Konichiwa Minna-san..

GomenGomenGomenGomen yaaaaa.. TwT saya tahu saya menghilang sudah terlalu lama.. karena seperti yang kalian tahu saya sibuk T.T

Tapi tenang saja.. saya tidak pernah lupa untuk melanjutkan cerita yang menggantung ini.

Yosh! Minna-san!

Enjoy :3

.

.

.

.

Pair : NaruxHina

MenmaxHana

Naruto always with MK side ^^

Rated : Just See XD

.

.

.

.

Gadis berambut indigo itu terus berjalan menelusuri koridor sekolahnya. Tidak peduli terhadap orang-orang yang dengan tidak sengaja ia tabrak. Dan dengan hal itu membuatnya menjadi bahan pembicaraan untuk mereka.

Ia sangat tidak peduli dengan apa yang mereka bicarakan. Yang ia pikirkan sekarang adalah kenapa hal ini bisa membuatnya sakit dan tidak tahan dengan semua ini.

Air matapun keluar menyelusuri hangatnya wajah indah gadis itu. Walau tertutup oleh beberapa helaian rambutnya.. namun orang-orang disekitarnya mampu meliha air mata itu.

"Ke-kenapa.." ia berusaha untuk menahan air mata itu dengan terus berjalan menutupi wajahnya.

"Ke-kenapa rasa sakit ini terus terjadi di hidupku.. aku tahu ini bukan takdirku bersamanya. Tapi kenapa aku yang dipermainkan." Langkah kakipun berhenti.

"Jika dia menginginkan permainan ini. Aku keluar sekarang. Dan tidak berharap untuk kembali masuk. Tapi.. aku tidak bisa.. aku terlalu mencintainya."

Iapun kembali melihat kearah luar jendela yang menampakan beberapa helaian bunga sakura berjatuhan dengan siluet indahnya mentari disiang hari. Dan hal ini membuatnya sedikit tersenyum akan peristiwa itu.

"Aku tahu jawabannya.." ia masih tersenyum tulus melihat keindahan itu. Dan berjalan kearah jendela untuk semakin memperluas penglihatannya.

Kemudian helaian bunga sakura yang berjatuhan, Satu demi satu jatuh dihadapan gadis itu. Hinata lalu membuka tangannya untuk menerima satu helaian bunga itu dan ia tertawa kecil sambil melihat bunga sakura itu.

Orang-orang yang melihatnya malah melihatnya dengan tatapan aneh. Ia baru saja menangis.. kemudian ia tertawa. Sungguh membuatnya terlihat gila dimata teman-temannya itu.

.

.

.

.

Tring~ Tring~

"Baiklah anak-anak. Pelajaran kita cukup sampai disini saja. Dan jangan lupa untuk mengerjakan tugas halaman 89 sampai 92. Besok kumpulkan dimeja sebelum sensei masuk. Mengerti? Saya bisa mengetahui siapa yang mengerjakan disekolah dan dirumah. Apalagi yang tidak mengumpul. Mengerti itu semua?" ucap Kakashi-sensei sebagai guru dimata pelajaran fisika itu. Mengerti maksud senseinya. Para muridpun hanya mengangguk mengerti.

Tidak dengan Naruto yang terus melamun dalam pikirannya. Ia terlihat sama sekali tidak berkutik karena ia memang benar-benar masuk dalam lamunannya.

Sakura yang melihat teman kelasnya itupun menyadarkan lamunannya dengan menjewer telinga Naruto setelah Kakashi-sensei sudah keluar dari kelas.

"I-Ittai~ S-Sakura-chan!" kesal Naruto setelah mendapatkan jeweran dari teman sebrangnya.

"Apa sih yang kau lamunkan dari tadi? Tidak mau bercerita denganku nih?" Sakura yang terlihat sangat penasaran itu terus melihat Naruto. Memberikan sebuah tatapan mengancam 'ceritakan padaku Naruto! Apa yang ada dipikiranmu'.

Naruto kembali menatap Sakura dan memberi tatapan 'Ada apa denganmu. Jangan mengancamku!'.

