Title:

I Won't Let You Go

Disclaimer:

Naruto milik Masashi Kishimoto

Fict ini milik Vee

Genre:

Romance and Family

Pair:

SasuNaru as main pair

Warning:

YAOI (Boys Love), OOC, Typo(s). Borring. Alur Lambat. No Edit

By : Versya (Vee)

.

.

CHAPTER 8

.

.

Mata onyx Sasuke terus memandang ke depan. Wajahnya nampak datar namun bibir tipisnya terlihat melengkung ke atas. Sasuke terus memperhatikan seorang pemuda blonde yang sedang mengerucutkan bibirnya.

"Apa kau akan terus menghiraukan makanan mu, Chibi?" suara baritone Sasuke memecah keheningan yang tercipta.

"Ini semua salah mu, Teme! Sudah ku katakan aku ingin makan ramen, ttebayo! Kenapa kau masih mengajak ku makan ala tuan muda, huh!" gerutu Naruto masih membuang muka dari Sasuke.

"Kau terlalu banyak makan ramen, Dobe! Kau yang sudah bodoh bisa tambah bodoh." Ujar Sasuke cuek lalu meneguk ochanya yang masih mengepul. Meletakkan ocha di samping mangkuk nasi yang telah kosong.

Naruto memandang Sasuke sengit. "Berhenti mengejek ku, Teme! Aku tidak bodoh, tteba! Dan darimana kau tahu aku terlalu banyak makan ramen! Jangan sok tahu, Teme."

Sasuke hanya mengukir senyum lembut. Masih memandang Naruto yang enggan menunjukkan wajahnya. Angin semilir menerpa mereka berdua. Mengibarkan helaian poni Sasuke dan juga rambut jabrik Naruto.

"Aku selalu memperhatikan mu, Chibi." Sasuke merubah mimik wajahnya menjadi datar tanpa senyuman. "Aku juga tahu seberapa dekatnya kau dengan bocah merah itu." Lanjut Sasuke dan menatap tajam Naruto.

Naruto melirikkan ujung matanya untuk melihat Sasuke saat mendengar intonasi suaranya yang berubah. Naruto menghela nafas saat mendapati tatapan tajam Sasuke serta raut wajah Sasuke yang semakin tidak enak untuk dilihat. Naruto menundukkan wajahnya dan kemudian menatap Sasuke lembut.

"Namanya Sabaku Gaara. Dia teman ku, ttebayo. Jadi wajar jika kami dekat. Bahkan, kau dan aku yang tidak pernah akur juga bisa dekat kan?" Naruto mengukir senyum tiga jari. Memamerkan deretan gigi putihnya.

"Hn," Sasuke hanya menggumam tak jelas dan tidak merubah ekspresinya sedikitpun.

Naruto menjadi salah tingkah ditatap sebegitu tajamnya oleh mata elang Sasuke. "Ano sa, sepertinya makanan ini tidak buruk juga, ttebayo." Gumam Naruto dan mulai memegang sumpit. Matanya sesekali melirik ke arah Sasuke yang masih memandangnya tajam.

"Baiklah, baiklah. Kali ini apa lagi yang membuat mu marah, Teme! Kau benar-benar pemarah sekali, ttebayo." Gerutu Naruto dan meletakkan kembali sumpit yang telah ia pegang.

"Tidak ada." Jawab Sasuke singkat dan kembali meminum ochanya.

Naruto hanya menggeram kesal dan memalingkan wajahnya kembali. "Kau benar-benar menyebalkan, Sasuke!"

"Hn, cepat habiskan makanan mu. Aku akan mengajak mu ke suatu tempat." Balas Sasuke datar. Onyxnya tidak lepas mengawasi pergerakan si pirang di depannya.

"Apa kau akan mengajak ku ke dojo lagi?" tanya Naruto penasaran. Sapphirenya menatap Sasuke dengan penuh rasa ingin tahu.

"Kita masih di dojo, Chibi." Jawab Sasuke tanpa minat.

"Yah terserahlah, sekarang beritahu aku. Kemana kita akan pergi, Teme?" kesal Naruto dan mulai mengerucutkan bibirnya.

Sasuke yang melihat seberapa manisnya Naruto saat ini hanya bisa menyeringai jahil. "Ke suatu tempat dimana aku bisa mencium mu sepuas ku." Jawab Sasuke sekenanya.

