Title: Lacrimosa
Rated: M - 17
Genres: Supernatural, Angst, Demon!au
Characters: Lu Han, Oh Se Hun, Wu Yifan, Kim Jongin, EXO
Author: hunhanslave
Chapters: 2/?
Inspired by: Yana Toboso's Kuroshitsuji
"this world is full of monsters with friendly face."—unkown
Chapter 2: rose are sad, violete are crying
Apa kalian pernah berpikir bahwa diantara beribu-ribu hal yang sulit untuk dimengerti, kehidupan adalah hal yang penuh dengan misteri yang bahkan kalian pun tidak bisa menebak apa yang akan terjadi?
Kehidupan itu sungguh membingungkan, tidak pernah ada yang tau kapan kau menjadi seorang raja yang dieluh-eluhkan seluruh dunia dan kapan kau akan menjadi seorang pengemis yang bersujud-sujud di jalanan demi satu uang logam.
Manusia adalah mahluk yang menyedihkan. Mereka rela melakukan apa saja hanya untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik, dan ketika semuanya telah didapatkan tak lantas mereka berpuas diri. Banyak dari mereka yang menjadi serakah. Memuja uang dan kekuasaan yang mereka kira adalah pemberi kebahagiaan.
Kekayaan.
Sebagian orang selalu mengaitkan kebahagiaan dengan kekayaan, padahal tak sedikit pula orang yang sudah memiliki harta berlimpah-limpah tetapi tidak pernah merasakan hal yang bernama kebahagiaan. Hanya manusia-manusia yang bodoh-lah yang menjadikan kekayaan sebagai alasan untuk menjadi bahagia. Karena kekayaan pula-lah yang sering kali mengubah seseorang menjadi sosok berbeda—monster.
Berbicara tentang monster, kekayaan bukanlah satu-satunya penyebab manusia berubah menjadi mahluk mengerikan itu tetapi juga luka, kebencian dan juga dendam sangat sering mengambil alih pikiran manusia dan membuat manusia menjadi sosok penghancur yang menakutkan.
Hidup memang selucu itu.
April, 2027—Seoul, South Korea
Awan gelap menyelimuti langit kota Seoul pagi itu. angin musim semi yang berhembus cukup kencang membuat sebagian orang enggan untuk berlama-lama di luar. Jalanan terlihat renggang, hanya terlihat beberapa mobil yang melaju dengan kecepatan sedang.
Pria berambut cokelat gelap itu menarik nafas dan membuangnya perlahan. Jas abu-abunya sedikit kusut di sekitar lipatan lengannya. Sesekali ia melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah jam setengah sepuluh dan dirinya masih berada di dalam mobil. Pria itu menggigit bibir bawahnya sembari menyandarkan kepalanya di sandaran kursi, tak pernah ia merasa segelisah ini sebelumnya.
"apa kau bisa lebih cepat sedikit?" ucap pria itu dengan nada pelan disusul dengan jawaban 'ya' dari driver yang berada di depannya.
Bertemu dengan klien penting bukanlah hal yang luar biasa untuk pria itu, tetapi entah mengapa klien yang akan ditemuinya saat itu membuat pria itu cemas. Apa mungkin karena kliennya kali ini adalah seorang pengusaha besar yang disegani di seantero asia? Ya mungkin saja.
Ia tidak pernah bertemu dengan si pengusaha besar itu sebelumnya, ia bahkan tidak pernah tau bagaimana wujud dan rupanya, tetapi mendengar dari rekan-rekannya, pengusaha ini bukanlah orang sembarangan.
Alphard hitam itu pun akhirnya berhenti tepat di depan gedung tinggi berdisain mewah yang di beberapa sisinya di cat dengan warna abu-abu dan putih. Pria berambut cokelat gelap tadi dengan tergesah-gesah turun dari mobil tersebut dan langsung berjalan cepat menuju lift ditemani oleh dua orang asisten dan sekertarisnya yang terlihat tak kalah gelisah.
"Mr. Huang sudah menunggu anda." Gumam si sekertaris.
