Halo kembali Minna-san! :D Apa kabar kalian semua? Terima kasih masih mau setia menunggu kelanjutan cerita aku ini XD Kita masih membahas 'FLASHBACK' ini semua ya.. supaya semua tanda tanya (?) dicerita ini bisa mendapat jawabannya dichapter ini! Yosh!

Yuk lanjut~

.

.

.

.

.

Naruto Will Be Always with Masashi Kishimoto Sensei ^^

Pair : NaruHina Canon x MenmaHana (Bukan Canon)

WARNING!

Jika sebagian dari anda tidak menyukai cerita atau pair ini. Saya ingatkan untuk tidak membacanya. Dan jika sebagian dari anda masih ngotot untuk baca. Sakitnya akibat pair ini adalah kesalahan dari diri anda yang masih berniat untuk membacanya. Jika tidak menyukai fic ini, anda boleh membaca fic yang lainnya. Karena saya adalah Pemula disini.

-Terima kasih-

.

.

.

.

Selamat Membaca !

.

.

.

Flashback

2 tahun semenjak kecelakaan Namikaze Naruto.

Pria kecil itu masih terus memandang langit-langit dari jendela kamarnya. Langit-langit gelap yang menampakkan cantiknya bintang-bintang dimalam hari. Tidak lupa ia sesekali memejamkan matanya kemudian membukanya kembali.

Hal ini tentu saja menarik perhatian ibunya yang berada ditepi tempat tidur kamarnya. Keberadaan sang ibu tidak dihiraukan pria blondie kecil itu. Ibunya hanya menatap anaknya dengan tatapan sendu.

-2 Tahun sebelumnya-

"Anak anda mengalami Hilang Ingatan.."

Kalimat seorang dokter yang wajahnya ditutupi oleh masker. Entah mengapa seketika sadarnya menghilang mendengar kabar anaknya hilang ingatan.

Namun sekarang ia berusaha untuk tetap tegar menghadapi anaknya yang tadinya sosok periang menjadi lebih tenang dan menyendiri dikamar.

"Kaa-san.." Suara tenang anaknya yang masih terus menatap bintang-bintang dari jendelanya.

"Iya sayang? Ada apa?"

Butuh beberapa kali ia mengerjapkan matanya. Sepertinya mencoba untuk mengingat. Kemudian membuka suara..

"Entah mengapa.. Setiap malam hari tiba.. Aku merasakan sesuatu ada yang mengganjal dalam ingatanku untuk 2 tahun yang lalu.."

Ia masih terus memejamkan matanya. Kemudian beberapa detik kemudian ia menghela nafasnya dan membuka kembali suaranya.

"Kira-kira itu apa ya.. Aku tidak bisa mengingatnya."

Tidak lama kemudian ibunya menghampirinya dan memeluknya. Membuat dirinya menjadi lebih tenang lagi dan tidak untuk berpikiran banyak. Kushina masih terus berusaha untuk memanjakan anak pertamanya. Walau ia tahu bahwa Narutolah yang kelak akan meneruskan perusahaan keluarganya.

"Kalau tidak bisa diingat jangan dipaksakan. Itu nanti hanya akan mengganggumu." Jawab wanita itu. Kemudian tersenyum dan mengeratkan pelukannya.

Namun berbeda dengan pria kecil yang ia peluk. Naruto lebih memilih untuk terus mencari tahu apa yang mengganjal dipikirannya.

.

.

.

"Aku sudah menunggumu dari tadi. Tuan Minato." Ucap pria parubaya berambut panjang yang sudah menunggu lama disuatu ruangan. Ruangan itu adalah ruangan khusus dimana hanya untuk dibicarakan untuk orang-orang penting diperusahaan Hyuuga.

Biasanya ruangan itu dipakai untuk membicarakan kasus-kasus yang belum terpecahkan atau mengadakan meeting yang sangat penting untuk perusahaannya.

Pria bernama Minato tersebut kemudian menghampiri pria parubaya berambut panjang tersebut. Sekarang posisi mereka saling berhadap-hadapan. Satu sama lain memasang wajah kelicikan satu sama lain.

Seperti yang kita lihat. Minato masih belum bisa memaafkan pria yang sudah membuat perusahaannya hampir krisis dalam keuangan dalam jumlah uang yang sangat besar. Dan masih belum bisa melupakan kekejian pria itu. Yang lebih mementingkan dunia keuangan. Itulah yang ada dipikiran Minato. Namun ia berniat untuk berbeda tujuan. Ini untuk putra kesayangannya dan ia 'harus' melakukan ini semua.

"Jadi.. Apa yang ingin anda katakan sampai jauh-jauh untuk datang kesini?" pria berambut panjang itu menatapnya tajam. Menunggu jawaban dari Minato.

Minato hanya terdiam dan berusaha memasang wajah coldnya. Ia berusaha menetralkan suasananya dengan Hyuuga tua dihadapannya. Dan membalas pertanyaan pria tua tersebut.

"Kudengar kau memiliki anak perempuan." Ucapnya dengan yakin dengan wajah dinginnya.

Hyuuga Hiashi. Pria tua yang pernah mengecewakan perusahaan Namikaze Minato. Pria yang ada dihadapannya sekarang yang sedang menatapnya dengan tatapan dingin. Ia mulai berpikir. Tidak mudah baginya menyebar luaskan bahwa ia telah membuang kedua putri kandungnya sendiri. Bisa terpikirkan olehnya bahwa ia akan dihancurkan oleh beberapa media sosial tentang kasus pembuangan anak. Terlebih lagi Minato yang pernah ia kecewakan, berniat datang jauh-jauh dari Eropa untuk kembali ke jepang hanya untuk bertemu dengannya.

"Mengapa anda menanyakan tentang putriku? Apa tujuan anda sebenarnya." Tatapannya semakin tajam menatap pria blondie tua itu.

Minato kemudian hanya tertawa licik. Entah mengapa mereka menjadi saling acuh tak acuh satu sama lain. Namun keduanya terlihat sama-sama membutuhkan.

"Kelihatannya.. anakmu menjadi suatu ketertarikan anakku."

"Jadi tujuanmu kesini hanya untuk apa?"

