Title: Lacrimosa

Rated: M - 17

Genres: Supernatural, Angst, Demon!au

Characters: Lu Han, Oh Se Hun, Wu Yifan, Kim Jongin, EXO

Author: hunhanslave

Chapters: 4/?

Inspired by: Yana Toboso's Kuroshitsuji

"Don't play with the devil, he always cheat."—Unkown

Chapter 4:Black feather

September, 2027—Seoul, South Korea

Luhan hampir lupa bagaimana rasanya ketika benar-benar bahagia—tidak, Luhan sudah lupa. Sesering apapun ia berusaha mengingat kembali masa-masa ketika ia masih bersama dengan ayah dan ibunya, rasanya tidak pernah sama lagi. Kebahagiaan semu yang ia ciptakan dalam pikirannya terasa begitu hambar.

Terkadang Luhan membayangkan bagaimana rasanya bisa kembali bahagia, sepertinya begitu menyenangkan. Luhan selalu iri dengan orang-orang yang tertawa lepas, seolah tak memikul beban apapun. Luhan berharap ia berada di posisi orang-orang tersebut.

Hidup Luhan dipenuhi dengan sandiwara dan orang-orang sepertinya begitu terhanyut dengan sandiwara yang dilakoni Luhan selama ini. Tak ada yang tau seseorang yang mereka anggap begitu sempurna itu adalah seseorang yang bersembunyi di balik topeng tak kasat mata. Dan percayalah, menjadi orang lain itu sangat tidak menyenangkan.

Yifan adalah salah satu pelaku sekaligus korban. Kenapa lelaki jangkung itu disebut pelaku? Karena dialah yang merenggut seluruh kebahagiaan milik Luhan—dia dan sang eomma. Ketika Luhan mulai menganggap kedua orang itu sebagai pelipur lara setelah kepergian ibunya, kedua orang itu malah berbalik dan menghancurkan segalanya.

Yifan sungguh sangat pintar, tetapi Luhan mulai meragukan kepintarannya karena lelaki itu dengan mudahnya terjerat pesona Luhan—terbius akan kehebatan sandiwara Luhan yang begitu luar biasa.

Luhan sangat ingin menertawakan bagaimana Yifan yang begitu pintar itu dengan gampangnya tertipu dengan permainan yang Luhan lakukan. Semakin hari lelaki jangkung itu terjatuh semakin dalam tanpa ia sadari. Hanya dengan kata-kata manis dan juga menggoda serta sentuhan-sentuhan yang menggelitik mampu membuat Yifan takluk. Hal itu tak pelak membuat Luhan semakin mudah mengendalikan Yifan dan sedikit demi sedikit—tanpa sepengetahuan Yifan, Luhan mulai merenggut segala yang ia punya.

Belakangan ini Yifan terlihat begitu tertekan. Entah mengapa omset dari perusahaannya semakin menurun dan bisnis yang ia jalankan di beberapa negara juga semakin tidak stabil. Ia mengerahkan seluruh staff ahlinya untuk mencari tau sebab-sebabnya dan sepertinya seseorang telah mencuri rahasia perusahaan Yifan.

Dan disitulah Luhan, berpura-pura merasa prihatin akan keadaan Yifan. Cukup dengan pelukan dan ciuman dapat membuat Yifan kembali tenang dan membeberkan apapun yang berada di pikirannya saat itu.

"Entahlah Xia Lu, siapapun orang itu tentu ia sangat pintar." Ucap Yifan. Suaranya parau seperti orang yang kelelahan. Garis-garis hitam terlihat jelas di bawah matanya.

"Begitu kah?" Luhan merebahkan kepalanya di bahu bidang Yifan. Tangannya merangkul lengan Yifan yang terbalut sweater putih tipis sementara matanya tertuju pada jendela besar di depan mereka yang tertutup rintik hujan.

