Title:
I Won't Let You Go
Disclaimer:
Naruto milik Masashi Kishimoto
Fict ini milik Vee
Genre:
Romance and Family
Pair:
SasuNaru as main pair
Warning:
YAOI (Boys Love), OOC, Typo(s). Borring. Alur Lambat. No Edit
By : Versya (Vee)
Note: Terinspirasi dari manga "Mint Na Bokura". Akan ada beberapa bagian yang sama dengan manga aslinya. Tentu saja hanya temanya yang sama, bukan ceritanya :) hehe
Btw. Di chap ini, Sasuke OOC banget. Jadi sebelum kalian membaca dan sekiranya ga suka kalau Sasuke OOC, Vee harap jangan lanjutkan membaca. Takutnya kalian kecewa. Hehe. Dan ini akan menjadi cerita yang panjang :)
Tapi, kalau yang tetep mau baca. Resiko ditanggung penumpang ya.
Njadi
Selamat membaca ^^
.
.
CHAPTER 7
.
.
Matahari pagi mulai membayang menjalankan tugasnya menyinari dunia. Desauan angin pagi yang sejuk mengantar seorang pemuda dengan gaya emo berjalan menuju gerbang asrama putra. Surai raven dengan gaya mencuat ke atas. Onyx yang tajam menatap acuh gerbang yang semakin nampak. Headphone dengan lambang kipas putih merah nampak menggantung di leher jenjangnya.
Dengan langkah pasti dan santai, Sasuke –sang pemuda- menapaki jalanan menuju ke arah halte terdekat. Sesekali ia akan menengok pergelangan tangan kirinya yang bertengger jam tangan. Senyum simpul sempat menghiasi wajah tampannya, saat mengingat tujuannya kini. Berjalan di pagi hari menuju halte di akhir pekan.
Sasuke nampak mengerutkan keningnya, saat onyxnya menjumpai pemandangan di depannya. Tepat di halte yang ia tuju, nampak seorang gadis pirang sedang merapatkan jaket orange-hitamnya.
"Baka Chibi?" tanya Sasuke heran dalam kebingungannya.
Dengan langkah agak tergesa, Sasuke mendekati sang pirang.
TAP
Tepat ketika sepasang kakinya menginjak aspal yang berada di depan sang pirang, 'gadis' tersebut mendongak ke atas dengan wajah menahan kantuk dan mata memerah.
"Ohayou, Teme." Sapa sang 'gadis' pirang dengan mengeratkan lengan-lengannya untuk dapat memeluk dirinya sendiri lebih erat. Mengusir hawa dingin yang semakin menusuk.
Sasuke nampak kaget melihat kondisi si 'gadis' pirang. Terlebih menyadari bahwa sang 'gadis' sudah ada disini sekarang.
"Apa semalaman kau berjaga disini, Chibi?" tanya Sasuke dengan intonasi mengejek.
Sejujurnya Sasuke hanya ingin tahu alasan apa yang membuat Chibi kesayangannya nampak kacau seperti sekarang. Namun, berterimakasihlah pada kata-kata mengejek yang terlontar dengan sendirinya sekarang.
"Teme! Sudah berapa kali ku katakan! Jangan panggil aku chibi! Aku tidak sependek itu, ttebayo." Gerutu Naruto sebal. Sedetik kemudian, ia nampak menutup bibirnya dengan telapak tangan karena sedang menguap.
"Ck, kau akan berkencan dengan seorang lelaki tampan. Dan kau hanya berpakaian seperti itu. Terlebih kau terlihat kacau! Kau merusak mood kencan ku saja, Chibi Kitsune!" ucap Sasuke dengan nada naik satu oktaf.
Sasuke memang jujur mengatakan, bahwa mood nya hancur dengan penampilan berantakan dari Naruto. Penampilan Naruto terlihat sangat tidak menyukai kencan ini.
Naruto nampak mengedip-ngedipkan kelopak matanya. Merasa bingung dengan ungkapan Sasuke. Setelahnya, ia melihat pada dirinya sendiri. Meneliti setiap jengkal tubuhnya.
"Memang, penampilan ku seperti apa, tteba? Ku rasa aku berpenampilan seperti biasanya, Teme." Jawab Naruto dan menampilkan wajah polos.
Sasuke hanya berdecak pelan. Setelahnya, ia ikut duduk disamping si pirang.
"Lihat mata merah mu itu! Apa kau sebegitu tidak sabarnya bertemu dengan ku sampai begadang semalaman." Nada sarkas dari Sasuke menghampiri gendang telinga Naruto.
"Oe, Teme! Kau jangan salah paham. Mataku merah bukan karena begadang tidak sabar menunggu mu, ttebayo!" Naruto menghentikan ucapannya.
'tapi karena semalam air mandi tiba-tiba habis sehingga aku harus menahan mataku yang perih karena shampoo.' Lanjut Naruto dalam hati.
Naruto bersumpah tidak akan menceritakan kejadian memalukan semalam pada Sasuke. Atau ia akan berakhir menjadi bahan cibiran Sasuke.
"Hah! Lalu, bisa kau jelaskan. Kenapa sekarang kau disini? Bukankah aku menyuruh mu datang jam 8? Ini bahkan masih jam 7." Sasuke menghentikan ucapannya sejenak. Tangan pucatnya terangkat menyentuh kedua sisi pipi tan Naruto.
"Pipi mu bahkan sangat dingin. Sudah berapa lama kau diluar?" tanya Sasuke lagi. Sedikitnya, Sasuke nampak khawatir pada Naruto.
"Aku tidak ingin Ruko-chan menanyai ku macam-macam, ttebayo. Jadi aku bangun sebelum Ruko-chan dan pergi kesini secepat mungkin. Lebih baik jangan banyak bicara disini, Teme! Aku takut, jika Ruko sudah bangun dan berjalan kesini. Karena sebelumnya, kita akan ke tempat sepupu ku." Jawab serta jelas Naruto panjang lebar.
