Holla Minna-san~

Sebelumnya saya mau meminta maaf atas lamanya update chapter selanjutnya ini dan juga saya mau berterima kasih atas reviewnya kalian semua. Diantara kalian semua sudah banyak yang berusaha untuk membuat fic ini terlihat bagus dan itu terima kasih ^^.

Dan saya juga ingin mengatakan kalau disini, kenapa Hinata terlihat begitu murahan dan mau menerima Naruto dengan cepat? Karena diperjalanan endingnya masih sangat panjang. Dan disitu akan muncul suatu konflik dengan hubungan mereka yang begitu cepat terjalin.

Saya juga mikir tadinya Naruto yang harus mengejar-ngejar Hinata. Tapi itu akan membuat cerita yang saya buat tidak sesuai dengan imajinasi saya :'). Saya hanya mau membuatnya lebih seru dan lebih terlihat sakit untuk dibaca walau cara penulisan saya belum benar. Karena seperti yang kalian ketahui dari chapter sebelumnya bahwa saya ini Newbie. Saya hanya menyalurkan hobi imajinasi saya dengan menulis cerita yang saya imajinasikan.

Begitu juga dengan PDKT dan tahap-tahap hubungan mereka. Nanti disuatu chapter pasti akan saya detailkan. Dan bagaimana mereka menjalin hubungan dengan baik. Termasuk Menma dan Hanabi didalamnya.

Dan soal Lemonnya! Makasi Senpai yang telah berkomentar direview. Itu cukup membantu saya. Tapi saya akan berusaha sebaik mungkin untuk cerita ini.

Yosh!


.

.

Pair : Naruto x Hinata

Menma x Hanabi

Naruto stay on –MK- side

Rated : M

.

.

By : Cherryshia Himawari

.

.

.

.

.


Pria itu kini telah benar-benar memuaskan hasratnya dengan gadisnya. Menurutnya ini semua ia lakukan untuk membuktikan pada gadisnya bahwa ia sedang tidak bermain-main dalam hubungan ini.

Sementara Hinata yang diketahui gadis yang pria itu lakukan demi hasratnya memilih pasrah pada apa yang dilakukan pada pria itu. Ia bahkan sudah tidak bisa memberontak karena pria itu adalah cintanya.

Tidak perlu berpikir panjang Naruto kembali melumat bibir Hinata dengan sedikit ganas yang membuat Hinata sedikit risih karena perlakuannya. Hinata berusaha mengontrolkan degup jantungnya yang saat ini begitu kencang tak karuan.

"Na-Naruto-kun.. B-Bagaimana nanti kalau adik-adik ma-masuk?" itu sukses membuat Naruto memberhentikan pergerakannya pada Hinata.

"Astagahhh Hinata-chan.. A-aku tidak berpikiran sampai situ! J-Jadi?" Naruto kini panik dan dengan cepat membenarkan posisinya, begitu juga dengan Hinata. Sungguh tidak terpikirkan olehnya.

Hinata kemudian memakai pakaiannya kembali dan menuju kearah pintu meninggalkan Naruto yang hanya terdiam.

.

Begitu keluar dari kamarnya, ia berpura-pura seperti tidak terjadi apa-apa dikamarnya. Dan berusaha mencari anak-anak kecil itu. Ia mencari-cari ketempat seluruh ruangan namun NIHIL tidak ditemukan anak-anak itu.

Kemudian ia melihat kearah pintu yang terbuka dengan cukup lebar. Membuatnya sedikit kesal terhadap anak-anak itu. "Malam-malam menjadi merepotkan seperti ini. Huffh..".

Dan Naruto yang menyusul Hinata dari belakang mengagetkan Hinata karena pria itu tiba-tiba memegang pundaknya dari belakang.

"Siapa yang merepotkanmu? Dan dimana anak-anak itu?" Naruto terus mencari-cari adik-adik kecilnya itu. Hinata kemudian menghela nafas dan menjawab pertanyaan kekasih barunya itu dengan sedikit kesal. "Seperti yang kau lihat. Mereka tidak ada dirumah dan membiarkan pintu terbuka lebar.".