Lalu Naruto membuka pembicaraan "Sebaiknya sekarang kau menemaniku untuk berbicara dengan paman Jiraiya. Ingat? Aku punya perjanjian dengannya. Dan denganmu!"

"Dasar Paman Mesum itu! Kenapa dia harus datang ke Barku sih untuk beberapa minggu kedepan!"

.

.

.

.

Seorang pria berambut putih panjang yang dikuncir dengan mengenakan seragam sebagai penjaga sekolah itu kini sedang sibuk berbicara dengan para siswi-siswi yang kebetulan ingin pulang setelah melakukan kegiatan pembelajaran disekolah

Naruto dan Sakura yang melihat dari beberapa jarak itu semakin geli terutama Sakura. Mereka semakin tidak yakin untuk menghampiri pria itu. Bahkan paman itu kadang menyenggol lengan siswi tersebut sebagai tanda modusnya terhadap siswi tersebut. *idihh..

Dan setelah mengucapkan perpisahan dengan acara senggol-senggolan sukses membuat pria itu menyadari kehadiran mereka.

"Oy kalian! Kemarilah!" panggil paman jiraiya yang membuat langkah kaki Sakura dan Naruto menghampirinya.

Awalnya wanita berambut pink itu sedikit geli untuk pergi kesana. Tetapi mengingat sudah bersepakat dengan pria blonde disampingnya itu, ia jadi tetap harus menghampiri paman genit itu.

Sementara itu..

Hinata yang kebetulan akan melewati gerbang itu melihat kedua pasangan tersebut. Awalnya ia ingin sekali menyapa keduanya. Namun karena ia tahu itu hanya akan menjadi buruk ia memutuskan untuk terus berjalan keluar gerbang.

Bodohnya Naruto tidak melihat bahwa Hinata lewat tepat disampingnya. Hal ini cukup membuat Hinata hanya mampu tersenyum menyedihkan. Ia sudah tahu bahwa Naruto tidak akan pernah melihat dirinya. Walaupun ia berada tepat disampingnya.

Dan akhirnya Hinata sukses melewati kedua pasangan tersebut tanpa menoleh kesamping untuk melihat pria itu sedikitpun.

.

"Oy! Paman!" sesampai menghampiri paman Jiraiya yang tadi memanggil mereka berdua.

"Bagaimana Naruto?" ucap pria tua tersebut sambil mengerlingkan matanya kepada Naruto.

"Kau tidak lihat aku membawa siapa hah?" lirik Naruto ke arah Sakura.

"Oke kita langsung saja. Aku tidak mau berlama-lama disini. Nanti bisa jadi omongan sekolah huh." Sakura sudah tahu jika ia terlalu lama bersama kedua pria yang tidak menjadi moodnya ini hanya akan membuatnya merasa ingin cepat-cepat pergi.

"Baiklah nona Haruno. Jadi bagaimana?"

"Kuijinkan kau untuk datang dan menjadi member dibarku. Tapi hanya jika kau tidak berulah dan kau harus berjanji tidak membawa status dari sekolah ini. Apa kau mengerti? Dan aku hanya membutuhkan Data dirimu dengan foto dirimu. Ingat! Kalau sampai besok kau belum memberikan itu semua pada Naruto. Kau tidak akan kubuatkan member! Aku tidak mau berlama-lama disini. Apa aku sudah bisa pulang?"

Terlihat dari wajah cantiknya menandakan bahwa ia sudah tidak harus menjelaskannya lagi setelah ia menjelaskan semuanya. Ia memutuskan untuk pulang meninggalkan mereka berdua.

"Kau dengar itu paman?!" ucap Naruto kesal.

"Tentu. Hanya jika kalau kau tidak terlambat Naruto." Jiraiya tersenyum licik menatap Naruto yang bertambah kesal melihat senyuman itu.

"Oh iya. Kalau besok kau telat lagi Naruto. Ini semua kubatalkan! Jaa!" dan Sakurapun pergi meninggalkan mereka berdua.

Narutopun semakin kesal mendengar itu. Ia segera meminta data paman jiraiya saat itu juga agar ia tidak lupa memintanya kepada paman jiraiya.

.

.

"Okaeri.."

