Title:

I Won't Let You Go

Disclaimer:

Naruto milik Masashi Kishimoto

Fict ini milik Vee

Genre:

Romance and Family

Pair:

SasuNaru as main pair

Dan banyak sekali slight pair nantinya. Emmm mungkin sih, hehehe

Warning:

YAOI (Boys Love), OOC, Typo(s). Borring. Alur Lambat. No Edit

By : Versya (Vee)

Note: Terinspirasi dari manga "Mint Na Bokura". Akan ada beberapa bagian yang sama dengan manga aslinya. Tentu saja hanya temanya yang sama bukan ceritanya :) hehe

Njadi

Selamat membaca ^^

.

.

CHAPTER 5

.

.

Suasana gaduh akan suara teriakan dan canda tawa menjadi suara pengiring yang khas saat berada di kantin. Nampak seorang 'gadis' manis dengan rambut pirang tergerai dan juga bandana yang mempermanis penampilan-nya, sedang mencolek-colek dagu gadis lainnya. Memiliki rambut pirang yang sama dan rupa yang sama. Yang membedakan hanyalah gaya rambut twin tail saja.

"Ayolah Ruko-chan~~, kau tak harus terus mendiamkan ku, kan!" terdengar suara cempreng sang 'gadis' pirang tergerai, mencoba bersaing dengan gaduhnya suasana kantin.

"Aku masih kesal dengan mu Nii-chan, jadi berhenti mengganggu ku. ok!" sahut ketus gadis pirang dengan twin tail, menanggapi Naruto.

"Ck! Aku memiliki alasan yang kuat, ttebayo -kenapa aku menyuruh mu untuk tidak menyukai-nya Ruko-chan, mengertilah." Suara lemah tanpa harapan terdengar lagi menyahuti.

"Kalau begitu, katakan padaku apa alasannya Nii-chan! Kau tidak bisa terus menggantung ku dengan mengatakan ini yang terbaik untukku! Aku butuh alasan yang jelas!" tak kalah sewot, Naruko menyahuti keras suara keputusasaan Naruto.

'Karena dia telah mengintip celana dalam ku, ttebayo. Mengejek rubah kesayangan pemberian Haha. Dan aku tak akan melupakan seringai menyebalkannya saat di halte, ttebayo dan di bus waktu itu! Lihat! Bukankah dia pria yang sangat buruk Ruko-chan' Jawab batin Naruto dengan membara. Namun pada kenyataannya, Naruto hanya memandang Naruko yang mulai nampak kesal dengan kediaman-nya.

Oh ayolah! Mana mungkin Naruto menceritakan alasan memalukannya itu.

Iya kan?

"Arrghh! Aku tidak bisa mengatakan pada mu alasannya Ruko-chan! Tapi sungguh, dia bukan yang terbaik untuk mu, ttebayo!" jawab Naruto dengan frustasinya.

"Lalu yang seperti apa yang terbaik untukku? Lelaki dengan kacamata besar yang selalu berada di perpustakaan? Atau lelaki tua dengan perut buncit?" kalimat pedas kembali lolos dari bibir Naruko. Membuat Naruto semakin mengerang frustasi.

"Ayolah Ruko-chan.. percaya saja pada Nii-chan mu ini, ttebayo." Yakin Naruto frustasi.

Sedangkan Naruko hanya mendecih kesal dan melanjutkan memakan ramen-nya yang baru ia makan setengah.

Naruto ingin sekali mengacak rambutnya. Namun urung ia lakukan, mengingat ia kini mengenakan wig. Akhirnya, ia hanya mengunyah kasar ramen-nya yang mulai mengembung. Tak sengaja, sapphire-nya menemukan Gaara yang baru saja datang ke kantin.

Seketika itu bohlam imajiner Naruto menyala terang.

"Gaara!" ucap Naruto nyaris memekik.

Naruko mengernyit heran mendengar pekikan Naruto. Ia-pun lalu memandang ke arah Naruto. Setelahnya, ia mengikuti arah pandang Naruto.

"Nii-chan tidak masalah jika kau bersama dengan Gaara, Ruko-chan. Bukankah kau juga menyukai Gaara?" tanya Naruto dengan wajah sumringah.