Naruto tertawa melihat kejadian ini. Karena ia tahu ini pasti perbuatan adiknya yang kebiasaan buruknya membiarkan setiap pintu dirumah terbuka lebar jika ia meninggalkan ruangan atau tempat.

"Biarkanlah Hinata-chan.. Bukankah begitu lebih baik? Dengan begitu kita bisa melanjutkan kegiatan kita yang sempat tertunda tanpa ada yang tahu." Bisiknya pelan yang sukses membuat wajah Hinata kini terlihat lebih merah dari sebelumnya.

Hinata kemudian mencubit kecil pipi Naruto yang membuat dirinya seperti ini. Kini ia sudah sangat malu dengan pria ini. Sungguh sangat malu.

.

.

.

"ehnnn.. Na-Naruto-kun.." Hinata terus menggeliat ditempat tidurnya. Ia tidak bisa terus bertahan dengan perlakuan Naruto padanya. Ia sudah dibuat-buat oleh Naruto.

Kini Naruto tengah terus menjilati kewanitaan gadisnya itu. Membuat Hinata terus menggeliat tak karuan dengan perlakuannya. Walau sedikit malu dan ragu akan perbuatan ini dengan pria itu. Tapi ia tidak bisa menolaknya.

Kenapa? Karena dia sudah tidak bisa lagi keluar dari perasaan yang menurutnya membahagiakan ini. Dan juga segala cumbuan yang Naruto lakukan padanya membuat dirinya semakin menjadi.

"Hi-Hinata-chan.. Ju-jur.. Aku tak menyangka akan melakukan ini semua denganmu. A-apakah aku boleh menyentuhmu lebih dalam la-lagi Hime?" Hinata dengan cepat menggelengkan kepalanya. Ia tidak menerima untuk tahap selanjutnya. Sukses membuat Naruto kecewa karena permintaannya ditolak.

"A-aku tidak bisa Naruto-kun.. Ini sudah terlalu jauh.."Hinata menjauhkan tubuhnya dari Naruto. Dan Naruto mendekatkan posisi tubuhnya dengan Hinata dengan duduk disebelah Hinata.

Hinata kemudian menjelaskan semua yang dia alami hari ini. Menurutnya ini semua terlalu cepat. Setelah ia pikir-pikir. Suatu hubungan harus dijalani dengan adanya berbagai macam cobaan. Bukan dengan suatu ungkapan saja.

Ia kemudian menatap pria idamannya intens. Walau pria itu juga menatapnya intens. Tapi Hinata berusaha untuk berbicara dalam keadaan kondisi yang canggung.

Kemudian ia meraih dan menggenggam tangan pria itu dengan perasaan. "Nee Naruto-kun.. Setelah kupikir-pikir.. Ini memang terlalu cepat." Mengerti maksud Hinata. Naruto kemudian yang memberontak untuk menggenggam tangan Hinata.

Kini pegangan tangan itu mengerat dan diwajah pria itu terdampak wajah yang begitu serius menatap dalam wanita yang baru saja menjadi kekasihnya. Membuat Hinata menundukan kepalanya.

"Aku tahu itu Hinata-chan. Tapi.. Apa kau masih meragukan perasaanku?" Namun pertanyaan itu tak ada jawaban. Melainkan Hinata terus menunduk dan lebih memilih berdiam.

Itu membuat Naruto mengerti dengan jawaban Hinata walau ia hanya terdiam. Kemudian ia mencium kening Hinata dengan perasaannya yang benar-benar menyayangi Hinata. Ia juga mengerti ini semua sudah terlalu cepat. Tapi ia juga tidak bisa memaksakan perasaan Hinata kepada dirinya.

Naruto kemudian menghela nafas dan kemudian kembali menatap wajah Hinata dengan serius. "Baiklah. Mungkin ini belum bisa kita jalani karena ini terlalu cepat. Benar katamu, ini terlalu cepat. Tunggulah Hinata.. Suatu hari nanti perasaanmu padaku takkan ada keraguan." Sambil tersenyum menatap Hinata.

Hinata mengerti maksud Naruto hanya terdiam. Menurutnya ini memang terlalu cepat. "Benarkah?".

Dan hanya mendapat anggukan dari Naruto.

.