Minato kemudian terdiam. 'Tidak! Tidak! Mengapa aku tidak berpikir dua kali tentang hal ini. Aku baru sadar bahwa Naruto adalah penerusku! Bagaimana ini..'

Ia masih terus terdiam dan memikirkan suatu kesalahannya yang dengan seenaknya datang ketempat pria ini tanpa ada alasan. Bahkan niatnya yang ingin mengenalkan Naruto dengan anaknya membuat dirinya hilang kendali.

Ia berpikir bahwa Naruto pasti akan bisa kembali tersenyum seperti dulu jika bertemu anak dari pria licik dihadapannya ini. Bahkan demi kebaikan Naruto.. Minato bermaksud untuk menjodohkannya dengan putri pria tua dihadapannya ini. Namun rasa 'gengsi' itu keluar secara tiba-tiba.

'Bagaimana ini.. Tidak terpikirkan olehku bahwa Narutolah yang harus menjadi penerusku.'

"Ada apa Tuan Minato? Mengapa anda tidak menjawab pertanyaan saya."

DEG!

Mau tidak mau ia harus berusaha tetap tenang dan berusaha menetralkan pikirannya. 'Mungkin Menma lebih baik. Aku juga sudah terlanjur berada disini. Bodohnya aku! Mengapa saat bertatap dengannya seperti.. ada sesuatu yang tersembunyi darinya.' Ucapnya dalam hati. Minato kemudian membuka suaranya kembali.

"Saya ingin membuat suatu perjodohan antara anak anda dengan anak saya." Akhirnya keluar juga kalimat itu walaupun sedikit meragukan.

Hiashi seketika terkejut luar biasa dengan apa yang Minato Ucapkan. 'Perjodohan?' batinnya.

"Dengan begitu perusahaan kita bisa semakin maju untuk kedepannya." Tatapan Minato semakin dingin menatap Hiashi tajam.

"Mengapa kau masih menginginkan berbisnis denganku lagi? Bukankah aku sudah menghancurkan perusahaanmu?" semakin licikpun kalimat yang Hiashi keluarkan.

'Bajingan! Dia pikir dia siapa?! Aku juga tidak akan melakukan hal seperti ini jika bukan untuk Naruto. Hanya saja.. ini sudah terlambat. Aku sudah lebih dulu menampakkan diriku didepan wajah bajingan ini.' batin Minato sambil membalas tatapan licik Hiashi.

"Yahh.. Mau bagaimana lagi. Jika kau menolaknya maka aku akan kembali ke eropa dan melupakan perjodohan ini untuk perusahaan kita kedepannya." Minato kemudian berdiri dan bersiap untuk pergi dari ruangan itu.

Hiashi juga beripikir panjang bahwa perusahaannya sedang mengalami krisis yang parah. Mungkin dengan perusahaan Minatolah perusahaannya akan kembali maju dan berjalan seperti dulu. Dan dipandang kembali oleh perusahaan lainnya.

"Baiklah." Ucapnya sambil memejamkan matanya. Berusaha untuk berpikir ini matang-matang. "Sepakat dengan perjodohan ini. Putramu dengan putriku. Siapa putramu yang akan kau jodohkan?"

Minato sudah memikirkan ini dengan matang. Karena ini juga kesalahan dialah yang lupa memikirkan bahwa Naruto yang akan menjadi penerus perusahaannya. Maka ia memutuskan Menmalah yang akan ia jodohkan.

"Putraku Menma dengan putrimu Hiashi." Ucapnya sedikit menyesal dan merasa bersalah. Ini memang kebodohannya yang main seenaknya pergi kejepang tanpa berpikir panjang. Namun ia juga tidak ingin malu mengadapi pria dihadapannya ini. Ia dengan sigap langsung mensepakatinya perjodohan itu.

Hiashi kemudian kembali tersenyum licik. 'Ini akan berjalan dengan baik.'

.

.

.

"Kaa-san.. Apa Otou-san akan pulang malam ini?" ucap pria bernama Naruto yang sambil memakan kue lapis kesukaannya bersama adik kecilnya Menma.

Kushina hanya tersenyum. Kemudian ia menghampiri kedua putranya yang sedang asik memakan kue lapis itu.

"Tenang saja sayang. Otou-san akan ikut makan malam bersama kita malam ini." Kemudian mengusap kepala pria kecil itu dan tidak lupa memasang senyuman manis khasnya.

Naruto hanya tersenyum puas mendengarnya. Kemudian ia mengambil kembali kue lapis dimeja bundar ditempat ruang keluarganya. Malam itu Kushina, Naruto dan adik kecilnya Menma sedang menunggu sang ayah untuk pulang makan bersama. Mengingat akhir-akhir ini ayahnya sering meninggalkan mereka dirumah dengan kesibukkannya. Minato berjanji kepada keluarga kecilnya untuk pulang secepatnya kemudian dapat makan bersama.

Selang beberapa jam kemudian, suara mobil yang mengganggu suasana saat itu langsung membuat pria kecil itu loncat dari sofanya dan berlari keluar pintu rumah untuk menyambut seseorang yang datang disusul sang ibu dari belakang yang menggandeng adik kecilnya.

Senyumannya tersenyum begitu lebar kala melihat kedatangan seseorang yang ditunggu. Tidak lama kemudian setelah mengetahui mobil sang ayah dan menunggu ayahnya keluar dari mobil. Ia langsung menghampiri pintu dimana sang ayah akan turun dari mobilnya.

Pintupun terbuka dan disambut hangat oleh Minato. Ia memeluk putranya begitu hangat. Merasakan kehangatan anak kesayangannya yaitu Naruto. Kemudian melepas pelukannya dan mencium keningnya.

"Tou-san! Ayo makan malam bersama!" ujar Naruto sangat riang.

Minato hanya membalas dengan senyuman hangat. Kemudian beralih menatap sang istri yang juga menyambutnya dengan senyuman hangat. Lalu menghampiri dan mencium keningnya sejenak.

"Bagaimana kesehatanmu? Kau tidak kenapa-kenapakan selama kutinggal?" wajah khawatir itupun muncul dari wajah tampan pria parubaya tersebut.

