Title: Lacrimosa
Rated: M - 17
Genres: Supernatural, Angst, Demon!au
Characters: Lu Han, Oh Se Hun, Wu Yifan, Kim Jongin, EXO
Author: hunhanslave
Chapters: 5/?
Inspired by: Yana Toboso's Kuroshitsuji
"The pain isn't gone, but I've learned to live with it."—unknown
Chapter 5: A Chance
Yifan meringis pelan ketika ia merebahkan punggungnya di atas ranjang berspray putih miliknya. Sakit yang begitu menyiksa masih sangat dirasakan Yifan meskipun ini sudah minggu ke dua setelah kejadian di apartemennya—kejadian yang membuat Yifan tidak bisa tidur selama beberapa hari.
Luhan masih hidup.
Luhan, adiknya yang dikiranya sudah mati beberapa tahun lalu ternyata adalah orang yang kembali merenggut hatinya untuk yang kedua kali, orang yang untuk kedua kalinya membuat hidup Yifan menjadi sangat kacau.
Bayang-bayang memori masa lalu bersama Luhan kembali terngiang-ngian di kepala Yifan. Luhan yang sangat lemah, rapuh dan bodoh. Ya, bodoh karena membiarkan Yifan dan sang eomma mengancurkan kebahagiaannya.
Luhan yang sekarang sungguh sangat berbeda. Kembali dengan nama Huang Xia Lu, orang yang dengan usianya yang sangat muda mampu menguasai pasar bisnis di Asia, angkuh, juga begitu karismatik dan seduktif. Yifan tidak pernah mengira Luhan dan Xia Lu adalah orang yang sama, meskipun Yifan sempat berpikir demikian pada awalnya.
Yifan kembali meringis. Kini kepalanya yang berdenyut nyeri. Terlalu banyak hal membingungkan yang terjadi dan itu sangat sukses membuat Yifan kacau balau.
Pertanyaan demi pertanyaan berputar-putar di otak Yifan. Bagaimana mungkin Luhan bisa selamat? Apa sebenarnya yang terjadi? Apa Luhan kembali untuk menghancurkannya?
"Yifan, bagaimana keadaanmu, sayang?" Seorang wanita paruh baya dengan makeup tebal terlihat mengintip di balik pintu. Wanita itu kemudian melangkah masuk lalu duduk di ranjang tersebut kemudian mengelus tangan Yifan yang terbalut long sleeve cokelat muda.
"Ini semua membuatku pusing, ma. Bagaimana mungkin—" "Ma juga memikirkan hal yang sama, Yifan. Kenapa setan kecil itu bisa hidup? Bukankah kau sudah membunuhnya?"
Yifan menghela nafas panjang. Jari-jari panjangnya memijat-mijat pelipisnya, berusaha membuat pening di kepalanya bisa hilang sejenak.
Ling mendesah berat. Wanita itu menatap nanar sang anak. Ia terdiam sejenak sebelum menggenggam tangan Yifan erat. "Ma sudah menyewa bodyguard untukmu. Aku tau, si setan kecil itu sedang berusaha mengambil semua yang kita punya, dan orang yang eomma kerjakan ini adalah orang yang akan melindungimu, eomma, harta kita—semuanya."
"siapapun itu, dia haruslah orang yang hebat, ma. Karena Xia—Luhan juga memiliki boryguard…mahluk mengerikan yang selalu berada bersamanya." Ujar Yifan. Suaranya yang parau semakin memperlihatkan betapa lelahnya lelaki jangkung itu.
Ia kini tau bahwa Sehun, orang yang disebut-sebut Luhan sebagai bodyguardnya bukanlah manusia biasa. Atau mungkin bisa saja Sehun memang bukan manusia. Yifan bisa merasakan hawa menusuk ketika berada di dekat lelaki berambut hitam itu, dan Yifan semakin yakin ketika kedua iris ash grey dingin milik lelaki itu berubah menjadi merah, semerah kobaran api yang seperti ingin melahap Yifan saat itu juga.
