

./

./

'Interpol menemukan 1 Ton kokain siap antar di truk Trailer dan truk sampah sebagai kedok luar, namun yang mengejutkan adalah ditemukannya mayat-mayat dengan luka tembak...' Wartawati tersebut memberitakan kejadian yang menimpa anak buah geng ular yang tewas mengenaskan. Naruto tersenyum simpul melihat pemberitaan itu di sebuah toko electronic di Kowloon. Pria pirang itu segera berlalu dan melangkah menuju hotel tempat Hinata menunggunya kini.

. .

..

. .

. .

"Sudah 5 anggota geng ular tewas, dan tewas mereka juga mengenaskan pula" celoteh Sai tersenyum.

"Tapi kita harus mencari Naruto secepatnya, Aku minta bantuan Asuma dan Chiriku untuk mencari Naruto di Hongkong" timpal Yamato.

"Dasar Naruto, tapi aku tak menyalahkannya menghukum mereka satu persatu" ucap Sasuke pelan. Mereka terdiam sesaat, namun mereka menyadari. Mereka tak bisa berbuat banyak apabila sudah terlalu jauh begini.

..

. .

..

. .

..

Hinata mengikuti Naruto sambil terus memegang telapak tangan pria pirang itu. Mata sewarna lavender itu membulat sempurna, Naruto berhenti di panti asuhan Might Guy. Air mata Hinata tak terbendung saat memasuki gedung panti asuhan tersebut.

"Kita jemput adikmu, dan secepatnya pergi dari sini" ucap Naruto datar. Hinata mengangguk-angguk cepat, namun gadis itu sudah tak sabar menemui Hanabi. 5 tahun bukanlah waktu sebentar, 5 tahun mereka dipisahkan oleh keadaan yang tak bersahabat.

"Lihat itu" tunjuk Naruto ke arah kerumunan anak-anak bermain. Disana nampak Hanabi bermain dengan remaja laki-laki.

"Hana-chan" gumam Hinata lari menuju Hanabi. Naruto tersenyum, Hinata nampak sangat bahagia. Hanabi terkejut sesaat sebelum akhirnya memeluk Hinata dengan penuh haru.

:::

:::

"Kita akan ke London, disana kau dan adikmu akan lebih aman. Aku punya kenalan junior anggota Interpol. Dia sangat baik dan kuharap kalian akan betah dirumahnya." ucap Naruto pada Hinata dan Hanabi. Mereka menunggu check-in pesawat, hingga sebuah panggilan intercom memanggil mereka bertiga menuju pesawat.

'Mohon perhatian pesawat England Air tujuan London dengan nomor penerbangan Q-555FAIZ, kepada penumpang di harapkan menuju ruang check-in.' Mereka bertiga masuk ruang check-in bersiap berangkat.

"INGGRIS, aku datang" gumam Naruto pelan. .

. ::

.. ::

..

"Baiklah, sekarang kau lanjutkan tugasmu." Tao Pai Pai memijit pelipis kepalanya pusing.

"Kenapa lagi?" tanya seorang berambut panjang memakai alat bantu pernafasan.

"Tiga anggota kita tewas bersama anak buahnya" jawab Tao Pai Pai.

"Siapa yang melakukannya?" tanya pria itu tegas.

"Aku masih mencarinya, anak buahku ku kerahkan untuk menyelidikinya. Ku pastikan pelakunya akan kubunuh" kata Tao Pai Pai mencoba berjanji pada orang itu.

"Aku pegang janjimu, Tao" ucap Orang tersebut meninggikan nada suaranya.

..

::

::

::

Naruto bersama Hinata dan Hanabi menunggu seseorang di dalam kafe bandara London. Hinata dan Hanabi memakan desert pesanan mereka sedikit demi sedikit, sementara Naruto memperhatikan suasana sekitar yang ramai oleh para calon penumpang pesawat yang berlalu lalang. Mata biru safir Naruto menangkap orang yang dikenalnya.

"Yumi Archer" Gumam Naruto mengeratkan kepalannya, Yumi Archer sedianya adalah orang kepercayaan Moryo Takeshi.

Naruto lantas melihat daftar blacklist yang telah di eksekusinya. Bibirnya terangkat sebelah.

- Yumi Archer

- Moryo Takeshi

- Genki X

- Setsuna

- Ishidate X

- Hanzo Hattori

- Master Shin-Oh

- Tao Pai Pai

- Mizuki Komagata X

- Anrokuzan Mukade

- Kaguya Kimimaro

- Sakon & Ukon

- Jirobou & Kidomaru

- Kazuma X

Tanda X sudah menghiasi blacklist milik Naruto.

"Tunggu sebentar, aku mau ke toilet" pamit Naruto. Kedua gadis itu mengangguk pelan.

Naruto lantas segera menelpon seseorang agar cepat menjemput Hinata dan Hanabi di bandara. Pria pirang itu sudah tak sabar meng-eksekusi korban berikutnya.

Naruto berjalan menuju Yumi dan menabrak badan sebelah kiri Yumi,

BRUUKKK

"Sorry" ucap Naruto pelan.

"Look your Eyes, bitch!" umpat Yumi kesal segera berlalu dari Hadapan Naruto yang sama sekali tak dikenalnya.

Naruto tersenyum miring, Dia mengeluarkan handphone hasil mencopet dari Yumi.

"Tunggu aksiku selanjutnya, Bastard" gumam Naruto lalu kembali ke tempat Hinata dan Hanabi berada.

..

..

..

..

Bersambung