Naruko menundukkan wajahnya. Menyembunyikan rona merah diwajah-nya.

"T-Tapi.. belum tentu Gaara-sama menyukai ku Nii-chan." Mendadak Naruko menjadi tergagap karena rasa malu-nya.

Naruto bersorak gembira dalam hati.

"Nii-chan akan membantu mu Ruko-chan! Ini janji Nii-chan sebagai seorang lelaki, ttebayo." Putus Naruto dengan senyum mengembang.

Naruko memandang sang kakak, hanya untuk mendapati senyum matahari dari Naruto. Tak ayal, hal tersebut juga membuat kekesalannya -karena larangan sang kakak mendekati Uchiha Sasuke menjadi hilang tak bersisa.

"GAARA~~~" teriakan melengking dari Naruto menghancurkan rona merah Naruko. Kini sapphire Naruko membulat sempurna. Mendapati sang kakak yang dengan innocent-nya melambai-lambai pada Gaara yang sedang melihat ke arah sang kakak.

Bagaimanapun, lengkingan Naruto itu sanggup membawa-nya pada petaka. Lihat saja, kini wanita-wanita yang sedang mengerumuni sang Sabaku mulai melancarkan tatapan kebencian.

'Nii-chan! Apa kau mencoba bunuh diri?' batin Naruko ngeri.

Dan iris sapphire Naruko nampak ingin keluar dari tempatnya, saat melihat sang Sabaku Gaara. Pria berwajah tampan dan juga datar tersebut, melangkah menuruti lambaian Naruto.

Selama Naruko mengenal Gaara sebagai teman sekelas dua hari lebih dulu dari Naruto. Ini kali pertama, Gaara menanggapi seseorang. Sebelum-sebelumnya, Gaara tak akan pernah menanggapi orang lain. Bahkan melirik pun tidak. Oh pengecualian untuk Kankurou. Dia adalah senpai kelas 3, kakak dari Sabaku Gaara.

Tapi lihat sekarang.

Sang Prince Ice, Sabaku no Gaara!

Berjalan mendekati Naruto yang masih melambai dengan senyum lebar.

Naruko hampir tidak mempercayai penglihatannya.

'Nii-chan.. kurasa, bukan aku yang akan menarik perhatian Gaara-sama, tapi kau.' batin Naruko.

.

.

HANASANAI

.

.

Hari dengan cepat berlalu. Tak terasa dua minggu telah Naruto lewati di sekolah barunya. Naruto mengikuti ekstrakurikuler judo dan juga basket. Tapi Naruto lebih sering mengasah skill basketnya dengan tim putra daripada tim putri.

"Naruto." Panggil lelaki bersurai merah dengan seragam judo, pada 'gadis' pirang yang sedang memasukkan seragam judo-nya ke dalam tas.

'Gadis' tersebut menoleh dan tersenyum lebar.

"Gaara. Ada apa?" tanya Naruto seraya menyelempangkan tas punggungnya di bahu kanan.

"Pekan nanti, apa kau ada acara?"

"Hmm," Naruto mengangguk cepat, secepat pertanyaan Gaara. Tentu saja, dia tidak akan melewatkan hari minggu yang menyenangkan. Dimana para siswa dan siswi yang di asrama dibebaskan keluar masuk asrama sampai pukul 8 malam.

Naruto selalu menghabiskan waktu di apartemen sepupunya Deidara. Tentu saja karena disana ia bisa melepaskan segala atribut perempuannya.

"Aku akan berkunjung ke tempat sepupuku, ttebayo! Tentu saja aku pergi dengan Ruko-chan." Jelas Naruto kemudian.

Gaara nampak terdiam.

Ini pertama kali bagi Gaara. Pengalaman pertama, dimana ia ingin mengajak seorang gadis untuk berkencan di akhir pekan.

"Gaara," panggil Naruto lagi, melihat Gaara yang hanya diam. "apa kau ada yang ingin dibicarakan lagi, ttebayo?" tanya Naruto memastikan.

Gaara masih diam.

Jade-nya memandang sapphire yang melihatnya dengan polos.

"Tidak." Jawab Gaara pelan.

Naruto menampilkan rentetan gigi putihnya.

