Title:
I Won't Let You Go
Disclaimer:
Naruto milik Masashi Kishimoto
Fict ini milik Vee
Genre:
Romance and Friendship
Pair:
SasuNaru as main pair
Warning:
NO SASUNARU SCENE for this chap
YAOI (Boys Love), OOC, Typo(s). Borring. Alur Lambat. No Edit
By : Versya (Vee)
.
.
CHAPTER 11
.
.
Hari minggu memang hari yang tepat untuk bermalas-malasan. Dan Gaara memanfaatkan dengan baik kesempatan itu. Saat ini Gaara sedang duduk di kursi dekat jendela. Menerawang jauh langit biru yang menggantung. Mengingatkannya pada sapphire indah milik seorang gadis pirang yang selalu mengisi hari-harinya.
"Naruto," gumam Gaara lirih. Wajahnya menunjukkan aura bersahabat yang jarang ia miliki sejak kejadian dimana ia menjadi sandera seorang fans fanatiknya.
Bosan dengan aktifitasnya, Gaara memutuskan untuk keluar asrama. Hari ini dia sengaja tidak mengunjungi sepupunya, Sasori. Sejak kejadian dimana ia bertemu dengan Naruko saudara kembar Naruto, Gaara merasa kurang nyaman jika harus berkunjung ke rumah Sasori. Dia tahu apa maksud Sasori waktu itu. Sasori pasti ingin menjodohkan dia dengan Naruko.
"Kenapa bukan Naruto." Protesnya pelan dan mendengus geli saat memikirkan hal tersebut. "Ck, Bodoh!" umpatnya kemudian.
Merasa bosan berada di dalam asrama, Gaara memutuskan untuk keluar asrama sekedar membeli minuman segar.
Berbekal jaket merah bata yang sesuai dengan warna rambutnya, Gaara mulai menuruni tangga untuk mencapai gerbang asrama. Dengan wajah stoic andalannya, Gaara menyusuri trotoar melewati halte.
Gaara masih terus berjalan hingga belokan ke kiri dan dia akan menjumpai minimarket. Gaara berjalan pelan dan santai. Memasuki minimarket dengan wajah datarnya.
Gaara kemudian mengambil beberapa roti dan kopi kaleng dingin di mesin kopi. Membayar belanjaannya dan melangkah keluar mini market. Duduk di beranda mini market seraya menikmati angin yang membelai-belai surai merah batanya.
Srek (?)
Suara kursi yang bergeser mengalihkan perhatian Gaara yang sedang menikmati roti nya. Iris jade Gaara memandang seorang pemuda dengan rambut raven yang sepertinya telah selesai bersantai mulai beranjak dan meninggalkan mini market.
"Wajahnya tidak asing." Gumam Gaara dan masih memperhatikan sang pemuda. Sampai iris jadenya menemukan wajah manis seorang 'gadis' tomboy dengan tudung yang menyembunyikan surai pirang sang 'gadis'.
Tunggu.
Pirang?
Otak Gaara secara otomatis mengingat Naruto.
Sang 'gadis' nampak berbincang dengan Sasuke -si pemuda berambut raven-. Gaara pun memutuskan meninggalkan kopi dan rotinya untuk memastikan bahwa itu memang Naruto.
Semakin dekat langkah kaki nya, membuat Gaara dapat mendengar samar pembicaraan Sasuke dan sang gadis. Tidak berniat mengganggu, Gaara hanya menyandarkan tubuhnya di pohon terdekat seraya mengamati dua orang didepannya.
"Jangan bercanda, Usuratonkachi. Jika kau memang menolak ku, setidaknya berikan aku alasan yang lebih baik!" Suara Sasuke menginterupsi indera pendengaran Gaara.
'Jadi benar dugaan ku. Mereka berdua,' Ujar Gaara dalam hati.
Suasana seolah hening bagi Gaara. Merasa heran, Gaara melihat ke arah Sasuke dan Naruto. Dapat ia lihat, Naruto yang nampaknya sedang berfikir.
'Bodoh.' Hardik Gaara dengan senyuman kecil di wajah datarnya.
"Anoo~~ kau bicara apa, Suke. Aku sama sekali tidak paham, ttebayo." Suara yang ditunggu Gaara akhirnya terdengar juga.
