Awan dipagi hari ini terlihat mendung. Namun hal tersebut tak menyurutkan Naruto untuk berolahraga di pagi hari. Dengan handuk yang tersampir di lehernya, Naruto berlari-lari kecil di stadion olahraga milik sekolah.
Deru nafas yang memburu memenuhi indera pendengaran Naruto. Sesekali Naruto mengusap keringat di wajahnya.
TAP
Naruto menghentikan larinya saat dari jauh ia melihat sekelebatan bayangan dengan surai raven berjalan menjauh dari stadion.
'Sasuke?' batin Naruto.
Tanpa ia sadari, langkah kakinya berjalan menuju ke arah Sasuke yang memunggunginya dan berjalan menjauh.
'Lambang kipas itu, Sasuke!' yakin Naruto saat melihat lambang khas Uchiha pada kaos kerah yang dikenakan pemuda dengan surai raven.
"Sasuke!" teriak Naruto saat jarak diantara mereka mulai berkurang.
Naruto menggeram marah saat langkah kaki sang raven tak juga terhenti. "Oe! Sasuke! Apa kau tak mendengarku, ttebayo?" teriak Naruto lagi, berharap Sasuke akan terhenti.
TAP
Sesuai dengan harapan Naruto. Sasuke menghentikan langkahnya. Naruto mengembangkan senyum tiga jari andalannya dan berlari mengejar Sasuke.
"Sasuke." Panggil Naruto lagi saat telah berada di belakang Sasuke.
Naruto menundukkan wajahnya, mencari kata yang pas untuk memulai percakapan dengan Sasuke setelah dua minggu tidak bertemu.
"Sasuke," panggil Naruto lagi dengan ragu. "-hari minggu kemarin aku menunggu mu, kenapa kau tidak datang naa~ Sasuke."
Naruto menegakkan kepalanya dan memandang Sasuke yang masih setia memunggunginya.
"Apa kau takut aku akan menghabiskan uang mu, Sasuke." Lanjut Naruto dan tertawa, seolah apa yang ia katakan adalah hal lucu. Namun tawanya terhenti saat tak mendapat tanggapan dari lawan bicaranya.
Naruto memandang sendu punggung Sasuke.
"Apa kau akan selalu menunjukkan punggung mu untuk ku, Sasuke." Tanya Naruto lirih.
Tanpa menjawab atau menanggapi Naruto, Sasuke kembali melangkahkan kakinya. Naruto membeku ditempatnya. Menatap Sasuke tak percaya.
"Sasuke," lirih Naruto dan mengepalkan tangannya.
.
.
Disclaimer: Naruto milik Masashi Kishimoto
SASUNARU as main pair
Warning: YAOI (Boys Love), OOC, Typo(s). Borring. Alur Lambat. No Edit
.
.
.
.
Angin berhembus kencang, menerbangkan beberapa dedaunan kering yang terlepas dari rantingnya. Dibawah sebuah pohon, seorang gadis dengan surai pirang cerah sedang telentang dan menjadikan kedua tangannya sebagai bantal. Angin bertiup lembut membelai, seolah menghanyutkan sang gadis untuk segera terlelap.
"Nee-chan." Panggil sebuah suara menginterupsi indera pendengaran sang gadis pirang.
Kedua kelopak mata yang tadinya tertutup mulai menampkkan iris sapphire yang menawan. Dengan perlahan sang gadis pirang mendudukkan badannya.
"Akh, Naruko-chan. Nanda-ttebayo?" tanya Naruto seraya mengusak rambut pirang palsunya.
"Sangat aneh mendapati Nii-chan sendiri disini." Ujar Naruko membuka percakapan dan melangkah duduk didekat Naruto. "Sudah dua minggu ini Nii-chan terlihat sendirian, kenapa?" tanya Naruko lembut dan menatap sang kakak kembar yang sedang menerawang jauh. Seolah dedaunan yang diterbangkan angin adalah hal yang sangat menarik.
"Apa yang kau bicarakan, Ruko-chan? Aku merasa baik-baik saja, ttebayo." Balas Naruto dengan senyum lebar.
Naruko menggelengkan kepalanya dan menatap Naruto serius. "Kau tidak lagi saling menyapa dengan Gaara-sama, bahkan Gaara-sama terlihat mengacuhkan Nii-chan! Itu tidak pernah terjadi sebelumnya, dan lagi.." Naruko menjeda ucapannya sebentar. Menatap iris sapphire yang sama dengannya.
