Title: Lacrimosa
Rated: M - 17
Genres: Supernatural, Angst, Demon!au
Characters: Lu Han, Oh Se Hun, Wu Yifan, Kim Jongin, EXO
Author: hunhanslave
Chapters: 6/?
Inspired by: Yana Toboso's Kuroshitsuji
"it started with fairy tale, and ended with a nightmare."—unknown
Chapter 6: Red Tears
Tak ada yang bisa mendeskripsikan betapa besar kebencian Kai pada manusia—Mahluk-mahluk bodoh yang menyedihkan. Kebencian itu bukanlah tanpa dasar, ia memiliki alasan atas hal tersebut.
Hampir semua iblis penghuni neraka dulunya adalah manusia, Kai merupakan salah satunya. Disaat iblis-iblis lainnya lupa tentang masa lalu mereka, pemuda itu masih mengingat dengan jelas kejadian-kejadian yang terjadi padanya sebelum ia berubah menjadi iblis. Kai tidak akan pernah bisa melupakannya sekalipun ia sungguh sangat ingin menghapus seluruh ingatan masa lalunya.
Acerbus adalah iblis superior yang menjadikan Kai sebagai pengikutnya—sebagai tangan kanannya. Ketika jiwa manusia jatuh ke tangan para iblis superior, maka manusia-manusia tersebut akan menjadi iblis yang kuat—iblis yang memimpin para iblis lainnya—mid level.
Berbeda dengan iblis-iblis low-level, ingatan iblis mid-level tidak akan pernah dihapus dan mereka pun memiliki kekuatan untuk mengontrol manusia lebih besar daripada iblis di level terendah.
Kai sama sekali tidak pernah menginginkan untuk menjadi sosok iblis seperti sekarang ini, tetapi kebencianlah yang mengubah segalanya. Kebenciannya kepada orang-orang yang dulu pernah menyakitinya.
Kai masih sangat ingat bagaimana kedua orang tuanya memaksa Kai kecil untuk mencuri dan juga mengemis, dan Kai masih ingat bagaimana mereka mencuci otak pemuda itu dan menjadikannya sosok pembunuh bayaran berdarah dingin yang kejam—ia sama sekali tidak memiliki hati.
Sudah tidak terhitung berapa manusia yang mati di tangannya, Kai pun tidak peduli. Menurutnya nyawa manusia-manusia itu sama sekali tidak berharga. Tetapi, sesuatu yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya terjadi dan membuat Kai tersadar—membuat Kai kembali pada jati dirinya yang sesungguhnya. Saat itulah rasa kebenciannya pada kedua orang tuanya dan juga pada manusia tumbuh.
Baginya, sebagian besar manusia di dunia ini adalah sampah dan sebagian kecilnya lagi adalah orang baik. Namun sayang, sebaik-baiknya manusia tersebut tidak akan menjamin nasibnya akan baik pula.
Kai menghisap batang rokok yang terselip di jari-jarinya dalam, sebelum menghembuskan asap putih yang kemudian langsung hilang diterpa angin. Hiruk pikuk kota Seoul di malam hari menjadi hiburan tersendiri untuk pemuda itu. Lampu-lampu yang gemerlap serta suara kendaraan bermotor yang bersahut-sahutan membuat Kai tersenyum tipis. Dari atas gedung pencakar langit itu, semuanya terlihat begitu indah namun sekaligus menyedihkan.
Pemuda itu merenggangkan otot lehernya lalu membuang puntung rokoknya di sembarang tempat sebelum bangun dari duduknya kemudian terkekeh pelan. "Sepertinya kau memang sangat merindukanku, Sehun-ah." Ucap Kai tanpa melirik Sehun yang entah sejak kapan sudah berada di sana dan menatap Kai dengan tatapan dinginnya.
"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Sehun dengan nada sedingin tatapannya.
"Hm? Bukankah kau sudah menanyakan hal itu padaku?" Kai menarik salah satu ujung bibirnya.
"Dan kau belum menjawabku." Balas Sehun cepat.
"Ah ya, kau benar." Gumam Kai.
