Holla Minna-san. Makasi ya untuk yang udah reviewin cerita aku ini. Seneng buat yang udah sempet-sempetin reviewin cerita aku yang jelek ini huhuhu.. ^^ iya saya akan lebih berimajinasi nih untuk cerita ini.

Makasi juga kalian masih mau membaca cerita pertama saya ^^ bener-bener senang masih ada yang setia menanti kelanjutan-kelanjutan cerita Author yang membosankan ini.

Maaf untuk waktu yang sangat cukup lamanya update ya . Dan jika kalian mau baca Cp6 ini.. jangan lupa untuk baca kembali Cp5nya. Karena sebelumnya ada yang kritik terlalu pendek ^^ maka sebagian part6 saya bagi-bagi ke part5. Udah lumayan kok panjangnya hehe..

Okeoke.. kita lanjutkan saja. Disini Hinata terlalu gampang menyerah karena dia sudah lelah dengan semua rasa sakit. Dan hanabi yang belum mengenal rasa sakit.. mungkin kita baca saja disini..

YoYosh!


.

.

.

Naruto Will Be Always with Masashi Kishimoto Sensei ^^

Pair : NaruHina Canon x MenmaHana (Bukan Canon)

WARNING!

Jika sebagian dari anda tidak menyukai cerita atau pair ini. Saya ingatkan untuk tidak membacanya. Dan jika sebagian dari anda masih ngotot untuk baca. Sakitnya akibat pair ini adalah kesalahan dari diri anda yang masih berniat untuk membacanya. Jika tidak menyukai fic ini, anda boleh membaca fic yang lainnya. Karena saya adalah Pemula disini.

-Terima kasih-

.

.

.

.

Selamat Membaca

.

.

.

.

.


"Tou-chan.."

"Jika kau kesal juga dengan hal ini Naruto. Pergilah bersama ibu dan adikmu. Jangan mengacaukannya."

Kini jawaban yang didapatkan pria blonde itu adalah respon yang datar dan dingin. Ia tidak mengerti mengapa ayahnya sendiri yang begitu baik dan lembut menjadi dingin dan datar seperti sekarang ini.

Akhirnya Naruto memutuskan untuk meninggalkan ayahnya dengan keluarga Hyuuga. Ternyata Hiashi-sama adalah ayah dari Hinata dan Hanabi. Namun mereka tidak terlihat bangkrut melainkan terlihat lebih terhormat dan terlihat lebih memiliki uang.

Dimata Naruto saja Shion terlihat begitu aneh. Ya memang kelihatannya dia lebih modis dibanding Hinata. Tapi dimata Naruto yang namanya terlalu bergaya itu sudah biasa. Bagaimana tidak? Dia bahkan satu sekolah dengan gadis seksi seperti Ino, Primadona seperti Sakura, Gadis yang ditakuti akan ketomboyannya tapi begitu manis bila tersenyum yaitu Temari, Tenten yang gemar dalam hal Lelaki berarti dia selalu tau cara bergaya.

Masih banyak wanita cantik gemar membaca buku seperti Conan, gemar bermain musik seperti Tayuya, pintar dalam berkelahi seperti Karin dan masih banyak sekali Wanita-wanita yang dimatanya sama seperti Shion.

Tetap saja Naruto lebih memikirkan keberadaan Hinata. Dimatanya.. Hinata lebih sempurna dibandingkan wanita-wanita yang baru saja datang dipikirannya.

Entah mengapa seketika ia terpikirkan soal keberadaan Hinata. Ia baru sadar bahwa hari ini ia tidak bertemu dengan wanita itu. Namun ia lebih fokus dengan tugasnya dengan paman jiraiya.

.

"Aku tidak mau dijodohkan Kaa-san!" Naruto menyusuli dimana suara itu berada. Setelah ia melihat adiknya dan ibunya yang sedang berbincang dihalaman belakang.

"Menma.." Kushina sangat sedih melihat Menma anak kesayangannya sedang dalam keadaan yang membuatnya sedih.

"Kaa-san.. tolong.. aku tidak mau.. aku benar-benar tidak memiliki perasaan terhadap wanita itu!"

Kushina dan Naruto hanya melihat adiknya dengan tatapan tak bisa berbuat apa-apa jika ayah mereka sudah memutuskannya. Mereka ingin berontak namun sang kepala keluarga sudah memiliki tujuannya sendiri untuk masa depan keluarganya.

.

.

.

"Ayah.. aku lebih menyukai Nii-san yang tadi bersama paman Minato.." Shion akhirnya mengangkat pembicaraan dihadapan Minato dan Ayah ibunya.

Hiashi yang sangat menyayangi Shion akhirnya angkat bicara karena mengerti bahwa putrinya sudah memiliki pilihannya sendiri. "Baiklah kalau begitu kita ubah saja anakmu yang pertama dengan putriku."

Minato akhirnya kembali terdiam. Mengapa seenaknya saja pria didepannya ini memilih calon seperti anak Minato adalah pria-pria pilihannya? Mungkin Menma adalah anak kesayangan Kushina. Tetapi untuk Minato, Naruto adalah sosok dirinya dimasa depan yang masih harus memilih cintanya sendiri.

Ia lebih memilih Menma yang dijodohkan karena Minato ingin Menma dewasa dalam hal bisnisnya nanti. Dimata Minato sosok Menma adalah sosok yang sangat manja dan terlalu sering dibela oleh ibunya. Minato sendiri juga sangat menyayangi Menma. Namun ia ingin Menma yang menjalankan dan mewarisi keturunan Hyuuga.

"Hiashi-sama. Aku tidak menerimanya jika Putra pertamaku yang harus dijodohkan. Dia sudah besar dan masih harus mewarisi keturunanku."

"Kau tak punya pilihan Minato. Ingat janji kita beberapa tahun lalu."

Minato hanya menatapnya dingin. Pria ini sudah sangat keterlaluan dimatanya. Berani-beraninya dia mengancam dirinya dengan sebuah janji. Mengingat mereka memang memiliki janji, Minato lebih memilih untuk menerimanya. Karena ia tidak mau pernah melanggari janjinya.