"Baiklah, aku akan ke lapangan basket outdoor jika begitu. Aku ingin berlatih, ttebayo. Kau mau ikut?" tanya Naruto dan membenahi tali sepatunya yang terlepas.

Gaara masih mengamati kegiatan Naruto.

Seolah itu adalah hal yang sangat menarik.

"Hari ini aku ingin mengerjakan tugas praktikum Biologi."

GLEK

Naruto langsung memandang horror ke arah Gaara.

"Gaara! Kenapa kau mengingatkan ku dengan Orochimaru sensei, ttebayo? Oh tidak! Aku belum mengerjakannya. Tapi aku ingin berlatih. Gaara! Apa yang harus aku lakukan, ttebayo? Gaara!" Naruto meraung dan sesekali memegang pundak Gaara, memasang wajah merana.

Gaara menikmati semua ekspresi yang ditunjukkan pemilik kulit tan tersebut.

"Aku akan mengajari mu jika tugas ku sudah selesai." Jawaban Gaara dengan suara kalem-nya, baaikan oasis bagi Naruto.

Dengan segera ia memeluk Gaara dan berteriak senang.

"Gaara~~ kau penyelamatku, ttebayo"

Dan Gaara hanya bisa tersenyum senang. Senyum yang langka bagi Sabaku Gaara.

.

Naruto berjalan dengan riang ke lapangan outdoor. Hari sudah sore. Yah, meski senja belum membayang. Kedua tangan-nya sibuk memainkan bola orange. Kini ia sedang mengenakan celana training panjang berwarna orange dan juga jaket hitam dengan perpaduan orange.

"Oe! Chibi Kitsune!" suara baritone terdengar di indera pendengaran Naruto.

Ia mengenal suara ini.

Suara orang menyebalkan yang selalu memakai kalung dengan bandul kipas.

Naruto mengacuhkan suara tersebut yang berasal dari balik punggungnya. Langkah kakinya masih mantap ke depan. Menyusuri koridor gedung khusus untuk ekstrakurikuler. Memang benar jika tadi Naruto melewati lapangan basket indoor yang biasa digunakan anak-anak basket untuk berlatih.

Gyut

Untuk sesaat, Naruto merasa tercekik. Ini akibat ulah orang yang memanggilnya tadi. Dengan seenak hatinya, Uchiha Sasuke –nama si pemanggil- menarik kerah jaket Naruto.

"Oe! TEME! Lepaskan, ttebayo! Kau bisa membunuhku! Uhuk!" seru Naruto keras di sela usahanya memberontak.

Sasuke dengan kalemnya melepaskan pegangannya pada kerah jaket Naruto. Hanya untuk mendapati keterkejutan pada rahang pipinya yang berdenyut sakit.

Sasuke memandang Naruto.

"Kau pikir apa yang kau lakukan?" desis Sasuke berbahaya.

"Meninju orang brengsek tentu saja!" balas Naruto dengan senyum meremehkan.

Sasuke hanya tersenyum miring mendengar jawaban Naruto.

'Menarik' batinnya.

"Oe! Teme! Apa kau melihat bola ku?" tanya Naruto panik saat mendapati bola orange kesayangan-nya. Yang ia dapat setelah merengek pada Minato untuk mengirimkan bola basket kesayangannya dari Konoha.

"Oh tidak! Jangan katakan Kyubi menghilang dari ku, ttebayo!" gumam Naruto yang dengan frustasinya berlarian di sekitar koridor untuk mencari bola basketnya.

Sasuke mengamati Naruto dan kegiatan bodohnya dengan tenang. Onyxnya lalu teralih pada sisi kanan kaki-nya yang terdapat sebuah bola orange.

Sasuke mengalihkan onyxnya pada Naruto kembali. Dan ia masih mendapati si pirang panjang tersebut masih dengan hebohnya mencari bola basketnya dengan terus menggumamkan nama Kyubi.

"Apa kau menamai bola mu?" tanya Sasuke yang mampu menghentikan gerakan panik Naruto.

Naruto menolehkan sapphirenya ke arah Sasuke.

"KYUBI~~~" seru Naruto keras dengan mata berbinar.

Dengan secepat kilat Naruto mengambil Kyubi –nama bola basket Naruto- yang berada di samping kanan kaki sang Uchiha.