"TEME HENTAI!" teriak Naruto histeris dan menutupi bibirnya.

"Hn."

.

.

.

.

"Serius Dei-Nii! Kau benar-benar berselingkuh dari Sasori-Nii? Woaaah!" seru seorang gadis pirang yang masih memegang tab ditangannya. Sapphirenya nampak berbinar senang.

CKLEK

Seruan sang gadis membuat seorang pemuda dengan rambut panjang yang masih basah menyembul dari balik pintu kamar mandi.

"Oe! Gadis nakal! Sudah ku katakan jangan menyentuh barang ku, hmm! Cepat letakkan tab itu, Naruko!" teriak Deidara.

"Aku tidak mau. Dan jangan coba-coba mengancam ku, kau tahu seberapa mengerikannya Naru Nii-chan jika sudah marah kan." Balas Naruko cuek dan masih memainkan tab ditangannya.

"Omae! Cep-"

"Woaaah! Kalian bahkan tidur bersama! Woaah! Bagaimana jika Sasori-Nii tahu-"

"Kau akan menjadi orang pertama yang ku bunuh, Naruko!" sentak Deidara kesal dan menutup pintu kamar mandinya. Naruko malah tertawa geli mendengar intonasi merajuk dari sepupunya.

"Kau pasti sudah tak bernyawa terlebih dahulu sebelum berhasil membunuhku, Dei-Nii!" teriak Naruko dengan binar jahilnya.

Dan dapat Naruko dengar teriakan-teriakan frustasi dari dalam kamar mandi. Sedangkan Naruko hanya terkikik pelan. Masih melihat tab yang menampilkan foto-foto yang diambil dari beberapa scene.

"Aku masih tidak percaya Dei-Nii benar-benar berselingkuh. Yah walaupun ku akui memang lelaki ini tak kalah tampan dari Sasori-Nii. Dan yah, kurasa lelaki ini lebih ekspresif daripada Sasori-Nii." Nilai Naruko sambil memperhatikan tab yang ia pegang dengan seksama.

Bunyi pintu yang terbuka menginterupsi Naruko yang masih mengamati tab ditangannya. Naruko mendongak dan mendapati Deidara yang sedang mengenakan celana panjangnya.

"Kau akan pergi, Dei-Nii?"

"Ya, dan kau lebih baik disini saja, hmm." Jawab Deidara cepat seraya memilah atasan apa yang akan ia kenakan.

"Kau akan menemui siapa? Sasori-Nii atau.." tanya Naruko mengambang.

Deidara menghentikan gerakannya dan menolehkan wajahnya ke arah Naruko yang sedang tersenyum jahil.

"Untuk beberapa alasan aku benar-benar membenci mu, Naruko! Hmm."

Naruko hanya tersenyum pelan mendengar hardikan sepupunya. "Salah mu sendiri berselingkuh."

"Aku akan pergi dengan Danna. Hmm. Kau baik-baiklah di apartemen, jangan keluyuran. Tunggu aku pulang, aku akan mengantar mu, hmm." Wanti Deidara yang sudah mendapatkan atasan apa yang akan dikenakannya.

"Kau benar-benar berselingkuh Dei-Nii?" tanya Naruko dengan raut wajah serius. Tidak ada lagi binar jahil diwajahnya.

"Ya, seperti itulah."

Naruko memandang Deidara lekat. Ia cukup merasa sedih mendengar intonasi suara yang dipakai sepupunya.

"Kau tidak menyukai perselingkuhan mu ini kan?" pancing Naruko yang masih ingin tahu masalah yang dihadapi oleh sepupunya.

"Bukan urusan mu, Gaki. Sudahlah, lebih baik kau ikut saja. Danna bilang dia juga membawa sepupunya." Sahut Dedidara yang masih memegang smartphonenya.

"Tidak, aku tidak mau. Aku hanya akan mengganggu Dei-Nii dan Sasori-Nii saja." Balas Naruko seraya meletakkan tab yang sendari tadi ia pegang ke meja dekat tempat tidur Deidara.

"Justru akan semakin mengganggu jika kau tak ikut, Gaki. Hmm."

"Eh? Kenapa bisa begitu?" tanya Naruko polos yang kini telah merebahkan tubuhnya ke kasur.