"Baiklah. Naruto dengan Nona Shion."

.

.

.

Setelah melihat Menma yang kelelahan akibat dirinya sendiri memohon kepada ibu dan kakaknya untuk membatalkan perjodohannya ini membuat dirinya terlelap dalam pangkuan ibunya.

"Naruto.. Bukan Kaa-san tidak menyayangimu. Tapi saat Kaa-san menginginkan anak perempuan dan yang lahir adalah Menma setelah dirimu. Kaa-san menganggapnya sebagai sosok teman jika kau dan ayahmu tidak ada. Itulah sebabnya Kaa-san menjaganya seperti anak perempuan. Tapi ternyata dia sekarang sudah besar dan lebih mengerti.." Ucap Kushina sambil mengelus rambut Menma yang terlelap dalam pangkuannya. Kushina sangat terpukul melihat Menma yang terlelap karena kelelahan memohon untuk tidak dijodohkan.

Naruto kemudian hanya melihat pemandangan dihalaman belakang rumahnya. Ia kemudian berusaha membongkarkan rahasia antara Menma dengan dirinya. Namun sedikit malu dan canggung untuk menceritakan kepada ibunya sendiri.

"Kaa-san.. ada sesuatu yang ingin kubicarakan kepada Kaa-san tentang diriku dan Menma." Ucap Naruto tanpa berpaling dari pandangannya.

Kushina hanya terus mengelus rambut Menma tanpa mengatakan apapun. Masih terus terdiam.

Naruto merasa Kaa-sannya siap mendengarkan pembicaraannya itu.

"Aku mencintai seseorang yang dari awal tidak kukenali siapa dirinya. Aku terus melamunkannya. Padahal aku tidak pernah berbicara dengannya. Saat aku bertemu dengan sosok wanita itu.. Dia berkata padaku bahwa sebelumnya aku pernah memberitahukan arah kelasnya waktu dia masih anak baru. Yang aku tidak habis pikir aku mencintainya Kaa-san.. sangat mencintainya. Dan aku mengantarnya pulang saat ia sakit. Ternyata dia orang yang tidak mampu. Kemudian adiknya itu adalah gadis yang disukai Menma dari dulu Kaa-san. Dan dari situ aku mengajak Menma untuk liburan bersama mereka. Pulang dari liburan itu mereka menjadi sepasang kekasih. Saat aku pulang malam dan Kaa-san melihat Menma sudah tidur." Selesai Naruto Menjelaskan dengan wajah masih memerah karena malu menceritakannya.

"Merekanya yang menjadi sepasang kekasih itu siapa?" tanya Kaa-san yang masih mengelus-elus rambut Menma.

"Menma dan Hanabi. Adik dari wanita yang kucintai."

Kushina awalnya terkejut mendengar bahwa Menma sudah memiliki Kekasih. Namun ia lebih senang lagi jika ia bisa bertemu dengan wanita itu.

"Naruto.. Besok pulang sekolah kita main kerumahnya bagaimana?" Kushina mengajak anaknya itu untuk bermain kerumah gadis yang ia cintai.

"Tapi apa Kaa-san mau bermain kerumahnya? Aku takut Kaa-san tidak betah."

"Kenapa? Kaa-sankan ingin berkenalan dengan kekasih kalian berdua."

"E-EH?! A-aku belum menjadi kekasih dengannya Kaa-san!"

Kushina hanya tertawa mendengarnya. Berbeda dengan Minato yang sedari tadi mendengar pembicaraan mereka. Minato hanya tersenyum kecut mendengar bahwa Naruto sudah memiliki wanita yang ia cintai. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana perasaannya jika mendengar bahwa dirinyalah yang dijadikan perjodohan itu bersama Shion.

.

.

"Nee-chan mau pergi kemana?"

"Aku ingin mencari sesuatu yang bisa memindahkan kita dari tempat ini." ucap Hinata sambil tertawa dan mengenakan tas selempangnya. Kemudian meninggalkan Hanabi didalam rumah kumuh itu sendirian.

Melihat sikap niat kakaknya sendiri dalam memikirkan kepindahannya membuat Hanabi tidak bisa berbuat apa-apa. Cepat atau lambat dia akan meninggalkan tanah kelahirannya dan juga orang yang dicintainya.

Dia akhirnya memutuskan untuk membereskan barang-barang untuk dibawa atas keberangkatannya jika Nee-channya sudah bisa mendapatkan pekerjaan atau beasiswa.

"Biarkan saja ini terjadi. Lagipula aku berharap bisa berhubungan jarak jauh dengan Menma." Ujar Hanabi dengan senyuman diwajahnya. Baru terpikirkan olehnya bahwa ia bisa berhubungan jarak jauh dengan kekasihnya itu.

Hanabi tidak sabar bertemu dengan Menma Besok untuk memberitahukan kabarnya ini. ia berharap Menma mau berhubungan jarak jauh dengannya.

Kemudian ia cepat-cepat membereskan barang-barang yang mau ia bawa. Dan sekalian membereskan rumahnya itu. Rumah itu memang terlihat kumuh. Namun sangat bersih dan indah didalamnya. Karena Hanabi dan Hinata sangat menyukai keindahan dan kebersihan.

.

.

.

"Disney Family Management.." itulah yang dibaca Hinata saat ini. Kini ia berada didepan tulisan yang menggantung dibatang pohon tersebut. Ia heran mengapa tulisan ini berada didepan Danau dekat rumahnya.

Ia melihat ke segala arah tidak ada satu orangpun didaerah danau ini. kemudian ia mengangkat papan kotak yang menurutnya cukup kecil. Ringan dan bentuknya sangat lucu. Dan ia melihat dibelakang tulisan tersebut ada sebuah alamat.

"Benda ini memancingku untuk pergi ketempat ini." setelah membaca alamat itu Hinata memutuskan untuk pergi kearah alamat yang tertulis.

.