"Tidak akan aku biarkan dia merenggut apa yang sudah kita miliki sekarang." Desis Yifan berusaha meyakinkan sang eomma kalau semuanya akan baik-baik saja, meskipun dalam hatinya, lelaki itu sedikit meragukan perkataannya sendiri.
Seoul sesungguhnya bukanlah kota yang menarik untuk dijadikan tempat bermain para iblis. Bukan karena orang-orang di sana memiliki jiwa religius yang tinggi—percayalah, hanya segelintir orang yang masih ingin selalu dekat dengan Tuhan di sini. Kebanyakan dari mereka, agama hanyalah penghias kartu tanda pengenal saja.
Orang-orang di Seoul terlalu mudah untuk dipermainkan. Mungkin salah satu alasannya karena memang mereka sepertinya tidak ingin mendekatkan diri pada Tuhan? Entahlah, tetapi itu mempermudah kerja iblis.
Tetapi banyak dari mahluk-mahluk tersebut yang tidak menyukai Seoul. Menurut mereka, waktu permainan mereka di sana terlalu singkat, karena manusia terlalu gampang jatuh dalam jebakan mereka.
Salah satu iblis yang termasuk disana adalah Sehun. Ia sebenarnya tidak ingin mencari korban di kota bising itu. Ada sesuatu yang membuat Sehun akhirnya memutuskan untuk ke sana. Entahlah, mungkin karena Sehun dulunya berasal dari Seoul?
Tak ada satupun yang Sehun ingat tentang masa lalunya selain kota dimana ia berasal. Ketika ia membuka mata untuk pertama kalinya setelah sesuatu terjadi padanya, ia sudah berada di sana—di neraka—rumah barunya. Ia tidak memiliki rekaman memori apapun sebelum kejadian itu. Tentu saja, karena ketika seseorang berubah menjadi iblis, seluruh ingatan masa lalunya akan di hapus. Sehun bahkan heran kenapa ia masih bisa mengingat dimana ia tinggal dulu.
Ketika Sehun untuk pertama kalinya mendaratkan pandangannya kepada Luhan, disitulah ia akhirnya merasakan betapa menyenangkannya bermain-main di Seoul. Lelaki mungil itu terlihat begitu rapuh namun sekaligus kuat. Sehun pun harus berusaha lebih keras agar Luhan bisa terjerat permainannya.
Ada sesuatu dari diri Luhan yang membuat Sehun begitu menginginkannya. Entah apapun itu, Sehun juga tidak tau. Tiba-tiba saja ia begitu tertarik dengan Luhan, dan hal tersebut membuat keinginannya untuk mendapatkan jiwa Luhan menjadi menggebu-gebu.
Untuk mendapatkan jiwa seorang manusia tidaklah mudah. Para iblis haruslah menunggu si pemilik jiwa itu mati sebelum bisa mengambil jiwanya. Tetapi, jika manusia membuat perjanjian dengan iblis, maka setelah perjanjian itu selesai dilaksanakan, maka jiwa dari manusia tersebut harus diserahkan pada si iblis.
Cara kedua itu memang sangat rumit, hanya segelintir iblis yang bisa mengikat perjanjian dengan manusia—iblis iblis yang beruntung, mereka tidak perlu menunggu si manusia mati.
Ketika Luhan akhrinya mengikat perjanjian dengan Sehun, dirinya sangat senang karena setelah itu, Luhan akan menjadi miliknya. Ia hanya perlu menunggu beberapa waktu saja.
Awalnya Sehun memang hanya ingin jiwa Luhan, tetapi semakin lama entah mengapa sesuatu yang aneh mulai menggerogoti dirinya—sesuatu yang membuat Sehun tidak nyaman—sesuatu yang membuat Sehun merasa sangat gelisah ketika berada di samping Luhan.
Sehun tidak bisa mendeskripsikan apa yang ia rasakan. Bukankah iblis tidak memiliki perasaan? Lalu apa yang sebenarnya terjadi dengan dirinya saat itu?
