Hai Minna-san! Masih bertemu lagi dengan Cherryshia~
Gomen sebelumnya ngegantung cerita saya ini.. Saya masih malu-malu sama fic pertama saya hihi..
Makasi buat Readers yang setia membaca fic saya..
Rated : T
.
Pair : Still Naruto x Hinata
Naruto Always be with Masashi Kishimoto
Rated : Sure is T
Slight Menma and Hanabi ^^
.
.
Enjoy~
.
.
.
Bau peralatan medis yang tersuar disekeliling ruangan membuat gadis bermata lavender itu sadar dari alam bawah sadarnya.
"Di-Dimana.. Dimana aku?" Matapun terbuka dan menampakkan pria blonde yang sedang menunggu kesadaran wanita tersebut.
"Kau dirumah sakit. Tadi kau pingsan dan ingin kubawa ke UKS. Tapi dokter disana sedang tidak bekerja. Jadi aku meminta Kiba untuk mengijinkan aku mengantarmu kerumah sakit." Terangnya menjelaskan keberadaannya.
"Lalu apa yang terjadi?" Lanjutnya menanyakan hal yang cukup membuat pria itu gugup kelewatan.
"Ka-Kau tadi pi-pingsan Hi-Hinata.. Dan aku mengantarkanmu kesini."
Hening beberapa menit.
"Aku harus kesekolah." berusaha bangkit dari ranjang tempat ia beristirahat. Namun dengan sigap Naruto menahannya.
"Kau belum diperiksa. Tunggulah sebentar. Sekalian kita menunggu obat. Dan kau seharusnya pulang saja. Tidak baik bersekolah disaat kondisimu kurang membaik Hinata. Akan kuantar kau pulang." Terlihat jelas kekhawatiran yang terpampang diwajahnya yang tampan.
"Tapi-"
"Dokter sudah datang. Kau harus menjelaskan semuanya tentang kondisimu selama beberapa hari ini padanya."
.
.
"Jadi kau sudah dari seminggu yang lalu merasa pusing? Tapi kemaren kau sehat-sehat saja Hinata?" Naruto menanyakan hal-hal yang tadi sempat Hinata jelaskan pada dokter. Dan hal itu sukses membuat Naruto khawatir.
Naruto yang sedang membawa mobilnya yang ingin mengantarkan Hinata pulang kini memandang kearah Hinata yang hanya diam tak menjawab pertanyaannya dari tadi.
"Sudah jangan dipikirkan Hinata. Kau akan baik-baik saja. Percayalah padaku. Lagipula kata dokter kau hanya kelelahan saja." Naruto memberi keyakinan pada HInata untuk tetap berpikiran positif tentang kesehatannya.
"Sampai depan sana saja. Sisanya aku akan berjalan. Kau tak perlu tau dimana aku tinggal." Ucap Hinata sambil menunjukan kearah depan dimana dia harus turun.
"Tidak. Kau kira aku lelaki yang bejat membiarkan wanita yang sedang tidak sehat berjalan kaki sendirian? Selagi ada kendaraan gunakan dengan baik Hinata. Kau tak merepotkanku kok. Aku senang kau mau menjadikanku yang kau butuhkan." Senyuman penuh arti yang tulus membuat Hinata semakin gila pada lelaki idamannya itu.
"Ta-tapi.."
"Tatatat! Ssstt.. Jadi sekarang kemana?" Paksa Naruto untuk tetap mendengarkan kata-katanya.
"Lurus saja terus. Sampai kau menemukan rumah dipinggir Danau. Disitu rumahku."
Naruto yang mengerti maksud Hinata hanya tersenyum penuh arti yang mengartikan bahwa dia mengerti tujuan rumah Hinata.
.
.
.
"Okey.. Ini rumahku. Terima kasih telah mengantarku dan maaf merepotkanmu Naruto Senpai." Hinata membungkukan dirinya memberi tanda terima kasih atas semua yang telah Naruto lakukan padanya. Dan semua kepeduliannya.
"Jadi ini rumahmu? Boleh aku berkunjung? Untuk bermain sebentar. Aku sedikit lelah mengemudi."
