Holla Holla Lagi Minna-san XD ! Akhirnya aku bisa update yang ke-8 nih guys! Yang ke-7 gimana nih? Sudah kena kan 'Hurt'nya dengan munculnya orang ke3 XD?! Aku agak sedih sih sebenarnya haha.. Buat fic ini biar bikin para pembaca ngena 'Hurt'nya. Akhirnya pada protes soal SasuHina.. Akhirnya kalian kena juga berarti XD ..

Gomen ya :') aku gak bermaksud jahat loh buat sakitin kalian *eh*.. Hanya saja.. ceritanya memang begitu hehe..

Yuk lanjut~


.

.

.

.

.

Naruto Will Be Always with Masashi Kishimoto Sensei ^^

Pair : NaruHina Canon x MenmaHana (Bukan Canon)

WARNING!

Jika sebagian dari anda tidak menyukai cerita atau pair ini. Saya ingatkan untuk tidak membacanya. Dan jika sebagian dari anda masih ngotot untuk baca. Sakitnya akibat pair ini adalah kesalahan dari diri anda yang masih berniat untuk membacanya. Jika tidak menyukai fic ini, anda boleh membaca fic yang lainnya. Karena saya adalah Pemula disini.

-Terima kasih-

.

.

.

.

Selamat Membaca !

.

.

.


Flashback


.

.

.

.

Pria parubaya itu sedang dibuat pusing oleh beberapa kliennya yang terus menghubunginya melalui ponsel yang sedari tadi ia angkat dan ditutup kembali. Ia terus menerus mendapati beberapa panggilan yang jawaban dari panggilan itu slalu dibuat stress olehnya.

"Pak.. Beberapa perusahaan menutup kerjasama antar perusahaan kita dengan beberapa perusahaan mereka." Seseorang dari sebrang telfon itu menegaskan kata demi kata kepada atasannya yang sedang menerima telfon itu.

"Berikan padaku email mereka. Dan kirimi semua berkas-berkas beberapa bulan lalu yang mereka tanda tangani dengan perusahaan kita. Sekarang!" Tegas atasannya itu.

"Tapi pak, beberapa berkas bulan lalu itu tidak ada hubungannya dengan perusahaan mereka."

Pria itu kemudian berpikir keras sambil mengacak-acak rambutnya yang bersurai panjang. Deretan gigi demi gigi sudah menahan rahangnya yang dibuat kesal olehnya.

"Kalau begitu cepat berikan aku email perusahan itu sekarang! Atau kau kupecat!" setelah mengatakan itu kepada kliennya yang diakhiri tutupan komunikasi pria itu langsung berusaha menenangkan dirinya dan pikirannya yang sedang kacau.

Tidak sadar wanita yang sedari tadi memperhatikannya itu mengkhawatirkan keadaannya yang terus bertingkah kacau.

Pelan langkah demi langkah wanita itu menghampirinya dan mengelusi punggung belakang pria tersebut yang diketahui adalah suaminya sendiri.

"Anata.. ada apa? Mengapa kau begitu kacau?" masih terus mengelusi punggung suaminya itu. Namun suaminya tidak menanggapinya sama sekali.

Wanita itu masih khawatir kepada suaminya yang terlihat frustasi dengan pekerjaannya. Ia lalu memeluk suaminya dari belakang untuk menenangkan pikiran suaminya. Namun tetap saja..

"Bisakah kau tidak menggangguku dulu Hikaru?! Kau menambah-nambah beban pikiranku!" Pria itu sedang tidak dalam kondisi tenang. Dan inilah jawaban yang didapat sang istri.

Sedih? Wanita itu hanya menunduk dibentak oleh suami yang sangat ia sayangi. Seketika ia juga merasa kecewa karena suaminya itu tidak mau berbagi cerita dengan istrinya itu. Wanita itu kemudian hanya mundur beberapa langkah untuk membiarkan suaminya tenang untuk beberapa saat. Namun keras tetaplah keras..

"Tinggalkanlah aku disini sendiri dulu! Aku sedang kacau dan dibuat pusing! Sekarang kau mau saja menambahnya!" bentaknya sambil menunjuk kearah pintu untuk menyuruhnya keluar.

Dan wanita itu hanya menuruti sang suami yang memiliki sifat seperti itu. Sambil terus menundukan kepalanya wanita itu keluar dari ruangan tersebut.

Beberapa saat sebelum keluar pintu.. Wanita itu mendengar helaan nafas dari sang suami yang sepertinya memang sedang tidak bisa diganggu.

.

.

.

.

Ruangan rapat yang kini dihadiri oleh beberapa bagian perusahaan yang telah bergabung bekerja sama dengan perusahaan HYUUGA itu masih terus mendengarkan pria yang terus menerus menjelaskan hubungan kontrak yang akan berjalan dengan perusahaannya.

Terus dan terus menjelaskan. Namun yang pria itu jelaskan sudah beberapa kali tidak disetujui oleh beberapa pemilik dari berbagai perusahaan tersebut. Membuat pria itu terus berusaha untuk menjelaskannya berulang-ulang kali secara detail.

Sampai seseorang pria berambut panjang yang sama seperti pria itu namun mereka memiliki mata yang berbeda mengangkat bicara.

"Perusahaanmu itu sama sekali tidak berguna untuk perusahaanku. Bahkan yang sedari tadi kau jelaskan tidak seperti apa yang kulihat diperusahaanmu. Aku tidak mau bergabung dengan perusahaanmu." Tegasnya sambil menatap tajam kearah pria yang sedari tadi menjelaskan.

Hiashi Hyuuga adalah ketua dari perusahaan Hyuuga. Ia adalah orang yang sangat tegas terhadap pekerjaannya. Namun entah apa yang terjadi kepada perusahaannya sehingga memiliki jalan yang berbeda dari apa yang direncanakannya.

Pria yang bernama Hiashi itu tidak mau kalah untuk kembali menatap wajah pria yang sekarang menatapnya tajam. Tidak terima untuk kalah dan tetap berusaha untuk menarik perhatian beberapa orang yang ikut rapat bersama.