.

.

.

*Hanabi and Menma*

Mereka kini berada dipinggir taman. Salah satu dari mereka tersenyum bahagia sambil menggenggam tangan mungil lainnya. Tidak lupa dibalas dengan senyuman oleh seseorang yang ia genggam. Mereka berdua terlihat begitu bahagia.

"Hanabi-chan.. Aku senang kau juga menyukaiku."

"A-aku juga.. Hihi.. Sedikit terkejut untuk hari ini."

"Apa kau tahu bahwa aku menyukaimu?" Menma kini menatap kedua mata bulan milik Hanabi.

Hanabi hanya terdiam mendapat pertanyaan seperti itu dari Menma. Ia hanya menunduk dan kemudian menggenggam erat tangan kekasihnya itu. "Ti-tidak.."

"Lalu kenapa kau bisa menyukaiku? Kita tak pernah bicara." Sambil menatap Bulan yang terlihat indah dari pinggir danau tersebut.

Namun Hanabi hanya semakin menunduk. Ia berusaha menahan wajahnya yang kini sudah memerah. Sangat merah. "A-aku sering memerhatikanmu. Apa karena kita tak pernah bicara.. bukan berarti aku tak bisa menyukaimu walau dari jauh?"

Mendengar pernyataan itu membuat wajah Menma yang kembali terlihat lebih merah dari Hanabi. Ia langsung membuang wajahnya yang terlihat salah tingkah. Tak menyangka jawabannya membuatnya malu seperti ini.

"Lalu kalau Menma-san.. Mengapa bisa menyukaiku? Bukankah kita tak pernah bicara?" Hanabi membalikan pertanyaannya padanya diiringi sedikit tawa.

Pikiran Menma semakin panas. Ia tak berani menjawabnya. Tak mungkin ia menceritakan bahwa selama ini ia slalu mengawasi Hanabi dari jauh. Bisa dipandang yang tidak-tidak oleh Hanabi. Bisa saja Hanabi berubah pikiran dan meninggalkannya karena slama ini yang mengawasi Hanabi adalah Menma.

"Semenjak melihatmu. Aku sudah sangat menyukaimu Hana.." ucapnya sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Itu membuat Hanabi semakin gemas dengan kekasih barunya itu.

Baru saja Hanabi ingin mencubit pinggang kekasihnya itu. Namun niatnya ia urungkan karena ia merasa ada yang menghampiri mereka.

"Ternyata adik-adik kecilku ada disini ya.. Nakal malam-malam mojok." Dan merasa malu kepergok kakaknya. Mereka berdua hanya terdiam menundukan wajah mereka masing-masing.

Naruto semakin gemas melihat kelakuan mereka berdua yang menurutnya sangat lucu. Ketahuan berduaan dipinggir danau sambil bercanda satu sama lain.

"Menma.. Sepertinya malam ini kita tidak menginap. Aku takut Kaa-san mencarimu adik kecil." Alasan itu sebenarnya bukanlah alasan yang sebenarnya. Tapi ia memang sedang tidak bisa untuk tetap stay.

Setelah kejadian tadi menimpanya membuatnya sedikit malu untuk tetap tinggal. Dan takut merepotkan Hinata.

"Sepertinya aku harus pulang Hana-chan.."

"hmm.. masih ada hari lain untuk mampir bermainkan?" dan dijawab dengan anggukan oleh kedua pria dihadapannya. Kembali membuatnya tersenyum dan segera memeluk Menma didepan kakaknya.

Naruto benar-benar terkejut atas perlakuan Hanabi pada Menma didepannya. 'astaga.. mereka ini memang tak pernah memandang tempat' umpatnya dalam hati melihat kejadian adiknya itu.

Setelah memberi pelukan hangat. Menma segera mencium kening Hanabi. Membuat Naruto kembali panas melihat kejadian ini. 'Hii.. menyebalkan!'.

Dan setelah itu Menma dan Naruto berpamitan untuk kembali pulang kerumah mereka sebelum mengantarkan Hanabi kembali pulang kerumahnya. Tidak lupa berpamitan dengan Hinata.

.

.

"Hey Hana-chan.. Kau benar-benar serius dengan Hubunganmu dengan Menma-san?"

