Hai Minna-san! Bagaimana cerita sebelumnya? Sudah cukup membaik?
Makasi untuk semuanya yang masih mau membaca fic aku ini. Mengingat aku ini seorang Newbie.. Tapi aku tetap berusaha untuk menjadi yang terbaik!

Untuk Chapter 7 ini.. Mungkin maaf jika sedikit lama.. Karena Chapter 7 ini saya masih terus memikirkan alur cerita dan kelanjutan seterusnya.. dan karena disini saya Author.. Saya juga akan memikirkan alur cerita ini berdasarkan kemauan saya :D

Untuk para pembaca.. Harap berimajinasi sesuai yang kalian baca difanfic saya ini.. Hehe..


.

.

.

.

.

.

.


Naruto Will Be Always with Masashi Kishimoto Sensei ^^

Pair : NaruHina Canon x MenmaHana (Bukan Canon)


WARNING!

Jika sebagian dari anda tidak menyukai cerita atau pair ini. Saya ingatkan untuk tidak membacanya. Dan jika sebagian dari anda masih ngotot untuk baca. Sakitnya akibat pair ini adalah kesalahan dari diri anda yang masih berniat untuk membacanya. Jika tidak menyukai fic ini, anda boleh membaca fic yang lainnya. Karena saya adalah Pemula disini.

-Terima kasih-


.

.

.

.

Selamat Membaca

.

.

.

.


Pemandangan jepang yang masih terhiasi dengan suasana kota malam yang indah dari atas. Masih terus membuat gadis kecil yang sedari tadi sangat terkagum-kagum dengan keindahan malam tanah airnya tersebut.

"Wahh.. Ternyata tanah air kita ini, sangat indah ya dimalam hari."

"Kau baru pertama kali naik pesawat ya Hana-chan?" ucap pria berambut pirang panjang yang sedari tadi memperhatikan wanita kecil yang duduk tepat disebelahnya.

Hanabi yang masih terus melihat pemandangan Jepang dari atas itu hanya mengangguk antusias.

"Kalau begitu lain kali aku akan mengajakmu sering-sering naik pesawat."

Hanabi langsung menengok kearah pria itu dengan cepat. "B-Benarkah?!"

Pria itu perlahan mendekati wajahnya kearah kuping Hanabi. Kemudian membisikan sesuatu.

"Tapi cuman berdua aja ya."

/Blushhhh/

Wajah Hanabi seketika memerah parah. Ia langsung menatap pria itu dengan malu-malu. Kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya dan mulai tertawa kecil.

"Ahahaha.." Pria itupun ikut tertawa kecil melihat gadis kecil didepannya yang bertingkah sangat menggemaskan.

"Deidara-Nii.. Perjalanan ke sana itu berapa lama? Dan kira-kira kapan kita akan sampai disana?" Hanabi kemudian kembali memperhatikan pemandangan dibawah. Matanya kemudian meredup seketika menyadari bahwa semakin lama kota yang sedari tadi ia pandangi semakin menghilang menjadi lautan yang gelap pada malam hari.

Deidara berfikir..

"Hmm.. Entahlah. Yang kutahu Benua Eropa itu sangat jauh dari Asia. Mungkin akan membutuhkan waktu yang cukup lama."

Hanabi terkejut mendengarnya. Sejauh itukah pikirnya? Butuh waktu lama artinya untuk bisa kembali kejepang dan bertemu dengan Menma kembali.

Deidara kemudian menyadarkan pikirannya. "Kau tidur saja makanya. Yang lain saja sudah tertidur." Sambil menyenderkan kepalanya kebelakang tempat duduk.

Ia kemudian melihat kesekelilingnya. Dimulai dari bagian depannya, belakangnya, dan bagian sebrang tempat mereka duduk. Hanabi dapat melihat dengan jelas kakaknya tertidur pulas dipundak Sasuke yang ikut tertidur.

Posisi mereka duduk dibilang terpisah karena para boys ingin duduk dengan Hanabi. Kali ini Hanabi berposisi duduk dibagian dekat jendela, sementara Deidara dibagian tengah, kemudian ada Sasori disebelahnya yang sudah tertidur pulas juga.

Sementara Hinata duduk dibagian yang sama seperti Hanabi hanya dia berada diseberang tempat duduk Hanabi berada. Dan dibagian tengahnya terdapat Sasuke. Lalu disebelah Sasuke ada Itachi.

Hanabi menajamkan penglihatannya saat melihat Sasuke merangkul kakaknya untuk tidur dengan posisi nyaman dibagian pundaknya.

'Hufhh.. Aku jadi bingung mau diposisi siapa untuk Nee-chan.' Batinnya dalam hati.

