Cuap-cuap yang nulis :
# Chapter ini mulai sedikit rated apalagi chapter-chapter berikut, hehehe ... . Apa benar Jongin sanggup menahan diri ?
# Reply gxvhssvzf, ananda Sabil : Enjoy the update
# Reply anisafransiskaa : Yakin polos ? Hahahaha ...
# Reply kyungsooxeveryone : Begini lah nasib nulis diantara waktu2 sibuk (sok seleb). Hehe ... Beneran sibuk kok.
# Reply ryaauliao : U.U lagi kangen sama Kyungsoo yang unyu, huks.
# Reply kkamdonat : Gimana dong, kan ceritanya jadi papa eaaaa o. Yang penting Jongin ganteng ! Hidup Nini ! Hahahaha ...
# Reply taufikunn9 : Gara-gara apa ? Ngg mudeng ~.~ ?
# Reply YuRhachan : Reaksi yang ngga disangka2 banget -.-
# Curcol : Ngga inget da berapa FF yang kutulis dr taun 2011. Kadang cerita dan bahasanya bisa enak kadang ngebosenin kadang lame bahkan kadang aneh. Yang ngerasa ngg nyaman baca ceritaku silahkan melipir karena jujur untuk ngebetulin grammar dll daku ngg sempet. Murni nulis buat sharing & menghibur sama sesama shipper bukan buat gain follower. Sekian dan terima kasih, hehehehe ...
# Lama update. Ipad-ku menolak koneksi ke fanfiction. Don't know why, huks ...
Appa My Love - Chapter 3
* Unexpected Confession in Summer Holiday *
Kyungsoo melompat-lompat kegirangan di ranjang sebuah hotel berbintang lima di Pulau Jeju. Menyenangkan sekali ! Semester ini dia berhasil meraih peringkat satu. Dia mendapat hadiah berlimpah dari kakek dan nenek lalu juga dari ayahnya. Setelah sempat berkunjung ke Gwangju selama empat hari mereka pun melanjutkan perjalanan ke Jeju dengan pesawat dari Seoul. Kakek dan nenek menolak ajakan berlibur, beralasan ingin bersantai saja dengan berkebun di rumah.
Soal ciuman bibir sekilas waktu itu tentu saja membekas dalam ingatan Kyungsoo dan Jongin, meski begitu mereka berusaha menepikan sebersit perasaan aneh yang tumbuh dalam dada. Keduanya tak mengerti ada apa sesungguhnya dengan ciuman itu. Terkadang Kyungsoo ingin mengartikannya dengan cara mencoba mencium ayahnya lagi. Tapi tentu saja ide gila itu langsung ditepisnya. Dia ngeri membayangkan kemarahan sang ayah.
"Bagaimana kalau kita berenang ? Hotel ini punya kolam renang bagus, lagipula berhubung hari sudah gelap pasti tak akan sepanas siang hari". Jongin menarik celana renang sepaha dan juga kaus dari dalam koper.
"Yayyy ! Kita berenang". Kyungsoo berhenti melompat dan turun dari ranjang. Dia segera saja mengambil celana renang dari koper setengah terbuka yang belum sempat dirapikannya. "Uh, Kyungie akan ganti di kamar mandi".
Jongin mengangguk. Dalam hati lega tak perlu berganti di depan Kyungsoo. Dia segera berganti dengan celana renang biru gelap dan juga kaus berwarna putih.
"Appa sudah siap ?". Kyungsoo keluar dengan memakai jubah mandi berwarna putih.
"Yuk !".
Mereka pun bergegas menuju kolam renang di lantai satu. Untungnya malam ini suasana kolam sepi. Hanya ada sepasang muda mudi dari negara tetangga yang terlihat sibuk bercengkrama di pinggir kolam.
"Kita berlomba Kyungie, yang kalah mentraktir es krim".
Kyungsoo mengerucutkan bibir sambil melepas jubah mandi. "Kyungie tak tertarik kalau seperti itu hadiahnya". Tubuhnya yang cukup montok membuat mata Jongin membelalak namun segera ia sembunyikan.
