Suara langkah kaki menggema di lorong koridor yang masih sepi. Tak banyak hal yang bisa dilihat dari koridor sekolah. Hanya beberapa siswa dan sisiwi yang sedang membersihkan kelas. Dan beberapa siswi yang menjerit tertahan dengan wajah merona ketika sang pemilik langkah kaki melewatinya.
Suasana di pagi hari memang masih sangat tenang, berbeda jika murid-murid mulai berdatangan dan ketenangan tidak akan pernah didapatkan. Sang pemilik langkah menolehkan arah pandangnya pada langit yang terlihat cerah dengan awan yang menggumpal indah.
TAP
Terusik dengan suara langkah kaki yang berhenti tepat didepannya, sang pemilik langkah menghentikan langkah kakinya dan menolehkan pandangan ke depan. Tepat ke manik sapphire yang menatapnya dengan senyuman indah. Rambut pirang yang tergerai serta tanda lahir bak kumis kucing. Dipermanis dengan bando warna shock pink yang membuat sang gadis tampak semakin manis.
Jika ditilik dari pandangan sang gadis pirang, dapat kita lihat wajah seorang pemuda dengan kulit putih bak porselen yang memiliki lingkaran hitam disekitar matanya dan mahkota berwarna merah bata.
Gaara –sang pemuda- terdiam ditempatnya saat sang gadis hanya tersenyum manis. Menunggu apa gerangan yang membuat sang gadis menemuinya sepagi ini dengan senyum semanis itu.
"Gaara-sama, berkencanlah dengan ku." Sebuah kalimat ajakan atau bisa dikatakan pernyataan dari sang gadis pirang dengan surai tergerai mampu menghentikan waktu disekitar mereka.
Angin berhembus kencang menerbangkan helaian surai pirang yang tergerai dan juga surai merah bata yang tadinya tertata rapi.
Gadis-gadis yang tadi merona dan masih memperhatikan sang Prince Ice Sabaku No Gaara terbelalak tak percaya karena ucapan terang-terangan sang gadis pirang. Sedangkan sang gadis pirang hanya tersenyum manis dan tak merasa terintimidasi sama sekali oleh tatapan tajam beberapa siswi yang terarah padanya.
.
.
DISCLAIMER: Anime dan Manga NARUTO milik Masashi Kishimoto senpai, fict ini punya Vee dan Vee cuman pinjam nama.
PAIR: SasuNaru as main pair.
WARNING: YAOI (Boys Love), Super Long Chap with many TYPO(s), OOC hampir di semua chara, NO EDIT dan memiliki alur yang syuper lambat. So Be Aware Guys, Don't Like just Closed. I've warn u already.^^
.
.
Suara bisikan terus menggema di sepanjang koridor yang dilewati Naruto. Namun, Naruto yang tidak peka terhaap apapun hanya terus melangkah senang tak memperdulikan sekitar.
"Apa kau yakin, gadis ini yang sudah berani menyatakan cinta pada Gaara-sama?" bisik seorang gadis dengan rambut coklat yang tergerai panjang, pada temannya yang memiliki rambut hitam pendek dengan kuncir twin tail.
"Yah, menurut gosip yang beredar memang gadis pirang tidak tahu malu ini yang telah menyatakan cinta pada Gaara-sama. Dasar gadis murahan!" hardik sang gadis rambut hitam yang disetujui oleh teman-teman gadis tersebut yang ikut bergerombol.
Naruto hanya menaikkan satu alisnya saat mendengar bisikan-bisikan dari sekitarnya yang terdengar jelas.
'Hah! jika mereka memang membicarakan ku, kenapa tidak mengatakan padaku langsung, ttebayo. Dasar kurang kerjaan.' Naruto menghela nafas lelah saat membatin tingkah aneh orang-orang yang ditemuinya.
Naruto terus berjalan hingga tanpa sadar didepannya telah berdiri sosok gagah yang menatapnya dengan tajam.
Naruto memutar bola matanya semakin malas. Tadi, dia harus mendengar bisikan-bisikan aneh dari orang disekitarnya. Dan sekarang apa? Dia harus menghadapi seorang pemuda kelebihan hormon dan suka mencium seenak hatinya yang sedang terlihat badmood.