Pria berambut cokelat itu hanya mengangguk dan langsung keluar sesaat setelah lift terbuka. Ia berjalan cepat menuju pintu abu-abu di ujung koridor dan ketika ia sudah berada di depan pintu, pria itu berhenti sejenak dan menarik nafas panjang sebelum membuka pintu dan mendapati beberapa pasang mata tengah menatapnya.
"maafkan atas keterlambatan saya, Mr. Huang." Pria itu membungkukan badannya dalam-dalam kemudian melemparkan pandangannya ke setiap orang yang berada di ruangan itu—berniat mencari tau siapa dari antara orang-orang itu yang bernama Mr. Huang tetapi sepertinya orang yang dimaksud tidak berada di ruangan itu.
"sangat menyenangkan berjalan-jalan di sekitar kantormu ini, Mr. Wu." Ucap seorang pria berambut violet yang berdiri tepat di belakang pria berambut cokelat gelap itu—Wu Yifan.
Yifan memutar badannya dengan cepat, dan ketika dua iris orbnya bertemu dengan hazel pria berambut violet, ia tertegun. Keringat dingin mulai mengucur di pelipis matanya, jantungnya berdegup kencang dan ia tidak berkedip sama sekali.
"ada apa, Mr. Wu?" Tanya pria berambut violet itu dengan senyum tipis. "kau seperti baru saja melihat orang yang sudah mati yang hidup kembali." Ucapan itu membuat degup jantung Yifan semakin tidak karuan. Tidak mungkin
Yifan mengerjapkan matanya beberapa kali. Wajah itu. wajah itu sungguh mirip dengan seseorang yang dulunya sangat Yifan kenal—seseorang yang sudah mati, tentu saja.
"Mr. Wu?" panggil pria berambut violet itu seraya menggoyangkan tangannya di depan wajah Yifan yang langsung membuyarkan lamunan Yifan.
"ah maafkan aku, uh.. Mr. Huang?" Yifan tersenyum canggung. Ia berusaha memusatkan pikirannya kepada orang yang ada di hadapannya itu tetapi bayangan seseorang dari masa lalu terus mengusiknya.
Pria berambut violet itu menganggukan kepalanya pelan lalu menarik ujung bibirnya membentuk sebuah senyuman simpul. Lagi-lagi Yifan tertegun, senyuman itu. bagaimana mungkin?
"senang berjumpa dengan anda, Mr. Wu." Kata pria berambut violet—Mr. Huang sebelum membungkukan badannya beberapa derajat lalu kembali menyunggingkan senyuman kepada Yifan.
"ternyata apa yang dikatakan orang-orang memang benar." Mr. Huang mengambil satu langkah kedepan, mempersempit jaraknya dan Yifan. Bahkan Yifan bisa mencium aroma parfum milik Mr. Huang dengan jelas. "kau memang benar-benar sangat tampan." Lanjut Mr. Huang dengan nada rendah yang menggelitik indera pendengaran Yifan.
"a-anda juga sangat tampan, Mr. Huang." Balas Yifan canggung. Keringat dingin kini sudah membasahi telapak tangannya, bukan karena gugup tetapi karena perasaan kaget dang sekaligus takut yang kini bersatu padu.
Mr. Huang terkekeh pelan sebelum berjalan kearah kursi paling ujung kemudian segera duduk dan merebahkan punggung berbalut jas hitamnya, dan Yifan sepertinya akan terdiam di tempatnya lebih lama lagi kalau saja Joohyun—sekertarisnya tidak segera memintanya untuk mengambil tempat duduk—berhadapan dengan Mr. Huang.
Yifan berusaha membuat dirinya terlihat setenang mungkin, tetapi sekuat apapun ia berusaha sosok Mr. Huang dan juga bayangan orang itu tetap saja berputar-putar di otaknya dan itu membuat Yifan sedikit jengah.