'Naruto.' Gumam Gaara yakin dalam hati. Sedikit senang karena ia bisa mengenali Naruto. Gaara mengalihkan jadenya untuk menatap trotoar berdebu.
"Berhenti mengatakan seolah kau adalah pemuda yang sedang menyamar menjadi gadis, Dobe!" Suara ketus Sasuke Uchiha membuat Gaara membeku ditempat.
'Pemuda?' Sontak Gaara kembali melihat ke arah Sasuke dan Naruto.
"Aku memang bukan wanita, Suke." Suara Naruto kembali terdengar, membuat Gaara menegakkan tubuhnya. Terlebih lagi saat Naruto melepas hoodie jaketnya.
"Aku sudah mengatakan, aku adalah seorang pemuda yang datang ke tokyo untuk menyusul saudari kembar ku, Naruko." Dan suara Naruto kali ini benar-benar membuat dunia Gaara runtuh seketika.
"Naruto! Laki-laki?" Gumam Gaara lirih.
Gaara memandang sapphire yang kini terpaku pada onyx didepannya. Entah apa yang dikatakan Naruto lagi, Gaara tidak mau mendengar.
Gaara bahkan tidak menyadari jika kakinya telah melangkah pelan ke arah Naruto. Yang ia tahu, saat ini sapphire Naruto telah berpaling pada onyx yang kian menjauh.
Gaara berhenti tepat di belakang Naruto yang masih berdiri menatap kepergian Sasuke.
Gaara bahkan dapat mendengar lirihan Naruto yang memanggil Sasuke. Gaara kembali memasang wajah stoic andalannya dan menatap tajam surai pirang jabrik Naruto.
Dan saat Naruto membalikkan tubuhnya, Gaara dapat mendengar pekikan kaget dari Naruto. Gaara juga dapat melihat jelas bagaimana Naruto nampak salah tingkah.
"Jadi selama ini aku menyukai seorang pria?" Monolog Gaara. Tak menghiraukan pertanyaan salah tingkah Naruto.
Bahkan Gaara juga tak menghiraukan tatapan terkejut dan bersalah Naruto.
"Naruto. Kau tahu, aku kecewa pada mu." Ujar Gaara dengan penuh penekanan. Tak kuat melihat raut bersalah Naruto, Gaara melangkahkan kakinya. Melewati Naruto yang tetap memandang lurus kedepan.
Gaara juga masih bisa mendengar decihan kesal Naruto.
Tapi rasa sakit karena merasa dibohongi tidak cukup membuat Gaara menghentikan langkahnya.
"Naruto." Gumam Gaara lagi dengan tangan yang mengepal erat. Angin memainkan helaian surai merah batanya.
.
.
HANASANAI
.
.
Hari ini cuaca sangat cerah. Angin sesekali menerbangkan anak rambut seorang 'gadis' pirang yang sedang terpaku ditempatnya. Mendrible bola orange kesayangannya tanpa minat dengan sapphire yang menewarang kosong.
Naruto –sang 'gadis' pirang- menghela nafas berat. Menangkap Kyubi –nama bola basket Naruto- yang sendari tadi ia mainkan lalu mendekapnya erat.
"Ini terasa membosankan, ttebayo. Biasanya aku akan kena marah Gaara atau aku akan bertanding dengan Sasuke. Tapi sekarang, rasanya itu tidak mungkin lagi, tteba. Yah sudahlah." Naruto mengendikkan bahunya dan kembali mendrible Kyubi sesukanya.
Masih dengan posisi duduk di pinggir lapangan basket outdoor, Naruto kembali terbayang kejadian tiga hari lalu. dimana Gaara dan juga Sasuke yang menjauh darinya.
"Rasanya sungguh tak nyaman, tteba." Lirih Naruto.
"Nii-chan." Panggil sebuah suara yang dapat menghentikan sementara kegiatan Naruto. Naruto mendongakkan kepalanya dan disambut senyum ceria Naruko.
"Akh, Ruko-chan. Kau belum pulang ke asrama?" tanya Naruto saat melihat saudari kembarnya kini duduk di bangku yang sama dengannya.
Naruko menggeleng pelan sebagai jawaban. "Bagaimana dengan Nii-chan? Nii-chan tidak berlatihkan? Lalu kenapa disini?"