'Sebenarnya, mimpi apa aku semalam.' Batin Naruto merasa miris dengan keadaannya sekarang.
Naruto mencoba cuek dan hendak melewati Sasuke tanpa menyapanya. Hal yang sering ia lakukan. Dan melihat dari aura yang tidak bersahabat dari sang raven, tentu saja Naruto tidak mudah melewati Sasuke.
"Na~ Teme. Aku tahu kita baru saja baikan dan kau sudah sangat merindukan ku, ttebayo. Tapi sungguh, aku sedang tidak ingin berdebat apapun dengan mu." Ucap Naruto panjang lebar saat lengannya dicengkeram dengan kuat oleh jari jemari Sasuke.
"Kau harus menjelaskan sesuatu, usuratonkachi. Aku tidak akan melepas mu dengan mudah." Bisik Sasuke tajam tepat ditelinga Naruto.
Naruto bergidik ngeri saat helaan nafas Sasuke terasa dilubang kupingnya.
"Berhenti mengatakan hal aneh seperti itu, Sasuke. Aku sungguh tidak paham, ttebayo." Balas Naruto dengan raut wajah bingung.
Biasanya, ekspresi Naruto yang seperti itu bisa membuat Sasuke gemas dan mengusak rambut palsu Naruto. Namun tidak untuk hari ini.
Dengan kasar, Sasuke menyeret Naruto ke tempat yang lebih sepi. Hingga membuat semua orang yang saat itu melihat kejadian tersebut menjadi semakin gencar berbisik-bisik negatif mengenai Naruto.
.
.
Naruto memandang bingung ke arah Sasuke. Setelah tadi menyeretnya dengan sangat tidak berperi kemanusiaan, sekarang Sasuke dengan diam seribu bahasanya menyodorkan smartphone padanya.
"Apa maksudnya ini, Uchiha-Teme! Kau menyeretku sejauh ini hanya ingin pamer ponsel? Aku juga punya ponsel." Kesal Naruto saat Sasuke masih diam dengan rahang yang mengeras. Terlihat sekali jika Sasuke sedang menahan marah.
"Jelaskan ini padaku, Baka-Chibi!" Perintah Sasuke absolut. Dengan suara berat yang terasa menyeramkan bagi Naruto.
Naruto mengerutkan alisnya. Memandang heran pada Sasuke yang terus mengeluarkan aura-aura kelam.
Sasuke berdecak kesal saat Naruto hanya diam mematung dan memandangi dirinya.
Melihat ekspresi kesal Sasuke, Naruto akhirnya melirikkan iris sapphire indahnya pada ponsel di genggaman Sasuke. Dengan ragu, Naruto mengambil alih ponsel Sasuke dan mengusap layarnya.
Hal pertama yang dilihat Naruto adalah video player dengan wajah Gaara di dalamnya.
Naruto terkekeh kecil. "Sejak kapan kau mengoleksi video Gaara?" Tanya Naruto dengan nada mengejek.
Sasuke semakin mengetatkan giginya. "Lihat dan jelaskan saja, Usuratonkachi!" Perintah Sasuke lagi tak sabar. Sungguh video itu membuat Sasuke merasa amarahnya berada di ubun-ubun.
Dengan wajah innocent dan terlihat bodoh, Naruto menekan icon play pada video player tersebut.
Suara berisik menjadi hal pertama yang di dengar Naruto saat video tersebut mulai menampilkan sosok Gaara dengan wajah stoic dan sosok gadis pirang terurai didepan Gaara tersenyum manis.
.
Setelah pernyataan sang gadis pirang, Gaara masih terdiam. Hingga menimbulkan rengutan kecil di wajah sang gadis.
"Hei! Sabaku Gaara! Aku sudah mengajak mu berkencan dan kau hanya diam?" Kesal sang gadis dan melipat kedua tangannya di dada.
"Naruto." Panggil Gaara ragu, namun masih terdengar di telinga sang gadis.
Mendengar sebuah nama yang keluar dari mulut Gaara membuat sang gadis berdecak kesal dan menghentakkan sebelah kakinya.
"Jadi bagaimana? Ayo kita berkencan." Ajak sang gadis pirang lagi dengan senyum manis.