Bagaimana mungkin keduanya bisa begitu mirip? Bagaimana jika orang yang ada di hadapannya ini adalah orang yang sama yang dikenal Yifan dulu—orang yang sudah mati itu? tidak mungkin. Yifan sangat yakin bahwa orang itu telah musnah terbakar bersamaan dengan puing-puing rumahnya, tidak mungkin ia masih hidup.
Ya, ini hanya kebetulan saja. Pria itu berusaha memberikan sugesti untuk dirinya sendiri, tetapi setiap kali matanya bertemu dengan dua iris hazel itu, semuanya kembali kacau.
Tenanglah, yifan. Ini hanya kebetulan.
Jarum jam berhenti tepat di angka 12 ketika semua orang di ruangan itu beranjak dari duduknya dan memberikan jabatan kepada satu dan yang lainnya. Kesepakatan kerja sama akhirnya terjalin di antara Lu Corp dan juga Huang Corp—hal yang sangat diimpikan oleh Yifan dan juga seluruh staff yang bekerja dengannya. Tak heran senyum sumringah tergambar jelas di wajah-wajah staff Yifan yang mengikuti pertemuan, terkecuali Yifan yang memasang wajah tegang. Bukannya ia tidak senang dengan apa yang ia dapatkan hari itu, tetapi karena Mr. Huang yang sejak tadi tidak pernah mengalihkan pandangannya dari Yifan, dan itu membuat jantung Yifan kembali berdegup kencang, terlebih ketika pria berambut violet itu berjalan santai menuju krusi yang sedari tadi di duduki Yifan kemudian menyandarkan tubuhnya di meja. Tubuh kurusnya itu berbalut jas hitam dengan kemeja dan dasi yang berwarna senada membuat siapa saja yang melihatnya pasti terpesona.
"Sepertinya kita akan lebih sering bertemu, Mr. Huang." Yifan berusaha membuat nadanya terdengar sesantai mungkin. Ia pun beranjak dari duduknya agar bisa sejajar dengan Mr. Huang, tetapi tentu saja tubuhnya akan jauh lebih tinggi dari pria berambut violet itu.
"Xia Lu." Gumam Mr. Huang. Suaranya yang tipis entah mengapa membuat Yifan ingin terus mendengarnya. "panggil aku Xia Lu." Lanjut Mr. Huang kemudian menyunggingkan senyuman andalannya.
"baiklah, Xia Lu. Kalau begitu kau bisa memanggilku Yifan." Ucap Yifan sambil membenarkan letak dasi abu-abunya.
Mata mereka kembali beradu, entah berapa lama keduanya terdiam dan hanya mata merekalah yang saling melemparkan kilat-kilat aneh yang membingungkan. Yifan menarik salah satu ujung bibirnya—menciptakan seringaian menggoda yang bisa membuat siapa saja terlena.
"apa ada yang salah dengan wajahku, Yifan?" Tanya Mr. Huang dengan suara rendah namun sangat halus. Jari-jari kurusnya menepuk-nepuk pipi porselennya dan raut wajahnya dibuat seperti orang yang kebingungan.
Yifan terkekeh, matanya seolah tak ingin lepas dari orang di depannya itu. seperti ada magnet tersembunyi yang membuat yifan sangat sulit mengalihkan pandangannya dari pria berwajah tampan—cantik di depannya.
Dia memang mirip dengan orang itu, hanya saja Mr. Huang memiliki wajah yang lebih memikat dengan mata hazel yang lebih cerah, hidungnya yang mungil dan juga bibirnya yang berwarna pink terlihat sangat pas dengan wajah tirus nan kecilnya. Serta rambut violet yang keabu-abuan seperti berkilau-kilau ketika disinari dengan cahaya matahari yang merembes melalui jendela besar di belakang Yifan. Sungguh, Mr. Huang terlihat lebih cantik daripada wanita-wanita di luar sana yang pernah yifan temui.
"tidak. Hanya saja wajahmu mengingatkanku dengan seseorang yang pernah ku kenal sebelumnya." Tukas yifan tanpa menghilangkan seringaian nakalnya.