"Danna mengajak sepupunya, hmm. jika kau tak ikut maka kita akan jalan bertiga. Aku yakin kau tak sepolos Naruto, Ruko-chan. Hmm." Jelas Deidara dengan berkacak pinggang dihadapan Naruko.

"Tidak! Dei-Nii tidak bisa memaksa ku menemani orang yang tak ku kenal, ttebane! Akan ku adukan pada Nii-chan jika Dei-Nii berani melakukannya."

"Naruko! Apa kau masih berpaku pada orang brengsek itu! Hmm." Ini bukan pertanyaan tapi pernyataan dari Deidara. Naruko hanya menundukkan wajahnya. "Sudahlah Naruko, lupakan lelaki itu, hmm. Kau tidak memiliki alasan untuk menolak ajakan ku, hmm." Dan dengan berhentinya ucapan Deidara, dengan sadis ia menggenggam erat pergelangan tangan Naruko diiringi lalu menyeretnya untuk mengikuti langkah kaki Deidara

"Dei-Nii! Lepaskan aku, tteba. Aku akan mengadukan mu pada Naruto Nii-chan! Hanasai!" teriakan Naruko menjadi latar suara adegan Deidara yang masih kekeh menyeret Naruko keluar dari apartemennya.

.

.

.

.

"Ne.. Ne.. Suke! Lihat! Apa mereka sedang berlatih pedang?" tanya Naruto antusias saat melihat beberapa orang yang sedang berlatih pedang dengan menggunakan bokken*.

Sasuke hanya melirik Naruto sekilas dan tetap melanjutkan langkahnya. Ia tahu, Naruto tidak bertanya. Dia hanya kelewat antusias saja.

"Suke! Apa kau bisa memainkan seperti yang mereka mainkan, tteba?" tanya Naruto dengan mata memancarkan rasa penasaran yang tinggi. Sekarang Naruto mengimbangi langkah Sasuke dan memandang onyx yang balas menatapnya datar.

"Hn," balas Sasuke cuek.

"Jika kau bisa, kenapa tidak mengajari ku, Teme!" kesal Naruto dan melepaskan pandangan matanya pada onyx milik Sasuke.

"Fisik mu terlalu lemah, Chibi. Kau bahkan tidak bisa mengimbangi ku. Jika kau sudah bisa mengimbangi ku, aku akan mempertimbangkannya." Balas Sasuke dengan intonasi mengejek yang sangat ketara.

Naruto memandang sengit Sasuke. "Oe Teme! Kau jangan menghina ku, tteba. Aku bisa saja mengimbangi mu. Aku tadi hanya sedang kelaparan saja, ttebayo." Sanggah Naruto dengan sedikit berteriak dan menunjuk-nunjuk Sasuke yang ada disampingnya.

"Hn," Sasuke hanya tersenyum meremehkan yang mendapat geraman kesal dari Naruto.

Saat ini, Sasuke dan Naruto sedang berjalan keluar dari dalam dojo. Dengan Naruto yang terus memperhatikan sekelililngnya. Ia tak berhenti berdecak kagum dan mengungkapkan dengan antusias apa yang dilihatnya pada Sasuke yang hanya membalasnya singkat.

Sasuke terlihat seperti seorang kakak yang sedang mengajak adik kecil rekreasi saja. Sesekali Sasuke akan mengejek Naruto yang tentu saja akan dibalas sengit oleh Naruto. Hingga tanpa terasa mereka telah mencapai jalan raya.

"Ne Suke. Kau benar-benar tidak akan memberitahu ku, kemana kita akan pergi?" tanya Naruto untuk yang kesekian kali yang hanya dibalas lirikan onyx Sasuke. "Huh, dasar Kuso Teme!" kesal Naruto dan mengalihkan pandangannya ke jalan raya.

Sasuke melirik Naruto yang sedang kesal dan mengacak-ngacak surai pirangnya. Yang tentu saja ditepis dengan kasar oleh Naruto. "Jangan mengusak rambut ku seolah kau mengenal ku, ttebayo. Aku sedang tidak mengenal mu saat ini." Acuh Naruto dan kembali bersidekap tangan. Sejujurnya ia cukup takut jika Sasuke mengetahui rambut palsunya. Meskipun Naruto memakai wig dengan bahan rambut asli sehingga terasa halus jika disentuh, tetap saja ia takut ketahuan.