Naruto mengacak surai pirang Naruko. "Agh! Nii-chan berhenti mengusak rambut ku, tteba!" seru Naruko kesal.
"Nii-chan akan berlatih lagi, tapi tidak sekarang. Kau tahu, laki-laki juga butuh istirahat, ttebayo." Jawab Naruto dengan senyum cerianya.
Naruko memandang sendu Naruto. "Nii-chan tidak baik-baik saja. Itu terlihat jelas dari wajah mu." Sahut Naruko menghentikan senyum ceria Naruto.
"Apa maksud mu, Ruko-chan. Nii-chan baik-baik saja." Yakin Naruto dan mengusak helaian pirang Naruko yang diikat twin tail.
"Yare-yare, lalu kapan Nii-chan akan mengaktifkan ponsel? Shikamaru, Hinata dan yang paling berisik Kiba selalu menanyakan Nii-chan." Gerutu Naruko dan menyandarkan kepalanya ke pundak Naruto.
"Akh, aku merindukan Shikamaru. Jika aku di Konoha, saat ini kita pasti sedang bertanding, tteba. Apa Kiba masih seberisik dulu ya? Aku juga merindukan Sakura-chan." Kenang Naruto dan mengucapkan satu persatu nama yang ia rindukan. Dan Naruko tersenyum kecil mendengarnya.
"Astaga Nii-chan! Kau baru tiga bulan tidak bertemu mereka. Tentu saja tidak akan ada perubahan yang signifikan. Shikamaru akan tetap menjadi pemalas jenius no satu, Kiba juga akan tetap menjadi si biang berisik yang tak tertandingi dan Sakura tentu saja akan tetap menolak mu." Jawab Naruko dan kemudian tergelak sendiri mengingat jawabannya.
"Hey! Apa-apaan tawa mu itu, Ruko-chan." Kesal Naruto seraya berusaha membungkam bibir Naruko. Sedangkan Naruko mencoba mengelak dari tangan jahil Naruto dengan tawa yang tak berhenti. Mereka terus berada di posisi seperti itu hingga Naruko berhenti mengelak dan mengeluh 'lelah'.
"Ne, Naruko-chan." Panggil Naruto pelan. Naruko yang tadi sedang membenarkan helaian poni nya menoleh ke arah Naruto.
"Nanda, Nii-chan?"
Naruto memandang Naruko dengan raut wajah serius. Membuat Naruko merasakan firasat buruk. Naruko tidak sebodoh itu untuk tidak bisa membaca situasi dan suasana hati Naruto.
"Kembalilah ke Konoha bersama Nii-chan. Lupakan tentang Neji. Dan kita bisa satu sekolah lagi dengan 'normal'." Pinta Naruto dengan wajah serius.
Naruko membatu ditempat, tidak menyangka jika Naruto akan menyebut nama'nya' segamblang itu. Nama orang yang sukses membuat Naruko patah hati, hingga lari ke tempat ini.
"Nii-chan," lirih Naruko dan menundukkan kepalanya dalam. "Tidak semudah itu Nii-chan." Lanjutnya kemudian dengan suara bergetar. Sapphirenya nampak berkaca-kaca menahan tangis.
Naruto menghela nafas lelah. Diraihnya dagu sang adik kembar. Dengan lembut diusapnya pipi sang adik yang telah basah.
"Berbagilah pada Nii-chan, Ruko. Meskipun Nii-chan tidak akan membantu banyak dan hanya bisa menjadi pendengar mu, tidakkah itu cukup untuk membuat mu lega. Jangan membuat dirimu tersiksa sendiri dan membuat Nii-chan terlihat bodoh. Nii-chan menyayangi mu,"
Mendengar kalimat dari Naruto membuat air mata Naruko semakin deras. Naruko-pun langsung menerjang Naruto dan memeluk Naruto erat. Naruto membalas pelukan erat adik kembarnya dan mengelus surai pirang sang adik.
Naruko menstabilkan deru nafasnya yang memburu karena tangis. Hatinya telah mantap akan menceritakan apa yang terjadi satu tahun lalu.
Kilasan-kilasan masa lalu Naruko bergulir silih berganti memasuki pikiran Naruko.
.
.
.