Ia menjilat bibir bawahnya yang terasa kering, dua iris onyxnya menatap Sehun lekat-lekat sebelum mendekati pemuda itu. Rambut cokelat tuanya yang ditata terlihat berantakan, parfum beraroma maskulinnya menusuk indera penciuman Sehun saat itu.
"Aku hanya ingin bersenang-senang saja, Sehun."
Sehun memicingkan matanya, seolah memaksa Kai untuk mengatakan yang sebenarnya. Kai kembali terkekeh. Ini adalah kali pertama Sehun bertemu dengan Kai setelah sekian lama dan Sehun masih sangat hafal bagaimana suara kekehan Kai—meremehkan, seduktif.
Kai sama sekali tidak berubah, kecuali warna rambutnya yang terlihat lebih gelap. Kai yang berada di depan Sehun ini masilah Kai yang Sehun kenal.
Sebenarnya, Sehun sangat terkejut melihat kemunculan Kai yang tiba-tiba. Sejak ia memilih untuk membantu Luhan membalaskan dendam pria mungil itu, Kai menghilang entah kemana. Sehun sesungguhnya mencari-cari keberadaan Kai diam-diam. Biar bagaimanapun, Kai adalah sahabatnya. Sehun tidak membenci Kai, ia hanya kaget kenapa Kai bisa muncul disana dan bersama dengan Yifan.
"Baiklah baiklah, aku memang tidak bisa berbohong padamu." Ujar Kai seraya melemparkan senyum simpul pada Sehun. "Aku bekerja untuk Wu Yifan, kau tau untuk apa?"
Sehun mengerutkan dahinya bingung. "Apa maksudmu?"
Kai menggigit bagian dalam pipinya sesaat sebelum ia meraih kotak rokok di kantong jaket kulitnya kemudian menarik sebatang rokok lalu menyisipkan batang rokok berwarna putih itu di sela-sela telunjuk dan jari tengahnya. Pemuda itu mendengus pelan, percikan api dari korek api membuat wajahnya sesaat terlihat lebih jelas.
"Aku dibayar untuk membunuh Luhan…" Ia menghisap batang rokok itu, asap dari gulungan tembakau itu menggerogoti tenggorokan dan juga paru-parunya sebelum keluar melalui cela bibirnya. "…dan juga dirimu."
Sehun mengangguk pelan. Ia memang sudah menduga hal tersebut. Namun, Sehun tau Kai tidak akan melakukan itu. Tidak akan pernah.
"Kau tidak akan melakukan itu, Kai." Kata Sehun santai. Rambut hitamnya berkibar-kibar diterpa angin malam yang semakin kencang.
Kai menarik ujung bibirnya. "Ya, aku memang tidak akan membunuhmu," Ia menepuk bahu Sehun pelan sebelum melanjutkan perkataannya. "Tetapi tidak dengan Luhan."
"Kau akan membunuh Luhan? Bukankah dia miliku, Kai? Jiwanya miliku, kau tidak bisa sembarangan membunuhnya!"Suara Sehun meninggi.
"Apa kau lupa, Sehun? Aku bisa melenyapkan jiwa seseorang juga. Membuatnya menghilang, baik dari dunia manusia ataupun dunia iblis, sekalipun kau sudah mengikat perjanjian dengan manusia tersebut." Dua iris onyx itu kini berubah menjadi merah, semerah percikan api dari korek yang tadi dipegang Kai.
Sejenak suasana di tempat itu menjadi senyap. Hanya deru angin dan juga suara kendaraan bermotor yang sayup-sayup terdengar di indera pendengaran kedua pemuda itu.
Sehun benar-benar lupa akan hal itu. Ia lupa bahwa Kai memiliki kekuatan yang lebih besar dari dirinya.
"Kenapa kau melakukan ini?" Desis Sehun pada akhirnya. Kepalanya ditundukan sementara jari-jari tangannya dikepalkan.
