CHAPTER 1
First Meeting
Matahari pagi itu bersinar terang melalui dedaunan diantara lebatnya pepohonan hutan di kaki gunung Daesan. Jaejoong teramat menyukai tempat itu. Dibalik air terjun,di dalam goa, Jaejoong menyilangkan kakinya dan bermeditasi.
Suara gemericik air terjun seolah menentramkan pikirannya membantunya menyeimbangkan hawa Eum dan Yang yang bersarang dalam tubuhnya.
Setengah hari disana terasa beberapa menit baginya. Matahari sudah berada tepat diatas ketika ia melangkah keluar dari goa itu dan menciduk air yang mengalir dari mata air tebing menjadikannya air terjun. Air dingin terasa menusuk jari jari Jaejoong ketika tangannya sedang memainkan air. Tergoda dirinya untuk merendam tubuhnya didalam genangan air dingin itu.
Satu per satu, pakaian yang ia kenakan ditanggalkan. Cincin hitam ia lepaskan dan letakkan diatas batu kecil ditepi aliran air. Perlahan tubuhnya menyesuaikan diri dengan dingin air yang mencekam hingga ke tulang.
"Jaejoong!" Kepala Jaejoong menoleh kearah datangnya suara. "Keluarlah dari dalam air!" Guru besarnya memerintah. Jaejoong segera keluar dari dalam air dan mengenakan kembali atasannya. Ia berlutut dihadapan gurunya. "Chaesunghamnida, Guru besar, aku hanya….aku baru saja…."
PLOQ
Tongkat kayu milik gurunya melayang menyentuh punggung Jaejoong. "Ini adalah hukuman untukmu! Jangan kau kira, kau sudah menjadi wakil guru maka kau bertindak gegabah!" Jaejoong hanya tertunduk.
"Chaesunghamnida, Guru Besar….Aku pantas mendapat hukuman."
Ia tahu, ia telah melakukan kesalahan fatal. Tubuh sucinya yang hanya milik Dewa telah ia umbarkan di alam terbuka. "Kembalilah ke kuil dan berdoalah hingga bulan menjemput!" Dengan nurut Jaejoong kembali ke puncak gunung Daesan,kembali ke kuil dan memulai berdoa memohon ampun pada Dewa.
+++++++++++++++++++++++++++++++++++YUNJAE IS REAL +++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
"Pangeran…"
Pria bertubuh jangkung dan berwajah pucat itu mencoba berteriak. "ChangMin! Cepatlah, kau ini lamban sekali. Tidak seharusnya aku mengajakmu."sahut pria berjubah biru putih yang memperlihatkan sedikit otot yang mencuat di bagian lengannya.
"Pangeran YunHo….barang bawaanmu berat sekali. Memang kau akan berapa lama disana?" Sang Pangeran mengangkat bahunya pertanda tidak tahu.
"Ya sudah, jalanan didepan kita akan terus menanjak. Lebih baik kita istirahat sejenak disini, beri minum JangGeun." ChangMin menarik keledai milik Pangeran kearah tepi aliran air. YunHo berjalan sedikit menyusuri tepi aliran hingga ia menemukan sebuah air terjun.
"ChangMin! Kau mau mandi!? Ada air terjun disini!" ChangMin dengan langkah lesunya menggiring JangGeun kearah datangnya suara. Ia menemukan sebuah air terjun dan ia juga menemukan Sang Pangeran sudah menceburkan dirinya didalam kolam air terjun dingin itu.
(CMPOV: Kalau TaeWang mengetahui hal ini, kepalaku pasti akan terpisah dari tubuhku.)
ChangMin menarik nafas panjang sebelum ia membujuk YunHo untuk segera keluar dari air. Merasa risih dengan bujukan ChangMin yang terus terus menyebutkan nama ayahnya, akhirnya YunHo mengalah dan ia kembali mengenakan atasannya yang ia lempar ditepi aliran air. Ketika ia mengambil atasannya, sebuah benda kecil berdenting jatuh menyentuh bebatuan. YunHo baru akan membungkuk untuk mengambilnya ketika ChangMin mencegahnya.
"Jangan Pangeran! Itu adalah benda asing! Jangan! Kau harus…." YunHo tidak menghiraukan perkataan ChangMin dan tetap meraih benda hitam itu. "Kau berlebihan ChangMin, lihatlah. Ini hanya sebuah cincin. Bagus sekali…." ChangMin tidak tahu bagaimana ia berujung menjadi pelayan setia sang Pangeran sekaligus menjadi kawan terdekatnya. Namun ia tahu betul, YunHo sangat sulit diatur, hal itu tentu sering membuatnya pusing.
YunHo memasukkan cincin hitam itu kedalam kantungnya dan melanjutkan perjalanan menanjaknya bersama dengan ChangMin dan seekor keledai.
+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++YUNJAE IS REAL++++++++++++++++++++++++++++++
Matahari sudah berada diufuk barat ketika Guru Besar Bae sedang memperkenalkan dirinya pada para murid barunya.
Diluar barisan, ChangMin masih memegangi tangan YunHo. "Pangeran, jangan lupa seduh teh ini setiap pagi. Ini membantu memulihkan stamina mu. Dan jangan lupa memakai baju tebal jika sedang melakukan kegiatan diluar bangunan. Lalu…"
Sebelum ChangMin melanjutkan, YunHo sudah menyingkirkan tangan ChangMin. "Sudahlah ChangMin, aku sudah bukan lagi anak kecil. Dan jangan panggil aku Pangeran, karena aku tidak ingin murid lain merasa terintimidasi dengan statusku. Sana pergilah."
