.

Disclaimer : Masashi KIshimoto

T rate

Genre : Drama/Romance

Main Pair : Sasuke X Naruto

Side Pair : Itachi X Sasori

Slight Pair : SasukeXHinata/ItachiXHinata/SasoriXKonan/NarutoXSakura/GaaraXNaruto/OrochimaruXSasori/KankuroXSasori/KakashiXSasuke/SaiXNaruto/DeidaraXHidan/ItachiXDeidara/SasukeXNaruko

I WANT YOU BAD

.

Chapter 1

Pada pagi harinya, masih di apartemen yang sama, pemuda berambut hitam itu akhirnya terbangun setelah tertidur selama kurang-lebih 4 jam. Kedua manik hitamnya menjelajah sekeliling ruangan, mencari seseorang yang seharusnya berada di sana tapi tak juga ditemukannya. Hingga beberapa detik kemudian ia sadar kalau pemuda yang semalam bersamanya telah pergi sembari menyumpahinya.

Sang raven itu kembali menyeringai saat mengingat kenangan indah namun singkat yang sempat dilaluinya dengan pemuda pirang itu. Sesaat ia menjilat bibirnya sendiri untuk merasakan sisa-sisa rasa dari tubuh pemuda berkulit tan yang masih dapat tercecap oleh bibirnya.

Something lately drives me crazy has to do with how you make me

Struggle to get your attention calling you brings aprehension

Texts from you and sex from you are things that are not so uncommon

Flirt with you you're all about it tell me why I feel unwanted?

Disaat pikirannya sedang berkelana membayangkan betapa nikmatnya tubuh pemuda berkulit eksotis itu. Dering ring tone handphone-nya berbunyi nyaring. Dengan wajah gusar ia mendelik ke arah ponsel yang tak bersalah itu. Tapi suara deringnya terus saja berbunyi, membuat sang pemilik kesal dan mengambil ponsel yang tergeletak di atas mejanya dengan kasar.

"Halo!?" Sapanya dengan kasar.

"Otoutou~" Oh, bagus. Sekarang Sasuke tahu siapa yang menelponnya sepagi ini dengan suara cempreng bin rombeng.

"Berhenti memanggilku dengan suara yang menjijikkan itu, baka aniki! Ada apa kau menelponku, hah?!" Ucapnya ketus.

"Hei, kenapa kau bicara begtu kepada satu-satunya Kakak yang kau miliki? Aku pikir kau pasti merindukan suara indahku!" Bagus sekali. Sekarang Itachi sedang merajuk disebrang sana karena merasa diacuhkan. Andai saja saat ini mereka dalam jarak yang dekat, ia tak akan segan untuk memberikan hadiah gamparan di pipi sang kakak dengan telak.

"Sudahlah, jangan bertele-tele. Katakan segera apa maumu?" Sasuke mencoba untuk mengontrol emosinya.

"Pulanglah Sasuke. Ayah dan Ibu sangat mencemaskanmu. Apa kau tega? Terutama Ibu. Dia menjadi sakit semenjak kau pergi dari rumah."

Sasuke tak menjawab. Dia menahan napas dan menghembuskannya pelan-pelan saat mengetahui ibunya jatuh-sakit karena terlalu memikirkannya. Sasuke Uchiha, sudah sejak satu bulan yang lalu, atau lebih tepatnya pada pesta pernikahan kakaknya yang bernama Itachi Uchiha dilangsungkan, ia resmi melarikan diri dari rumah.

"Aku tidak mau," balas Sasuke datar.

"Hei, jangan begitu. Jangan egois! Setidaknya jenguklah Ibu. Dia terus-menerus mencari dan ingin bertemu denganmu, baka otoutou!"

Sejenak Sasuke berpikir. Egois? Mungkin benar. Tapi, hei! Siapa yang egois di sini? Keluarganya dengan seenaknya saja memutuskan sesuatu tanpa persetujuannya dan hal itu membuatnya geram. Bagaimana tidak? Coba saja kau bayangkan sendiri, disaat kau mencintai seseorang sekian lama, dan ketika kau memperkenalkan orang tersebut kepada keluargamu, tiba-tiba saja kedua orang-tuamu malah mempunyai ide untuk menjodohkan kekasihmu dengan kakakmu. Lebih parahnya lagi, gadis yang kau anggap setia malah menyetujui ide itu. Bagaimana perasaanmu kalau berada di posisi itu? Sakit hati, tentu saja. Tapi ada hal yang lebih menyakitkan, perasaan kecewa. Itulah yang saat ini Sasuke alami. Ia kecewa pada keluarganya juga kepada gadis yang begitu ia puja dan cinta.

"Sasuke, apa kau masih di sana?"

"Hn."

"Jadi, kau akan pulang 'kan?"

Sasuke kembali diam. Heran, kenapa Itachi begitu memaksanya untuk pulang.

"Baiklah, tapi dengan satu syarat."

"Hei, apa-apaan kau ini? Kenapa mesti pakai syarat segala? Lakukanlah demi Ibu!"

"Kau mau aku jadi pulang atau tidak?"