Jongin sungguh tak menyadari kalau Kyungsoo sudah beranjak dari masa kanak-kanak. Meski pendek, di usia lima belas tubuhnya terlihat berisi terutama di bagian kedua paha dan bokongnya. Belum lagi dengan kulit putih mulus, anak itu terlihat semakin menggemaskan dan menggoda di mata Jongin.
Oh tidak, apa barusan Jongin berpikir akan memangsa anak angkatnya itu ? Dia pasti sudah gila kalau benar-benar punya perasaan semacam itu. Tapi _ bagaimana dengan ciuman sekilas yang selalu terngiang di kepalanya ? Bibir Kyungsoo begitu lembut.
"Appa !". Kyungsoo menghentakkan kakinya dengan manja. "Katanya mau lomba".
"Ah ya. Bagaimana kalau yang kalah memberikan massage, kebetulan badan appa pegal". Jongin tersenyum kikuk.
"Harusnya Kyungie yang pegal sehabis ujian. Pokoknya Kyungie akan mengalahkan appa !". Kyungsoo melakukan sedikit peregangan, tak mau kakinya sampai kram saat berenang.
"Baiklah. Dua putaran ya ?". Jongin melepas kaus dan menaruhnya di kursi berjemur dekat kolam. Dia menelan ludah saat menatap Kyungsoo yang sedang membungkuk, celana renang ketatnya sedikit terangkat.
"Oke, Kyungie siap !".
Jongin dan Kyungsoo bersiap di ujung kolam, setelah sama-sama berhitung sampai tiga keduanya melompat ke dalam kolam. Jongin benar-benar tak boleh meremehkan kemampuan berenang Kyungsoo, meski anak itu bertubuh pendek tapi gerakannya gesit dan cepat. Sepertinya Kyungsoo sungguh tak mau kalah malam ini. Pikiran semrawut Jongin membuatnya tak fokus. Dia sedikit tersentak saat Kyungsoo mendahuluinya di putaran kedua. Walau akhirnya dia mampu mengejar ketinggalan, Kyungsoo sampai dua detik lebih cepat dan menyentuh ujung kolam kebih dulu.
Hei ! Kalah tak berarti buruk kan ? Bukan kah itu artinya dia akan memberikan pijatan ke tubuh Kyungsoo ? Ah, apa yang ada di otakmu itu Kim Jongin ! Jangan jadi mesum dengan anak kesayanganmu ! Suara-suara malaikat memarahinya.
Ah jangan munafik Jongin, dia itu tak ada hubungan darah denganmu. Tak salah kalau kamu punya perasaan lebih padanya. Lagipula bukannya Kyungsoo yang menciummu lebih dulu ? Kalau kamu ingin tahu sejauh mana perasaannya padamu akan lebih baik kalau kamu betindak sedikit frontal kan ? Kali ini suara setan di kepalanya membujuknya.
"Yayy, appa kalah !". Kyungsoo tersenyum lebar, senang berhasil mengalahkan sang ayah yang terkenal jago sports itu. Dia mendekati ayahnya yang tampak bingung. "Appa sedih sekali ya kalah dariku ?".
Jongin tersentak namun menampilkan senyum gugupnya. "Yah sedikit. Tapi tak apa Kyungie, kamu bilang lelah kan sehabis ujian. Jadi ini keberuntunganmu".
"Jongin !". Seorang wanita cantik tiba-tiba menyapa Jongin. "Wah kejutan bertemu denganmu di sini".
"Hyomin ?".
"Iya, ini aku. Baru datang ya ?".
"Iya hari ini kami baru sampai. Ah ini, anakku Kim Kyungsoo. Kyungie, ini rekan bisnis appa, Park Hyomin".
"Serius dia anakmu ?". Hyomin menyalami Kyungsoo sekilas. Dia hampir tak percaya Jongin sudah punya anak. Kalau tak salah hitung Jongin baru 27 tahun kan ? Mungkin anak angkat, Hyomin langsung mengambil kesimpulan.
"Aku jadi ayah di usia muda. Jadi, berapa lama kamu di sini ?".
"Aku bersama keluarga. Besok kami akan pulang sih. Sudah seminggu kami di sini. Ah ya, kudengar kamu akan mengeluarkan koleksi baru di September nanti".
"Semoga tepat waktu. Prioritasku saat ini memenuhi ekspor bahan dari beberapa negara, baru setelah itu koleksi pakaian jadi".
