"Aku berhasil lagi."

Astral Projection

Story © Vio

Chara © Monsta

Warn: typo(s), OOC, AU, teens, EYDsedikitberantakan, aneh, no robots,aliens, dll.

Don't Like Don't Read

Happy reading~~


"Ba-bagaimana ini bisa terjadi?" gumam Gempa. Ia masih tidak mengerti apa ini walaupun ia sudah diberi tahu Halilintar di sekolah dan searching di internet. Tapi Gempa masih belum paham. "Lebih baik aku jalan-jalan sebentar. Menurut artikel yang kubaca, aku bisa melakukan apa saja." Gempa pun mencoba mengangkat tubuh-astralnya- untuk terbang. Dan ternyata berhasil.

Gempa tidak percaya apa yang sedang dialaminya sekarang. Ia bisa terbang dan menembus tembok bahkan langit-langit rumahnya. Gempa terbang masih memakai piyama tidurnya. Ia bingung ingin kemana. Langit cerah bercahayakan bulan purnama. Masyarakat kemungkinan sedang tidur sekarang.

"Apa aku kunjungi Halilintar saja ya?" gumam anak bermata emas itu.

"Tidak tidak. Nanti aku mengganggu tidurnya."

"Eh tapi aku harus bagaima sekarang?" kegundahan menyelimuti Gempa. Antara bimbang ingin pergi ke rumah Hali atau tetap di kamarnya. Tetapi ia sangat bosan dan memutuskan pergi ke rumah temannya tersebut.

Gempa terbang melewati beberapa rumah. Melihat keadaan rumah orang lain dengan menembusnya. Ia yakin tidak ada yang bisa melihatnya. Beberapa kali Gempa terkekeh melihat kejadian lucu di rumah tetangga tetangganya. Tapi mereka memberikan respon lain. Seakan baru merasakan makhluk halus lewat yang membuat mereka merinding seketika.

"Haaah aduh rumah Hali jauh banget sih." keluhnya. Gempa terlihat kelelahan harus melewati rumah rumah satu persatu. Tapi saat melewati sebuah kamar anak kecil, terasa ada yang janggal menurut Gempa.

Terlihat seorang anak kecil berumur sekitar 6 tahun melihat padanya dari balik selimut. "Ha? Apakah ia bisa melihatku?" kata Gempa pelan.

"Halo adik kecil." sapa pemuda itu dengan ramah.

"KYAAAA. IBU TOLONG AKU, IBUUU!"

"Haaaaa?" Gempa melongo saat melihat anak itu malah lari ketakutan. 'Ish malang kali nasibku. Udah nyapa baik-baik malah dikira hantu. Lebih baik aku pergi saja daripada mendapat masalah.' ucapnya dalam hati. Dan sepertinya Gempa masih tidak tahu diri bahwa sekarang ia sedang berpisah dengan raganya. Gempa pun meninggalkan kamar itu dengan cepat. Gempa dapat mendengar dari jauh anak itu terkejut dan bingung saat melihat Gempa tidak ada lagi dan ibunya yang mencoba menenangkannya.

Setelah tiba di kamar Halilintar, Gempa pun melihat pemuda berkaos merah itu sedang belajar di meja belajarnya. Sebenarnya Gempa ingin menyapa Hali, tetapi ia sadar, sekarang ia sedang seperti apa.

"Hhmm apa lebih baik aku pulang saja ya?" kata Gempa ragu.

Tapi ada yang terjadi. Tiba-tiba Hali merasa terganggu dan membalikkan tubuhnya ke belakang-menghadap Gempa. Terlihat dari wajah pria itu bahwa ia terkejut seperti melihat sesuatu yang ganjil. Apakah Halilintar bisa melihat diriku? Batin Gempa.

"Ge-ge-gempa-" Suara Halilintar tercekat. Ia sangat terkejut melihat seseorang yang berada di hadapannya kini. Sebenarnya Halilintar adalah seorang anak indigo, tetapi ia tak pernah memberitahukannya kepada teman dan sahabatnya karena ia takut mereka mengetahuinya. Sebenarnya ia mengetahui tentang astral projection itu bukan dari teman-teman klubnya, tetapi karena ia sendiri yang mengetahui dan sering mengalaminya. Dan ia tak menyangka bahwa sahabatnya juga bisa melakukan itu tetapi bukan karena memiliki indra ke-enam sepertinya.

"Hah? Hali? Apa kau bisa melihatku?" Gempa melambai lambaikan tangannya ke muka Halilintar yang sedang termenung.

"A-a-i-iya."

"Waaa kok bisa? Apa kau punya indra ke enam atau indigo?"

"I-iya. Kau pergilah! Aku takut melihatmu."

Inilah mengapa Halilintar tidak memberi tahu teman-temannya jika ia bisa melihat hal gaib. Karena ia sendiri takut pada hantu walaupun sering melihatnya. Trauma yang dialaminya telah membuat keberaniannya berkurang.