"Kelihatannya begitu. Aku sudah lama menyukainya. Diapun begitu padaku." Hinata memikirkan pernyataan Hanabi atas hubungannya dengan Menma yang menurutnya tidak diduga.

Bisa dibayangkan oleh kalian.. Mereka hanya anak kecil yang saling memerhatikan satu sama lain. Dan bahkan mereka sama-sama memiliki perasaan. Padahal mereka tidak pernah berbicara.

Sementara kakaknya ini sering memerhatikan dan berharap. Bahkan Naruto mengatakan padanya bahwa Hinata selama ini sudah ada dibayang-bayangnya. Tapi kenapa Hinata masih ragu pada Naruto? Karena Hinata lebih ingin mengenal Naruto. Ia tidak mau terlalu cepat.

Ini semua membuatnya bingung dengan hubungannya dengan pria itu.

.

.

.

.

.

Naruto terus mengemudi mobilnya tanpa memikirkan adiknya yang menatap bingung padanya. Ia mengemudi sambil melamun. Sudah beberapa mobil terus mengklaksonkan mobil mereka pada mobil Naruto. Kini Naruto mengemudi tanpa memikirkan jalan. Ia terus menyelinap diberbagai macam mobil. Tentu saja membuat adiknya bingung dengan sikap kakaknya yang mendadak Badmood itu.

Menma berusaha membuka pembicaraan walau sedikit takut. "Ada apa denganmu Nii-san?"

"…"

"Apa aku melakukan kesalahan?"

"…"

"Ba..ik..lahh.." Menma merasa diacuhkan lebih memilih untuk tidak mengganggu mood kakaknya itu. Ia hanya takut jika ia kebanyakan bertanya hanya membuat kakaknya semakin marah.

.

.

Naruto POV's

Bagaimanapun caranya. Aku juga harus meyakinkan perasaanku bahwa aku benar-benar menginginkannya. Dan aku juga harus meyakinkan hubungan kami berdua ini.

Awalnya memang hanya sekedar bayang-bayang. Tapi apakah salah? Bila bayang-bayang itu setiap waktu slalu muncul dipikiran dan membuat diriku semakin mengenal sosok Hinata. Mungkin benar.. ini sudah terlalu cepat.

.

.

.

.

Akhirnya aku sampai dirumahku. Kulihat kesamping mendapat adik kecilku sedang tertidur pulas. Akupun menggendongnya dan membawanya masuk kedalam rumah. Belum sempat aku menginjak ubin rumahku, disana sudah terlihat wanita yang menyeramkan menurutku. Tidak lain itu adalah ibuku.

Terpampang jelas dari mimik wajahnya bahwa ia sudah menunggu kita sedari tadi. Ya ini memang sudah malam dan kita sama sekali tidak mengabarinya. Mungkin itu penyebab ia menjadi begitu menyeramkan.

"Ha-halloo K-Kaa-san.." aku menyapanya dengan ketakutan. Siapa yang tidak takut melihat ia begitu menyeramkan sekarang.

Dia hanya diam. Benar-benar sangat menyeramkan. Kalau kusebutkan ciri-ciri dia sekarang. Ia memang slalu terurai dengan rambut merahnya yang panjang. Dan karena ini malam.. ia pasti slalu memakai piyama dress hitam panjang untuk tidur. Untuk ayahku mungkin terlihat seksi. Tapi wajahnya sekarang.. sudah tidak bisa diartikan.

"Sudah pulang Naruto.."

Wusshhh~

Aduh bulu kudukku merinding.. sial malam-malam suasananya selalu saja tidak pernah mendukung.

Aku hanya tersenyum penuh tanda tanya. Awalnya ia menghiraukanku melewatinya namun seketika.. ia melakukan Rap God versi dia sendiri.

"SUDAH KUKATAKAN! JANGAN PULANG MALAM-MALAM. ADA APA DENGAN DIRIMU NARUTO! TIDAKKAH KAU MELIHAT ADIKMU SUDAH LELAH? INI SEMUA ULAHMU! KAU INI SELALU SAJA MEMBERI CONTOH YANG TIDAK BAIK PADA ADIKMU! MENGAPA LARUT SEKALI KALIAN PULANG! JELASKAN PADA KAA-CHAN ATAU KAU KUHUKUM! SEKARANGPUN AKU AKAN MENGHUKUMMU NARUTO!"