Hinata yang mendengar itu sedikit panik. Karena dirinya sangat bertolak belakang dengan Naruto. Hinata pasti akan dikucilkan dan dijauhi jika tahu bahwa.. Makanan saja ia belum terlalu mampu membelinya.
"Lain kali saja ya Naruto Senpai." bungkuk hormat Hinata kepada Senpainya.
"Tidak Hinata. Tidak ada lain kali. Yuk kita berbincang didalam." Naruto segera menarik tangan Hinata. Jadi seperti pemilik rumahnya itu adalah Naruto.
.
.
'Kriik-
"Okaeri Nee-chan! Kenapa cepat sekali.." mendengar pintu setengah terbuka membuat sang adik berfikir kakaknya sudah pulang. Tapi ternyata..
"Hai.." yang didapati adalah pria blonde tampan yang menggandeng Nee-channya untuk masuk kedalam.
"Hana.. Nee-chan bisa jelaskan.."
"UWAAAAAAA! Ada Naruto-nii dirumah! Apakah ini mimpi?! Kami-sama! Apakah ini mimpi?! Waaaa!"
Hinata yang awalnya mengira akan mendapatkan kalimat yang buruk dari adiknya malah terkejut atas apa yang ia lihat.
Adiknya begitu bahagia akan kedatangan pria blonde yang sedang menggandeng tangannya sedari tadi. Hana yang begitu senang atas kedatangan pria idaman kakaknya dan pria yang menurutnya sangat terkenal diseluruh media begitu terkejut.
"Lucu sekali.. Siapa namamu?" Naruto yang merasa gemas akhirnya membuka pembicaraan dan mensejajarkan tubuhnya dengan adik kecil Hinata secara berjongkok didepan Hanabi yang sedari tadi begitu bahagia.
"H-Hanabi! Namaku Hanabi! Naruto-nii panggil saja Hana.."
"Okey Hana-chan.. Naruto-nii mengantar Nee-chanmu pulang. Dia sedang tidak enak badan." Naruto menjelaskan dengan begitu peduli terhadap keadaan Hinata.
Bukannya menjawab pembicaraan Naruto, Hanabi lebih memilih berjalan kearah kakaknya yang sedari tadi berdiri dibelakang Naruto.
"Sudah kubilang tidak usah masuk Nee-chan.. Kenapa keras kepala sih." wajah yang begitu ceria berubah menjadi kekhawatiran.
"Nee-chan tadi tak apa.. Nee-chan hanya-"
"Hanya tak mau membuatmu khawatir? Tapi kau salah Hinata. Kau harus melihat kondisi tubuhmu. Kepala itu akan berakibat fatal jika kamu tidak memperdulikannya." Pria itu tersenyum menatap Hinata yang juga menatapnya dengan tatapan sendu.
"Aku akan menemanimu sebentar. Lagipula besok libur. Sekarang kau makan saja dulu. Kemana ibu kalian?"
Pertanyaan itu adalah pertanyaan yang begitu menyakitkan untuk mereka berdua. Hanabi yang mendengar itu hanya terdiam. Sementara Hinata hanya duduk menatap meja yang kosong. Menyadari hal itu. Naruto merasa ia salah mengatakannya kepada mereka berdua.
"Maaf jika aku mengatakan hal yang salah.. Aku hanya-"
"Pulanglah Senpai." Hinata kembali bergetar. Ia malu atas semua yang terjadi hari ini. Pingsan didepan pria idamannya. Bahkan pria itu telah melihat apa yang ia punya. Ia hanya orang miskin yang tak punya apa-apa.
"Jangan berlagak tak ada apa-apa. Kami.. Kami.."
"Kami hanya berdua Senpai." potong Hanabi.
Naruto yang mendengar penuturan itu. Dengan perasaan tak enak segera duduk disamping Hinata dan menatapnya dengan penuh kesalahan bahkan kepedulian.
"Ceritakan padaku apa yang terjadi pada kalian." Penuh kekhawatiran ia mengatakan kepada mereka.