Naruko tersenyum senang saat mendapat balasan dari Neji. Kakak kelas yang sangat digilainya. Awal mula Naruko menyukai Neji adalah saat Naruko sedang menunggu Naruto berlatih Judo. Saat itu, Naruko duduk disamping Hinata, adik sepupu Neji.
Naruko yang tadinya tersenyum senang saat melihat Naruto yang berlatih keras, teralihkan saat sosok pemuda tampan dengam rambut panjang yang dikuncir longgar berjalan angkuh melihat latihan adik-adik tingkatnya. Termasuk Naruto.
"Kau terlihat senang, Ruko-chan." Tegur Naruto yang merasa adiknya tidak berhenti tersenyum sesaat setelah melihat ponselnya.
Naruko nampak kaget dan salah tingkah. "A-ah, tidak kok. Bagaimana persiapan untuk tournamen basket Nii-chan?" Tanya Naruko mengalihkan topik pembicaraan.
Naruto yang tadi sedang mengikat tali sepatunya menampilkan senyuman lebar. "Hari ini Nii-chan akan berlatih lagi, apa kau akan menemani Nii-chan?"
Naruko menggelengkan kepalanya cepat hingga membuat Naruto mengerutkan alisnya. "Ruko tidak mau fokus Nii-chan terganggu karena menjaga Ruko dan berlatih. Jadi, Ruko tidak ikut." Bohong Naruko untuk menanggapi pertanyaan Naruto.
Naruto menganggukkan kepalanya dan mengambil tas olahraga juga Kyubi yang ada disampingnya. "Baiklah, kalau begitu Nii-chan pamit dulu. Ittekimasu." Ujar Naruto dengan sedikit seruan diakhir.
"Itterasai," balas Naruko dan memandang punggung Naruto yang kian menjauh. Naruko menghela nafas lega. Dengan cepat Naruko memutar tubuhnya memasuki rumah.
Setengah berlari menuju kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Naruto.
.
To: Neji Senpai
Senpai, bisakah kita bertemu hari ini?
Naruko^^
.
From: Neji Senpai
Baiklah, lagipula ada yang ingin ku bicarakan. Datang saja ke tempat biasa jam 1.
Neji.
.
Naruko memang sering mengikuti Neji sejak melihat Neji saat itu. Entah Dewi Fortuna sedang berbaik hati padanya atau bagaimana, Neji selalu bersikap baik padanya dan mengajaknya ngobrol. Bahkan beberapa kali Naruko ditraktir makan oleh Neji.
"Hari ini aku akan menyatakan cinta. Tidak peduli harga diri. Aku, sangat mencintai Neji Senpai. Kyaa~~" gumam Naruko diiringi jeritan fansgirl diakhirnya.
Dengan cepat Naruko bersiap dan melangkahkan kakinya ke cafe langganannya bersama Neji.
.
.
Naruko duduk manis dengan menyeruput orange juice yang dipesannya.
Tiga puluh menit sudah berlalu dari waktu yang dijanjikan oleh Neji. Padahal Naruko sudah datang satu jam lebih awal. Meskipun begitu senyum tak luput dari wajah Naruko yang berseri.
Sesekali wajah Naruko merona membayangkan bagaimana penampilan Neji kali ini. 'Pasti dia sangat tampan, tteba.' Gumam Naruko dalam hati.
"Kau sudah menunggu lama?" Sebuah suara menginterupsi khayalan Naruko. Dengan cepat Naruko mendongak dan menggelengkan kepalanya.
"Akh, tidak senpai. Aku baru tiba lima belas menit yang lalu." Bohong Naruko dengan wajah tertunduk karena merona melihat penampilan Neji.
'Kenapa dia bisa begitu tampan.' Pikir Naruko.
Neji melirik meja yang ditempati Naruko. Jelas sekali jika Naruko sedang berbohong saat melihat sudah ada orange juice yang hampir habis dan kue yang sudah habis dan hanya menyisakan piring kotor. Neji tersenyum sinis dan mendudukkan dirinya di seberang Naruko.
"Apa kau akan terus merunduk, Naruko." Tanya Neji yang bagi Naruko adalah lantunan suara yang sangat indah.
"Eh?" Naruko jadi salah tingkah mendengar pertanyaan Neji. "S-senpai, ano-
"Ada yang ingin ku bicarakan, Naruko. Aku akan langsung to the point." Potong Neji dengan ekspresi stoic andalannya. Tidak ingin berlama-lama disini.
