Title: Lacrimosa
Rated: M - 17
Genres: Supernatural, Angst, Demon!au
Characters: Lu Han, Oh Se Hun, Wu Yifan, Kim Jongin, EXO
Author: hunhanslave
Chapters: 3/?
Inspired by: Yana Toboso's Kuroshitsuji
"hell is empty and all the devils are here." –william Shakespeare
Chapter 3: Red Wine
April, 2027—Seoul, South Korea
Malam itu sebenarnya bukanlah malam yang mengasyikan untuk bepergian keluar. Hujan deras disertai pertir seolah enggan menghentikan askinya menyombongkan diri. Angin yang cukup kencang tak mau kalah dengan si hujan dan juga petir.
Segelintir orang terlihat melajukan kendaraannya dengan hati-hati, sangat berbeda dengan orang-orang yang berjalan cepat menyusuri terotoar yang basah. Tak ada yang ingin berlama-lama di luar ruangan disaat cuaca tak bersahabat seperti ini. Sebagian mereka memilih berteduh di kedai-kedai kopi dan juga restoran yang berada di sepanjang jalan.
Restoran amor fati sepertinya bukanlah tempat favorit untuk berteduh. Hanya beberapa meja saja yang terisi, sementara meja-meja yang lain kosong. Suara alunan lagu jazz yang memanjakan indera pendengaran melantun pelan. Botol-botol wine mahal terpajang cantik di sudut restoran. Ya, tempat itu memang bukanlah tempat yang pas untuk sekedar makan makanan ringan atau minum kopi. Tempat itu hanya ditujukan untuk orang-orang dengan dompet tebal.
Yifan menyipitkan matanya—memperhatikan Xia Lu—Luhan yang kini duduk di depannya. Rambut lelaki manis itu ditata rapi dengan bantuan gel, wajah porselennya terlihat lebih mempesona serta kemeja hitam lengan panjang yang begitu pas dengan tubuh kurus si lelaki berambut violet semakin membuat Yifan tak ingin mengalihkan pandangannya.
"ada yang salah dengan penampilanku?" Tanya Luhan dengan nada bingung dan langsung dibalas dengan kekehan pelan dari Yifan.
"tidak. Kau terlihat sempurna." Ucap Yifan jujur.
Entah mengapa, sejak awal pertemuannya dengan Xia Lu beberapa hari yang lalu, sosok itu seolah enggan pergi dari pikirannya. Mata itu, senyuman itu, wajah itu, suara itu—semuanya tak pernah terhapus dari ingatan Yifan. Malahan tiap kali ia berusaha melupakannya, Xia Lu seolah tidak mengijinkannya.
Xia Lu adalah sosok yang begitu sempurna di mata Yifan. Entah apa yang merasuki dirinya sehingga pria itu tak henti-hentinya memuja segala hal yang ada pada diri Xia Lu.
Yifan pernah sekali memuja kesempurnaan seseorang. Itu sudah lama sekali, tetapi Yifan tidak pernah lupa bagaimana orang itu terlihat begitu mempesona. Yifan masih ingat betul bagaimana ia tidak mengijinkan siapapun menyentuh orang itu selain dirinya, bahkan ketika sang eomma berniat membunuh orang itu, Yifanlah yang mengajukan diri untuk melakukannya karena hanya Yifan-lah yang bisa memiliki dia, dan hanya tangan Yifanlah yang boleh merengut nyawa orang itu.
Katakanlah Yifan terlalu terobsesi dengan orang itu, dan Yifanpun tak segan mengakuinya. Tetapi orang itu sudah mati. Meskipun begitu, Yifan sunguh puas karena orang itu mati ditangannya. Luhan hanyalah milik Yifan
"apa yang kau pikirkan, Yifan?" Tanya Luhan lagi. Suara lembutnya terdengar sangat serasi dengan music jazz yang diputar dengan volume pelan. pria itu menggoyang-goyangkan gelas wine yang hampir kosong itu dengan gerakan santai namun terlihat begitu berkelas.
Yifan mengerjapkan matanya lalu tersenyum simpul. "hanya mengagumi orang yang berada di depanku." Ucapnya.
"ceritakan padaku…" Luhan meletakan gelas wine-nya sebelum memajukan badannya. Kedua tangannya ia lipat di atas meja dan kedua hazelnya menatap lurus tepat kearah orb milik Yifan. "ceritakan padaku tentang dirimu." Luhan menyeringai tipis namun sungguh menggoda.