Bak seorang ibu yang akan kehilangan anaknya, mata ChangMin berkaca kaca sambil melambai ke YunHo yang berjalan semakin menjauh darinya. Lalu ChangMin dan JangGeun menghilang dibalik pepohonan lebat gunung DaeSan.
YunHo bersatu dengan kumpulan murid murid baru. Mereka mengikuti Guru Besar Bae dari bangunan ke bangunan lain. Berkali kali YunHo menguap ketika Guru besar menceritakan sedikit sejarah tentang kuil. Tak terasa, sudah 6 bangunan yang telah dikunjungi oleh kelompok itu. Dan YunHo sudah sangat mengantuk dan lelah akibat perjalanan panjangnya mendaki DaeSan.
"Jung YunHo?"
YunHo terkejut ketika Guru Besar memanggil namanya. Kepalanya menoleh kearah Guru Besarnya . "H? Ya, Guru Besar? Guru memanggilku?" Guru besar mengangguk dan menunjuk pintu besar yang terbentang disampingnya.
"Masuklah kedalam kuil, Wakil Guru yang akan membimbingmu selama di kuil, kau temui dia." YunHo membungkuk dan memisahkan diri dari segerombolan murid baru. Dan YunHo hanya memandangi ketika Guru Besar dan murid barunya berjalan menjauh dari bangunan kuil sambil menghela nafas panjang ia membuka pintu besar itu.
(YHPOV: Huff…Wakil Guru…..)
Perlahan dan dengan langkah ragu, ia masuk ke dalam kuil. Sebuah patung besar berdiri kokoh ditengah kuil. Berbagai peralatan pendukung upacara dan ritual doa berjejer rapih diatas sebuah meja panjang. Namun yang menarik perhatiannya bukanlah semua benda mati itu. Tetapi seorang wanita yang sedang duduk bersila tepat ditengah ruangan.
"Ehm, Permisi. Aku mencari Wakil Guru. Apa nona tahu dimana dia?" Ucap YunHo seraya mendekat wanita itu. Ketika ia mengitari wanita itu untuk melihat wajahnya. Jantungnya seolah melemah. Kakinya terpaku melihat paras cantik wanita itu. Wajahnya begitu sempurna, kulitnya putih dan tak bercacat. Bibir merahnya bergerak seperti mengumamkan doa yang tidak dimengerti oleh YunHo.
"Nona…"
Wanita itu tetap tidak bergerak dan tetap mengumamkan doanya. YunHo sadar bahwa ia tidak seharusnya menganggu wanita itu. Ia memutuskan untuk mencari Wakil Guru sendiri. Ia berjalan mengitari patung besar itu dan mencari Wakil Guru dikolong meja. Namun ia tidak menemukan seorangpun berada disana. Matanya kembali tertuju pada wanita itu.
(YHPOV: Apa mungkin…..wanita inilah Wakil Guru yang dimaksud?)
YunHo mengambil tempat duduk tepat disamping wanita itu. Hanya beda beberapa inchi saja. Ia mencoba mengikuti gaya berdoa wanita itu. Kedua tangan diletakkan diatas lututnya yang menyilang dan menghadap kelangit langit. Namun setiap ia mencoba, ia selalu terpesona melihat wajah cantik wanita itu.
Detik berganti Menit,Menit berganti Jam, YunHo benar benar merasa bosan menunggu wanita itu selesai berdoa. Ia mengambil posisi tiduran sambil memandangi wajah wanita itu. Tengkurap, terduduk lagi. Dan wanita itu tetap belum selesai berdoa.
(YHPOV: Astaga….apa dia manusia? Mana mungkin ia bisa mengucapkan doa doa sulit seperti itu tanpa jeda!? Apa yang sebenarnya ia minta pada Dewa? Aku pasti sudah menutup telinga jika aku menjadi Dewa.)
YunHo mengelilingi ruangan. Beberapa lukisan gunung dan kaligrafi terpajang didinding kuil. Sebuah patung Dewa perang menarik perhatiannya.
"Ehm…."
Tangan YunHo baru akan menyentuh golok yang sedang dipegang patung itu ketika sebuah suara mengejutkannya membuat sikut nya menyenggol jatuh golok itu.
PRANG
Suara golok berdenting menyentuh lantai. Wanita yang sedari tadi berdoa sedang berdiri tepat dihadapan YunHo. Sorotan tajam mata wanita itu membuat perpaduannya dengan wajah runcingnya begitu sempurna. YunHo mulai merasa salah tingkah dan canggung.
"Chaesunghamnida, aku tidak sengaja…menjatuhkannya."
YunHo berharap wanita itu marah padanya atau memberinya hukuman perdana baginya. Matanya berbinar memancarkan aura kemarahan. Ia sudah akan bersiap untuk menerima hukuman apapun dari wanita itu.
Namun diluar dugaan, wanita itu berlari padanya dan melekatkan bibirnya pada YunHo. Membuat YunHo sangat terkejut. Bibir merahnya tidak menipu dan benar adanya, rasa bibir wanita itu terasa manis. Belaian lembut jari wanita itu menelusuri akar rambut YunHo. Ketika ia mulai memejamkan matanya dan terbawa dalam suasana nikmat itu, sebuah benda keras menghantam punggungnya.
-TBC-
okeh ini FF bukan gender switch. FF lama tidak ada yang GS dulu key
