Hallo lagi sama saya ^^

A-ano..

Maaf ya lama updatenya saya soalnya lagi mikirin biar tambah bagus.

Gomen ya minna-san kalau lama ^^

Okay.. ini udah mulai ada lemonnya dikit-dikit ^^

Hope you enjoy the story 3

.

.

.

.

Pair 1 : Menma x Hanabi

Pair 2 : Naruto x Hinata

Naruto will be always on MK side ^^

Rated : M

.

.

.

Happy Reading Minna-san ! \(/)/

.

.

Aku terus mengemudikan mobilku dengan kecepatan penuh. Aku sedikit demi sedikit melirik jam tangan yang sudah menunjukan pukul 07.38. Ku akui rumahku dengan Hinata memiliki jarak yang cukup jauh. Seperti yang kita lihat rumahnya berada didaerah Danau. Sementara aku diperumahan Cluster didaerah kota.

Aku bahkan sedikit geli karena Menma sedari tadi tidak berhenti berteriak.

"Nii-san kita telat! Ayo cepat! Nii-san! Ayo cepat! Hinata-nee dan Hanabi-chan menunggu kita! NII-CHAN CEPATLAH MENGEMU-"

'Bugh!

"I-ittai~" berisik sekali dia! Aku tahu mereka menunggu kita! Aku bahkan sudah sangat tahu kita sudah lebih dari telat! Heran deh!

"Berisik sekali ! Nii-chan tau! Diamlah Menma." Sedikit kesal aku memarahinya. Sayangnya dia adik kesayanganku jadi tak bisa terlalu kasar padanya. Ini aku hanya reflek menjitaknya karena dia begitu berisik.

Lalu dia diam dan terus memandangi jalanan didepan. Sabuk pengaman yang ia gunakan sudah ia cengkram begitu keras karena aku mengemudi terlalu buru-buru.

Ah sudahlah. Aku harus focus dengan tujuanku. Sekarang jangan membuat Hinata terlalu lama menunggu.

End Naruto POV's

.

.

.

"Nee.. Hinata-nee. Apa menurut Nee-chan kita benar-benar akan pergi? Sepertinya ini udah lewat jauh dari jam 7. Apa Naruto-nii lupa? Atau dia memang mendadak tidak bisa." Gadis kecil yang berdiri sedari tadi menunggu kedatangan seseorang. Kini berjongkok menandakan sudah setengah jam ia berdiri didepan rumahnya itu.

Walau diakhiri dengan helaan nafas. Tidak lama kemudian, mobil mewah yang diketahui sudah berganti model itu berhenti didepan kedua gadis manis tersebut.

Seseorang membuka kaca mobilnya..

"Hinata.. Hanabi-chan. Maaf sekali aku telat. Aku benar-benar kesiangan." Ternyata pria yang membuka jendela tersebut adalah pria blonde yang menjanjikan hari ini untuk pergi berlibur.

"Tak apa Naruto Senpai." Dengan senyuman tulus. Wanita tersebut menjawab pernyataan pria blonde itu.

Dengan sedikit lega Naruto, pria yang memiliki rambut Blonde itu menyuruhnya untuk segera naik kedalam mobilnya. Kali ini ia membawa Maybach Landaulet mobil keduanya. Tidak lupa ia menyuruh adiknya pergi untuk pindah kebelakang.

Mengerti maksud Nii-sannya itu. Dengan senang hati ia segera berpindah sambil tersenyum bahagia.

Lalu setelah itu Hinata masuk dan duduk disebelah Naruto. Sementara Hanabi masuk duduk dibelakang dengan Menma. Terkejut. Hanabi terkejut melihat siapa yang ia lihat sekarang saat masuk dan mengetahui siapa yang berada didalam.

"Me-Menma Senpai?"

"Ha-Hanabi-chan. E-etto.. Hai~" Menmapun blushing. Hanabi sangat terkejut sampai dia ikut blushing.

Dan akhirnya dia masuk untuk duduk disebelah Menma.

.

Sepanjang perjalanan hanya ada hening. Sampai beberapa menit kemudian suara hape berdering.

-Reff Nada Deringnya Braveheart Kana Nishino-

Ternyata hp si blondie berbunyi menandakan ada yang meneleponnya. Niat tidak niat pria itu mengangkatnya

"M-Moshi-Mosh-"

'BLABLABLABLABLABLA' Terdengar dari Hp Naruto seseorang sedang memarah-marahinya dengan begitu keras.