"Hn," jawab Sasuke singkat.
Alis Naruto nampak berkedut mendengar jawaban singkat Sasuke. Sapphirenya menatap kesal ke arah Sasuke yang masih memandangi jalan. Seolah, jalanan terlihat lebih indah dibandingkan dengan Naruto.
"Kau memang sangat menyebalkan, Teme! Apa kau tahu itu?" sungut Naruto, masih memandang Sasuke sebal.
Sasuke nampak melirik ke arah Naruto.
"Hn, aku tahu." Jawab Sasuke acuh. Menambah kekesalan Naruto.
"Teme. Aku serius. Ayo cepat kita pergi dari sini, sebelum Ruko-chan, ttebayo."
"Lebih baik kita batalkan saja, Chibi. Kau terlihat tidak menyukai kencan ini."
"Eh? Kenapa bisa begitu?" tanya Naruto heran dan memandang penasaran ke arah Sasuke yang masih memasang wajah stoic.
"Lihat dirimu? Kau akan kencan dengan ku. Tapi kau mengenakan clana training, kau pikir kita akan berolahraga? Dan kau hanya mengenakan kaos juga jaket. Itu sungguh tidak menyenangkan, kau tahu?"
Kedip
Kedip
Kedip
Merasa tidak mendapat respon, Sasuke menolehkan onyxnya ke arah Naruto. Hanya untuk mendapati sapphire yang menatapnya berbinar. Sasuke cukup kaget dengan pandangan Naruto sekarang.
'Apa Naruto salah minum obat?' pikir Sasuke.
"Kenapa kau menatap ku seperti itu? Mau kucium?" ucap Sasuke pada akhirnya, yang seketika menghentikan tatapan berbinar Naruto.
"Ugh, Teme! Apa tidak bisa kau menghentikan sifat mesum mu itu, ttebayo?" keluh Naruto, dan memandang sebal ke arah Sasuke yang kembali menatap ke arah jalan raya.
"Hn,"
"Gyaaah! Teme! Kau tahu? Aku tadi sempat amazing karena kau bisa mengeluarkan kalimat panjang. Yang terdengar seperti merajuk, ttebayo. Haha. Jadi, tolong jangan menggunakan 'hn,' ga penting mu itu, ok! Kau terlihat semakin menawan dengan kalimat panjang mu, Teme." Ujar Naruto dengan intonasi naik turun disetiap kalimatnya. Dan juga mata yang berbinar jahil. Akh, dan juga jangan lupakan senyum jahilnya.
"Hn," balas Sasuke singkat.
Twitch!
Naruto menggeram kesal mendengar respon Sasuke. Namun itu hanya sementara saat ia mengingat rajukan Sasuke sebelumnya. Naruto paham jika ia telah mengecewakan Sasuke yang ingin berkencan dengannya.
Naruto tidak bisa menyalahkan Sasuke, karena ia yang memulai semua ini. Yang Sasuke tahu, dirinya adalah seorang wanita. Mengingat hal itu, Naruto segera merubah raut wajahnya.
"Sasuke~~" panggil Naruto dengan nada manja. Membuat Sasuke sempat tersentak kaget.
Ini kali pertama ia mendengar panggilan Naruto dengan nama aslinya. Terlebih, dipanggil dengan nada manja.
"Suke. Sudahlah jangan marah, ttebayo! Ok! Aku minta maaf, karena tidak bisa berpenampilan seperti gadis-gadis yang kau suka." Berhenti sejenak.
'Karena memang aku bukan gadis, ttebayo.' Lanjut Naruto dalam hati.
"Tapi setidaknya, aku sudah menunggu mu disini untuk janji kencan kita. Tidakkah itu cukup, tteba?" tanya Naruto dengan wajah polos. Memandang melas ke arah Sasuke yang mulai goyah.
Naruto.
Tidakkah kau sadar dengan ucapan mu barusan?
Bukankah itu terlihat seperti kau sedang merayu kekasih mu yang sedang merajuk.
Sasuke mengarahkan onyx tajamnya ke arah Naruto. Menatap Naruto intens.
Sedangkan Naruto yang merasa di tatap oleh Sasuke, nampak sedikit risih.
"Chibi," panggil Sasuke dengan suara rendah.
"Ya." Jawab Naruto gugup.
"Apa kau sudah mandi? Apa kau sudah sikat gigi?" tanya Sasuke ngawur.
Hingga membuat kedutan di pelipis Naruto.
"Tentu saja, ttebayo! Kenapa kau menanyakan hal tida-"
Mendadak suasana menjadi hening. Suara Naruto teredam. Terlebih, seluruh system motoriknya tidak dapat bekerja dengan baik. Sapphirenya membulat sempurna. Merasakan sengatan-sengatan menyenangkan di dalam tubuhnya.
"Kau cerewet sekali." Ucap Sasuke dengan bibir yang masih menempel di bibir Naruto.
Setelah tadi, bibirnya menyesap lembut bibir atas dan bawah Naruto. Kini bibir Sasuke mengecup-ngecup pelan bibir Naruto. Sedangkan sang empunya bibir yang sendari tadi dikecup Sasuke, terlihat masih shock.
Onyx Sasuke memandang sapphire yang masih membola. Dengan tidak rela, Sasuke menjauhkan wajahnya.
Kedip.
Kedip.
"T-Teme!"
Telapak tangan Sasuke kembali menangkup pipi tan Naruto.
"Nah, sekarang wajah mu tidak dingin lagi. Jadi, ayo kita berkencan. Dan berhenti membuat ku khawatir."
Dan sekali lagi, Sasuke mengecup bibir Naruto. Setelahnya Sasuke berdiri. Menggenggam tangan Naruto yang masih duduk dengan wajah memerah.
"Kita pergi sekarang. Bus sudah terlihat." Ujar Sasuke singkat.
Sedangkan Naruto hanya ikut berdiri dan mengangguk singkat.
'Tidak!
Ini salah, ttebayo!