Kemudian ia terlelap dalam tidurnya karena ia sudah mulai merasa pusing akibat ia masih belum terbiasa naik pesawat.

.

.

.

Semuapun sudah tertidur pulas. Tidak dengan Konan. Ia masih terus terjaga. Ia masih terus memperhatikan ponselnya yang menjadi pusat perhatiannya dari tadi.

"Apa okaa-san dan otou-san benar-benar peduli ya padaku? Apa mereka akan mencariku?"

Masih terus memperhatikan ponselnya. Lock screen didalam ponsel tersebut terdapat sebuah foto. Ada sang ayah, ia dan ibunya. Konan masih terus memperhatikan foto keluarga kecilnya.

"Kurasa tidak." Ia lalu memasukan ponselnya kedalam tas kecilnya. Dan melihat-lihat suasana sepi. Ya. Orang-orang sudah tertidur pulas karena mereka pasti sudah sangat kelelahan.

Konan hanya tertawa kecil melihat kedua insan yang menjadi pusat perhatiannya sekarang.

Sasuke dan Hinata.

"Dasar mereka."

.

.

Pagi-pagi yang biasa sudah menjadi keributan dikeluarga Namikaze, kini hanya suasana sepi tanpa kehidupan. Pagi-pagi yang biasa sudah menjadi suatu kebiasaan tawa, kini hanya suasana hening tanpa ada yang berbicara.

Wanita berambut merah masih terus mempersiapkan sarapan dan bekal untuk suami dan anaknya. Tangannya yang halus masih terus memasukan lauk demi lauk kedalam kotak bekal.

Tap Tap Tap

"Ohayou.. Anata." Sapa wanita tersebut kepada suaminya yang sudah rapih ingin berangkat bekerja. Namun ia tidak antusias seperti biasanya. Mungkin masih dalam kondisi yang canggung karena hal semalam.

"Ohayou.." jawab sang suami.

Kemudian mereka berdua kembali terdiam satu sama lain.

Wanita tersebut kemudian menyiapkan sarapan untuk suaminya. Ia lalu membuatkan secangkir teh hangat seperti biasa untuk suaminya. Setelah semua sudah disiapkan. Ia membawa sarapan suaminya dengan nampan ke meja makan.

"Kushina.."

"Tak apa. Kaulah kepala keluarga disini. Aku tak berhak ikut campur dengan urusanmu." Masih terus menyiapkan makanan untuk suaminya.

Setelah itu Kushina kembali menyiapkan sarapan untuk kedua anaknya. Ia tidak memperhatikan raut wajah yang tersirat diwajah suaminya. Seakan mengatakan..

'Jangan seperti ini..'

"Aku akan membangunkan anak-anak." Ucap Kushina setelah menyelesaikan kegiatannya menyiapkan sarapan.

Minato hanya terdiam tanpa kata.

Kushina berjalan melewati Minato begitu saja tanpa aura hangat sedikitpun. Ia kemudian menaiki anak tangga untuk beranjak kekamar anak-anaknya.

Setelah Kushina telah menghilang dari hadapan Minato. Minato hanya mampu menggebrak meja dengan pelan karena ia masih dapat menahan emosinya.

Brak-!

"Kenapa semua menjadi seperti ini?! Apa yang harus kulakukan!?" Kini ia frustasi karena kelakuannya yang membuatnya seperti ini. ini semua sudah menjadi kesalahan yang besar untuk keluarganya. Ia benar-benar tidak menginginkan yang seperti ini.

.

"Naruto.. Menma.. Sekolah sayang."

Masih terus menggoyang-goyangkan tubuh mereka berdua yang tertidur pulas. Kushina memandang kedua wajah tampan anaknya itu. Mereka sama-sama memiliki garis kumis yang sama. Kulit tan yang sama. Dan cara tidur yang sama.

"Entah aku harus bagaimana agar bisa membuat kalian berdua bahagia." Pelan namun dapat didengar oleh keduanya.

"Sudahlah Kaa-san. Tidak perlu khawatir. Kita akan baik-baik saja." Ucap Naruto yang masih terus tertidur namun ia sadar dengan apa yang baru saja diucapkan Kaa-sannya.

Kushina hanya tersenyum menyedihkan melihat anaknya yang masih bisa mengontrol kondisi mereka.

"Aku benci tou-san.."

Naruto melirik adiknya yang memunggungi mereka berdua. Menma terlihat bergetar karena masih terpukul dengan kejadian semalam. Ia kemudian memposisikan tubuhnya duduk disamping ranjang yang membelakangi ibu dan kakaknya sendiri.

"Menma.. Jangan bicara seper-"

"Apa? Kaa-san juga menyetujuinya? Kalau begitu aku juga benci dengan kaa-san."

