Title:

I Won't Let You Go

Disclaimer:

Naruto milik Masashi Kishimoto

Fict ini milik Vee

Genre:

Romance and Family

Pair:

SasuNaru as main pair

Warning:

YAOI (Boys Love), OOC, Typo(s). Borring. Alur Lambat. No Edit

By : Versya (Vee)

.

.

CHAPTER 9

.

.

Kesal, terkejut, awkward, salah tingkah dan berbagai perasaan tidak enak kini menyelimuti seorang gadis pirang panjang yang sedang terduduk kaku ditempatnya. Sapphire nya menatap lurus ke depan. Menampilkan pemandangan yang sungguh sangat membuatnya semakin ingin berteriak marah dan kesal.

Pemandangan dimana seorang pemuda dengan surai pirang pucat yang panjangnya bahkan sama dengan rambutnya sendiri, sedang berkutat dengan tanah liat dan didampingi oleh seorang pemuda dengan surai merah terang.

Ya, pemandangan sepupunya sendiri dan kekasih merahnya.

Namikaze Deidara dan Akasuna Sasori.

Naruko –sang gadis pirang- nampak mencebikkan bibirnya saat melihat bagaimana sikap sok imut sepupunya saat sedang berbicara dengan Sasori Danna nya.

Sret

Suara menyibak buku terdengar oleh indera pendengaran Naruko. Mendadak ia kembali menjadi kaku dan canggung. Diliriknya arah kanan. Naruko menghembuskan nafasnya berat dalam keheningan. Dapat ia lihat pemuda bersuarai merah bata dengan bekas luka '愛' di dahinya sedang tenggelam dengan buku bacaan yang sendari tadi ia baca.

Naruko merutuk dalam hati. Merutuki kesialan yang terus terjadi padanya. Dan semua kesialan ini terjadi karena sepupu tercintanya yang kini sedang menyeringai menang ke arahnya. Ingatan Naruko memutar kembali kejadian beberapa waktu lalu.

.

Setelah menyeret Naruko dengan tanpa perasaan, Deidara menjalankan mobil pemberian Sasori No Dannanya dengan kecepatan maximum yang berhasil membuat Naruko menjerit ketakutan dan Deidara menjerit senang.

"Dei-Nii! Cepat turunkan kecepatan mu, tteba." Jerit Naruko yang sedang menggenggam erat sabuk pengamannya.

"Haha, Danna memberikan ku Bugatti Veyron supaya aku bisa dengan cepat berada ditempatnya, un. Jadi diam saja kau, Gaki. Hmm." Jawab Deidara tanpa menurunkan kecepatannya.

Naruko semakin menggenggam erat sabuk pengamannya dan memejamkan matanya erat. Menahan perasaan takut dan juga rasa mual yang mengaduk-aduk perutnya. Sedangkan Deidara sama sekali tak mempedulikan kondisi sepupunya.

Suara rem yang dipijak dan mobil yang berjalan pelan sebelum akhirnya berhenti, membuat Naruko berani membuka matanya. Naruko masih belum memfokuskan pandangannya. Saat ini ia sedang mengusir rasa pusing yang menyentak kepalanya.

"Kau baik-baik saja, Naruko-chan?" tanya Deidara sing a song. Ia hanya menggoda sepupu pirangnya yang sendari pagi tadi membuatnya kesal dengan pertanyaan tentang perselingkuhannya. Deidara berdecak kesal mengingat hal itu.

"Aku bersumpah akan membunuh mu suatu saat nanti, Namikaze Deidara!" bentak Naruko kesal dan memberikan deathglarenya pada Deidara yang tentu saja hanya dibalas kekehan menyebalkan.

Setelah Naruko merasa detak jantungnya kembali normal, Naruko mengikuti jejak Deidara keluar dari mobil. Dilihatnya Deidara melemparkan kunci pada seorang berseragam hitam-hitam.

"Kau akan terus bengong disitu, Ruko-chan?" tanya Deidara masih dengan ekspresi menyebalkan bagi Naruko. Naruko tak menjawab pertanyaan basa-basi dari Deidara dan mengikuti langkah sang sepupu yang mulai memasuki sebuah bangunan.