Bagaimana bisa aku sesenang ini dengan perlakuan Sasuke-Teme! Seperti seorang gadis saja.
Akh, tidak! Mungkin ini hanya efek samping karena ciuman. Aku tidak pernah berciuman sebelumnya.. maka dari itu aku terlihat konyol seperti ini.
Yah pasti begitu.'
Naruto terdiam beberapa saat. Ketika sudah berhasil meyakinkan dirinya sendiri.
Tapi,
'Tidakkah ini aneh?' pikir Naruto.
"HIEE! Teme! Kau baru saja merebut ciuman pertama ku, ttebayo! Kau! Beraninya!" teriak Naruto di dalam bus. Yang mengundang kernyitan heran sang sopir bus, selaku manusia satu-satunya selain SasuNaru.
"Hn, dasar Baka Chibi." Balas Sasuke cuek dan memasang headphonenya. Tapi tidak ada lagu yang terdengar. Dia hanya sedang mencari alibi untuk bisa menahan senyum bahagia-nya saja.
"Aku tidak bodoh, Teme!" seru Naruto tidak terima. "Dan hei! Lepaskan headphone mu, tteba. Aku masih ingin marah-marah dengan mu!"
"Urusse yo, Chibi! Atau kau menginginkan aku mem'bungkam' mu lagi, huh?" gertak Sasuke dan memandang Naruto dengan seringaian di wajah tampannya.
Naruto langsung salah tingkah mendapati seringaian super mesum dari Sasuke. Dengan cepat dia menutup rapat bibirnya dan membuang muka. Tidak ingin bibirnya di'bungkam' lagi oleh Sasuke.
.
.
HANASANAI
.
.
Seorang gadis pirang nampak menggeliat malas di ranjangnya. Kelopak matanya berkedip-kedip pelan menyesuaikan cahaya mentari yang mulai masuk ke retinanya. Dengan gerakan malas, Naruko –sang gadis pirang- mendudukkan dirinya di ranjang. Hingga membuat selimut yang tadinya menutupi seluruh tubuh rampingnya turun hingga pinggangnya.
"Hah, sudah pagi." Gumam Naruko dan melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 8.
Setelahnya, Naruko menyibak selimut dan menurunkan kedua kakinya. Sapphirenya mengedarkan pandangan ke arah ranjang sang kakak. Selanjutnya, Naruko nampak memandang heran ranjang saudara kembarnya yang berantakan.
"Kemana Nii-chan?" heran Naruko.
Dengan langkah pelan, Naruko melangkah ke arah ranjang sang kakak. Naruko semakin heran saat tanpa sengaja melihat ke arah gantungan baju dan tidak mendapati jaket kesayangan Naruto, yang merupakan pemberian kakek mereka.
"Apa Onii-chan meninggalkan ku dan pergi terlebih dulu ke tempat Dei-nii?" gumam Naruko yang merasa heran tak mendapati sapaan pagi Naruto. "Akh! Itu tidak mungkin." Sangkal Naruko selanjutnya saat mengingat betapa protectivenya sang kakak.
Akhirnya, Naruko pun tidak ambil pusing dan membereskan ranjang Naruto. Baru saja ia memegang selimut Naruto yang menjuntai ke lantai, sapphirenya menemukan secarik memo atau lebih tepatnya surat yang tergeletak di meja belajar Naruto.
Naruko segera mendekat dan mengambil memo tersebut.
"Akh, tulisan Naruto Nii-chan." Seru Naruko semangat, seolah baru saja mendapat hadiah. Dengan cepat ia mendudukkan diri di ranjang dan membaca tulisan rumit Naruto.
.
Naruko-chan.
Ini Nii-chan, ttebayo.
Maaf, Nii-chan tidak bisa menemani Ruko-chan ke tempat Dei-Nii. Kau tahu, terkadang Nii-chan juga memiliki sesuatu yang harus diselesaikan.
Hm. Masalah lelaki. Yah seperti itu.
.
Naruko menghentikan bacaannya dan memiringkan kepalanya. Otaknya yang mengikuti gen sang ayah nampak sedang mencerna ucapan Naruto.
"Masalah lelaki? Apa maksudnya? Apa Nii-chan memiliki kekasih disini? Bukankah, Nii-chan masih sangat menyukai Sakura." Heran Naruko. Berusaha menebak, apa maksud dari 'masalah lelaki' tersebut.
"Atau Nii-chan sedang terlibat pertikaian? Akh, tapi kan Nii-chan sedang menyamar jadi perempuan." Naruko semakin dibuat penasaran dengan maksud 'masalah lelaki' versi Naruto di memo ini. Naruko telah memasang wajah serius yang sedang berfikir. Satu tangannya, ia biarkan menyentuh dagunya.
"Lebih baik aku mencari clue yang lebih banyak lagi." Putus Naruko dan melanjutkan membaca.
.
Ruko-chan.
Bisakah, Ruko-chan berdiam diri saja di asrama pekan ini, ttebayo?
Atau, jika memang Ruko-chan ingin pergi. Maka hubungi Dei-Nii dan minta dia untuk menjemputmu. Jika dia tidak mau, katakan padanya bahwa aku akan melaporkan perselingkuhannya kepada Sasori-Nii.
Hahhaa.
Dan, Ruko-chan.
Maaf, hari ini kau tidak akan bisa menghubungi Nii-chan karena handphone Nii-chan *coret*tertinggal*coret* lupa isi daya.
Baiklah. Jaga diri baik-baik. Nii-chan menyayangi mu.
Dari Nii-chan yang selalu menyayangi mu.
.
Naruko semakin mengerutkan keningnya membaca kelanjutan isi memo Naruto.
"Dei-Nii selingkuh?" tanya Naruko pada memo yang ia pegang. "Dan lagi. Memang sejak kapan Nii-chan, handphonenya bisa dihubungi? Bukankah sejak disini Nii-chan tidak pernah menghidupkan handphonenya, karena takut teman-teman di Konoha mencarinya." Gerutu Naruko.