Mr. Huang menganggukan kepalanya pelan lalu menegapkan tubuhnya hingga hidungnya berbatasan dengan bibir Yifan. Ia sedikit mendongak sambil menyelipkan tangan di saku celananya. "begitu kah?"
"ya, tetapi kau terlihat lebih…" Yifan menjilat bibir bawahya dengan gerakan lambat kemudian membungkukan badannya hingga bibirnya kini berada tepat di samping telinga Mr. Huang. "Cantik? Menggoda? Hm, entahlah aku bahkan tidak bisa menjelaskannya." Bisik Yifan dengan suara huskynya yang berat.
"tentu saja aku tidak semenggoda dirimu." Mr. Huang tersenyum tipis sebelum mendorong tubuh Yifan pelan, memberikan jarak yang cukup jauh menurut Yifan dan membuat pria itu sedikit kecewa.
"senang bertemu denganmu." Tambah Mr. Huang. Hazelnya melirik ke belakang punggung Yifan dan mendapati seorang pria berambut hitam legam dengan mata abu-abu tengah berdiri di sana. Ia memakai jas dan kemeja hitam seperti Mr. Huang, hanya dasi merah maroon saja yang membedakan style kedua pria tersebut.
Yifan menoleh kearah mata Mr. Huang tertuju dan mengerjap beberapa kali. Sejak kapan pria berambut hitam itu berada di sana? Yifan bahkan tidak menyadari hanya ia, Mr. Huang dan pria berambut hitam itu saja yang berada di dalam ruangan beraksen putih dan abu-abu itu.
Pria berambut hitam itu menatap Yifan dengan raut wajah datar tanpa ekspresi. tatapannya yang dingin entah mengapa membuat bulu kuduk Yifan merinding. Sungguh tatapan yang sangat mengerikan—seolah-olah orang itu dapat membunuh yifan dengan tatapannya itu. tetapi disamping itu, yifan mengakui pria berambut hitam itu tak kalah menariknya dengan Mr. Huang. Mata abu-abunya terlihat begitu serasi dengan kulit putih pucatnya. Tubuhnya tinggi dan tegap, rahangnya yang tajam dan tegas semakin membuat pria itu terlihat sungguh menakjubkan. Seperti seseorang yang tidak nyata.
"Sehun." Seru Mr. Huang sebelum maju beberapa langkah hingga bahunya hampir bersentuhan dengan bahu bidang milik si pria berambut hitam. Mr. Huang melirik Sehun sejenak lalu kembali menatap Yifan.
"Dia adalah bodyguardku." Kata Mr. Huang. Sehun kemudian membungkukan badannya sejenak dan kemudian menatap Yifan dengan tatapan dinginnya—lagi. "aku harus pergi. Mungkin aku bisa meluangkan waktu untuk bertemu denganmu lagi. Saat makan siang? Atau makan malam mungkin?"
"makan malam terdengar sangat menarik." Yifan kembali melemparkan seringaian mautnya. Ia mengeluarkan ponselnya lalu menunjukan nomor kontak yang diberi nama 'Mr. Huang'.
Mr. Huang menaikan sebelah alisnya sebelum terkekeh. Pria itu berjalan mundur menuju pintu keluar sementara Sehun berjalan memungungi Yifan. "baiklah. Sampai bertemu lagi…" ucap Mr. Huang yang kini sudah berada di luar ruangan abu-abu itu. "Wu Yifan." Lanjutnya dengan nada yang entah mengapa kembali membuat Yifan bergidik.
"Huang Xia Lu." Balas Yifan sembari melambaikan tangannya sejenak dan tak lama setelah itu kedua orang tadi sudah tak nampak di pengelihatan Yifan—menghilang di balik lift.
Sepertinya hari-hari Yifan setelah ini akan kembali menyenangkan.
Suara petir yang saling berbalasan membuat gaduh suasana sunyi di kamar bercat hitam dengan furniture berwarna merah maroon itu. hujan yang sepertinya tak ingin berhenti semakin menambah kebisingan. Badai di awal musim semi. Bukankah itu lucu?