Yifan tidak membalas pertanyaan dari Luhan, ia terlalu lelah untuk mengeluarkan suara. Ia tidak pernah terlihat begitu tertekan seperti ini sebelumnya. Luhan melirik wajah Yifan sejenak sebelum tersenyum tipis—tanpa sepengetahuan Yifan tentu saja.

Mencuri arsip rahasia Lu Corp bukanlah hal yang sulit untuk Luhan. Bagaimanapun, Luhan adalah pemilik perusahaan yang sebenarnya. Seluruh kode pengaman dan seluk beluk perusahaan itu tersimpan rapih di otaknya selama bertahun-tahun. Yifan sungguh ceroboh sehingga ia tidak mengganti semua kode pengaman itu. Luhan bahkan hanya meminta sedikit bantuan dari Sehun untuk menjalankan aksinya—menyelinap ke dalam kantor tanpa diketahui bukanlah hal yang sulit untuk seorang iblis seperti Sehun. Padahal Luhan mengira ia akan meminta lebih banyak bantuan dari pria bermata abu-abu itu untuk hal semacam ini.

"Xia Lu.." Yifan bersuara pada akhirnya.

"Hm?"

"Lelaki berambut hitam itu…apa benar dia hanya seorang bodyguardmu saja?" Tanya Yifan dengan nada datar.

Luhan menegapkan duduknya lalu menatap Yifan dengan tatapan bingungnya sebelum menarik nafas panjang dan membuangnya pelrahan. "Ya, memang benar. Tetapi Sehun adalah orang yang sangat penting bagiku."

Yifan mengeraskan rahangnya. Entah kenapa, ia seperti tidak menyukai apa yang dikatakan Luhan barusan. "Apa maksudmu?"

"Aku belum bisa mengatakannya padamu sekarang, Yifan." Luhan menyunggingkan seulas senyum. Tentu saja Luhan tidak mungkin mengatakan bahwa orang itu—Sehun adalah iblis yang telah mengikat perjanjian dengannya.

Bukan. Bukan jawaban itu yang ingin Yifan dengar. Wajah pria itu terlihat memerah akibat emosi yang memuncak, dan tanpa hitungan detik Yifan pun mendorong tubuh Luhan sehingga tubuh kurus itu terlentang di atas sofa kulit yang sedari tadi mereka duduki. Luhan terperanjat ketika Yifan mencengkram kedua tangannya kuat. Tatapan Yifan terlihat begitu menusuk—tatapan itu, Luhan sungguh mengenal tatapan itu, tatapan yang ditakutinya.

"Katakan padaku, Xia Lu!" Pintah Yifan dengan nada tinggi. Ia semakin mempererat cengkraman tangannya membuat Luhan meringis. "Katakan padaku kalau dia bukan siapa-siapa!" nada tinggi itu lagi.

"Lepaskan…"Gumam Luhan pelan. Tubuhnya bergetar hebat ketika sekelebat masa lalunya kembali terngiang-ngiang di otaknya. Ia telah membuat Yifan marah, dan itu adalah hal yang ditakuti Luhan. Sampai sekarang?

Yifan kembali mengeraskan rahangnya, kali ini wajah Luhan yang merasakan cengkraman kuat dari Yifan dan membuat Luhan memejamkan matanya menahan sakit yang menjalar di kulit pipinya. "Kau sudah menjadi milikku, Xia Lu. Dan tidak ada seorangpun yang boleh mengambilmu dariku."

Dan dengan kasar, Yifan mencium bibir Luhan dan memaksa Luhan untuk membuka mulutnya—membiarkan lidah Yifan membongkar semua yang ada di dalam mulut Luhan.

Luhan berusaha untuk menyingkirkan tubuh Yifan darinya tetapi kekuatan Yifan yang lebih besar membuat seluruh usaha Luhan menjadi sia-sia. Luhan mengerjapkan matanya ketika tangan Yifan mulai melucuti kemeja yang Luhan kenakan.