"Tak kusangka tempatnya semewah ini."

Tempat yang berbentuk layaknya istana itu membuat Hinata terpanah atas keindahan tempat ini. Bahkan bunga-bunga yang indah dan air mancur yang sangat berkualitas membuat Hinata sangat tidak jadi berniat untuk masuk kedalam tempat itu.

Saat dirinya ingin pergi melangkah keluar dari tempat area itu, seseorang menangkap tangannya. Hinata terkejut saat melihat siapa yang menahannya.

"Ada apa? Mengapa tidak jadi masuk?" Pria berambut raven yang sangat tampan, tidak lupa dengan ciri khas rambut yang keren dan suara yang cool menahannya. Dan penampilannya yang seperti pangeran membuatnya menahan malu.

Siapa yang tidak malu ditahan oleh pria tampan sepertinya?

"E-eh?!" Hinata sangat malu sekarang. Ia menundukan kepalanya menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah. "A-aku hanya ingin mengembalikan ba-barang ini." ujar Hinata sambil memberikan kotak yang berisi tulisan 'Disney Family Management.'

Pria itupun mengambilnya dari Hinata kemudian memperhatikan penampilan Hinata. Awalnya ia melihatnya biasa saja. Setelah dilihat kembali Hinata adalah wanita yang sangat manis dan lucu.

"Apa kau tahu kotak papan ini untuk apa?" tanya pria raven kepada Hinata. Namun dijawab gelengan dari Hinata.

Mendapat jawaban itu. Pria itupun menjelaskan guna dari kotak lucu tersebut.

"Ini tiket untuk ke acara kami 'Disney Tour' di Eropa. Dan kamu baru saja menemukannya."

Hinata hanya terdiam. Dan masih tetap memperhatikan penampilan pria yang didepannya itu. Tampan sekali menurutnya.

"Kau pasti heran dengan penampilanku."

Hinatapun hanya mengangguk sambil memberikan wajah yang menanyakan 'pakaian apa yang dikenakan pria didepan matanya ini'.

"Haha.. ini adalah pakaian yang kugunakan untuk pentas drama diacara Disney Tour kami nanti. Aku berpakaian seperti ini karena aku memerankan sosok pangeran. Tapi lucunya.. pangeran sepertiku masih belum menemukan seorang wanita yang mau menjadi putrinya."

Seusai tertawa melihat wajah Hinata yang menurutnya cukup menggemaskan itu, pria tampan itu kemudian menjelaskan tentang pakaian yang ia gunakan sekarang didepan mata Hinata.

"Eh? Putri?" Hinata heran dengan wanita yang dimaksud pria itu.

"Iya. Kami masih mencari-cari wanita yang mau memerankan sebagai putri diacara kami nanti."

Mendengar itu Hinata sedikit terkejut. Ini adalah peluang untuknya agar bisa bermain diajang besar untuk mendapatkan uang dan pergi dari tempat ini. Dengan keraguan ia mengajukan dirinya untuk ikut dalam acara itu.

"A-apa.. Aku bisa.. untuk ikut ajang ini? Ka-kalau kau sedang mencarinya."

Pria tampan itupun terkejut. Ternyata gadis yang berada didepannya ini mau mengajukan dirinya untuk ikut ke ajang besar yang sangat tidak mudah untuk dijalankan seumurannya.

"Memangnya kamu sudah dapat izin dari orangtua kamu? Kalau kamu masuk keacara ini, maka kamu juga akan meninggalkan jepang. Memang ini cuman tour saja gadis kecil. Tapi, jika kami dikontrakan disana. Maka kamu juga akan tinggal disana."

"Ti-tidak apa-apa! Ayah ibuku juga pasti setuju, aku yakin! Dan kalaupun aku harus latihan untuk sekarang sampai besokpun aku siap! Ayah ibuku juga pasti senang mengetahuinya." Semangat mendengar kabar ini. Hinata tidak perlu basa basi untuk beralasan ia tidak bisa ikut. Ia pasti akan pergi kesana.

"Kau ini semangat sekali. Baiklah nanti akan ku ajukan kamu sebagai pasanganku. Dan peranmu sebagai seorang putri. Tapi.." kalimat dari pria itu belum dilanjutkan dan masih memberikan tanda tanya untuk Hinata.

"T-tapi apa? Apa aku tidak akan bisa diterima?"

"Bukan itu. Masalahnya jika kamu mau menjadi seorang putri.. hari ini sebenarnya juga sudah telat. Karena pesawat kami akan berangkat jam 22:00 p.m. Sementara sekarang sudah jam 17.45 p.m. kami sudah harus bersiap-siap-"

"A-aku juga mau untuk keberangkatannya sekarang! Aku siap! T-tapi.. boleh aku membawa adikku?"

Pria itu kembali terdiam. Dia cukup kaget atas semangatnya wanita didepannya ini.

"Baiklah.. Kau boleh membawa adikmu untuk bergabung dalam team kami. Tapi ingat ya. Malam ini kita berangkat jam 22:00 p.m. Jadi kau sudah harus berada disini lagi jam 20.00 p.m. Dan.. yang cantik." Sambil mengerlingkan matanya.

"H-hai Senpai! Kalau begitu aku harus pulang dan segera bersiap-siap senpai!" tunduk Hinata lalu bergegas pamit untuk bersiap-siap dan memberitahu berita ini pada adiknya.

Setelah membungkuk pamit atas kepergiannya, ia langsung pergi meninggalkan pria itu.

"Oy! Namaku Uchiha Sasuke! Panggil saja Sasuke! Jaa!" teriak pria itu pada Hinata yang belum begitu cukup jauh.

Hinata yang mendengarnyapun hanya melambaikan tangannya.

Sasuke si pria tampan itupun tersenyum. "Tidak kusangka.. aku menemukannya sebagai pasanganku. Semoga saja dia putri yang kucari-cari."

Dengan senyuman penuh arti pria itu kembali masuk kedalam tempat yang berbentuk istana tersebut.

.

BRAK

"Aku menemukannya.."