"Nee-chan percayakan padanya? Terbukalah Nee.. Ini bukan masalah.. Ini hanya cerita hidup kita." Hanabi berusaha menenangkan Hinata yang sedari tadi bergetar.
Hinata berusaha menatap wajah Naruto dengan penuh keyakinan. Amethyst bertemu Sapphire..
Ia bisa menemukan kepercayaan yang begitu dalam dari mata tersebut. Bahkan kepedulian pria itu padanya.
"Kami hanya anak yang dibuang oleh orangtua kami." Masih bergetar Hinata membuka mulutnya. "Malam itu aku dengan tidak sengaja mendengar pembicaraan ayah dan ibu sewaktu ingin mengambil bonekaku didepan kamar. Ayahku dengan begitu lantang memukul ibuku dan meneriakinya dengan berkata 'Kita sudah bangkrut kau mengerti?! Apa yang harus dijual?!'. Hanabi yang waktu itu berumur 2 tahun sedang tertidur dikamar ayah dan ibu. Aku ingin menghampirinya namun ibuku berteriak dari belakang mengagetkanku. Ia berteriak 'Hinata! Kamu tau ini jam berapa?! Masih ingin bermain dengan adikmu?! Cepat kembali kekamar!' Dan aku ditarik oleh ibuku menuju kamar.." Cerita Hinata dengan penuh kekecewaan.
"Onee-chan berusaha menarikku.. Tapi ia dikunci dikamar. Keadaan keluarga kami saat itu sedang begitu buruk. Ayah dan ibu tidak berpikir panjang hingga mereka mengusir kami berdua. Alasannya mereka tidak sanggup membiayai kami. Dan ia membuang kami didaerah ini. Nee-chan slalu berusaha untuk hidup semampunya walau kami ini tidak memiliki apa-apa." Jelas Hanabi sambil menatap Hinata yang bergetar menahan kesedihannya.
"Sepertinya Nee-chan malu kepada teman-temannya karena ia tak memiliki apa-apa." Kembali menatap pria itu, Hanabi tersenyum padanya.
"Aku tak malu memiliki teman sepertimu Hinata. Aku bangga atas perjuanganmu." Naruto mengatakan hal itu tepat dihadapan Hinata. Membuat dirinya blushing.
Hinata kemudian menatap Naruto dengan penuh ketidakpercayaannya.
"A-Arigatou Senpai.."
Senyuman tulus itupun berhasil membuat pria blonde itu yang sekarang blushing berat akibat senyuman tulus Hinata padanya. Dan membuat pria itu membuang muka.
"A-ah! Ke-kebetulan besokkan hari sabtu. Bagaimana kalau kita ketaman Hiburan? Konoha Family Park? Ada yang tahu?" Naruto segera mengalihkan pembicaraan untuk membuang rasa malunya saat ini. Namun ajakannya hanya dijawab dengan hening.
"Hey.. Tenang saja. Aku yang akan membayarnya. Kalian tenang saja."
"Tidak.. Kami tidak mau merepotkan Senpai.. Lain kali saja-" Hinata yang memotong pembicaraan Naruto dipotong kembali oleh pria itu.
"Tidak pernah merepotkan. Pokoknya besok kalian jam 7 pagi sudah kujemput didepan rumah kalian oke? Oh ya.. Aku juga akan mengajak adikku. Dia akan kukenalkan pada kalian." Naruto segera berdiri dari tempat duduknya dan menatap kedua adik kakak tersebut.
"Naruto-nii tidak bercandakan?! Asyik! Boleh ya Nee-chan! Aku tidak pernah kesana Nee.. Nee-chan Ayolah! Nee!" Hanabi begitu semangat dan berusaha membujuk kakaknya untuk ikut pergi besok.
Hinata menatap adiknya sejenak. Ada harapan yang begitu besar.. Dan kemudian menatap Naruto yang sama dengan posisi adiknya itu.
"Baiklah.."
"Yeee!" Sorak mereka berdua bersamaan. Naruto segera menggandeng Hinata dan Hanabi untuk menari-nari bersamanya. Entah mengapa Naruto tak pernah sebahagia ini mendapatkan persetujuan dari seseorang.