Naruko mengamati sekelilingnya. Bangunan ini terlihat seperti rumah. Tapi kenapa sangat besar dan luas.

'Apa ini istana?' pikir Naruko polos dan masih mengikuti langkah Deidara memasuki bangunan tersebut.

"Dei-Nii, kita dimana?" tanya Naruko tanpa menutupi rasa penasarannya. Sapphire nya masih menjelajah ruangan dengan arsitektur eropa. Tak lama kemudian sapphirenya tertumpu pada foto keluarga yang menampilkan seorang pemuda tampan dengan wajah baby face dan bersurai merah terang.

"Di rumah Danna, un." Jawab Deidara cuek.

"Aku tidak tahu jika Sasori-Nii se-kaya ini, apa Naruto Nii-chan tahu?" tanggap Naruko yang masih memperhatikan Deidara yang sedang berbincang kecil dengan salah satu maid yang menyambut kedatangan mereka.

"Kau memang pintar Ruko-chan. Tapi kau tidak pernah melihat sekeliling mu seperti yang Naruto lakukan, hmm." Balas Deidara sambil melirik Naruko lewat bahunya. Sedikit banyak Deidara menyinggung sifat anti-sosial Naruko.

Naruko menggembungkan pipinya sebagai tanda kesal. "Ku pikir kata 'Danna mengajak sepupunya' berarti kita akan pergi keluar. Kenapa sekarang kita malah kerumahnya?"

"Mengalihkan pembicaraan, Naruko-chan?"

"Jawab saja pertanyaan ku, Dei-Nii." Kesal Naruko karena niat terselubungnya diketahui. Ia masih mengikuti langkah Deidara dengan kaki yang sedikit menghentak menuruni tangga.

"Haha, kau memang lucu Naruko." Deidara tergelak, tak menghiraukan wajah sepupunya yang sudah berubah kesal. "Sepupu Danna tidak ingin pergi kemanapun. Danna tidak mungkin meninggalkan sepupunya sendirian di rumah. Karena itulah sekarang kita ada disini, hmm." Jelas Deidara dan membuka pintu yang ada didepannya.

Naruko mengikuti langkah Deidara memasuki ruangan tersebut. Retinanya langsung menemukan sosok pemuda dengan surai merah terang yang sedang duduk nyaman di sebuah sofa.

"Kau sudah datang," sambut Sasori dan meletakkan buku ditangannya serta melepas kacamata bacanya.

"Tadaima, Danna." Seru Deidara riang dan langsung berlari kecil menghampiri kekasihnya.

"Okaeri," jawab Sasori ringan dan mengecup pucuk kepala Deidara saat Deidara telah bergelayut manja dilengannya. Sasori mengalihkan atensinya ke arah Naruko yang masih memandang jengah pemandangan di depannya.

"Kau datang juga, Naruko." Sambut Sasori.

"Hmm," gumam Naruko untuk menanggapi pertanyaan Sasori.

"Kau pasti mengenalnya kan, Gaara." Pernyataan Sasori tiba-tiba mampu membuat Naruko kaku ditempatnya.

'Apa aku salah dengar.' Batin Naruko ragu dan mulai mengedarkan pandangannya ke segala penjuru.

Hazel meet sapphire.

"Hn, aku dan Namikaze-san satu kelas." Jawab Gaara singkat dan kembali berkutat dengan buku yang sendari tadi menjadi bacaannya. Sedangkan Naruko masih memusatkan sappirenya pada sosok Gaara yang terduduk anggun di sofa yang berada diujung ruangan dekat dengan rak-rak buku.

"Kalian terlihat tidak akrab, hmm." Komentar Deidara saat melihat tanggapan Gaara yang biasa saja pada Naruko. Naruko tersentak akan komentar Deidara dan mengalihkan pandangannya pada Deidara dan Sasori.

"Yah, aku dan Sabaku-san memang jarang bertegur sapa."

"Jangan diambil hati, Naruko-chan. Gaara memiliki trauma dengan wanita," jelas Sasori terhenti karena melihat sang sepupu yang sudah memberikan deathglare gratisnya.

"Baik, aku diam." Kata Sasori kemudian.

Itu hal baru bagi Naruko. Gaara-Sama yang ia puja memang jarang terlihat dengan perempuan dan bahkan hampir tidak pernah. Yah, Naruto Nii-channya jelas tidak dihitungkan.