"Jadi, kau benar-benar menamai bola mu? Kau pikir berapa umur mu?"

"Itu tidak ada hubungannya dengan mu Teme." Sungut Naruto kesal.

"Ada yang ingin kutanyakan pada mu Chibi Kitsune."

"Nanda?"

"Apa kau," Sasuke mengamati Naruto yang sedang celingukan mencari tas-nya yang entah ia buang kemana. "Apa kau, memiliki saudara kembar?"

Tap

Gerakan langkah kaki Naruto yang hendak mengambil tas-nya terhenti. Naruto melihat sengit ke arah Sasuke.

"Apa maksudmu?"

"Yah, entah kenapa kau mengingatkan ku pada seorang idiot yang ku temui di halte bus. Ku pikir itu kau awalnya. Kau, sama berisiknya dengan dia jika sedang kesal." Ucap Sasuke santai seraya melangkah pelan.

Melewati bahu Naruto yang masih terdiam.

'Dia, mengingat ku? Apa dia menyadari jika aku lelaki? Tidak! Aku belum ingin berpisah dari Ruko-chan! Akan berbahaya jika ada orang yang tahu. Kepala sekolah akan mengeluarkan ku sesuai dengan perjanjian saat itu.' Naruto terus bergumam dalam hati.

Sedikitnya ia merasa takut jika Sasuke mengenali-nya.

"Oe! Chibi Kitsune!"

De javu

Sebelumnya, Naruto mendengar suara baritone tersebut dibalik punggungnya. Dan sekarang ia mendengar suara itu lagi, dengan nama panggilan yang sama. Ia benar-benar merasa de javu.

Dengan gerakan pelan, Naruto memutar tubuhnya menghadap Sasuke.

"Tertarik untuk bertanding dengan ku?" tantang Sasuke.

Entah bagaimana bisa bola yang tadi ia pegang kini ada ditangan Sasuke.

"Hie! Kyubi!" sapphire Naruto mengedar ke kedua tangannya yang kosong. Ia lalu kembali memandang Sasuke.

'sejak kapan dia,'

Melihat ekspresi bodoh Naruto yang sedang terkejut, Sasuke hanya tersenyum remeh dan kembali melangkah.

"Jika kau kalah. Kau harus berkencan dengan ku, Chibi Kitsune!" ujar Sasuke kemudian.

Sedangkan Naruto dibelakangnya segera menyusul langkah kaki Sasuke sesaat setelah mendapatkan kembali tas nya.

"Berkencan?" gumam Naruto yang berjalan selangkah dibelakang Sasuke.

"Hn,"

"Etoo~~ apa kau yakin dengan tawaran mu?" tanya Naruto dan memandang penasaran punggung Sasuke.

"Hn, tentu saja Chibi."

"Aku bukan Chibi, Teme!"

"Hn,"

"Ck," Naruto mendecih sebal mendengar kalimat paling menyebalkan dari Sasuke.

"Baiklah! kalau begitu aku akan mengalah dari mu, ttebayo!" putus Naruto dengan wajah sumringah.

Sasuke memadang Naruto melalui bahu-nya. Ia merasa heran dengan ucapan Naruto.

"Apa maksud mu dengan sengaja mengalah, Usuratonkachi?"

Twitch

Dahi Naruto berkedut mendengar panggilan Sasuke.

"Siapa yang kau panggil Usuratonkachi, Teme!"

Sasuke menghentikan langkahnya. Badannya memutar menghadap Naruto yang masih bersungut-sungut.

BUG

Tubuh Naruto terpental sesaat setelah menabrak badan Sasuke yang tiba-tiba berhenti.

"Sengaja mengalah hanya untuk berkencan dengan ku! Bukankah itu hanya dilakukan oleh pecundang, huh?" Sasuke memandang remeh ke arah Naruto. Jujur saja ia kecewa dengan tanggapan Naruto tentang tawarannya.

Ia sudah membayangkan Naruto yang dengan menggebu-gebu sesumbar akan mengalahkan-nya karena tidak ingin berkencan dengan-nya. Sasuke pikir, Naruto berbeda dengan type wanita-wanita centil yang selalu mengerbungi-nya.