Kai tertawa hambar. Asap putih yang keluar dari mulut dan hidungnya menyeruak ke udara. "Aku tidak akan mengatakan alasannya padamu, Sehun." Ia mencondongkan tubuhnya ke depan lalu menepuk kepala Sehun beberapa kali. "Karena, kau tidak harus tau semua apa yang ada di pikiranku."
"Ternyata tidak ada yang namanya persahabatan di dunia iblis, bukan begitu?" Sehun mendongakan kepalanya. Matanya menatap lekat-lekat dua iris fire red yang ada di depannya.
Kai tersenyum tipis. Ekspresinya saat itu menyiratkan sesuatu yang tidak bisa ditebak oleh Sehun. "Ya, begitulah."
"Aku tak akan membiarkanmu membunuh Luhan." Ucap Sehun sedikit menekan kata Luhan.
"Kita lihat saja nanti, Sehun." Kata Kai sebelum berjalan melewati Sehun kemudian dengan sekejap menghilang di kegelapan bahkan sebelum Sehun sempat membalas perkataan Kai itu.
Ada sesuatu yang tiba-tiba saja menggerogoti diri Sehun saat itu. Sesuatu yang membuat dirinya ingin segera bertemu dengan Luhan, mendekap pemuda mungil itu dan berkata Semua akan baik-baik saja, aku akan melindungimu.
Sehun menyimpulkan itu sebagai rasa khawatir saja, namun sayangnya ia tidak benar-benar sadar bahwa apa yang saat itu dirasakannya bukanlah hanya rasa khawatir belaka namun sesuatu yang lebih intens dan mungkin ia sendiri tak ingin mengakuinya.
Ia takut kehilangan Luhan.
Bukan takut kehilangan jiwa Luhan yang ia gadaikan pada Sehun, tetapi Luhan itu sendiri.
Luhan merapatkan jaket birunya, suara gemuruh angin di luar sana semakin membuat perasaan pemuda itu semakin gelisah. Entah apa yang membuat perasaannya menjadi sangat tidak tenang seperti itu. Seperti akan ada sesuatu yang terjadi—sesuatu yang mengerikan, tetapi Luhan selalu berusaha keras untuk mengusir firasat buruknya itu
Suara bel pintu yang berbunyi nyaring membuat Luhan mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia tidak bergerak dari tempatnya sementara bel pintu tersebut masih berbunyi. Tubuh pemuda itu bergetar hebat dengan sekejap. Keringat dingin mengucur di pelipis dan tengkuknya.
Itu bukan Sehun, Luhan sangat yakin. Sehun tidak pernah membunyikan bel pintu ketika ia kembali dan hal tersebut semakin membuat Luhan ketakutan. Sehun belum kembali.
Luhan baru saja ingin berlari menuju kamarnya ketika pintu depan apartemennya dibuka dengan paksa dan seorang pria dengan wajah yang begitu familiar muncul di balik pintu itu. Seringai menakutkan terpampang jelas di wajahnya, membuat tubuh Luhan semakin bergetar. Firasatnya memang benar.
"Luhan, apa kabar?" Tanya Yifan seraya berjalan mendekati Luhan yang kini terduduk membeku di atas lantai marmer biru tua itu.
Kai berada di samping Yifan. Ia memasang seringaian yang sama dengan pemuda jangkung yang berada di sebelahnya. Dua iris onyxnya berubah warna menjadi merah selama beberapa saat sebelum kembali ke warna semula. Pemuda itu seolah mengisyaratkan pada Luhan bahwa hari itu, ia akan mati di tangan Kai.
"Pergilah, Yifan." Gumam Luhan dengan nada datar, berusaha menutupi ketakutannya.
Yifan tertawa renyah. Ia kemudian berjongkok di depan Luhan lalu mengelus pipi tirus Luhan yang pucat. "Tidak, Lu. Hari ini aku tidak akan membiarkanmu hidup untu kedua kali."
"Kau mau membunuhku, kak?" Luhan memejamkan kedua matanya. "Seingatku, kau tidak penrah berhasil melenyapkan nyawaku."
"Kali ini aku tidak akan membiarkan itu, Lu. Kau dan Sehun, kalian berdua akan mati." Bisik Yifan.