Kushina terkejut mendengar Menma berbicara seperti itu dengan masih memunggunginya.

"Menma! Kau ini apa-apaan-"

"Naru-nii juga setuju? Kalau begitu aku benci dengan Naru-nii! Aku benci kalian! Aku benci keluarga ini! Aku sangat benci terlahir dikeluarga ini! NARUTO-NII Tidak merasakan apa yang aku rasakan!"

Kushina tidak bisa menahannya lagi. Ia kemudian menghampiri anak bungsunya itu dan menamparnya akibat perkataan yang ia keluarkan.

PLAKK!

"Cukup Menma!" menatap Menma yang tidak membalas menatapnya.

"Kau sudah keterlaluan!"

Menma kemudian berdiri dan menatap ibunya.

"Baiklah kalau begitu." Dan meninggalkan ibunya yang masih menatap kepergiannya.

Menma kemudian terdiam sebentar.

"Apa yang kupelajari itu benar. Manusia akan selalu egois kalau itu memang ada maunya dari diri mereka sendiri." Dan setelah itu Menma pergi menuju kamar mandi untuk bersiap-siap kesekolah.

Kushina masih tak menyangka dengan apa yang baru saja ia katakan. Tubuhnya seketika merosot kebawah dan tangannya menutup kedua wajahnya. Apa yang baru saja dia lakukan? Menampar anak kesayangannya.

"K-Kaa-san.." Naruto turun dari ranjangnya dan menghampiri kaa-sannya yang sudah terpukul.

"Apa yang baru saja kulakukan.."

"Kaa-san.."

"Apa yang sudah kulakukan?"

"Kaa-san.. Menma tadi Cuma-"

"Apa tadi itu menyakitkan untuknya Naruto?"

Naruto terus memandangi kaa-sannya yang masih menangisi kejadian tadi.

.

.

Kushina dan Naruto sudah kembali kemeja makan untuk sarapan bersama. Naruto sudah siap untuk berangkat kesekolah. Sementara mereka sama sekali tidak menemukan Menma dimeja makan. Hanya Minato yang masih terus membaca koran sambil meminum tehnya.

"Anata.. Apa kau melihat Menma?" tanya Kushina disela-sela Minato sedang meminum tehnya.

"Dia sudah berangkat kesekolah. Dia bahkan tadi tidak melihat kehadiranku saat meminum tehnya."

"Apa dia sarapan?" Kushina kembali bertanya.

Minato hanya terdiam. Gerak-geriknya memperlihatkan Kushina untuk melihat ke meja.

Dan disitu masih ada sarapan Menma dan Naruto yang masih utuh.

"Tapi dia membawa bekalnya bukan?"

Minato masih seperti tadi. Dan terlihatlah bekal yang masih utuh tanpa disentuh sedikitpun.

Kushina kembali bergetar. Kali ini ia tidak mau memperlihatkan kesedihannya didepan suaminya. Namun cukup bisa dirasakan oleh Minato aura kesedihan Kushina.

Minato kemudian melirik kearah Kushina dan Naruto yang hanya berdiri diam tanpa kata. Naruto masih terus mengelus pelan punggung Kushina. Kini Minato yang kembali bergetar.

"K-Kushina.. Apa yang terjadi padamu?" Minato berdiri menghampiri istri kesayangannya dan memeluk Kushina dengan hangat.

Minato berusaha menenangkan Kushina yang masih terus bergetar.

"Aku tak bisa mengendalikan diriku tadi." Terus bergetar tanpa memperdulikan raut kekhawatiran yang terukir diwajah suaminya.

"Dan aku menamparnya." Kushina mengingat kejadian tadi terjadi kembali dikepalanya. Ia berpikir bahwa ia tidak pernah memukul atau bertindak kasar terhadap anak kandungnya sendiri.

Terutama Menma adalah anak kesayangannya. Namun ialah yang menjadi korban pertama untuk Kushina.

Yaitu mendapat sebuah tamparan.

Naruto hanya prihatin melihat kondisi Ibunya itu. Ia kemudian melirik jam yang berada didinding. Jam menunjukkan pukul 6.30 a.m. pikirnya ia tumben secepat ini untuk kesekolah. Ia baru tersadar, ia slalu terlambat karena ia slalu sarapan dengan waktu yang sangat lama. Dan sekarang ia tidak sarapan pagi.

Mengingat ia juga memiliki janji dengan paman Jiraiya dan Sakura.

"Kaa-san.. Aku akan membicarakan baik-baik dengan Menma selesai pulang sekolah. Aku ada janji dengan seseorang.. Aku duluan Kaa-san! Jangan bersedih lagi." Setelah berpamitan dengan kedua orangtuanya. Naruto mencium pipi Kushina dengan hangat. Ia tidak mau melihat kaa-sannya bersedih dipagi hari.