"Sekarang kalian ikut aku!" Naruto mulai menarik kedua tangan wanita itu dan berlari kearah mobilnya..
"?!"
.
.
.
.
.
.
*Nyan.. Nyan.. Nyan..*
.
.
.
Sekarang Posisi mereka sudah berada dimobil. Mereka semua terdiam satu sama lain. Bingung akan perlakuan Naruto pada mereka.
"Hari ini.. Kita akan berbelanja. Bagaimana? Sudah siap?"
"Belanja dimana Naruto Senpai?" Tanya Hinata penasaran.
"DiKonoha Future Shop Mall."
"Mal terbesar di Jepang! Disitu pasti mahal-mahal sekali Naruto-nii." Hanabi begitu terkejut atas ajakan Naruto. Ketempat berkelas seperti mal mengajak mereka yang tak punya uang.
"Tapi pakaian kitakan seperti ini Naruto Senpai." cetus Hinata akan penampilannya saat ini. Tidak mungkin ia berani kesana dengan berpakaian seragam sekolah.
"Sudah tenang saja. Serahkan semuanya padaku."
.
.
.
.
.
Sesampainya dimal mereka bergegas untuk melihat-lihat sekitar.
Saat itu hanabi yang begitu senang membuat dirinya menghiraukan mereka berdua. Hanabi terus tersenyum bahagia melihat pakaian-pakaian dan barang-barang yang menurutnya sangat mahal.
"Ada yang membuatmu tertarik adik kecil?" Tanya Naruto sambil mengacak-acak rambut Hanabi.
"Disini banyak sekali yang bagus nii-san.. Tapi kami tidak memiliki uang yang cukup untuk membeli-"
"Nii-san akan membayarkanmu. Tenang saja.." Potong Naruto saat Hanabi sedang menjelaskan.
Hanabi yang mendapat kabar baik segera menolehkan kepalanya kearah kakaknya dan memberi harapan. Lalu mendapatkan jawaban senyuman dari sang kakak telah membuatnya berlari kearah pakaian-pakaian cantik yang menjadi pusat perhatiannya dari tadi. Tidak lupa disusul oleh kedua pria dan wanita tersebut.
.
.
"Banyak sekali yang bagus!"
"Ambilah sepuasmu Hana-chan.. Semuanya ada ditangan Nii-sanmu ini hehe." Senyuman lima jari yang membuat Hinata terpesona terpampang jelas diwajah pria blonde itu saat ini.
"Asyik!" Dan Hanabi kembali memilih-milih pakaian yang menurutnya menarik perhatiannya.
Naruto dan Hinata segera mencari tempat duduk untuk menunggu Hanabi memilih pakaian yang ingin ia beli.
.
.
"Arigatou Senpai.. Dan Gomenasai sudah merepotkanmu sejauh ini. Lebih tepatnya sangat merepotkanmu. Aku janji akan menggantinya j-jika aku sudah gajian." Hinata menatap kearah Naruto penuh terima kasih untuk semua bantuannya yang sangat membantu hari ini.
"Kau tahu Hinata? Sampai kapan kau harus berpura-pura seperti kau itu bisa Hinata? Selagi ada seseorang yang membantumu. Jangan ragu Hinata. Aku membantumu dengan senang hati. Tak perlu diganti."
Naruto menerangkan bahwa ia tak begitu memperdulikan keuangannya. Ia hanya ingin melihat oran-orang didekatnya tersenyum . Hal itu sukses membuat Hinata Blushing dan semakin tergila-gila pada sosok Naruto.
"Hey.. Aku serius Hinata. Kau harus meluangkan waktumu untuk berbelanja. Kau ini wanita. Dan aku ini pria. Semua biar kutanggung."
.
.
.
"Terima kasih Naruto-nii! Aku senang sekali hari ini!." Umpat Hanabi sambil membawa barang belanjaannya yang begitu banyak. Ia tak pernah sebahagia ini. Sementara Naruto dan Hinata juga sibuk membawa belanjaannya yang begitu banyak.