Kushina kemudian membalikan dengan memasang wajah lebih khawatir. "Seharusnya aku yang bertanya seperti itu. Apa kau tidak apa-apa selama dijepang sendirian? Makanmu teraturkan? Apa istirahatmu cukup?"

Minato hanya terkekeh dan memeluk hangat istrinya yang menggandeng adik kecil Naruto yaitu Menma. "Apa sih yang harus kau khawatirkan? Dari dulukan kesehatanku selalu baik-baik saja."

Naruto dan Menma tersenyum melihat adegan romantis kedua orangtua mereka. Kemudian mereka berlari kedalam rumahnya sambil berteriak. "Tou-san! Kaa-san! Kami akan menunggu dimeja makan!" dan melanjutkan pelarian kecilnya.

Setelah itu Minato mengambil tas kerjaannya yang sudah diturunkan Jirobo. Setelah Kushina bergegas menuju dapur untuk menyiapkan makan malam mereka. Minato menyusul Kushina dan kedua putranya diruang makan.

.

.

.

"Hikaru. Perkenalkan Shion. Mulai hari ini dan seterusnya ia akan menjadi anak kita dan menjadi penerus perusahaan Hyuuga. Maka dari itu ia akan memakai marga keluarga kita. Hyuuga Shion." Ujar pria berambut panjang itu memperkenalkan seorang gadis kecil berumur 10 tahun kepada istrinya yang sedang duduk sendirian dibalkon membelakangi mereka.

Hikaru hanya menoleh setengah. Kemudian ia bergumam. "Tidak ada baiknya membuang anak kandungmu kemudian menggantinya dengan yang baru." Namun cukup didengar oleh Hiashi. Pria tua yang membawa seorang gadis kecil berumur 10 tahun.

"Mulai hari ini. Aku adalah Tou-chanmu. Dan wanita disana adalah Okaa-sanmu." Sambil menunjuk kearah Haruka yang membelakangi mereka berdua.

Gadis kecil berambut blondie pucat itu hanya mengangguk mengerti. Kemudian menatap pria yang sudah menjadi ayahnya itu.

"Apa aku bisa mendapatkan kamarku sekarang. Tou-chan menjanjikannya bukan?"

Hikaru kemudian meremas Kimono yang ia kenakan. 'Anak yang manja.'

"Mari Tou-chan antarkan kekamarmu." Kemudian meninggalkan Hikaru kembali sendirian dibelakang.

Tetes airmata kemudian keluar sedikit demi sedikit setelah sang suami meninggalkannya sendiri. Ia tidak menyadari rasa luka yang dialami sang istrinya. Dimana kau merasakan anak dari rahimmu sendiri.. dibuang begitu saja tanpa sepengetahuanmu. Dan sampai sekarang itu membuatnya menderita.

Kemudian terbesit bayangan dimana ia menyakiti putrinya Hinata. Dimana ia menjewer dan mendengar tangisan Hinata memohon maaf kepadanya untuk kesalahan telah menduga yang tidak-tidak kepada ayahnya sendiri.

Sungguh sakit hatinya membayangkan semua itu. Dimana dimalam itu ia memisahkan Hanabi dengan Hinata. Dimana ia mendiami Hinata selama ini. Ia hanya mengikuti aturan suaminya yang mengatakan jangan terlalu memanjakan anak atau membagi waktu. Itu akan membuat kedua putrinya menjadi gadis yang sangat manja dan banyak maunya.

Namun ia salah. Mengapa ia menyesalinya baru sekarang. Kedua putrinya sudah tidak tahu berada dimana. Hidup sendirian tanpa ada dirinya yang memberi kasih sayang selama mereka kecil. Namun kedua putrinya telah tiada disekelilingnya.

Ia sangat merindukan momen bahagia dimana Hinata masih berumur 1 tahun dan sudah dapat menyebutkan nama 'kaa-chan' dengan sempurnanya. Betapa hebatnya putrinya itu. Dan mengingat kelincahan Hanabi yang berumur 2 tahun. Benar-benar putri kesayangannya yang sangat luar biasa.

Namun suaminyalah yang slalu bertindak dingin dan mengancamnya untuk tidak memanjakan dan berbagi waktu. Dan mengenai uang yang ia pakai selama ini. Ia berpikir bahwa uang yang ia pakaikan saat itu adalah untuk membelikan pakaian-pakaian Hinata dan beberapa mainan untuk Hanabi dengan diam-diam.

Tidak mau suaminya memarahi kedua anaknya karena mendapatkan barang baru. Atau takut suaminya mengambil kembali barang barunya. Hikaru lebih memilih untuk membohongi suaminya dengan kata lain ia mengorbankan atas nama dirinyalah uang itu habis untuk kecantikannya.

Padahal Hikaru termasuk cantik dan anggun secara alami seperti Hinata dan Hanabi. Ia selama ini tidak pernah memakai obat-obatan untuk kepentingannya atau yang lain-lain. Melainkan ia membelikan hal-hal baru untuk kedua putrinya sendiri. Namun ia harus slalu menjadi korban cacian suaminya. Hingga saat itu ia salah menggunakan uang suaminya.

Ia kembali menyesali dirinya. Menangis sendirian dan menyesali perbuatannya. Ia kembali teringat dimana ia pertama kalinya menyakiti Hinata dengan menjewer telinganya. Itu adalah momen dimana pikirannya sedang kacau dan dengan seenaknya melakukan hal yang sangat tidak layak sang ibu lakukan terhadap anak seumuran Hinata.

*Flashback*

Hikaru POV's

Apa aku istri yang tidak layak untuk suamiku sendiri? Mengapa ia slalu saja meremehkan diriku yang hanya slalu ingin disampingnya disaat dia didalam kesulitan? Apa ia tidak memikirkan diriku dan kedua putri kami..

Entah sudah berapa lama aku terduduk tenang dihalaman belakang rumah. Meminum tehku tanpa memperdulikan rasa pahit yang aku rasakan dilidahku. Tidak. Ini tidak sepahit hidupku yang sangat menyebalkan.

Aku merasakan kehadiran sesosok gadis kecil yang kuketahui itu adalah putri tertua kami. Hyuuga Hinata. Ia terlihat sama sepertiku. Hanya ia terus menunduk dan duduk disampingku dengan tenang.