Sasuke tersenyum geli. "Benarkah? Baiklah, mari kita berkenalan. Aku si tampan Uchiha Sasuke. Jadi siapa nama mu, manis?" tanya Sasuke dengan nada sing a song.

"Si tampan apanya! Bukankah nama mu Uchiha Teme Sasuke, ttebayo!" balas Naruto cepat.

"Hn, kau bilang tidak mengenalku. Tapi kau bahkan terlihat sangat mengenal ku." Goda Sasuke yang sukses membuat wajah Naruto kesal sekaligus frustasi.

"TEME! Mati saja kau!" kesal Naruto dan menunjuk-nunjuk Sasuke yang dibalas Sasuke dengan senyuman geli.

"Nanti kau rindu padaku," Sasuke semakin senang menggoda Naruto.

"Aku tidak akan merindu-"

"Otouto," panggil sebuah suara yang berhasil menghentikan interaksi SasuNaru. Baik Sasuke maupun Naruto, memandang sang pemanggil yang saat ini sedang berjalan menuju ke arah mereka.

"Aniki." Balas Sasuke singkat. Wajahnya yang tadi menampilkan ekspresi geli karena tingkah Naruto kini kembali datar. Sedangkan Naruto masih memperhatikan sang pemuda dengan surai sebahu yang dikuncir rendah.

"Ku pikir aku salah mengenali. Ternyata memang benar kau, Otouto." Ujar sang pemuda yang dapat dipanggil dengan Uchiha Itachi, kakak dari Uchiha Sasuke.

"Hn," balas Sasuke singkat.

Itachi hanya memandang Sasuke datar dan mengalihkan onyxnya pada 'gadis' blonde yang berada disamping adiknya. Naruto yang merasa sedang dipandangi akhirnya membungkukkan badannya.

"Kau teman Sasuke?" tanya Itachi dengan senyum lembut.

"Ha'i. Namikaze Naruto desu." Jawab Naruto dengan senyum yang mengembang. Menampilkan deretan gigi putihnya yang rapi.

"Uchiha Itachi," balas Itachi singkat dengan senyum tipis.

"Ne Itachi-Nii, jadi kau kakak dari Sasuke?" tanya Naruto antusias. Itachi menganggukkan kepala sebagai jawaban.

"Kenapa berbeda? Sasuke selalu saja berwajah datar, Itachi-Nii lebih tampan." Ucap Naruto dengan wajah polosnya. Itachi menaikkan sebelah alisnya. Sedangkan Sasuke sedang memandang Naruto kesal.

"Dilihat darimanapun tetap akulah yang tampan, Dobe." Sahut Sasuke kesal karena dibandingkan lagi dengan kakaknya.

"Iie! Itachi-Nii lebih tampan daripada kau, Te-me!" goda Naruto dan menjulurkan lidahnya ke arah Sasuke. Sasuke mendengus kesal mendengar godaan Naruto.

"Hn," respon Sasuke singkat dan mengalihkan pandangannya yang membuat Naruto terkikik geli.

Itachi yang melihat interaksi antara SasuNaru dan juga bagaimana ekspresi adiknya sekarang hanya terdiam. Dalam hati, ia berterima kasih pada Naruto yang sudah mengembalikan adiknya yang penuh ekspresi semasa kecil dulu.

"Ne, Otouto. Kau baru saja mengunjungi Ojii-Sama?"

Sasuke menolehkan atensinya ke arah Itachi lalu menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak. Aku hanya bermain sebentar di ruangan biasa. Dan ya, mengambil sarapan juga. Tapi aku tidak menemui Ojii-Sama." Jelas Sasuke sebagai bentuk jawaban dari pertanyaan Itachi.

"Baiklah, aku akan menyampaikan salam mu nanti. Kau akan pergi?" tanya Itachi yang hanya sekedar berbasa-basi.

"Hn,"

"Jangan pulang terlalu larut ke asrama. Jangan lupa menghubungi Haha dan Chichi. Mereka merindukan mu." Wanti Itachi seraya mengusak rambut Sasuke yang langsung ditepis oleh empunya rambut. "Aniki pergi dulu." Pamit Itachi kemudian.

"Hn,"

Itachi mengarahkan onyxnya ke arah Naruto. "Aku pergi dulu, Naruto." Pamit Itachi pada Naruto dan mengusak rambut pirang Naruto.