Pria berambut violet itu menatap pemandangan kota seoul dari jendela besar yang berada tak jauh dari ranjang bersprey merah gelap dengan tatapan kosong. Sudah lama sekali ia tidak melihat pemandangan kota itu—sekitar 3 tahun, mungkin? Entahlah.
Tidak banyak yang berubah di sana, jalanan yang dulunya sering ia lewati pun masih sama. Hanya ada dua atau tiga toko yang berdiri di lahan yang seingat pria itu adalah lahan kosong, atau taman? Ia lupa.
Dulunya pria itu sangat menyukai kota itu. semua yang berada disana terlihat lebih menakjubkan dibandingkan dengan Beijing—kota asalnya. Ayahnya sangat sering mengajaknya bermain golf di salah satu lapangan golf tak jauh dari rumahnya, dan bermain sepak bola bersama teman-temannya setiap pulang sekolah. Hampir setiap sore di hari sabtu, kakaknya akan mengajak ia menyusuri sungai han dengan sepeda ataupun sekedar bermain basket di lapangan basket yang berada di samping sungai han.
Ya, sungguh sangat menyenangkan mengingat betapa ia dulunya sangat bahagia. Tetapi kebahagiaan itu menghilang begitu cepat ketika orang-orang yang ia anggap begitu penting dan berharga baginya berubah menjadi monster—monster yang lebih mengerikan dibandingkan dengan monster yang muncul di acara TV setiap halloween.
Pria berambut violet itu tersenyum kecut sebelum tertawa hambar—menertawakan bagaimana kebahagiaan yang ia miliki hanya bertahan dalam waktu singkat. Masa remaja yang dulunya sangat menyenyenangkan harus digantikannya dengan penyiksaan. Entah secara fisik ataupun mentalnya. Pria itu harus rela membiarkan tubuhnya menerima pukulan-pukulan yang menyakitkan dari sang eomma dan ia juga harus rela tubuhnya dijadikan sarana pemuas nafsu sang kakak.
Tidak ada yang tau. Semua penderitaan itu dijadikan sebagai rahasia yang menyakitkan. Ia menutupi semuanya dengan bersandiwara—tersenyum dan berpura-pura bahagia di depan semua orang. Tidak ada yang boleh tau. Tidak ada yang boleh merasakan penderitaan yang ia rasakan.
Lampu kamar tiba-tiba menyala. Cahaya kuning temaram membuat suasana kamar itu menjadi sedikit lebih hangat. pria berambut violet menolehkan kepalanya ke arah saklar lampu sebelum kembali melemparkan pandangannya kearah luar jendela.
"Luhan." Panggil pria berambut hitam legam yang kini berjalan santai mendekati pria berambut violet—Luhan. Ia menyelipkan tangan kanannya ke dalam saku celana jeans berwarna biru navy sementara tangan kirinya memegang tengkuknya yang sedikit pegal.
"apa yang kau pikirkan?" Tanya pria berambut hitam sesaat setelah ia menyandarkan punggungya di bingkai jendela. Mata abu-abunya menatap Luhan yang sepertinya tidak ingin meninggalkan pemandangan yang sedari tadi ia nikmati.
"aku tidak pernah menyangka hari ini datang juga." Gumam Luhan dengan suara parau, tatapan kosongnya berubah menjadi sendu.
Pria berambut hitam itu tertawa pelan—seperti mengejek, ia mengikuti arah dimana mata Luhan tertuju sebelum mempersempit jaraknya dan juga Luhan. Jari-jari pucatnya menyentuh pipi tirus Luhan sebelum turun ke dagu milik pria itu, ia menarik dagu Luhan sehingga dua iris ash grey nya bertemu dengan hazel milik Luhan.
"apa kau mulai menyesalinya sekarang?" pria berambut hitam itu—sehun kembali bertanya namun dengan suara yang lebih pelan.
Luhan terdiam sejenak lalu memejamkan kedua matanya. Nafasnya terdengar sedikit berat, seperti sesuatu yang amat sangat besar menggantung di paru-parunya."tidak, Sehun. Aku tidak akan pernah menyesalinya."