"H-hey adik kecil.. Bicaralah pada Kaa-san. I-iya Ka-Kaa-san.. Ini Menma." Ternyata itu Kushina-san yang diketahui adalah ibu mereka berdua. Naruto dan Menma. Terdengar juga suara bahwa Minato yaitu ayah mereka berusaha menenangkan ibunya itu.

"A-aku hanya akan ketaman hiburan dengan Naruto-nii Kaa-san. Jangan takut. Naruto-nii akan menjagaku. Aku juga sudah besar. Aku bisa jaga diriku baik-baik." Dengan kalimat itu sukses membuat ibunya tenang disebrang telfon sana.

"iya Kaa-san. Aku dan Naruto-nii juga menyayangi Kaa-san. Jaa~"

'Pip!

Tanda percakapan selesai yang artinya telefon sudah terputus. Tidak lupa Menma mengembalikan kembali hp Nii-sannya itu ketangannya.

Dengan tidak sengaja ia melihat airmata jatuh dari kedua pelupuk mata gadis yang ia sukai.

"H-Hana-chan.. Ka-kau kenapa?" Hanabi yang merespon dengan menyeka airmatanya hanya membalas dengan senyuman.

"Hehe.. A-aku tidak apa-apa Senpai." Kembali mereka bertatapan..

'DEG'

Tatapan mereka membuat mereka terpesona satu sama lain. Karena mereka berdua memiliki ciri khas mata yang sama seperti kakak mereka masing-masing. Salah satu dari mereka yaitu Menma dengan cepat membuang muka.

Naruto yang sedari tadi memandangi aktifitas mereka hanya tersenyum melihat adiknya salah tingkah didepan gadis yang disukainya. Dan kembali menatap Jalan yang harus ia fokusi agar cepat sampai tujuan. Tapi ia masih sangat suka mencuri-curi pandang kearah Hinata.

Sampai Hinata menatap fokus benar-benar fokus menatapnya dan dia mulai berdegup. Naruto mencoba membuka pembicaraan.

"Hinata.. Bolehkah aku menanyakan sesuatu padamu?" kalimat itu terdengar serius ditelinga Hinata. Dnegan gugup ia menjawab walau malu-malu.

"Y-ya Senpai?"

Naruto terdiam sejenak. Dan mulai menelan ludah.

"Apa kita sebelumnya kita pernah bertemu? Selain kejadian disekolah." Membuat Hinata sedikit terkejut karena ini pertanyaan yang membuatnya berpikir 'Apa maksudnya?'.

"Ti-tidak." Jawabnya singkat.

Naruto kembali terdiam.

.

.

.

Setelah memarkirkan mobil. Mereka turun dengan semangat yang terus mengembang.

"Mungkin aku telat menjemputmu. Tapi kita pas pada waktunya sampai tujuan. Ini sekarang sudah jam 09.00. Untunglah tadi tidak kena macet." Umpat Naruto menjelaskan pada Hinata.

Hinata hanya tertawa kecil dan melirik adiknya Hanabi dan Menma. Mereka terlihat lucu. Satu sama lain saling membuang muka.

"Kau menyukainya ya Hana-chan?" Hinata berbisik ditelinga adiknya itu. Dan didapati dengan cubitan kecil oleh Hanabi.

"K-kalau iya memang kenapa !" dengan mengembungkan pipi dan muka merah Hanabi menjawab pertanyaan kakaknya itu. Sangat lucu dimata Menma. Ya, dengan curi-curi pandang Menma melirik Hanabi.

Naruto yang mengerti apa yang dibicarakan Hinata segera ikut-ikutan. Ia kembali berbisik pada Menma.

"Bersenang-senanglah. Sepertinya dia menyukaimu. Nii-san dan Hinata-nee akan mengantri membeli tiket. Ajaklah dia untuk memakan es krim." Setelah membisikan adiknya itu. Naruto segera menarik Hinata dan pergi berlari kecil untuk mengantri membeli tiket.

Dan kini hanya tersisa mereka berdua saling membuang muka satu sama lain.

"K-kau mau makan eskrim?" Hanabi melirik Menma yang mengajaknya untuk membeli eskrim.

"Ti-tidak.. A-aku menunggu disini saja." Jawabnya singkat.

"Ta-tapi mereka masih mengantri dan disini p-panas. Na-nanti kau terbakar matahari," Hanabi terdiam mendengar kalimat yang keluar dari mulut Menma. Kemudian ia hanya terdiam menunggu kedatangan Kakak dan Naruto-nii.