"Bagaimana dengan Uchiha?" Tanya Gaara teringat momentum Sasuke yang mengajak Naruto berkencan kemarin.
Sang gadis mengerutkan keningnya. "Kenapa dengan dia? Hei, aku mengajak mu berkencan dan kau malah menanyakan orang lain?" Rajuk sang gadis dengan bibir mengerucut kesal.
'Cantik.' Inner Gaara saat melihat ekspresi sang gadis.
"Baiklah. Ku anggap diam mu sebagai 'Ya'. Aku tunggu weekend nanti." Putus sang gadis seenaknya mengambil kesimpulan dan berbalik lalu berlari pergi meninggalkan Gaara yang masih terdiam.
Tak berapa lama senyum tipis Gaara terlihat menghiasi wajah stoicnya.
"Kencan ya?" Ulang Gaara dan mulai melangkah dari tempatnya.
.
Naruto mengerutkan alisnya dalam. Apa yang harus dijelaskan dari video ini. Naruto benar-benar gagal paham dengan pemuda emo di depannya ini. Naruto memandang kearah Sasuke dan menyerahkan ponsel Sasuke yang diterima oleh Sasuke.
"Sekarang jelaskan." Perintah Sasuke tanpa mengurangi aura tak bersahabatnya.
Naruto meringis melihat emosi yang terlihat jelas dari Sasuke. Ini bahkan lebih menyeramkan dibanding saat Sasuke tahu dirinya laki-laki.
"A-aku merasa tidak ada yang perlu dijelaskan, ttebayo. Memang apa yang harus dijelaskan?" Gagap Naruto merasa terintimidasi.
"Bagaimana bisa kau mengajak kencan laki-laki lain saat kau menolak ku, huh!" Geram Sasuke.
Entah ini hanya perasaan Naruto atau bagaimana. Tapi Naruto merasa suara Sasuke semakin rendah dan mengancam. Terlebih deru nafas Sasuke terasa sangat dekat bagi Naruto hingga Naruto merasa sakit di punggungnya karena secara otomatis mencondongkan badannya ke belakang.
"Sasuke~~~ kau terlalu dekat." Cicit Naruto akhirnya dan mencoba mendorong dada bidang Sasuke tanpa tenaga.
"Benarkah?" Goda Sasuke saat merasa keadaan sekarang menguntungkannya. Wajah yang tadinya mengeras sedikit luluh.
Dengan seringai jahil, Sasuke semakin mendekatkan dirinya pada Naruto yang tak bisa mengelak lagi karena pinggang yang sudah dilingkari tangan Sasuke. Hidung mereka bersentuhan dan membuat Naruto membulatkan matanya.
"Bagaimana sekarang?" Goda Sasuke seraya meremas pinggang Naruto pelan.
Naruto yang baru tersadar dari posisinya segera mendorong-dorong Sasuke sekuat tenaga.
"Kau gila! Sasuke!" Teriak histeris Naruto saat Sasuke mengecup pelan leher dan dagunya.
"Hn, i'm crazy for you." Balas Sasuke tanpa melonggarkan dekapannya.
"Ok, Teme! Lepaskan aku sekarang dan aku akan menjelaskan apa mau mu. Apapun itu mau mu, aku akan menjelaskannya." Tawar Naruto saat Sasuke mulai mengendus-endus lehernya semakin intim.
Sasuke menghentikan kegiatannya saat mengingat video yang disebar melalui group SNS. Sebenarnya Sasuke tidak begitu suka membuka SNS jika tidak mendengar desas-desus dan bisikan serta umpatan yang ditujukan untuk Naruto-nya.
Bukannya melonggarkan dekapannya, Sasuke semakin mempererat pelukannya pada Naruto. "Kau milikku, Namikaze Naruto." Bisik Sasuke dalam.
Naruto sudah kehilangan konsentrasi percakapannya dengan Sasuke saat melihat sekitarnya yang mulai ramai menonton adegan tak layak dirinya dan Sasuke.
"Demi Kami-sama, Sasuke! Kita menjadi pusat perhatian terlebih kita di sekolah! Dan oh! Bel masuk sudah berbunyi, Teme!" Cerocos Naruto panik saat Gaara ada diantara kerumunan yang melihat adegan Sasuke memeluk erat Naruto.