"Apa yang kau lakukan di sini, Sehun?" Tanya Luhan yang tiba-tiba saja sudah muncul di samping Sehun. Jas hitam pas badannya terlihat begitu elegan dengan kemeja hitam dan juga dasi merah yang melingkar di kerahnya. Rambutnya yang kini berwarna lavender ditata sedemikian rupa.
"Bukankah kau ada rapat direksi dengan Yifan untuk membahas keberhasilanmu mendapatkan Lu Company?" Sehun menatap Luhan sejenak sebelum mengalihkan pandangannya kearah gemerlap lampu Seoul yang terlihat begitu menakjubkan dari lantai 30 gedung tersebut—Lu Company.
Luhan terkekeh pelan meskipun ia sadar, Sehun sepertinya tidak ingin menatapnya berlama-lama. Tidak seperti biasanya. "Sebentar lagi, apa kau tidak ingin ikut ke dalam?"
"Kau mau aku ikut?"
"Tentu saja, Sehun. Siapa yang tau kalau nanti Yifan tiba-tiba saja menodongku dengan pistol atau menusuk perutku ketika kami sedang berjabat tangan?" Luhan menggenggam lengan Sehun yang terbalut kemeja hitam, lalu menyunggingkan senyum ke arah Sehun yang akhirnya menatapnya dengan tatapan dingin seperti biasa.
"Itu tidak akan terjadi. Aku akan langsung membunuhnya saat itu juga jika ia berani melakukan hal itu padamu." Gumam Sehun sembari menangkup pipi kanan Luhan dengan lalu membalas senyuman Luhan dengan senyuman tipisnya.
Keduanya terdiam selama beberapa saat. Sensasi hangat dan juga menggelitik membuat Luhan mengigit bibir bawahnya ketika kulit pipinya bersentuhan dengan tangan Sehun yang dingin. Degup jantungnya begitu cepat, seperti sehabis lari marathon. Luhan harap Sehun tidak mengengar gemuruh jantungnya yang begitu berisik itu.
"Baiklah, ayo." Ajak Luhan sebelum menjauhkan dirinya dari Sehun dan berjalan menuju ruang rapat, sementara Sehun mengikutinya dalam diam.
Suasana ruang rapat yang tadinya cukup riuh seketika menjadi senyap ketika Luhan dan juga Sehun muncul. Luhan memasang senyum manis seperti biasa. Ia pun kemudian berjalan menuju kursi kosong yang berada di ujung meja—tepat di depan Yifan yang kini menatap Luhan dengan tatapan yang tidak biasa. Sementara Sehun mengambil tempat di belakang Luhan.
"Apa kabar, Yifan?"Tanya Luhan. Kedua ujung bibirnya ditarik sehingga menciptakan senyuman.
Mungkin untuk orang lain, senyuman Luhan adalah senyuman yang sangat indah untuk dipandang berlama-lama, tetapi bagi Yifan senyuman itu adalah senyuman yang penduh tipu daya. Senyuman palsu.
"Sangat baik, Mr. Huang." Yifan berusaha terdengar tenang.
Ia kemudian melirik Sehun. Ia menahan nafas, hanya sesaat. Tatapan Sehun membuatnya merinding. "Sepertinya kau membawa bodyguardmu juga di sini. Baiklah kalau begitu." Lanjut Yifan sebelum meraih ponselnya. Jari-jarinya bermain-main di layar ponsel itu sejenak lalu mendongakan kepala dan tersenyum tipis pada Luhan. "Aku juga akan membawa bodyguarku."
Pintu abu-abu itu kembali terbuka. Sontak semua yang ada di ruangan itu langsung menolehkan kepalanya . Tak lama seorang lelaki berambut pinkish brown muncul di balik pintu. Lelaki itu menerawang ke seluruh ruangan sebelum berjalan mendekati Yifan yang tengah tersenyum—lebih tepatnya menyeringai. Lengan kemeja hitamnya digulung hingga sikut, dan dua kancing kemejanya dibiarkan terbuka, memperlihatkan kalung perak berbandul segitiga dengan lingkaran seperti iris mata di tengahnya.
