REPLY

ryaauliao : Hahahaha gede ,. Paling ngga 18 taun lah, biar bisa ngelakuin yang iyak2 ama si Jongin.

anisafransiskaa : Polos kok sampe ngga mudeng akibatnya kalau begituan, hehehe. Wedew, bisa jadi siy Jongin khilaf #kedip.

Nona : Beda umurnya 12 taun. Di sini Kyungsoo 15 taun lebih, Jongin 27 taun -.- tapi mukanya ceritanya forever young.

Sabil : Apa itu p*** ._. ?

whenKmeetK : Ngga pengen merusak fantasi cuma ff ini cenderung smooth, almost no conflict ^^!

Appa My Love - Chapter 4

* Jealousy *

Niat Kyungsoo setelah makan malam dan mengerjakan PR musim panas adalah tidur, namun gara-gara apa yang dilihatnya di lobi kantor sang ayah, dia jadi gundah gulana. Mata tak mau terpejam dan hatinya terus diliputi keresahan.

Setelah berganti pakaian tidur - kaus longgar putih yang kebesaran sebatas paha dan celana dalam pororo berwarna hitam - dia memutuskan menonton kartun kesukaannya di ruang santai sambil menyerot jus jeruk segar yang dibuat bibi rumah sejak sore tadi.

Biasanya saat menonton Pororo, Kyungsoo akan tertawa geli atau berkomentar lucu namun kali ini dia menunjukkan ekspresi datar. Mata memang menatap layar TV tapi pikiran sesungguhnya hanya menuju sang ayah.

"Hufftt". Kyungsoo meniup poni lalu memeluk erat boneka babi bermata besar berwarna pink. "Bagaimana kalau kamu kuberi nama PiggyDyo ?". Kyungsoo menggumam, coba mengalihkan pikiran. "Hyung bisa juga memilih boneka lucu sepertimu".

"Kyungie". Jongin yang sepulang kerja langsung membersihkan diri dan berganti kimono tidur menghampiri anak tersayang. "Maaf ya appa tak menemanimu makan malam".

Kyungsoo cuek bahkan tak menatap ayahnya, malahan dia membelai boneka babi atau yang resmi bernama PiggyDyo penuh perhatian seolah ayahnya tak ada di sana.

Sadar dengan ekspresi dingin sang anak, Jongin berlutut tepat di depan Kyungsoo yang duduk di sofa nyaman. "Kyungie marah ya ?".

Kyungsoo tak menjawab.

"Appa sedih sekali kalau Kyungie seperti ini. Kamu boleh marah kalau memang appa punya salah". Jongin terdengar putus asa, membuat Kyungsoo tak tahan mendiamkannya.

"Kyungie benci appa !".

"Kenapa kamu bicara seperti itu sayang ?".

Wajah mendung Kyungsoo semakin menjadi dan dadanya panas sekaligus sesak karena amarah. Kalau begini, diam tak menyelesaikan masalah kan ? Dia merasa kesal. "Kenapa appa selalu dikelilingi perempuan cantik ? Bahkan tadi sore waktu Kyungie mampir ke kantor appa, perempuan itu mencium appa di lobi".

"Kyungie tadi ke kantor appa ? Jangan-jangan ingin minta ditemani belanja setelah jam kerja ?".

"Yang Kyungie lihat benar kan ?! Bahkan appa tersenyum padanya. Kyungie benci appa !". Kyungsoo menepis tangkupan tangan ayahnya di pipi bulatnya lalu menaruh boneka babi yang tadi dipegangnya di dekat bantal sofa.

"Dia memang mencium pipi appa".

Kyungsoo membelalak syok. Jadi ... selama ini ayahnya bohong saat mengatakan hanya dia lah yang paling dicintai ?

"Dia sahabat appa sejak kecil. Kami berpisah waktu masuk SMP. Dia mengikuti orang tuanya berpindah tugas di beberapa negara sebagai staf konsuler. Ayahnya pensiun belum lama ini dan mereka memutuskan pulang bertepatan dengan rencana pernikahan sahabat appa itu. Dia bahagia sekali Kyungie. Segera menikah lalu kemudian bertemu appa secara tak sengaja di Seoul". Jongin menjelaskan panjang lebar.