Naruko menggelengkan kepalanya pelan dan dengan malu-malu memandang Neji.
"S-sebelum itu, senpai. Bisakah aku yang berbicara lebih dulu? Aku yang mengajak senpai untuk bertemu." Tanya Naruko hati-hati dan berharap Neji mengijinkannya.
Neji hanya diam dan memandang Naruko. Bagi Naruko itu adalah kode Neji untuk mempersilahkan Naruko berbicara.
Naruko meremat roknya di bawah meja. Telapak tangannya sudah basah oleh keringat dingin.
'Aku harus mengatakannya.' Yakin Naruko dalam hati.
"Senpai," panggil Naruko pada Neji. Neji masih diam, menanti lanjutan kata Naruko.
"Senpai, aku-" Naruko menjeda ucapannya lagi dan menarik nafas dalam.
"Senpai, aku menyukai mu." Kata Naruko akhirnya. Pipinya merona hebat hingga mencapai telinganya. Rasanya Naruko ingin menutup wajahnya dan pulang kerumah lalu mengurung diri.
Tapi tidak!
Naruko harus mendengar perasaan Neji.
"Naruko, kau-" Neji sengaja memotong ucapannya untuk melihat reaksi dari Naruko. Sedangkan Naruko masih menatap Neji dengan malu-malu meski tidak bisa dipungkiri jika tatapan penasaran juga ikut andil dalam iris sapphirenya.
"Apakah kau berfikir aku akan menyukai mu?" Tanya Neji kemudian dengan ekspresi datar.
Naruko membeku ditempat mendengar pertanyaan Neji.
'A-apa maksudnya.' Pikir Naruko.
"Wanita seperti mu, apa kau kira bisa membuat ku menyukai mu?" Ulang Neji saat melihat Naruko yang masih diam.
"Kau pikir, sikap lunak ku selama ini karena aku menyukai mu? Hah! Jangan bercanda!" Komentar Neji membuat dunia Naruko runtuh seketika. Bahkan senyum malu-malunya lenyap.
"Tadinya aku hanya ingin membicarakan masalah Naruto baik-baik dengan mu. Siapa sangka kau akan melakukan hal memalukan seperti ini." Lanjut Neji tanpa menghiraukan ekspresi Naruko yang menundukkan wajahnya.
'Memalukan?' Ulang Naruko dalam hati.
"Asal kau tahu, Naruko. Aku lebih baik menjadi seorang 'Gay' bersama Naruto daripada harus menyukai orang seperti mu."
Naruko memejamkan matanya.
'Seburuk itukah aku?' gumam Naruko dalam hati.
"Tapi, tentu saja aku tidak akan seperti itu. Hinata sangat mencintai Naruto. Maafkan aku karena membuat mu salah paham, Naruko. Tapi, aku mendekati mu hanya untuk mendapatkan informasi sebanyak mungkin tentang Naruto."
Naruko menatap iris lavender didepannya. "Apa yang akan kau lakukan pada Nii-chan." Tanya Naruko tanpa mengurangi intonasi marahnya. Suaranya nampak bergetar.
Meskipun hatinya terasa sangat sakit mendengar ini semua. Tetapi, ia masih merasa khawatir pada Naruto.
"Tidak ada. Hinata hanya bilang jika Naruto sangat dekat dengan mu. Jadi aku memanfaatkan mu untuk mendekatkan Naruto pada Hinata. Tidak lebih." Jawab Neji enteng.
Naruko mengepalkan tangannya erat.
"Jangan naif Naruko. Kau pikir kau memiliki banyak teman? Jika kau bukan adik kembar Naruto, percayalah! Tidak akan ada satu orang pun yang peduli padamu."
'Nii-chan.'
"Jadi berhentilah berharap banyak. Kau akan selalu jatuh. Kau tahu? Bahkan Naruto lebih menarik perhatian ku daripada kau. Sayang sekali dia laki-laki. Jika tidak-
"Cukup senpai," lirih Naruko menghentikan ocehan Neji. "Aku sadar bagaimana posisi ku." Lanjut Naruko kemudian.