Sampai ia membuka suaranya dengan pelan.. "Kaa-san.. Mengapa Otou-san tidak pernah mau bermain denganku?" tanyanya kepadaku dengan suara yang sangat pelan. Dan aku sebagai ibunya tahu bahwa itu sudah sifat lembutnya.

Aku tidak menanggapinya dan terus meminum tehku. Namun ia tidak merasa senang dengan aku yang mendiaminya. Ini memang sudah sifatku kepadanya. Yaitu tidak memperbanyak bicara kepadanya. Dengan ancaman yang dibuat suamiku.

"Apa Otou-san membenciku?" ia kemudian menekankan kata terakhir dalam kalimat itu.

Spontan aku sangat terkejut dengan perlakuannya. Mengapa ia berpikir seperti itu diusianya yang baru menginjak 8 tahun? Tahu apa ia mengenai bencinya suamiku atau ayahnya terhadap dirinya sendiri?

Dia tidak tahu bahwa aku sedang dalam pikiran kacau. Dan sekarang ia menambah-nambahi beban pikiranku. Dengan spontan aku menatap tajam kearahnya. "Apa yang membuatmu berfikir seperti itu kepada ayahmu sendiri Hinata!" Aku kemudian membentaknya dengan sangat kasar.

Dan ia hanya menundukan wajahnya. Takut untuk menatap mataku sendiri yang sekarang telah membentaknya. Iya menggenggam tangannya erat-erat seperti menahan sesuatu.

"M-Maaf K-Kaa-san.. Hi-Hina hanya ingin waktu bermain dengan O-oto-"

"Bermain?! Kamu pikir ayahmu itu hanya mementingkan dirimu saja? Lalu kalau ayahmu bermain denganmu siapa yang mengurus pekerjaannya?! Siapa Hinata?! SIAPA?!" kesal dengannya. Aku kemudian tanpa berpikir panjang menjewer telinganya itu karena kesal dengan kalimatnya itu. Memang benar apa yang dikatakan suamiku. Karena aku slalu memanjakannya dengan barang baru. Dan sekarang pikirannya hanya bermain dan bermain. Bahkan ia sudah berani mengajak suamiku yang super sibuk untuk bermain.

Ia hanya terus berusaha menahan apa yang harus ia tahan saat itu. Ia hanya meringis kesakitan sembari terus memegang tanganku yang menjewer telinganya. Namun air kecil yang berusaha ia tahan-tahankan keluar sedikit-demi sedikit.

Mataku tak percaya apa yang kulihat didepan mataku. Putriku menangis dihadapanku. Sungguh mirisnya diriku. Sepertinya ini sudah keterlaluan. Aku sudah sangat keterlaluan terhadapnya. Hanya karena membela suamiku.. aku sampai melakukan hal yang tak sepantasnya terhadap Hinata.

Tidak tega lagi aku menyentuhnya.. aku hanya takut aku akan semakin melukai putriku sendiri. Aku kemudian melepas jeweran itu dan pergi meninggalkannya yang masih menangisi rasa sakit ditelinganya.

Air mataku muncul dengan sendirinya mendengar ia merasakan sakit diseusianya yang sekarang. Terlebih lagi akulah yang menyakiti dirinya secara fisik. Putriku yang kurawat secantik mungkin.

Setelah meninggalkannya sendiri. Aku bersembunyi dibalik tembok yang membatasi aku dan putriku. Aku mendengarnya menangisi rasa sakitnya sendiri. "A-Apa yang salah kalau H-Hina ingin bermain de-dengan O-otou-san.. Hi-Hina hanya bertanya a-apakah O-otou-san membenci Hina.." ia masih terus menangisi dan terus memegangi telinganya yang memerah karena diriku.

Ia kemudian menangis sepelan mungkin yang ia bisa. Aku tahu ia menangis. Akupun dibalik tembok ini menangisi dirinya akibat ulahku sendiri. Entah mengapa aku merasa menjadi ibu yang paling kejam diseluruh dunia. Dan aku ikut menangis pelan.. menangisi putriku yang sedang menahan rasa sakitnya.

Kali ini.. dipikiranku adalah..

Ibu macam apa aku ini?

Mengapa aku melakukan ini semua..

*End of Flashback*

End of Hikaru POV's

.

.

.

"Onee-chan.. Hana haus.." Gadis kecil yang berumur 4 tahun datang menghampiri kakaknya yang sedang membersihkan suatu ruangan itu.

Kakaknya menoleh dan kemudian berjongkok dihadapan adiknya yang sedang terduduk dilantai suatu ruangan. Kemudian menepuk-nepuk kepala adiknya yang masih kecil itu. Ia hanya tersenyum lembut dan kemudian memejamkan matanya.

Menarik nafas dan kemudian menghembuskannya..

"Tunggu disini yah. Nee-chan carikan air untukmu."

.

Berlari dan terus berlari. Gadis kecil itu terus berlari mencari toko yang bisa ia kunjungi. Dan sampailah ia ditoko bangunan yang belum selesai dibangun. Terlihat wanita muda sedang menyapu didaerah depan toko yang masih sedang dalam proses pembangunan.

Gadis kecil itu hanya menatap toko bangunan itu. Sambil menetralkan nafasnya ia berjongkok didepan toko itu. Namun ia cukup menjadi perhatian orang-orang. Dengan keadaan yang sangat menyedihkan dimana toko tersebut masih dalam proses pembangunan dan gadis itu malah berjongkok didepan toko itu. Membuat para pejalan kaki yang melewati dihadapannya memberikannya uang setiap kali melewati gadis kecil itu.

Ia mulai bingung dimana orang-orang membuang uang kearahnya. Kemudian ia mengambil uang-uang itu dan mengumpulkannya. Dan menghitung uang-uang itu. Cukup banyak menurutnya. Dan ia tersenyum bahagia.

Ia kemudian terus berjongkok didepan toko tersebut. Wanita muda itu masih terus memperhatikannya. Sampai beberapa menit kemudian ia masuk kedalam toko tersebut dan keluar membawa botol minum.

"Hey gadis kecil. Siapa namamu? Ini.. Minumlah." Ucap wanita muda itu sambil memberikan botol minuman kepada gadis kecil itu.