Rumah yang sangat kecil dan begitu kumuh menjadi salah satu tempat dimana Hinata tinggal dan adiknya. Mendengar suara kakaknya sudah pulang. Hanabi segera membukakan pintu dan memberi salam selamat datang.

Hanabi begitu senang melihat kakaknya sudah pulang dari sekolah. Hanya saja dari raut wajahnya terlihat bahwa Hinata sedang dalam keadaan bersedih.

Awalnya Hanabi ingin bertanya kepada kakaknya tentang kejadian buruk apa yang menimpanya hari ini. Biasanya Hinata akan langsung bercerita kepada adiknya jika ia tertimpa suatu musibah atau masalah.

Tapi melihat kakaknya sedang tidak mood untuk bercerita. Ia mengurungkan niatnya untuk menanyakan ada dengan diri kakaknya.

"Hanabi.. Aku ingin mendapatkan beasiswa untuk bersekolah diluar negeri. Apa kau mau ikut denganku?"

Pertanyaan itu sukses membuat Hanabi terkejut. Mengapa kakaknya itu mendadak ingin mendapatkan beasiswa.

"M-maksud Nee-chan?"

"Begini Hanabi.. Setelah kupikir-pikir. Aku ingin bekerja dan menghidupimu diluar negeri. Dengan begitu kita tidak akan susah hidup disini." Hinata menatap adiknya itu penuh keyakinan. Ia ingin meyakinkan adiknya untuk tetap mengikutinya bila ia harus pergi ke luar negeri.

"Kenapa Nee-chan mendadak ingin mendapatkan beasiswa ke luar negeri? Bukankah sekolah yang Nee-chan sekolahi ini adalah sekolah yang dari dulu Nee-chan ingini? Aku tidak mengerti Nee-chan." Hanabi tidak mengerti apa yang Hinata maksud dari dirinya yang ingin bersekolah diluar negeri.

Hinatapun segera menutup pintu rumahnya dan menyuruh adiknya untuk duduk. Hinata dalam kondisi yang sangat serius untuk bercerita kali ini. Ia awalnya menunduk untuk bercerita membuat Hanabi semakin penasaran terhadap sikap kakaknya tersebut.

Setelah sudah cukup lama Hinata berdiam dan menundukkan kepalanya. Ia menegaskan dirinya untuk menghadap kearah adiknya. Karena menurutnya ini adalah hal yang sangat serius yang ingin ia jalani.

"Kau taukan bagaimana krisisnya keluarga kita? Dan kita sama sekali tidak pernah bertemu lagi dengan ayah dan ibu. Bahkan aku sekolah saja butuh beasiswa dan itupun masih harus mengeluarkan dana. Aku bekerja saja belum begitu cukup untuk membiayai ini semua. Dan kau harus tahu.."

Untuk kalimat terakhir Hinata tidak berani untuk mengatakannya kepada adiknya. Ia ingin menyampaikan bahwa ia juga ingin menjauhi pria idamannya. Hinata tahu hal ini konyol baginya. Tetapi ia terus berpikir.. sudah terlalu banyak orang yang menyakiti dirinya dan Hanabi.

Mungkin Hubungan Hanabi dan Menma tidak menjadi suatu masalah untuk Hinata. Namun harus bagaimana lagi? Tidak lama lagi jika hubungan Hanabi dan Menma diketahui oleh kedua orangtua Menma dan Naruto. Pasti Hanabi juga akan mengerti bahwa hubungan mereka takkan pernah disetujui.

"Tahu apa Nee-chan?" tanya Hanabi yang membuyarkan pikiran Hinata.

"Kau harus tahu bahwa kita memang harus pindah. Aku akan mencari beasiswa incaran luar negeri besok. Dan Hanabi.. sebaiknya mulai sekarang kau persiapkan barang-barangmu. Besok jika aku dapat. Kita harus berangkat minggu depan!" Hinata segera berlari kedalam kamar meninggalkan Hanabi yang hanya terdiam melihat sifat kakaknya yang sangat begitu mendadak hari ini.