Naruto yang tadinya menggeram bersiap untuk meledak, kembali memasang wajah polos. Sedetik kemudian, cengiran lebar menghias wajah tan dengan goresan kumis kucing di setiap sisi pipinya.

"Hahaha.. tentu saja aku akan mengalah, ttebayo! Meskipun kau musuh ku, aku akan tetap senang jika ditraktir makan." Jawab Naruto dengan tawa khas-nya.

Sasuke mengernyit mendengar jawaban Naruto. Ia masih memperhatikan tingkah Naruto yang dengan konyolnya tersenyum lebar.

"Haah~~" Sasuke mendesah. Ia sungguh ingin tertawa sekarang. Bagaimana mungkin dia lupa jika gadis di depannya ini adalah seorang gadis yang polos.

"Oe! Chibi Kitsune" panggil Sasuke pada Naruto yang masih tenggelam dengan bayangan ramen.

Naruto mendongak menatap Sasuke sebagai respon jawaban akan panggilan Sasuke.

"Menurut mu, apa itu berkencan?"

Naruto memandang Sasuke aneh dan bingung. Bagaimana mungkin tidak bingung jika orang yang tadi mengajaknya berkencan malah menanyakan apa itu berkencan.

"Apa kepala mu terbentur, Teme? Kau baru saja menawarkan kencan dan kau bertanya apa itu berkencan? Kau butuh psikiater kurasa." Sarkas Naruto yang memandang mengejek kearah Sasuke.

"Jawab saja, Chibi!"

"Ck, tentu saja itu adalah kata lain mentraktir makan. Hanya saja, jika berkencan berarti hanya berdua saja, ttebayo! Jadi aku tidak boleh mengajak orang lain, termasuk Ruko-chan." Jawab Naruto dengan lantang dan bangga.

Bangga akan jawaban yang ia utarakan.

Sasuke tak bisa menyembunyikan senyum-nya. Naruto sungguh polos. Gadis didepaannya ini, sungguh membuat ia nyaman.

"Kau tersenyum?" Naruto memandang takjub ke arah Sasuke.

Menyadari kekonyolannya, Sasuke mengembalikan wajah datarnya.

"Kau tersenyum, Teme! Kau tahu? Kau terlihat lebih tampan jika tersenyum." Racau Naruto dengan wajah yang masih menampilkan ketakjuban.

Sasuke mengangkat lengan kanannya. Jemari telunjuk serta tengahnya ia arahkan pada kening Naruto. Dan dengan keras, ia menjentikkan pada kening Naruto. *pose Itachi ke Sasuke*

"Aku tahu, maka dari itu! Tetaplah memandang ku."

"Aw! Yak! Teme! Kenapa kau menyentil ku, ttebayo." Sungut Naruto yang memegang keningnya. Jentikkan Sasuke sangat tidak pelan. Dan jujur saja membuat kening Naruto berkedut.

Sasuke hanya mengendikkan bahunya.

"Tidak ada, aku hanya ingin melakukan itu saja. Baiklah ayo kita bertanding Chibi! Pastikan kau bisa mengalah dari ku!" ujar Sasuke dan membalikkan badan. Melanjutkan perjalanan yang sempat tertunda.

"Hah! Aku cukup tidak serius saja dalam melawan mu, ttebayo. Apa sulitnya?" gerutu Naruto dan mengikuti Sasuke berjalan.

"Percayalah Chibi, ini tak kan mudah?"

"Huh! Kau hanya ingin menakuti ku saja kan, Teme! Percayalah Teme, aku tidak akan takut semudah itu." Naruto tersenyum miring. Yang dibalas lirikan dari Sasuke.

Sasuke hanya mendecih.

"Chibi,"

Naruto mendongakkan wajahnya. Menatap Sasuke yang masih berjalan lurus. Lapangan basket sudah terlihat.

"Darimana kau dapat pengertian kencan seperti itu?" rasa penasaran Sasuke sudah tak dapat ia bending. Ia sungguh ingin tahu, darimana si polos ini mendapatkan pengertian konyol seperti itu.

"Shikamaru, dia selalu mengajak ku berkencan." Jawab Naruto cepat.

Sasuke melirik Naruto yang dengan semangat menjawab pertanyaannya.