Gadis itu hanya terpaku pada wanita cantik dihadapannya. Kemudian menerima minuman itu.

"A-Arigatou.." kemudian meneguknya hingga sampai setengah botol. "H-Hinata.." ucapnya setelah meminum botol tersebut. Kemudian tersenyum dan pergi meninggalkan wanita muda itu.

Ia berlari kearah suatu tempat dimana adiknya berada.

.

"Ahhh~" Setelah meneguk habis minuman itu. Gadis kecil itu membuangnya kesembarang tempat. Dan tertidur dengan pulasnya.

"E-Eh?! Dia malah tidur.."

Hinata gadis kecil yang dibuang oleh ayahnya sendiri. Telah menghidupi adiknya selama 2 tahun lamanya tanpa lelah. Ia harus menafkahi adiknya yang masih berumur 4 tahun itu.

"Hana-chan.. Nee-chan mau pergi ya. Kamu disini jaga rumah."

Gadis kecil berumur 4 tahun itupun masih setengah sadar dan terbangun dari tidurnya. "Nee-chan mau ke sana lagi? Hana sendirian lagi deh."

Hinata hanya tersenyum menanggapinya. Kemudian menghampiri adiknya dan mengelus-elus punggung adiknya yang dalam posisi tidur. Dan mengecup keningnya hangat. Setelah itu memeluknya.

"Nee-chan mau masuk sekolah yang bagus. Supaya Nee-chan nanti sukses bisa biayain kamu sekolah juga. Dan Nee-chan juga mau cari pekerjaan untuk kita."

Hana kemudian menggelengkan kepalanya. "I-Itu tidak adil! Itukan tugas tou-san dan kaa-san. Mengapa Nee-chan yang menjalaninya? Dan mengapa Tou-san tidak pernah kembali lagi kesini."

Hinata kembali tersenyum dan memeluk adiknya semakin erat. Ia menangis dalam diam meratapi nasib yang menimpanya. Ia hanya mampu menangisi hidupnya tanpa harus berjuang. Dan inilah saatnya. Saatnya dimana ia bukan mengemis uang. Namun ia juga harus bekerja dan belajar agar dapat bersekolah.

"Sudah tidak usah dipikirkan. Kamu mau makan enakkan? Biar Nee-chan yang beli nanti khusus untuk kamu. Sekarang Nee-chan mau mencari buku-buku bekas itu lagi dirumah Chiyo obaa-san. Sepertinya kamu juga harus belajar dari buku-buku disana. Tunggu disini ya."

.

.

.

-End of Real Flashback-

*PUKPUK!*

"E-Eh?!"

"Nani? Apa yang kau lamunkan sampai kau terihat murung seperti itu?" ucap pria berambut raven sambil menepuk-nepuk kepala gadis cantik dihadapannya.

Yang ditepuk-tepuk kepalanya hanya merona merah seperti biasanya. Ia cukup terkejut ketika pria raven itu mengagetinya tiba-tiba. Gadis itu kemudian hanya menundukan kepalanya dan menggeleng pelan. Dan setelah itu tersenyum.

"Tidak ada apa-apa kok Sasuke-san."

Pria bernama Sasuke itupun juga membalas senyumannya. Dan setelah itu mencubit pelan pipi gembil gadis cantik itu.

"I-Ittai~" ringis gadis itu saat dicubit pipinya.

"Sejak kapan kau sudah terbiasa memanggilku Sasuke-san. Kemana panggilan 'Senpai'nya?" tanya pria itu sambil tertawa kecil. Setelah itu melepaskan cubitannya dari pipi gadis itu.

"Itachi-senpai memberitahuku bahwa tidak usah memanggilmu 'Senpai'. Jadi aku memanggilmu Sasuke-san." Jawabnya sambil tersenyum. Tidak lupa pipinya yang sangat gembul itu merona.

Sementara Sasuke hanya memasang wajah terkejut memandangnya. Kemudian ia membuang mukanya karena wajahnya mulai memanas.

DEG!

'Ugh!' Sasuke memegang dadanya. Jantungnya berdegup kencang. Ia kemudian melirik gadis cantik tadi dengan ekor matanya.

DEG!

'Ugh!' Ia langsung mendahului gadis itu. "H-Hinata-chan! Sebentar ya.. Aku mau ke toilet. Kau tunggu yang lain disini." Kemudian meninggalkan ia dengan yang lain menunggu temannya yang ketoilet.

Mereka sedang menunggu satu persatu untuk pergi ketoilet. Itulah sebabnya mereka sedang saling menunggu.

.

Pria berambut raven itu masih menatap cermin panjang dikamar mandi sembari sesekali membasuh wajahnya dengan air keran yang keluar dari wastafel. Sesekali ia menutupi wajahnya dengan satu tangannya. Setelah itu memegang dadanya yang masih berdegup kencang.

'A-Apa ini..' masih terus memegang dadanya yang berdegup kencang.

DEG!

'UGH!' wajah pria itu kemudian merona hebat disertai tingkahnya yang aneh. Ia mulai menggeleng-gelengkan kepalanya.

'Tidak Tidak.. Jangan Hinata..' Ia terus membasuh wajahnya untuk menyadarkan dirinya yang bertingkah aneh. Sampai seseorang menepuknya dari belakang.

PUK'

Ia menoleh dan mendapati rekan timnya. Sasori.

"Ada apa?" tanya lelaki berambut merah itu dan memberikan kotak tissue yang ada ditoilet untuk mengeringkan bagian yang dibasuh Sasuke.

.

.

"Ayo kita jalan. Bus kita sudah menunggu untuk perjalanan ke Hotel. Setelah istirahat kita akan ada dinner malam dengan rekan tim kita disini. Dan mungkin mulai besok kita memulai latihan kita." Ucap Itachi panjang lebar sambil memegang jadwal schedule.

Sementara yang lain hanya mengangguk mengerti dan melanjutkan perjalanan mereka menuju bus yang sudah menunggu kedatangan mereka.

"Nee.. Nee-chan.. Apa kita bisa ikut kegiatan ini untuk seterusnya?" tanya adik kecil Hinata yaitu Hanabi.