Naruto akhirnya membalas tatapan sang adik. Raut wajah Naruto berubah sendu saat melihat wajah kepedulian Naruko. Betapa dia sangat merindukan tatapan ini, tatapan yang sudah lama hilang.
"-dan lagi, Nii-chan juga tidak terlihat dekat dengan Sasuke-sama yang dari awal sudah meanaruh perhatian pada Nii-chan. Itu jelas sangat aneh!" lanjut Naruko dengan menggebu. Nafasnya sedikit tersengal karena emosi dan rasa penasarannya. Naruko tidak suka kakak kembarnya harus terluka.
"Daijobu, Ruko-chan. Nii-chan baik-baik saja." Naruto tersenyum hangat dan membelai surai pirang cerah Naruko.
Naruko menepis tangan Naruto yang mengundang keterkejutan dari Naruto.
"Naruko-chan,"
"Nii-chan, bukankah kita sudah sepakat bahwa tidak ada rahasia lagi diantara kita? Tetapi kenapa Nii-chan mengingkarinya! Nii-chan membuat Ruko kecewa." Rajuk Naruko dan memalingkan wajahnya dari Naruto.
.
"Naruto. Kau tahu, aku kecewa pada mu."
.
Ucapan Gaara waktu itu kembali terngiang ditelinga Naruto. Naruto juga mengingat punggung Sasuke yang ia lihat waktu itu. Naruto menundukkan wajahnya.
"Gomen ne, Ruko-chan."
Naruko terkejut dengan intonasi yang digunakan Naruto. Seolah Naruto sangat menyesal dan sangat terluka. Naruko memandang Naruto dan mendpati wajah sendu dengan senyum yang dipaksakan.
"Nii-chan."
.
.
Naruko masih terdiam ditempatnya setelah mendengar cerita Naruto. Sekarang ia tahu bagaimana perasaan Naruto. Naruto pasti merasa sangat buruk karena harus dihindirai oleh dua orang temannya.
Naruko mengepalkan kedua tangannya. Saphhirenya menatap punggung Naruto yang berjalan didepannya. Sekarang mereka berdua akan menuju ke asrama karena hari sudah menjelang sore. Dan Naruto memutuskan untuk menghentikan kegiatan kedua ekstrakurikulernya semenjak satu minggu pertengkarannya dengan Sasuke juga Gaara.
Naruko menghentikan langkahnya, mengundang rasa penasaran dari Naruto yang tidak mendengar langkah kaki di belakangnya. Naruto juga menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang. Menatap Naruko yang tersenyum manis.
"Ada apa, Naruko-chan?" tanya Naruto yang bingung.
"Ruko baru ingat, jika Ruko harus pergi ke lab Kimia untuk melakukan tugas club Kimia, Nii-chan." Jawab Naruko tenang dan kalem.
Naruto memicingkan matanya. Naruko dan senyuman semanis itu, selalu bisa menipu Naruto. Terakhir kali, senyum itu berarti kepindahannya dari Konoha secara diam-diam.
"Ruko-chan, kau tidak sedang ingin menipu ku –kan?" tanya Naruto dengan penuh rasa curiga.
Mendengar kalimat tanya itu, Naruko sempat terkejut sebelum mempoutkan bibirnya.
"Apa-apaan itu, kenapa Nii-chan mencurigai ku. Memang Ruko bisa menipu apa, Nii-chan? Nii-chan, kau melukai hatiku, ttebane." Jawab Naruko dengan memalingkan wajahnya, tidak berani menatap kelereng sapphire Naruto.
Naruto tertawa keras melihat ekspresi Naruko. "Baiklah, Aku mengerti. Kalau begitu Nii-chan akan ke asrama lebih dulu. Jangan pulang larut, ne." Pesan Naruto yang mulai beranjak dari tempatnya.
Melihat Naruto yang sudah menjauh, Naruko membalikkan badannya dan berjalan cepat menuju ke suatu tempat.
Dia tidak bisa membiarkan Naruto terluka karena dirinya lagi. Dia harus meluruskan semua ini dengan Gaara maupun Sasuke.
BRUK
Naruko terpental saat sesuatu mengenai dirinya, hingga buttnya yang lebih dulu menyentuh lantai.
"Akh! Itai!" keluh Naruko yang menggosok-gosok bagian belakang tubuhnya.