Hiashi kemudian beralih kembali untuk memberikan beberapa struktur perusahaannya. Ia lalu memberikan kertas-kertas yang berisikan struktur perusahaannya itu kepada pria-pria disana. Didalam struktur kertas perusahannya itu sudah lengkap berisikan tujuan dan pemasukan juga pengeluaran yang akan dibagi bersama jika perusahaannya diterima untuk bekerja sama.

Setelah diterima kertas struktur perusahaannya. Minato, pria yang sedari tadi hanya memerhatikan Hiashi menerangkan dan membagikan kertas itu, tersenyum sejenak.

.

.

.

.

.

Masih terus melirik handphonenya. Pria itu tidak pernah lelah untuk terus mengecheck handphonenya yang terlihat sepi sedari tadi. Biasanya handphonenya itu slalu ramai oleh pesan masuk dari berbagai kliennya.

Frustasi besar kali ini pria itu. Ia mulai terus menjambak rambutnya yang panjang. Berfikir bahwa ini sudah diujung perjalanan hidupnya jika satu perusahaan saja tidak ada yang mau bekerja sama dengan perusahaannya.

/GREP/

Sebuah tangan mungil kecil menarik yukata panjang yang pria itu kenakan dikediamannya. Pria itu kemudian melirik kebawah. Ingin melihat siapa yang berusaha mengganggu pikirannya yang sedang kacau.

Senyuman manis dari seorang gadis kecil dan mata amethystnya yang indah tidak lupa menghiasi wajahnya yang cantik seperti boneka. Gadis itu kemudian berusaha untuk memeluk pria tua itu.

"Otou-san.. A-Apa.. Hi-Hina boleh bermain dengan O-Otou-san?" Ucap gadis kecil itu malu-malu. Wajahnya yang memerah muncul untuk lebih menghiasi wajahnya yang cantik.

Tidak ditanggapi sang ayah. Pria itu hanya menatapnya tajam. Mengartikan bahwa dirinya sedang tidak ingin meluangkan waktu untuk apapun itu.

Tidak putus asa. Gadis kecil itu terus menarik-narik yukata ayahnya untuk mendapatkan jawaban dari sang ayah. Namun masih tetap didiamkan. Sampai akhirnya gadis itu hanya lari keluar dan menundukan wajahnya yang bersedih.

Berapa lama kemudian pria itu baru bergerak untuk sekedar menetralkan dirinya yang sedang menahan emosinya.

.

.

"Kaa-san.. Mengapa Otou-san tidak pernah mau bermain denganku?" tanya gadis kecil itu pada ibunya dengan suara khasnya yang pelan.

Ibunya juga hanya diam menanggapinya. Terus meminum tehnya dan menatap pemandangan dihalaman belakang rumahnya.

"Apa Otou-san membenciku?" gadis kecil itu menekankan kata terakhir dalam kalimat itu.

Hikaru kemudian menatap kearah anaknya itu dengan tajam. "Apa yang membuatmu berfikir seperti itu kepada ayahmu sendiri Hinata!" membentak dengan pelan kearah gadis kecil yang bernama Hinata.

Hinata hanya menundukan wajahnya. Takut untuk menatap mata ibunya sendiri yang sekarang telah membentaknya. Iya menggenggam tangannya erat-erat karena takut menangis didepan ibunya.

"M-Maaf K-Kaa-san.. Hi-Hina hanya ingin waktu bermain dengan O-oto-"

"Bermain?! Kamu pikir ayahmu itu hanya mementingkan dirimu saja? Lalu kalau ayahmu bermain denganmu siapa yang mengurus pekerjaannya?! Siapa Hinata?! SIAPA?!" kesal dengan anaknya. Hikaru menjewer telinga anaknya itu karena kesal dengan kalimat anaknya itu.

Hinata hanya terus berusaha menahan rasa sakit dan tangisannya. Ia hanya meringis kesakitan sembari terus memegang tangan ibunya yang menjewer telinganya. Namun air kecil yang berusaha ia tahan-tahankan keluar sedikit-demi sedikit.

Merasa puas menjewer anaknya itu. Ibunya kemudian pergi meninggalkannya sendirian dihalaman belakang.

"A-Apa yang salah kalau H-Hina ingin bermain de-dengan O-otou-san.. Hi-Hina hanya bertanya a-apakah O-otou-san membenci Hina.." menangisi dan terus memegangi telinganya yang memerah karena dijewer oleh ibunya sendiri.

Ia kemudian menangis sepelan mungkin yang ia bisa. Karena ia tidak ingin kedua orang tuanya tahu bahwa ia adalah gadis yang lemah dan cengeng.

.

.

.

.

Hinata memutuskan untuk bermain diluar. Keadaan malam yang sudah gelap tidak ia pedulikan. Hinata adalah sosok yang sangat penakut dan slalu bisa menyimpan perasaan yang sedang tertimpa padanya. Namun kali ini ia memberanikan dirinya dimalam hari yang gelap untuk meluapkan semua perasaan sakitnya.

Terus berjalan menuju satu tempat tujuannya. Sebuah taman cantik yang biasa ia kunjungi sendirian jika ia memiliki suatu masalah.

Ia kemudian berjalan menuju sebuah bangku panjang berwarna putih yang dikelilingi dengan bunga matahari disekelilingnya. Pohon Sakura yang juga berdiri disamping bangku itu membuat bangku itu dihiasi sinar rembulan semakin cantik.

Hinata duduk dan berusaha menenangkan dirinya. Ia terus menangisi dirinya yang saat itu sedang terluka. "Tou-san.. Kaa-san.. Hiks.. H-Hana-chan.." terus menyebuti keluarga yang ia sayangi..

Sampai pria kecil itupun datang..

"Hey.. Mengapa kau menangis dimalam hari seperti ini?"

Merasa ada yang mengganggu momen sedihnya. Hinata dengan cepat menghapus airmatanya dan berusaha menetralkan suaranya yang sedang menangis menjadi normal.

Ia kemudian berusaha untuk terlihat tidak apa-apa. Dan menoleh keasal suara yang mengganggu momennya.

Pria blondie kecil yang terkejut melihat wajah indah sang gadis kecil yang berada didepan matanya. Namun tatapan terkejutnya berubah menjadi tatapan sedih. Seperti ia mengerti wajah kesedihan dari sang gadis dihadapannya.