"Jadi kau juga sekelas dengan Naruto, hmm?" celetuk Deidara kemudian dan berhasil mengalihkan perhatian Gaara.

"Ya, aku juga satu club judo dengan Naruto." Jawab Gaara cepat dan bahkan wajahnya nampak terlihat lebih rileks.

Naruko tercenung ditempatnya. Telinganya terus terngiang bagaimana Gaara begitu malas menyebut namanya dan sangat semangat menyebut nama Naruto.

'Nii-chan memang selalu bisa menempatkan diri.' bàtin Naruko sendu.

"Danna, kau lihat betapa kakunya mereka? Bagaimana jika kita membuat keramik dan membiarkan mereka mengakrabkan diri?" usul Deidara kemudian dengan wajah manja yang membuat Naruko kesal. Ia tahu apa maksud dari sepupunya dan Naruko sangat tidak menyukainya. Terlebih ketika Sasori mulai beranjak dari duduknya. Naruko sungguh ingin mencakar Deidara saat melihat senyum mengejek Deidara.

Sedangkan Gaara hanya menanggapi kata-kata Deidara dengan cuek dan tetap membaca buku yang entah menjelaskan tentang apa. Membiarkan Naruko terjebak sendiri oleh perasaan canggung.

.

.

HANASANAI

.

.

Semilir angin masih menemani Naruto dalam kebisuan. Naruto memandang ombak yang terus berlomba mencapai tepi pantai. Sesekali iris sapphirenya melirik ke arah samping. Melirik seorang pemuda dengan gaya rambut emo yang masih setia membisu.

"Etoo~~ Sasuke." Panggil Naruto ragu-ragu.

Sasuke masih bergeming dan tak menghiraukan panggilan Naruto.

"Sasuke. Apa kau tak mendengarku, tteba?" Keluh Naruto yang mulai kesal diacuhkan oleh Sasuke terlalu lama.

Naruto berdiri dari duduknya dan berjalan tepat ke hadapan Sasuke yang masih setia memandang laut.

Onyx meet sapphire.

"Jika kau kecewa, marah ataupun kesal maka berekspresilah! Berteriak atau pukul aku juga tidak masalah, ttebayo. Setidaknya kau harus bisa menekspresikan dirimu dan bukan hanya berdiam dan mengacuhkan ku, tteba! Kau benar-benar membuat ku kesal, Uchiha-Teme-Sasuke!" teriak Naruto dengan berkacak pinggang dan sesekali menunjuk-nunjuk Sasuke yang masih mempertahankan wajah stoicnya.

Melihat Sasuke yang hanya menatapnya datar membuat pelipis Naruto berkedut.

"SASUKE! JAWAB AKU, TEME WA!" teriak Naruto lantang/

"Hn,"

Dan kedutan di pelipis Naruto semakin cepat. Naruto hendak berteriak lagi namun sedetik kemudian ia merubah ekspresinya menjadi sendu. Melihat perubahan mimik wajah Naruto membuat Sasuke menaikkan alisnya.

"Na Sasuke. Dengarkan aku, tteba. Aku memiliki alasan kenapa aku menyamar menjadi perempuan. Aku akan menjelaskannya. Jadi, ku mohon jangan sebarkan ini disekolah, ttebayo." Naruto menatap Sasuke penuh dengan kepercayaan. Berharap Sasuke benar-benar akan menuruti permintaanya.

Naruto bergerak membelakangi Sasuke.

"Kau tahu, Sasuke." Naruto mejeda sejenak ucapannya untuk mengambil nafas. Mengeluarkan dengan desahan panjang. "Sebagai seorang lelaki sungguh tidak menyenangkan menyamar sebagai perempuan. Terlebih harus menerima perlakuan layaknya perempuan." Ujar Naruto sarkatis diakhir dan melirik Sasuke melalui ujung matanya. Naruto jelas menyindir Sasuke.

Sedangkan Sasuke masih memandang datar punggung Naruto yang membelakanginya. Naruto mencebik sebal melihat reaksi Sasuke yang tak dapat ia baca.

