Sepatah kata & reply dari yang nulis :
* Kalau ada yang bertanya-tanya umur pemeran. Di sini Kyungsoo lima belas setengah tahun (kelas 1 SMA) dan si appa dua puluh tujuh tahun.
* Cerita ini pasti bakal ditamatin karena aslinya udah aku bikin sampai tamat, cuma tinggal upload yang mungkin ngga bisa tiap hari.
* Yang minta dilanjut, ini lanjutannya. Reply Mara997 : Hahaha ... Di sini Mimin ceritanya rada-rada gentleman. Yah mari berharap nanti dia ngga gangguin Kyung.
* Ngga wajib tapi yang nulis pastinya seneng kalau liat komen-komen lucu.
Appa My Love - Chapter 2
* Dating and Strange Feeling *
Hari Sabtu yang cerah, musim panas akan segera datang dan ini membuat Kyungsoo semangat. Dia sudah berencana akan mengunjungi kakek dan nenek di Gwangju dan merayu sang ayah agar menemaninya berlibur ke Pulau Jeju. Pulau indah dimana dia bisa berenang dan ber-tracking ria seraya melihat-lihat aneka tanaman di sekeliling.
"Kyungie rapi sekali". Jongin memasang sabuk pengaman, siap mengemudikan mobil ke Square Mall. Dalam hati mengagumi penampilan imut Kyungsoo yang mengenakan atasan bergaris horisontal (putih biru) setengah lengan dan celana pendek sepaha.
"Kyungie tak mau terlihat kumal di sebelah appa yang tampan". Kyungsoo menjawab polos.
"Siapa bilang Kyungie kumal ? Kyungie selalu terlihat imut".
"Yah mana tahu kan. Uh appa _ apa kita akan berlibur ke Jeju ?".
"Kyungie mau ke sana ?".
Yang ditanya langsung mengangguk penuh semangat.
"Kalau begitu kita berlibur ke sana dua minggu. Cukup kan ?".
"Yayyy ! Terima kasih appa !". Kyungsoo bergerak-gerak penuh semangat dalam duduknya membuat si ayah yang fokus mengemudi tergelak.
"Kalau begitu tugas Kyungie membuat agenda selama kita di sana, oke ?".
"Siap bos !".
"Appa akan kasih Kyungie hadiah kalau Kyungie mendapat nilai bagus di semester pertama ini".
"Kyungie ini pandai appa. Kyungie pasti akan jadi juara umum semester ini".
"Ck ck, tidak boleh sombong Kyungie".
"Kyungie percaya diri dan akan belajar keras".
"Iya deh". Jongin mengalah, dia tahu benar Kyungsoo serius kalau sudah menyangkut sekolah. Mungkin karena itu lah dia akhirnya selalu memanjakan Kyungsoo meski anak itu bukan tipe spoiled kid.
"Ah, sudah sampai. Kyungie tak sabar ingin segera nonton Stand By Me (Doraemon)". Kyungsoo langsung melepas sabuk pengaman begitu ayahnya memarkir mobil dengan sempurna di pelataran mal.
Yang terjadi tiga jam kemudian, Kyungsoo menangis tersedu-sedu begitu film berakhir. Jongin memeluk dan menepuk-nepuk punggungnya, menungguinya sampai tenang.
"Tadi kamu semangat kenapa sekarang malah sedih".
"Hiks _ habis _ ka-kasihan Nobita, hiks".
"Kita beli es krim kesukaanmu terus kita belanja ya ?". Jongin coba mengalihkan kesedihan anaknya.
"Bo-boleh aku beli 3 scoop ?". Kyungsoo menggosok hidungnya yang memerah.
Jongin menyeka air mata Kyungsoo dengan sapu tangan yang dibawanya. "Sebanyak yang kamu mau".
Kyungsoo mengangguk lalu menyeret ayahnya keluar dari bioskop. Tiba-tiba dia jadi lapar. Dari kemarin dia banyak menangis dan itu melelahkan.
Tak berapa lama mereka sampai di kafe es krim (lantai 3 Square Mall) yang menjual berbagai flavor bahkan juga menjual creepe yang akhirnya dibeli Kyungsoo. Dia sangat-sangat lapar dan es krim saja tak akan cukup. Setelah mendapatkan pesanan, keduanya duduk di sofa hijau daun.
"Appa mau coba rasa Cokelat Belgia ? Ini lebih enak daripada Mangga Sorbet". Kyungsoo menyodorkan sesendok es krim rasa Cokelat Belgia yang akhirnya dilahap Jongin.
"Enak, tapi mangga lebih segar. Kamu harus habiskan creepe itu, kalau dingin tak enak".