Pria blodie kecil itu kemudian mengambil sapu tangan didalam kantung bajunya. Ia lalu menghapusi jejak airmata yang masih terlihat dimata indah sang gadis kecil.

Terus menghapusi jejak-jejak air kecil yang tersisa dibagian wajah sang gadis. Namun ia menghapusinya tidak fokus. Ia telah terhipnotis oleh mata seindah bulan milik sang gadis kecil yang telah mencuri hatinya dimalam hari itu.

Hinata juga merasa mata biru yang sangat menyala itu berhasil membuat jantungnya berdegup kencang. Ia juga ikut terhipnotis sehingga kini mereka berdua saling memandang satu sama lain.

Sampai suara seseorang memanggilnya dari belakang.

"Tuan muda! Darimana saja anda? Ayah anda mencari anda untuk kembali pulang ke Eropa." Pria besar dengan jas hitam yang pekat menghampiri mereka berdua.

Pria kecil itu kemudian tidak menanggapinya. Ia kembali bertanya kepada wanita dihadapannya. "Namamu siapa? Jangan menangis lagi yah.."

Hinata hanya terkejut pria kecil dihadapannya menanyakan namanya. Ia kemudian menundukan kepalanya dengan ragu-ragu mendekati pria itu dan membisikan ditelinga pria itu.

"H-Hinata.. H-Hyuuga Hinata."

Pria kecil itupun merona dengan hebat saat gadis itu membisiki namanya. Kemudian ia baru saja ingin berjabat tangan dan menyebut namanya sebagai tanda perkenalan sebagai pertemanan namun..

"N-Namaku-" baru saja ia memberi tangannya untuk berjabat tangan tapi..

"Tuan muda! Ayah anda akan memarahiku jika kita terlambat. Pesawat ke Eropa akan diberangkatkan sebentar lagi." Pria dengan jas hitam yang menarik tangan pria kecil itu menjauhkan Hinata dengan pria itu.

"T-Tunggu Ji-Jirobo.. Aku ingin berkenalan sebentar."

"Anda tahu bahwa didaerah ini banyak sekali orang-orang yang tidak baik tuan muda."

"T-Tapi dia-"

Pria itu terus menarik lengan pria kecil yang meninggalkan gadis kecil itu sendirian lagi dikursi panjang yang sempat ia duduki. Gadis kecil itu hanya bisa menatap kepergian pria kecil itu. Ia hanya kembali murung.

Baru saja ia menemukan teman baru.. Namun ia sudah kembali dilupakan. Berharap suatu saat ia akan dipertemukan kembali dengan pria yang berhasil merebut hatinya itu.

.

.

.

.

"Tou-chan.. Apa Tou-chan mengenali keluarga dari clan Hyuuga?" tanya pria kecil itu kepada ayahnya yang sedang membaca sebuah berkas.

Ayahnya kemudian menoleh keasal suara dimana anaknya sedang bertanya sesuatu kepadanya.

"Ayah baru beberapa hari lalu mengadakan meeting dengan perusahaannya. Ada apa Naruto?" penasaran tentang anaknya yang bertanya tiba-tiba.

Ayahnya benar-benar terkejut anaknya bertanya hal seperti itu. Karena baru beberapa hari yang lalu ayahnya memang mengadakan meeting dengan Perusahaan Hyuuga.

"Kalau Tou-chan ada meeting dengan keluarganya ajak aku yah?" Pria itu kemudian dengan semangat memohon kepada ayahnya.

"Memangnya ada apa Naruto dengan keluarganya?" tanyanya masih penasaran.

Pria kecil bernama Naruto itu kemudian menggelengkan kepalanya dan menunduk malu-malu karena seketika dibenaknya muncul sosok gadis kecil yang baru saja ia kenal.

Ayahnya kemudian merasakan sesuatu yang disembunyikan anaknya itu. Ia hanya tertawa mendapati sikap malu-malu dari anaknya.

"Minggu depan ayah ada meeting lagi dengan keluarga Hyuuga dijepang. Kau mau ikut ayah kembali kesini?"

Dengan antusias Naruto mengangguk dan tersenyum lima jari. Dibalas senyuman kembali oleh sang ayah.

'Aku harap minggu depan aku bisa bertemu lagi dengannya!' batinnya dalam hati. Lalu beberapa menit kemudian ia tertidur pulas didalam sebuah mobil limo panjang hitam.

Berharap dan bermimpi bisa bertemu dengan gadis itu kembali.

.

.

.

.

Gadis kecil itu masih terus menatap sapu tangan yang tadi dipakai untuk mengusap airmatanya oleh pria kecil itu. Ia berpikir mungkin sapu tangan ini terjatuh saat pria itu sedang bertatap mata dengannya hingga tidak sadar sapu tangan itu terjatuh begitu saja.

Ia kemudian tersenyum sangat manis melambangkan bahwa ia sedikit terhibur dimalam hari ini. Pertemuannya dengan pria kecil itu sukses menghibur hatinya yang sedang terluka.

"Aku harap kita dapat bertemu kembali.."

.

.

.

Seminggu sudah gadis kecil bernama Hinata itu tidak memiliki suasana kehangatan dari keluarganya. Ia sudah seminggu didiami oleh ayahnya dan juga ibunya. Sungguh semakin sakit perasaan Hinata.

Sekarang gadis itu sedang menonton sebuah acara kesayangannya. Lebih tepatnya kartun kesayangannya. Ia masih terus tersenyum melihat kelinci kesukaannya meloncat-loncati beberapa permen-permen yang bertaburan dilantai begitu saja.

Kemudian tv itu mati begitu saja tanpa dimatikan olehnya. Dilihat siapa yang mematikan tv tersebut ternyata yang ia dapati ayahnya telah menekan tombol berwarna merah dari remot tv tersebut.

Hinata tidak memasang wajah sedih ataupun terkejutnya. Ia hanya menatap ayahnya. Ayahnya kemudian duduk dan meminum kopi yang sudah tersedia diatas meja.

"Tou-san ada meeting dengan clan yang sangat besar. Hanabi dan Kaa-san sudah bersiap-siap. Mengapa kau masih santai menonton acara yang tidak bermutu?"

Tidak ada yang memberi tahu wanita kecil itu. Tidak ada yang menyuruhnya untuk segera bersiap-siap. Ia hanya menundukan wajahnya kemudian berdiri.