"Mungkin dalam benak mu kini kau sedang mengatai ku sebagai orang bodoh, iya kan, Sasuke." Tebak Naruto dan menoleh ke arah Sasuke. "Aku rela menjadi bodoh untuk bisa menjaga Naruko, ttebayo. Seperti yang ku ceritakan sebelumnya, Naruko-chan berubah menjadi aneh setelah bertemu dengan senpai ku, tteba. Dan aku tidak ingin jika kita berpisah karena masalah yang bahkan aku tidak tahu pasti apa itu." Naruto melanjutkan penjelasannya dengan wajah tertunduk.

Naruto memandang Sasuke dan menyunggingkan senyum manisnya. Poni dan rambut panjangnya berkibar terbawa angin. "Dan yah, aku tak menyangka akan terjebak dengan rambut panjang ini, ttebayo."

Sasuke masih bergeming dengan wajah stoic. Seolah tak memperdulikan bagaimana perasaan Naruto saat megungkapkan semua rahasia yang dia miliki. Mempertaruhkan harga dirinya sebagai seorang lelaki.

Naruto memandang Sasuke dengan senyum lebar. "Nah, Sasuke. Sekarang kau pasti menyesal kan sudah menciumku sepanjang hari ini. Hahaha." Dan tawa Naruto meledak saat mendengar ocehannya sendiri.

Namun itu hanya untuk beberapa saat. Karena setelahnya, tawa itu hilang. Digantikan dengan wajah Naruto yang sedang shock dan memerah.

'Sa-Sasuke, bagaimana bisa dia menciumku lagi saat dia telah tahu aku laki-laki, ttebayo!' jerit Naruto dalam hati. Dengan sekuat tenaga dia mencoba memberontak.

Sasuke melepaskan ciumannya. Onyxnya memandang tajam Naruto yang mengusap-usap bibirnya.

"Kau terlalu berisik, Dobe." Setelah sekian lama berdiam diri. Akhirnya Sasuke membalas ocehan Naruto.

"Kusso! Sasuke-Teme! Bagaimana bisa kau tetap mencium ku, huh!" seru Naruto tak terima.

Sasuke hanya memadang Naruto dan pergi berlalu meninggalkan Naruto.

"Oe, TEME! Mau kemana kau. Hah! Aku belum selesai memarahimu, ttebayo!" teriak Naruto saat melihat Sasuke yang masih berjalan menjauhinya.

"Lebih baik kau cepat berjalan, Dobe. Tentu saja jika kau tak ingin tertinggal dan tersesat." Sahut Sasuke tenang tanpa memandang ke arah Naruto.

"Kusso! Aku tidak akan mengikuti mu, Teme. Aku tidak akan tersesat, ttebayo." Dengan kesal dan langkah menghentak, Naruto berjalan cepat hingga mendahului Sasuke.

Sasuke memandang Naruto yang berjalan cepat dengan langkah menghentak-hentak. Dalam hati ia tersenyum geli melihat tingkah Naruto yang baginya lucu. Sasuke masih dengan langkah tenang melangkah.

"Hanya untuk kau tahu saja, Dobe. Kau melangkah ke arah yang salah." Peringat Sasuke dengan nada sing a song.

Naruto menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah belakang. Ia mendapati Sasuke yang memunggunginya dan berjalan berlawanan arah dengannya.

"A-Aku tahu jika jalannya kesana, tteba. A-Aku hanya ingin melihat kearah sini sebentar saja kok." Teriak Naruto dengan wajah tertunduk malu dan membalikkan arah jalannya mengikuti Sasuke.

"Souka?" tanya Sasuke dengan nada meremehkan.

Mendengar itu Naruto memalingkan wajahnya.

'Ck, Kusso Teme!' hardiknya dalam hati.

.

.

HANASANAI

.

.

Naruko masih tetap berada di posisinya semula. Melihat Deidara dan Sasori yang sedang bermesraan. Ia ingin mencoba bergabung dengan mereka. Yah setidaknya membuat keramik tidaklah buruk. Namun hal itu ia urungkan saat melihat delikan dari Deidara yang seolah berkata 'STAY AWAY!'.

Naruko menghela nafas berat. Diliriknya lagi ke arah kanan. Dimana sosok pemuda bersurai merah bata sedang tenggelam dalam bacaan bukunya.