"Hanabi.. Jangan dibiasakan merepot-"
"Ehm.." Hinata yang tahu maksdu Naruto kembali menasehati adiknya.
"Lain kali dikit-dikit saja ya belanja-"
"Uhm! Ehmm.." Naruto terus berlagak kode batuk kearah Hinata untuk memikirkan kembali kata-kata yang tadi siang Naruto ucapkan pada Hinata.
"Naruto-nii sudah sakit ! Lebih baik Naruto-nii beristirahatlah disini!" Hanabi lebih bersemangat jika Nii-sannya mau menginap dirumahnya.
"Ah tidak Hana-chan.. Nii-san cuman kecapean saja. Kapan-kapan saja ya Nii-san istirahat disini." Lirik pada Hinata yang blushing.
"Dengan senang hati Nii-san!"
Naruto tersenyum lembut kepada Hanabi. Kemudian kembali menatap Hinata.
"Hinata.. Sepertinya ini sudah waktunya aku pulang. Kaa-san pasti mencariku."
Ada rasa tak rela untuk mendengar kalimat bahwa pria idamannya ini harus pulang kerumahnya. Tapi ia bukanlah siapa-siapa pria itu. Sedikit kecewa mengetahui posisinya saat ini.
"Baiklah Naruto Senpai.. Hati-hati dijalan." Bungkuk Hinata sebagai tanda terima kasih dan tanda hormat atas kepergian Naruto.
Naruto mengangkat tangannya dan berpamitan pulang pada mereka berdua. Dan pria itupun hilang dari pandangan mereka setelah pintu terbuka dan tertutup kembali.
.
.
"Wahh.. Bajumu banyak dan bagus sekali Hana-chan.. Cantik sekali Imoutoku ini.."
"Iya Nee! Aku senang sekali! Aku sangat bersyukur hari ini pada Kami-sama. Naruto-nii begitu baik. Aku nyaman sekali dengannya. Seandainya ia kekasih Nee-chan.. Aku akan sangat senang sekali."
Kalimat yang baru saja dilontarkan Hanabi membuat Hinata terdiam sejenak dan berumpat tak yakin dapat menjadi kekasih Naruto.
"Kau sudah sangat terlalu jauh berandai-andai Hanabi.. Mana mungkin orang seperti kita bisa memiliki orang seperti dia yang sangat berbeda jauh derajatnya dengan kita." Senyum Hinata pada adiknya itu. Ia tahu hal itu tidak akan pernah terjadi dalam hidupnya.
"Nee.. Nee-chan. Tapi sepertinya dia menyukaimu.." Hanabi berusaha untuk mengungkapkan apa yang ia lihat hari ini.
"Kau ini bicara apa Hanabi.." Hinata menepis apa yang ada dipikiran adiknya itu. Menurutnya adiknya sudah terlalu jauh berandai-andai.
"Lihat saja dari cara ia memperlakukanmu Nee-chan. Ia begitu peduli padamu."
Hal ini membuatnya berpikir akan perlakuan pria itu padanya.
.
.
.
.
Naruto POV's
Entah mengapa aku begitu peduli padanya hari ini. Aku tidak tahu apa yang terjadi pada diriku saat ini. Mengapa rasanya senang sekali bisa dekat dengannya? Namun juga sedih mendengar perjalanan hidupnya.
Kuteruskan pikiranku yang membuatku sedikit bingung dengan perasaanku sekarang. Perasaan ini seketika berubah menjadi.. Hangat jika berada didekatnya.
"Cih! Apa-apaan denganku?! Aku sedang mengendarai mobil! Tidak baik memikirkan apa yang seharusnya tidak dipemikiranku."
.
.
Setelah memarkirkan mobil yang menurutku biasa saja *cih sombong*. Aku segera turun dan mengunci mobilku. Sejenak aku berpikir.
'Tidak mungkin aku menyukainya. Kami saja baru-baru ini terlihat dekat.'