"Gomenasai Otou-san.. Hina akan bersiap-siap." Kemudian membungkuk keayahnya dan meninggalkan ayahnya duduk sendirian didepan tv yang sudah dimatikan.

.

.

.

Kini dikantor itu sudah ada 2 keluarga besar yang sedang membicarakan bisnis diantara mereka. Mereka membisniskan masa depan mereka.

"Bagaimana? Apa uang dari hasil 3 hari ini berjalan dengan lancar?" ucap seorang pria berambut blondie sedikit panjang. Ia memposisikan dirinya dengan pria tua didepannya.

Perbincangan diantara kedua pria tua tersebut hanya bisa dimengerti oleh mereka berdua. Berbeda dengan istri dari pria yang bernama Hiashi. Ia sedang menggandeng tangan mungil putri kecilnya Hanabi.

Kemudian ibu dengan anak kecil yang berumur 2 tahun itupun pergi meninggalkan suaminya hanya sekedar untuk berjalan-jalan didaerah perkantoran. Berbeda dengan gadis yang berumur 8 tahun yang sedang duduk sendirian menunggu ayahnya selesai meeting.

Ia masih terus duduk menunggu kedatangan ayahnya menjemputnya dilobby tunggu sendirian. Berusaha tidak bosan. Ia turun dari sofa nyaman dilobby menuju jendela kaca besar didepannya.

Begitu indahnya kota ini saat ia perhatikan satu persatu sederetan gedung-gedung mewah berdiri sejajar dengan model yang berbeda-beda. Mobil-mobil kecil yang dilihat dari atas juga bantu menampilkan keindahan dikota ini.

"Indah bukan?"

Hinata terkejut. Ia kemudian menoleh keasal suara yang mendadak mengajakinya bicara. Ditambah lebih terkejut lagi saat mengetahui siapa yang mengajaknya berbicara.

"Hai Hinata.." senyuman sapaan itu sukses membuat wajah gadis kecil itu merona hebat.

Hinata hanya merespon menunduk malu-malu sambil mencuri-curi pandang. Tidak membalas sapaan dari pria kecil itu.

"Mengapa kau slalu menyembunyikan wajah cantikmu Hinata?"

/BLUSH/

Semakin dibuat merona oleh pria kecil itu. Hinata hanya menanggapinya dengan menggeleng-gelengkan kepalanya. Kemudian berlari kecil untuk duduk kembali disofa tunggu. Diikuti pria blondie kecil yang ikut duduk disebelahnya.

Hinata semakin berusaha menahan degup jantungnya. Baru pertama kali ini ada yang mau berteman dengannya. Ia hanya diam setiap kali pria kecil itu mengajakinya berbicara. Namun itu tidak akan membuat pria kecil itu berhenti untuk tidak bicara. Semakin tidak Hinata tanggapi, semakin panjang pula pria kecil itu berbicara.

"Jadi.. Hinata! Maukan kita berteman?" mengulurkan tangannya sebagai untuk berjabat tangan.

"Mengapa kau ada disini juga?" akhirnya gadis kecil itu membuka suaranya juga.

"Oh.. Ayahku ada urusan dengan ayahmu."

"Bisnis kerja sama?" tambah Hinata.

"Sepertinya." Sambil memasang wajah berpikir. Kemudian ia kembali menanyakan topik utamanya.

"Jadi maukan berteman denganku?" senyuman lima jari tidak lupa menghiasi wajah tampan pria kecil itu.

Awalnya Hinata sedikit malu hanya untuk berjabat tangan. Namun karena ia juga merasa ingin memiliki teman seperti pria kecil dihadapannya ini, ia putuskan untuk membuang rasa mau itu.

Setelah menerima berjabat tangan dengan pria kecil itu. Hinata kembali menanyakan nama pria kecil itu. "Jadi..? Namamu?" tanyanya sambil tersenyum manis.

"Oh iya.. Aku jadi lupa memberitahu namaku. Kau sudah memberitahu namamu sekarang tinggal namaku hehe.. Namaku adalah-"

"Tuan muda! Ayah anda sudah menunggu anda diluar. Bagaimana bisa anda tidak mendengar ayah anda memanggil anda?" Pria besar yang bertuliskan Jirobo dijas hitamnya lagi-lagi mengganggu momen mereka berdua dengan menarik kembali pria kecil itu dari hadapan gadis kecil ini.

Pria kecil itu sempat mendecik kesal. Ia sudah berusaha untuk berontak. Namun pria berjas hitam itu lebih besar dan lebih kuat darinya. Jadi seberusaha apapun pria kecil itu berontak sama sekali tidak ada gunanya.

Gadis kecil itu kembali menundukan kepalanya. 'Kenapa susah sekali untuk memberitahukan namanya saja?' batinnya dalam hati menahan rasa kesalnya sambil mengepalkan tangannya.

Kemudian ia mencari sosok ayahnya didaerah perkantoran itu. Menelusuri koridor kantor yang dilewati oleh beberapa klien-klien dari ayahnya. Banyak yang menyapanya dan dibalas dengan senyuman manis dari seorang gadis kecil sepertinya.

Dan ia menemukan ayahnya duduk diam sambil menelungkupkan wajahnya ditangannya yang terlipat.

"O-Otou-san? A-Apa yang terjadi?" tanya gadis kecil itu sambil menghampiri ayahnya.

Ayahnya hanya berdiam diri menatapnya.

.

.

.

.

.

Malam itu suasana tidak sehangat atau tidak sesunyi biasa. Berbagai nada-nada suara yang telah terganti-gantikan dimalam hari itu. Suara barang-barang yang mengusik keadaan dirumah itu membuat rumah itu terlihat sangat berantakan.

Wanita bersurai biru gelap panjang itu masih terus menundukan wajahnya untuk tidak menatap Pria tua dihadapannya yang sudah siap melayangkan tamparan terhadapnya.

Pria itu kemudian menjambak wanita dihadapannya dengan paksa dan menarik rambutnya untuk mengangkat wajah cantik wanita yang ada dihadapannya sebagai tanda bahwa ia harus menatap pria itu.

"BAGAIMANA BISA KAU HABISKAN SEMUA UANG ITU?! JELASKAN PADAKU!" teriak pria tua itu kepada wanita bersurai panjang gelap berparas cantik nan anggun.