Kemudian mereka bersamaan melihat kedua kakak mereka sudah selesai mengantri dan menghampiri mereka.

"Pasti kalian terkejut atas kedatangan kami yang begitu cepat! Hehe! Aku beli VVIP. Supaya nanti kita menaiki semua wahana tanpa mengantri. Oh ya, kita sebelumnya beli baju dulu disana!" sambil menunjuk kearah toko yang dimaksud. Naruto segera berlari sambil menggandeng Hinata kembali. Tak lupa tiket ditaruhnya kedalam kantung celananya.

Hanabi dan Menma ikut berlari kecil menyusul kakaknya. Kelihatannya yang paling terlihat bahagia disini hanya Naruto saja.

.

.

"Menma dan Hanabi-chan! Kalian pakai baju ini saja. Nah yang ini aku dan Hinata." Naruto masih sibuk memilih pakaian untuk mereka. Ia tidak menyadari sikapnya yang bisa dibilang terlalu over. Bahkan sikapnya ini sudah diliat bahwa ini hari terpenting seperti satu kali seumur hidup datang kesini.

Padahal ia sering kesini bersama keluarganya. Bahkan mungkin bagi dia ini sudah termasuk hal yang membosankan. Tapi hari ini ia begitu bahagia.

Tidak hanya Naruto. Menma juga asik menemani Hanabi yang sedang memilih-milih Boneka. Menurut Menma. Melihat senyuman Hanabi adalah melihat seorang Malaikat cantik yang sedang menemaninya berlibur.

"B-Boneka ini lucu sekali. Mirip seperti Menma-kun.." Menma yang mendengar itu terkejut.

"e-eh.. Ma-maksudku-"

"S-suki.." Mungkin menurut Menma ini terlalu cepat untuk mengutarakan perasaannya. Namun ia tidak bisa bertahan lama untuk terus bertahan dalam posisi yang sangat mencanggungkan ini.

Naruto dan Hinata yang tadi sibuk memilih pakaian. Kini ikut terkejut atas pernyataan Menma pada Hanabi. Menurut Naruto juga ini terlalu cepat.

"A-aku tahu Hana.. Tapi aku tidak bisa menahannya. Aku tidak bisa harus berpura-pura diam. Aku tahu ini terlalu cepat. Bahkan mungkin kau tidak memiliki perasaan apa-apa padaku. Tapi a-aku-" kata-kata Menma terputus karena mendapatkan pelukan hangat dari gadis yang ia sukai.

Hangat.. Sangat Hangat menurut Menma. Hingga ia membalas pelukan itu. Hanabi mungkin ikut terkejut atas tindakannya ini yang mendadak memeluk Menma. Tapi Hanabi juga memiliki perasaan yang sama terhadap Menma.

"K-kukira.. Hanya aku yang slama ini menyukai Menma Senpai. Te-ternyata Me-Menma Senpai memiliki perasaan yang sama denganku. Syukurlah.."

Kedua pasangan itu terus berpelukan dan tidak menyadari hal ini membuat Naruto sedikit iri. Naruto bahkan masih bingung dengan perasaannya terhadap Hinata. Ia masih belum begitu mengerti dengan perasaannya terhadap wanita itu.

"I-itu artinya Ha-Hana-chan juga menyukaikukan? Artinya sekarang kita sudah.."

'Cup~

"E-EH?!" Naruto dan Hinata kembali berseru. Bahkan masih berani Hanabi mencium Menma didepan Kakaknya? Benar-benar tidak diduga Hinata.

"Te-Tentu saja Me-Menma-kun.." Dan Hanabi menatap kakaknya kembali. Kemudian menatap Naruto-niinya. Kini diwajahnya benar-benar terlihat bahagia. Dan setelah itu ia sangat senang akan hari ini.

.

.

.

.

"Hana-chan! Ayo kita naik wahana itu! Kelihatannya akan terlihat romantis jika kita menaikinya." Menma menunjuk kearah satu wahana yang dilihat cukup untuk dinaiki oleh para pasangan.

Hanabi hanya terdiam malu dan kembali ditarik oleh Menma. Kekasih barunya itu..

Hal ini membuat kedua kakak mereka terlihat kesal. Akhirnya Naruto dan Hinata memutuskan untuk meninggalkan mereka bersenang-senang dengan hubungan baru mereka.

.

Cuaca hari ini sangat mendukung untuk ditaman hiburan itu. Akhirnya mereka memutuskan untuk duduk bersantai sambil bercerita. Walau sambil menunggu kedua adiknya itu.