Dengan membuka pintu sekencang mungkin. Pria itu menarik perhatian orang-orang didalam istana. Lebih tepatnya, sebuah tempat yang berbentuk layaknya istana.

"Apa yang kau temukan Sasuke?" Ucap pria yang berpakaian layaknya badut Goofy yang ada dalam karakter Disney.

Setelah pria itu bertanya kepada pria yang bernama Sasuke. Ia langsung pergi meninggalkan tempat itu.

"Hii! Kau tidak jelas Deidara! Apa-apaan dia. Buat apa bertanya kalau sehabis bertanya dia pergi?" kini gadis berambut biru pendek itupun yang membuka pembicaraan. Terlihat kesal dari wajahnya.

Semua yang didalam sanapun hanya menahan tawa atas sikap Deidara itu. Deidara dikenal dengan orang yang bisa dibilang 'masa bodo' kalau dilihat dari sikapnya. Tapi dia hanya mengeluarkan sebuah inti pertanyaan.

"Ahaha.. sudahlah kalian ini. bukannya dia memang seperti itu orangnya?"

"Tapi tetap saja itu tidak sopan Sassskeeeee-kun!" merasa namanya dipanggil seperti itu. Pria bernama Sasuke itupun hanya mendengus kesal.

"Jadi apa yang kau temukan pangeran?" kini pria berambut merah dengan pakaian layaknya Ksatriapun membuka pembicaraan.

"Tadi saat aku sedang mencari Tonton. Didepan ada seorang wanita manis sedang berdiam diri melihat tempat ini." Sasukepun memulai penjelasannya dengan senyum yang terus mengembang.

"Manis itu belum tentu Oppainya besarkan?"

Bugh!

Konan yang mendengar temannya berbicara tidak sopan itupun menjitak kepalanya karena kesal.

"Ittai! Ada apa sih denganmu?!"

"Sekalian aja sana! Kau bergabung dengan Deidara! Kalian berdua ini benar-benar ya! Dia bahkan belum selesai menjelaskan Sasori saus Kacang!"

Sasukepun hanya tersenyum pasrah melihat kedua temannya itu bertengkar didepannya.

"Hah?! Bilang saja kau iri karena kau tidak memiliki OPPAIkan?!"

"Apa kau bilang?! Kau sendiri bahkan tidak memiliki.."

Hening..

.

1

.

2

.

3

.

Semua orang yang berada didalam sanapun memasang wajah senyum yang sangat jelek untuk ditampilkan. Dalam senyuman itu yang mengartikan 'Hayo apa..'.

Blush!

"U-um.. A-ano.. I-itu.." Gugup. Konanpun mulai gemetaran karena menahan malu.

Semuapun mulai semakin penasaran. Tidak lupa dengan senyuman mengejek yang sangat jelek.

"A-Ah Sudahlah! A-Aku sedang sibuk untuk bersiap-siap! Bye!" Karena sudah sangat malu dengan perkataannya. Konanpun pergi meninggalkan mereka yang masih tersenyum mengejek jelek.

Sasuke masih terus tersenyum pasrah melihat tingkah temannya itu. Kemudian ia kembali memikirkan wanita yang baru saja mencuri hatinya hari ini.

"Mungkin aku juga harus bersiap-siap. Setelah itu aku akan menunggunya didepan. Ganbatte Minna untuk latihan kalian ya." Sambil berbalik badan dan terus melangkah meninggalkan teman-temannya.

Bukannya membalas Sasuke. Merekapun saling menatap satu sama lain sambil terus tersenyum ngejek dengan wajah jelek.

.

.

.

.

.

Disebuah Rumah mungil yang masih ricuh dengan suara terburu-buru. Terlihat seorang wanita yang terus memasukkan barang-barang seperti pakaian dan barang-barang berharga lainnya kedalam sebuah koper,tas,dan kotak dus besar.

Dan wanita mungil disampingnyapun hanya menatapnya dengan tatapan tak berkedip.

"K-Kita berangkat hari ini Nee-chan? Ta-tapi.. Kita belum mengambil surat pindah kita dari sekolah Nee-chan."

"Nee-chan akan pergi kerumah Kakashi-sensei hari ini. dan kau ikut bersama Nee-chan. Nee-chan akan meminta surat pindah itu juga dari gurumu." Masih terus membereskan barang-barang yang mau dibawa.

"Nee-chan masih serius dengan semua ini?"

"Tentu saja!"

Wanita mungil yang bernama Hanabi itupun masih tidak menyangka. Cepat sekali ia akan meninggalkan tempat ini. dan tidak akan pernah lagi menemukan teman-temannya termasuk kekasihnya.

Hinata yang masih terus membereskan barang-barang yang mau dibawanya itupun memberhentikan aktifitasnya.

Dengan penuh keyakinan ia menghampiri adiknya dan memegang kedua pundak adiknya sambil berkata "Percayalah. Kita tidak akan lagi terluka."

Hinata menatap intens yang menandakan bahwa ia yakin dengan tujuannya kali ini. ini semua untuk dia dan adiknya. Menurut Hinata ia memang egois. Ia hanya mau adiknya mengerti keadaan dia. Tapi dalam arti sesungguhnya, ia hanya ingin melindungi dirinya dengan adiknya.

Mendapat tatapan yang sangat yakin dari kakaknya. Hanabipun tersenyum dan memeluk kakaknya.

"Aku yakin Nee-chan hanya mau memberi kehidupan kita jauh dari sebuah luka. Aku mengerti Nee-chan."

Hinatapun tersenyum tulus mendapati adiknya yang sudah mengerti maksudnya. Iapun mengelus kepala adiknya dan menyuruhnya untuk bersiap-siap.

"Baguslah kalau kau sudah mengerti. Kalau begitu bersiap-siaplah. Setelah itu kita berangkat untuk meminta surat pindah kita."

"Yoshhhh Nee-chan! Tapi bagaimana? Apa kita bawa semua barang kita hanya untuk meminta surat pindah?"

"Oh iya betul juga."