Raut wajah Naruko terlihat kesal saat mengingat teman-temannya dari Konoha banyak yang menghubunginya karena tidak bisa menghubungi Naruto.
"Ck, jika bukan karena Naru Nii-chan, mereka tidak mungkin menghubungi ku. Terlebih orang itu." Gumam Naruko dengan raut wajah menyendu.
Otaknya kembali meminta dirinya untuk mengingat sosok lelaki tinggi yang selalu menjadi bayang-bayangnya. Sosok seorang lelaki dengan kulit putih yang telah mengambil seluruh hatinya.
"Tidak!" Naruko seolah tersadar akan pemikirannya tentang sosok itu.
"Aku harus melupakannya. Atau Nii-chan akan memarahi ku lagi." Tekad Naruko dan bergegas menghapus air matanya yang tanpa sadar membasahi pipinya.
"YOSH Naruko! Kau pasti bisa, ttebane! Ganbatte!"
.
.
HANASANAI
.
.
Naruto keluar dari bus dengan wajah sumringah. Suasana hatinya lebih baik sekarang. Sapphirenya memandang antusias Sasuke yang ada didepannya. Sedang duduk di pojokan halte. Di pojok sebelahnya, nampak seorang gadis muda berkacamata yang sedang membaca buku. Naruto memutuskan menghampiri Sasuke.
"Yo Teme. Kenapa kau memasang wajah begitu?" tanya Naruto dengan wajah polos.
"Hn."
Naruto berdecak pelan mendengar jawaban Sasuke.
"Baiklah, Sasuke-sama. Kenapa kau memasang wajah kesal? Apalagi kesalahan ku, ttebayo?" gerutu Naruto dengan wajah pura-pura menyesal.
Sasuke hanya melirik Naruto sekilas dan kembali memasang wajah stoic.
"Gyaah! Teme! Kau itu sebenarnya kenapa, tteba? Kenapa kau mudah sekali merajuk sih? Seperti wanita saja!"
Glare
Naruto segera menyesali ucapannya saat melihat deathglare mematikan dari Uchiha Sasuke.
"Ulangi sekali lagi perkataan mu, Chibi!" ucap Sasuke dengan suara rendah penuh intimidasi.
"T-T-Teme!" Naruto merutuki mulutnya yang merapalkan kalimat penuh kegugupan. Dengan secepat kilat Naruto melangkah mundur menjauhi sang Uchiha. Hingga kini ia berada disamping gadis muda yang sedang membaca buku.
Sasuke hanya melihat malas Naruto. Onyxnya kembali menyapa jalanan yang terlihat ramai.
"T-Teme." Panggil Naruto ragu-ragu.
Hening.
"Teme." Panggil Naruto lagi.
Hening.
"Hei, Sasuke. Apa kau mendengar ku?" panggil Naruto akhirnya dan bergeser pelan mendekati Sasuke.
Sedangkan Sasuke tetap pada pendiriannya mengacuhkan Naruto. Ia masih merasa kesal pada kejadian beberapa menit yang lalu.
.
Naruto nampak bosan berdiam diri. Hal itu terbukti dari jari jemarinya yang tak bisa diam memainkan apa saja yang dapat ia jangkau.
"Teme." Panggil Naruto pada akhirnya.
"Berhenti memanggil ku seperti itu, Chibi. Kau sudah tahu nama ku."
"Baiklah, aku akan memanggil nama mu jika kau juga memanggil nama ku." Sahut Naruto cepat.
"Hn."
"Teme! 'Hn' mu itu berarti iya atau tidak."
"Hn."
"Aish! Aku serius tidak mengerti apa yang kau katakan, ttebayo. Berbicaralah seperti orang normal pada umumnya, Teme!"
"Hn."
Naruto merasa sangat frustasi menghadapi sikap menyebalkan Sasuke. Terlihat dari gesturnya yang seolah ingin mencakar Sasuke.
"Diamlah, Chibi. Kau berisik sekali."
Naruto semakin terlihat kesal mendengar nada datar Sasuke. Akhirnya Naruto membuang muka. Sepertinya memandang pemandangan di luar jendela lebih indah daripada harus berhadapan dengan manusia abnormal macam Sasuke.
Yah, setidaknya begitulah yang dipikirkan Naruto.
Lama keheningan itu terjadi. Bahkan Sasuke juga tidak mendapati gesture Naruto yang tidak bisa diam. Merasa aneh dengan keheningan Naruto, Sasuke akhirnya menoleh ke arah Naruto. Hanya untuk mendapati Naruto yang tertidur pulas.
"Kau. Bagaimana bisa dia tertidur saat kencan." Kesal Sasuke dan mencoba membangunkan Naruto dengan menyenggol lengannya.
"Chibi!"
Tidak mendapat respon yang diinginkan, Sasuke mulai menoel-noel pipi tan Naruto.
"Dia tidur atau mati." Kesal Sasuke.
"Chibi!" panggil Sasuke sekali lagi dan menepuk-nepuk pipi Naruto. Namun suasana masih hening. Semakin menambah rasa kesal Sasuke.
Akhirnya sepanjang perjalanan menuju pusat kota, dilalui Sasuke dengan keheningan.
.
"Suke~~" suara Naruto kembali menyambangi indera pendengaran Sasuke.
"Hn."
Naruto kembali berdecak kesal saat mendapati dua suku kata andalan Sasuke kembali terdengar oleh telinganya.
"Maa~~ Teme. Jadi kita akan pergi kemana?" tanya Naruto penasaran.
"Love Hotel." Jawab Sasuke singkat.
Membuat gadis muda berkacamata yang sendari tadi diam mendengar perdebatan SasuNaru menoleh cepat ke arah SasuNaru.
Sedangkan Naruto hanya memiringkan kepalanya. Rambut pirang tergerainya melambai-lambai mengikuti arus angin.
"Ini kan masih pagi Teme. Kenapa kita harus ke hotel?" tanya Naruto heran. Dahi nya nampak mengernyit. Mencoba menganalisa maksud dan tujuan Sasuke pergi ke hotel pagi-pagi.