Mereka kini sangat canggung satu sama lain. Naruto sangat tidak menyukai dengan kesunyian diantara mereka. Dia berusaha untuk membuka percakapan.

"Hei Hinata.. Apa kau tak lapar?" tanyanya sambil memegang ponselnya untuk membuang rasa malunya. Jelas dia sekarang sedang gugup.

"Sebelum pergi aku dan Hanabi sudah makan Senpai. Apa Senpai belum sarapan? N-nanti kutemani jika Senpai i-ingin makan." Naruto memang belum sarapan pagi. Dia saja kesiangan untuk menjemput Hinata dan adiknya.

Tapi itu bukan topik yang ingin Naruto bicarakan. Ia ingin mengungkapkan perasaan yang tidak jelasnya ini pada Hinata.

"Hi-Hinata.. Ada yang ingin kubicarakan padamu." Naruto berusaha untuk memulainya dengan keseriusan diwajahnya.

Hinata bahkan menatap matanya hanya bisa terpaku. Karena Naruto seperti ingin menanyakan atau mengungkapkan sesuatu pada Hinata.

"A-aku tak tahu Hinata apa yang terjadi padaku. Ini adalah hari kedua kita saling mengenal satu sama lain. Memang kelihatannya kita baru sebentar bertemu. Tapi apa kau tahu Hinata? Sebelum hari-hari ini terjadi. Aku seperti sudah mengenalmu lebih lama. Aku seperti.. nyaman dengan keberadaanmu. T-tapi aku tidak me-memintamu untuk menjawab pe-perasaanmu. Aku saja yang terlalu cepat menyatakan perasaan padamu."

Hinata yang tadi terpaku menatap Naruto. Sekarang ia berdiri. Naruto berfikir bahwa Hinata akan pergi meninggalkannya duduk sendirian disitu. Ternyata hari ini adalah hari yang berbeda dari sebelumnya.

Hinata berdiri kemudian memegang pundak pria blonde itu. "A-aku menyukai Na-Naruto-kun."

'DEG!'

Naruto membulatkan kedua matanya. Ia tidak menyangka begitu cepat perasaannya terbalas. Dan dipikirannya adalah ini hari adalah hari kedua dimana mereka seperti berkencan. Ia benar-benar tak menyangka.

Dengan sedikit keraguan ia menatap Hinata. Dan berusaha menahan degup jantungnya.

"A-apa kau tidak menganggap ini terlalu cepat Hinata?". Hinata menggelengkan kepalanya.

Hinata kemudian tersenyum dan kali ini memegang kedua tangan Naruto.

"Tidak apa jika ini terlalu cepat. A-aku benar-benar sudah lama menyukai Naruto-kun."

Reflek Naruto menarik Hinata.

Kini wajah mereka hanya berada didetik-detik perasaan mereka. Tidak tahan menahan hasratnya. Naruto kemudian mengambil ciuman pertama wanita yang selama ini ia lamunkan.

Hinata sangat terkejut atas kejadian ini. Ia tidak menyangka perasaannya akan terbalas. Dan ia sekarang sedang berciuman dengan pria yang selama ini ia cintai.

Ciuman itu awalnya hanya ciuman lembut dan hanya perasaan merekalah yang dapat terungkap dari ciuman itu. Namun naluri lelaki Naruto sebagai pria menaiki hasratnya untuk meminta lebih pada Hinata.

Tangannya berusaha untuk menarik pinggang Hinata dan menyuruhnya untuk semakin memperdalam ciuman mereka. Mengerti apa yang ingin Naruto lakukan. Hinata kemudian mendorong tubuh Naruto untuk menjauh darinya.

"M-maaf.. A-aku tidak bermak-"

"Aku menginginkannya. Tapi tidak disini. Ini terlalu umum Na-Naruto Senpai." Ucap Hinata memotong kalimat Naruto sambil membuang mukanya yang kini sudah sangat merah. Ia hanya malu untuk melakukannya didepan umum.

Naruto yang mengerti maksud Hinata kembali tersenyum. Lalu ia menarik tangan Hinata untuk kembali mencoba Wahana lainnya. Menurutnya ini adalah jalan baru dari kehidupan mereka.

Sambil tersenyum penuh arti mereka berjalan bersamaan sambil menaiki berbagai wahana penuh canda dan tawa.

Mereka hanya bersenang-senang dengan hubungan mereka masing-masing. Sampai mereka merasa puas dengan waktu mereka.

