.

Disclaimer : Masashi KIshimoto

T rate

Genre : Drama/Romance

Main Pair : Sasuke X Naruto

Side Pair : Itachi X Sasori

Slight Pair : SasukeXHinata/ItachiXHinata/SasoriXKonan/NarutoXSakura/GaaraXNaruto/OrochimaruXSasori/KankuroXSasori/KakashiXSasuke/SaiXNaruto/DeidaraXHidan/ItachiXDeidara/SasukeXNaruko

I WANT YOU BAD

.

Chapter 2

Kediaman Uchiha, pukul 10:00 siang.

"Sasuke, akhirnya kau pulang!" Seorang wanita cantik yang usianya sudah melebihi dari 40 tahun namun masih terlihat muda dan segar terlihat sedang berlari-lari kecil menghampiri seorang pemuda yang baru saja masuk ke rumah.

"Taidama, kaa-san," ucap pemuda itu dengan nada datar. Tapi sebuah senyuman tipis jelas tercetak pada wajahnya yang rupawan.

Wanita yang dipanggilnya ibu itu segera menghambur dan memeluk erat tubuh putra keduanya, Sasuke Uchiha.

"Sasuke, kenapa kau tega sekali meninggalkan Ibu? Apa kau tidak memikirkan Ibu?" Uchiha Mikoto. Wanita yang umurnya sudah tak muda lagi kini sedang merajuk manja. Yah, dia memang selalu bersikap seperti anak kecil terhadap anak keduanya itu.

"Tapi sekarang aku sudah pulang 'kan." Sasuke hanya bisa menggelengkan kepalanya. Bagaimana bisa ibunya bersikap lebih kekanakan daripada dirinya. Sungguh aneh.

Tak lama beberapa keluarga Uchiha lain keluar menuju ruang tamu menyambut Sasuke, termasuk wanita itu. Istri Itachi yang baru dinikahi 1 bulan lalu sekaligus mantan kekasih Sasuke.

"Se-selamat datang kembali, Sa-Sasuke-kun." Seorang gadis berparas manis dengan rambut panjang indigonya yang digerai menyambut Sasuke.

Sasuke membalas sambutan dari gadis itu dengan tatapan tajam yang sontak membuat sang gadis langsung tertunduk dalam. Gadis itu, adalah Hinata Hyuuga, istri Itachi sekaligus mantan kekasihnya. Dia berasal dari keluarga dengan perusahaan terbesar kedua setelah Uchiha. Pernikahannya dengan Itachi jelas semata untuk memperkuat hubungan bisnis keduanya.

Hinata yang diyakini Sasuke masih seorang gadis (karena dia sudah tahu orientasi seks Itachi) tak berani menatap sepasang onyx milik Sasuke yang menatapnya begitu dingin dan tajam. Dia sungguh tak berani, dan selalu terbayang oleh rasa bersalah yang begitu mendalam.

"Rupanya kau pulang juga, anak manja." Sasuke langsung menatap sinis ke arah seorang pemuda pucat yang berdiri di samping Hinata dengan gaya yang arogan.

"Tentu saja aku pulang. Ini masih rumahku, Sai," balasnya ketus. "Aku capek. Mau istirahat dulu ke kamar," ucapnya sambil berpura-pura lemas di depan Mikoto, ibunya. Tentu saja semua itu hanya akting. Dia hanya malas bertemu muka dengan kedua orang yang sangat tak ingin dilihatnya sekarang, Hinata Hyuuga, dan Uchiha Sai.

"Baiklah, Sasuke. Ibu antar ya, ke kamar." Mikoto tersenyum dan dengan cepat mengapit lengan anaknya. Keduanya berjalan meninggalkan ruangan tamu.

Sesaat Sasuke melirik Hinata yang masih saja tertunduk saat melihat Sasuke lewat di depan dirinya. Sementara Sai menatapnya dengan sama tajam. Percikan api kebencian tersirat samar-samar.


Konoha high school, pada jam yang sama


Suara gemuruh dari dalam sebuah kelas terdengar membahana. Teriakan seperti "HORE", "ASYIK", "YIPPIE", terdengar di mana-mana. Yah, hari itu Konoha high school baru saja mengumumkan kalau para murid diperbolehkan pulang cepat, karena para guru akan mengadakan rapat, guna menyelenggarakan festival olahraga tahunan yang biasa diadakan antara 4 sekolah besar (Konoha, Suna, Kumo, dan Iwa) yang pada tahun ini jatuh ke pihak Konohagakure sebagai tuan rumah.