Sasuke menaikkan alis kanannya. Onyxnya dengan cepat menatap Naruto yang masih dalam mode berpikir. Sasuke nampak menyeringai. Moodnya telah kembali dengan melihat wajah polos Naruto.
'Sepertinya ini akan menarik' pikir Sasuke.
"Ne, Teme! Kenapa kau diam saja?" buru Naruto tak sabar.
"Ada masalah jika ke hotel di pagi hari? Bukankah itu tempat kencan paling menyenangkan?" goda Sasuke dengan intonasi datarnya. Dan jangan lupakan jika Sasuke masih memasang wajah stoic andalannya.
"Tentu saja, ttebayo! Harusnya kita ke hotel malam hari saja. Apa kau masih mengantuk, Teme? Sampai-sampai harus pergi ke hotel? Kenapa kita tidak kembali ke asrama saja?" heran Naruto dan memandang penasaran ke arah Sasuke.
Sasuke berusaha keras untuk tidak tertawa. Benar kan apa yang dia pikirkan. Ini pasti akan menarik. 'Gadis'nya akan selalu membuat kejutan untuknya.
Sedangkan gadis muda berkacamata yang sendari tadi kehilangan focus membacanya nampak bersweetdrop ria mendengar jawaban Naruto. Gadis muda tersebut nampak menggeleng-gelengkan kepalanya pelan dan melanjutkan membaca.
"Chibi Kitsune." Panggil Sasuke dengan suara rendah.
Naruto segera waspada dengan nada bicara Sasuke. Ia sudah cukup pengalaman untuk siaga ketika Sasuke berbicara dengan nada rendahnya.
"H-Ha'i." jawab Naruto ragu.
"Apa kau masih mengingat apa arti 'kencan'?" tanya Sasuke dengan nada main-main. Membuat bulu kuduk Naruto meremang seketika.
.
"Kencan bagi ku bukanlah mentraktir makan, tapi.. melakukan ciuman sepanjang hari.. hanya berdua. Kau dan aku."
.
Naruto ingat sekarang. Terimakasih pada kelebatan ingatan saat Sasuke membisikinya seuntaian kalimat yang membuat ia uring-uringan.
GLUP
Naruto nampak menelan ludah gugup.
"T-Teme." Panggil Naruto ragu.
Sedangkan Sasuke hanya mengamati setiap ekspresi dari Naruto yang terlihat sangat menggemaskan dimatanya.
"Hn."
"Kau. Kau tidak serius kan tentang, eng~ pengertian ken-can mu itu." Tanya Naruto kikuk.
"Bukankah itu tempat kencan yang sangat sempurna, Chibi?" seringai khas Sasuke kembali menghampiri wajah tampannya saat mendapati raut ketakutan Naruto.
"Suke." Panggil Naruto dengan intonasi tinggi. "Bagaimana jika berkencan di taman bermain, ttebayo." Cetus Naruto tiba-tiba. Berusaha mengusulkan tempat agar terhindar dari Love Hotel pilihan Sasuke.
"Kekanakan."
Naruto mengerucutkan bibirnya kesal saat mendapati respon Sasuke.
"Bagian mananya yang kekanakan, tteba! Lagian aku sudah lama tidak pergi ke taman bermain. Ayolah, Teme." Bujuk Naruto dengan menggunakan puppy eyes no jutsu.
Sasuke benci keramaian. Ia benci ketika harus berkumpul dengan orang banyak dan mendapati gadis-gadis yang merayunya. Pengecualian jika gadis itu adalah Naruto. Maka tanpa pikir dua kali ia akan membalas setiap rayuan Naruto.
"Yah, Teme! Kita pergi ke taman bermain." Naruto masih berusaha membujuk Sasuke.
"Baiklah." Jawab Sasuke akhirnya.
"Yatta!" teriak Naruto senang. Ia bahkan sampai meninju udara kosong saking senangnya.
Sasuke menyeringai mendapati Naruto yang sedang senang.
"Di taman bermain ada biang lala. Aku rasa, tidak akan buruk jika menghabiskan ciuman dia biang lala. Kau ternyata romantis juga, Chibi!"
Petir tak kasat mata seolah menyambar Naruto saat ini. Gerakan celebrationnya terhenti seketika. Dengan gerakan patah-patah ia menoleh ke arah Sasuke. Sedangkan Sasuke masih memandang Naruto dengan wajah stoic andalannya.
'Mati saja kau, Teme!' maki Naruto dalam hati.
Sedangkan sang gadis muda di ujung halte nampak tersedak ludahnya sendiri saat mendengar ucapan Sasuke. Dengan lirikan tak ketara ia melihat ekspresi si pirang.
Naruto nampak menggeram kesal. Otaknya sedang mencari seribu alasan untuk menghindari kencan versi Sasuke. Di wajahnya nampak terlukis senyum palsu yang benar-benar menggemaskan bagi Sasuke.
"T-Teme. Sejujurnya aku… mm~~ kau tahu, aku.. aku tidak begitu menyukai ketinggian. Yah! Aku phobia dengan ketinggian, ttebayo. Jadi bagaimana jika ke taman bermain tanpa biang lala, tteba?" Naruto dan alasan briliannya. Begitulah ekspresi yang tercetak di wajah Naruto. Ekpresi kepuasan karena ia pikir bisa terhindar dari kencan versi Sasuke.
"Hn, apa kau memang sebodoh itu. Usuratonkachi?"
Twitch
"Apa maksud mu, Teme!" seru Naruto tak terima.
"Jika kau takut ketinggian, untuk apa ke taman bermain yang memiliki wahana permainan identik dengan tinggi? Apa kau mau ke rumah hantu supaya aku bisa memeluk mu dan mencium mu sepanjang waktu?"
"TIDAK!" seru Naruto lantang dan cepat, secepat ucapan Sasuke yang baru selesai.
Sasuke nampak menaikkan alis.