Hinatapun berpikir untuk bagaimana ia meminta surat pindah tanpa membawa barang-barangnya ini.

"Yasudah nanti kita langsung membawanya saja ketempat Nee-chan akan bekerja."

.

.

.

.

"Nee-chan yakin ini tempatnya? Indah sekali.."

Hinata dan Hanabipun sekarang sudah berdiri didepan tempat yang sangat indah layaknya Istana. Hanabi tidak henti terus memandangi seluruh pemandangan sekitar yang sangat indah dengan bunga-bunga dan air mancur.

"Nee-chan sangat yakin! Ini ada alamatnya kok." Sambil terus memperhatikan papan lucu yang terdapat tulisan alamatnya.

"Ho.. iya benar ini didaerah ini. Tapi seperti tidak ada penghuninya."

Mereka masih sibuk dengan kesibukan mereka dengan terus mencari-cari seseorang didalam Istana itu.

Sasuke yang kebetulan baru sampai. Turun dari mobilnya untuk memanggil mereka.

"Oi!"

Panggilan itu sukses membuat mereka berdua terkejut dan menoleh kearah sumber suara.

"Wahh.. Kau ternyata cepat juga ya. Inikan baru jam 18:35. Aku bilang kembali berkumpul itu jam 20:00." Sambil terus berjalan kearah mereka berdua yang masih kaget meihat style santai yang Sasuke kenakan.

"Nee-chan.. dia tampan sekali. Siapa dia?" berbisik kearah Hinata yang masih tercengang.

Sasuke yang melihat Hanabi berbisik ke Hinata hanya tersenyum tulus kearah Hanabi. Senyuman itu ada artinya.

'Hai'

Ughh!

Hanabipun memerah dengan senyuman itu. Tampan sekali pikirnya.

"A-Ano.. Kami hanya ingin menaruh barang kami disini. Kami akan kesuatu tempat.. tapi kami mau menaruh barang ini terlebih dahulu." Ucap Hinata gugup. Ia juga menunduk tak berani menatap wajah Sasuke yang tampan.

Sasuke yang gemas melihat kelakuan Hinata dan Adiknya itupun hanya tertawa kecil.

"Haha.. Kalian berdua ini lucu sekali sih."

"E-Eh?! K-Kami? L-Lucu?" dengan wajah yang sama-sama memerah mereka bertatapan satu sama lain. Kemudian menunduk secara bersamaan.

Sasuke semakin gemas melihat mereka berdua dan hanya bisa tertawa kecil.

"Haha.. Bagaimana kalau barang kalian kubawa kemobilku saja? Kita berangkat sama-sama." Sasuke menawarkan untuk menaruh dan menaiki mobilnya saja.

"T-Tapi apa tidak apa-apa kami tinggal sebentar? Kami ingin kesuatu tempat dulu." Hinata dengan malu-malu berkata dan masih terus menunduk.

"Memangnya kalian mau kemana?"

"Kerumah wali kelasku dan adikku."

"Surat Pindah ya? Bagaimana kalau kalian memberi alamatnya. Biar aku yang meminta surat pindah kalian." Sasuke menawarkan untuk dia yang meminta surat pindah itu.

"Ja-Jangan.. Kami saja. Kami tidak akan Lama-"

"Aku saja. Karena kita tidak punya banyak waktu. Kalian tunggu dimobil saja nanti."

Hinata merasa Sasuke adalah sosok yang sangat baik hati. Ia tidak menyangka akan bertemu dengan pria seperti dia. Ia bahkan mulai melupakan Naruto sedikit demi sedikit.

"B-Baiklah.. T-Tapi aku mohon Sasuke-Senpai.. Jika sensei kami bertanya siapa Senpai.. Senpai jawab saja kakak sepupu kami. Aku tidak ingin ada gosip.."

"Gosip? Gurupun masih bisa untuk bergosip?"

Hinata hanya menunduk menanggapinya. Ia malu untuk mengakuinya. Sekolahnya adalah sekolah kalangan anak-anak dengan uang yang tinggi. Dan Guru-gurunyapun memiliki kalangan yang sama. Hanya mereka Standart.

"Baiklah kalau begitu. Yosh semuanya naik kedalam mobil!"

Hinata dan Hanabipun hanya mengikuti Sasuke dari belakang menuju mobilnya. Saat semua sudah menaiki mobil. Perjalananpun dimulai.

.

Krikk!

Suara mobil yang berhenti didepan sebuah rumah besar itu menandakan bahwa mereka sudah sampai dirumah wali kelas yang mereka tuju.

"Jadi.. kalian tunggulah disini. Aku akan kembali untuk meminta surat pindah itu." Setelah menyuruh mereka untuk tunggu dimobil. Sasuke langsung bergegas untuk turun dari mobil dan masuk kedalam rumah itu.

Hinata dan Hanabi hanya mengangguk mengerti mendapat perlakuan dari pria tampan itu.

.

.

Setelah beberapa menit menunggu untuk Sasuke kembali membawa surat pindah. Akhirnya batang hidungnyapun terlihat. Ia terlihat merasa bangga berhasil mendapatkan surat itu. Terlihat dari tingkah lakunya yang mengerlingkan mata kepada mereka berdua yang sedang menunggu didalam mobil.

Hinata hanya tersenyum puas melihatnya.

Setelah itu Sasuke masuk kedalam mobil dan langsung memberikan surat itu kepada Hinata. Dengan malu-malu Hinata menerima surat itu dari Sasuke.

"Okey. Sekarang apa tujuan kedua kita?" Sasuke memposisikan tempat ia mengemudi untuk menuju tempat selanjutnya.

"Wali kelas aku Senpai. Tidak terlalu jauh dari perumahan sini. Karena aku sering melihatnya didaerah sini juga." Jelas Hanabi sambil menunjukan kearah gang berikutnya.

"Baiklah kalau begitu. Sekarang sudah jam 19:20. Masih ada waktu untuk meminta surat pindah." Sasuke melajukan mobilnya tanpa menoleh kebelakang. Ia sedang fokus dengan tujuan yang ditunjuki Hanabi.