Kyungsoo terhenyak. Selama ini ayahnya selalu tulus, tak pernah berbohong. Kadang ketidaksengajaan memang aneh dan menyakitkan. "Kenapa dia bisa bertemu appa di lobi ?".

"Klise dan seperti bohongan tapi dia benar-benar akan melihat-lihat koleksi gaun pengantin di butik tepat di sebelah kantor appa. Kyungie tahu kan kalau butik itu sudah lama bekerja sama dengan perusahaan appa ?".

"Jam setengah empat biasanya appa sedang sibuk-sibuknya. Kenapa ada di lobi ?". Kyungsoo belum puas.

"Appa keluar untuk beli macaron kesukaan Kyungie. Appa sering lupa kan, makanya mumpung ingat appa buru-buru keluar. Macaronnya appa taruh di dapur loh".

Kyungsoo menarik nafas panjang. Perasaannya antara masih kesal tak jelas dan sebal dengan dirinya sendiri yang mudah tersulut.

Jongin menangkup kedua pipi Kyungsoo. "Appa tak akan pernah berbohong ataupun berkhianat karena appa sangat menyayangi Kyungie, melebihi apapun".

"Kyungie kekanakan. Maaf appa".

"Maaf diterima. Seharian ini appa memikirkan Kyungie, rasanya ingin cepat pulang dan berduaan".

Kyungsoo menunduk malu, pipi dan lehernya terasa hangat.

Jongin membelai pundak Kyungsoo yang terbuka karena kaus longgarnya merosot ke bahu lalu menciumi pundak putih mulus itu. Kecupan-kecupan lembut membuat Kyungsoo merinding. "A-ah hentikan nanti bibi lihat".

"Bagaimana kalau kita pindah ?".

Kyungsoo mengangguk. Dia pasrah saat Jongin menggendongnya, sedikit mengabaikan kausnya yang semakin merosot. Mereka naik ke lantai dua, tepatnya di kamar besar milik Jongin. Kamar dimana akhir-akhir ini Kyungsoo sering melewatkan malam-malamnya.

"Di sini takkan ada yang mengganggu kita". Jongin mendudukkan Kyungsoo di ranjang. Dia sendiri duduk di belakang Kyungsoo yang tertunduk malu karena berusaha menenangkan debaran jantungnya yang tak karuan.

Memang mereka kadang bercumbu namun tetap saja pesona dan ketampanan Jongin membuat Kyungsoo tak kuasa mengendalikan detak jantung dan reaksi tubuh kecilnya. Apalagi sejak Kyungsoo menyadari kalau dia sungguh jatuh cinta pada Jongin. Dia seolah ingin menyerahkan segalanya, ingin memiliki dan dimiliki dalam arti seutuhnya. Tapi dia harus bersabar sampai cukup dewasa.

"Appa tak mengerti bagaimana Kyungie bisa menganggap appa jatuh cinta pada orang lain atau lebih parah menduakan Kyungie".

"Kyungie cemas, aaah". Kyungsoo memejamkan mata saat Jongin membelai pundak seraya menciumi lehernya. "Ap-pa bisa mendapatkan, ahh-siapa saja".

"Appa mencintaimu. Kalau seseorang jatuh cinta hanya akan ada satu orang itu saja yang dipikirkan. Lagipula sejak dulu appa merasa kalau appa ini hanya milik Kyungie seorang". Jongin menarik turun kausnya. Dia pun menciumi punggung telanjang yang gemetar itu sementara kedua tangannya meraba kedua paha Kyungsoo.

"Uh-ap-appa". Kyungsoo kegelian karena sapuan bibir Jongin di kulit punggung dan pundaknya. Dia merinding mendengar suara kecupan bibir belum lagi sensasi yang ditimbulkan dari belaian tangan besar di kedua pahanya. "Hnggg _ ".