Hinata hanya tersenyum dan mengangguk meng'iya'kan adiknya itu kemudian mengelus-elus kepala adiknya. Hanabi hanya menatap bingung kakaknya. Apa ini memang sudah jalan mereka mengikuti kegiatan seperti ini? Yang Hanabi tahu Hinata adalah tipe pemalu yang tidak bisa tampil beda didepan umum. Apa kakaknya itu bisa melakukan kegiatan seperti ini?

Entahlah..

Hanabi hanya mengikuti jalan cerita kakaknya saja. Dengan begitu mungkin akan menjadi lebh baik dan berguna untuknya dan kakaknya.

Ia kemudian melirik kearah Sasuke yang diam-diam memperhatikan kakaknya itu. Merasa dirinya ketahuan memperhatikan diam-diam. Sasuke membuang muka dan mempercepat jalannya.

Hanabi kemudian menghelakan nafasnya panjang..

"Hahhh~ Merepotkan.."

.

.

.

.

.

Pria blondie itu masih mencari-cari sosok yang ia tunggu namun tak kunjung datang. Sesekali ia melirik jam tangannya dan mendecik kesal. Mengapa orang yang ia tunggu tak kunjung datang. Padahal biasanya jam segini orang yang ia tunggu akan keluar dan berlari kecil menghampirinya.

"Dimana kau Menma.." ujarnya sambil mencari-cari sosok yang ia tunggu. Ia juga tidak melihat adanya teman sekolahnya yang ia kenal yaitu Hanabi. Mengapa gadis kecil itu juga tidak kelihatan. Dan yang ia tahu, kata adiknya sendiri kakaknya Hanabi akan menjemputnya untuk pulang. Namun gadis kecil itu juga tak kunjung keluar.

"Apa mungkin Hanabi tidak masuk yah.. Tapi apa mungkin juga Menma tidak ikut masuk?!" Pria Blondie itu kemudian kembali menaiki motor Sportnya dan mulai mencari-cari adik kecilnya itu.

'Dimana kau Menma!' ia melajukan motornya dengan kencang untuk mulai mencari dimana adiknya berada. Namun setelah tidak jauh dari sekolah adiknya berasal. Disebuah taman kecil yang kosong terlihat sosok yang ia cari-cari sedang duduk diayunan.

Merasa kenal dengan sosok itu ia menghampirinya dengan kencang.

.

"Kau ini.. Jangan bilang padaku kalau kau membolos." Pria itu menanyakan adiknya dari jauh sambil berjalan kearahnya.

Yang ditanya hanya terdiam dan menunduk. Tidak mau menunjukkan wajahnya yang sedang terbawa suasana tidak baik. Pria Blondie ini paling tidak suka diacuhkan. Ia kemudian berjongkok didepan adiknya yang sedang duduk diayunan.

"Apa kau tidak malu? Sudah besar masih main sendirian disini siang-siang bolong." Ujar pria itu sambil menatap adiknya yang masih menunduk.

Masih tidak ada respon dari adiknya.

Ia kemudian ikut duduk disebuah ayunan kosong disamping adiknya. Dan mulai berbicara sendiri sambil mengayunkan ayunannya kebelakang dan kedepan.

"Ah.. Kalau Hanabi tahu saja kau disini sendirian. Ia pasti merasa kau tidak membutuhkannya. Apalagi kalau kau membolos disekolah-"

"Ia sudah pindah."

Suara kecil adiknya mampu didengar oleh pria blondie itu. Namun adiknya masih terus menundukan kepalanya. Masih menyembunyikan wajah sendunya.

"Eh? Pindah? Siapa?" tanya pria blondie itu penasaran. Ia memberhentikan ayunannya.

Tidak ada jawaban lagi darinya. Ia kembali terdiam seperti pertamanya.

"Siapa sih yang pindah? Hanabi?" ucap pria itu sambil menatap adiknya bingung dan penuh tanda tanya.

Adiknya hanya menganggukkan kepalanya keatas dan kebawah pelan. Setelah itu mengangkat wajahnya menatap kakaknya. Pria Blondie itu membulatkan matanya melihat kedua mata adiknya yang sudah membengkak karena menangis. Dengan cepat Pria Blondie bernama Naruto itu turun dari ayunannya dan memeluk adiknya.

"Apa yang terjadi denganmu? Mengapa Hanabi pindah? Pindah kemana?" Naruto memeluk adiknya berusaha menenangkan adiknya itu.

Menma membalas pelukan hangat kakaknya. Setelah itu menenggelamkan wajahnya didada bidang kakaknya sendiri. Kemudian menatap kakaknya memberi jawaban.

"A-Aku.. A-Aku.. Tidak tahu mengapa dia pindah dan tidak tahu kemana ia pindah." Menma mulai menintikkan air matanya sedikit demi sedikit.

Naruto mulai tidak percaya mengapa Hanabi bisa pindah dari sekolahnya. Namun ia mempunyai ide. "Ayo kita datangi rumahnya dan menanyakan padanya."

Setelah itu diangguk mengerti oleh Menma.

.

.

.

Kedua pria itu hanya menatap rumah kosong yang sudah tak berpenghuni. Kemudian mencoba mengetuk pintu cokelat milik rumah itu. Mencoba memastikan bahwa rumah itu pasti masih memiliki penghuni berwujud manusia.

Tok' Tok'

'Cklek' Pintu itu hanya dengan ketukan saja sudah mampu terbuka dengan sendirinya.

Merasa dipersilahkan untuk masuk. Mereka berdua kemudian memasuki rumah itu dengan penasaran. Kemanakah perginya mereka? Apa mereka ada didalam? Apa sedang pergi keluar?

Pertanyaan demi pertanyaan keluar begitu saja dibenak masing-masing. Mereka berusaha untuk berpikir positif. Tidak lama kemudian mereka mulai menelusuri rumah itu satu persatu dengan sendirinya. Namun masih tidak ada penghuninya.

CRACH!

Naruto dan Menma mendengar suara pecahan sesuatu berasal dari dapur dimana baru saja mereka telusuri bersama. Dengan cepat mereka berlari kearah dapur. Dipikiran Naruto itu pasti ulah Hinata yang memecahkan sesuatu.