"Naru-nii!" Ah itu ternyata adikku. Ia bernama Uzumaki Menma. Wajahnya sangat mirip denganku. Hanya saja kami berbeda umur dan rambutnya yang lebih gelap dari pada rambutku. Menma adikku sangatlah pemalu pada semua orang kecuali kepada keluarganya sendiri. Tidak heran dia lebih banyak diam. Dan ia baru berumur 11 tahun. Hanya berbeda 6 tahun dengan umurku yaitu 17 tahun.
Kulihat ia sangat senang melihat kehadiranku yang baru saja pulang. Walau sangat larut malam.
"Hai adik kecil.. Senang ya melihat Anikimu ini pulang hehe.." Ucapku seraya memegang pundaknya.
"Iya Nii-san.. Nii-san darimana saja? Kenapa baru pulang? Okaa-san dan Otou-san mencari Naru-nii.."
Mungkin aku akan diomeli Kaa-san lagi. Hehh.. Yang terpenting aku tidak berbuat kesalahan selain pulang larut seperti ini.
.
.
.
.
.
"Dari mana saja kau? Baru pulang? Tidak ada kabar. Kau ini sudah besar tidak pernah memberikan contoh yang baik untuk adikmu. Bagaimana kalau nanti dia sama sepertimu tuan Namikaze?"
Sudah kuduga. Hahhh.. Kalimat itu setiap hari sudah kudengar. Mengapa sifatku ini slalu tidak pernah dimengerti oleh Kaa-san? Aku inikan sudah besar. Setidaknya ia tahu bahwa aku slalu ingin bermasa muda.
"Gomen Kaa-san.. Aku tahu ini akan membuat Menma meniruku. Tapi aku juga akan mendidik dia dengan baik. Tenang saja.. Kaa-san berhentilah berceloteh. Ini takkan mengganggu kehidupan Kaa-san. Selagi aku tak berbuat hal yang tidak-tidak." Jawabku menatapnya lembut. Aku sedang tidak ingin bertengkar dengannya. Karena ini sudah kebiasaan buruk kami dirumah. Yang ada sebaliknya Menma bisa meniru sifat buruk kami ini.
"Okaa-san.. Naru-nii tidak memberikan contoh yang buruk kok. Naru-nii baik padaku. Okaa-san jangan marah-marah terus ya. Menma sedih liat kalian slalu bertengkar." Aku tahu dia pasti tahu yang mana yang baik untuknya dan mana yang tidak. Adik kecil yang pintar sekali.
"Oke. Kaa-san tidak akan mempermasalahkannya. Kaa-san hanya ingin bertanya, Dari mana sajakah dirimu Namikaze Naruto? Tidak langsung pulang tapi sebaliknya bermain."
Aku bingung apa aku harus bercerita padanya tentang kejadian hari ini atau tidak. Jadi kuputuskan untuk bertanya sebaliknya.
"Memang Kaa-san kenapa ingin sekali tahu? Ini urusan anak muda Kaa-san."
Wajahnya yang tadi benar-benar menyeramkan berubah menjadi sumringah yang lebih menyeramkan menurutku.
"Kau.."
Sial.. Wajah itu..
"Kau habis berkencan ya?! Akhirnya! Kaa-san akan segera menggendong cucu.."
"E-eh?!"
Apa-apaan ini? Kencan? Cucu? Apa sih yang ada dipikirannya?
"Kenalkan pada Kaa-san kekasihmu Naruto. Kaa-san akan sangat senang menerimanya dirumah. Ayolah.. Sejak kapan kau berpacaran? Tidak bercerita pada Kaa-sanmu ini ya.. Naru-chan sudah besar!"
Kaa-san.. Ugh! Memalukan! Lebih baik kutinggalkan saja dia.
Dengan cepat aku pergi dari hadapannya dan menarik Menma yang hanya terdiam memandangi ibunya yang sedang menari-menari tak karuan. Hey itu ibuku juga!
.
.
"Hey adik kecil.. Besok Temani Anikimu ini ketaman hiburan kau mau?"
Aku tahu pasti ia berpikiran bahwa aku seperti anak-anak mengajaknya kesana. Tapi ayolah.. Besok adalah hari yang kutunggu-tunggu! Ugh.. maksudku.. Besok aku harus menepati janjiku pada Hinata dan Hanabi.