"Kau takut hantu?" tebak Sasuke tepat sasaran.
Naruto hanya diam.
"Baik. Aku simpulkan diam mu sebagai 'ya'. Lalu. Kau ingin bermain apa, Dobe?" ejek Sasuke dengan seringaiannya.
Dahi Naruto nampak berkedut.
"Kau! Teme! Setelah mengatai kitsune ku. Mengatai aku pendek. Bahkan menyebutku dengan pecundang. Sekarang kau memanggil ku DOBE? Kau mau mati? Hah!"
"Hn,"
"TEME!" jerit Naruto kesal.
Sasuke hanya mengusap telinganya yang terasa berdenging. Jeritan kesal Naruto benar-benar bisa memecahkan gendang telinganya.
"Urusse yo, Dobe." Balas Sasuke seraya berdiri saat ada bus yang ditunggu telah datang.
Melihat Sasuke yang berdiri dan memasuki bus, Naruto dengan sigap juga ikut berdiri dan mengekor dibelakang Sasuke.
"Teme, kita akan kemana?"
"Hn,"
"Yak!"
"Karena kau tidak menyukai semua wahana permainan maka kita akan tetap ke Love Hotel, Dobe."
Dan dengan selesainya jawaban Sasuke, sapphire indah Naruto nampak membola.
.
.
.
Naruto nampak mengerjab-ngerjabkan matanya jenaka. Dia sungguh takjub dengan apa yang dilihatnya kini. Mengabaikan Sasuke yang dengan wajah datarnya berjalan di depannya.
"Kau akan tetap menjadi idiot disana, Dobe?" ketus Sasuke tanpa memandang Naruto.
"Ne, Ne. Teme! Tidak bisakah kau lembut sedikit, ttebayo? Kau selalu saja pedas." Keluh Naruto dan mulai berjalan di belakang Sasuke.
Sasuke menghentikan langkahnya.
"Aku selalu lembut jika mencium mu. Apa aku pernah kasar dalam mencium mu?"
Smirk
Seketika rona merah memenuhi wajah Naruto hingga telinga.
"B-Bukan begitu. Yak! Teme! Kenapa kau selalu mesum, hah!" teriak Naruto kesal.
"Hn,"
Naruto hanya berdecak kesal mendengar jawaban Sasuke.
"Ano sa, Ano sa! Teme! Jadi, kau suka memainkan pedang?"
"Hn, tapi aku lebih menyukai katana."
"Apa kau sering berlatih di dojo ini?"
"Ini milik Kakek ku."
"Apa kau asli Tokyo?"
"Bukan."
"Jadi kau berasal dari mana?"
"Ck! Kenapa kau begitu berisik, Chibi."
"Kenapa kau suka sekali marah, tteba." Keluh Naruto dan mengerucutkan bibirnya.
"Apa kau sedang mencoba bertingkah cute didepan ku, Chibi?"
Naruto mengedip-ngedipkan kelopak matanya mendengar penuturan Sasuke.
"Apa maksud mu, Suke?"
Sasuke nampak berdecak.
"Lupakan!" ujarnya ketus dan kembali berjalan. Diikuti oleh Naruto dibelakangnya.
"Ne, Suke. Apa Love Hotelnya ada disekitar sini?"
Sasuke nampak menaikkan sebelah alisnya. Lewat bahunya, ia melirik Naruto yang memasang wajah penasaran. Terkadang berbinar saat melihat sesuatu yang menarik perhatiannya.
"Kenapa?"
"Kau bilang, kita akan ke Love Hotel. Tapi yang ku tahu ini adalah dojo pelatihan pedang. Apa aku salah?"
"Tidak." Balas Sasuke dan menuntun Naruto memasuki sebuah ruangan.
Sepi mendominasi ruangan tersebut. Nampak beberapa pedang menjadi ornament-ornament penghias dinding. Diujung ruangan terdapat tempat yang menyediakan pedang kayu.
Sasuke berjalan ke ujung ruangan.
"Apa kau ingin pergi ke Love Hotel?"
Dengan cepat Naruto menggeleng saat mendengar pertanyaan Sasuke. Apalagi melihat seringai mesum disana.
"Tentu saja tidak, ttebayo. Aku hanya merasa aneh saja. Aku senang jika kau tidak mengajak ku kesana."
Narutopun tersenyum senang. 'Karena itu artinya kau tidak akan mencium ku, ttebayo.'
Sasuke nampak sibuk melepaskan headphone dan tas kecil yang ia bawa dari asrama. Meletakkan dengan rapi ke sebuah tatanan rak yang sepertinya memang disediakan untuk menaruh barang-barang.
"Penampilan mu sekarang hanya cocok untuk tempat ini, Chibi. Kau pikir, kemana kita akan kencan dengan celana training dan kaos oblong serta jaket lusuh mu itu." Sarkas Sasuke.
Sedikitnya, Sasuke masih merasa kesal dengan penampilan Naruto yang sungguh diluar ekspentasinya. Tapi, Sasuke juga sudah sadar jika 'gadis' yang ia kencani ini memang berbeda.
Sasuke dibuat tersenyum saat mengingat bagaimana ia bisa terjerat oleh si pirang berisik disampingnya ini. Yang sekarang sedang mengoceh tak jelas.
'Dia benar-benar bukan tipe ku' gumam Sasuke dalam hati. 'Tapi dia bisa menaklukkan ku. Lalu aku bisa apa.' Lanjutnya bermonolog.
"Ne Suke. Jadi kau akan mengajari ku bermain pedang?" tanya Naruto excited. Jaket telah terlepas dari tubuhnya. Menyisakan kaos oblong warna putih dengan gambar pusaran angin ditengah dada.
"Bukankah kau masuk club judo? Aku sangat ingin merasakan kekuatan mu, Chibi."
Ini tantangan.
Naruto suka tantangan. Ia bisa melihat senyum menyebalkan dari si bungsu Uchiha saat mengatakan 'Aku ingin merasakan kekuatan mu'. Seolah wajahnya sedang meremehkan kekuatan Naruto.