Namun setelah sampai didapur yang mereka dapati bukanlah Hinata. Melainkan Kucing hitam yang sedang berada diatas meja makan menjatuhkan piring-piring yang ada diatasnya.

"Kucing sialan! Kaget aku mendengarnya." Ujar Naruto kemudian mengusir kucing tersebut. Ia mulai khawatir dengan keberadaan Hinata. Dimanakah Hinata dan adiknya berada sekarang.

"Bagaimana kalau kita cek kamar mereka." Tarik Menma menuju arah kamar dimana tempat peristirahatan Hanabi dan Hinata.

Setelah sampai didepan pintu kamar milik pujaan mereka berdua. Naruto sempat mengingat kejadian panas antara dirinya dengan Hinata dikamar milik Hinata. Wajahnya seketika mulai memanas dan memerah. Kemudian ia menggeleng-gelengkan kepalanya.

'Bukan saatnya berpikiran seperti itu Baka!' sambil menepis bayangan-bayangan mereka berdua melakukan hal panas.

'Cklek-

"Pintunya tidak dikunci.." Menma kemudian mulai masuk kedalam kamar itu dengan kakaknya. Mereka mulai melihat-lihat dengan serius isi kamar wanita pujaan mereka. Namun ketika Menma membuka lemari baju milik Hanabi. Ia tidak menemukan apapun. Melainkan hanya barang-barang yang tidak bisa dipakai lagi dan disimpan didalam lemari.

Sama halnya dengan Naruto. Pria itu tidak menemukan pakaian milik Hinata sehelaipun didalam lemarinya. Bahkan dimeja belajar milik Hinata hanya tertinggal buku-buku sekolahnya dan beberapa buku-buku asing dari sekolahnya.

"Kurasa ia memang benar-benar pindah Nii-san.." Ujar Menma kembali menundukan kepalanya kebawah. Menahan tangisnya dan menggenggam tangannya sendiri. Berusaha keras menahannya.

Naruto juga hanya terdiam melihat isi kamar ini. Tidak ada satupun pakaian-pakaian yang tersisa. Dan juga tidak ada tanda-tanda kepergian mereka. Ini jelas membuat Naruto bingung setengah mati.

Bagaimana bisa Hinata meninggalkannya setelah beberapa hari yang lalu mereka baru saja bermain bersama. Naruto mulai bertanya-tanya dan memikirkan kejadian disekolah. Kalau tidak salah ada seorang murid kelas 10 yang pindah dari sekolahnya. Ia mulai bertanya-tanya siapa orang itu.

Namun setelah diingat-ingat Hinata adalah anak kelas 10. Naruto kemudian membelalakan matanya tak percaya. Menurutnya apa mungkin itu bisa saja Hinata yang baru saja pindah dari sekolahnya.

"Menma! Aku akan kembali kesekolah setelah mengantarmu pulang! Ayo kita ke motor." Kemudian berlari cepat keluar rumah dan menaiki motor sportnya. Menma kemudian mengejarnya dan setelah itu berhenti didepan motor kakaknya itu.

"Kenapa Naruto-nii malah lebih memilih untuk kesekolah dari pada mencari tahu keberadaan mereka?!" teriak Menma. Dan lepaslah tangisan itu dihadapan Naruto.

Naruto hanya membuang mukanya dan tetap menyuruh Menma untuk naik. Setelah itu Menma menurutinya dan mereka memulai perjalanan mereka menuju rumah.

.

KRIIITTT!

Suara motor yang berhenti secara tiba-tiba. Menandakan bahwa kedua pria itu telah sampai didepan gerbang rumahnya. Menma akhirnya turun dari motor itu dan kemudian menepuk-nepuk celananya.

"Nii-chan ada urusan apa mau kesekolah lagi? Sudah mulai gelap." Tanyanya kepada kakak tertuanya. Kemudian mensejejerkan tubuhnya dengan kakaknya.

"Nii-chan mau mencari tahu perpindahan Hinata kemana. Kebetulan hari ini ada adik kelasku yang pindah dari sekolah. Aku ingin menanyakannya." Setelah itu melajukan motornya meninggalkan adiknya yang masih diam berdiri. Melihat kepergian kakaknya dan bergumam untuk keselamatan kakaknya dan juga..

"Semoga tidak jauh dari sini Hana-chan pergi." Setelah itu ia masuk kedalam rumahnya sambil berjalan santai.

Tidak menyadari ada seseorang yang memperhatikannya didepan teras rumahnya sambil memasangkan wajah khawatirnya. Dan berusaha untuk menghampiri Menma.

"Menma sayang.."

Merasa dipanggil namanya. Menma menoleh keasal suara. Kemudian setelah ia memandang wajah khawatir ibunya, ia membuang kembali wajahnya. Setelah itu melanjutkan perjalanannya menuju masuk kedalam rumah.

"Menma. Maafkan ibu atas kejadian tadi pagi.." Kushina mulai mengikutinya dari belakang dan hanya didiami oleh anaknya sendiri.

Menma kemudian melepaskan sepatunya dan melepaskan kaos kakinya. Kushina hanya melihat anaknya yang sedang merapihkan sepatunya ketempat sepatu.

"Tadaima.." ucap Menma tanpa menoleh kebelakang Kushina yang masih memperhatikannya.

"Okaeri sayang." Jawab Kushina sambil menatapnya lembut dari belakang. Walau wajah lembutnya tidak dilihat oleh Menma sendiri.

Menma kemudian melanjutkan perjalanannya menuju kamarnya. Ia menaiki anak tangga yang menuju kamarnya dan kakaknya.

"Sayang.. Apa kau mau makan?" Tanya Kushina yang berhenti mengikutinya menaiki tangga.

Menma hanya meliriknya sekilas. Setelah itu ia kembali memperhatikan jalannya menuju kamarnya. Seperti anak durhaka saja Menma saat ini. mendiami ibunya tanpa memperhatikan ibunya yang khawatir. Namun rasa kesal yang dialami Menma tidak bisa dibaca oleh ibunya itu. Dimana ia sudah ditampar oleh ibunya yang ia sayangi.

.