"Dia teman ku sejak kecil, ttebayo. Kita berada di kompleks yang sama. Saat kelas dua Junior High dia mengajak ku berkencan. Dia bilang, itu adalah ajakan traktiran makan hanya berdua. Jadi aku tidak boleh mengajak saudara kembar ku, Ruko-chan." Jelas Naruto tanpa disuruh.

"Tentu saja aku tidak menolak ajakan makan, ttebayo. Terutama makan ramen! Hahaha." Tawa polos berderai dari bibir mungil Naruto.

Sedangkan disampingnya, Sasuke nampak mengeratkan genggaman tangannya. Merasa geram pada siapapun orang yang bernama Shikamaru. Tentu saja, karena ia telah membuat pengertian konyol tentang kencan. Memanipulasi arti sebenarnya untuk bisa memonopoli si pirang panjang disampingnya.

'Ck, kenapa aku harus geram! Bukan salah orang bodoh itu jika bisa membodohi ano Chibi! Dia memang benar-benar polos. Siapapun bisa merusak-nya!' gumam Sasuke dalam hati.

Sasuke memandang Naruto melalui bahunya. Naruto masih berjalan dibelakangnya. Lapangan basket sudah terlihat.

"Nah! Ayo mulai, Teme!" teriak Naruto kencang. Dengan semangat ia berlari mendahului Sasuke. Tentu saja dengan senyum cerianya.

Sasuke memandang senyuman itu. Senyuman yang lebar menenangkan hati. Mengetahui fakta bahwa dirinya telah jatuh dengan mudah membuat Uchiha Sasuke mendesah pelan.

'Bagaimana bisa, hanya karena senyumnya aku 'terjatuh'! Ck, Bodoh'

.

.

.

HANASANAI

.

.

TBC

Yosh!

Chap 5 up *ga pede.

Mina! Meskipun Vee ga pede dengan chap ini. Karena Vee ga dapet feelnya pas nulis. Tapi Vee mohon kritik dan sarannya ya.

Vee masih membutuhkan saran juga buat beberapa chapter yang akan mendekatkan antara SasuNaru dan GaaNaru. Tapi entah, Vee lagi kehilangan mood buat nulis adegan mereka berdua. Hahaha

Jadi, Vee tiap kali nulis langsung kebayang adegan buat next chap dimana SasuNaru, GaaNaru sudah dekat sekali. Kan aneh kalo tiba-tiba aku nulis gitu. Hehe

Mohon sarannya donk, buat adegan mereka next chapt *senyum kece ^^

Dan maaf, Sasuke saya bikin OOC disini. Karena Vee suka ngebuat Sasu yang ngejar Naru. Biar ga Naru mulu yang ngejar Suke, kaya di anime. Kan kasian Naru. Hahaha.

Yosh! Sekarang Vee balas review dulu.

hanazawa kay:: terimakasih sudah suka ff Vee. Vee juga suka karena kay-san sudah review^^ Arigatou Ne^^

Indah605 :: hehe, sudah terjawab kan ya indah-san ^^. Vee memang tidak bisa menggambarkan Kyubi sebagai manusia. Jadi ia bernasib sama dengan komite katak yang menjadi benda. Kyubi disini adalah bola basket Naruto. Maaf jika mengecewakan. Terimakasih sudah review^^

SNlop :: iya, Gaara nyaman karena Naru cowo. Kalau Gaara tahu.. kalau Gaara tahu, gimana ya ekspresinya? *thinking hard. Hahaha. Sasu percaya jika Naru perempuan. Karena Naru jakunnya belum tumbuh. Meski sempat membandingkan keduanya (Naru di bis dan Naru perempuan) tapi Suke ga begitu ambil pusing. Hehehe. Terimaksih ya sudah review^^

kyuubi no kitsune 4485 :: bagaimana dengan chap ini kyubi-san? Apakah juga menarik? Vee benar-benar takut mengecewakan. Karena, perasaan Vee saat menulis akhir-akhir ini tidak sama seperti saat nulis Chap 1&2. Yah ini karena kemarin belum ada beban pikiran. Sedangkan sekarang sudah mulai ada beban pikiran. Hehhe. Terimakasih reviewnya Kyubi-san. Tumben Kyubi-san tidak PM? Vee sempet cek PM lhoh. Hehe.