Wanita itu hanya meringis kesakitan menahan rasa nyeri dikepalanya. Merasakan helaian demi helaian rambut tercabut dari kulit kepalanya akibat ditarik dengan keras oleh pria dihadapannya membuat dirinya tidak bisa menjawab sebuah pertanyaan kasar dari pria itu.

Kesal tidak menjawab pertanyaannya. Pria itu dengan amarah yang sedang memuncak melayangkan tamparan kewanita cantik itu tanpa rasa kasihan sedikitpun.

PLAKK!

Panas, perih, dan sangat menyakitkan. Pipi yang sangat mulus dan yang slalu menghiasi wajah cantik wanita itu kini sudah tergantikan dengan bekas tangan merah yang telah mendarat kasar dipipi mulusnya.

Wanita itu mengeluarkan airmatanya karena sudah tak tahan lagi dengan rasa sakit yang terjadi pada dirinya. Pria dihadapannya namun tidak luluh. Ia malah sebaliknya semakin kesal dan semakin ingin menghabisi nyawa istrinya itu.

Mengapa pria itu sangat ingin menghabisi nyawa istrinya?

"A-Aku hanya.. ti-tidak tahu uang itu adalah uang dari hasil bisnismu d-dengan clan Namikaze.." ucap wanita itu sambil menahan rasa sakitnya.

"Kau tahu?! KAULAH YANG SLALU MENJADI NASIB BURUKKU! BERAPA KALI HARUS KUBILANG?! JANGAN PERNAH MEMAKAI UANG DARI RUANG KERJAKU TANPA SEPENGETAHUANKU ATAU TANPA IJIN DARIKU!? MENGAPA KAU TIDAK PERNAH MENGERTI!" teriaknya tepat ditelinga wanita itu. Kemudian kembali menampar wanita dihadapannya.

"KITA SUDAH BANGKRUT KAU MENGERTI?! APA YANG HARUS DIJUAL?!" kemudian berjalan mengitari ruangan keluarga mencari-cari sesuatu yang bisa menenangkan pikirannya.

Dan juga tidak menyadari gadis kecil yang didepan pintu kamarnya telah melihat kejadian mereka berdua sambil memeluk boneka Kelinci besar yang ia gendong. Terlihat dari ia yang baru saja keluar untuk mengambil boneka Kelincinya yang berada didepan pintu kamarnya.

Gadis kecil itu berusaha pergi kekamar ayah ibunya untuk menghampiri adik kecilnya. Ia berusaha untuk pelan-pelan berjalan kearah kamar ayah ibunya yang tertutup rapat.

Sesampainya didepan pintu yang tertutup rapat ia ingin membukanya dengan pelan-pelan agar suara pintu terbuka tidak didengar ayah dan ibunya. Namun baru saja ia memegang 'knop' pintunya, dan membukanya sedikit. Wanita cantik yang melihat gadis kecil itu kemudian menghampirinya dari belakang dan mengagetkan gadis kecil itu.

"Hinata! Kamu tau ini jam berapa?! Masih ingin bermain dengan adikmu?! Cepat kembali kekamar!" wanita itu dengan kasar menarik gadis kecil itu untuk kembali kekamarnya. Gadis itu berusaha untuk berontak hanya sekedar untuk kembali menghampiri adik kecilnya. Ia hanya ingin tidur disamping adik kecilnya yang sangat ia sayangi..

Namun gadis kecil itu berusaha berontak dengan rengekan yang hanya ingin tidur bersama adiknya. Membuat adik kecilnya terbangun dari tidurnya dan menggumamkan nama kakak kesayangannya. "Onee-chan.. itukan cuala.. cu-ala nee-chan!".

Adik kecilnyapun terbangun dan berusaha untuk turun dari ranjang yang cukup tinggi. Hanabi adik dari Hinata termasuk dari batita yang sangat cerdas dan lincah. Ia sudah mampu berbicara walau tidak terlalu lancar diusia 2 tahun. Dan ia termasuk lincah karena ia mampu kabur dengan situasi yang sesulit apapun. Ia pun sudah dapat berjalan maupun berlari kecil diseusia 2 tahun.

Setelah turun dari ranjang yang cukup tinggi. Adik kecil gadis itu berusaha untuk keluar dengan pintu yang sudah sedikit terbuka akibat gadis kecil tadi yang berusaha berontak masuk namun hanya tinggal sedikit lagi dapat menghampiri adiknya. Kalau saja ibunya tidak menariknya.

Adik kecilnya kemudian menyusul asal suara dimana kakaknya berontak. Saat ia menemukan kakaknya sudah ditarik ibunya untuk masuk kekamarnya. Adiknya berlari kecil kearah kakaknya dan berusaha meraih tangan kakaknya.

Kakaknya berhasil menariknya. Namun ibunya melepaskannya dan memaksa Hinata untuk masuk kemudian menguncinya didalam kamar.

Sementara adiknya hanya mengetuk-ngetuk kecil pintunya. Berusaha menolong kakaknya yang sudah terkunci didalam.

"Onee-chan! Buka pintunya! Buka.. Hana mau macuk.. Buka Onee-chan!" sambil terus mengetuk-ngetuk kecil pintunya.

Sementara diseberang pintu tersebut kakaknya sudah meneriaki nama adiknya berulang kali sambil membalas ketukan adiknya.

"O-Onee-chan mau buka pintunya untuk Hana.. Tunggu Onee-chan akan keluar! Kaa-san.. tolong bukakan pintunya! Kumohon biarkan aku tidur dengan Hana malam ini.." teriaknya dari dalam sambil terus meneriaki adiknya dan ibunya.

Ibunya hanya mendiami dan tidak membalas Hinata melainkan menarik adiknya menjauhi pintu itu darinya. "Hana sayang. Tidur lagi ya. Besok baru bermain lagi sama Hinata-nee. Sekarang Hana tidur sama Kaa-san."

Namun dibalas gelengan oleh buah hati kecilnya. "Tapi.. H-Hana mau bobo cama Onee-chan.."

Ibunya pergi meninggalkan kamar Hinata yang masih terkunci sambil menggendong Hanabi yang masih terus merengek ingin tidur bersama kakaknya.

.