"Kulitmu halus. Appa bahagia, ini semua jadi milik appa". Jongin memeluk erat tubuh Kyungsoo dari belakang, ujung-ujung rambutnya menggelitik pipi Kyungsoo. "Ngomong-ngomong boneka babi tadi lucu sekali. Matanya mirip mata besar Kyungie".

"Hadiah dari Taemin Hyung".

Jongin melepaskan dekapannya. Dia beringsut, duduk berhadapan dengan Kyungsoo. "Hadiah ?".

"Tadi sore waktu Kyungie lari dari lobi kantor appa karena sedih, Kyungie bertemu Taemin Hyung yang sedang menuju toko CD. Karena wajah Kyungie kelihatan murung, hyung menyeret Kyungie ke toko boneka tak jauh dari toko CD dan membelikan boneka. Katanya boneka itu sebagai permintaan maaf karena hyung sudah berucap tak enak pada Kyungie waktu penolakan".

"Itu saja ?". Jongin mengerutkan dahi, dalam hati merasa tak senang.

"Uh-uh. Boneka itu Kyungie beri nama PiggyDyo. Lucu kan ?". Kyungsoo tersenyum polos, tak menangkap perubahan raut muka sang ayah.

"Apa dia bilang menyesal sudah menolak Kyungie ?".

Kyungsoo menggeleng. "Hanya minta maaf karena mengucap kata-kata 'aku tak suka laki-laki'. Hyung pikir itu sangat menyinggung Kyungie. Hyung baik ya ?".

Jongin tiba-tiba saja merasa seperti anak sekolahan yang dibakar cemburu. Dia mencengkram kedua pundak telanjang Kyungsoo.

"Ap-appa ?".

"Apa Kyungie sudah tak ada perasaan pada Taemin ?".

Kyungsoo menggeleng. "Itu dulu, sekarang Kyungie sungguh menganggap hyung adalah teman baik yang sangat Kyungie kagumi. Kenapa appa ?".

Jongin mendesah berat. "Oh Kyungie, appa ini cemas. Lebih tepatnya cemburu. Seandainya kamu masih menyukai Taemin _ . Appa ini tak lagi muda".

Kyungsoo membelalak kaget, tak menyangka ayahnya bisa tak percaya diri seperti itu. Perasaan bahagia bercampur tak percaya membuncah, menimbulkan getaran hati. "Kyungie sangat mencintai appa. Meski dulu Kyungie suka sekali pada hyung, tapi Kyungie akhirnya mengerti kalau sosok hyung itu sedikit mirip appa. Jadi pada dasarnya Kyungie menyukai hyung karena appa".

Jongin tersenyum lega mendengar kepolosan anaknya. "Kamu seperti buku, kejujuran dan perasaanmu mudah terbaca".

"Appa tidak marah kan ?".

"Tidak". Jongin membaringkan Kyungsoo, membuat kepalanya menumpu di bantal berisi bulu angsa yang empuk. "Hanya kecemburuan bodoh. Tak tahukah kalau Kyungie, anak appa itu menggemaskan dan polos ? Saat kamu beranjak dewasa pasti akan ada banyak laki-laki atau perempuan yang jatuh hati padamu".

Kyungsoo mengerucutkan bibir. "Kyungie tak peduli itu. Kyungie justru cemas tentang appa. Jangan pernah berhenti mencintaiku, appa".

"Tak akan".

Mereka berciuman. Kecupan-kecupan kecil berlanjut ke lumatan-lumatan. Kyungsoo menggigil dalam nikmat, sangat menyukai apa yang dilakukan bibir Jongin pada bibir bentuk hati miliknya.

"Kyungie, baby". Jongin kembali melumat bibir Kyungsoo tak memberikan kesempatan anak itu untuk menarik nafas barang beberapa detik.

"I love you, appa". Kyungsoo berucap lirih.

Jongin berbaring di sisi Kyungsoo lalu mendekap erat tubuhnya. "I love you too, Kyungie". Dia tersenyum mengingat kecemburuan Kyungsoo tadi.

Bersambung ...