"apa yang ingin kau tau tentang diriku?" Tanya Yifan dengan nada seduktifnya yang tak pelak membuat bulu kuduk Luhan merinding. Yifan memang tidak berubah.
"semuanya." Jawab Luhan singkat. Jari telunjuknya kemudian menyentuh punggung tangan Yifan dan membuat gerakan berputar yang lembut. Sentuhan dari Luhan itu membuat Yifan hampir tersendak nafasnya sendiri. Sentuhan itu sungguh menggelitik dan menyalurkan perasaan aneh di sekujur tubuh Yifan.
"baiklah." Balas Yifan sesaat setelah ia menarik nafas panjang dan membuangnya perlahan. "kau pasti sudah tau hal yang satu ini tapi… Namaku Wu Yifan. Dari namaku pasti kau sudah tau aku bukan berasal dari korea, sama sepertimu. Aku anak yatim, hanya tinggal bersama eommaku saja. Aku berusia 27 tahun, sudah mapan, sukses dan tentu saja…" Yifan tak tau sejak kapan jarak antara wajahnya dan Luhan menjadi sesempit itu. ia baru menyadari ketika nafas Luhan menyapu bibirnya. Jantungnya berdegup kencang, mungkin orang di depannya ini dapat mendengar degupan jantungnya.
"dan tentu saja?" Luhan kembali bertanya sembari mengalihkan pandangannya kea rah bibir Yifan yang terkatup. Tak lama bibir itu menyunggingkan seringaian nakal lalu jari-jari panjang si pemilik bibir kini menyentuh pipi tirus Luhan sebelum menyapu bibir ranum milik Luhan dengan ibu jarinya. Bibir plum itu sungguh sangat menggoda. Gumpalan daging itu bahkan seperti memanggil-manggil Yifan untuk segera melahapnya habis tanpa sisa.
"dan tentu saja kau tak akan bisa menghindari pesonaku." Itulah kalimat terakhir yang diucapkan Yifan sebelum bibirnya melumat bibir Luhan lembut. Mata lelaki itu terkatup tetapi ia dapat merasakan Luhan tersenyum di sela ciuman mereka.
Rasa Wine yang cukup tajam serta rasa manis yang entah dari mana memenuhi seluruh bagian di dalam mulut Yifan ketika lidahnya melesak masuk dan membongkar apa saja yang berada di dalam mulut Luhan.
Ciuman itu sungguh menghipnotis dan membuat candu. Keduanya terbuai dengan ritme ciuman yang semakin lama semakin cepat. Lumatan, hisapan pelan dan cumbuan yang tiada henti akhirnya membuat kedua lelaki itu kehabisan pasokan udara.
"mau mampir ke tempatku malam ini?" Bisik Yifan dengan nafas yang terengah-engah. Matanya menatap dalam kedua hazel milik Luhan—berharap pria itu berkata Ya. Sungguh, Yifan sangat ingin menghabisi Luhan di atas ranjangnya.
"tidak untuk hari ini, Wu Yifan." Luhan kembali melumat bibir Yifan—kali ini sangat singkat. "besok kau dan aku ada rapat yang penting. Aku tak mau kita terlihat seperti zombie." Lanjut Luhan kemudian segera beranjak dari duduknya dan diikuti Yifan yang masih digerogoti oleh perasaan kecewanya.
Damn! Kalau saja tidak ada rapat itu, tentu saat ini Yifan sudah melihat tubuh telanjang Luhan yang menggeliat-geliat penuh nafsu.
"kau berhutang padaku, Xia Lu." Ucap Yifan dengan nada seduktifnya lagi.
"baiklah." Luhan terkekeh pelan.
Keduanya pun berjalan berdampingan menuju pintu. Yifan tentu tak ingin melwatkan kesempatan menggoda Luhan yang menurutnya sudah hampir menjadi miliknya dengan meremas bokong Luhan ketika tak ada seorangpun yang melihat sementara Luhan sendiri tidak melawan.