Belum sempat Kushina membuka suara. Naruto sudah hilang dari hadapannya. Ia memang terlihat sangat terburu-buru.

"Dasar anak itu." Gumam Minato yang mengelus punggung Kushina menenangkan perasaannya.

Kushina kemudian menatap suaminya itu. Ia berharap bisa mendapat sesuatu yang membuatnya senang dari suaminya. Suaminya hanya menatapnya dan tersenyum.

"Dia akan baik-baik saja."

Bukan itu yang diharapkan Kushina. Bukan Kalimat itu.

.

.

.

Naruto terus berlari menuju sekolahnya. Secepat mungkin ia berlari karena ia memiliki janji yang sangat penting yang mempertaruhkan hasil absen sekolahnya. Semua orang yang ia tabraki mengeluh kesal padanya. Semua kalimat hina keluar dari mulut orang-orang yang ia lewati.

'Kuso! Aku tak peduli apa yang mereka katakan padaku! Aku harus sudah ada disana dengan cepat!' Batinnya yang masih terus berlari.

Semakin cepat ia berlari sampai ia lupa sesuatu.

1

.

2

.

3

"KUSSSOOOOOOOOOO! APA YANG KULAKUKAN?! AKU SANGAT TERBURU-BURU SAMPAI AKU LUPA KALAU AKU BISA LEBIH CEPAT MENAIKI MOBIL! BAKAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!" Ia berhenti ditengah jalan. Membuat semua orang memandangnya dengan tatapan lebih kesal lagi. Bagaimana tidak? Orang seperti dia pagi-pagi sudah menabrak orang-orang dan sekarang berteriak tidak jelas ditengah jalan. Sudah cukup memalukan seharusnya. Namun seperti yang kalian tahu, Namikaze Naruto sama sekali tidak memiliki urat malunya sehingga dipemikirannya sekarang 'masa bodo'.

Dengan cepat ia berlari kembali kearah rumahnya. Kali ini dengan kecepatan yang luar biasa cepatnya. Lebih cepat dan cepat sampai ia susah untuk mengontrol nafasnya.

Orang-orang yang sebelumnya ia tabraki itu kembali ditabrak lagi olehnya. Kali ini Hinaan itu lebih pedas dan lebih sadis dari yang sebelumnya. Naruto masih terus berlari sampai ia tidak bisa mengatur nafasnya kembali.

"Hahh.. Hahh.. Hahh.."

Setelah terus berlari sampai dirumah. Ia kemudian mengambil kunci dari tasnya. Namun yang ia dapat adalah kunci motor Sportnya. Tidak ada pilihan lain baginya. Jadi ia memutuskan untuk menaiki motor Sport itu.

Naruto langsung menaiki motor itu dan menggunakan helm yang sudah tersedia dimotornya itu. Ia memasang kuncinya dan kemudian menyalakan motornya. Motor dipanaskan terlebih dahulu sebelum ia berangkat. Setelah sudah bisa untuk dijalankan. Ia segera melaju dengan kecepatan penuh menuju Sekolahnya.

Disetiap perjalanan ia melihat orang-orang yang lebih terburu-buru darinya. Namun orang-orang itu dalam pekerjaan. Sementara sosok Naruto hanya untuk Pria tua yang mesum.

"Dasar Paman Mesum!" Kemudian ia kembali fokus dalam perjalanannya.

.

.

Dengan cepat ia memarkirkan kendaraannya dan berlari menuju gerbang sekolahnya. Ia berlari dengan cepat hanya untuk menyelesaikan tugasnya ini. Siswa siswi disana hanya terkejut melihat seorang Namikaze Naruto datang lebih awal. Namun Naruto tidak menanggapinya, ia hanya berfokus pada tempat tujuannya.

Pos Paman mesum itu.

Tidak lama kemudian terlihatlah sosok yang ia cari. Pria itu menyadari kedatangan Naruto dan melambai-lambaikan tangan kearah Naruto. Sebenarnya lebih tepatnya paman itu sudah menunggu Naruto.

.

"Ohayou Naruto!" Dengan senyum yang begitu besar paman itu menyapanya.

Naruto langsung menuju to the topic aja. Karena dia tau kalau berlama-lama dengan paman mesum itu, semua orang akan berpikir bahwa Naruto memiliki sifat yang sama dengan paman itu.

Naruto dengan cepat menggeleng-gelengkan kepalanya memikirkan apa yang ia pikirkan.

"Nih! Isi semuanya dengan lengkap! Sekarang! Jangan Lama!" Sambil menyodorkan sebuah formulir dari Bar Sakura. Formulir itu berisikan sebuah data-data yang akan ditulis atas kepribadian seseorang yang ingin berlangganan datang ke Bar terbesarnya.