Sebenarnya, Sasuke tidak begitu peduli jika harus menjadi pusat perhatian. Hanya saja, perkataan Naruto yang mengatakan bel masuk sudah berbunyi menjadi pertimbangan Sasuke untuk melepaskan dekapannya.
"Temui aku saat jam istirahat. Aku menunggu mu di lapangan basket indoor." Bisik Sasuke dan mulai melangkah meninggalkan Naruto yang tertunduk lemasdan canggung.
"Sial!" Geram Naruto dan mulai melangkah dengan langkah cepat ke kelasnya.
.
.
~I Won't Let You Go~
.
.
Sepertinya, kesialan memang milik Naruto hari ini. Entah kenapa Dewi Fortuna enggan singgah dan menyambangi 'gadis' berambut pirang terurai dengan bando shock pink. Naruto menghela nafas lelah untuk yang kesekian kali. Meletakkan kepalanya pada meja dan menutup kelopak matanya. Naruto sungguh gagal paham dengan suasana canggung ini.
Tiba-tiba, semua teman perempuannya menjauhinya dengan bisikan-bisikan tak menyenangkan. Dan, teman laki-laki yang biasa menyapanya dengan riang kini nampak menjauh seolah terintimidasi.
Naruto menghela nafasnya lagi dan mengusak rambut pirang palsunya.
"Nande-ttebayo." Keluh Naruto lirih.
Gaara melirik teman sebangkunya yang terlihat sangat kacau. Kemudian diliriknya saudari kembar Naruto yang sesekali melirik khawatir Naruto.
'Gaya rambut yang sama.' Pikir sang Sabaku. Ocehan dari guru Kimia sama sekali tidak memasuki indera pendengaran Gaara. Saat ini, otaknya sedang memutar kembali kejadian tadi pagi.
Saat seorang gadis dengan rambut pirang panjang terurai memaksa kencan di akhir pekan dan seorang gadis dengan rambut pirang yang sama, berpelukan erat dengan seorang pemuda berambut raven.
Gaara mendecih kesal dan mengeratkan genggaman tangannya. Entah kenapa, perasaan tak nyaman muncul begitu saja saat mengingat pelukan itu.
"Gaara." Sebuah suara menginterupsi lamunan Gaara. Dengan tenang Gaara menolehkan wajahnya pada teman sebangkunya.
Tatapan melas menyambut Gaara.
"Gaara, apa kau juga membenci ku dan akan menjauhi ku?" Kalimat tanya dengan nada hopeless benar-benar membuat Gaara salah tingkah. Gaara berdehem pelan guna membersihkan tenggorokannya. Sedangkan Naruto masih memandang Gaara dengan mata bulatnya yang indah.
Gaara segera menepis pemikiran terakhirnya karena kehilangan fokus.
"Tidak." Jawab Gaara akhirnya dan membuat seulas senyum terukir di wajah dengan kulit tan dan tanda lahir layaknya kumis kucing.
Gaara semakin dibuat salah tingkah dengan senyuman maut teman sebangkunya. Gaara tahu Naruto laki-laki. Sebagai laki-laki Naruto memang tampan meskipun wajah manis mendominasinya, yah seragam juga rambut palsunya sangat mendukung.
Tapi, senyuman Naruto selalu berhasil membuat ia luluh dan merasa hangat. Seolah, kejadian beberapa minggu silam tidak pernah ada. Naruto selalu bisa membuat hatinya goyah. Bahkan bisa menggoyahkan perasaan tak nyaman yang baru saja ia rasakan.
"Arigató na~~ Gaara." Lirih Naruto tulus dan menegakkan kepalanya. Memperhatikan sensei yang sedang menerangkan teori kimia molekul-molekul entah apa yang sangat sulit dimengerti oleh Naruto.
Gaara memalingkan wajahnya menatap jendela. Menutup semburat merah yang sialnya hinggap dipipinya. Gaara yakin itu karena pipinya terasa hangat.
Tunggu.
Gaara memandang Naruto kembali secara spontan. Membuat Naruto yang tadinya fokus ke depan kelas kembali mengalihkan sapphirenya menghadap Gaara. Naruto tersenyum charming dan kembali mengalihkan perhatiannya pada sensei yang mengajar di depan.