Hujan masih belum reda. Udara dingin langsung menyapa Yifan dan Luhan ketika keduanya keluar dari amor fati. Yifan baru saja ingin menawarkan tumpangan sebelum sosok pria bermata abu-abu tengah berdiri di samping pintu restoran. Ia hanya mengenakan kaos hitam polos dengan celana jeans hitam berwarna senada—sungguh berbeda dengan penampilannya beberapa hari yang lalu.
"sampai besok, Yifan. Terima kasih atas makan malamnya." Kata Luhan sembari melemparkan seulas senyum pada Pria di depannya lalu berjalan menuju mobil Hammer hitam yang sudah terparkir tepat di depan restoran diikuti oleh pria bermata abu-abu yang kalau tidak salah bernama Sehun.
"ya, sama-sama." Yifan membalas senyuman Luhan sesaat sebelum si pemilik hazel itu masuk ke dalam mobilnya dan tak berapa lama mobil itu pun melaju, meninggalkan Yifan di sana.
Yifan sudah tak sabar menunggu hari esok. Sedikit lagi Xia Lu akan menjadi miliknya
Guyuran air yang hangat langsung membasahi tubuh Luhan ketika lelaki itu memutar kran yang berada di depannya. Luhan lebih suka memakai shower dibandingkan dengan bathtub karena menurutnya mandi menggunakan shower lebih menyenangkan. Ia mengambil botol shampoo yang diletakkan tak jauh dari tempat ia berdiri lalu menuangkan sebagian isinya di telapak tangannya sebelum menggosokan cairan itu di rambutnya. Wangi strawberry menyeruak di kubikel shower yang kini tertutup embun. Luhan sangat menyukai wangi strawberry, bukan karena aromanya yang manis tetapi karena kenangan masa kecilnya yang selalu berhasil membuat Luhan tersenyum jika mengingatnya.
Qi An—ibu kandung Luhan selalu memandikan Luhan dengan sabun dan juga shampoo beraroma strawberry. Keduanya akan tertawa kegirangan sembari mengolesi wajah satu sama lain dengan busa putih dari sabun dan shampoo milik Luhan, dan tak lama kemudian Zhong Ren akan bergabung dengan mereka dan mencipratkan air ke tubuh Luhan dengan senyum lebar.
Luhan sangat senang bernostalgia tentang masa kecilnya ketika sang ibu masih hidup, dan ketika bayangan sang ibu yang mulai menderita akibat sakit leukemia mulai menghampirinya—Luhan selalu berusaha untuk berhenti mengingat masa kecilnya. Karena kebahagiaannya menghilang bersamaan dengan kepergian sang ibu.
Suara pintu kamar mandi yang dibuka menyadarkan Luhan dari lamunannya. Ia menyeka kabut yang menutupi sekat kaca itu dan mendapati Sehun yang tengah melepaskan t-shirt hitamnya. Luhan menghela nafas panjang lalu membuangnya pelan sebelum mengalihkan pandangannya kearah dinding berlapis ubin abu-abu pekat di depannya. Lelaki itu kemudian melanjutkan membasuh sisa-sisa sampoo yang melekat di helaian rambu.
"lupa mengajakku lagi?" Tanya Sehun yang kini sudah berada di belakang Luhan. Dada telanjangnya menempel dengan punggung Luhan, membuat guyuran air tidak lagi membasahi punggun pria berambut violet itu. tangan kekar Sehun diletakannya di kedua sisi pinggang sempit Luhan dan Luhan sepertinya tidak pernah keberatan akan hal itu. semua hal yang dilakukan Sehun padanya
"bagaimana jika aku mengatakan kalau aku sama sekali tidak suka seseorang mandi bersamaku?" Luhan membalikan badannya untuk menatap Sehun yang tengah menyeringai. "kau." Lanjut Luhan sambil meletakan jari telunjuknya di depan dada Sehun.
Sehun terkekeh—kekehan yang meremehkan tetapi entah mengapa Luhan sangat menyukai suara kekehan angkuh dari pria di depannya itu.
"kau berbohong." Balas Sehun dengan nada huskynya yang khas. Jari-jarinya kini asyik mengelus punggung Luhan, menelusuri tulang punggungnya yang menonjol. "kau selalu menyukaiku, Luhan. Dimanapun, kapanpun, dan dalam posisi apapun."
"dan sekarang kau terdengar seperti—" "Yifan?" Luhan belum sempat menyelesaikan kalimatnya ketika Sehun memotongnya. Luhan terdiam dengan mata yang membulat, sedikit kaget—selalu kaget setiap kali nama itu disebut.