Naruto terus berlari sekencang mungkin menuju ruang guru. Disekolah hanya tinggal dirinya dan beberapa murid yang masih mengerjakan tugas-tugas yang belum selesai. Sekolahnya sangatlah besar dan mewah. Hal ini membuatnya kewalahan untuk menuju ruangan ke ruangan. Apalagi ruang guru sangatlah elit disekolah ini. Memiliki penjaga didepannya. Padahal hanyalah ruang guru.

Setelah sampai didepan ruang guru ia memasuki ruang guru itu dengan alasan masih memiliki tugas yang belum selesai terhadap guru yang masih berada didalam ruang guru.

Akhirnya ia berhasil masuk dan langsung menghampiri meja guru bahasa jepangnya yaitu Mabui Sensei. Alias wali kelas adik kelasnya yang sangat ia penasarani. Namun ia berharap adik kelas yang pindah bukanlah Hinata.

"Ah.. Naruto? Mengapa jam segini kau masih berkeliaran disekolah? Tumben sekali. Kau terlihat lelah. Ada apa?" Mabui sensei langsung menyadari keberadaan Naruto.

Sementara Naruto masih kelelahan mengeluarkan tenanganya yaitu berlarian disepanjang koridor sekolahnya yang sangat besar. Hanya untuk sampai keruang guru ini saja. Dasar blondie bodoh.

"Kumohon beritahu aku. Siapa murid sensei yang baru saja pindah." Ucapnya sambil membungkuk hormat dan masih terus melanjutkan penetralan nafasnya.

Mabui terkejut melihat tingkah muridnya yang sudah menginjak 17 tahun dan kelas 3 SMA itu. Ia datang jauh-jauh sampai kelelahan seperti ini hanya untuk menanyakan hal semacam ini? Mabui berpikir bahwa tingkat keingintahuan Naruto sangatlah luar biasa hanya untuk yang seperti ini.

Kemudian ia tersenyum sambil menopangkan tangannya dipipi kanannya. Ia tersenyum manis. Setelah itu membuka buku nama-nama muridnya itu. Dan mencari-cari siapa yang sudah dicoreti namanya.

Dan..

"Hyuuga Hinata."

DEG!

Naruto yang masih membungkuk kemudian memejamkan matanya begitu dalam. Berharap yang ia dengar hanyalah mimpi. Setelah itu mengerjapkan matanya berulang kali. Dan kembali menegakkan dirinya untuk menatap senseinya itu.

"Kalau saya boleh tau. Kemana ia pindah?" Tatapan Naruto kemudian mulai menajam kearah Mabui.

Mabui terkejut kembali melihat wajah Naruto berubah seketika. Ia menatap Naruto dengan terkejut dan bingung. Ada urusan apa pria ini dengan muridnya yang sudah pindah.

"Sensei memiliki suratnya. Hanya saja sensei belum membaca-"

"Ijinkan aku yang membacanya!" kemudian Naruto kembali membungkukkan badannya. Mabui hanya heran dengan sikap Naruto yang seperti ini. benar-benar ada apa dengannya.

Mabui kemudian mengambil tasnya dan mencari-cari sepucuk surat yang diberikan oleh pria yang beberapa hari lalu mendatangi rumahnya hanya untuk memberikan surat perpindahan dari Hinata.

Dan setelah ditemukannya surat itu. Mabui hanya memperhatikan surat itu. 'Apa isinya sangat penting? Apa didalamnya ada sesuatu? Uangkah? Atau? Mengapa Naruto anak orang kaya sangat menginginkannya.' Ucapnya dalam hati.

Mabui kemudian membuka surat itu dan mulai membacanya. 'Tidak ada yang menarik didalam surat ini. Lagipula hanya surat perpindahan.' Setelah membacanya ia memberikannya kepada Naruto yang masih terus membungkuk hormat.

"Kau tidak lelah apa membungkuk seperti itu terus." Ujarnya dan membuat Naruto reflek menegakkan kembali badannya.

Naruto hanya terdiam dan menatap Mabui sensei yang masih memberikan surat itu padanya. Dengan sopan Naruto menerimanya dan mulai membacanya.

Atas Nama :
Hyuuga Hinata.

Surat ini berisikan tentang :
Atas nama Hyuuga Hinata. Saya mengutuskan diri saya untuk pindah dari sekolah ini dengan alasan mengikuti orangtua saya yang pindah keEropa atas pekerjaannya. Dan meminta persetujuan dari sekolah ini dengan menerima kembali surat-surat sekolah ini. Agar saya bisa melanjutkannya kembali disekolah selanjutnya.

Terima kasih

Tanda Tangan

(Tanda tangan)

Hinata Hyuuga.

Naruto membelalakkan kedua matanya membaca isi surat itu. Ia tidak percaya Hinata pergi begitu jauh darinya. Bahkan ia pergi jauh ke..

"Eropa? I-Itu jauh sekali.." ujarnya kemudian mengerutkan keningnya dan menggenggam erat tangannya sendiri setelah membacanya.

"Ada apa Naruto?" tanya Mabui kepadanya.

Naruto kemudian menatap senseinya. Dan membungkuk hormat untuk pamit pulang. Setelah itu kembali berlari menuju motornya untuk pulang kerumahnya. Memberitakan kabar buruk kepada adiknya bahwa Hinata telah pergi jauh.

.

.

Dan Hanabi juga seperti itu..

.

Kedua belahan jiwa mereka..

.

Sama-sama telah pergi menjauh dari mereka..

.

.

.

.

-TBC-

.

.

.

A/N:

YATTA! Akhirnya update juga! Gomen kalau masih ngegantung terus ceritanya T.T Mungkin untuk fanfic pertama.. lebih suka cerita yang panjang-panjang :D !

Ohya.. PAPA NARUTO/NANADAIME/HOKAGE-SAMA! OTANJOUBI OMEDETOU YA! XDXDXDXD Be the best daddy for BoruHima and be the best husband for Mama Hina XDXDXD Salam dari anak angkatmu *Uhuk!*.

Saya akan mengupdate beberapa chp lagi. Karena sudah mau tamat! Terima kasih buat kalian yang masih slalu mengikuti cerita ini!

By to the way..

Mind Reviewnya ? XD XD