'Senyum itu,' Gaara mulai memperkirakan sesuatu. Dengan cepat jadenya menatap tajam sesosok gadis pirang yang sempat melirik Naruto tersenyum manis.
"Sial." Umpat Gaara lirih saat menyadari sesuatu.
"Kau mengatakan sesuatu, Gaara?" Bisik Naruto pelan.
Gaara membalas raut penasaran Naruto dengan wajah stoic andalannya.
"Tidak." Balas Gaara singkat dan kembali memperhatikan jendela kelasnya.
'Wajah mereka memang mirip bahkan sangat identik. Tapi senyum menenangkan itu, hanya milik Naruto.' Simpul Gaara dalam hati dan tanpa disadari, Gaara mulai mengepalkan jemarinya. Mencengkeram kuat pena yang sendari tadi dipegangnya.
'Namikaze Naruko. Beraninya kau,' geram Gaara saat dirinya merasa kembali tertipu. Akhirnya Gaara mengisi sisa waktu jam pelajaran pertama dengan menutup mata dan mencoba meredam emosi yang menyeruak dalam dirinya.
'Sial.' Umpat Gaara lagi dalam hati.
.
.
.
Bel istirahat berdentang membuat lamunan para murid buyar berganti wajah sumringah. Guru didepan sana tersenyum melihat reaksi anak didiknya yang kembali bersemangat. Dengan penuh pengertian sang guru mengakhiri pelajarannya dan keluar kelas.
Semua penghuni kelas mulai berhamburan keluar kelas. Rata-rata dari mereka bergerombol dan memperbincangkan sesuatu yang bagi mereka menarik. Namun, hal tersebut tidak dialami oleh sang pemeran utama. Namikaze Naruto, nampak terduduk lesu ditempatnya.
"Nee-chan, kau tidak ke kantin?" sebuah suara halus menginterupsi indera pendengaran Naruto. Naruto yang semula menundukkan wajahnya, kini mendongak dan mendapati senyum manis saudari kembarnya yang hari ini memiliki dandanan yang sama persis dengannya.
Naruto tersenyum dan menggeleng pelan sebagai jawaban. "Aku harus menyelesaikan sesuatu. Kau makan saja dengan Gaara." Jawab Naruto dengan senyum sok perhatian. Di dalam hati, Naruto sedang merutuki dirinya sendiri yang seperti sedang dikutuk dewi fortuna.
Naruto mengalihkan pandangannya ke samping dan mendapati teman sebangkunya masih berdiam diri sendari tadi dengan ekspresi stoic yang terasa berbeda. Namun, Naruto mencoba menepis prasangka tersebut.
"Nah, Gaara. Bagaimana menurutmu? Aku dan Naruko sengaja berpenampilan sama hari ini. Kita sangat mirip, kan?" tanya Naruto dengan senyum lebar dan bangga.
Gaara melirik Naruto dan kemudian Naruko. Naruto masih tersenyum cerah sedangkan Naruko nampak menundukkan wajahnya.
"Baiklah, Gaara. Aku akan pergi sebentar. Bisakah aku menitipkan Naruko padamu?" tanya Naruto dengan penuh arti. Gaara hanya menatap Naruto dan berdehem pelan.
"Nee-chan, tidak perlu seperti itu." Balas Naruko dengan rona pipi diwajahnya. Naruto tersenyum lembut dan kembali menolehkan iris sapphirenya kearah Gaara.
"Tidak biasanya kau diam saja, ttebayo. Tapi aku harus pergi sekarang. Nah, Naruko-chan. Nii-chan pergi dulu." Pamit Naruto dan mulai beranjak dari duduknya. Mengecup lembut kening Naruko sebelum akhirnya melangkah meninggalkan kelas.
Suasana masih hening saat Naruto telah melewati pintu kelas. Saat ini, kelas hanya dihuni oleh Naruko dan juga Gaara. Naruko menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Apa maksudmu." Kalimat datar yang entah berupa kalimat tanya atau tidak memecah keheningan yang tercipta.
Naruko bukan orang bodoh. Dia mengerti apa maksud Gaara. Ini pasti tentang insiden pagi tadi.
"Jadi, kau sudah menyadarinya." Respon Naruko dan menghela nafas lelah. Gaara menatap tajam gadis pirang yang kini duduk santai diatas meja Naruto.