"sepertinya manusia itu sudah masuk dalam jebakanmu. Bukan begitu?" Tanya Sehun lagi. "atau…" Sehun mendekatkan bibirnya ke telinga Luhan yang masih terdiam. "kau yang kembali terjerat dalam jebakannya?"
Luhan mendengus kesal lalu mendorong tubuh Sehun menjauh. ia pun dapat melihat tubuh telanjang Sehun yang basah—sungguh menggoda tapi Luhan segera membuang pikiran-pikiran anehnya itu jauh-jauh. "apa masalahmu, Sehun? Kau selalu saja berkata yang tidak-tidak!" suara Luhan meninggi, menandakan bahwa kali itu ia benar-benar sangat kesal.
Ya, Luhan memang berencana membuat Yifan jatuh hati kepadanya dan itu akan sangat memudahkannya untuk menghancurkan kakak tirinya itu. tapi jatuh hati pada Yifan? Tentu saja itu hal yang sangat konyol.
"apa masalahmu, Luhan?" Sehun melemparkan pertanyaan untuk kesekian kalinya. Ia kembali mendekati Luhan dan menyandarkan lelaki mungil itu ke tembok. Ia mencengkram kedua tangan Luhan di samping kepala si pemilik hazel itu. Dingin yang menjalar di tubuh Luhan sesaat setelah kulit punggunya menyentuh ubin membuatnya bergidik, ditambah dengan tatapan dingin dari pria di depannya itu semakin membuat tubuhnya lemas.
"kau, aku—kita, bisa saja langsung menghancurkan mahluk menyedihkan itu dalam satu kedipan mata, Luhan. Tetapi kau lebih memilih jalan yang lebih rumit. Kenapa untuk sesaat aku berpikir kalau kau memang menginginkan itu? Kau merindukannya, bukan? Katakana padaku, Luhan." cengkraman Sehun semakin kuat hingga membuat Luhan meringis. Tatapan Sehun semakin menusuk. Dua iris abu-abu itu seakan menerawang jauh ke dalam diri Luhan dan menelanjangi jiwanya.
Luhan menggelengkan kepalanya seraya mengatupkan kedua matanya—tidak membiarkan Sehun menatapnya lebih lama lagi. Sehun salah—salah besar. Luhan sama sekali tidak merindukannya, Luhan ingin sekali menghancurkan lelaki bernama Wu Yifan itu. Ya, sangat ingin. Tetapi ada sesuatu dalam dirinya yang membuat Luhan menikmati sentuhan dari kakak tirinya itu. apa itu rindu? Jika ya, seharusnya ia tidak merasakan hal itu. Wu Yifan adalah orang yang tidak pantas dirindukan, ia pantas mati.
Luhan terisak. Air matanya mengalir bercampur dengan air yang jatuh dari shower di atasnya. Matanya kembali menatap Sehun dengan tatapan sendu. "tolong aku, Sehun. Tolong aku." Pinta Luhan memelas. Kepalanya disandarkan di bahu lebar milik Sehun, air matanya kini semakin deras keluar dari dua iris hazel itu. "jangan biarkan aku merindukannya seperti ini."—Luhan akhirnya mengakui hal itu, hal yang sejujurnya sudah diketahui Sehun bahkan sebelum Luhan menyadarinya.
Luhan memang terlalu baik. Bahkan pada orang yang telah merengut segalanya dari diri Luhan. Sehun menyunggingkan seringai lebarnya. Sungguh menyedihkan melihat manusia seperti Luhan, tetapi perjanjian adalah perjanjian dan Sehun di sini hanyalah alat Luhan untuk mendapatkan keinginannya. Apapun.
"stt. Tenanglah Luhan, aku akan membuatmu melupakan kerinduanmu pada mahluk itu." Bisik Sehun seraya membiarkan tangan Luhan jatuh di bahu dan pinggang pria berambut hitam itu. ia menarik dagu Luhan kemudian kembali menatap dua iris hazel yang sangat cantik tersebut. Sungguh mahluk ciptaan Tuhan yang sangat indah.
"ingat, Lu. Apa yang membuatmu sampai mengikat perjanjian denganku?" Tangan Sehun mulai bergerak menelusuri punggung Luhan dan berhenti ketika tangannya sampai pada pipi bokong Luhan yang selalu terasa pas dengan telapak tangannya.