"Saku-chan, setelah pulang sekolah mau main ke rumahku?" Seorang gadis dirty blonde datang menghampiri Sakura yang sedang merapihkan semua buku-bukunya.

"Ah, maaf Ino. Hari ini aku tidak bisa," balasnya sambil memberi senyuman tipis.

"Yaaaaah. Masa tidak bisa juga? Kemarin kau juga tidak bisa, sekarang juga tidak." Ino merenggut sebal. Tampak sekali ia kecewa karena Sakura menolak ajakannya.

"Sekali lagi maaf ya, Ino. Aku sudah janji pada Naruto untuk membawakannya buku-buku catatan ini." Sakura mengatupkan kedua-tangannya di depan dada, membentuk suatu gesture permohonan maaf.

"Jadi kau masih berteman dengan si pirang itu?" Kali ini topik pembicaraan berubah. Didengar dari caranya bicara, jelas sekali Ino tak menyukai teman pirang Sakura, Naruto.

"Ino, jangan bicara seperti itu!" Sakura tampak agak gusar dengan sikap Ino terhadap Naruto.

"Aku jadi heran, kenapa kau masih saja berteman dengan si Naruto itu? Dia itu 'kan biang onar. Tukang pembuat masalah. Aku juga bingung kenapa Tuan Sarutobi masih mempertahankannya untuk sekolah di sini," ucap Ino dengan ketus.

"Naruto itu tidak seburuk yang kau bayangkan. Lagipula, dia itu temanku, kau tidak berhak melarangku. Selain itu, kau jangan lupa kalau sekolah ini dibangun berkat keluarga Namikaze," jawab Sakura tak kalah ketus. Diakuinya Ino memang teman yang baik. Tapi dia tidak suka kalau ada orang yang menjelek-jelekkan temannya yag lain, begitu pun sebaliknya. Ia ingin semua teman-teman yang dia kenal bisa jadi teman juga, bukan malah menjadi musuh.

"Itu 'kan dulu. Lain dulu, lain sekarang. Kudengar sekarang sekolah berada dalam tanggungan keluarga Uchiha." Ino mendengus sok tahu.

"Tapi tetap saja yang paling banyak berjasa keluarga Namikaze," bela Sakura. "Ah, sudahlah Ino, aku tak mau berdebat denganmu. Aku harus buru-buru pulang." Kemudian gadis itu berdiri dari tempat duduknya dan bergegas berjalan keluar kelas.

"Sakura!" Di luar kelas ternyata seorang pemuda berambut merah sudah menunggu Sakura.

"Gaara…?" Sakura mengenalinya sebagai Gaara ketika pemuda itu berjalan mendekatinya.

"Gaara, ada apa?" Tanyanya yang merasa tak biasa melihat Gaara menghampiri dirinya.

Pemuda itu tak langsung menjawab. Ia sempat terdiam dan kedua manik jade-nya mengawasi sekitar Sakura, seperti sedang mencari-cari sesuatu. Pada akhirnya Gaara kemudian berkata, "Sakura, di mana Naruto?"

"Naruto hari ini tidak masuk sekolah," jawab Sakura sambil mngulum senyum menahan rasa geli saat melihat wajah Gaara yang kebingungan mencari-cari Naruto.

"Eh? Tidak masuk? Kenapa? Apakah dia sakit?" Tanya Gaara dengan panik.

"Tidak, dia tidak sakit." Sakura terkekeh saat melihat reaksi Gaara. "Dia baru pulang kerja pagi hari, jadi…, kau tahu sendiri bagaimana capeknya 'kan…." Gaara mengangguk mengerti setelah mendengar penjelasan Sakura.

Sabaku Gaara, sebenarnya dia adalah warga Sunagakure yang bersekolah di Konohagakure berkat beasiswa. Keluarganya cukup terkenal dan terpandang, tapi itu dulu sebelum kedua orang-tuanya kecelakaan pesawat dan seluruh harta keluarganya disita oleh pemerintah. Nasibnya tak jauh berbeda dari Naruto, makanya tak heran kalau kedua pemuda itu cepat akrab dan menjadi teman dekat. Tapi, nasib Gaara sedikit lebih beruntung karena dia memiliki seorang kakak yang sangat hebat sehingga beban hidup Gaara tidaklah terlalu berat. Sementara Naruto, dia harus memikul beban keluarga sendirian. Gaara dan Naruto sudah berteman sejak duduk di bangku 1 SMA hingga sekarang.