"Seperti yang aku duga darimu, Gaara-sama. Kau memang pintar." Puji Naruko dengan senyum manis menghiasi wajahnya.
"Katakan saja apa maksudmu." Tegas Gaara. Ia sungguh tidak ingin berlama-lama dengan gadis disampingnya kini. Perasaan tidak nyaman kembali menghinggapi dirinya.
"Aku tahu kau menyukai Naruto Nii-chan." Naruko menatap jade lelaki dengan surai merah disamping kanannya. Seolah menantang sang merah. "Tapi, lupakan perasaan itu. Kau tidak berhak memilikinya, Gaara-sama. Kau akan kembali terluka."
Gaara mengeryit tak suka dengan ucapan Naruko. "Tahu apa kau-
"Aku tahu semua yang dirasakan Naruto Nii-chan." Potong Naruko cepat sebelum Gaara menyelesaikan ucapannya. "Kau hanya menjadikan Naruto-Nii sebagai pelampiasan akan rasa trauma mu. Aku tahu kau menyukai Nii-chan tapi bukan suka yang seperti itu. Perasaan mu tidak lebih tulus dari Uchiha-san, Gaara-sama. Akui saja, kau menyukai Nii-chan karena dia adalah teman pertama mu setelah sekian lama kau terjebak dalam kegelapan." Lanjut Naruko dengan intonasi yang naik satu oktaf. Tidak ada lagi Naruko yang lemah lembut dan terlihat rapuh. Gaara menatap gadis didepannya dengan pandangan menilai.
"Naruto begitu ingin melindungi mu. Sebenarnya, apa yang dilindungi Naruto dari gadis seperti mu." Balas Gaara tanpa menghiraukan segala ucapan Naruko.
Naruko menutup wajahnya dengan satu telapak tangan dan terkekeh pelan. Membuat Gaara memadang Naruko dengan pandangan horor. Sekelebatan ingatan saat seorang gadis cilik sedang tertawa dan menangis dalam satu waktu hinggap di kepala Gaara.
"Entah aku harus mengatakan kepada berapa orang lagi." Naruko kembali bersuara setelah mencoba meredam perasaan tidak enak di dalam hatinya. "Naruto-nii memang sangat polos dan tidak peka dengan sekitar." Naruko menjeda ucapannya saat melihat Gaara yang menunduk seraya memegang sebelah kepalanya.
"Lawanlah, Gaara-sama." Bisik Naruko tepat di telinga Gaara. "Lawanlah rasa takut yang terus membuat mu lemah. Katakan pada dunia bahwa kaulah sang pemenang dari rasa takut mu." Naruko terus berbisik halus di telinga Gaara.
Tubuh Gaara bergetar halus saat kelebatan-kelebatan kejadian beberapa tahun silam datang silih berganti bagai kaset rusak. Dengan perlahan Naruko mendekati Gaara dan duduk di bangku Naruto. Mendekap pemuda Sabaku dan terus membisikkan kalimat penenang dan juga penyemangat.
Tanpa sadar Gaara merespon setiap bisikan dan perlakuan Naruko. Gaara mencengkeram lengan Naruko yang melingkar dipundaknya. Mendekap erat seolah hal tersebut dapat menghilangkan rasa sakitnya.
Tanpa disadari oleh mereka berdua, adegan pelukan dalam kelas tersebut disaksikan oleh seseorang yang kini melangkah menjauh dari kelas.
.
.
Other place at the same time.
.
.
Setelah keluar dari kelas, Naruto berjalan pelan ke arah lapangan basket indoor. Sebenarnya, Naruto sangat tidak ingin melangkahkan kaki kesana. Tapi sebagai seorang lelaki, tentu saja Naruto tidak akan mencabut ucapannya begitu saja kan.
"Ck, sial!" Naruto terus merutuk sepanjang jalan. Tidak memperdulikan beberapa siswa yang terpesona karena paras manisnya. Dan juga tatapan benci dari para siswi yang terus berbisik negatif tentang dirinya.