Huaaaaa.. ingin sekali aku menjelaskan semuanya.. tapi aku tidak bisa karena bila Kaa-san tahu bahwa Menma saja sudah memiliki kekasih bisa kena tembak lagi diriku. Huhu.. Kami-sama tolonglah diriku sekarang.

"Ugh.."

"Tuhkan.. Kaa-san membangunkan Menma.. Nanti pasti Menma kesal sama Kaa-san gara-gara Kaa-san berisik." Ayolah Naruto.. Keluarkan semua alasanmu. Kau pasti bisa..

Sepertinya dia sudah panic. Ia memang sangat menyayangi Menma dariku. Huhh.. sangat menyedihkan memang. "Cepat bawa dia kekamar! Nanti dia bisa badmood sama Kaa-san!"

Yass! Berhasil. Kau cukup pintar Naruto.

.

.

.

.

Kurebahkan diriku ditempat tidur setelah menidurkan adikku diranjang sebelahku. Ini membuatku seperti pengasuh bayi untuknya. Benar-benar menyebalkan huh!

Aku masih bingung dengan hubungan kami ini. Membuatku malu juga tentang kejadian tadi. Entah mengapa aku jadi malu bertemu dengannya lusa nanti disekolah. Apakah aku bisa meyakinkan dia tentang perasaan ini? Aku ingin sekali meyakinkannya..

Hanya saja apa aku bisa?

Entahlah.. kita liat saja nanti.

.

.

.

End Naruto POV's

Wanita itu terus memandangi langit sunyi itu dimalam hari. Membuatnya sedikit frustasi memikirkan kejadian tadi kepada pria idamannya.

"Yaa.. ini memang sudah terlalu cepat. Aku benar-benar tidak menyangka tentang kejadian tadi. Tapi aku juga sangat jadi tidak enak karena menolak kejadian tadi. Bagaimana ini.." wanita itu terus berpikiran bahwa kejadian tadilah yang mengganggu pikirannya.

Ia sendiri berpikir bahwa ia sudah saja memulai jarak dengan pria itu karena perbuatannya tadi. Takut karena kejadian tadi membuat pria idamannya akan menjauhinya. Tapi ia berpikir bahwa itu semua memang terjadi karena dia menolak.

"Aku tidak bermaksud untuk menolaknya.. Hanya aku belum yakin tentang perasaannya padaku. Aku juga tidak merasakannya saat ia menyentuhku." Ia kemudian terhanyut dalam angin malam yang membuatnya tenang.

"Apakah kita memang bisa bersama? Entahlah.. Kita lihat saja nanti." Hinata kemudian segera masuk kedalam rumahnya untuk cepat beristirahat.

Ia tidak menyadari bahwa adik kecilnya sudah sedari tadi memandangi posisi kakaknya yang sedang berdiam diri diluar. Membuat Hanabi khawatir dengan perbuatan kakaknya.

Hanabi kemudian ikut menyusul kakaknya masuk kedalam rumah tersebut.

Menurutnya sesuatu terjadi dalam hubungan kakaknya dengan kekasih kakaknya.

.

.

.

.

Mereka masih bingung antara satu sama lain.

.

.

.

.

Treng~ Treng~ bell sekolahpun berbunyi menandakan gerbang sekolah sudah harus ditutup dan masing-masing kelas memulai pelajaran mereka.

Namun tidak untuk Namikaze Naruto. Ia terlihat terlambat saat berusaha berlari dan memasuki gerbang tersebut.

"Tunggu! Hey paman! Tunggu jangan tutup gerbangnya dulu!" ini sudah menjadi kebiasaan tuan Namikaze.

"Hmm.. Kau slalu saja terlambat Naruto." Ujar paman security penjaga sekolah.

"Haduh Paman Jiraiya.. Tapi akukan slalu masuk! Biarkan aku masuk!"

"Tidak."

"Sini biar kuberi kau 200yen."