Dengan wajah bercahaya, Paman mesum itu mengambilnya dengan senang. Senyum yang begitu ada 'artinya' tumbuh diwajahnya itu.

"Baiklah Naruto! Kau tunggu disini sebentar ya. Aku akan mengisinya dulu." Kemudian pria itu masuk kedalam posnya untuk mengisi formulir tersebut.

Sementara Naruto hanya mengangguk dan menunggu pria itu untuk cepat menyelesaikan tugasnya.

Masih terus menunggu paman mesum itu ia melirik jam tangan yang ia kenakan. Jam menunjukan pukul 6.54 a.m. Ia begitu panik saat melihat beberapa menit lagi bel akan berbunyi.

Baru saja ia ingin meneriaki paman mesum itu, Pria itu sudah keluar dan memberikan formulir yang sudah ia isi itu. Tanpa basa basi Naruto menerima formulir itu dan kemudian meninggalkan pria itu untuk pergi kekelasnya.

"Semoga berhasil Naruto!" Teriak Paman Jiraiya kepada Naruto yang berlari kedalam gedung sekolahnya dengan terburu-buru.

'Dasar paman mesum sialan!' batinnya dalam hati yang sempat mendengar paman Jiraiya menyemangatinya. Dan terus menuju kelasnya.

.

BRAKK!

Bunyi pintu yang digeser dengan kasar mengalihkan perhatian para siswa-siswi dikelas. Naruto yang menjadi biangnya itu berkeringat dipagi-pagi hari telah menjadi pusat para siswa-siswi yang melihatnya.

Dengan sempoyongan ia menuju tempat duduknya yang tak jauh dari bangku sahabatnya Kiba. Namun ia belum melihat kawannya itu dibangkunya.

Puk'

Seseorang menepuknya dari belakang. Dengan sisa tenaganya ia menanggapi orang yang menepuknya. Ia melihat siapa yang menepuk pundaknya dari belakang.

"Kau kenapa Naruto?" Ternyata itu sahabatnya yang baru saja ia pikirkan. Ia tidak menjawab pertanyaan itu. Naruto terus berjalan menuju tempat duduknya. Ia sudah sangat kelelahan pagi-pagi ini.

Lalu Kiba memperhatikan sahabatnya itu. Terlihat dari mimik wajahnya, Naruto sedang memiliki masalah. Kiba tidak hanya diam. Ia menghampiri sahabatnya itu dan mengambil sesuatu ditasnya.

"Ini." Naruto terkejut mendapati sahabatnya Kiba yang tiba-tiba datang memberikannya minum. Ia kemudian menatap sahabatnya itu.

"Tidak mau? Yasu-" Dengan cepat Naruto mengambil dan meminum minuman yang diberikan Kiba padanya. Begitu segar saat ia disambut air dingin yang sangat segar masuk kedalam tenggorokannya.

Masih terus meneguk sampai botol minum milik sahabatnya itu sudah tak terisikan lagi.

"Arigatou Kiba! Kau memang sahabat yang-"

"Isi lagi yah nanti." Kiba masih straight face waktu melihat Naruto yang menghabiskan minumannya pagi-pagi.

"E-Eh?! Kok gitu?! Nggak niat nih ngasihnya tadi?!" Naruto tak menyangka Sahabatnya melakukan hal ini padanya.

"Kukirakan juga tadi nggak akan kau teguk sampai habis BAKA! Lihat botolku sekarang tak terisi setetespun. Pokoknya nanti kau harus mengisinya."

"Kau Jahat sekali padaku Kiba.." Wajah Naruto berganti dengan wajah yang memelas.

Kemudian Kiba menepuk pundaknya kembali. Kali ini Naruto menyebunyikan wajahnya yang artinya dia sedang dalam keadaan yang tidak baik.

"Kalau kau ingin menceritakan sesuatu padaku. Cerita saja Naruto. Kan Kita ini Sahabat."

Naruto dengan cepat menatap Kiba. Kemudian ia tersenyum lima jari.

.

.

.

Kring~ Kring~ Bell berbunyi menandakan istirahat pertama telah tiba.

"Okey cukup sampai disini anak-anak. Jangan lupa untuk mengumpulkannya kembali besok pagi."

Iruka-sensei meninggalkan kelas setelah memberitahukan tentang pekerjaan rumah murid-muridnya. Dengan cepat Naruto memasukan buku-bukunya kedalam tas. Ia ingin menghampiri Hinata dijam istirahat ini.

'Puk'

Belum sempat ia beranjak pergi dari bangku kelasnya. Seseorang menepuknya dari belakang.