Kyungsoo merasa asing seolah dia tak ada dilingkup percakapan itu. Diam-diam saat Jongin asyik mengobrol di pinggir kolam, dia pun melarikan diri ke kamar. Dia sedikit kesal dan dadanya terasa berat melihat keakraban ayahnya dengan perempuan cantik itu. Kyungsoo membanting pintu dengan marah lalu melempar jubah mandi.
Dengan harapan bisa menenangkan hatinya yang bergemuruh dia pun masuk ke kamar mandi dan menyalakan shower dingin. Di bawah siraman air menyegarkan, dia membersihkan rambut dan tubuhnya. Bayangan tawa Jongin dan perempuan itu sungguh mengganggunya. Dia jadi sebal dengan Hyomin.
"Kenapa sih aku ini ? Kenapa aku jadi marah-marah ? Waktu melihat Taemin Hyung dengan Naeun saja aku tak sakit hati lagi. Apa aku sungguh tak rela kalau appa dekat dengan perempuan ?". Kyungsoo tertunduk lesu. Dia menyelesaikan mandinya lalu mengambil celana boxer hitam dan tank top putih untuk dikenakan. Meski sudah mandi, dia merasa panas atau mungkin saja hatinya lah yang terasa panas.
"Kyungie ?".
"Aku di sini appa". Kyungsoo yang berbaring malas menjawab pelan.
"Appa bingung mencarimu tadi". Jongin mengunci kamar mereka dengan sandi.
"Habis appa sibuk ngobrol dengan ahjumma tadi, Kyungie tak mau mengganggu".
Jongin terkekeh geli mendengar Kyungsoo menyebut Hyomin dengan ahjumma. "Dia teman appa sejak kuliah, tak sekedar rekan bisnis".
Kyungsoo terbangun lalu duduk di tepi ranjang dengan kaki menggantung. "Appa menyukainya kan ? Dia cantik".
"Bicara apa kamu ? Dia sudah punya tunangan, lagipula dia hanya teman baik".
"Benar kah ?".
"Kyungie cemas ya ?". Jongin duduk di samping Kyungsoo.
"Cemas dan _ entah kenapa Kyungie jadi kesal memikirkannya". Anak itu berucap polos, tak sadar membuat jantung sang ayah jadi berdebar tak karuan.
"Kyungie, appa ingin tanya sesuatu tapi kalau Kyungie tak nyaman, Kyungie tak usah jawab. Anggap saja appa tak pernah bertanya".
Kyungsoo mengangguk setengah bingung.
"Jujur, appa kaget waktu tempo hari Kyungie mencium bibir appa, biasanya Kyungie hanya mencium pipi appa".
"Appa marah padaku ?". Kyungsoo bertanya takut-takut.
"Bingung dan kaget, itu saja".
"Kyungie pun bingung. Kyungie selalu berpikir appa itu tampan dan berhati lembut. Lalu tiba-tiba muncul pikiran kalau Kyungie tak ingin appa jadi milik orang lain, Kyungie hanya ingin appa jadi milik Kyungie seorang. Kyungie kira ini hanya perasaan seorang anak yang akan ditinggal menikah orang tuanya, tapi entah lah tadi begitu melihat Miss Hyomin dan berandai-andai appa jadi dengannya, hati Kyungie sakit dan sepertinya ada perasaan cemburu yang tak Kyungie mengerti".
"Apa itu artinya kamu mencintai appa sebagai seorang pria ?". Jongin memberanikan diri bertanya secara terang-terangan. Dia tak ingin hubungan mereka jadi aneh dan penuh kebingungan.
Kyungsoo tersenyum pahit. "Kyungie akhirnya mengerti kenapa Kyungie dulu jatuh cinta pada Taemin Hyung. Sosok dan wajahnya sedikit mirip dengan appa. Dia pun sangat baik pada Kyungie. Ya appa, sepertinya anakmu ini mencintaimu lebih dari yang seharusnya. Maafkan Kyungie".
Jongin memeluk Kyungsoo erat. "Jangan minta maaf. Kamu tak memintanya, ini semua terjadi begitu saja. Appa pun bukan appa yang baik. Sejak kamu mencium appa, entah bagaimana appa selalu merasa canggung di dekatmu, tak seperti sebelumnya. Appa jadi takut pada perasaan appa sendiri".