'Sampai kapan aku harus terjebak dalam situasi ini, ttebane! Deidara-Nii menyebalkan. Naruto Niichan~~ tasukete' batin Naruko merana.

"Gaara." Suara Sasori memecah kesunyian. Gaara melirik sekilas sepupunya dan kembali berkutat dengan bacaannya.

"Setidaknya bisakah kau lebih sopan pada tamu. Sejak tadi ku lihat kau tidak mengajak Naruko berbicara." Tegur Sasori membuat Naruko merasa kikuk dan tidak enak.

Gaara tidak berniat menanggapi teguran Sasori. Terlihat dari ekspresi wajahnya yang tidak menunjukkan perubahan yang berarti.

Sasori menghela nafas berat melihat tingkah sepupunya.

"Biarkan saja mereka, Danna. Mereka pasti memiliki cara sendiri untuk bisa mengakrabkan diri, hmm." Hibur Deidara saat melihat raut wajah Sasori yang terlihat kesal. "Dan hei! Naruko! Kenapa kau hanya berdiam diri, un. Ajaklah Gaara bicara. Disini kau kan yang perempuan. Kau harus lebih aktif bicara, hmm." Tegur Deidara pada Naruko yang tadinya melamun karena rasa bersalahnya kini tersentak kaget.

"Jangan lakukan itu Naruko. Gaara memiliki trauma dengan perempuan. Itulah sebabnya dia tidak bisa leluasa berbicara dengan mu. Maafkan Gaara ya." Sahut Sasori cepat saat mendengar teguran Deidara yang ditujukan untuk Naruko.

'Trauma?' Ulang Naruko dalam hati. 'Akh, jadi itu alasannya kenapa Gaara-Sama bisa begitu akrab dengan Naru Nii.' Pikir Naruko lagi.

"Sasori, jangan membicarakan ku dan urus dirimu sendiri." Suara Gaara terdengar setelah sekian lama terdiam.

"Ne, Danna. Jadi orang bodoh sok dingin ini punya trauma dengan perempuan, un? Bagaimana bisa?" Tanya Deidara penasaran.

"Urusse, Namikaze!" Hardik Gaara yang mulai terganggu dengan Deidara.

"Aku tidak bertanya dengan mu, Baka Gaara! Hmm." Balas Deidara dengan menguarkan aura permusuhan.

Gaara balas memandang Deidara dengan tajam namun kembali datar. Gaarapum kembali melanjutkan aktifitas membacanya.

"Saat Gaara kecil, dia sudah menjadi obsesi senpai yang menjadi fans fanatiknya. Sang senpai itu bahkan mengoleksi berbagai foto Gaara yang dia ambil secara diam-diam. Dia juga selalu mengusik ketenangan Gaara dimanapun Gaara berada. Awalnya Gaara masih tersenyum sopan. Karena memang dulu Gaara kecil sangat manis." Sasori mulai bercerita tanpa disuruh. Mengundang tatapan antusias dari Naruko dan tatapan mematikan Gaara.

"Lebih baik kau diam, Akasuna." Suara Gaara terdengar berat. Menunjukkan jika ia memang sangat terganggu.

"Sampai suatu hari, tiba-tiba Gaara menghilang." Dengan cuek Sasori melanjutkan ceritanya. Menghiraukan Gaara yang semakin menatapnya tajam. "Seluruh anggota keluarga Sabaku jelas merasa panik tidak mendapati Gaara saat dijemput. Ayah Gaara tidak tinggal diam dan mencari Gaara dengan semua koneksinya sebagai pemimpim Suna kagure. Ayah Gaara takut jika anaknya menjadi korban dari koleganya."

"Hah. Jadi si Baka ini pernah diculik?" Respon Deidara dengan intonasi mengejek.

Gaara menatap sengit Deidara yang masih menampilkan senyum mengejek.

"Ya dan setelah ditemukan, ternyata Gaara diculik oleh fans fanatiknya itu. Luka yang ada didahinya itu adalah ulah fansnya."

"Tunggu dulu, Danna. Memang brapa umur Gaara dan fansnya itu, un?" Tanya Deidara menginterupsi cerita Sasori.