"Yifan!" Pekik Luhan panik disela ciuman ganas yang diberikan Yifan. Ia sama sekali tidak menginginkan ini terjadi. Tidak lagi. Luhan tidak ingin Yifan kembali mengerayangi tubuhnya seperti dulu. Luhan takut

Seringai lebar terpampang jelas di wajah Yifan ketika ia menarik tubuhnya untuk menjauh dari Luhan—tidak terlalu jauh, karena Luhan masih bisa mencium aroma cologne mahal milik lelaki jangkung itu. Yifan menatap Luhan dengan tatapan yang tidak disukai Luhan sampai kapanpun—tatapan mengerikan yang selalu Yifan perlihatkan sebelum pria itu mulai menyiksa Luhan.

"Kau tau, Xia Lu?" Yifan kembali mencengkram pipi Luhan—kali ini lebih kuat. Nafasnya terengah-engah, menandakan kemarahannya yang semakin tidak terkontrol. "Tidak ada yang boleh menyentuh milikku selain aku. Dan orang bernama Sehun itu…Aku akan mematahkan lehernya sebentar lagi." Lanjut Yifan dengan nada dingin.

Luhan tidak berkata apapun. Lidahnya seolah keluh meskipun ia sangat ingin mengatakan sesuatu pada Yifan. Tangannya yang bergetar kemudian menyentuh tangan Yifan yang masih mencengkram pipinya, matanya yang berair menatap lekat-lekat dua iris orb di depannya.

Tidak, Yifan tidak akan melakukan apa yang ia katakana tadi. Karena, sebelum Yifan melakukan hal itu, Sehunlah yang akan lebih dulu mematahkan leher Yifan.

"Katakan sesuatu, Xia Lu." Bisik Yifan.

"Se…Sehun…" Suara Luhan terdengar sangat pelan, seperti berbisik.

"Ada apa dengan Sehun, hm?" Seringaian itu lagi.

Luhan menelan ludahnya sebelum mengatupkan kedua matanya. "Tolong aku…"

Suara tertawa Yifan yang renyah menggema di seluruh ruangan bercat putih itu, menertawakan bagaimana menyedihkannya lelaki mungil di depannya. Yifan baru saja berniat untuk kembali mencium Luhan ketika pintu silver itu di banting dengan kasar, dan tanpa hitungan detik Sehun sudah berada di sana—menjerat leher Yifan dengan tangan kanannya yang pucat.

"Mahluk yang menjijikan." Ucap Sehun tepat di telinga Yifan. Kuku-kukunya menacap di leher Yifan dan membuat pria itu semakin merontah.

Sehun terkekeh pelan sebelum menarik tubuh Yifan dan menyandarkan pria itu di tembok putih polos di belakangnya kuat—sangat kuat sampai bisa meretakan tulang punggung lelaki jangkung itu. Yifan menatap Sehun dengan tatapan kaget bercampur ngeri, ia tidak menyangka Sehun akan muncul di sana—di apartemennya. Sehun membalas tatapan Yifan, dua iris abu-abu itu sungguh menusuk dan Yifan melebarkan matanya ketika dua iris abu-abu tadi berubah warna menjadi merah—semerah api neraka yang nantinya akan membakar Yifan.

"Kudengar kau ingin mematahkan leherku, benar begitu?" Tanya Sehun dengan suara rendah. Yifan tidak membalas, atau lebih tepatnya tidak bisa membalas. Bahkan untuk menarik oksigen saja terasa sangat sulit.

"Sebaiknya apa yang harus kita lakukan padanya, Mr. Huang?" Sehun menolehkan kepalanya kearah Luhan yang kini tengah berjalan mendekati keduanya dan berhenti ketika jaraknya dan juga kedua orang itu hanya sekitar satu meter. Matanya yang sembab menatap Yifan yang terlihat hampir kehabisan pasokan udara.

"Ah ah, Mr. Huang…" Sehun menggelengkan kepalanya sebelum kembali menatap Yifan dan menarik kedua ujung bibirnya dan membentuk seulas senyuman. "Aku sudah tak sabar menghabisinya. Apa aku bisa melakukannya hari ini?"