Naruto menyeringai. Seringaian yang jarang ia keluarkan saat menjadi perempuan. Naruto merasakan dirinya yang asli kembali meliar saat mendapatkan tantangan dari Sasuke.
"Ku harap kau tidak akan menangis karena bantingan ku, Teme." Ujar Naruto dengan sapphire memandang remeh Sasuke yang sedang menggelar matras.
"Hn, lakukan jika kau memang bisa." Balas Sasuke cuek.
"Tentu saja aku bisa, ttebayo. Aku sering memenangkan pertandingan judo, kau tahu?"
"Baiklah. Jangan menyesal jika ternyata kau kalah, Chibi. Aku tidak akan melepaskan mu."
Smirk
Naruto benci Sasuke.
Tidak. Lebih tepatnya, Naruto membenci semua ekspresi dari Sasuke. Itu selalu membuat dirinya berdebar tak nyaman. Seolah dirinya bergejolak ingin menghancurkan wajah mesum yang selalu menyeringai padanya.
.
Deru nafas yang memberat nampak memenuhi seluruh isi ruangan. Naruto nampak sedang mengatur nafas dengan tidur teletangnya. Dadanya naik turun.
"Kau sudah akan mengalah, Chibi?" tanya Sasuke tak serius. Dia hanya ingin mengejek Naruto yang selalu sesumbar akan membantingnya. Tapi bahkan menyentuh-nya saja Naruto tak bisa.
"Urusai, Teme! Aku akan membalas mu. Tapi tunggu sampai aku mendapatkan nafas ku lagi." Jawab Naruto tanpa mau kehilangan harga dirinya.
Sasuke hanya memandang Naruto datar. Dirinya masih berdiri dengan tenang tanpa kelelahan sama sekali. Berbanding terbalik dengan Naruto yang bahkan bernafas saja dia kesulitan.
"Hn. Kau sungguh tidak ada baiknya sama sekali, Dobe. Payah dalam basket dan bela diri."
Naruto terdiam.
Sapphirenya memandang kosong atap dojo tempat ia bernaung sekarang. Telapak tangannya mengepal membentuk sebuah tinjuan.
Sasuke melihatnya. Melihat bagaimana Naruto yang menggeram kesal dan membentuk tinjunya. Melihat bagaimana Naruto mencoba bangkit kembali dan memandang sengit kearah Sasuke.
'Mudah sekali membuatnya kembali bersemangat' monolog Sasuke dalam hati.
Dan saat Naruto sudah mendapatkan kembali keseimbangannya, dengan cepat ia berlari ke arah Sasuke. Melayangkan kakinya untuk bisa menendang tulang rusuk Sasuke. Namun dengan mudah Sasuke menghindar.
Naruto tidak menyerah begitu saja dan kembali memutar tubuhnya ingin meninju Sasuke. Namun tanpa disadari oleh Naruto, Sasuke dengan cepat berada dibelakang Naruto.
"Menyerah sajalah, Dobe." Bisik Sasuke tepat ditelinga Naruto.
Naruto kehilangan focus. Tengkuknya meremang karena hembusan nafas Sasuke.
.
"Baiklah. Jangan menyesal jika ternyata kau kalah, Chibi. Aku tidak akan melepaskan mu."
"Tidak akan, Teme! Aku pasti mengalahkan mu, ttebayo."
"Jika kau kalah, minggu depan kau harus berkencan dengan ku lagi. Dan kau harus lebih menata penampilan mu."
"Mana bisa begitu."
"Disini, kekuatan mu yang menentukan Naruto. Apa kau takut?"
"Tentu saja tidak!"
.
Dan percakapan beberapa saat lalu kembali terngiang ditelinga Naruto.
"Kusso! Kenapa kau selalu merepotkan, hah! Sasuke!" teriak Naruto kesal dan menyerang Sasuke membabi buta.
Sedangkan Sasuke dengan tenang menangkis semua pergerakan Naruto.
"Kenapa kau begitu lemah, Chibi. Bagaimana kau bisa melindungi diri jika kau selemah ini."
"Urusai, Teme! Kau bicara terlalu banyak!"
BRUK
Naruto tersungkur dengan posisi terlentang. Badannya terasa berat dan tak dapat digerakkan. Sapphirenya menatap nyalang pada onyx yang kini ada diatasnya.
Sasuke mengunci pergerakan Naruto.
"Kau kalah untuk ketiga kalinya, Dobe. Dan itu artinya masih ada tiga kali kencan untuk minggu-minggu berikutnya." Putus Sasuke tanpa menghiraukan wajah kesal Naruto.
"Lepaskan aku, Suke."
"Hn."
Bukannya melepaskan, Sasuke malah mempersempit jarak wajah antara dirinya dan Naruto. Naruto segera memberontak dengan sekuat tenaga. Ia sudah cukup pengalaman untuk harus segera menghidar saat wajah Sasuke telah menunjukkan ekspresi seperti itu.
"Suke, kau terlalu dekat." Cicit Naruto seraya berusaha melepaskan kuncian Sasuke.
"Benarkah? Bukankah aku pernah lebih dekat dari ini?" balas Sasuke tak acuh dan masih memandang intens manik sapphire Naruto.
"Ngg~ Teme. Kau sungguh akan menyesal jika terus mencium ku."
"Aku belum menemukan alasan kenapa aku harus menyesal."
"Te-"
Dan, Naruto tidak dapat mengeluarkan alasannya lagi saat bibir basah dan hangat Sasuke membungkam bibirnya. Melumat dan menyesapnya dalam.
Perlahan Sasuke melepaskan kuncian tangannya yang membatasi pergerakan Naruto. Dengan perlahan Sasuke menyusuri pinggang Naruto dan merayap ke atas. Bibirnya masih aktif mencium lembut 'gadis' dalam tindihannya saat ini.