"Saat itu Gaara masih berumur 9 tahun. Dia masih sangat manis. Sedangkan senpainya berumur 13 tahun. Dia sudah lulus dari elementary. Karena tidak bisa bertemu dengan Gaara setiap hari makanya dia berbuat nekat seperti itu."

Sasori menjeda ceritanya dan menatap Gaara yang mulai menyerah mengancamnya. Kemudian iris merahnya dialihkan pada satu-satunya gadis diruangan itu. Naruko nampak terdiam. Pandangan matanya menyendu.

"Dan yah. Karena kejadian 3 tahun lalu itu selain membekaskan luka dipelipisnya juga mengubah kepribadian Gaara. Dia menjadi anti-sosial terutama pada mahluk perempuan. Dia bahkan butuh waktu satu tahun untuk bisa terbiasa dengan anekinya. Dulu dia akan histeris dan bersembunyi sàat melihat anekinya."

Naruko menoleh ke arah Gaara. Dia bisa membayangkan seberapa kesakitannya psikis Gaara. Naruko merasa kecil. Dia hanya menghadapi masalah umum tentang cinta dan dia sudah merasa depresi bahkan menghindari Naruto.

"Nii-chan." Panggil Naruko lirih. Dia sungguh sangat ingin bertemu dengan Naruto sekarang. Dia ingin memeluk Naruto dan mengucapkan maaf.

.

.

HANASANAI

.

.

Sudah dua hari setelah kencan bersama Sasuke. Saat ini Naruto sedang berkutat dengan tugas biologinya. Dan tentu saja sang guru besar berada disampingnya.

"Na Gaara. Bagaimana dengan ini, ttebayo?" Tanya Naruto saat ia telah berhasil menyelesaikan tugasnya. Sapphirenya memancarkan rasa lega dan memandang Gaara yang berada tepat disampingnya.

Gaara mendekatkan wajahnya dan melihat hasil tugas Naruto. Sedetik kemudian dia mengambil pensil dan menorehkannya di buku tugas Naruto. "Kau masih salah Naru, ulangi."

Naruto menatap horor buku tugas biologinya. Dia mengacak surai pirang panjangnya. "Akh. Bagaimana bisa salah, tteba. Aku yakin itu jawaban yang benar Gaara." Naruto masih merajuk tak terima. Oh ayolah. Otaknya akan terbakar jika terus dipaksa untuk bekerja.

"Kenapa kau cepat sekali melupakan penjelasan ku, Naru."

Naruto memandang Gaara memelas. Dijatuhkannya kepalanya ke meja. Iris sapphirenya memandang Gaara lebih intens. Gaara yang ditatap dengan tatapan kitty eyes tersebut merasa gugup meskipun berhasil ditutupi dengan wajah stoicnya.

"Kenapa malah melihat ku. Cepat kerjakan." Perintah Gaara yang diabaikam oleh Naruto.

"Aku lelah Gaara." Rajuk Naruto dan memanyunkan bibirnya. Melihat hal tersebut Gaara dengan segera mengalihkan atensinya pada buku biologi yang ada didepannya. Dadanya bergemuruh kencang dan jangan lupakan rona merah dipipinya.

Brakk.

Suara gebrakan meja terdengar. Naruto yang saat itu sedang tiduran di meja terlonjak kaget. Telinga kirinya terasa bedenging karena suara gebrakan di meja yang ia jadikan alas kepalanya.

"Naruto kau baik-baik saja?" Tanya Gaara yang merasa khawatir melihat Naruto yang terus mengusap telinga kirinya.

Naruto mengacuhkan pertanyaan Gaara dan menolehkan kepalanya ke kiri. Di samping Naruto kini nampak seorang pemuda dengan gaya emo sedang sibuk membaca setelah menjatuhkan lima buku tebal yang ia bawa dengan sangat keras.

Naruto yang tadinya ingin marah mengurungkan niatnya saat melihat Sasuke. Perasaan canggung masih mendominasi Naruto.

"Naru. Kau baik-baik saja?" Tanya Gaara lagi karena tak kunjung mendapat jawaban dari Naruto.

Naruto kembali menoleh ke arah Gaara dan menganggukan kepalnya. "Ah. Aku baik-baik saja." Jawab Naruto canggung.

"Baiklah. Biar aku yang menyelesaikan tugas mu."