"Kau mau kemana? Temani aku ke perpustakaan sebentar Naruto." Kemudian yang ternyata sahabatnya itu menariknya dengan cepat menuju perpustakaan dilantai bawah.

Dimana kelas Hinata berada.

.

.


-Di Perpustakaan-


"Hey! Apa yang kau lakukan mengajakku kesini? Tumben sekali kau mengajakku ketempat seperti ini. Yang kutahu kau sangat membenci buku-buku Kiba!" Naruto membentak temannya itu dengan suara bisikan setelah mereka sudah berada didalam perpustakaan.

Kiba yang sedikit kesal hanya menghiraukannya saja. Ia terus menarik temannya itu untuk menuju kesuatu tempat yang ia cari-cari. Seperti mencari seseorang didaerah tempat itu.

.

Cukup Lama mereka mengelilingi tempat perpustakaan yang cukup besar itu membuat Kiba tak lelah untuk terus menarik temannya. Berbeda dengan Naruto yang sudah kesal ditarik-tarik oleh sahabatnya itu.

Sampai kesabarannyapun sudah mencapai dipuncak perbatasan.

"Apa-apaan kau Kiba! Apa sih yang kau cari?!" Naruto berteriak cukup pelan dan itu sudah menjadi pusat perhatian diperpustakaan.

"SSSTTT! Bisakah kalian mengurangi suara kalian? Ini di perpustakaan." Ucap seorang Pria yang sedang membaca buku.

Naruto hanya membalasnya dengan tatapan sinis. Berbeda dengan Kiba yang meminta maaf pada orang-orang disekitar mereka.

Kemudian Kiba beralih kembali menatap Naruto dan mengajaknya untuk duduk ditempat yang kosong.

.

"Aku hari ini tidak melihatnya Naruto!"

"Siapa sih?!"

"Wanita yang sering membaca buku ditempat itu!" Kiba menunjukan jari telunjuknya kearah sebuah bangku yang sangat dekat dengan jendela.

"Mungkin dia tidak membaca apa-apa hari ini." Naruto menjelaskan.

"Bukan cuman itu! Tadi pagipun aku tidak melihatnya digerbang sekolah."

"Mungkin dia datang lebih dulu darimu." Terus menjelaskan.

"Aku mengecek dikelasnyapun dia tidak ada Naruto!"

"Mungkin dia sedang kekamar mandi."

"Tapi aku sudah mencarinya kemana-mana dan aku tidak melihatnya!"

"Mungkin dia-"

"Mungkin! Mungkin! Mungkin! Terus! Sepertinya dia tidak masuk Naruto! Apa yang terjadi padanya?!" Kiba yang sudah sangat kesal karena tidak menemukan orang yang ia cari hanya mengamuk pada dirinya sendiri. Dan ikut kesal dengan semua jawaban yang Naruto berikan padanya.

"Jadi sekarang kau mau apa? Menjenguknya? Datang kerumahnya tanpa mengenalimu?" Naruto melirik Kiba yang sedang menutup wajahnya.

Tidak ada jawaban dari Kiba.

Kemudian Kiba menarik kembali tangan Naruto. Kali ini ia mengajak Naruto untuk kesuatu tempat yang berbeda.

.

-3C-

Mereka masih terus menatap pintu kelas tersebut. Tidak ada respon diantara mereka berdua. Orang-orang yang melihat tingkah mereka hanya bingung karena mereka berdua hanya berdiam diri sambil menatap pintu kelas tersebut.

"Ini Kelasnya Naruto.."

"Cepat buka dan tanyakan kabar dan keberadaannya.."

"A-Aku malu.."

"Ayolah.. Berjuang demi gadis impianmu Kiba.."

"Benar ju-"

SREEEEKK-

Pembicaraan mereka terpotong karena seseorang membuka pintu kelas tersebut.

"Kalian lagi."

'Eh?!' Mereka terkejut siapa yang mereka dapati dikelas tersebut.

Pria yang baru saja memarahi mereka berdua diperpustakaan. Dia adalah Sai dari 3C. Dan pria itu satu kelas dengan gadis idaman Kiba.

Dengan penuh keberanian Kiba melontarkan pertanyaanya kepada pria itu sambil mengepalkan tangannya untuk menahan rasa malunya dalam bertanya.

"A-Ano.. Apa Gadis itu satu kelas denganmu?"

Pria itu hanya menatapnya kosong. "Siapa?"

Kiba masih terkaku untuk menyebutkan siapa Wanita itu. Naruto menyenggol sikunya keras ke badan Kiba, Membuat Kiba memiliki kepercayaan untuk terus bertanya.

"K-Konan."

/BLUSH/

"Nah loh.." Naruto menatapnya bingung.

Sementara Sai masih menanggapinya dengan kekosongan. "Oh Konan. Baru saja tadi pagi, wali kelasku mengatakan bahwa ia sudah pindah."