Dengan tubuh yang bergetar menahan tangis, Naruko berdiri dari tempatnya. Membungkukkan badannya kehadapan Neji.
"Terimakasih sudah menyadarkan ku dari dunia mimpi dan memberi tahu dimana posisi ku. Arigatou."
Naruko menegakkan kembali badannya dan berlalu dari hadapan Neji.
'Kenapa sangat sakit?' Pikir Naruko dan meremas dada sebelah kirinya.
'Kenapa terasa sakit?' Naruko masih bergumam.
'Nii-chan. Apakah selamanya aku hanya akan menjadi bayangan mu.' Tangis Naruko pecah.
Sepanjang perjalanan naruko terus menangis meratapi nasibnya.
"Meski sesakit ini, kenapa aku masih tidak bisa berhenti menyukai mu. Senpai." Lirih Naruko dan menghentikan langkahnya di dekat pohon.
Bersandar pada pohon dan menumpahkan semua tangisnya.
"Kenapa aku begitu bodoh menyukai mu lelaki brengsek sedalam ini." Naruko masih merutuki nasibnya. Tidak memperdulikan lalu lalang manusia yang menatap aneh dirinya.
"Nii-chan." Panggil Naruko. Seolah ingin membagi rasa sakitnya pada Naruto.
.
.
.
Naruto mengepalkan tangannya erat. Gemuruh emosi merasuk dalam tubuhnya.
'Neji!'
Setelah mendengar cerita dari Naruko, Naruto tidak bisa menyembunyikan bagaimana amarah ini begitu membakar dirinya.
"Nii-chan. Kau sudah berjanji tidak akan memperpanjang masalah ini. Kumohon jangan melakukan tindakan gegabah." Wanti Naruko yang memahami betul bagaimana watak Naruto.
"Naruko," panggil Naruto dengan suara dalam. Naruko mendongakkan wajahnya untuk menatap wajah Naruto. "Kenapa kau menyimpan sakit mu sampai selama ini. Maafkan Nii-chan. Ini semua karena Nii-chan."
Naruko menggeleng cepat.
"Ruko sayang Naruto Nii-chan." Jawab Naruko tidak nyambung. Ia memeluk Naruto erat. Berusaha menyurutkan amarah Naruto.
Ia tahu Naruto sekarang pasti sedang marah dan menyalahkan dirinya sendiri.
Naruto tersenyum dan membalas pelukan Naruko.
"Nii-chan juga sayang Ruko-chan." Balas Naruto.
Dan kekehan kecil dari mulut Naruko sukses menular pada Naruto.
Hingga dua bersaudara itu hanyut dalam tawa mereka ditemani oleh senja yang meniupkan angin sore.
.
.
HANASANAI
.
.
TBC
.
.
Hai teman-teman. Apa kabar. *digampar rame-rame.
Iya Vee salah, maafkan Vee ya. DuTa menyita banyak waktu Vee. Vee ga akan banyak alasan. Vee memang salah.
Gomenne, mina~~ **senyum manis. Haha
Dan, maaf udah lama updet ga ada SasuNaru nya. Habis Vee pengen jawab rasa penasaran beberapa reader sih. Sekarang terjawab sudah. Haha
Maaf jika gaje.
Yah Vee ga akan banyak cincong. Akan Vee usahakan secepatnya chap selanjutnya. Vee ga sabar pengen liat Sasu cemburu *ups keceplosan
Haha
Baiklah, terimakasih banyak untuk yang sudah fav, follow dan BIG THANKS buat yang sudah review.
I Love You All
Haahha
.
.
.
Suasana malam di kota tokyo memang tak pernah sepi. Lalu lalang kendaraan terus memadati jalanan. Tidak peduli jika sang rembulan tak menampakkan wujudnya.
Seorang pemuda yang memiliki warna surai abu-abu tua dengan dandanan berantakan terus menatap jalanan ramai dari balkon apartemennya. Hembusan asap sesekali mengepul dari bibirnya.
"Berapa kali aku harus mengingatkan mu, jangan merokok! Kau hanya mencemari udara, un." Sebuah suara menginterupsi lamunan sang pemuda bersurai abu-abu tua.
Sang pemuda pun menggerakkan tangannya yang tersemat sebatang rokok ke arah pagar pembatas balkon dan mematikan rokoknya.