"Baiklah kalau begitu Naruto. Tapi tidak ada bonusnya?" pria itu kemudian mendecik kesal melihat permintaan bonus dari pria tersebut.

"Apa maumu?"

"Usahakan satu minggu kedepan aku bisa masuk ke Bar Haruno termahal dengan wanita bagaimana? Dengan begitu setiap kau telat. Gerbang ini akan selalu terbuka untukmu. Hehe.." ya sepertinya paman ini cukup terkenal genit dikalangan wanita disekolah tersebut. Dan Naruto sudah mengetahui itu.

"Tidak adakah syarat lain?! Apa kau gila?! Tidak Tidak Tidak! Aku tidak akan membiarkan hal itu terja-"

"Baiklah kau kalau begitu tunggu disitu saja sampai pelajaran selesai. Kalau bisa sampai gerbang ini kembali terbuka dipelajaran terakh-"

"B-baik.. Baiklah. Aku akan memberikanmu member untuk masuk kedalam Bar Haruno. Nanti akan kubicarakan pada Sakura."

"Bagus sekali. Baiklah.. kutunggu kau pulang sekolah disini. Kalau kau tidak membawa member itu. Kau tidak akan kubiarkan masuk lagi!" sambil membukakan gerbang. Paman Jiraiya membiarkan Naruto masuk kedalam.

"Yosh!"

.

.

.

"Hyaaa..! Untung saja! Aku lebih dulu masuk dari Anko-sensei. Hiii~ aku tidak bisa membayangkan jika aku telat lagi dipelajaran pertamanya!" dengan senang antusias ia meletakan tas dan buku-bukunya diatas meja. Tidak memperdulikan celotehan lagi dari teman yang duduk disampingnya.

Merasa ada yang mengajaknya berbicara. Ia kemudian mengalihkan pandangannya. Ternyata itu Haruno Sakura. Wanita yang dikagumi oleh para kaum pria. "Cih! Kenapa sih kau tidak bisa tenang? Telat tidak telat kau slalu saja berisik pagi-pagi! Membuatku semakin risih duduk disebelahmu!"

"Hehe.. Maaf Sakura-chan.. Kaukan tahu bahwa aku ini terlalu antusiawi orangnya."

Sreekkk- suara pintu terbuka secara terseret. Dan ternyata itu adalah guru dibidang pelajaran pertama mereka yaitu Anko-sensei dalam pelajaran Matematika.

Dan melihat siapa yang sudah datang mengurungkan niat wanita cantik itu untuk kembali melawan kalimat lelaki yang menurutnya menyebalkan.

Dan pelajaranpun dimulai.

.

.

.

.

.

.

Triing~ Triing~ kali ini menandakan bahwa bel istirahat berbunyi. Seperti biasa yang dilakukan para siswa siswi yaitu mengistirahatkan diri mereka dengan memakan bekal yang mereka bawa, atau bercanda dan bermain bersama teman-teman dan yang lain sebagainya.

Tetapi tidak untuk pria yang menjadi sorotan utama bagi kita semua. Ia terus memperhatikan wanita yang sedari tadi menjadi sasaran utamanya. Yaitu Haruno Sakura.

Ia menjanjikan sesuatu kepada paman Jiraiya tentang Barnya yang kita ketahui sangatlah terkenal.

Dengan memberanikan diri ia menghampiri wanita itu yang sedang bergabung dengan teman-temannya dikoridor sekolah. "S-Sakura-chan.. bisakah kita bicara sebentar? Ada yang ingin kubicarakan."

Awalnya Sakura sedikit terkejut. Tidak biasanya Naruto mengajaknya berbicara dengan keadaan seperti ingin menembaknya. Membuat teman-temannya sedikit berpikir lain.

Tidak ada jawaban dari lawan bicara. Naruto segera menarik tangannya untuk mengajaknya kesuatu tempat. Tidak menyadari bahwa saat itu ada Hinata yang sedang memperhatikannya.

.

.

.

Dan disinilah mereka sekarang. Diatap sekolah yang memang terkenal sepi dikarenakan tidak ada anak-anak yang ingin menyendiri disini kecuali mereka memang harus.