Skak mat. Itachi tak berkutik dengan ancaman sang adik. Untuk saat ini tidak ada salahnya mengalah, daripada Sasuke urung untuk pulang.

"Ya, ya. Katakan apa maumu?"

"Katakan pada Istrimu agar tidak berdekatan padaku."

"Hanya itu? Baiklah, aku akan mengawasinya, kau tenang saja."

"Hn."

"Kalau begitu sudah dulu ya, Sasuke. Saat ini aku sedang kencan dan dia sudah tidak sabar untuk diajak jalan."

Click!

Sasuke menghela napas dan kembali merebahkan diri di sofa berwarna cream itu dengan pikiran yang melayang. Dia tidak tahu apakah keputusannya untuk pulang merupakan hal yang benar atau tidak. Dasar Itachi laknat, pikirnya kemudian. Kenapa dia bisa-bisanya terbujuk rayuan setan sang kakak.

"Sudahlah, masa bodo…," gumamnya pelan dan kembali menenggelamkan diri ke dalam dunia mimpi.

.

.

.

"Maaf Tuan. Apa anda sudah selesai menelponnya?" Sebuah suara dengan nada sedikit tak sabar masuk ke pendengaran pemuda berambut panjang yang beberapa menit lalu baru saja selesai menelepon Sasuke, sang adik tercinta.

"Maaf, maaf, membuatmu lama menunggu." Itachi tersenyum, berusaha mengeluarkan kharismanya lewat senyumannya yang memesona.

"Jadi, anda mau mencari buku apa?" Tanya seorang pemuda, atau lebih tepatnya penjaga sebuah toko-buku dengan datar. Serangan Itachi tampaknya tak berhasil.

"Ikut denganku, karena aku butuh bantuanmu."

Tanpa permisi lagi Itachi menarik tangan pelayan toko tersebut, memaksanya untuk ikut bersamanya hingga mereka berhenti pada salah satu rak buku dan berjejer buku-buku khusus pria di sana.

Wajah pelayan toko itu berubah merah, menyaingi warna rambutnya sekarang, saat ia sadar ke bagian buku mana mereka berdiri sekarang.

'Tidak mungkin. Ini pasti salah,' ucapnya dalam hati meski dia sadar ada sesuatu yang janggal.

"Aku yakin yang anda maksud adalah buku di bagian sini." Pelayan toko itu maju beberapa langkah dan berhenti tepat di bagian buku ber-rate dewasa yang isinya dipenuhi wanita-wanita cantik nan seksi.

"Tidak, tidak. Aku tidak salah. Tunggu di sini sebentar." Itachi menggeleng dan kembali berjalan menuju bagian buku yang pertama.

Pemuda itu mengambil 3 buah majalah dari rak buku tersebut dan kembali menghampiri si pelayan yang menunggunya dengan perasaan malu yang luar biasa.

"Menurutmu, mana yang paling bagus?"

Itachi dengan sikap yang tak berdosa memerlihatkan satu-persatu majalah X rated yang berada di tangannya kepada sang pelayan.

Ia menyeringai saat melihat si pelayan tak bisa lagi menyembunyikan rona merah pada kedua-pipinya dan disertai dengan gaya yang kikuk.

Tapi sikap malunya itu tak bertahan lama. Beberapa detik kemudian si pelayan berhasil memasang wajah datarnya kembali.

"Sebagai laki-laki normal, aku yakin akan lebih memilih majalah yang ini," ucapnya tanpa ragu sambil mengambil salah-satu majalah dewasa dengan sampul yang memamerkan keindahan lekuk tubuh salah seorang artis film dewasa.

"Ternyata seleramu sangat murahan," sambar Itachi dengan berani.

Itachi menunggu si pelayan itu memarahinya, memakinya atau mungkin lebih dari itu. Hari ini dia memang sedang ingin mempermainkan orang lain, karena ia sendiri merasa orang lain telah mempermainkannya.

Orang yang dicintainya malah pergi meninggalkannya bersama laki-laki lain. Selain itu, ia juga harus pasrah menerima takdirnya sebagai pewaris utama Uchiha. Membuatnya terjebak dengan pernikahan rekayasa tanpa cinta yang juga membuat satu-satunya adik yang ia sayangi jadi merasa sakit-hati dan kecewa.

"Cepat pilih bukumu dan segera bayar di kasir," ucap pelayan itu yang pada akhirnya malah meninggalkan Itachi.

.

.

.

Sasori, merasa hari ini menjadi hari yang paling sial baginya. Bagaimana tidak? Hari ini dia harus menggantikan temannya yang bernama Deidara untuk kerja paruh-waktu di sebuah toko buku di pusat kota Konoha, padahal hari ini seharusnya ia kuliah, kejar semester. Memang diakuinya ia terlalu sibuk bekerja sampai nilainya kurang memuaskan dan sudah diberi peringatan oleh dosen kalau sampai ia gagal lagi di semester akhir ini, Sasori akan dikeluarkan.