"Buku-buku itu, apa untuk Naruto?" Gaara melirik ke arah tumpukan buku yang sedang dibawa oleh Sakura.

"Begitulah. Apa kau mau ikut denganku ke rumah Naruto?"

"Boleh juga, daripada aku pulang ke rumah, jam segini tidak ada siapa-siapa."

Kedua remaja itu akhirnya pulang bersama dengan satu tujuan, yaitu pergi ke rumah Naruto.


Heart and Brain Library, book store, Konoha, 12:00 siang


Sementara itu di pusat jantung kota Konoha. Berdiri sebuah bangunan perpustakaan sekaligus toko buku dan aksesoris. Di dalamnya terlihat dua orang pemuda sedang menjaga toko tersebut dengan bermalas-malasan.

"Astaga panas sekali, padahal AC sudah dinyalakan. Kenapa masih terasa panas?" Seorang pemuda berambut merah yang baru diketahui bernama Sasori, tampak menggerutu sambil menyeka keringat yang meluncur mulus dari kedua pelipisnya.

"Yah, mau bagaimana lagi. Ini 'kan memang sudah memasuki awal musim panas, jadi cuacanya memang seperti ini." Pemuda berambut putih dan berkacamata di sebelahnya hanya menanggapi keluhan Sasori dengan tertawa santai.

"Hey, jangan tertawa disaat aku kepanasan seperti ini, Kabuto!" Sasori memasang wajah masam melihat rekan kerjanya malah tertawa.

"Tapi kau benar. Semakin hari Jepang semakin panas saja." Akhirnya pemuda yang dipanggil Kabuto itu mengangguk setuju dengan udara panas yang melanda Jepang khususnya Konoha.

Disaat keduanya sedang berbincang-bincang, tiba-tiba lonceng pintu depan toko berdenting. Tanda ada pelanggan yang masuk ke dalam.

Betapa terkejutnya Sasori saat melihat siapa yang datang ke dalam toko. Di sana berdiri seorang wanita cantik berambut biru gelap dengan tatapan mata yang berkaca-kaca ke arah dirinya. Rasa-rasanya kedua bola-mata berwarna coklat madu itu bisa menumpahkan air-matanya kapan saja.

"Ko-Konan…? Sedang apa kau di sini?" Sasori dengan cepat berjalan keluar dari meja kasir untuk menghampiri Konan yang masih berdiri tak jauh darinya.

"SASORI!"

Brukh!

Gadis itu berlari dan langsung menubruk pemuda itu. Mendekapnya erat ke dalam pelukan.

"Pe-Pein…, hiks…, a-aku melihatnya bersama perempuan lain…." Konan langsung menangis sambil terisak. Ia menumpahkan segala beban yang ada di dalam hatinya dalam pelukan Sasori.

"Konan, tenangkanlah dirimu." Sasori dengan lembut membelai kepala gadis itu.

"Pergilah dengannya Sasori. Tidak apa-apa, biar aku yang jaga toko," sela Kabuto yang tampaknya mengerti akan situasi Konan saat ini. Gadis itu butuh ditemani.

Sesaat Sasori menatap Kabuto dengan tatapan ragu. Tapi setelah diyakinkan, akhirnya ia memutuskan untuk membawa Konan pergi dan menenangkannya.

"Maaf, ya Kabuto…," ucapnya sebelum pergi keluar.

.

.

.

Saat ini Sasori dan Konan tengah berada di sebuah coffee shop yang berada di sudut jalan dari pusat perbelanjaan. Tempatnya cukup tersembunyi karena terletak paling pojok dan bersebelahan dengan internet café.

"Maaf, gara-gara aku kau jadi harus meninggalkan pekerjaanmu…," ucap Konan memulai pembicaraan dengan permintaan maaf. Wajah gadis itu masih tertunduk, dan jelas terlihat kalau air mata belum berhenti mengalir dari kedua maniknya yang indah.

"Ya, tidak apa-apa. Lebih baik kau minum dulu agar lebih tenang," balas Sasori sudah memaklumi.

Konan mengangguk dan mengambil secangkir espresso dingin miliknya. Konan menghirup aroma yang menguar dari kopi tersebut sambil memejamkan mata. Benar-benar nikmat dan inilah yang dibutuhkannya.

Perlahan-lahan ia meneguk espresso itu dengan gaya yang elegan. Sasori diam-diam memerhatikannya.

"Jadi, apa sekarang kau sudah bisa bercerita?" Sasori memulai pertanyaan ketika dilihatnya Konan sudah berhenti menangis.