"Pasti Kyungie habiskan, Kyungie lapar". Kyungsoo melahap creepe berisi ayam cincang dan sayuran dengan tamak, tak sadar remah-remah kering menempel di sekeliling bibirnya.
"Pelan-pelan Kyungie. Kamu bisa tersedak kalau begitu". Perlahan, Jongin menyeka remah-remah dari sekeliling bibir Kyungsoo.
"Kyungsoo !". Yang dipanggil langsung menoleh.
"Hy-hyung, ehm halo". Kyungsoo menyapa kikuk.
"Tumben kamu jalan-jalan ? Ah, ini pasti ayahmu, ya ?".
Kyungsoo mengangguk. "Appa, ini Taemin Hyung seniorku di sekolah".
Jongin hanya tersenyum. Dia tahu benar siapa yang ada di depannya, wajah itu begitu familiar karena wajah itu lah yang selalu dia lihat di meja belajar Kyungsoo. "Halo Taemin, aku Kim Jongin, ayah Kyungsoo".
"Senang bertemu anda Mr. Kim". Taemin membungkuk sopan. "Saya tak mau mengganggu waktu keluarga. Ah ya Kyungsoo jangan lupa kalau sempat mampir lah besok ke ruang klub dance. Aku ingin tahu pendapatmu".
"Ba-baiklah kalau aku tak mengganggu".
Taemin menepuk lengan Kyungsoo dengan lembut. "Malah aneh kalau kamu tak ada. Datang ya. Saya permisi, Mr. Kim".
"Sampai ketemu Taemin".
Taemin bergegas pergi, menyusul keempat temannya yang keluar dari kafe es krim itu.
"Jadi anak itu ya yang membuat anak kesayangan appa menangis ?".
"Jangan bicarakan itu lagi appa". Kyungsoo merengut. "Kyungie sudah menyingkirkan fotonya".
"Seleramu tak salah, kamu hanya tak beruntung. Kelas berapa dia ?".
"Tiga. Dia akan segera lulus, bahkan mungkin akan segera diterima di Moon Entertainment. Tinggal menunggu pengumuman audisi, tapi Kyungie yakin dia diterima. Hyung dancer yang bagus".
"Jadi teman Kyungie akan segera jadi idol ?". Sang ayah menggoda.
"Hebat kan ? Kyungie akan punya teman seorang idol tampan. Siap-siap saja Kyungie ikut diberondong pertanyaan dari fans fanatik". Kyungsoo bertopang dagu dengan ekspresi miris. Hari-hari tenangnya seolah akan segera terusik.
"Apa Kyungie tak suka kalau Taemin sukses ?".
"Tentu saja Kyungie ikut senang, ulah fans aneh itu lah yang membuat Kyungie sebal".
Jongin menepuk lembut puncak kepala Kyungsoo. "Sudah, jangan terlalu dipikirkan. Kyungie pasti bisa menghadapi mereka. Berjanji lah jangan bersikap kasar pada mereka, tak akan baik untukmu ataupun Taemin".
"Iya, Kyungie mengerti itu. Ah kenyang ! Sekarang kita belanja ya ? Kyungie ingin beli baju-baju musim panas".
Segera setelah membayar makanan, Jongin menggandeng Kyungsoo keluar kafe. Keduanya menuju lantai dua tempat koleksi pakaian bertebaran.
"Appa".
"Hm ?".
"Terima kasih ya. Kyungie senang sekali, hari ini tak lagi sedih memikirkan tentang Taemin Hyung. Appa selalu disampingku". Kyungsoo mengeratkan pegangannya di lengan sang ayah.
"Appa senang melihat Kyungie semangat lagi".
"Ssh, lihat kakak adik itu, menggemaskan sekali ya. Mereka kelihatan akrab, seandainya saja oppa-ku seperti itu". Bisikan-bisikan yang sebenarnya cukup jelas terdengar dari gerombolan gadis-gadis tak jauh dari Jongin dan Kyungsoo, membuat keduanya tersenyum geli.
"Tuh kan, banyak yang mengira appa itu hyung-ku". Kyungsoo berbisik.
"Ah bahagianya kalau aku punya pacar seperti si tampan yang tinggi itu". Salah satu gadis dari gerombolan heboh itu berkomentar, matanya setengah terpejam, pikirannya melayang dalam khayalan.
Kyungsoo tiba-tiba kesal. Kenapa sih semua gadis selalu berkhayal yang aneh-aneh tentang ayahnya ? Memang tak ada pria ganteng lain apa ? Yah, memang sih ayahnya itu super tampan. Mungkin kalau tak terjun sebagai pengusaha (pengekspor garmen), ayahnya itu bisa jadi model atau pemain film. Tapi, Jongin itu milik Kyungsoo, yang lain tak boleh berkhayal aneh-aneh.