Luhan kembali mengatupkan matanya, merasakan sensasi yang menyengat dari sentuhan tangan Sehun yang kini bergerak menuju perut ratanya, menggerakan jari-jari kurusnya di sana sebelum jari-jari itu berjalan menuju membernya yang mulai mengeras.
"dendamku, dendamku pada orang itu. pada eomma." Bisik Luhan sangat pelan tetapi masih bisa ditangkap oleh indera pendengaran Sehun. Ia meremas bahu Sehun kuat ketika Sehun mulai berusaha membangunkan organ sensitive Luhan dengan cara mengelusnya lembut. Sesekali Sehun menekan ujungnya yang membuat nafas Luhan tercekat.
"ya, dendammu pada mereka. Jangan pernah lupa itu, Luhan." Ucap Sehun kemudian mengecup leher Luhan beberapa kali sebelum mulai menjilati leher putih itu dan menggigitnya, menciptakan tanda kemerahan di sana.
Luhan melenguh cukup panjang saat ia merasakan sesuatu berusaha menerobos ke dalam dirinya. Sehun mendongakan kepalanya dan memperhatikan ekspresi Luhan yang sangat luar biasa menggoda, membuat pria itu semakin semangat memainkan jari telunjuk dan jari tengahnya di dalam Luhan. Sehun sangat menyukai ekspresi wajah Luhan tiap kali ia menyentuh lelaki mungil itu.
Tidak sedikit manusia yang pernah ia sentuh, tetapi menyentuh Luhan adalah favoritnya. Seluruh bagian tubuh Luhan adalah mahakarya yang sangat sayang untuk tidak dinikmati, Sehun tidak heran kenapa Yifan sungguh sangat memuja Luhan. Tak ada satu manusiapun—bahkan iblis seprti Sehun yang mampu menahan hasratnya jika melihat Luhan dengan keadaan seperti ini. Luhan seolah menyimpan magnet yang sangat kuat dalam dirinya sehingga membuat orang-orang ingin sekali memilikinya—hanya milik mereka seorang, seperti Yifan.
Sehun mengenal Yifan dengan sangat baik, meskipun pria itu sama sekali tidak mengenalnya. Ia memperhatikan Yifan sejak lama. Manusia itu adalah sasaran yang sangat tepat untuk ditenggelamkan di neraka. Sehun sangat senang bermain-main dengan pria itu, membuat pria itu tergila-gila dengan uang, kekuasaan dan juga nafsu.
Tetapi tiba-tiba ketertarikannya akan Yifan-pun semakin lama semakin menghilang ketika matanya menangkap sosok Luhan. Luhan yang sangat sempurna, berwujud seperti dewa-dewa Yunani yang seperti tanpa cacat cela. Tubuhnya penuh dengan luka tetapi tidak menghilangkan pesona dari bocah itu. ya, Sempurna tetapi begitu rapuh, penuh luka tak kasat mata. Disaat itulah Sehun memilih untuk meninggalkan Yifan dan beralih pada jelmaan dewa yunani itu.
Luhan tak pernah mengenal dosa. Tak pelak semua orang memuja Luhan yang bagaikan malaikat itu. ia bahkan tidak pernah membeci Yifan dan sang eomma yang memperlakukannya seperti binatang.
Sungguh sangat menyedihkan di mata Sehun dan sungguh, Luhan adalah mangsa yang cukup licin. Iblis itu harus bersabar hingga Luhan akhirnya benar-benar lemah dan akhirnya bocah itu mendengarkan bisikan Sehun. dan ketika saat itu tiba, disanalah Sehun—berpura-pura—berbaik hati menolong Luhan untuk membalaskan dendamnya pada Wu Yifan.
Tidak ada iblis yang baik hati, kau tau? Mereka sungguh sangat pintar dan licik, hanya saja manusia terkadang sangat bodoh hingga membiarkan mahluk itu menguasai diri mereka.
Luhan tidak pernah tau jika ia yang saat ini berada dalam permainan Sehun, dan Sehun adalah pemenangnya. Ia berhasil mendapatkan Luhan. Miliknya. Tak ada yang bisa memiliki Luhan selain Sehun. Sehunlah yang akan membawa Luhan bersamanya ke neraka.