"Daijobudesu ka?" sebuah suara baritone menginterupsi pendengaran Naruko.
"Daijobudesu yo." Jawab Naruko seraya mendongakkan wajahnya.
Onyx meet sapphire.
Sasuke terpaku ditempatnya saat memandang sapphire yang mengingatkannya pada seseorang.
"Uchiha-san." Panggil Naruko saat sudah berdiri dari jatuhnya dan melihat Sasuke yang terdiam.
Sasuke memandang ke arah Naruko tanpa minat.
"Ada yang ingin ku bicarakan dengan anda," Naruko menguatkan hatinya untuk bisa berbicara dengan Sasuke tanpa tertekan aura menyeramkan dari Sasuke.
"Aku tidak merasa ada yang harus dibicarakan dengan mu." Balas Sasuke dan melenggang pergi melewati Naruko.
"Ini tentang Nii-chan! Uchiha-san aku tahu kau peduli pada Nii-chan." Teriak Naruko melupakan bahasa formalnya yang bisa menghentikan pergerakan langkah kaki Sasuke.
"Nii-chan." Ulang Sasuke lirih, namun masih bisa didengar oleh Naruko.
"Aku tahu, kau tidak menyukai kenyataan ini. Tapi, tidak bisakah Uchiha-san tidak mengacuhkan Nii-chan? Ini bukan salahnya, Nii-chan hanyalah lelaki bodoh yang melakukan segalanya untuk ku." Naruko menundukkan wajahnya.
"Lagi pula," Naruko menjeda ucapannya dan menatap punggung Sasuke. "-jika orang secerdas dirimu tidak menyadari bahwa Nii-chan adalah lelaki, itu adalah hal yang mustahil. Kau, pasti sudah mengetahuinya dari awal –kan, Uchiha-san." Tekan Naruko dengan senyum yang jarang sekali ditunjukkan oleh Naruko.
Sasuke membalikkan badannya dan menatap tajam Naruko.
"Aku benarkan, Uchiha-san." Bukan kalimat tanya yang didengar oleh Sasuke, tetapi pernyataan yang sangat jelas.
"Dari awal, kau sudah tahu jika Nii-chan adalah lelaki. Dan kau tidak suka karena ternyata dugaan mu benar. Karena tentu saja itu berimbas pada orientasi mu. Kau hanya tidak bisa mengakui orientasi mu saja –kan."
Sasuke menatap tajam sapphire yang seolah menantangnya.
"Aku tidak mengerti apa yang kau katakan. Kembali lah." Balas Sasuke tanpa menanggapi semua ucapan Naruko sebelumnya.
"Kau tahu, Uchiha-san?" tak memperdulikan ucapan Sasuke, Naruko kembali berbicara. "Nii-chan adalah pribadi yang polos dan sangat menyenangkan, dia bisa dengan mudah mendapatkan seseorang yang akan rela melakukan apapun untuknya. Karena dia terlahir seperti itu. Apa kau yakin, Uchiha-san,"
Naruko menikmati setiap ekspresi yang tak terbaca dari onyx didepannya. Naruko tahu, setiap ucapannya mampu mempengaruhi Sasuke. Naruko bisa melihat perasaan tulus dari Sasuke untuk Naruto-Niichannya.
"-apa kau yakin, membiarkan Nii-chan terlepas begitu saja?" lanjut Naruko dan sukses membuat onyx Sasuke membelalak sesaat.
'Melepaskan Naruto?' pikir Sasuke. Entah kenapa hanya memikirkan Naruto akan terlepas darinya membuat dadanya berdenyut tidak menyenangkan.
"Pikirkan kembali, Uchiha-san. Jika aku mau, aku bisa mengajak Nii-chan kembali ke Konoha dan membiarkan Nii-chan bersama Shikamaru. Kau pasti pernah mendengar namanya, kan?" tekan Naruko sekali lagi saat melihat pandangan kosong dari Sasuke.
Sasuke menatap Naruko dengan tatapan membunuh. "Kau begitu pintar menekan seseorang, bocah licik! Bagaimana bisa Naruto mengkhawatirkan orang seperti mu." Hardik Sasuke tak habis pikir, kenapa Naruto-nya harus bersusah payah melindungi gadis didepannya.
Naruko tersenyum dan terkekeh pelan. "Tentu saja karena aku adalah adiknya, Uchiha-san." Jawab Naruko kalem dan mendekati Sasuke.