"Ha'i. Hati-hati di jalan, Itachi-Nii." Balas Naruto dengan senyum lima jarinya. Itachi menganggukkan kepala sebagai jawaban dan berlalu pergi meninggalkan Sasuke dan Naruto yang masih berada dipinggir jalan.

Setelah kepergian Itachi, Sasuke menggenggam tangan kanan Naruto dan menyentaknya hingga Naruto kini berhadapan dengannya. Sorot mata Sasuke begitu tajam menatap sapphire yang tadi melotot hendak marah menjadi ketakutan.

"Sa-Sasuke," panggil Naruto terbata.

Sasuke tak menjawab panggilan Naruto. Tangan kirinya masih setia memegangi tangan kanan Naruto. "Jangan pernah sekalipun menolak sentuhan ku, tapi menyukai sentuhan orang lain, Chibi." Desis Sasuke tajam. Naruto meneguk ludahnya pelan.

"Dan ingat baik-baik. Aku lebih tampan daripada si Baka Aniki." Tegas Sasuke dan kemudian menyeret Naruto supaya mengikuti langkah kakinya.

"O-Oe! Teme! Aku bisa berjalan sendiri. Lepaskan tangan ku, tteba. Oe, Teme!"

.

Semilir angin membelai kulit tan Naruto. Menerbangkan surai pirang panjangnya. Disebelahnya, Sasuke nampak anteng memandang hamparan laut luas. Memperhatikan polah anak-anak yang sedang bermain dengan teman sebayanya. Atau orang tua yang sedang menjaga buah hati mereka. Di sisi lain juga nampak para remaja yang sedang bermain voli pantai.

"Suke," panggil Naruto tanpa mengalihkan sapphirenya dari birunya lautan.

"Hn," sahut Sasuke dan menolehkan onyxnya ke arah Naruto.

"Ada yang ingin ku katakan." Naruto mengubah mimik wajahnya menjadi serius dan balas menatap onyx Sasuke.

"Hn."

Naruto nampak menghela nafas. Entah mengapa ia menjadi gugup sekarang.

"Sasuke, ku harap setelah aku menceritakan ini. Kau bisa mengubah beberapa kebiasaan mu, tteba. Dan kumohon untuk tetap merahasiakan ini, ttebayo." Ucap Naruto dengan intonasi kecemasan yang sangat ketara.

Sasuke masih diam. Menunggu Naruto untuk siap mengatakan apa yang ingin dikatakan. Naruto melirik onyx Sasuke sekejap dan membuang muka lagi. Dadanya bergemuruh tak tenang.

"Kau ingin menyatakan cinta mu, Chibi?" ejek Sasuke untuk mencairkan suasana yang mendadak menjadi kaku.

"Ck, diamlah Teme. Aku sedang membangun suasana untuk mengatakannya, ttebayo. Jangan menganggu ku." Sahut Naruto kesal dan mengerucutkan bibirnya.

Sasuke terkekeh geli. "Bagaimanapun kau mengungkapkannya, tidak akan menjadi masalah untuk ku." Goda Sasuke dengan seringaiannya.

"Sasuke." Panggil Naruto menghiraukan nada menggoda Sasuke.

"Hn,"

"Kau tahu aku mempunyai saudara kembar kan." Ini bukan pertanyaan, Sasuke tahu itu. Meski begitu ia tetap mengaggukan kepalanya ringan.

"Aku sangat menyayangi Naruko, ttebayo. Sendari kecil aku selalu berusaha menjadi pelindungnya." Naruto berhenti sejenak dan kembali menatap Sasuke tepat di iris onyx Sasuke. "Suke, maukah kau mendengarkan cerita ku, tteba?" tanya Naruto penuh pengharapan.

"Hn." Balas Sasuke singkat dan menyamankan diri bersandar pada kursi pantai yang kini ia tempati. Memandang Naruto yang nampak gelisah di kursinya. Mereka hanya berjarak oleh meja yang menjadi pemisah.

"Naruko, saudara kembar ku adalah gadis yang manis. Dia tidak seheboh diriku, tteba. Dia lebih pendiam tapi sangat manis, ttebayo. Sebenarnya dia bisa sangat antusias bila bersama orang terdekatnya. Seperti aku dan Deidara-Nii, sepupu ku. Tapi sekarang, naruko lebih pendiam bila dengan ku, ttebayo." Raut wajah Naruto berubah suram saat mengatakan kalimat terakhirnya. Padahal sebelumnya ia terlihat sangat bangga menceritakan tentang saudara kembarnya.