mifta cinya :: Trauma Gaara, entah akan dibahas atau engga. Tapi sepertinya akan dibahas saat ia akan menjadi topic utama dalam chapter. Tapi entah chapter yang keberapa. Kaya nya masih lama. Jadi Vee belum bisa jawab pertanyaan mifta-san untuk sekarang. Hehehe. Arigatou ne sudah review^^

rin oviana :: next! Hehe. Terimakasih sudah review^^.

intan. pandini85 :: sudah lanjut. Terimakasih reviewnya^^.

SasuNaru Couple :: belum tahu untuk berapa chapter. Tapi mungkin ada kalau 15. Jadi, bersiaplah untuk bosan. Hehehe. Terimakasih reviewnya^^.

SaoryAth :: Jujur saja, Vee suka baca komentar Saory-san yang sangat panjang. Hehe. Maaf, sebenarnya yang tentang memberi tanda dalam dialog itu, kemarin Vee belum nangkep *lola. Hehe. Jadi ini sudah Vee perbaiki. Bagaimana dengan penulisan Vee kali ini. Masih berantakankah? Vee rasa iya ya? *pundung. Vee harap bimbingannya kembali ne. terimaksih sudah review panjang. Vee suka sekali^^.

jewELF :: haha. Iya iya. Ini SasuNaru. Hehe. Benar juga ya. Ada Naruto mending di-YAOI-in aja. Kyaa~~ saya juga fujoshi! Haha. Suka histeris kalau ada adegan SasuNaru yang implisit di Anime. Haha. Iya ya. Andai Gaara tahu kalau Naru cowo. Gimana perasaannya ya. Gapapa *ngg~~ Vee harus panggil apa ya? Hehe. Terimakasih ya sudah review^^

choikim1310 :: iya. Pasti ada yang pindah. Karena baby Naruko disini saya buat untuk pengganti Naruto buat satunya. Entah Sasu entah Gaara. Hehe. Karena saya suka keduanya. Saya suka SasuNaru dan GaaNaru. Hehe. Semoga saja. Saat salah satu dari mereka berpaling, bukan karena alasan yang sama yang saya rasakan. Yakni hanya pengganti. Kan kasih baby Ruko nanti. Hahaha. *ketawa gaje. Terimakasih sudah review^^.

Ryuusuke583 :: ini sudaah next Ryu-san! Semangat! Hehehe. Gimana chapter ini? Ada saran untuk next chap? Hehe. Arigatou ne, sudah review^^.

Dewi15 :: sudah lanjut. Terimakasih reviewnya^^.

Shima :: iya! Sampai diemin Naruto. Tapi Ruko ga lama-lama kok syok nya. Hehhe. Terimaksih reviewnya^^.

Uzumakinamikazehaki :: terimakasih. Ini sudah lanjut. Review lagi yaa^^.

miszshanty05 :: ini sudah next. Hehe. Terimakasih^^

Ichijo sena :: haha. Sasu memang saya buat agak mesum. Sebenarnya, dia suka ngegodain Naru. Karena Naru itu ga kaya cewe kebanyakan yang suka goda dia. Jadi dia suka deh goda Naru. Ahhaha. Sudah terjawab yah di chap ini. Hehee. Ne Semangat! Terimakasih sudah review^^.

Mimo Rain :: haha. Jangan galak-galak Mimo-san. Kan kasian Ruko-chan ttebayo! Haha. Terimaksih sudah review ne^^

Gyumin4ever :: haha. Namanya juga Naruto. Aku suka gemes kalau lagi nonton yang episode dia dterangin sama Kakashi sensei tapi ga paham-paham. Hahaha. Pengen bikin yang kaya gt. Biar bodoh. Tapi bisa paham dengan caranya sendiri. Tapi belum bisa *sad. Iya ya! Gimana reaksinya Gaara kalau tahu Naru itu cowo? Hahaha. Tunggu jawabannya di chapter entah keberapa. Hihi. Terimakasih sudah review^^.

Jaa~~'sudah semua ya.. maaf jika ada yang terlewat.

Akhir kata.

~Salam Vee^^