.

.

.

.

"Gara-gara kau! Perusahaan Namikaze tidak ingin berbisnis dengan perusahaan kita lagi! Kau tahu? Baru 3 hari saja aku menyetujui perjanjian tersebut dan kau telah menghabisi semua uang itu tanpa tersisa! Apa kau GILA?! 3 hari saja untung kita sudah banyak dan kau sudah menghabiskannya! Mereka telah membatalkan semuanya!"

Wanita bersurai panjang gelap itu hanya terdiam menunduk. Ia sudah benar-benar terima dengan semua cacian dari suaminya yang masih terus mencaci makinya.

"Sudah tidak sanggup aku membiayai kalian semua! Sekolah Hinata! Susu untuk Hanabi dan yang lainnya untuk anak-anak. Sudah tidak sanggup aku dengan semua uang yang sudah kau habiskan! Belum lagi aku harus menggaji klienku dan pembantu dirumah ini! dan untuk perawatan kau setiap haripun aku sudah tidak mampu HIKARU!" tegas pria tua itu dihadapannya.

Wanita itu kemudian menatap wajah pria tua dihadapannya dengan tatapan kesal. "Kalau begitu kau pecat saja semua klienmu dan pembantu dirumah ini! Bereskan?!"

Tidak menurunkan amarah sang suami. Namun semakin menaiki amarahnya yang kini sudah sangat memuncak.

"LALU BAGAIMANA AKU BEKERJA JIKA AKU MEMECAT SEMUA KLIENKU?! SIAPA YANG MERAWAT ANAK-ANAK JIKA BUKAN PEMBANTU DIRUMAH INI?! SEMUA UANG HIDUP ITU KAU HABISI CUMA-CUMA HIKARU! HANYA UNTUK OBAT-OBATAN YANG TIDAK JELAS! DAN BARANG-BARANG TAK BERMUTU!" teriaknya kemudian mendorong wanita itu sampai terbentur disuatu tembok ruangan.

Bugh!

Wanita itu hanya bisa meringis kesakitan mendapat kekerasan dari suaminya lagi. Ia hanya mampu meringis dan meringis saat KDRT berlangsung.

"Sekarang kau membebaninya dengan anak-anak Hiashi?! Kau mengungkit kebutuhan sekolah mereka! Sehari-hari mereka! Apa yang kau pikirkan?! Mereka hanya malaikat kecil yang tak bersalah dan kau menyalahkan bebanmu atas mereka?! Ayah macam apa kau!" Kali ini wanita itu sudah kehabisan kesabaran. Tidak senang suaminya slalu mengungkit anak-anaknya sebagai beban hidup mereka.

"Aku tidak membebani mereka dalam masalah ini! Tapi kau yang menghabiskan semuanya sampai kau sendiri tidak memperdulikan kebutuhan pokok malaikat-malaikatmu!" tegas Hiashi sambil menekankan kalimat 'malaikat-malaikatmu'.

PLAK!

Tamparan yang benar-benar lancang sudah mendarat dengan tepat diwajah pria tua itu. Kali ini wanita cantik itu sudah kehabisan kesabaran. Ia tidak senang jika pria itu sudah menggila seperti ini dan tidak mengawasi kalimat-kalimat yang keluar begitu saja.

"Lancang sekali kau menamparku."

Wanita itu hanya diam mendapat jawaban seperti itu dari suaminya.

"Malaikat-malaikat kecil itu milik kita berdua! Anugerah yang diberikan Kami-sama pada kita! Dan kau berani-beraninya menekankan kata itu seakan aku yang berjuang selama ini!"

Pria itu hanya terdiam. Ia sudah sangat kesal dan amarahnya sendiripun sudah membutakan pikirannya. Dengan kasar ia menonjok tembok itu hingga retak.

"Lihatlah apa yang akan kulakukan pada malaikat-malaikat kecilmu itu." Kemudian pergi meninggalkan wanita cantik kecil itu sendirian. Dan membawa kedua putri kecil dengan beberapa barang mereka.

Setelah itu pergi mengunci sang istri didalam kediamannya sendirian. Menghiraukan teriak dan tangisan istrinya itu yang berusaha untuk menahan suaminya membawa kedua putri kecilnya memasuki kedalam mobil.

.

.

.

.

"Tou-san.. Kita mau kemana?" gadis kecil itu masih terus memperhatikan jalanan yang semakin lama semakin jauh dari rumahnya. Ia kemudian mengalihkan perhatiannya dari pandangan jalanan kearah ayahnya yang sedang mengemudi mobil.

Ayahnya hanya terdiam menanggapinya dan masih terus fokus mengemudi. Namun itu cukup menjadi jawaban untuk gadis kecil itu. Ia tahu jika ayahnya tidak menjawab pertanyaannya, itu artinya ayahnya sedang marah besar kepadanya atau sedang ada masalah dengan pekerjaannya.

Gadis itu kemudian tersenyum tulus dan menoleh kebelakang. Melihat adiknya yang sedang tertidur pulas sambil memegang boneka kecilnya. Kemudian menatap wajah ayahnya sekilas. Entah kenapa ia merasa ayahnya sedang tidak ingin berbicara dengannya.

Ia melanjutkan penglihatannya kedepan memerhatikan jalanan yang semakin lama semakin sepi dan gelap. Dan menjadi disuatu daerah perairan yang sangat sunyi nan seram.

Mobilpun berhenti didaerah itu.

.

"Tou-san kita dimana?" tanya gadis itu sambil menggendong adik kecilnya yang masih tertidur pulas dipelukannya. Sementara ayahnya masih terus menurunkan barang-barang dari bagasi belakang mobilnya.

Ayahnya kemudian mengantarkan kedua putri kecilnya disuatu tempat. Dirumah yang sangat kumuh dan kotor. Kemudian diletakan barang-barang itu didepan rumah kumuh itu.

Hinata sangat bingung mengapa ayahnya mengantarnya kesini. Kemudian ia bertanya kepada ayahnya. "Mengapa Tou-san mengantar kami kesini dengan barang-barang ini?"

"Hinata. Tou-san akan pergi sebentar. Kau tunggu disini dan jagalah adikmu baik-baik. Rawat dia sampai ia mampu belajar menghidupi dirinya sendiri. Dan kau juga belajar seperti itu." Ucap ayahnya dingin tanpa menatap kedua mata anaknya.