"Kita pasti terlambat Senpai. Bukankah kita harus berkumpul jam 20:00?" Ucap Hinata panik. Ia merasa sudah sangat merepotkan Sasuke.

"Haha.. tenang saja. Kita nanti langsung menuju bandara saja. Kan pesawatnya juga jam 22:00." Sasuke masih terus fokus mengemudi sambil merespon Hinata.

Sungguh sangat merepotkan menurut Hinata. Hari ini ia harus berterima kasih banyak pada pria itu. Mengapa? Pekerjaan, Kebaikan, dan kenyamanan pria itu membuat Hinata merasa ini sudah sangat lebih dari cukup untuk bertemu pria seperti Sasuke.

"Arigatou Senpai.. Kau memang sungguh baik sekali." Ucap Hinata pelan. Namun masih dapat didengar Sasuke. Dan hanya dibalas senyum dibalik kaca dari Sasuke pada Hinata.

Dan Hanabi terus menunjukan lokasi tempat Senseinya tinggal.

.

.

Krikk!

Mobil kembali terhenti. Dan merekapun sampai ditujuan kedua mereka.

Sasukepun dengan cepat menyuruh mereka untuk tetap menunggu. Setelah itu Sasuke turun dari mobil dan berlari kecil kearah rumah tersebut.

Hinatapun mulai merasakan kehangatan pria itu. "Sungguh baik.." Gumamnya tanpa berhenti memandang Sasuke yang sedang menekan bell rumah.

Hanabi hanya tersenyum kecil melihat kakaknya itu. "Hihi.. Nee-chan jatuh cinta ya?" Senggol Hanabi sukses membuyarkan pandangan Hinata pada Sasuke.

"A-Apasih.. Ti-Tidak kok. Aku hanya bilang dia baik. Sangat baik." Tepis Hinata pada Hanabi.

"Tapi dari tadi Nee-chan memperhatikannya loh.."

"Bukan berarti aku suka padanya kan?" Hinata memalingkan pandangannya kedepan. Terlihat jelas dari mukanya yang memerah bahwa ia sangat malu dipergoki adiknya sendiri sedang memandang pria yang bernama Sasuke itu.

"Siapa taukan? Cintakan bisa datang dimana saja.." Hanabi kembali menggoda kakaknya sendiri. Hinata hanya terus tak berkutik. Diam tanpa kata dan terus memandang kedepan.

Hanabi yang melihat perlakuan kakaknya kembali menghelakan nafas. "Haaa.. Jangan muda jatuh cinta Nee-chan. Naruto-nii aja belum selesai urusannya."

"Jangan bicara soal dia lagi. Aku sangat tidak mau mendengarnya."

Hanabi hanya tersenyum mengerti. Menurutnya ini adalah jalan terbaik untuk membahagiakan kakaknya sendiri. Kakaknya sudah tidak ingin membahas yang lalu. Karena ia sudah tidak memikirkannya lagi.

"Lihat! Dia sudah keluar. Tapi kacau sekali penampilannya." Tunjuk Hanabi melihat Sosok Sasuke yang keluar dengan pakaian yang sedikit berantakan dan rambutnya juga ikut berantakan.

Mereka hanya melihat keadaan Sasuke yang jalan sempoyongan menuju mobil. Hinata yang melihat itupun turun dari mobil dan menghampirinya. Ia berlari kecil menuju Sasuke yang sedikit berantakan itu.

"A-Ada apa Sasuke-Senpai?! A-Apa yang terjadi Sasuke-Senpai?!" Hinata terlihat begitu panik menghampiri Sasuke yang sempoyongan.

Sasuke hanya tersenyum puas dan menunjukan pada mereka bahwa ia berhasil mendapatkan suratnya itu.

"Sempat dikejar peliharaannya si Sensei itu. Bukan sempat lagi. Tapi memang dikejar saat aku melewati ruang tamunya."

Hinatapun hanya menahan tawa mendapat jawaban itu dari Sasuke. Pria tampan sepertinya masih takut terhadap anjing rumah.

"A-Awalnya dia memang menjilatiku. Setelah itu ekornya bergoyang dengan cepat dan berlari mengejarku. A-Apaan itu tadi! Sangat tidak keren!" ucapnya sambil menjelaskan bagaimana anjing itu mengejarnya.

"I-Itu tandanya.. D-Dia menyukaimu Senpai. Mungkin dia ingin bermain." Jawab Hinata sambil tertawa kecil.

"Mungkin.." Jawabnya singkat dan tersenyum didepan Hinata. Hinata hanya menunduk mendapat senyuman pesona Sasuke.

Kemudian ia kembali melirik jam tangannya. Sudah menunjukan pukul 20:17. Sasuke langsung menarik Hinata untuk segera naik kedalam mobilnya.

"Kita sudah sangat telat!" ujarnya sesampai dikursi pengemudi. "Apa semua sudah naik?" ia memeriksa keadaan Hinata dan Hanabi apakah mereka sudah naik. Hinata dan Hanabi hanya mengangguk. "Baiklah kalau begitu. Pasang sit belt kalian. Kita sudah telat."

"Baiklah-"

BRUMMM!

Sasuke dengan cepat menginjak gas pada mobil. Hinata dan Hanabi terkejut dengan mobil yang langsung melaju begitu cepat. Dan merekapun menuju Bandara untuk keberangkatan mereka.

.

.

.

Suara pesawat beterbangan ada dimana-mana. Tidak sunyi dan tidak sepi. Orang-orang yang akan bepergian keluar kota atau keluar negeri datang ketempat itu untuk pergi dan datang. Dan kali ini segerombolan manusia-manusia badut dan berkarakter yang sedang berkumpul ditempat itu.

Mereka seperti sedang menunggu seseorang yang mereka tunggu namun belum datang.

"Si pangeran itu.. Apa dia masih lama?!" pria berambut pirang panjang itupun akhirnya membuka pembicaraan disela-sela waktu menunggu.