Luhan memejamkan matanya sejenak lalu tertawa pelan. "Tidak, Sehun. Aku belum melihat dia benar-benar menderita." Ucap Luhan. Ia kembali membuka matanya lalu melemparkan senyuman pada Yifan.

Sepertinya hari itu adalah hari yang tidak akan pernah dilupakan oleh Yifan. Luhan berani menjamin itu, tentu saja.

"Lepaskan dia, Sehun." Pinta Luhan yang langsung dituruti Sehun.

Tubuh Yifan terkulai di lantai marmer abu-abu itu, ia terbatuk-batuk ketika oksigen kembali memenuhi paru-parunya yang hampir kosong. Luhan kemudian mendekati Yifan lalu berjongkok di depan pria itu tanpa menghilangkan senyumannya.

"Aku masih belum ingin melihat kakakku mati."

Seketika waktu seolah terhenti. Udara seperti kembali menipis dan membuat Yifan sesak. Kakak. Kata-kata itu beberapa kali ia ucapkan berulang-ulang. Tidak mungkin! Orang di depannya itu tidak mungkin adalah adiknya. Yifan sangat yakin ia telah menghabisi nyawa sang adik beberapa tahun lalu.

"Terkejut?" Tanya Luhan sembari mengelus kepala Yifan.

"Ti…tidak mungkin!"

"Kau pasti bertanya-tanya, kenapa orang yang sudah mati muncul kembali di hadapanmu." Luhan menjilat bibir bawahnya sebelum berdiri dan melipat kedua tangannya di depan dadanya.

"Kau…" Yifan berusaha untuk menegapkan badannya tetapi sakit yang teramat sangat di punggungnya membuat pria itu kembali tersungkur tak berdaya.

"Orang yang kau bunuh beberapa tahun lalu, dia memang sudah mati." Gumam Luhan. "Dan orang yang kau lihat di depanmu ini adalah orang yang nantinya akan membawamu bersama-sama dengan orang yang kau bunuh itu…ke neraka."

Itu adalah kalimat terakhir yang didengar Yifan sebelum pandangannya berubah menjadi gelap.


Kamar itu begitu gelap, hanya cahaya rembulan yang mengintip di sela-sela gorden yang menerangi kamar tersebut. Luhan meringkuk di ranjangnya dengan kaki ditekuk sampai dada. Jari-jarinya yang bergetar hebat bertautan satu sama lain sementara pipinya kini basah dengan air mata yang sedari tadi tidak henti-hentinya mengalir.

Yifan, pria itu sudah tau kalau Luhan masih hidup. Seharusnya Luhan tidak perlu khawatir akan hal itu karena Sehun akan selalu ada di sana untuknya, tetapi kejadian di apartemen Yifan tadi masih mengusik pikiran Luhan.

Tatapan itu—tatapan menakutkan itu sanggup membuat organ tubuh Luhan lumpuh untuk sesaat. Luhan masih takut pada Yifan, itulah faktanya. Meskipun Luhan berusaha untuk mengelak, ketakutan itu tentu tidak akan pernah menghilang.

Luhan memejamkan matanya ketika ia merasakan tangan kekar kini memeluknya dari belakang. Nafas lembut Sehun menyapu tengkuk Luhan yang berkeringat.

"Tenanglah, Lu. Kau akan baik-baik saja." Bisik Sehun.

Luhan membalikan badannya lalu menatap Sehun dengan mata sembabnya. Wajah Sehun terlihat begitu sempurna meskipun Luhan hanya melihatnya dibantu dengan cahaya rembulan yang temaram. "Sehun…aku—" "Sttt…"

Sehun menempelkan jari telunjuknya di bibir Luhan. Pipi tirusnya yang basah terlihat berkilau akibat sinar sang bulan sementara mata merahnya masih terlihat begitu indah—indah namun sekaligus rapuh.