"Tou-san mau kemana? Hina ikut dengan-"

"Tidak! Kau cukup disini." Bentaknya yang membuat Hinata terkejut dan adik kecilnya terbangun.

Kemudian ayahnya pergi meninggalkan mereka berdua dirumah kumuh itu hanya berdua. Namun Hinata masih bisa mengejar ayahnya sambil menggendong adik kecilnya. Ia berlari dan meraih jaket ayahnya dan menariknya.

Ayahnya berhenti dan melirik anaknya yang menarik jaketnya.

"Ada apa lagi?" tanyanya dingin.

"Tou-san.. Hati-hati ya.. Hina dan Hana sayang sama tou-san." Ucap gadis kecil itu sambil menampilkan senyuman manis khasnya.

Adik kecilnya tidak diam. Ia kemudian berkata "Hana cama Nee-chan uga cayank cama Kaa-chan!"

Kemudian mereka berdua tersenyum manis. Hiashi melihat senyuman itu sangat teringat dengan istrinya yang masih ia kunci dirumah. Kemudian ia menepis senyuman itu dan menaiki sebuah mobil dan kemudian meninggalkan mereka berdua yang masih melambaikan tangan kearah mobil itu pergi meninggalkan mereka.

.

.

.

Untuk selamanya..

.

.

Hingga kehidupan baru merekapun dimulai..

.

.

.

Pria kecil itu masih terus memperhatikan ayahnya yang masih kesal dengan melihat semua berkas-berkas yang sudah ditanda tangani dimeja kerjanya. Beberapa kali ayahnya menjambak rambutnya dan berusaha untuk menetralkan stressnya. Pria kecil itu kemudian menghampiri ayahnya dan mengelusi punggung belakang ayahnya itu.

"Ada apa tou-chan? Mengapa berkas-berkas ini kau hiraukan?"

Ayahnya hanya diam menanggapi anaknya. Ia kemudian memeluk anaknya sejenak. Merasakan hangatnya cinta sang anak kepada ayahnya. Memikirkan bahwa putranya yang kelak akan memegang perusahaannya ini. Berharap semuanya akan berubah dengan cepat dan menjadi lebih baik.

Pria kecil itu hanya membalas pelukan sang ayah dan terus mengelusi punggung ayahnya agar lebih tenang dan lebih relax.

"Naruto.. mengapa waktu itu kau sempat bertanya tentang clan Hyuuga?" pertanyaan ayahnya sukses membuat pria kecil itu terdiam. Namun ia juga tidak ingin menyembunyikan sesuatu terhadap ayahnya itu.

"Teman baruku bermarga Hyuuga. Saat meeting itu aku bertemu juga dengannya. Ada apa?" pria kecil itu membalikan pertanyaan ayahnya.

Ayahnya hanya menghela nafas dan menjelaskan sesuatu kepada putranya itu. "Memang saat itu ayah ada bisnis dengan perusahaan Hyuuga. Tapi sekarang ayah sudah tidak lagi."

Pria kecil itu membulatkan kedua matanya. Ia berpikir bahwa ayahnya sedang tidak bercanda tentang ini.

"Mengapa tou-chan?! Itu artinya aku tidak akan bertemu dengan temanku lagi? Tapi kita masih bisa untuk berada dijepangkan?"

Ayahnya kemudian mengacak-acakan rambut anaknya itu.

"Mereka menghancurkan semuanya. Tidak ada untungnya ayah bisa bekerja sama dengan mereka. Maka dari itu ayah tidak ingin bekerja sama lagi dengan perusahaan itu. Mereka mengambil semua hasil kerja sama selama 3 hari." Jelas ayahnya sambil mengelus punggung anaknya sendiri.

"Tapi aku masih bisakan bertemu dengan temanku?"

Ayahnya hanya terdiam menanggapi pertanyaan anaknya. Dibenak sang ayah adalah mengapa anaknya harus berteman dengan seorang anak yang telah merebut semua hasil keuntungan dirinya dengan perusahaan Hyuuga itu sendiri. Sebagai seorang ayah yang tegas, Minato tidak mensetujuinya. Bisa saja temannya itu memanfaatkan anaknya.

Merasa ayahnya menghiraukannya. Pria kecil yang bernama Naruto itupun pergi berlari kecil meninggalkan ayahnya itu. Minatopun berusaha mengejarnya dari belakang. Ia tidak ingin anaknya itu membencinya hanya karena Hyuuga sialan itu.

Kejar-kejaranpun terjadi. Minato terus mengejar anaknya yang masih terus berlari. Tidak peduli dengan klien-klien yang memandanginya berantakan hanya karena mengejar anak kesayangannya. Ia tidak ingin Naruto sampai melakukan tindakan yang tidak baik dimatanya. Karena dimata sang Ayah, Naruto adalah sosok yang keras kepala dan tidak ingin seseorang menghalangi keinginannya.

"Naruto! Dengarkan ayah! Ini untuk kebaikanmu Naruto!" teriak Minato sambil terus mengejar anaknya yang masih terus berlari.

"Untuk kepentinganku atau untuk kepentingan TOU-CHAN?!" balas teriaknya sambil terus berlari menjauhi ayahnya.

Pria kecil itu terus berlari sampai ia tidak melihat bahwa ia sedang melintasi jalan raya tokyo menuju bukit yang ia tuju. Dengan tidak kepeduliaannya dengan sekelilingnya. Mobil yang melaju sangat kencangpun..

TINTTTT!

BRRUUGGGHHH!

Berhasil menabrak tubuhnya yang kecil.

Darah yang mengucur dari pelipisnya bertaburan banyak diaspal itu. Dan teriakan histeris dari sang ayah sudah tak bisa ia dengarkan. Kesadarannyapun menghilang dengan menggumamkan nama gadis yang ia ingin temui..

"H-Hinata.."

Dan mata itupun tertutup diikuti kesadarannya yang menghilang.

.

.

Naruto POV's

Aku tidak menyangka tou-chan tega melakukan hal ini padaku! Selama ini aku tidak memiliki teman hanya karena perusahaannya itu! Mengapa ia lebih mementingkan kepentingannya daripada diriku?! Apa aku tidak boleh memiliki teman?!