"Kau akan pulang?" Suara sang pemuda terdengar, tak menanggapi ocehan yang didengarnya.
"Ya. Danna mungkin akan menginap di apartemen ku." Jawab seorang pemuda dengan rambut pirang panjang yanh sedang mengenakan kemejanya. Menutup badannya yang topless.
"Tidak bisakah kau tinggal, Dei?" Tanya sang pemuda yang menjadi lawan bicara Deidara dengan intonasi hopeless. Memandang sayu Deidara yang sedang menyisir rambutnya setelah berhasil menutupi tubuh bagian atasnya.
"Kau tahu apa jawabannya, Hidan. Maafkan aku, un." Balas Deidara dan mendekat ke arah Hidan -pemuda bersurai abu-abu- yang masih berdiri di dekat pintu balkon.
Deidara mengecup bibir Hidan sekilas dan akan beranjak, sebelum Hidan menarik pinggang Deidara dan menekan tengkuknya.
Hidan menyesap tidak sabar Deidara yang mencoba berontak dari kungkungan lengan kekar Hidan.
SET
"Apa yang kau lakukan, brengsek." Umpat Deidara saat berhasil terlepas dari cengkraman Hidan. "Sudah ku katakan aku tidak suka berciuman dengan perokok, hmm!" Lanjut Deidara yang menatap kesal kearah Hidan yang hanya nyegir tanpa dosa.
"Warui, Dei-chan." Balas Hidan dengan suara main-main.
"Ck! Kau memang menyebalkan." Kesal Deidara dan merapikan poninya yang sempat bergesekan dengan kening Hidan.
"Tinggallah sebentar lagi, Dei-chan. Aku masih merindukan mu." Pinta Hidan dan memeluk Deidara.
"Aku tidak bisa. Danna akan membunuh mu jika melihat kita seperti ini." Tanggap Deidara dengan ekspresi masam.
"Kenapa kita tidak mati berdua saja, dan kita akan hidup bahagia di alam sana." Ujar Hidan yang sukses membuat bulu kuduk Deidara meremang. Terlebih Hidan berbicara di tengkuknya.
"Kau tau seberapa terobsesinya Danna pada ku, Hidan. Dia tidak akan membunuh ku. Dia akan membunuh orang-orang yang akan merebut ku darinya. Cukuplah kedua orang tua ku yang menghilang. Jangan kamu." Jelas Deidara dan melepaskan pelukan Hidan dari tubuhnya.
"Kita sudah pernah membahas ini. Kita berdua tahu seberapa mengerikannya Akasuna Sasori. Dia bisa melenyapkan kedua orang tua ku karena tidak menerima lamarannya dengan rapi. Kau pikir, dia akan diam saja saat melihat ku dengan mu?"
Hidan mengepalkan tangannya. Kesal dan marah pada dirinya sendiri yang tidak mampu melawan rivalnya.
Hidan dan Deidara adalah sahabat sejak kecil. Hidan sudah lama memendam rasa pada Deidara. Dia sudah memendam perasaannya sangat lama hingga akhirnya perasaannya terbalas.
Namun, belum ada satu minggu mereka meresmikan hubungan. Muncul pemuda dengan surai merah terang ditengah-tengah hubungan mereka.
Akasuna Sasori.
Dia tertarik pada Deidara yang sangat menguasai seni. Terutama seni tanah liat dan gerabah. Rasa ketertarikan berubah menjadi obsesi.
Apapun dia lakukan untuk membuat Deidara menjadi miliknya.
Ya. Sasori tidak berbeda dengan fans fanatik Gaara.
Tapi semua tertutupi dengan wajah polosnya. Wajah dengan ekspresi innocent yang berhasil menipu banyak orang.
Dan Deidara tidak bisa berbuat banyak selain berada pada sangkar emas milik Sasori.
Hidan menghela nafas lelah.
"Aku tahu, walaupun sebenarnya aku tak peduli. Tapi aku tidak akan mati meninggalkan mu. Aku pasti bisa merebut mu dari Sasori. Suki da, Dei-chan." Ujar Hidan pelan dan tepat didepan bibir Deidara. Sebelum akhirnya menyesap bibir ranum itu sekali lagi. Melepaskan segala rasa yang ia pendam malam ini.
.
.
Akhir kata
~Salam Vee^^