"Ini sudah jam berapa.. haduh." Tidak lupa dengan Sasori yang menggeleng-gelengkan kepalanya.

Namun mereka berkomentar diwaktu yang tepat. Tidak beberapa lama kemudian muncul orang-orang yang mereka tunggu. Terlihat jelas dari wajah buru-buru sang pangeran yang melambai-lambaikan tangan pada mereka.

"Itu dia disana. Ya ampun.. dengan siapa dia? Kawaii~" Nagato tidak hanya memerhatikan Sasuke saja. Ia juga melihat sosok-sosok bidadari dibelakangnya.

Sasuke terus berlari kecil kearah mereka, tidak lupa disusul Hinata dan Hanabi dari belakang yang ikut berlari kecil sambil membawa koper dan beberapa barang mereka.

Itachi dan yang lainnyapun hanya tersenyum bahagia melihat kedatangan mereka.

"H-Hey! M-Maaf.. hahh.. hahh.. kami telat sekali ya?" Sasuke berusaha menetralkan nafasnya.

"Sedikit telat.. ini sudah jam 21.45. 15 menit lagi pesawat sudah tiba." Nagato melirik jam tangan yang ia kenakan.

"Ah.. Baguslahh kalau begitu.." Ucap Sasuke yang masih terus menetralkan nafasnya.

"Oh ya.. perkenalkan. Mereka yang akan ikut ajang besar kita ini di Eropa." Sasuke memperkenalkan Hinata dan Hanabi pada teman-teman teamnya.

"Yang ini namanya Hinata. Dia yang akan berdampingan denganku diacara ini."

"Ha-Hajimemashite.. Minna-san.." Hinata membungkuk salam perkenalan.

"Nah.. kalau yang versi kecilnya ini, adiknya. Namanya Hanabi.." Sasuke kemudian memperkenalkan teman-temannya kepada Hanabi.

"Holla.." Hanabi melakukan lambaian kecil.

/BLUSHH/

'KAWAII!' Seketika para kaum Pria Blushing!

Sukses membuat para senpainya mati gaya karena menurut mereka Hanabi sangat Kawaii.

Konan hanya tertawa kecil melihat tingkah teman-temannya. "Hajimemashite.." Konan membalas bungkukan Hinata dan adik kecilnya.

"Ha-Hanabi-chan.. Nanti duduk sama aku saja ya dipesawat." Deidara mendekatinya sambil berbisik malu-malu pada Hanabi.

Tidak menerima kecurangan dari Deidara. Sasoripun menarik tas bawaan yang Hanabi bawa sedari tadi.

"Kau pasti lelah ya membawa banyak barang berat seperti ini. Biar aku yang bawa ya."

"KALIAN CURANG!" Nagato dan Itachi tidak menerimanya. Merekapun akhirnya berebutan untuk membawa semua barang bawaan Hanabi.

"A-Aku bisa membawanya sendiri kok.." Hanabi hanya tersenyum khawatir dan mengambil tasnya kemudian meminggir sedikit dari pertengkaran para lelaki itu.

"Apa mereka selalu seperti itu Sasuke-san?" tanya Hinata pada Sasuke.

"Ya. Mereka slalu seperti itu. Kalau tidak seperti itu.. Suasana disini tidak akan pernah selalu menyenangkan. Haha.." balas Sasuke sambil tertawa.

Konan kemudian menghampiri Hinata yang sedang berbicara dengan Sasuke.

"Jadi Hinata-san.. Dimana Tiketmu?"

"E-eh? O-Oh iya.. tunggu sebentar.." Hinata kemudian mencari-cari papan kecil yang ia temukan hari ini. Dan setelah menemukannya, ia memberikannya pada Konan dengan senyuman yang masih terukir diwajahnya.

Konanpun membalas senyumannya dan mengambil papan kecil itu. "Kalau begitu, kalian tunggu disini. Aku akan menukarnya." Belum sempat Konan melangkah untuk pergi. Hinata meraih pundaknya.

"A-Ano.. Aku ikut menemanimu ya." Pinta Hinata masih malu-malu.

"Yuk!" Konan meraih tangan Hinata dan mengajaknya pergi untuk menukar Papan kecil itu sebagai tiketnya.

.

"Oh ya.. Kau pasti belum mengenali namaku ya. Namaku-"

"K-Konan-Senpai.." potong Hinata.

Konanpun terkejut. Ia sangat terkejut Hinata mengetahui namanya. Tapi darimana?

"Ahaha.. Konan-Senpai tidak usah terkejut seperti itu. Kaukan.. Senpaiku. Mungkin kau tidak mengenaliku. Namun kau cukup populer disekolah. Tidak denganku.." tunduk Hinata.

"Memangnya kau satu sekolah denganku? Tapi aku tidak pernah melihatmu."

"I-Itu karena aku tidak dikenal banyak orang." Masih menunduk.

"Wahh.. senang sekali bisa satu ajang besar dengan teman satu sekolahku. Kau benar-benar hebat juga ya bisa ikut ke acara seperti ini." Konan berusaha untuk membanggakan sosok Hinata.

"S-Senpai.."

"Aku tidak merasa aku ini populer. Mungkin mereka yang menganggapku begitu. Sekolah itu sangat menjijikan. Siapapun bisa berteman dengan siapa saja kalau mereka memiliki uang. Bahkan wanita dan pria disana itu egois. Aku tidak betah berlama-lama disana."

Konan kemudian menatap kearah Hinata dengan penuh kebahagiaan.

"Kau beruntung bisa ikut dengan kami. Dan keluar dari sekolah seperti itu. Aku merasakan bahwa wanita manis sepertimu tidak pantas berteman untuk kalangan seperti itu."

"Bu-bukankah.. menjadi populer itu hebat?" Hinata masih terus menunduk tanpa menatap Konan.

Konan mengerti maksud Hinata. Ia kemudian berhenti. Hinata ikut berhenti dan terkejut melihat Konan yang mendadak memegang kedua pundaknya.