Luhan hanya menatap lelaki itu dengan tatapan bingung, lain halnya dengan Sehun yang menatap lelaki tersebut dengan tatapan seperti ingin menguliti lelaki berkulit tan yang kini berdiri di belakang Yifan.
Lelaki itu pun membalas tatapan Sehun dengan tatapan mengejek. Sungguh tatapan yang sangat tidak disukainya. Bibir penuh milik lelaki itu membentuk seringaian—seringaian yang sangat dikenal Sehun.
Kai
Sehun menyebut nama lelaki itu dalam hati. Dari semua tempat di Seoul, ia tidak pernah menduga akan bertemu dengan Kai di sana—di kantor Yifan. Tetapi akhirnya Sehun ingat akan sesuatu. Kai tidak benar-benar melepaskan Yifan.
Yifan tidak mengikat perjanjian dengan Kai—tidak, Yifan tidak melakukan itu, Sehun sangat yakin karena tidak ada tanda apapun yang menunjukan bahwa lelaki jangkung itu bersekutu dengan Kai. Berbeda dengan Luhan yang memiliki tattoo pentagram kecil di pergelangan tangan kirinya yang selalu ia tutupi dengan jam tangan. Lalu kenapa Kai bisa muncul disana? Bukankah dia biasanya tidak menampakan diri seperti ini? Entahlah. Yang pasti, setelah ini Sehun akan mencari tau alasannya.
Di sisi lain, Kai menyadari bahwa Sehun sepertinya terkejut dan tidak senang dengan kemunculannya di sana. Tatapan tajam dari lelaki berambut hitam kelam itu terus menusuknya. Namun itu hanya membuat Kai terkekeh pelan.
Dua iris onyxnya kemudian menatap lelaki mungil yang duduk berhadapan dengannya. Doe eyesnya terlihat begitu cantik dipadukan dengan hidung mungil dan juga bibir plum yang menggoda. Kai menaikan sebelah alisnya, lelaki itu tidak berubah ternyata. Malahan semakin terlihat menakjubkan. Tidak heran Sehun begitu terobsesi dengannya.
Ia menjilat bibir bawahnya sebelum melemparkan seringaiannya pada Luhan yang masih menatapnya bingung. sepertinya permainan ini akan sangat menyenangkan.
Yifan mengeratkan giginya geram. Nafasnya tersengal—tak kuasa menahan emosi yang sudah di ubun-ubun kepalanya. Ia mengepalkan tangannya lalu memukul meja kayu yang di cat hitam tersebut, memunculkan suara keras yang membuat semuanya terdiam.
"Tidak. Tidak mungkin! Dia…" Yifan bangun dari duduknya lalu menatap Luhan yang hanya tersenyum simpul. "Dia menipuku! Dia mencuri rahasia perusahaan ini! Apa kalian tidak percaya padaku?!" Suara Yifan terdengar sedikit bergetar di akhir kalimatnya.
"Maaf, direktur. Tapi, kami sudah menginfestigasi laporan anda dan tidak terbutkti Mr. Huang menipu ataupun mencuri di perusahaan ini." Ucap pria paruh berkacamata sembari membaca berkas di tangannya.
Yifan terkekeh paksa. Ia kembali menatap Luhan, kali ini dengan tatapan yang penuh amarah, kebencian, dan juga kekecewaan. "Sungguh ini sangat konyol!"
"Seluruh asset perusahaan ini sudah sepenuhnya dialihkan kepada Huang Company." Pria paruh baya tadi menambahkan.
Kali ini Yifan hanya diam. Ia sudah tidak tau harus berkata apa lagi. Semuanya kosah katanya lenyap begitu saja bersamaan dengan lenyapnya seluruh kekayaan yang ia punya. Semua ini karena Luhan, si licik berhati iblis itu.