Lalu sekarang ia harus bertemu pelanggan sinting yang memintanya untuk memilih salah-satu dari 3 majalah GAY! Ya, kau tak salah baca. Ketiga majalah itu adalah majalah khusus gay. Demi Tuhan rasanya ia ingin berteriak kalau dirinya masih NORMAL dan dia masih menyukai oppai.

"Total belanjaan anda 2500 yen," ucapnya berusaha, memaksakan dirinya untuk tetap ramah.

"Apa sore nanti kau ada kencan, Sasori?" Tanya pemuda itu dengan gaya santai, seolah mereka sudah saling mengenal sebelumnya.

Sasori agak terkejut dengan ajakan dari pemuda di hadapannya ini. Ia meremas kantong plastik belanjaan yang seharusnya sudah berpindah-tangan. Sesaat ia melirik ke arah name tag yang terpasang pada dada kirinya. Pantas saja.

"Maaf, tapi aku tidak menerima ajakan kencan dari orang asing," balasnya mencoba untuk mengelak, dan berharap pelanggan sedeng yang satu ini paham akan sinyal penolakan darinya.

"Namaku Itachi Uchiha. Jadi, apa sekarang kau mau berkencan denganku?"

'Aku tidak butuh tahu namamu, setan!' Sasori berteriak frustasi dalam hati. Kenapa ada mahkluk yang sangat tidak peka seperti ini.

"Tuan, tolong segera bayar belanjaan Anda." Sasori berpura-pura tidak mendengar ucapan laki-laki yang mengaku bernama Itachi itu.

"Kau tahu, di antara majalah-majalah yang aku beli akan lebih bagus kalau gambar depannya adalah dirimu sedang ber—"

"TUAN TOLONG HENTIKAN DAN SEGERA BAYAR!" Sasori panik dan dengan cepat menyambar perkataan Itachi sambil berteriak sebelum laki-laki itu berbicara yang aneh-aneh.

"—gaya seperti model," lanjut Itachi sambil menyeringai. Akhirnya setelah sekian lama melihat wajah datar sang pelayan, kali ini reaksinya tidak mengecewakan.

Sasori mengirim deathglare. Jelas sekali ia merasa kesal. Itachi mengeluarkan dompet dari saku celananya dan memberikannya uang yang sangat berlebih.

"Tunggu sebentar. Kembaliannya ada—"

"Sudahlah, itu untukmu saja. Sampai jumpa lagi, Sasori," balas Itachi dengan cepat, dan secepat itu juga dia pergi meninggalkan toko buku tersebut meninggalkan Sasori dengan uang 10000 yen, kebingungan.

'DASAR ANEH!' Jeritnya tak mengerti.

.

.

.

Naruto yang semalaman tidak pulang akhirnya kena semprot oleh Sakura, gadis masa kecilnya yang kini tinggal satu rumah dengannya.

"Kau ini kemana saja Naruto? Kau tidak tahu kalau Mama Kushina mencarimu seperti orang-gila karena mengkhawatirkanmu?" Gadis itu masih saja marah meskipun 30 menit sudah berlalu. Kalau dipikir-pikir Sakura jauh lebih galak dan menakutkan dibanding ibunya sendiri.

"Maaf, maaf. Semalam aku sial sekali,mengantarkan pelanggan yang mabuk, dan yah, kau tahu sendiri…." Naruto menggaruk-garuk belakang kepalanya yang tak gatal. Bingung bagaimana ia harus menjelaskan. Tidak mungkin 'kan kalau dia bilang, kalau dia hampir saja diperkosa oleh pemuda gila saat mengantarkannya pulang.

"Hmmm…." Sakura menghela napas, mencoba untuk mengerti pekerjaan yang sekarang sedang dijalani Naruto.

Pemuda itu bekerja-keras membanting tulang demi membiayai saudari kembarnya yang sakit-sakitan dan kini tinggal di rumah sakit khusus penderita kanker. Semenjak kematian ayahnya, Minato. Ekonomi keluarga Namikaze memang jadi terombang-ambing. Kushina, sang ibu jadi kerja serabutan. Apapun dikerjakannya demi kedua anaknya agar tetap bisa bertahan hidup dalam kerasnya kehidupan kota Konoha.

"Ya, sudahlah kau mandi dulu, setelah itu sarapan. Hari ini, kau pasti tidak sekolah 'kan." Naruto mengangguk menanggapi ucapan Sakura.

"Kalau begitu aku pergi dulu ke sekolah. Aku juga akan mencatatkan semua catatan untukmu di buku."

"Terimakasih ya, Sakura-chan."

"Sudah tidak apa-apa. Aku berangkat dulu!"

Naruto bersyukur dalam hati telah memiliki sahabat dari kecil yang bisa diandalkannya dalam setiap waktu seperti Sakura. Gadis itu selalu saja peduli dan perhatian padanya. Mungkin, tanpa kehadiran Sakura hidupnya sudah lebih kacau.

Setelah melihat sosok Sakura semakin menjauh darinya, Naruto masuk ke dalam rumah dengan perasaan lega. Setidaknya ia aman dari gangguan lelaki sinting yang ditemuinya semalam.

TBC


A/N : Genre ini masih baru bagi Ore, dan makasih buat yang dukung.