Hanabi berpikir sejenak untuk menenangkan pikirannya. Jika ia harus pergi meninggalkan jepang untuk kebaikan dirinya sendiri dan kakaknya . Maka ia juga harus meninggalkan Menma.

"Aku memang menyayangi Menma-kun.. tapi apa yang dikatakan Nee-chan ada benarnya juga. Hidup disini hanya membuat kami semakin tidak berdaya. Nee-chan walaupun pintar.. dan bersekolah disekolah yang sangat ideal. Ia juga tetap bekerja. Tapi apa? Aku hanya selalu saja menunggu Nee-chan pulang dibalik pintu rumah ini. Dan mengucapkan salam selamat datang. Aku tidak pernah bisa membahagiakan Nee-chan.."

Hanabi kemudian menangis dalam diam memikirkan hari ini yang sangat mendadak. Ia begitu sedih melihat kakaknya yang sudah sangat terpukul dengan kehidupan ini. Ia mungkin tidak mengetahui apa masalah Nee-channya hari ini.

Namun yang ada dipikiran Nee-channya adalah untuk kebaikan mereka berdua. Hanabi mau tidak mau harus mengikuti kakaknya. Ia hanya ingin selalu berada disamping kakaknya..

Apakah dengan mengambil jalan untuk pergi dari sini.. bisa membuat mereka bahagia?

.

.

.

Hinata terus memandang keluar jendela. Ia terus memikirkan hal ini yang begitu membuatnya sedikit bingung.

Ia menertawakan dirinya sendiri. Mengapa ia harus meninggalkan tempat ini hanya karena masalah kecil? Bodoh menurutnya. Bagaimana tidak? Memang dipikirannya adalah akibat ia patah hati karena kejadian hari ini yang begitu menyakitkan.

"Haha.. bodohnya diriku. Bisa-bisanya aku percaya dengan semua yang selama ini ia berikan. Jelas tidak? Ia lebih memilih wanita yang lebih cantik dariku. Dan sementara aku hanyalah wanita miskin yang diusir oleh kedua orangtua dan tidak mengerti apa itu cinta."

Kemudian ia menangis karena rasa sakit yang begitu dalam mengenai hatinya. Ia berpikir bahwa jika ia menjauhi orang-orang yang telah menyakitinya akan membuatnya lebih tenang.

'tok tok tok' suara pintu yang menandakan seseorang ingin masuk.

"Nee-chan.. apa aku boleh masuk?"

Ternyata itu adalah Hanabi adik Hinata. Hinata segera menghapus airmatanya dan berusaha untuk tegar dihadapan adiknya. Dan ia segera mengatur posisinya bahwa ia dalam keadaan baik-baik saja.

"Masuklah Hanabi."

Setelah mendapat ijin dari Hinata. Hanabi segera masuk dan menatap posisi kakaknya yang sedang membelakanginya. Ia tahu pasti terjadi sesuatu terhadap nee-channya.

Mereka didalam kamar hanya membisu satu sama lain. Hanabi yang tidak terlalu suka dengan keheningan akhirnya membuka pembicaraan.

"Jika Nee-chan ingin pindah dari sini. Aku memang akan tetap ikut. Tapi.."

Hanabi berusaha untuk tetap menetralkan kondisi kecanggungannya terhadap Hinata. Walaupun mereka ini dalam kondisi miskin dan termasuk rakyat kecil. Namun dari kecil mereka adalah keluarga terhormat. Oleh sebab itu suatu kesopanan sudah menjadi ciri khas mereka berdua.

"Hanabi. Sebaiknya kau sudahi hubunganmu dengan Menma." Ucap Hinata datar tanpa menoleh kearah Hanabi sedikitpun.

Itu sukses membuat Hanabi terkejut. Mendengar kata hubungannya dengan Menma harus disudahi adalah hal terburuk yang pernah ia dengar. Ia tidak habis pikir bahwa nee-channya akan menyuruhnya untuk menyudahi semuanya.

Bukankah sebelumnya Hinata sangat senang mereka berdua bahagia? Namun mengapa sekarang Hinata menjadi tidak begitu suka?