"Appa tak membenciku ?".
"Appa mencintaimu Kyungie. Hubungan kita sepertinya akan berubah tapi itu membuat appa semakin mencintaimu".
Kyungsoo melepaskan diri dari pelukan Jongin. "Cium Kyungie". Dia berucap malu meski sangat menginginkannya.
Perlahan Jongin mencondongkan wajah lalu mengecup bibir berbentuk hati itu penuh cinta.
"Lagi appa".
Jongin tersenyum lalu memberikan kecupan-kecupan ringan sebelum akhirnya melumat bibir atas dan bawah Kyungsoo bergantian. Begitu lembut dan kenyal, bahkan Kyungsoo pasrah membuka bibirnya.
Lidah Jongin perlahan masuk ke dalam mulut Kyungsoo, menekan-nekan lidah anak itu sesekali menyapu langit-langitnya, membuat Kyungsoo tersedak geli.
Keduanya larut dalam ciuman penuh gairah. Jongin memeluk tubuh kecil Kyungsoo erat. Dadanya berdebar tak karuan, terus menginginkan keintiman dengan sang anak.
"I love you, Kyungie".
Kyungsoo perlahan membuka matanya. "I love you too appa _ ".
"Kenapa sayang ?". Jongin menyadari perubahan ekspresi wajah anaknya.
"Kyungie memikirkan kakek dan nenek. Pasti mereka kecewa".
"Yah mungkin mereka syok tapi dengan berjalannya waktu mereka akan mengerti. Kita beri tahu mereka di saat yang tepat. Appa yang akan bicara lebih dulu".
"Kyungie tak ingin kakek dan nenek membenci Kyungie".
"Tak akan. Percaya pada appa".
Yah benar, dia terlalu cemas. Semua harus bertahap. Yang terpenting ayah tercinta selalu di sampingnya. Ah, Kyungsoo bahagia sekali. Seperti ini rupanya perasaan cinta berbalas. Tapi kapan kira-kira mereka akan melakukan itu ? Apa ayahnya menunggu sampai dia lulus sekolah ?. (A.N : Pikiran Kyungsoo langsung jauh ya =.=).
"Tuh kan kamu melamun lagi".
"Uhm appa. Pasangan yang saling mencintai biasanya bercinta kan ? Apakah kita _ ?". Kyungsoo malu hati untuk meneruskan.
"Ya, kalau Kyungie sudah lulus SMA dan appa sudah melamar Kyungie. Kita akan melakukannya, tapi tidak sekarang. Appa tak mau merenggut sesuatu yang penting apalagi belum seharusnya kamu melakukan itu. Tunggu lah sampai saat yang tepat".
"Kyungie aneh, rasanya ingin terus dicium appa".
"Kyungie masih muda _ dan sangat mencintai appa".
Kyungsoo langsung saja mencium bibir Jongin, memancing bibir itu untuk melumat bibir bentuk hati miliknya. Undangan yang dengan senang hati diterima Jongin. Dia menelusuri bentuk bibir Kyungsoo, membasahinya sedikit dengan lidahnya sebelum akhirnya kembali melumat bagian atas dan bawah bibir tebal itu bergantian.
Kyungsoo menggigil nikmat, tubuhnya terasa panas dingin dan bagian bawahnya sedikit menegang. "Hmphh ap-appa".
Jongin berhenti melumat bibir Kyungsoo. Ini harus dihentikan sebelum dia tak sanggup menahan diri dan berbuat terlalu jauh.
"Appa ?". Anak itu terdengar sedikit kecewa.
Jongin tersenyum seraya membelai pipi bulat Kyungsoo. "Appa bahagia sekali. Kita jalani hubungan ini pelan-pelan ya. Sejujurnya, appa tak ingin menakutimu. Laki-laki bisa susah menahan diri".
"Kyungie tak keberatan. Tapi kalau appa bilang begitu _ ". Kyungsoo menyandarkan kepalanya di dada Jongin.
"Rasanya liburan ini akan sangat berkesan". Jongin menciumi puncak kepala Kyungsoo penuh sayang.
Bersambung ...