Aku terus berlari sekencang mungkin tanpa memperhatikan setiap orang yang kutabrak. Aku terus memikirkan wajah indah teman baruku yang sedikit lagi akan kutinggalkan.

Kami baru saja bertemu. Aku bertemu dengannya disaat keadaan semuanya sedang hancur. Tou-chanku yang slalu sibuk dengan pekerjaannya membuatku pada malam hari itu harus mencari angin malam mengitari indahnya kota Tokyo.

Sampai malam itu kami dipertemukan disuatu bukit cantik. Aku teringat dengan kaa-sanku yang slalu saja menemaniku saat melihatnya. Walau kaa-sanku jauh diEropa. Namun pertemuannya mengingatkanku tentang kaa-sanku yang jauh disana.

Malam itupun dirinya sukses merebut hatiku. Membuat diriku ingin berteman dengannya. Dan dengan senangnya dia mau memperkenalkan namanya.

Setiap hari setelah bertemu dengannya. Aku semakin penasaran dengan sosok wanita cantik itu. Dan kebetulan tou-chanku berbisnis dengan keluarganya. Semakin senang aku untuk ikut tou-chanku kembali kejepang hanya untuk bertemu dengannya walau tou-chankulah yang memiliki acara penting.

Pertemuanku dengannya selalu saja membuatku semakin ingin bersamanya. Sampai setiap kami dipisahkan dengan klien tetap tou-chanku yaitu Jirobo. Ia slalu saja yang menjadi tembok diantara kami berdua.

Dan kali ini aku ingin bertemunya dan ingin memberitahu tou-chanku bahwa temanku ini tidak sama dengan Hyuuga yang tou-chanku maksud. Aku terus berlari kesebuah tempat menuju bukit dimana aku dan temanku dipertemukan ditempat rembulan malam yang indah.

Seketika aku terus berlari tanpa memperdulikan teriakan dari tou-chanku. Aku juga tidak peduli lagi dengan keadaan sekitarku. Tujuanku hanya untuk bertemu dengan..

TINNTTTT!

BRRUUUUGGGHHHHH!

"H-Hinata.."

Seketika aku merasakan rasa sakit yang sangat luar biasa dikepalaku. Dan aku tidak dapat lagi mendengarkan suara orang-orang termasuk tou-chanku..

Apa aku akan mati?

Apa aku tidak akan bisa bertemu dengan Hinata lagi?

.

.

.

.

.

Ruangan koridor yang sangat sepi dan memiliki aroma-aroma medis dan beberapa peralatan medis dipenuhi dengan beberapa orang yang sedang berada diruang tunggu. Sesosok wanita berambut panjang yang sedang menggendong seorang balita itupun datang menghampiri pria tua berambut blondie yang sedang duduk frustasi sedari tadi.

"A-Anata! A-Apa yang terjadi?! Apa dia sudah sadar?!" tanya wanita cantik bersurai merah panjang tersebut.

"Aku tidak menyangka akan terjadi seperti ini padanya.." ucap pria tua itu sambil memeluk wanita didepannya yang sambil menggendong anak.

Wanita itupun berusaha menenangkan pria didepannya dengan mengelus-elusi punggung pria itu untuk menetralkan rasa stressnya.

"Aku dan Menma langsung terbang ke Tokyo untuk melihat keadaan Naruto. Bagaimana bisa dia tertabrak Minato.." akhirnya airmata sukses keluar dari wajah cantik wanita bersurai merah itu.

Pria tua itupun kemudian menciumi kening wanita itu dan kembali mencium putra keduanya. Lalu kembali memeluk mereka.

"Ini semua salahku yang membiarkannya lari begitu saja dan tidak dengan cepat berlari mengejarnya.." ucap pria tua itu sambil terus menyalahkan dirinya.

CKRIK-

Pintu ruang pasien itupun terbuka dan terlihatlah seorang dokter yang tertutup oleh masker diwajahnya. Kemudian menghampiri keluarga kecil pria itu.

"B-Bagaimana? B-Bagaimana keadaan anak saya dokter?!" tidak sabar dengan jawaban dari dokter. Pria itu mengguncang-guncangkan badan sang dokter.

Dijawab dengan menundukan kepalanya. Lalu memegang kedua pundak pria tua itu. Tatapan sang dokter mengatakan 'Kau harus sabar mengetahuinya.' Kemudian pria tua itu melepaskan tangannya dari sang dokter. Dan menunggu kalimat yang akan keluar dari sang dokter.

Helaan nafas keluar dari mulut dokter itu. Kemudian membuang mukanya. Merasa iba atas kejadian yang terjadi pada anaknya itu. Dan kemudian berusaha untuk memberitahu apa yang telah terjadi pada anaknya.

"Anak anda mengalami Hilang ingatan."

Seketika shock yang mengenai anaknya itu sukses membuat sang wanita berambut merah tak sadarkan diri seketika. Dengan cepat sang suami menggapai istri dan anak yang wanita itu gendong.

Sementara dokter memanggil beberapa suster untuk membantu pria tua itu menggotong istrinya yang tak sadarkan diri.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Hinata.."

.

.

.

"Hinata.."

.

.

.

.

.

.

.

.


TBC


.

.

.

.

.


A/N :

Yosh minna-san!?

Bagaimana Flashbacknya?

Ini flashback untuk menjelaskan mengapa Naruto bisa slalu menggumamkan Hinata selama ini. Dan Hinata yang slalu muncul dibenaknya.

Dan di chp berikutnya akan menjelaskan tentang *No SPOILER* hehe...

Maaf ya membuat kalian slalu menunggu fic aku ini. bagaimana menurut kalian tentang fic aku yang sudah sejauh ini? tambah burukkah atau? T.T

Tapi makasi untuk kalian smua yang masih senang membaca fic aku. Dan masih mau menjadikannya favorit. Aku senang setiap kalian menyukai ficku lewat review kalian.

Soal SasuHina. Aku juga gamau kok SASUHINA.. tenang aja.. ini ENDING NARUHINA kok.. kalau yang merasa tersakiti.. artinya itu semua ngena kalian hhehe..

Sekian dari fic fan note saya..

Loveyou Minna-san.. XD


By to the Way..

Mind Review? :*