DEG!

Dan kemerahan diwajah Kiba yang baru saja keluar.. Meredup.

"M-Maksudnya pindah? P-Pindah kekelas yang mana?" Kiba terus menanyakan gadis yang ia cari.

"Entahlah. Tadi Anko-sensei hanya mengatakan seperti itu saja. Tanpa detail yang jelas. Tapi sepertinya dia pindah Sekolah. Karena namanya bersamaan dengan adik kelas yang bernama ata.. nata.. ta.."

Sai masih terus memikirkan nama adik kelas yang ia sebutkan.

"Pokoknya seperti itu yang kudengar."

.

"Jadi bagaimana Naruto?! Aku baru saja jatuh cinta pada wanita itu. Dan dia sudah menghilang begitu saja." Kiba kembali menutup wajahnya menahan rasa sedihnya.

Berbeda dengan Naruto yang sedang berpikir.

'adik kelas bernama nata? Hmm..'

Kemudian Naruto baru saja ingin meninggalkan Kiba sendirian namun sudah ditahan terlebih dahulu oleh Kiba.

"Kau mau kemana?!"

"Keruang Guru."

.

"Ya.. Konan memang sudah meninggalkan Sekolah ini. Katanya.. Ayahnya pindah tugas keEropa. Jadi ia harus ikut untuk melanjutkan sekolahnya disana." Jelas Anko-sensei pada kedua muridnya.

"Lalu adik kelas yang pindah itu siapa Anko-Sensei?" Naruto yang penasaran kemudian tidak sabar menanti siapa adik kelas yang baru saja meninggalkan sekolah ini.

"Kalau itu Sensei kurang tahu. Karena Sensei bukan wali kelas dari adik kelasmu." Jelas Anko-Sensei yang kemudian beralih menatap mereka berdua.

Berbeda dengan Naruto. Kiba masih kesal pada dirinya sendiri yang belum bisa memulai harinya dengan gadis idamannya. Namun gadis itu sudah pergi meninggalkannya.

"Kalau boleh tahu Sensei. Siapa Wali kelas adik kelas kami yang baru saja pindah?" tanya Naruto pada Anko-Sensei.

Anko-Sensei kemudian menatap Naruto Intens. (?) "Kenapa kau ingin sekali tahu Naruto?"

Kiba menatap Naruto juga penuh dengan tanda tanya. Kenapa Naruto ingin sekali tahu dengan Adik kelas yang baru saja pindah itu. Kan misi mereka hanya membantu Kiba mencari gadis idamannya itu. Diluar itu beda lagi misi mereka.

"Ya.. Ka-Karena aku penasaran saja Sensei."

Kemudian Anko-sensei menunjuk kearah wanita disebelahnya.

Mabui Sensei. Guru dibidang Bahasa Jepang. Lebih tepatnya wali kelas murid pindahan yang ia tanyakan itu (?).

Dengan cepat Naruto menghampiri Senseinya itu dan menanyakan siapa murid senseinya yang baru saja pindah dari sekolah ini.

Entah mengapa ia jadi begitu penasaran dan memiliki firasat yang sangat buruk tentang hal ini. Sejak Sai mengatakan nama belakang murid tersebut.

"Memangnya Naruto kenal dengan murid Sensei?" tanya Mabui sambil tersenyum.

"Siapa tahu aku kenal dengannya Sensei." Jawab Naruto Antusias.

Kiba hanya memerhatikan tingkah laku Naruto yang semakin menjadi.

"Kalau begitu tunggu sebentar ya.."

Mabui Sensei kemudian mengambil sebuah berkas yang berada tepat dihadapannya. Dan saat ia membuka berkas tersebut, ada satu nomor yang namanya sudah di'BlackList'. Dan itu sudah menjadi pusat perhatian matanya.

"Bagaimana Sensei?! Siapa murid sensei yang pindah?" Naruto semakin tak sabaran.

Naruto semakin Intens memerhatikan bibir seksi Mabui Sensei yang bergerak seperti akan mengatakan sesuatu.

"Murid Ibu yang pindah itu namanya Hy-"

Kring~ Kring~

"Hey! Naruto! Kiba! Sekarang kalian masuk kelas! 2 Menit lagi Sensei akan menuju kelas kalian." Suara yang sangat kasar untuk didengar untuk murid sepertinya bergidik ngeri.

Suara itu dari Anko-Sensei. Dan Benar saja.. Mereka habis ini ada pelajarannya. Maka tanpa basa basi mereka dengan cepat pergi meninggalkan ruang guru. Berlari dengan cepat karena mereka takut akan diberikan Hukuman.

.

.