"Apa sih yang mau kau bicarakan! Memang penting banget?!" dengan cepat ia menarik tangannya dari cengkraman Naruto yang menariknya ketempat ini.

"Haduhh! Hey kau jangan salah paham ya! Aku memanggilmu kesini karena aku membutuhkanmu untuk membantuku jadi jangan salah paham dulu." Ia kemudian berusaha untuk menenangkan Sakura dan mencoba untuk menjelaskannya.

"Okey. Aku mendengarkan." Mendapat ijin dari Sakura untuk menjelaskan. Dan kini Naruto menjelaskan semuanya.

Dimulai dari kebiasaannya yang sering sekali terlambat dan tentang kedekatannya dengan paman Jiraiya. Lalu beralih tentang janjinya yang ia janjikan pada paman Jiraiya. Awal mendengar penjelasan Naruto, Sakura hanya tersenyum bahagia karena ia senang jika terus terlambat pria yang membuatnya kesal setiap hari itu tidak akan diijinkan masuk. Tapi ia kembali kesal mendengar perjanjian tersebut. Menurutnya Naruto keterlaluan menjanjikan itu pada paman genit untuk kalangan wanita.

"APA-APAAN KAU NARUTO-BAKA!"

PLTAK! Jitakan itu mendarat dikepala Naruto membuatnya meringis kesakitan.

"Oh ayolah Sakura-chan.. Aku mohon.. Bantu aku kali ini saja."

"Hey! Tidakkah kau tahu satu minggu kedepan itu berapa lama?! Satu bulan Baka!"

PLTAK! Jitakan itu kembali mendarat.

"Ittaaaai Sakura-chan! Aku akan mengerjakan PRmu atau menjadi Babumu selama itu juga. Aku berjanji.." Naruto berharap keinginannya dikabulkan walaupun ia juga akan mengorbankan dirinya demi tidak terlambat lagi.

Sakurapun beripikir sejenak. Ia kemudian menganggukan kepalanya. Dan didapati teriakan antusias dari pria itu lagi.

PLTAK! Kali ini Sakura sudah benar-benar pusing dengan sikapnya itu.

.

.

.

"Hey.. sepertinya Naruto sedang menyatakan perasaannya pada Sakura. Tadi ia menarik Sakura kesuatu tempat dan mengatakan bahwa ia ingin membicarakan sesuatu. Bukankah selama ini Naruto memang menyukai Sakura ya?"

"Bisa saja setelah itu mereka jadian! Wahh.. Naruto beruntung sekali mendapatkan Wanita seperti Sakura. Primadona disekolah ini."

"Iyaya.. Lucky Naruto."

Hinata hanya terdiam mendengar pembicaraan itu. Tidak menyangka dengan apa yang ia dengarkan, ia meninggalkan tempat yang menurutnya bisa membuatnya jatuh pingsan.

Apakah benar Naruto menyukai Sakura? Lalu beberapa hari lalu itu? Apakah itu semua Bohong?

Kejadian ini membuat Hinata benar-benar terluka.

.

.

.

Harusnya kau mengerti situasi Naruto. Bahkan tempat dan juga kalangan orang-orang. Sekarang Gosip itu akan menyebar luas diseluruh penjuru sekolah.

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.


A/N :

Maaf ya Minna-san.. updatenya lama sekali.. dari kemaren saya banyak tugas menjelang ulangan umum. Bahkan saya sebagai wakil ketua osis juga harus mempersiapkan acara Natal untuk bulan Desember T.T (CURHAT)

Gomenn.. kalau benar-benar lama.. saya benar-benar terus memikirkan fic chp4 ini semoga kalian menyukai alur ceritanya..

Dan ini sekarang sudah terjadi KONFLIK! Haha! Bahagia banget udah sampai KONFLIK..

Maaf hasilnya masih tidak memuaskan T.T aku akan terus berjuang terima kasih X(

Oh ya.. ada yang udah liat Trailer Naruto The Last Movie yang baru XD? Narutonya cemburu banget ngeliat Toneri Sama Hinata.. keliatan banget ada rasa cemburu dan dendam terhadap Toneri.. dan ingin mengambil Hinata-channya kembali XD

.

.

By to the Way..

Mind Review?