"Kau ada masalah bukan dengan Naruto-nii." Percakapan itu kini menjadi suatu masalah untuk mereka berdua. Hinata yang membelakangi Hanabi dan Hanabi yang hanya menatapnya datar membuat percakapan ini semakin menjadi hal buruk untuk mereka berdua.

"Apa yang membuatmu berfikir bahwa kau bisa bahagia dengannya?" Hinata tidak menjawab melainkan memberikan pertanyaan yang cukup menyakitkan untuk Hanabi.

"Kau tidak perlu tahu apa itu bahagia untukku!"

"Karena kau belum tahu apa itu rasa sakit Hanabi!"

Hanabi benar-benar terkejut kali ini. Ia tidak menyangka apa yang dikatakan kakaknya. Kini Hinata membalikan tubuhnya menghadap Hanabi dan menunjukn wajahnya yang sudah sangat kacau. Ia begitu sangat terkejut melihat betapa hancurnya kakaknya sendiri hari ini. Ia tidak begitu menyangka bahwa rasa sakit yang dirasakan kakaknya akan membuatnya separah ini.

"Kau.. Kau belum merasakan rasa sakit Hanabi.. Kau bahkan belum mengenali apa itu cinta. Kau belum merasakannya! Kau baru melihatnya! Hubungan kalian tidak seharusnya terjadi! Kalian harus berpisah Hanabi!"

"Apa ini semua ulah Naruto-nii yang membuat nee-chan seperti ini? Jika iya, maka aku akan menjauhinya. Namun jika bukan. Tidak ada hak aku untuk berpisah dengan Menma!" Hanabi kini sudah terlalu emosi melihat tingkah laku kakaknya yang hari ini begitu berbeda dari biasanya.

Hinata hanya menundukan kepalanya karena ini membuatnya sedikit malu mengakuinya.

"Iya benar. Aku ingin meninggalkan jepang karena aku sudah tidak tahan dengan keadaan disini. Sudah banyak sekali rasa sakit yang kurasakan. Dan aku memang berniat untuk bekerja saja diluar negeri. Tapi jika aku mendapatkan beasiswa, aku akan tetap sekolah."

Hanabi kembali terdiam mendengar itu semua. Ia tidak percaya bahwa Naruto-nii yang ia percayai menyakiti kakaknya sendiri. Hanabi hanya terdiam melihat kakaknya yang juga terdiam memikirkan kelanjutan hidup mereka.

Kini mereka berdua hanya berdiam satu sama lain memikirkan apakah dengan cara meninggalkan tempat mereka lahir akan membuat mereka merasa lebih nyaman.

Mungkin yang seperti ini harus mereka pikirkan baik-baik secara matang.

.

.

Rumah mewah yang berada dikalangan rumah-rumah elit menandakan bahwa hanya orang-orang yang mampu saja yang dapat tinggal disitu. Pada sore hari itu setelah jam pelajaran sekolah usai. Pria blonde memasuki dikalangan rumah-rumah elit tersebut. Kemudian memasuki Rumah paling mewah diantaranya.

Setelah memarkiri mobil kesayangannya, ia langsung mengucapkan salam bahwa dirinya telah pulang. Namun sama sekali tak ada jawaban dari dalam rumah tersebut.

Tidak berlama-lama diluar ia kemudian segera masuk kedalam rumah mewah itu. Maid-maid yang seharusnya menyapanya disaat dia memasuki rumah, kini yang ia lihat adalah keributan dan kesibukan mereka masing-masing.

"A-ada apa ini?"

Menyadari pangeran rumah telah datang. Maid-maid yang sibuk dengan kesibukan masing-masingpun berhenti dalam kesibukan masing-masing dan menyapanya.

"Okaeri Naruto-sama.."

Tidak lama kemudian suara larian kecil menghampirinya.

"Naruto-nii! Keluarga Hyuuga akan kemari!" Menma dengan cepat menarik kakaknya itu untuk segera pergi bersiap-siap kekamarnya.

"Hey hey hey! Lepaskan Menma! Apa-apaan ini?! Dan apa maksudnya keluarga Hyuuga akan segera datang? Keluarga Hyuuga yang mana?"