"Tumben Nii-san.. Ada apa? Pasti Nii-san tidak hanya mengajakku."
"Ya.. Nii-san memang tidak hanya mengajakmu. Nii-san mengajak teman Nii-san. Nanti Nii-san kenalkan pada Menma ya hehe." Kuharap ia mau menemaniku agar Kaa-san tidak lagi mencurigaiku.
"Memangnya temannya Nii-san siapa saja? Pasti nanti aku dihiraukan sama Nii-san."
"Kali ini tidak. Teman Nii-chan itu cuman satu. Hanya dia dengan adiknya. Namanya Hinata dan Hana-"
"Aku ikut Nii-san!" potong Menma. Loh? Ada apa dengannya saat aku menyebutkan Hanabi.
"Uhm.. Aku pasti belum bercerita dengan Nii-san. Aku kenal dengan Hinata-nee dan Hanabi-chan." Apa?! Dia mengenali mereka berdua?! Ta-tapi bagaimana bisa?
"Bagaimana kau kenal mereka Menma?" Benar-benar diluar dugaanku.
"A-aku sangat menyukai Ha-Hana-chan. Aku bahkan sangat menyukainya. Aku tahu ia lebih kecil dariku. Tapi semangat hidupnya dan sikapnya yang begitu periang.. Membuatku menyukainya. Aku bahkan slalu membuntutinya. Tempat ia tinggalpun aku mengetahuinya. Aku ingin ikut ketaman itu Nii-san! Tapi aku ingin terlihat lebih keren besok. Agar Hana-chan mau melihatku. Hinata-nee slalu menjemputnya pulang sekolah. Dan HInata-nee slalu memberikan senyuman tulus pada setiap teman Hana-chan. Tetapi aku sangat menginginkan Hana-chan! Hanya slalu terhalang oleh Konohamaru! Nii-san.. Bantu aku mendekatinya yaa.."
Tidak kusangka.. D-dia? Astaga.. Dia sudah jatuh cinta dengan Hanabi? Dan sudah main membuntutinya? Astaga.. Astaga.. Keluarga ini memang keluarga teraneh dari dugaanku! Apa besok Menma dapat mengontrol dirinya dengan Hanabi?
Malam itu aku memang mendengar ia tidur sambil menggumam nama seseorang. Ternyata itu Hanabi! Tidak kusangka ia mengigau sedang melakukan hal dewasa itu dengan Hanabi!
"Ah sudahlah.. Aku mau tidur. Capek tau! Oyasuminasai adik kecil !" Dia sedikit kesal saat kutinggal tidur. Aku hanya masih tak menyangka ia sebegitu tergila-gila pada Hanabi.
"Nii-san pokoknya besok aku ingin ikut! Aku akan bangun lebih pagi darimu! Jam 4 pagi! Ngomong-ngomong kita berangkat jam berapa?" Sial dia lebih niat dariku.
"Jam 7. Sudah sana tidur adik kecil!" Aku segera menyelimuti tubuhku.
Yap! Kami masih berada disatu kamar. Karena Menma sangat takut dengan gelap jadi ia masih belum bisa tidur sendiri.
Hah..
Aku ingin tahu apa yang akan terjadi besok dengan diriku dengannya.
.
.
.
Perasaan ini membingungkan..
.
.
.
.
"Hoaamm~.." Ternyata kejadian seperti yang kulamunkan memang slalu terjadi dalam mimpiku.
Aku terbangun dan menyadari apa yang terjadi dengan mimpiku tadi malam. Aku bertanya pada diriku sendiri. Kenapa harus slalu Hinata? Aku awalnya juga heran kenapa aku slalu melamunkannya. Padahal kita saja hampir tidak pernah berkomunikasi.
Aku kembali memikirkan kejadian akhir-akhir ini yang menimpaku. Melamun dan slalu memimpikannya.
~Saat Melamun~
"Naruto-kun.."
Suara itu memanggilku dari belakang dan berusaha membuatku menoleh kearah dimana suara itu memanggil.
"Ah.. Hinata-chan.." Aku berusaha memanggilnya kembali karena dia menghampiriku. Lalu aku menepuk-nepuk tanah dimana tempat aku duduk memandangi Pantai.