Kalau dipikir-pikir seandainya Jongin menikah, Kyungsoo harus merelakan sang ayah. Dia tiba-tiba jadi tak nyaman. Rasanya dia ingin memonopoli Jongin selamanya. Tapi bagaimana dengan harapan kakek dan nenek tersayang ? Mereka pasti ingin punya cucu dari darah daging mereka sendiri.
"Kok keningmu berkerut begitu ? Ada apa sayang ?". Jongin menyentil ujung hidung Kyungsoo.
Yang ditanya hanya menggeleng. Sebagai pengalihan dia pun menyeret Jongin ke salah satu toko brand pakaian terkenal. Tak lama dia mengambil beberapa koleksi terbaru dan membawanya ke fitting room, meninggalkan Jongin yang terbingung-bingung.
Puas dengan cukup banyak baju musim panas yang dibelinya, Kyungsoo akhirnya kelelahan dan mengajak Jongin pulang. Kebetulan langit pun sudah berubah gelap menandakan malam menjelang. Bisa dibilang setengah harian mereka berada di mal. Yah, setidaknya Kyungsoo senang dan tak lagi bersedih gara-gara patah hati.
"Mulai besok Kyungie harus belajar keras. Ujian semester sudah dekat". Kyungsoo membuka kamarnya dan membantu sang ayah menenteng tas belanjaannya. Dia sadar cukup banyak membelanjakan uang sang ayah. Kalau dihitung-hitung mungkin sampai sekitar $ 1,000. Kyungsoo jadi meringis membayangkan kalau dia tak jadi juara umum. Bukan berarti Jongin menuntut begitu hanya saja dia tak ingin mengecewakan ayah yang selalu memanjakannya.
"Jangan lupa setelah mandi istirahat. Belajarnya besok saja supaya kamu lebih segar".
"Appa". Kyungsoo meraih pergelangan tangan Jongin, mencegahnya beranjak dari kamar.
"Ada apa Kyungie ? Sekilas tadi saat sebelum berbelanja kamu tampak memikirkan sesuatu ? Apa masih soal Taemin ?".
Kyungsoo menggeleng. Ada keraguan untuk mengungkapkan sesuatu yang mengganjal di hati.
"Appa lebih suka kalau Kyungie jujur meski itu hal yang tak menyenangkan". Jongin membelai rambut Kyungsoo.
"Ung _ waktu tadi gadis-gadis di mal itu membicarakan appa, Kyungie jadi berpikir kalau suatu saat appa menikah artinya _ ". Kyungsoo menunduk malu, cemas ayahnya marah. "Kyungie harus merelakan appa untuk orang lain. Entah kenapa Kyungie egois dan tamak, ingin selalu memonopoli appa. Ma-maafkan Kyungie".
Jongin tersenyum hangat. "Appa tahu itu, makanya appa kemarin bilang kalau appa akan menunggu sampai Kyungie siap".
Dalam hati Kyungsoo meratapi diri apakah memang dia akan siap berbagi. Merelakan Jongin untuk orang lain. Dia tak mengerti.
Apa semua anak akan seperti ini ketika menghadapi orang tuanya yang akan menikah lagi ? Dia sama sekali tak ingin membenci calon ibu-nya dan jadi anak jahat.
Kyungsoo menarik nafas panjang. "Beri Kyungie waktu".
Jongin menangkup kedua pipi Kyungsoo. "Jangan pernah lupa kalau appa sangat menyayangimu. Itu tak akan pernah berubah".
Kyungsoo membalas tatapan lembut Jongin. Dia sepenuhnya sadar kalau ayahnya itu tak hanya tampan tapi juga berhati lembut. Siapa yang tak akan takluk ? Mungkin kah selama ini dia menyukai Taemin karena kakak kelasnya itu ada kesamaan dengan sang ayah ? Terutama sikap lembutnya dan memang wajah mereka ada sedikit kemiripan, bedanya Taemin berkulit lebih putih.
Entah apa yang merasuki pikiran Kyungsoo, tanpa pikir panjang dan tanpa ragu dia mencium bibir Jongin. Ciuman sekilas yang kemudian diikuti dengan pelukan erat. Kyungsoo sungguh tak ingin kehilangan Jongin.
Sang ayah sangat syok dengan sikap Kyungsoo yang terang-terangan mencium bibirnya. Meski bukan ciuman intim tetap saja Kyungsoo bukan lagi batita. Dalam galau tak terkatakan bahkan tak dimengertinya, dia membalas pelukan erat Kyungsoo. Bagaimanapun dia ingin selalu melindungi dan menjaga anak itu.
Bersambung ...