Keduanya terdiam selama beberapa saat. Mereka hanya saling menatap satu sama lain, dan baik keduanya tidak pernah keberatan akan hal itu. Luhan tidak akan pernah bosan terhanyut dalam dua iris abu-abu itu sedangkan Sehun tidak akan pernah menolak jika harus menatap hazel milik Luhan sampai kapanpun.

Luhan dengan reflek memejamkan kedua matanya ketika wajah Sehun semakin mendekat—seolah ia tau apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia meletakan kedua tangannya di depan dada Sehun ketika bibir lelaki itu menyapu bibirnya lembut. Tidak terjadi apa-apa selama beberapa detik, keduanya hanya saling menempelkan bibir namun sesuatu yang sungguh menggelitik seperti mengeliat di sekujur tubuh Luhan. Entah Sehun merasakannya atau tidak, tetapi setiap kali lelaki itu menyentuh Luhan, perasaan itu selalu mengusik Luhan—membuat ia tidak tenang.

"Mh…" Desahan pelan keluar dari mulut Luhan ketika Sehun menggigit bibir bawah Luhan, meminta izin agar lidahnya bisa masuk ke dalam mulut pria berambut violet itu, dan Luhan tidak akan pernah menolak.

Sehun menyelipkan tangannya di pinggang Luhan ketika lidahnya dan juga lidah Luhan saling beradu dengan gerakan yang lembut dan lamban, namun lama kelamaan keduanya menjadi tidak sabaran. Keduanya menginginkan lebih. Tak pelak cumbuan lamban tadi semakin lama semakin memanas. Keduanya saling melumat dengan kasar, memautkan lidah tanpa henti dan menghisap dengan kuatnya. Kalau saja pasokan udara tidak semakin menipis, Sehun dan Luhan enggan untuk melepaskan ciuman itu.

"Luhan," Sehun menangkup pipi Luhan dengan kedua tangannya, membingkai wajah mungil Luhan yang kini basah dengan keringat.

Luhan tersenyum kecil sebelum kembali menempelkan bibirnya dan juga Sehun, hanya kecupan singkat namun berhasil membuat Sehun resah. Apa-apaan ini?

"Aku tidak akan pernah menyesal bertemu denganmu, Sehun." Bisik Luhan kemudian membenamkan wajahnya di dada Sehun.

"Begitukah?" Begitukah? Apa benar Luhan tidak akan pernah menyesal? Lalu kenapa Sehun berfirasat sesuatu akan terjadi diantara mereka berdua?

Iblis memang tidak memiliki perasaan, tetapi mereka punya insting yang sangat kuat dan terkadang insting itu membuat Sehun tidak tenang. Ia sudah beberapa kali berfirasat yang buruk akhir-akhir ini. Sesuatu mungkin—sesuatu akan terjadi padanya dan juga Luhan, dan Sehun tau waktu itu akan tiba sebentar lagi. Dan apapun yang akan terjadi itu, Sehun akan memastikan Luhan tidak akan terluka.


"Ah Sehun…Sehun!" Pekik Luhan ketika Sehun mulai menerobos masuk ke dalam dirinya. Tubuh polosnya kini bersimbah keringat, sama seperti Sehun. Lelaki pemilik hazel itu mendesah hebat ketika Sehun menghentak titik prostatnya beberapa kali sementara jari-jari Sehun bermain-main dengan member Luhan yang mengeras.

Sehun mengerang ketika ia merasakan Luhan semakin menghimpitnya, dan jujur saja itu sangatlah memabukan. Apapun yang ada pada diri Luhan sungguh memabukan. Luhan sungguh sangat adiktif—membuat candu.

Sehun semakin mempercepat gerakan memompanya, membombardir titik kenikmatan Luhan dengan hentakan yang tidak berkesudahan. Luhan mengejang, ia mencengkram bahu bidang Sehun sebelum cairan putih kental menyembur dan menciprati dada dan juga perut Sehun. Sehun tersenyum kemudian mengecup bibir Luhan singkat dan pria mungil itu melenguh pelan ketika sesuatu yang hangat memenuhi dirinya. Tubuh Sehun terjatuh menimpa tubuh Luhan. Nafas keduanya memburu dan rasa lelah langsung terasa.