Sasuke benar-benar terbuai dengan ciuman ini. Bahkan Sasuke juga berhasil membuat Naruto ikut dalam ritme ciuman mereka. Meski gerakan bibir Naruto masih terlihat kaku.
Sasuke tersenyum dalam ciumannya.
'Got you!' sorak Sasuke senang.
Ciuman mereka berakhir setelah lima menit dan Naruto segera mendorong Sasuke karena kebutuhan oksigen. Sasuke nampak masih belum puas dan kembali mendekatkan wajahnya lagi.
Sebelum.
Kruyuk
Suara perut Naruto menginterupsi.
Onyx Sasuke manatap Naruto yang memalingkan wajahnya. Semburat merah masih setia memenuhi wajahnya.
"Kau lapar?" tanya Sasuke lembut.
Tangannya terulur memalingkan wajah Naruto agar kembali memandang onyxnya.
Pandangan Naruto nampak random. Meskipun wajahnya telah kembali menghadap Sasuke. Sasuke dibuat gemas dengan tingkah laku Naruto.
"Baiklah. Ayo kita makan." Putus Sasuke akhirnya dan mengecup bibir Naruto sekali lagi. Dan setelahnya, ia beranjak dari tubuh Naruto.
Membantu Naruto berdiri dan menggandeng tangannya.
Naruto hanya terdiam. Masih terlalu shock untuk mencerna semua kejadian tadi.
Apa baru saja dia membalas ciuman Sasuke?
Kenapa?
Bukankah, dia sadar jika dirinya adalah laki-laki. Bukan salah Sasuke jika dia terus mencium Naruto. Karena, Sasuke berpikir Naruto adalah wanita.
Tapi dia. Dia sangat tahu jika dia laki-laki.
Dan kenapa dia membalas ciuman Sasuke.
Naruto masih gagal paham dengan dirinya sendiri.
Sibuk dengan fikirannya, hingga tak menghiraukan Sasuke yang terus menggandengnya keluar dari ruangan yang sebelumnya menjadi saksi bisu dari ciumannya dan Sasuke.
.
.
.
.
HANASANAI
.
.
.
.
ToBeCont
.
.
.
Yosh Mina!
Maaf karena keterlambatan updet Vee. Sebenarnya bisa aja Vee ga telat. Tapi adegan diatas ga bakal ada. Haha
Karena Vee tahu bakal dapet demo jika tidak ada kencan SasuNaru makanya Vee buat ini panjang. *iyakan?
Maaf jika chap ini agak awkward. Karena diawal chap, Vee nulis saat Vee lagi vilek. Jadi ga begitu focus. Maaf ya.
Dan Vee juga mau ijin untuk tidak updet sampai akhir bulan Juli. Akan updet lagi agustus. Karena pekerjaan Vee semakin menumpuk saat menjelang lebaran dan musti kejar target juga. Dan Vee juga mau pulang kampong. Laptop Vee ga akan Vee bawa. Jadi maaf ya harus menelantarkan fict ini sampai akhir Juli. Hoho
Dan ini dia balasan review untuk yang tidak login. Yang login sudah Vee balas via PM ya. Karena kemarin Vee sempet buka laptop. Hhe
Guest_1 :: jangan panggil saya 'Thor-san' dong. Hehe. Panggil saja Vee^^. Chap ini sudah ada clue tentang siapa 'dia' ya. Bisa menebak 'dia' siapa? *plak. Ga! Becanda aku! Hehe. Vee sebenernya ga pengen buat teka-teki siapa 'dia'. Hanya saja, Vee suka aja goda reader *doubleplak. Haha. Bisa jadi. Bisa jadi. Hehe. Yosh. Sudah lanjut ya.
Guest_2 :: Kyaa~~ Sasuke emang Vee buat mesum. Haha. Bagaimana dengan chap ini? Singkat ga? Hoho. Aduh *hands up* Vee ga sanggup kalau seminggu 2 chap. Haha. Bener2 ga sanggup. Ok, ini lanjutannya. ^^
Ichijo sena :: Haha. Ini juga kan? Yah walau ada selingan Naruko nya. Habis banyak yang nanya siapa 'dia' sih. Termasuk Sena-san. Hehe. Akh, Vee juga suka adegan itu. Cz, Vee bayangin seberapa mesumnya Sasu. Kyaa~~ *mimisan. Yah bisa disimpulkan kan ya? Mengawali kencan dengan ciuman dan mengakhiri kencan dengan ciuman. Sepanjang hari kan *smirk. Akh terimakasih untuk komen parodinya. Naru memang hanya milik Sasuke. Kkk~. Yosh! Vee selalu semangat.
Ano-chan :: akh iya, sabar ya Ano-chan. Sebentar lagi akan YAOI kok. 1 chap lagi kayanya. Tapi ga janji untuk buat SasuGaa rebutan yang mainstream. Yah, aku kan juga harus menjaga perasaan baby Ruko. Tapi tenang. Sasu punya saingan kok nanti. *smirk. Dan hei. Si 'dia' itu bukan siapa-siapanya Ruko-chan lhoh. *bocoran. Haha. Bisa jadi. Bisa jadi. *smirk.
Aikhazuna117 :: Cukup panggil Vee aja ok. Hehe. Kyyaa~~ Ai-chan bikin Vee takjub. Ai-chan bisa berkarat O.O? haha. Nanti, Ai juga bakal tahu siapa 'dia' *smirk. Shika bakal ada masanya sendiri Ai-chan. Sabar yah. Aku juga suka pair mereka. Liat mereka di anime itu. Suka jejeritan sendiri. Tapi Narutonya masih setia sama si SASUKE. Haha. Ga peduli seberapa baik Gaara ataupun seberapa perhatiannya Shika. Hihi. Yosh. Ini updet.
Retnoelf :: Ok! Sudah Next ya.
Terimakasih untuk semua yang sudah review, fav, follow dan siders. Maaf jika ada yang terlewat. Mohon reviewnya untuk chap ini. Sebagai pembangkit semangat buat chap depan. Hehe
Akhir kata
~Salam Vee