.

.

.

Perjalanan pulang kini menjadi malam yang panjang untuk mereka. Karena satu-satu diantara mereka sudah sangat diharuskan beristirahat akibat lelahnya bermain.

"Hahhh~ Hari ini seru sekali ya Hana-chan!" begitulah wajah Menma sekarang. Ia begitu bahagia. Namun hanya dijawab dengan senyuman kecil yang manis dari kekasih barunya itu.

"Ehm.. Sudah ada kekasih baru nih.. Haha.." Naruto yang ikut campur dalam percakapan mereka hanya bisa tertawa bahagia.

Sementara Hinata disampingnya ikut tertawa. "Pasangan baru nih.. Hihi..".

Hanabi tidak terima. Menurutnya bukan hanya dia saja. Tapi Aniki barunya dan Nee-channya juga baru saja memulai hubungan khusus. "Hahh.. Memangnya kalian tidak?".

Naruto dan Hinata hanya tertawa manis didepan kedua adiknya itu.

Dan perjalanan pulangpun sangat indah dimalam hari. Mereka seperti keluarga yang baru saja pergi berlibur.

.

.

.

.

"Sepertinya hari ini kita akan beristirahat disini Menma." Naruto kini sudah berada dirumah Hinata. Ia benar-benar sangat lelah mengemudi pergi dan pulang. Menurutnya perjalanannya menuju Konoha Park lumayan jauh.

Hanabi yang senang mendengarnya mengajak Menma untuk bermain dengannya. Menma yang juga begitu senang menyusul Hanabi.

Sementara Hinata sedikit bingung. Karena rumahnya tidak memiliki makanan yang cukup untuk orang baru.

"Ada apa Hinata-chan?" Naruto membuka pembicaraan.

"Apa tak apa kalian tidur dirumah kumuh yang jelek ini?" jawab Hinata menunduk.

Naruto kemudian memegang kedua pundak Hinata. Menatapnya dalam.

"Apa yang membuatku tidak ingin bersamamu?"

Hinata hanya kembali terdiam. Dan pergi menuju kamarnya. Meninggalkan Naruto yang masih menatap Hinata bingung.

Menurut Naruto, Hinata sudah sangat berlebihan pada dirinya sendiri. Naruto bahkan menerimanya apa adanya. Tapi Hinata bersifat seperti tidak menerima kehadiran Naruto.

Naruto kemudian menyusul Hinata yang berlari kearah kamarnya.

.

.

"Ada apa denganmu Hinata!" membuat Hinata terkejut karena pria itu dengan lancang masuk kedalam kamarnya.

Hinata hanya terdiam melihat kedatangannya.

"Jawab aku!" Teriak Naruto pada Hinata. Dia benar-benar tidak suka dengan kondisi seperti ini. "Kalau memang kau tidak senang aku disini! Aku tetap akan disini!".

Hinata masih terdiam dan sedikit bergetar. Kaget akan bentakan Naruto padanya.

"Kau ini membingungkan Hinata! Kau mengganggu Hidupku! PENGANGGU KAU MENGERTI?! Seketika disaat aku tidak mengenalmu! Tidak mengetahuimu! Kau bahkan sudah hadir dalam baying-bayangku! Sekarang disaat aku sudah menemukanmu! Kau menjauh dariku! Kau membuatku BINGUNG! Tidak mengerti bahwa aku menginginkanmu!".

Ini semua membuat Naruto kesal. Dengan kasar ia mendorong Hinata hingga jatuh ke ranjang tempat dimana Hinata tidur.

"K-kau benar-benar membuatku bingung!" Naruto kemudian menciumi leher Hinata. Hinata tidak begitu mengerti atas perlakuan Naruto terhadapnya.

Ia berusaha untuk mendorong tubuh Naruto namun tangannya sudah dikunci oleh kedua tangan Naruto.

"Na-Naruto.. hhhh.. Ahh.." dengan sedikit kasar Naruto menggigit leher Hinata memberi tanda didaerah itu.

"A-aku sudah tak bisa menahannya.. A-aku sangat menginginkanmu sekarang."

Dengan cepat Naruto membuka bajunya yang kini membuatnya sedikit merasa gerah. Ia sudah sangat panas dengan situasi ini.

Hinata yang melihat itu membulatkan matanya. Ia tak menyangka dengan tubuh mempesona pria itu. Badannya yang menurutnya sempurna membuatnya membuang muka dan menahan wajahnya yang kini sudah sangat merah.