Luhan tidak ingat dengan jelas apa yang terjadi setelah itu, yang ia tau saat itu dirinya sudah berada di dekapan Kai. Jari-jari tangan kanan pemuda itu melekat di leher Luhan, sementara tangan kirinya menahan kedua pergelangan tangan Luhan dengan sangat kuat.
Yifan melipat kedua tangannya di depan dada. Ia memandangi Luhan dengan tatapan yang sangat ditakuti Luhan—tatapan mengintimidasi. Bibirnya membentuk senyuman tipis namun kilatan matanya menyiratkan kebencian dan juga kekecewaan pada Luhan.
"Kemarin…" Yifan menjatuhkan tubuhnya diatas sofa kulit berwarna hitam yang berada di belakangnya sebelum melanjutkan kalimat yang sempat terputus tadi. "Sepertinya kau terlihat begitu senang ketika aku masuk dalam jebakanmu, bukan begitu?"
Luhan menelan ludahnya dengan susah payah. Cengkraman jari-jari kai semakin kuat dan itu membuat Luhan semakin sulit untuk bernafas. Matanya panas namun ia berusaha menahan agar cairan bening yang sudah menggumpal di ujung matanya tidak jatuh. Ia tidak ingin terlihat lemah di depan Yifan. Ia tidak ingin Yifan mengira bahwa ia masih sama dengan Luhan yang dulu, Luhan yang tidak punya kekuatan, Luhan yang menyedihkan.
"Sepertinya kau sudah tidak bisa lagi berkata-kata." Gumam Yifan. Ia meraih sebatang rokok yang tergeletak di meja, lalu menyalakannya dengan pematik besi miliknya. Bau tembakau yang terbakar melesap masuk di indera penciuman Luhan. Bau tembakau—bau yang tak akan pernah menjadi favorit Luhan. "Baiklah, sebelum kau mati aku akan menceritakan satu hal padamu, Lu."
"Dulu, aku benar-benar sangat menginginkanmu, Luhan. Bagiku, kau…adalah mahluk yang paling sempurna yang pernah kulihat." Yifan menyesap rokok yang terselip di bibirnya. "Kau tentu sudah tau itu kan, Lu?"
Luhan hanya terdiam. Pandangannya menjadi kabur akibat pasokan udara yang semakin menipis. Tubuhnya mulai lemas namun ia berusaha untuk tetap bertumpu pada kedua kakinya.
"Lalu, kau kembali dan menghancurkanku, menghancurkan kebahagiaanku." Desis Yifan. "Kau ingin balas dendam, kan?"
Tak ada satu kata pun yang keluar dari bibir Luhan. Pemuda itu memang tidak berniat untuk menjawab pertanyaan Yifan tadi, tetapi cengkraman Kai terasa semakin kuat. Kuku-kukunya menempel di kulit putih pucat Luhan seolah memaksanya untuk membuka mulutnya.
"Ya. Kau… memang benar…" Ucap Luhan dengan susah payah.
Yifan tertawa seraya menepuk kedua tangannya. Cahaya temaram di ruangan itu membuat sosok Yifan menjadi dua kali lebih mengerikan. Pemuda jangkung itu kemudian beranjak dari duduknya lalu berjalan mendekati Luhan. Salah satu ujung bibirnya terangkat ketika jarak dirinya dan juga Luhan hanya tinggal beberapa centi saja.
"Maafkan aku, Luhan. Tetapi sepertinya rencanamu itu akan pupus sebentar la—argh!"
Suara rendah nan berat Yifan tadi berubah menjadi rintihan kesakitan. Pemuda itu kini tergeletak di lantai. Telapak tangannya mendekap lehernya kuat. Suara rintihannya semakin menjadi-jadi ketika jari telunjuk dan jari tengah Sehun menembus dadanya.
"Sayang sekali, Wu Yifan. Sepertinya kau harus bergabung dengan eomma-mu di neraka."—adalah kalimat yang dibisikan Sehun sebelum ia menusuk dada Yifan lebih dalam dan kemudian meremukan jantungnya. Seketika ruangan itu menjadi senyap, tak ada lagi jeritan kesakitan.