'Semakin penasaran siapa yang pindah.' Gumam Naruto dalam Hati.

"Hey Baka Naruto."

Suara yang cantik seperti sosok yang ada dihadapannya. "Sakura-chan.."

"Jangan lupa pulang sekolah kau memberikan data paman mesum itu padaku."

Ahhh iya.. Ia bahkan lupa untuk hal itu. Terpaksa masalah murid pindahan itu diundur dulu. Ia harus menyelesaikan satu masalah yang belum sempat selesai.

"Iya."

.

.

.


-Sementara ditempat Lain-


Merasa seseorang sedang menggoyang pelankan tubuhnya. Wanita itupun tersadar sedikit demi sedikit. Tidurnya yang cukup panjang kini ia sudahi karena seseorang sedang membangunkannya.

Ia membuka matanya dan sosok pangeran itulah yang datang dihadapannya.

"Uhmm.."

"Gomen membangunkanmu Hinata.. Tapi Kita sebentar lagi akan melandas."

"M-Melandas? A-Apa kita sudah sampai?" tanyanya sambil mengucek-ucek kedua matanya dan meminum air putih untuk menetralkan suara bangun tidurnya dan mengelap wajahnya dengan tisu basah.

Sasuke tidak menjawabnya. Ia membuka Jendela pesawat yang tertutup dan menampakan cahaya Matahari dipagi hari.

Hinata langsung melihat pemandangan dibawah. Ia melihat pemandangan yang sangat indah dipagi hari. Ia terus tersenyum bahagia dan terus bergumam 'Indah Sekali..'

"Nanti kita akan berjalan-jalan dibawah sana Hinata." Itachi yang sedari tadi ikut melihat kegiatan Hinata mulai mengajaknya berbicara.

"Wahh! Kelihatannya itu akan menyenangkan untuk kita semua.." Hinata masih terus memperhatikan pemandangan dibawah sana.

"Aku tidak sabar untuk segera turun." Tambahnya.

.

.

.

"KYAAAAA! KITA SUDAH SAMPAI DIPARIS-CHAN!" Teriak Mei setelah mereka semua sudah berkumpul dan mengambil barang-barang mereka.

Dengan cepat ia memposisikan Iphonenya untuk mengambil gambarnya dengan teman-temannya.

"Yuk semuanya posisi!" panggilnya kepada teman-temannya.

"Itulah sebabnya aku tidak mau kau ikut. Terlalu miss media social!" Deidara menggurutu.

"Ini KENANGAN TAHU!" teriaknya.

1

.

2

.

3

.

-CKLEK!-


.

.

.

"Ini Naruto. Setelah ini aku bisa mendapatkan memberkukan?"

Paman Jiraiya menyodorkan Datanya kepada Naruto. Namun Naruto hanya menerimanya dan menjawabnya dengan anggukan. Setelah itu berlari kearah Sakura yang menunggunya didepan gerbang sekolah.

"Ini datanya. Besok akan kuambil kembali darimu." Naruto memberikan data tersebut kepada Wanita cantik itu.

"Besok kau juga sudah boleh mengambil membernya dariku dan tugas kita selesai." Hanya dijawab anggukan lagi oleh Naruto.

Setelah itu Naruto pergi meninggalkan Sakura didepan gerbang. Ia berlari keparkiran untuk mengambil motor sportnya.

"Satu masalah lagi dan semuanya selesai."

.

.

.

"Akan kukatakan pada Menma.."

.

.

"Untuk terus mengejar.."

.

.

"Cinta yang ingin kita raih.."

.

.

"Masih ada peluang.."

.

.

"Untuk mengejar Cinta kita.."

.

.

Tapi tidakkah kau tahu Naruto? Cinta yang mana yang sekarang harus kau Raih?

.

.

Cinta yang mana?

.

.

.

.

.

To be Continued

.

.


A/N :

GOMENASAI GAK SECEPAT DENGAN YANG KUTULIS SEBELUMNYA
.

Jadi waktu puasa aku gak ketempat kota. Tapi didaerah yang susah sinyal. Sudah harus di update tapi gak ada sinyal. Terus tanggal 26nya laptop saya ketinggalan dan ini baru saja di ambil X')
.

Tapi Makasi Banyak buat kalian yang mau menunggu.. Yang mendukung ceritaku :') Gomen kalau Typo dan lain-lain masih ada..

.

Maaf masih sesion SasuHina..

.

Ikuti terus ya Ceritanya!

.

Arigatou untuk support kalian XD !

.


By to the way..


.

REVIEW KALIAN SANGAT BERHARGA UNTUKKUUU YANG NEWBIE INI :')

.

SALAM NHLOVERS!

Promosi Instagram NHL Aku : NaruHina_FamilyLove

.

XD XD XD XD XD