"Ti-Tidak, tteba. Aku akan mengerjakan sendiri, Gaara. Kau cukup mengatakan aku benar atau salah, ttebayo." Respon Naruto cepat dan dengan segera menyambar pensil yang ada di meja.

"Baiklah."

Naruto mencoba kembali fokus pada tugasnya. Sesekali iris sapphirenya menoleh ke arah samping kirinya yang terdapat pemuda emo minim ekspresi. Naruto ingin sekali menyapa Sasuke. Yah meskipun mereka sering bertengkar bukan berarti mereka musuh kan.

Tapi perasaan canggung lebih mendominasi Naruto. Dia ragu apakah harus menyapa atau tidak. Karena Sasuke sendiri tidak menyapanya.

Naruto menghela nafas kasar dan mengacak surai palsunya.

"Kau ada kesulitan Naru?" Tanya Gaara dan mendekat ke arah Naruto. Berusaha melihat hasil kerja Naruto.

"Hah? Akh tidak. Aku bahkan belum mengerjakannya lagi, ttebayo. Ini sangat sulit Gaara." Rajuk Naruto yang berusaha menutupi rasa tidak nyaman dalam dirinya.

Gaara melihat ke arah Naruto masih dengan wajah yang lebih condong ke Naruto. "Apa begitu sulit?" Tanya Gaara akhirnya yang dibalas anggukan Naruto.

Gaara menghela nafas pelan dan menegakkan tubuhnya lagi. "Baiklah aku akan menerangkannya lagi." Putus Gaara akhirnya.

Naruto hanya meringis pelan menyadari seberapa bodohnya dia.

Sedangkan Sasuke mengamati interaksi GaaNaru dengan wajah masam. Terlebih Naruto tidak menyapa atau memandangnya. Perasaan dongkol membuat Sasuke gelap mata. Terlebih melihat bagaimana Gaara dengan excitednya menjelaskan pelajaran pada Naruto.

Merasa diabaikan Sasuke membanting buku ke meja dan berhasil membuat Gaara menghentikan penjelasannya dan juga hampir semua orang di perpustakaan memandang Sasuke penasaran.

Kesal menjadi pusat perhatian tapi tidak bisa mendapat perhatian dari Naruto dengan kasar Sasuke beranjak dari duduknya dan berjalan keluar.

Naruto memandang sendu Sasuke yang tidak menyapanya sama sekali. 'Dia, kecewa pada ku, ttebayo. Dia pasti tidak ingin berhubungan lagi dengan ku, tteba.' Pikir Naruto sedih.

.

.

HANASANAI

.

.

TBC

.

.

Hallo mina-tachi.. Vee balik lagi bawa chap 9 *digampar rame2

Iya Vee tau, Vee telat updet banget. Hontoni Gomenasai mina.

Kalau Vee cerita kenapa Vee bisa telat kalian pasti bakal bosen haha. Yah salah satu alasannya sih karena masalah di tempat kerja. hehe

Oh iya, ini Vee ketik di hape karena Vee kalau sudah pulang kerja malas buka laptop. Capek kalau harus duduk. Makanya jika ada typo dan semacamnya, Vee mohon maaf ya. Dan maaf juga untuk typo chap kemarin. Waktu itu Vee lupa kalo Naru itu masih mode menyamar. Trus keinget ditengah2 dan trus Vee ganti. Taunya masih ada yg nyelip. Haha.

Dan maaf juga Vee ga bsa balas review. Akh Vee banyak salahnya .

Dan untuk chap ini trauma Gaara sudah terjawab ya. Hihi.

Vee sebenernya dah pengen ngetik lama. Tapi di kerjaan lagi ada dana yg ilang. Jadi Vee banyak tugas buat ngembalikin dana itu. Haha.

Dan Vee butuh saran dan kritik dari mina-tachi semua. Mohon berikan tanggapan saran kritik ya. Sebagai penambah semangat Vee. *plak ngarep banget

Haha

Selamat beraktifitas. Terimakasih sudah membaca ff Vee. Terimakasih untuk reviewer tercinta 😘😘

Untuk yg sudah fav dan follow juga silent reader ku yang semoga bisa menjadi reviewer *plak

Haha

Akhir kata

~Salam Vee.