Sehun baru saja berniat untuk menyingkirkan tangannya dari dagu Luhan ketika Luhan kembali menarik tangan pria itu dan membawanya kembali ke pipi Luhan. Dingin,tentu saja. Tetapi entah mengapa Luhan selalu merasa tenang ketika ia berada sedekat ini dengan Sehun, seperti semua beban yang ia rasakan menghilang setiap kali Sehun menyentuhnya.
Empat tahun lalu, ketika Luhan membuka matanya untuk yang pertama kali setelah Yifan membunuhnya, wajah Sehun yang tengah menyeringai itu adalah hal yang pertama kali dilihatnya.
Luhan seharusnya sudah mati. Entah karena tusukan pisau itu ataupun karena kebakaran besar yang melenyapkan seluruh rumahnya, tetapi semuanya seolah tidak pernah terjadi. Tak ada luka sayatan apapun di leher maupun di perut Luhan, dan seingat Luhan, ia berada di kamarnya—terikat, ketika api mulai menyambar apapun yang dilewatinya dan tidak ada luka bakar apapun di tubuh Luhan.
Perjanjiannya dengan Sehun, tentu saja.
Ketika kesadarannya sudah kembali sepenuhnya, Luhan mengangguk pelan. Sehun-lah yang menyelamatkannya. Mahluk itu bagaimanapun telah mengikat perjanjian dengan Luhan dan Luhan tidak boleh mati sebelum perjanjian itu terpenuhi.
Tidak ada iblis yang baik hati dan tidak ada iblis yang bodoh. Semua kebaikan yang Sehun berikan pada Luhan saat itu dan kebaikan-kebaikan lainnya yang nantinya akan diberikan oleh Sehun tidaklah dihadiahinya dengan cuma-cuma, dan Luhan—lelaki yang dulunya hidup tanpa bersentuhan dengan dosa yang akhirnya dikuasai oleh dendam dan benci, menukarkan jiwanya dengan si iblis demi membalaskan dendamnya pada orang-orang yang telah menyakitinya—yang telah merenggut kebahangaannya.
Awalnya rasa takut terhadap Sehun sering kali mengusik pikiran Luhan, tetapi lama kelamaan rasa takut itu berubah menjadi rasa tenang ketika Sehun berada di dekatnya. Rasa yang akhirnya kembali ia rasakan setelah bertahun-tahun dikuasai oleh kesedihan dan luka yang tiada akhir.
"aku bisa langsung membunuhnya di depan matamu, kalau kau mau." Bisik Sehun di telinga Luhan tetapi langsung dibalas dengan gelengan pelan oleh Luhan.
"tidak, Sehun. Aku sudah lama menanti kesempatan ini, dan kau tentu tau aku ingin menghancurkan mereka… eomma dan juga Yifan secara perlahan-lahan." Balas Luhan dengan mata yang berkaca-kaca sebelum menyenderkan kepalanya di bahu bidang Sehun yang tertutup t-shirt hitam polos.
Sehun tidak membalas perkataan Luhan, ia hanya mengangguk lalu mengelus kepala Luhan lembut, membiarkan pria berambut violet itu terisak di bahunya.
Lama keduanya terdiam dengan posisi itu, akhirnya Luhan mengangkat kepalanya dan menatap Sehun dengan mata yang sembab. Sehun tersenyum tipis sembari menghapus bekas-bekas air mata yang masih membasahi pipi Luhan.
"bersiaplah, jangan biarkan Yifan menunggumu terlalu lama." Kata Sehun sebelum meninggalkan Luhan sendirian.
Luhan mendesah pelan kemudian menatap langit yang semakin gelap kemudian menghilang di balik pintu kamar mandinya.
To be continue
hello i'm back with new chapter!
makasih udah baca ff aku yang ga jelas ini.
makasih juga buat semua yang udah review!
review kalian yg bikin aku semangat kkk
maaf ya ga bisa bales reviewnya satu-satu,
biar penasaran gitu ceritanya wkwk
okay then, see you!