Cukup lama Naruto berjalan karena memang jarak gedung tempat belajar mengajar dan gedung olahraga atau kegiatan ekstrakurikuler di pisah. Saat ini Naruto telah berdiri kaku di depan pintu lapangan basket indoor. Menimbang haruskah dia masuk dan melihat wajah menyebalkan dari Uchiha bungsu.
"Kenapa kau masih diluar, Chibi Kitsune? Berniat melanggar janji? Begitukah sikap seorang lelaki? Apakah rok mu sudah mengubah sifat lelaki mu?" cibir sebuah suara dari arah samping.
Sontak Naruto mengalihkan perhatiannya dari pintu ke arah samping kanan. Hal yang sungguh sial bagi Naruto saat melihat seringai menyebalkan dari sosok pemuda yang tidak lebih tinggi dari Naruto dengan dandanan emo. Naruto mengetatkan gigi-giginya.
"Urusse! Kau sendiri juga belum masuk, Teme! Kenapa? Takut menghadapi ku?" balas Naruto dengan ekspresi minta dicium dimata Sasuke. Mata membulat dengan bibir mengerucut, apalagi jika tidak minta dicium.
Sasuke segera menepis pemikirannya dan mulai berkonsentrasi dengan percakapannya. "Aku tahu kau belum makan siang." Sasuke berjalan melewati Naruto dan membuka pintu yang menghubungkan dengan lapangan basket indoor setelah mengangkat plastik ditangan kirinya.
Naruto menjadi salah tingkah dan mengikuti langkah Sasuke memasuki lapangan. Suasana sepi menyambut kedatangan mereka berdua. Sasuke memilih duduk di tribun penonton dan membuka bungkusannya. Naruto yang melihat hal tersebut mendekat dan duduk di sebelah Sasuke dengan jarak 2 bangku.
Sasuke melirik tingkah Naruto yang seolah takut terhadapnya. Seulas senyum tipis hinggap dibibir Sasuke. "Apa yang kau lakukan dengan jarak ini?" tanya Sasuke usil dan membuat Naruto menatap sinis Sasuke.
"Hanya berjaga-jaga jika ada ayam mesum yang tiba-tiba menyerangku." Jawab Naruto ketus dan mengambil bungkusan onigiri dari plastik yang tadi dibawa Sasuke.
Sasuke semakin memperlebar seringaiannya. "Kau tahu Naruto? Kau sangat totalitas dalam memerankan peran mu." Ejek Sasuke yang kemudian menyesap jus tomatnya.
Naruto memandang Sasuke spontan dan menendang tulang kering Sasuke yang langsung ditangkap oleh Sasuke. "Tidak untuk keduakalinya, dear." Kata Sasuke santai.
Naruto berdecak kesal dan kembali memakan onigirinya. "Jadi, apa yang kita lakukan disini?" tanya Naruto ringan dan memandang Sasuke yang kembali menyesap jus tomatnya.
"Hn, tadinya aku ingin meminta penjelasanmu." Sasuke menjeda ucapannya dan meletakkan bungkus karton jus tomat yang sudah kosong disampingnya. "Tapi itu tidak perlu lagi, aku tahu yang tadi pagi itu bukan dirimu." Lanjut Sasuke dan menatap intens Naruto.
"Akh, soal kejadian Gaara dan Naruko?" tanya Naruto dengan meminum jus orange kalengnya. Sasuke mengangguk sebagai jawaban dan mengusap kening Naruto yang berkeringat.
"Aku juga tidak menyangka Naruko-chan akan mengajak Gaara kencan. Sebenarnya aku tidak begitu tahu apa pengertian kencan bagi Naruko-chan, tapi aku yakin artinya tidak akan seburuk dirimu." Ujar Naruto dengan berbagai mimik diwajahnya yang membuat Sasuke gemas dan ingin mencium bibir yang sendari tadi bergerak-gerak.
Tiba-tiba Naruto memberengut dengan alis yang menukik dalam. Membuat Sasuke bertanya-tanya, apa gerangan yang membuat Naruto-nya begitu terganggu.
"Na~ Teme. Bukankah jika kencan itu hanya dilakukan oleh dua orang saja?" tanya Naruto dengan ekspresi polos. Sasuke kembali berfikir, sekiranya apa lagi yang akan diduga oleh si pirang didepannya ini.