"Ada apa Hinata-chan? Kau terlihat begitu senang."
"Nee Naruto-kun.. Aku slalu begitu senang bersamamu." Dia tersenyum membalas ucapanku dan bersandar pada bahuku. Dia terlihat begitu tenang..
"Haha.. Benarkah begitu Hinata-chan?" kami memang slalu terlihat begitu bahagia disaat bersamaan. Dan dengan status yang tidak diketahui ini membuat hubungan kami dalam keadaan tanda tanya.
"Yaa Naruto-kun.. Apa kau tidak senang dengan keberadaanku?" kulihat wajahnya yang sendu. Aku sebaliknya sangat bahagia bersamamu Hinata-chan.
Aku hanya membalas dengan senyuman kemudian merangkul pinggangnya untuk tetap berada didekatku.
"Kau ini bicara apa sih.. Tentu aku sangat senang berada didekatmu Hinata-chan."
Dia kembali tersenyum dan bersandar dibahuku. Aku merasa dengan posisi seperti ini.. Aku begitu nyaman dengannya.
Dan kami akhirnya bersamaan menatap desiran air pantai. Sungguh tenang jika kami slalu seperti ini.
~Selesai Melamun~
Aku terus berfikir apa kami sebelumnya saling mengenal satu sama lain atau hanya kebetulan saja? Ini membuatku bingung. Tapi jujur saja.. Aku memang sangat senang jika slalu berada didekatnya.
Lalu aku kembali membayangkan apa yang ku mimpikan tadi malam..
~Didalam Mimpi~
"Hinata-chan! Tunggu aku.." Aku mengejarnya yang terus berlari. Dia begitu senang aku mengejarnya. Kemudian dia terjatuh dihadapanku.
"Hinata-chan!" aku segera menghampirinya dan membantunya untuk kembali berdiri. Sungguh membuatku khawatir.
"Hihi.. Aku tak apa Naruto-kun." Ucapnya sambil tertawa dan mencubit pipiku.
"Hati-hati Hinata-chan! Bagaimana kalau nanti kau terluka? Aku yang panik tahu!" aku terus mengkhawatirkannya. Namun dibalas kembali dengan tawaan kecil.
"Hihi.. Kan sekarang aku tidak apa-apa."
"Pokoknya lain kali hati-hati!" rengek aku seperti anak kecil yang mengingatkan ibunya untuk berhati-hati.
'Cup~
"Iya Naruto-kun.."
.
.
Brr.. Seketika aku geli sendiri membayangkan ciuman tadi malam dengan Hinata. Sampai sekarang ini aku harus tetap mencari tahu kenapa aku terus memikirkannya!
Jezz jam berapa ini?! Kulirik jam disebelah tempat tidurku ternyata sudah jam..
"APA?!" ini sudah jam 7.20! sial! Bagaimana dengan mereka nantinya.
"Aku sudah membangunkanmu Nii-san! Tapi kau tidak mau bangun! Heran deh ah!" Menma yang kebetulan baru masuk kedalam kamar membuatku lebih kesal! Dia sudah sangat rapih! Cihhh kenapa jadi dia yang kesal sih! Aku harus segera bersiap-siap. Ini sudah lebih dari telat.
Aku langsung bangun dari ranjang dan pergi kearah kamar mandi untuk mandi dan setelah itu langsung bersiap-siap.
Benar-benar sudah lebih dari telat!
.
.
.
.
.
.
.
TBC
*Nyan.. Nyan.. Nyan..*
A/N :
Minna! Kembali lagi bersama saya Cherryshia~
Maaf ya belum masuk ke rated M
Diusahakan secepat mungkin Rated M akan terjadi.
Seperti yang saya bilang.. Pelan-pelan..
Dan saya masih newbie!
Gomenasai kalau masih banyak kekurangan karena ini fic pertama saya! Saya akan membuat NaruHina Lovers! Menyukai karya pertamaku walau sedikit.. uhmm.. kacau
By to the way..
Reviewnya ya XD
Hihi..