"Apa yang membuatmu berfikir orang-orang hebat itu harus populer? Mereka yang menganggap orang-orang sepertiku populer itu bodoh! Apa yang harus dihebatkan dengan wanita kutu buku sepertiku ini? aku hanya membaca buku saja sudah dijuluki Populer. Apa kau tidak membaca buku? Apa semua orang didunia ini tidak pernah membaca buku? Mereka bahkan belum pernah melihat bakatku Hinata." Ucap Konan dengan wajah yang masih menatap intens pada Hinata.

"Mereka mengatakan aku Populer. Karena aku dari kalangan bangsawan." Senyum Konan pada Hinata. "Wanita sepertimu itu harus membuktikan pada dunia. Bahwa kau berbakat tanpa derajat orangtuamu. Itu baru yang namanya Hebat."

Hinata membulatkan matanya. Tidak percaya Senpainya yang menurutnya pendiam dan sangat dikenal banyak orang dikalangan sekolahnya itu memberikan semangat hidup padanya.

Iapun kemudian memeluk Senpainya itu dengan penuh rasa terima kasih.

"Arigatou Senpai.. Arigatou.." dan airmata Hinatapun keluar. Ia mengeluarkan semua perasaannya dengan pelukan hangatnya pada Konan.

Konan tidak hanya berdiam saja. Ia membalas pelukan Hinata dengan sangat senang bisa memulai pertemanannya dengan Hinata.

"Ingat yah.. Kau pasti akan menjadi populer dan hebat."

.

.

"Mereka lama sekali.. Ini sudah saatnya berangkat." Ujar Sasuke sambil melirik jamnya yang sudah menunjukan pukul 21.59.

"Hey! Maaf membuat kalian menunggu lama. Tadi kami mengantri untuk menukarnya." Konan memanggil dari arah belakang Sasuke berdiri.

TING TUNG

"Pesawat Tanabichi nomor 8906 tujuan Italia telah tiba. Harap para penumpang mempersiapkan tiket anda dan perhatikan barang-barang bawaan anda. Sekali lagi kami ingatkan untuk berhati-hati dan diharapkan segera menaiki Pesawat Tanabichi tujuan Italia. Terima kasih."

"Wah! Pas sekali yah! Ayuk kita semua sudah saatnya untuk berangkat!" Ucap wanita berambut coklat yang paling bersemangat.

"Tapi sebelum kita berangkat.. Selfie dulu untuk kenangan terakhir kita dijepang! Ayuk semuanya kita kumpul! Sini-sini..!" Tambah wanita seksi yang sudah siap mengambil gambar.

"Benar kata Ayame-chan! Sudah saatnya berangkat! Benar juga kata Mei-san! Selfie dulu yuk!" Kurenai menarik semua teman-temannya untuk berfoto.

"Semuanya sama-sama katakan Sayonara ya!" Teriak Mei pada semua rekan teamnya untuk mulai bergaya dan mengatakan Selamat tinggal.

1

.

2

.

3

.

"SAYONARA~!"

Semuanyapun berteriak dengan bahagia dan..

CKREEK!

Satu kali memencet layar sentuh dihandphonenya itupun mampu mengambil seluruh gambar dengan sempurna.

.

.

.

Didalam foto itu terlihat Hinata dan Hanabi yang sangat bahagia..

Sepertinya Hinata akan memulai Hidup barunya..

Memiliki Teman Baru..

Suasana Baru..

Dan..

Keluarga Baru..

.

.

.

.

.

-Disisi Lain-

Pria pirang itu terus membayangkan hari esok dimana ia akan memperkenalkan ibunya pada Wanita yang sudah merebut hatinya.

Ia tersenyum bahagia..

Tidak sabar menunggu hari esok. Menurutnya.. Jika ia memperkenalkan Ibunya pada Hinata. Ibunya akan menyukai Hinata dan akan menyetujui hubungan mereka berdua. Dan dengan itu, Hinata tidak akan pernah lagi meragukan perasaannya.

"Tunggu saja Hinata.. Aku akan membuatmu benar-benar tidak meragukanku lagi! Sebagai seorang Namikaze Naruto! Aku tidak akan pernah main-main dengan tujuanku! Aku akan membuatmu menjadi milikku!" Naruto terus meyakinkan dirinya.

"Tunggu saja Hinata."

.

.

.

"Kau akan menjadi milikku bagaimanapun caranya.."

.

.

"Aku tidak akan membiarkan seseorang merebutmu dariku.."

.

.

"Tidak ada yang boleh mengambil milik Namikaze Naruto.."

.

.

"Tidak boleh.."

.

.

"Hinata.."

.

.

"Kau hanya milikku.."

.

.

"Milikku.."

.

.

Dan pria tampan itupun terlelap dalam tidurnya untuk menunggu hari esok.

.

.

.

.

Dia hanya tidak tahu bahwa..

Wanitanya sudah tidak lagi berada disekitarnya..

.

.

Dan sudah bersama seseorang yang lebih baik darinya.

.

.

.

.

.


-TBC-


.

.

A/N :

Bagaimana Readers? Apakah sudah membuat kalian berimajinasi dengan baik dengan ceritaku?
Gomen lagi ya.. untuk tidak Update selama 6 bulanan huhu.. pasti kalian semua menunggu kelanjutannya maaf banget ya Minna-san.. Imajinasiku selama itu berjalannya

Makasi untuk Readers setianya.. :D

Maaf jika masih ada Typo dan kalimat yang tidak dimengerti GOMEN GOMEN GOMENNNNNNASAAAIIII !

Untuk Chapter selanjutnya.. Saya akan berimajinasi! Kali ini pasti cepat! Karena sebentar lagikan puasa.. Saya pasti bosan tuh nunggu buka puasa.. jadi saya pasti lebih memilih untuk mengetik dan berimajinasi haha..

Sekali lagi Arigatou yang masih setia membaca fic ini..

Dan Gomenasai buat waktu yang cukup lama

.

.

By to the way..

Mind Reviewnya?