Sehun tersenyum kecut. Darah segar berlumuran di tangan Sehun, cairan merah kental itu lalu menetes di lantai. Ia tidak peduli dengan bau menyengat yang kini memenuhi ruangan tersebut.
"Wow! Luar biasa, Sehun!" Ucap Kai. Dua iris fire rednya terlihat lebih membara. Yifan—dan juga eomma-nya telah mati dan jiwanya kini terperangkap di neraka yang gelap. Hanya tinggal menunggu beberapa menit sebelum para iblis mulai menyiksa mereka.
"Lepaskan dia, Kai." Gumam Sehun ketus.
Kai terkekeh. Ia sedikit melonggarkan cengkraman tangannya sehingga membuat Luhan bisa bernafas sedikit lega. "Aw Sehunnie, kau terlihat sangat menyeramkan."
"Lepas—argh!" Sehun baru saja akan menarik tubuh Luhan yang sudah sangat lemah dari dekapan Kai tetapi sesuaru yang tak kasat mata mencekik lehernya kuat. Tubuh Sehun tersungkur di samping tubuh Yifan yang sudah tak bernyawa. Ia tidak bisa menggerakan anggota badanya. Ada yang mengikatnya dan Sehun tau benar itu adalah ulah Kai.
"Hm sepertinya kau lupa, aku pernah bilang padamu kalau aku akan…membunuhnya." Ujar Kai sembari menatap Sehun selama beberapa saat sebelum menatap Luhan yang terlihat akan kehilangan kesadarannya sebentar lagi.
"K—kai!" Pekik Sehun dengan susah payah.
"Tapi, aku ingin bermain-main dulu dengannya." Kai menjilat bibir bawahnya. Jari-jarinya mengelus pipi tirus Luhan yang dibasahi dengan keringat sebelum ia berhenti tepat di bibir plum Luhan. Pemuda itu menikmati kelembutan bibir milik Luhan tersebut selama beberapa saat sebelum menggendong pemuda mungil itu dengan satu gerakan.
Luhan tidak tau apa yang sebenarnya terjadi saat itu. Otaknya tidak bisa mencerna dengan baik situasi di ruangan tersebut, ia bahkan tidak mengerti apa yang dibicarakan Kai dan juga Sehun. Luhan terlalu lelah. Pemuda itu menatap Sehun sejenak sebelum pandangannya berubah menjadi gelap.
Kai mengambil beberapa langkah mendekati Sehun. Seringaian licik yang terlihat di wajah kai membuat Sehun semakin ingin menghabisinya meskipun ia tau ia tidak akan pernah bisa melakukan hal tersebut.
"Aku tau kau akan mencariku dan juga dia.." Kai kembali terkekeh namun lebih pelan. "Oh tapi aku tidak yakin kau akan menemukannya dalam keadaan hidup." Lanjutnya sebelum jendela kaca besar di belakangnya pecah, menimbulkan suara bising yang menyakitkan telinga.
Sehun berusaha untuk menggerakan badannya namun semakin ia berusaha, sakit di badannya semakin menyiksanya. Ia hanya bisa melihat Kai berjalan ke arah jendela besar tersebut bersama Luhan di dekapannya sebelum keduanya menghilang bersamaan dengan angin yang berhembus begitu kencang.
Ya, Sehun pasti akan mencari mereka berdua. Secepatnya, sebelum Kai benar-benar berubah menjadi monster.
To be continue
hello! its been a while kkk
maaf baru bisa update sekarang. laptop aku lagi-lagi ga bisa diajak temenan, tambah lagi belakangan ini aku sibuk banget sama tugas kuliah dll jadi ga ada waktu buat re-write chapter ini TTTT
anyway, maaf banget kalo chap ini kurang memuaskan. aku belum sempet ngedit sana sini wkwk jadi harap maklum kalo ada typo dan sebagainya.
makasih juga yang udah mau capek-capek review cerita aku yang ga jelas ini.
akhir kataa... selamat menikmati (?)