"Semua itu bermula sejak satu tahun yang lalu, tteba." lanjut Naruto dan menerawang jauh ke arah samudra luas didepannya. "Saat Naruko telah jatuh cinta pada teman ku tanpa sepengetahuanku." Naruto terdiam.

Sasuke memperhatikan semua ekspresi yang ada pada Naruto. Bagaimana Naruto yang tadi terlihat senang menjadi muram dan terlihat depresi.

"Saat aku sedang berlatih basket untuk pertandingan tahunan. Naruko diam-diam pergi menemui teman ku yang kebetulan adalah senpai ku. Aku dan senpai ku saling mengenal karena judo. Dan entah bagaiman Naruko bisa mengenal senpai ku masih menjadi misteri untuk ku, ttebayo. Yah walaupun senpai pernah ke rumah tapi itu sangat jarang." Naruto kembali terdiam. Menatap Sasuke yang masih memandangnya. Ia tersenyum karena Sasuke ternyata benar-benar mendengarkan ceritanya.

"Setelah pertemuan itu, Naruko berubah pada ku. Dia mengurung diri semalaman bahkan tidak membukakan pintu untuk ku, ttebayo." Naruto menundukkan wajahnya. "Itu benar-benar menyakitkan, dattebayo. Selama ini Ruko-chan selalu membuka pintunya untuk ku."

Sasuke tidak tahu harus berbuat apa saat melihat Naruto terlihat sangat sedih. Ia belum tahu apa masalah Naruto dengan saudara kembarnya itu. Sasuke masih diam tak beranjak dari posisinya.

"Sampai pada akhirnya, Naruko mengasingkan diri kesini. Dia tidak meberitahu ku, ttebayo. Aku sangat marah tentu saja. Aku bahkan membentak Haha." Naruto terlihat menyesal saat mengucapkan kalimat terakhirnya. "Sampai akhirnya aku berada disini untuk menyusulnya, ttebayo." Naruto tersenyum.

Naruto menatap onyx Sasuke. "Sasuke," panggil Naruto lembut yang dibalas gumaman tak jelas dari Sasuke.

"Lelaki yang kau temui di halte dulu," Naruto menjeda ucapannya. Menarik nafas untuk kemudian ia hembuskan dengan keras. "Lelaki itu, adalah orang yang sama dengan orang yang kini berkencan dengan mu." Ucap Naruto akhirnya.

Naruto segera mengalihkan pandangannya. Tak mampu melihat ke arah Sasuke. Ia sungguh takut. Takut akan reaksi Sasuke karena telah ia tipu.

.

.

.

HANASANAI

.

.

.

*Bokken: Pedang seukuran katana yang terbuat dari kayu yang sangat keras. Biasa digunakan untuk berlatih pedang.

.

TBC

.

.

.

Hai, Vee kembali dengan lanjutan super singkat. Maaf.

Vee cuman mau menyapa dulu, karena lama ga updet, nyahaha.

Mina, Vee kehilangan selera menulis. *plak.

Bukan deng, Vee hanya malas menulis saja. *doubleplak. Haha

Chap ini cuman Vee publish untuk tahu minat dari reader aja. Vee ingin tahu perkembangan ff Vee gimana. Karena jujur, sebenarnya Vee nunggu review dari beberapa orang yang dulu review ff Vee tapi ga review lagi. Vee jadi down dan ga pede. Pastilah ff Vee menjadi sangat membosankan dan tidak menarik. #pundung. *negative negative negative*. Hingga akhirnya munculah rasa malas berlebih mulai dari chap brapa ya, Vee lupa. Haha

Maafkan Vee ya. Hehe. Dan chap ini cuman basa-basi aja. Ga ada permasalahan atau apapun. *sengaja. Hehe.

So mina, maafkan Vee yang kurang ajar ini ya. Vee akan lanjut secepatnya saat rasa malas Vee sudah hilang. Hehe.

Sekali lagi, maafkan Vee.

Terimakasih untuk yang sudah review, fav, follow dan juga untuk siders. Vee sayang kalian :*

Maaf Vee belum bisa balas review dulu. Chap depan Vee usahakan balas review.

I love you mina!

Dan sekali lagi. Maafkan Vee ya.

Akhir kata

~Salam Vee^^