"Itu saja yang ingin kubicarakan, Uchiha-san. Kau bisa pikirkan baik-baik ucapan ku." Naruko tersenyum manis setelah mengucapkan ancaman tersirat pada Sasuke dan berjalan melalui Sasuke yang masih tak bergeming.
Naruko melangkah dengan tatapan mata kosong.
'Terimakasih pada mu, Neji-senpai. Berkat dirimu, aku belajar menekan sisi polos ku. Maafkan aku, Nii-chan. Ini semua demi kebaikan, mu.' Inner Naruko saat mengingat kembali panggilan Sasuke untuknya.
.
.
放しない
.
.
Gaara menikmati sentuhan hangat musik yang memasuki indera pendengarannya. Saat ini sang Sabaku yang memiliki rambut merah maroon tersebut sedang bersantai di perpustakaan. Menyibukkan diri atau bisa dibilang melarikan diri dari tatapan kesakitan 'gadis' pirang teman sebangkunya.
BUK
Gaara menutup kasar buku yang ia baca, melepaska earphonenya dan memandang kosong jendela yang menampilkan pemandangan pohon yang berguguran.
Hari sudah beranjak senja, sudah waktunya ia kembali ke asrama. Namun perasaannya sungguh tak tenang.
Apakah Naruto sudah mengerjakan tugas Matematika?
Apakah Naruto sudah mengerjakan hukumannya karena mendapat nilai paling buruk di kelas Biologi?
Apakah Naruto tidak sedang kesuliatan?
Selalu itu yang dipikirkan oleh Gaara. Meskipun Gaara kecewa pada Naruto, tidak berarti Gaara harus mengacuhkan Naruto bukan?
Sial!
Meskipun menghindari Naruto sampai sejauh ini, Gaara tetap tidak bisa berhenti memikirkan Naruto.
Gaara mulai beranjak dari tempatnya. Merapikan peralatannya dan membawa setumpuk buku yang akan ia baca di kamar nanti.
Gaara berjalan menuju ke tempat pegawai perpustakaan untuk meminjam buku. Dari jauh Gaara dapat melihat petugas perpustakaan yang sedang membaca buku.
TUK
Gaara meletakkan buku-buku yang akan dipinjamnya di meja dan mengeluarkan kartu perputakaan.
"Akh, Sabaku-san. Hari ini kaupun meminjam banyak buku, ne." Sapa Motoi, petugas perpustakaan.
Gaara hanya terdiam tak membalas ucapan Motoi.
"Kau tidak menunggu Naruto? Dia belum lama memasuki perpustakaan dan mengeluhkan tugasnya yang sangat sulit, haha. Anak itu selalu saja mengeluhkan tugas-tugasnya." Tanya serta cerita Motoi saat mengingat tingkah konyol Naruto beberapa saat lalu.
Gaara menatap sekitar secara otomatis. Tertarik dengan informasi yang diberikan Motoi.
"Dia ada ujung ruangan sebelah barat." Celetuk Motoi saat melihat Gaara yang terlihat sedang mencari seseorang.
Gaara tersentak dan berdehem pelan. Seolah hal tersebut bisa membuat Motoi menganggap tidak melihat kelakuan absurd Gaara.
"Nah, Sabaku-san. Kau sudah bisa membawa semua buku ini." Ujar Motoi kemudian dan menyerahkan buku-buku yang sudah ia masukkan ke daftar pinjam Gaara.
"Hm, Arigato." Balas Gaara dan mengambil buku-bukunya.
"Hah, kurasa aku akan menemani Naruto lagi sampai malam hari ini. Aku sungguh kasian jika melihatnya sendiri." Keluh Motoi dengan suara yang sengaja dibuat keras.
Gaara berhenti melangkahkan kakinya menuju pintu, berbalik dan melewati Motoi.
"Oh, Sabaku-san. Kenapa kau kembali?" tanya Motoi berpura-pura kaget.
Gaara terlihat salah tingkah dan berdehem pelan. "Ku rasa masih ada buku yang aku butuhkan." Jawab Gaara singkat dan berjalan cepat ke arah barat.
Motoi menahan ketawanya saat melihat Gaara yang berjalan cepat. Hingga kikikannya dapat terdengar pelan. "Dasar anak muda."
.
.