"Mmmhhh.." dengan cepat Naruto mencium bibir Hinata. Menyuruhnya untuk terus menginginkan gadis itu.

Naruto bahkan tidak menyangka akan melakukan ini pada Hinata. Sampai ia membuka baju dress Hinata. Menampakan tubuh cantik gadis yang ia cintai itu. Dan kini Hinata hanya berpakaian dalamannya saja. Membuat Naruto semakin menginginkannya.

"Hiks.. Hiks.. A-aku tak menyangka.." namun niatnya yang menginginkannya membuat dirinya sedikit merasa menjadi pria brengsek dimata Hinata.

"Hi-Hinata.." Naruto kini menjauhkan tubuhnya yang tadi berada diatas Hinata. Ia merasa bersalah akibat perbuatannya yang gila ini. Namun tangannya ditahan oleh Hinata.

"Bu-bukan itu maksudku.. A-aku hanya tak menyangka. Akan melakukan ini denganmu. A-aku hanya merasa.. A-apa aku bisa menjadi yang kau inginkan. Bahkan aku tak punya apa-apa. Dan dicintai oleh pria sepertimu. A-aku.. A-aku hanya sangat bahagia N-Naruto Senpai."

Pernyataan Hinata sukses membuat Naruto semakin menginginkannya. Dengan mendaratkan ciuman kasih saying dikening Hinata. Kini Naruto hanya tersenyum tulus pada Hinata. "Percayalah padaku. Aku tak akan pernah meninggalkanmu."

Dan senyuman itu dibalas dengan senyuman tulus dari Hinata.

Naruto merasa sudah mendapat ijin dari Hinata untuk menyentuhnya. Dengan perasaan yang sedang meluap-luap. Naruto kembali mengecup leher Hinata.

Tangannya yang tadi hanya mengunci tangan Hinata kini bergerak untuk memainkan dada Hinata yang menurutnya cukup besar. Hinata hanya bisa mendesah dengan perlakuan Naruto. Ia begitu senang hari ini.

.

Kini Hinata sudah benar-benar tidak memakai apa-apa. Naruto sudah melihat semuanya. Ini membuatnya sangat malu pada dirinya sendiri. Bagaimana tidak? Pria yang ia cintai, ia sukai, iaidam-idamkan. Kini sudah melihat tubuhnya tanpa pakaian sedikitpun.

"Hi-Hinata.. E-entah mengapa aku semakin menginginkanmu." Naruto kemudian menggesekkan jarinya diliang kewanitaan Hinata. Membuat desahan kecil dari mulut Hinata.

Namun desahan itu kembali terkunci dengan mulut Naruto. Ia benar-benar sangat menginginkan semua yang ada pada Hinata. Ia hanya ingin memiliki Hinata seutuhnya.

Lalu jari demi jari memulai pergerakannya. Naruto segera memasuk keluarkan jarinya untuk mengocok dimana yang dapat memuaskan Hinata.

"ahhh.. hhhehh.. N-Naruto-kun~" sukses membuat Naruto semakin semangat karena Hinata kini sudah tidak memanggilnya Senpai.

Ia tersenyum melihat dirinya dengan Hinata saat ini. Bahagia karena wanita yang slama ini dibayangannya sudah menjadi miliknya. Bahagia karena wanita tersebut juga memiliki perasaan yang sama padanya.

"Hinata.."

.

.

.

.

.

.

.

TBC

*Nyan.. Nyan.. Nyan..*

.

.

A/N :

Hallo lagi Minna-san~

Sebelumnya maaf atas lamanya Update Chapter 3nya ini.

Dan maaf juga atas Lemonnya yang belum pro dalam membuat kalimatnya.

Saya hanya ingin aja ada kejadian Lemon dalam hubungan mereka. Kayanya lebih seru! Tapi saya juga gatau apa pendapat kalian. Dan saya juga mau berterima kasih atas REVIEW minna-san yang membuat saya semakin bersemangat untuk mengembangkan cerita saya.

Saya tahu fic pertama saya ini belum sempurna. Tapi saya berharap.. saya bisa membuat kalian tertarik pada cerita buatan saya ini.

Senang kalau kalian masih mau untuk menunggu kelanjutannya. Dan senang juga untuk para Readers yang mau memberikan saran pada cerita saya ini X)

By to the Way..

Bolehkah Cherryshia meminta REVIEWnya?

Arigatou sudah mau menjadi Readers yang setia membaca fic saya XD