"Ini masalah Pein…," ucapnya dengan bibir bergetar. "Aku memergokinya tengah berduaan dengan Mei di hotel, dan kami bertengkar hebat…," Suara Konan mulai terdengar parau. Jelas dia memaksakan diri untuk bercerita sambil menahan tangis. "Setelah itu, aku meminta putus darinya…, hiks…, kami putus…." Konan yang sudah tak kuat lagi akhirnya kembali menangis.

"Ssssh, Konan sudah jangan menangis. Mungkin ini jalan yang terbaik bagimu. Mungkin Pein bukan orang yang tepat." Sasori mencoba menasehati teman semasa SMA-nya dulu agar dapat berpikiran secara positif.

"Tapi…, tapi sekarang aku menyesal…."

Sasori benar-benar tak habis pikir dengan Konan. Sebegitu tergantungnya kah dia dengan Pein, meskipun jelas pemuda itu suka bermain wanita. Masalah Pein yang akhirnya selingkuh adalah cerita lama yang sudah ia ketahui sejak Pein dan Konan masuk ke dalam dunia seni peran 4 tahun lalu. Sasori pernah memergoki Pein jalan dengan wanita yang berbeda-beda tanpa sepengetahuan Konan dan Sasori selalu menutupinya agar gadis itu tak sakit hati.

Ah, seandainya Konan tahu betapa liarnya Pein di luar sana. Tapi sayang, cinta telah membutakan mata hati Konan. Bagi Konan, Pein adalah cinta sejatinya. Keduanya memang sudah menjalin hubungan sejak awal masuk SMU hingga sekarang. Sementara Sasori? Dia yang lebih dulu mengenal Konan dan jatuh cinta pada pandangan pertama pada gadis itu harus merelakan bidadarinya jatuh ke tangan iblis seperti Pein.

"Sigh…." Sasori menghela napas dalam-dalam. Sungguh pernyataan Konan barusan membuat dadanya terasa sesak. Sebesar itukah cinta Konan pada Pein, sampai-sampai seperti apapun kesalahan Pein pasti akan dimaafkan?

"Lalu, apa yang mau kau lakukan sekarang?" Tanyanya sambil menahan diri. Sasori berusaha bersikap senormal mungkin dan sedatar mungkin.

Greb…!

Konan tiba-tiba saja menggenggam tangan Sasori di atas meja.

"Sasori, aku mohon…, aku mohon katakan pada Pein kalau aku ingin kembali padanya...," ucapnya dengan nada memelas.

"Ko—"

Belum sempat Sasori menjawab, mendadak suara ponsel Konan berbunyi. Begitu diangkat, ternyata gadis itu disuruh untuk segera kembali ke studio. Konan memang tadi pergi terburu-buru meninggalkan studio tanpa pamit.

"Sasori, aku harus segera pergi kembali ke studio untuk pemotretan." Dengan tergesa Konan berdiri dan memasukkan ponselnya kembali. "Aku tunggu kabar baiknya, dah Sasori!" Setelah itu Konan dengan seenaknya memutuskan kalau Sasori pasti akan membantunya dan ia berlalu begitu saja.

Sasori terbengong, mencoba mencerna apa yang barusan saja terjadi. Konan datang curhat padanya tentang kelakuan bejad Pein, namun gadis itu menyesal karena putus dari pemuda itu dan meminta Sasori untuk mempersatukan mereka kembali padahal dia belum memberi persetujuan akan membantu.

"Hahaha…, ini konyol…," gumamnya sembari tertawa kecil. Mentertawai kebodohannya sendiri.

Sasori menyeruput Americano hitam miliknya, mencoba membuat dirinya sendiri yang kini tengah dilanda kekalutan. Mendadak ketenangannya terusik ketika seorang pemuda datang menghampiri dan dengan seenaknya duduk di tempatnya.

"Sasori. Aku tak menyangka akan bertemu denganmu di sini! Sepertinya kita jodoh!" Pemuda itu tak lain adalah Itachi Uchiha. Pelanggan sedeng yang mencoba mengajaknya berkencan pagi tadi.

'Sial! Kenapa aku harus bertemu dengan dia!' Sasori merutuk dalam hati.

TBC


A/N : Ore agak lama update cerita ini karena masih cari-cari referensi. Ini genre yang baru banget buat Ore, harap maklum. Oh, interaksi mungkin yang start duluan adalah Itachi ke Sasori. SasuNaru harap bersabar.

Ore ada pertanyaan, apa cerita jenis ini memang diperlukan Seme dan Uke? (agak kurang paham apakajh itu hal wajib?)