Naruto mengetuk-ngetukkan pena digenggamannya. Menekuri kembali bilangan-bilangan yang membuatnya pusing sendari tadi.
"Hah! Kenapa hasil akhirnyanya berbeda dengan milik Ruko-chan, ttebayo." Teriak Naruto frustasi.
Naruto memang meminta jawaban Naruko sebagai referensi jawabannya. Tetapi cara penyelesaian masalahnya, Naruto ingin mencari sendiri karena tidak ingin bergantung dengan Naruko.
"Baiklah, aku akan mengulanginya lagi. Setidaknya aku sudah menjawab dua soal." Hibur Naruto pada dirinya sendiri.
"Cara mu sudah benar. Kau hanya kurang teliti saja dalam menghitung. Dan ini harusnya dibagi bukan dikali." Tiba-tiba sebuah suara membuat Naruto bergidik ngeri.
'Hantukah?' pikir si pirang.
Dengan gerakan patah-patah Naruto menolehkan wajahnya ke samping.
"Gyaa!" teriak Naruto keras saat mendapati tatapan mata kelam seseorang tepat disampingnya.
"Kau kenapa, usuratonkachi?"
Naruto mengedip-ngedipkan kelopak matanya. Menatap sosok didepannya tak percaya.
"Sa-sasuke!" jerit Naruto tertahan.
"Hn, sebegitu senangya bertemu dengan ku, chibi? Sampai-sampai harus memasang ekspresi menjijikkan seperti itu." Balas Sasuke yang kemudian duduk disamping Naruto. Wajahnya ia palingkan, tak ingin Naruto yang kini berdecak kesal melihat wajahnya yang merona.
"Memang aku berekspresi yang seperti apa, sampai kau terlihat sejijik itu, Teme!" kesal Naruto menendang tulang kering Sasuke.
"Yak!" teriak Sasuke out of character. Memegang tulang keringnya dan menatap naruto tajam.
"Apa yang kau lakukan! Baka-Dobe!" desis Sasuke kesal.
"Mengerjakan soal." Balas Naruto singkat dan berpura-pura mengerjakan tugasnya. Sesekali sapphirenya melirik Sasuke yang meringis dan mengelus-elus tulang kering yang ia tendang sangat bertenaga.
Naruto tertawa dalam hati melihat wajah nista Sasuke.
"Senang dengan apa yang kau lihat, Naruto?" ujar Sasuke tajam saat melihat senyum yang terkembang di wajah Naruto.
"Tidak. Aku hanya merasa senang, karena bisa menyelesaikan satu soal ku." Kilah Naruto.
Sasuke berdecak kesal.
"Chibi," panggil Sasuke saat merasa tulang keringnya mulai membaik.
Naruto menolehkan kepalanya kearah Sasuke sebagai respon atas panggilan Sasuke.
"Lusa, ayo kita berkencan. Aku merindukan mu." Ajak Sasuke gamblang.
Naruto membulatkan sapphirenya dan menatap Sasuke horor.
"Aku.. aku tidak ingin melepas mu, Naruto. Ayo kita berkencan."
BUK
Suara benda jatuh menginterupsi percakapan Sasuke dan Naruto. Serempak Sasuke dan Naruto menoleh ke asal suara.
"Gaara!" teriak Naruto dan berdiri dari duduknya.
Gaara yang tadinya ingin menemani serta membantu Naruto, memperbaiki hubungan mereka yang retak dibuat terkejut dengan percakapan Sasuke dan Naruto.
"Aku hanya, ingin meminjam buku saja." Ucap Gaara cepat dan segera mengambil bukunya yang bisa-bisanya terlepas dari genggaman.
Berbalik cepat dan berjalan menjauh dari Sasuke dan Naruto.
Naruto segera menggeser kursi yang menghalangi jalannya, ingin menyusul Gaara yang entah kenapa memasang ekspresi terkejut.
Sasuke dengan cepat menggenggam pergelangan tangan Naruto.
"Aku tidak akan pernah melepaskan mu, Naru." Tegas Sasuke dan memaku sapphire Naruto.
.
.
.
.
TBC
.
.
Yo!
Vee updet kan
Haha
Maaf blum ada SN sweet momment
Baru membangun suasana
Nyahaha
Dan maaf untuk keterlambatan, setidaknya Vee udah membuat ff oneshoot permintaan maaf kan..
Hehe *ngeles
Semoga suka, n sorry for typo ^^
Arigató^^