Yifan sudah berjanji pada eommanya bahwa ia tidak akan membiarkan ini semua terjadi, tetapi Luhan terlalu cepat—terlalu cerdik. Ditambah dengan bantuan mahluk itu—Sehun, semuanya menjadi semakin mudah untuk Luhan.
Janji adalah janji. Yifan akan merengut semuanya kembali meski ia harus membunuh Luhan untuk yang kedua kalinya. Oh atau mungkin, melihat Luhan mati di depan matanya tanpa mengotori tangannya sedikitpun. Kai yang akan melakukannya untuk Yifan. Sebentar lagi.
"Aku akan kembali, Kai." Ujar Yifan sebelum keluar dari ruangan itu dengan tangan menggenggam ponselnya.
Tak lama kemudian, seluruh orang yang berada di sana satu persatu meninggalkan ruangan itu setelah memberikan selamat kepada Luhan yang mendapatkan untung yang begitu besar, dan meninggalkan Sehun, Luhan dan juga Kai di sana.
Sehun baru saja berniat membuka mulutnya, tetapi Kai terlebih dahulu menghalanginya. "Jadi kau yang bernama Luhan itu?"
Luhan mengerutkan dahinya. Ia menarik Sehun untuk lebih dekat dengannya. Entahlah, tetapi Luhan mencium bahaya di sana. "Siapa kau?"
"Jangan mendekatinya, Kai." Sehun memperingatkan ketika Kai maju beberapa langkah.
Kai pun menuruti perkataan Sehun. Ia menghentikan langkahnya lalu tertawa pelan. Matanya tak sekalipun terlepas dari Luhan. "Hm-mm, sekarang aku tau alasan mengapa Sehun sangat senang bermain-main denganmu."
"Apa…maksudmu?"
Entah sejak kapan Sehun sudah berada di depan Kai. Gerakannya begitu cepat sehingga Luhan pun tidak sadar. Sehun mencengkram kerah milik Kai, membuat hidung keduanya hampir bersentuhan. Mata abu-abu Sehun berubah menjadi merah, sama halnya dengan Kai.
"Diamlah, Kai. Apa yang kau inginkan? Kenapa kau berada di sini?" Sehun mempererat cengkramannya, sementara Kai hanya tersenyum tipis. Ia terlihat begitu santai, seperti tidak takut sedikitpun pada Sehun.
"Wow, sepertinya kau lupa siapa yang berjasa sangat besar padamu, Sehun."
Perkataan Kai itu membuat Sehun sedikit merenggangkan cengkramannya, dua iris fire red tadi perlahan kembali berubah menjadi ash grey.
"Tenanglah, aku tidak akan merebut milikmu. Aku malah akan membantumu mempermudah usahamu." Ucap Kai sebelum mendorong tubuh Sehun menjauh kemudian berjalan mendekati Luhan. Ia menatap Luhan sejenak sebelum berlalu meninggalkan ruangan itu
"Siapa dia, Sehun?" Tanya Luhan dengan nada pelan. Ada yang tidak beres di sini.
Sehun terdiam beberapa saat kemudian menepuk kepala Luhan beberapa kali. "Hanya teman lama, jangan khawatir."
Luhan hanya mengangguk. Teman lama? Apa itu berarti orang yang bernama Kai itu sama seperti Sehun? Sepertinya memang begitu. Hanya saja Luhan tidak ingin bertanya lebih banyak pada Sehun. Belum sekarang.
To be continue
Halo halo
akhirnya aku bisa update chap 5 juga TTTT
maaf rada lama. ada masalah dikit sama laptop jadinya ga bisa dipake seminggu lebih TTTT
anyway, makasih banget yg udah mau capek-capek review story absurd ini kkk
kalian yg bikin aku semangat buat nulis XD
last, 2 more chapters to go. tenang, udah mau end kok wkwk
oke deh, see you~