Lalu, bagaimana dengan perjanjian itu?
sesungguhnya perjanjian tersebut hanyalah bagian dari permainan Sehun. Ia bisa saja langsung membawa Luhan ke neraka, tetapi entah mengapa Sehun masih ingin bermain-main dengannya. Lagi pula, nantinya ia akan mendapatkan dua jiwa sekaligus. Bukankah itu sangat menggiurkan?
Jiwa Luhan dan juga Yifan.
Lenguhan panjang terdengar keluar dari bibir Luhan ketika cairan Sehun yang hangat memenuhi dirinya. Tubuhnya yang basah akan keringat dan air hangat disandarkannya kembali ke dinding di belakangnya. Ia berusaha mengatur ritme nafasnya yang tersengal sembari mengunci pandangannya ke arah dua iris abu-abu yang menatapnya dengan tatapan lelah. Luhan menahan nafasnya ketika bibirnya dilumat halus oleh Sehun. Pria berambut hitam itu menghisap pelan bibir bawah Luhan lalu melepaskan ciuman singkat itu dan kembali menatap Luhan.
"aku tidak akan membiarkanmu merindukan orang itu, Luhan." Ucap Sehun dengan nada santai namun terdengar sedikit penekanan di setiap katanya.
Luhan mengangguk lemah, ia hampir saja jatuh terkulai kalau saja Sehun tidak langsung membopongnya keluar dari kubikel shower itu dan membawa tubuh Luhan yang masih basah kembali ke kamarnya. Sehun membaringkan tubuh Luhan di atas ranjang berspray merah maroon itu sesaat setelah ia mengeringkan tubuh Luhan dengan handuk.
Sehun menyelimuti tubuh Luhan yang mulai menggigil dengan selimut merah gelap tebalnya kemudian menaiki ranjang berukuran king size itu lalu berbaring di samping Luhan. Ia membawa tubuh Luhan lebih dekat dengan tubuhnya dan melingkarkan tangannya di pinggang Luhan yang kecil.
"Sehun," panggil Luhan pelan—seprti berbisik.
"hm?"
Luhan terdiam sejenak, nafasnya menyapu dada bidang milik Sehun sedangkan jari-jari lentiknya menyentuh perut Sehun. "apa kau pernah jatuh cinta?"
Kali ini Sehun-lah yang terdiam. Pria itu menggigit bibirnya, keningnya ia kerutkan—seperti sedang berpikir keras. Luhan masih menunggu jawaban dari Sehun, tetapi tidak ada satupun kata yang keluar dari bibir Sehun dan membuat Luhan mendongakan kepalanya lalu menatap Sehun.
"bahkan…" Sehun terhenti, ia membalas tatapan Luhan dengan tatapan yang sungguh membuat Luhan bingung. tak pernah sekalipun Sehun menatap Luhan dengan tatapan seperti itu—tatapan seperti orang yang hilang—tanpa arah. "bahkan, aku sudah tidak ingat bagaimana rasanya memiliki perasaan."
Perkataan Sehun tersebut membuat Luhan terhenyak sebelum tersenyum miris. Tentu saja, Sehun adalah seorang iblis, mana mungkin ia pernah jatuh cinta? Mana mungkin seorang iblis memiliki perasaan? Kali itu Luhan mengumpat dalam hati sekaligus bertanya-tanya, kenapa ia bisa menanyakan hal bodoh itu pada Sehun? sepertinya ada sesuatu yang tidak beres dengan dirinya.
Sehun memejamkan matanya, entah mengapa ia berharap Luhan tidak akan berkata apapun setelah itu dan benar. Luhan tidak mengatakan satu kata apapun.
Cinta, ya?
Apa itu cinta?
Sehun bahkan tidak tau apa-apa tentang cinta. Dan perasaan, Sehun memang sudah lupa bagaimana rasanya memiliki perasaan. Yang Sehun ingat, dulu ia pernah memilikinya, namun sesuatu terjadi dan ketika ia sadar, dirinya sudah menjadi sosok iblis seperti sekarang ini.
Ingatan masa lalunya sudah terhapus-atau mungkin dihapus? entahlah.
To be continue
plot twist? or? lol
anyway, thank you guys for the reviews.
hope you guys like this chapters.
chuu