Suara hujan dan juga petir yang menyambar-nyambar memecah keheningan malam itu. Jam sudah menunjukan pukul 3 pagi tetapi Sehun dan Luhan masih saling menatap dalam diam. Keduanya sungguh menikmati keadaan diam seperti itu—memuji satu sama lain tanpa berkata apa-apa.

"Sehun?" Panggil Luhan pada akhirnya.

"Hm?"

"Apa memang semua iblis tidak memiliki perasaan?" Tanya Luhan dengan mata sendu.

Sehun tersenyum tipis lalu mempererat dekapannya pada Luhan. "Ya. Begitulah."

Luhan mendesah berat kemudian memejamkan matanya. Hatinya berkedut-kedut nyeri ketika mendengar jawaban dari Sehun. Ya, Luhan tau itu—bahkan sebelum Sehun mengatakannya. Hanya saja Luhan selalu ingin memastikannya berkali-kali, meskipun Luhan tau apa yang akan dikatakan oleh Sehun.

"Kenapa kau bertanya hal itu?" Kini Sehun yang balik bertanya pada Luhan. Luhan kembali mendesah lalu menggelengkan kepalanya.

Luhan seharusnya tidak menanyakan hal bodoh seperti itu. Malahan hal tersebut semakin membuat kedutan di hatinya menjadi-jadi. Sungguh sakit.

Sejujurnya kedutan-kedutan itu sudah dirasakan Luhan sejak lama, tetapi ia berusaha untuk tidak memperdulikannya. Tapi semakin lama, kedutan itu semakin tidak terkontrol dan Luhan akhirnya menyerah. Lekaki itu lelah.

Luhan sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak pernah jatuh cinta pada Sehun—si iblis yang saat ini mendekap tubuhnya erat, namun Luhan bukanlah orang yang kuat untuk tidak terlena dengan pesona Sehun. Luhan akhirnya mengakui, ia telah mengingkari janjinya pada dirinya sendiri. Ia jatuh cinta.

Luhan semakin membenamkan kepalanya di dada telanjang Sehun. Ia tersenyum miris sebelum alam mimpi membawanya pergi sejenak dari kenyataan.

Suara nafas Luhan yang terdengar stabil menandakan bahwa lelaki itu telah terlelap dalam tidurnya. Sehun mendesah pelan, kedua iris abu-abunya menatap kosong langit malam di luar jendela sebelum menyusul Luhan kealam mimpi sesaat setelah ia bertanya-tanya pada dirinya sendiri termasuk pertanyaan yang tadi ditanyakan Luhan padanya.

Apa memang semua iblis tidak memiliki perasaan?

Lalu , jika benar begitu, apa yang terjadi pada dirinya saat ini?

Kenapa setiap kali ia menatap Luhan, sesuatu seperti ingin keluar dari dadanya?

-To Be Continue-


Note:

halo halo! akhirnya bisa update ff ini juga.

kemarin sempat kehilangan inspirasi jadi maaf kalo chap ini rada gaje. (chap lain juga gaje kali plis deh haha)

anyway, thanks buat review2 dari readers sekalian yg bikin aku semangat nulis lagi ! maaf ga bisa bales satu- satu TTTT

oh iya, special thanks buat HunhanKaisoo & kyoonel1220 yang udah ngasih saran cara pengetikan yang baik kkk

dan soal pemilihan bahasa untuk kata-kata yg 'Rated' itu, alasan aku pilih kata 'member' sama 'entrace' biar ga

terlalu fulgar.

this is NC-17 after all, jadi aku nggak bikin smut scene yang hot like cabe wkwk don't expect too much

for the smut scenes TTTT

last, ff ini bakalan selesai sebentar lagi hehe

teaser buat next chap nih, ntar ada yg muncul di next chap. siapa ya? kkk

okay then, see you!