"Teme, entah kenapa aku takut jika mereka-
"Mereka sudah dewasa, Dobe. Kau tidak harus terus mengkhawatirkan saudari kembar mu itu." Potong Sasuke sebelum Naruto menyelesaikan ucapannya.
"Lebih baik kau mengkhawatirkan dirimu saja, Chibi Kitsune." Lanjut Sasuke yang kini sudah berada tepat disamping Naruto. Memanfaatkan keadaan saat Naruto masih melamunkan Naruko.
Naruto tersentak kaget saat merasakan Sasuke yang mulai melingkari pinggangnya. "T-teme! Apa yang kau lakukan, ttebayo!" teriak Naruto keras dan mendorong wajah Sasuke yang semakin mendekat.
"Aku sudah lama tidak mencium mu, Naru. Berbaik hatilah padaku." Goda Sasuke seraya memerangkap Naruto dalam kungkungannya.
Naruto menatap horor Sasuke yang kini memerangkap dirinya. Dengan panik Naruto segera menghantamkan kepala pirangnya pada kepala raven Sasuke hingga membuat Sasuke mengaduh kesakitan.
Naruto merasakan kepalanya pusing namun hal tersebut tidak membuat Naruto hilang fokus. Dengan segera Naruto berdiri dari tempatnya dan mengusap-usap keningnya. Sama halnya dengan Sasuke.
"Apa yang kau lakukan, Baka-Chibi? " geram Sasuke.
"Salah sendiri kau mau mencium ku! Kau pikir tidak horor apa diperlakukan seperti itu. Dasar Sas-Gay!" ejek Naruto seraya menjulurkan lidahnya.
Sasuke menggeram gemas dan mulai berdiri. Melihat Sasuke bangkit dari duduknya, Naruto segera berlari tunggang langgang hendak mencapai pintu. Namun belum sempat Naruto berlari lebih dari 2 meter, Sasuke sudah berhasil menangkapnya.
"Apa hukuman yang pas untuk rubah nakal ini, heum." Gumam Sasuke saat sudah bisa mengendalikan Naruto dibawahnya. Naruto masih berusaha melepaskan diri dari Sasuke yang menahan pergerakannya dengan kuat.
Selintas ide terpintas di otak Sasuke. Dengan gemasnya, Sasuke mulai menggelitiki Naruto.
"Akh, ahahaha ahahaha hentikan, haha Sasuke jangan haha Sasuke." Teriak Naruto putus-putus dengan tubuh menggeliat.
"Rasakan itu, rubah nakal." Balas Sasuke tanpa menghentikan gelitikannya. Ditengah-tengah rasa gelinya, Naruto terpana akan Sasuke yang bisa tertawa puas dan lebar.
"Kau sungguh tampan, Sasuke." Lirih Naruto yang bisa didengar oleh Sasuke.
Sasuke menghentikan gelitikannya dan memandang terkejut Naruto. Sebelum akhirnya tersenyum lembut dan mengusak rambut palsu Naruto.
"Aku sadar itu dari dulu." Jawab Sasuke dan beranjak dari tubuh Naruto. Naruto mulai mendudukkan dirinya dari posisi tidurannya akibat ulah Sasuke.
Mereka berdua saling bepandangan cukup lama. Sebelum akhirnya Naruto tertawa keras merasa konyol dengan kejadian yang baru saja dialaminya. Tawa Naruto menular pada Sasuke yang juga tersenyum tipis.
Kebersamaan mereka di tribun penonton, tak luput dari penghilatan seseorang yang mengepalkan kedua tangannya sebelum berbalik pergi meninggalkan kedua pemuda dan 'gadis' yang masih tertawa konyol.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
Hai, Vee bawa lanjutan IWLYG. Sudah panjang kan? Hehe
Maaf semakin ngaret updatenya.
Btw, Vee mau bikin oneshot dengan tema berat dan dark. Belum diputusin sih happy end ato sad end.
Dari dua judul ini, mana yang Mina-tachi sukai?
~~You Are My Obsession~~
~~Let's Not Falling in Love~~
Jangan tertipu judul yah. Pikirkan baik-baik. Vee akan membuat oneshot dengan judul yang banyak dipilih, sekalian sebagai permintaan maaf karena lambat update. ^^
Hehehe
Saa~~
Akhir kata
~Salam Vee