"Hei Hali, ini cuma aku. Jadi jangan takut!" kata Gempa sebal.

"Haaah tapi tetap saja kau menakutkan. Sana duduk di kasurku. Jangan mendekat!"

Gempa menuruti perkataan Halilintar. Ia sedikit kelelahan. Halilintar duduk di samping Gempa. Ia ingin bertanya sesuatu.

"Jadi, kau berhasil melakukannya lagi?" kata Halilintar.

"Ya, seperti yang kau lihat."

"Hn."

Keheningan melanda ruangan tersebut. Masing masing dari mereka tidak tahu harus memulai dari mana walaupun sebenarnya banyak yang ingin mereka bicarakan. Jarum jam terus berputar dan malam semakin larut.

.

.

"Halo adek."

Tiba-tiba terdengar suara asing di kamar Halilintar yang tidak diketahui asalnya darimana. Mereka berdua sangat terkejut dan terlonjak. Dan samar-samar seseorang mulai menampakkan dirinya. Pemuda berambut ungu, berusia sekitar 25 tahun, memakai kacamata ungu dan sepatu ungu tengah menatap mereka dengan senyuman ceria tetapi sedikit menyeramkan.

Inilah sebenarnya yang ditakuti oleh Halilintar.

"Si-siapa kau?!" tanya Gempa.

"Kau? Jangan-jangan kau juga satu komplotan dengan mereka satu tahun yang lalu?!" teriak Halilintar. Gempa merasa bingung dengan apa yang diucapkan oleh temannya itu.

"Maksudmu apa, Hali? Aku tidak mengerti."

"Nanti saja aku jelaskan, Gempa. Lebih baik kau lawan dia karena aku tidak dapat berbuat apa-apa!"

"Hahahaha, aduuh sepertinya kau masih mengingatnya adik kecil." pemuda itu tertawa saat melihat Halilintar.

"Kau, jangan berani mengganggu temanku!" Ancam anak bermata merah itu.

"Ha? Memang apa yang bisa kau lakukan kepadaku adik kecil? Bahkan menyentuhku saja sekarang kau tidak bisa."

"Hei, jangan meremehkannya!" tiba-tiba Gempa berdiri di depan Halilintar dan merentangkan tangannya seolah melindunginya.

"Ara? Ada pahlawan kesiangan rupanya. Walaupun kau bisa keluar dari tubuhmu, kau tetap tidak bisa melawanku karena tidak punya kekuatan."

"Sebenarnya.. Kau siapa?" tanya Gempa.

"Aku? Kau tanya siapa aku? Kau tanya saja pada temanmu itu. Dia pasti mengenalku." Pria itu sedikit menyeringai.

"Hali, sebenarnya siapa dia?"

Sebelum Halilintar sempat menjawab, pria tersebut sudah menarik duluan tangan Gempa. "Eeiits, sebelum kau mengatakannya, aku harus membawa dia dulu. Babayy."

"Tidak, jangaaan! Hali tolong." Pinta Gempa. Tapi terlambat, sebelum Hali sempat melangkah, mereka sudah hilang duluan.

"Ah sialan. Sepertinya aku harus menyusul."

.

.

Tbc

.


Halooo Vio balik lagi. Huweeee kok jadinya gini sih? T.T Pendek banget.

Ada yang ga tau astral projection? Huweee sebenarnya Vio mau kopiin dari google, tapi karena Vio ngetik di hp, jadi ga bisa TAT

Entah kenapa nulis di hp sangat sulit. Tulisannya lari lari entah kemana. Sebelumnya aja pas Vio tulis dan save yang keluar malah tulisan-tulisan aneh kayak text alignt, strong , ya kira kira begitulah. Trus jadinya Vio hapus dan tulis dari awal :'' mau ngasih line aja butuh perjuangan berkali kali.

Oke Vio cuma mau jelasin secara singkat apa itu astral projection. Astral projection adalah saat jiwa melakukan perjalanan ke tempat lain, tanpa diiringi oleh raga atau tubuh. Saat astral projection terjadi, jiwa kita melakukannya dengan sadar bahkan bisa melihat tubuh kita yang terbaring. Dan ini bisa dilakukan oleh siapa saja dan dipelajari. Hehehe sebenarnya seeorang akan terbangun langsung ketika ia ketakutan atau terancam. Tapi karena ini fiksi, yaa tak apa lah :v jadi jangan terlalu percaya sama fic ini xD

Entah kenapa jadi gini akhirnya. Susah nulis panjang panjang. Tambah gaje. Kacau banget. Niatnya pengen bikin multichap, eh ga jadi. Entahlah. Mungkin chap3 akan menjadi chap terakhir.(mungkin).

See you all

Krisarnya mohon

Review please *-*