"Keluarga Hana-chan! Mereka akan segera kemari! Itu artinya Hana-chan dan Hinata-nee akan segera datang kemari! Naruto-nii harus bersiap-siap dan kelihatan tampan didepan kalangan Hyuuga!"

"Benarkah?! Wahh! Kalau begitu ayo kita memperbaiki penampilan kita!" Naruto segera berlari kearah kamarnya dan segera bersiap-siap untuk bertemu dengan keluarga Hinata.

.

.

"Jadi.. Hiashi-san. Kenalkan ini kedua putraku. Namikaze Naruto dan Namikaze Menma." Ucap ayah kedua Namikaze tersebut. Dan menyuruh mereka untuk bersalaman.

"Jadi Paman adalah Ayahnya Hanabi-chan ya! Wahhh.. paman keren sekali ya ternyata." Menma memuji Hiashi disaat dalam keadaan begitu canggung.

Mendengar nama Hanabi membuat Hiashi terkejut. Karena Hiashi sedang tidak bersama Hanabi maupun Hinata.

"Siapa Hanabi?" tanya Hiashi datar. Sementara istri Hiashi yang berada disebelahnya terkejut mendengar nama Hanabi dan hanya menunduk.

"Hanabikan anak paman. Masa paman tidak kenal dengan anak sendiri?" Naruto yang sadar dengan kalimat Menma langsung terkejut. Ia baru menyadari bahwa Hinata telah diusir oleh keluarganya dengan Hanabi. Sementara Kushina dan Minato hanya tersenyum penuh tanda tanya dengan apa yang dibicarakan Menma.

"Saya tidak mengerti apa yang anda bicarakan. Saya kesini hanya membicarakan soal pertunangan anak saya dengan anak anda Minato-san." Hiashi mengalihkan pembicaraan Menma tentang Hanabi.

Kushina yang mendengar kata pertunangan kemudian dengan cepat melirik kearah Minato suaminya. Ia memberikan tatapan 'Apa-apaan ini'.

"Dimana anak anda Hiashi-san."

Kemudian muncullah dari pintu masuk seorang wanita cantik berambut pirang pucat dan memiliki mata ciri khas hyuuga hanya dia terlalu keunguan.

"Hyuuga Shion. Dengan persetujuan siap ditunangankan dengan Namikaze Menma."

"APA?!"

Ketiga Namikaze itupun terkejut luar biasa.

Kushina yang tidak menyangka anaknya akan ditunangankan dengan wanita yang tidak dicintai kemudian meilirik tajam kearah Hiashi.

"Maaf Hiashi-san. Saya tidak mengetahui bahwa akan ada persetujuan pertunangan antara anak anda dengan anak saya. Tapi maaf. Saya tidak menerima pertunangan ini-"

"Baiklah. Acara pertunangan akan kita acarakan setelah saya pulang dari Eropa minggu depan." Potong Minato dalam kalimat Kushina.

Kushina yang merasa ini semua tidak menjadi apa yang ia inginipun meninggalkan pertemuan mereka.

Sementara Naruto dan Menma hanya mematung mendengar kabar ini.

.

.

Tidak disangka oleh Menma bahwa ia akan dijodohkan oleh kalangan Hyuuga yang bukan beraliran darah atas nama Hyuuga Hanabi. Melainkan wanita lain yang diluar dugaannya.

.

Semua ini membuat Menma kesal dan segera meninggalkan tempat itu. Naruto hanya terdiam melihat adik dan ibunya yang kesal dengan hal ini. Sementara Minato hanya berdiam dingin tanpa sepatah katapun.

.

.

TBC

A/N :

Aduhhhhh.. Gomenasai.. Lama sekali saya mengupdate cerita ini huhuhu TwT. Akhir-akhir kemaren saya liburan *Curhat* lalu internet dirumah saya tidak menyala untuk mengupdate cerita ini TwT.

Maaf ya sudah menggantung kalian dengan cerita ini begitu sangatt lama. Dan makasih juga untuk para Review kalian untuk cerita ini..

Apakah saya begitu lama ? TwT tak usah dijawab..

Saya kali ini akan cepat! Yosh! Yosh!

By to the way~

Boleh Minta Reviewnya? :3